Jumat, 23 Januari 2026

Sejarah Jakarta (125): Naturalisasi Restorasi, Normalisasi Revitalisasi Sungai; Mengapa Itu Masih Banjir di Jakarta? Ada Salah Berpikir?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Hingga Januari 2026, banjir masih menjadi tantangan besar bagi Jakarta karena kombinasi faktor cuaca ekstrem, penurunan permukaan tanah yang kritis, dan masalah struktural drainase kota. Alih-alih menuduh cuaca ekstrem, curah hujan tinggi dan durasi hujan dan bahkan juga disebut ada kontribusi penurunan permukaan tanah,  pengambilan air tanah yang berlebihan dan beban bangunan yang masif, mengapa naturalisasi, normalisasi, revitalisasi, restorasi sungai dan sebagainya tidak menghilangkan banjir?.

 

Sejarah banjir di Jakarta telah tercatat sejak masa kuno karena posisinya yang berada di dataran rendah delta sungai. Prasasti Tugu mencatat upaya penggalian sungai untuk mengalirkan air ke laut. Banjir besar pertama di era Batavia (VOC) 1621 akibat luapan sungai Ciliwung. VOC mulai membangun sistem kanal. Banjir besar terjadi lagi tahun 1654. Pada tahun 1872 banjir besar merendam Batavia setinggi lebih dari satu meter. Tercatat curah hujan ekstrem 1892 setinggi 286 mm dalam delapan jam yang menyebabkan banjir luas. Salah satu banjir terparah era kolonial yang merendam wilayah luas hingga Kemayoran tahun 1918. Setelah ini, sistem pengendali banjir seperti Banjir Kanal Barat Manggarai mulai dibangun. Pada tahun 1977 kawasan Monas terendam dan sedikitnya 50.000 jiwa mengungsi; tahun 1996 banjir setinggi hingga 7 Meter merendam puluhan ribu rumah dan menelan 20 korban jiwa. Banjir nasional tahun 2002 melumpuhkan ekonomi Jakarta dengan cakupan genangan mencapai 24% wilayah kota. Banjir tahun 2007 dianggap sebagai salah satu yang terburuk dalam tiga abad terakhir, sebesar 60% wilayah Jakarta terendam, 80 orang meninggal dunia. Lagi-lagi, tahun 2013 pusat kota (kawasan Sudirman-Thamrin) dan Istana Negara terendam. Terakhir tahun 2020 curah hujan ekstrem di awal tahun menyebabkan banjir luas yang menewaskan puluhan orang dan memaksa ribuan warga mengungsi (AI Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah naturalisasi, normalisasi, revitalisasi, restorasi sungai? Seperti disebut di atas, hingga tahun 2026 ini banjir masih terjadi. Pertanyaannya mengapa masih banjir di Jakarta dan berbagai kota? Lalu bagaimana sejarah naturalisasi, normalisasi, revitalisasi, restorasi sungai? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*. 

Naturalisasi, Normalisasi, Revitalisasi, Restorasi Sungai; Mengapa Masih Banjir di Jakarta dan Berbagai Kota? 

Pembangunan kota dan pengembangan pertanian adalah satu hal. Situasi dan kondisi alam adalah hal lagi. Terjadinya banjir adalah hal lain lagi. Masalahnya adalah mengapa hingga kini masih banjir. Apakah jargon-jargon masa kini seperti naturalisasi, normalisasi, revitalisasi dan restorasi tidak dilaksanakan atau tidak efektif? Jika kenyataannya tidak efektif, apakah masih perlu mencari jargon baru lagi, atau mencoba sebaliknya mencari apa yang salah untuk menghindarinya? 


Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta tempo doeloe. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding). Mari kita mulai dari awal. Catatan: dalam blog ini sudah ada puluhan artikel terkait banjir di Jakarta dan berbagai kota di Indonesia. 

Beda zaman beda kebutuhan. Situasi dan kondisi alamiah wilayah Jakarta yang sekarang sejak dari zaman kuno adalah area tangkapan air, dimana sejumlah sungai bermuara seperti sungai Tjiliwong, sungai Soenter, sungai Pesangrahan dan sungai Angke. Sungai terbesar adalah sungai Tjiliwong. Sungai kecil lainnya adalah sungai Grogol, sungai Kroekoet, sungai Tjilintjing dan sungai Maroenda. Selain sungai Tjiliwong, sungai besar lainnya terdapat di sebelah barat sungai Tjisadane dan di sebelah timur sungai Bekasi. 


Secara geomorfologis, wilayah Jakarta, Tangerang dan Bekasi adalah tanah alluvial (tanah lumpur dan tanah eks debu vulkanik). Area Semanggi hanya 9 Mdpl dan dengan elevasi yang menurun secara melandai hingga ke laut (0 Mdpl). Sebagai contoh, jalan Margonda Depok dengan elevasi 93 Mdpl yang mana permukaan sungai Tjiliwong sedalam 58 Mdpl. Daerah aliran sungai Tjiliwong di Depok adalah suatu celah yang terbentuk di masa lampau seiring dengan penurunan permukaan sungai akibat semakin tergerusnya dasar sungai. Sebagai pembanding: area Lenteng Agung elevasi 51 Mdp[l dan permukaan sungai Tjiliwong 32 mdpl; area Pasar Minggud dengan elevasi 37 Mdpl dan permukaan sungai 20 Mdp. Area Kalibata (29 dan 16 Mdpl); Cawang (21 dan 13 Mdpl); Tebet (13 dan 9 Mdp) dan Manggarai (11 dan 9 Mdpl). Monas (sama-sama 2 Mdpl baik area maupun permukaan sungai). 

Apa yang dapat dibayangkan di masa lalu, jika area datar tanah alluvial pada masa ini hanya dengan elevasi 9 Mdpl dan 2 Mdpl)? Jela itu adalah suatu eks perairan (rawa-rawa atau laut). Dengan kata lain, wilayah Semanggi yang sekarang di masa lalu adalah suatu perairan (laut). Proses sedimentasi jangka panjang telah menutupi perairan sehingga menjadi daratan masa kini. Satu yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya, bahwa area kota tua dan sekitar stasion Kota pada masa ini hanya memiliki elevasi yang sangat menakutkan yakni 0 M dpl (sama dengan permukaan laut dan permukaan sungai). Dalam konteks inilah kita mulai melihat sejarah Jakarta di masa lalu ketika awal kehadiran Belanda (VOC). 


Pos perdagangan Belanda (VOC) sudah ada di muara sungai Tjiliwong (lihat lukisan). Oleh karena Kerajaan Jakarta dikendalikan oleh Kesultanan Banten, lalu VOC menaklukkan kerajaan Jakarta 1618. Jan Pieterzooncoen mulai merencanakan kota Batavia (lihat sketsa 1619). Bandingkan banteng lama (a) dengan rencana banteng baru (b) yang kelak dikenak sebagai Casteel Batavia. Dalam sketsa ini juga terdapat perluasan banteng (yang kelak keseluruhan menjadi kota (stad) Batavia. 

Sejatinya banteng lama dan rencana banteng baru VOC sejatinya di sisi timur muara sungai Tjiliwong, suatu area rawa-rawa. Letak pelabuhan tua (Zunda Calapa) berada di arah hulu di sisi barat sungai di tikungan sungai (yang menjadi batas rencana kota Batavia di sisi timur sungai). Di pelabuhan Zunda Kalapa ini bermuara sungai Kroekoet yang masuk ke sungai Tjiliwong. Kota Jakarta (ibukota kerajaan Jakarta) terletak di tikungan sungai, yang berseberangan dengan Zunda Calapa.

 

Untuk membangun benteng yang lebih luas dan perluasan kota, VOC menggali kanal-kanak dan tanahnya dijadikan untuk meninggikan area benteng/kota yang sisi luarnya dibangun tembok benteng. Dalam sketsa kota Batavia (1624) sudah terbentuk kota Batavia. Benteng/kota Batavia ini di sisi barat adalah sungai Tjiliwong an di sisi timur banteng/kota adalah rawa-rawa (moeras) yang menjadi barrier. Dalam sketsa tersebut juga sudah dibangun kanal di barat sungai hingga ke bekakang (pelabuhan) Zunda Calapa. Kanal ini tampaknya lebih ditujukan untuk fungsi drainase (besar dugaan karena terjadinya banjir besar pada tahun 1621). Dalam sketsa juga teridentifikasi dua buah boom (semacam pos pemeriksaan keluar masuk) kapal-kapal kecil dan perahu. 

Kawasan Casteel/kota Batavia pada dasarnya memili elevasi yang sama dengan permukaan sungai dan laut, hanya saja bangunan-bangunan benteng/kota berada di atas permukaan air/laut dari area-area yang ditinggikan dengan tanah yang diperoleh penggalian kanal-kanal. Dalam hal ini banjir tidak menjadi masalah di seputar benteng/kota Batavia karena bangunan-bangunan area benteng/kota dibangun lebih tinggi dari permukaan sungai/laut. 


Pembangunan casteel/kota Batavia tampaknya sudah berhasil. Nama Batavia sudah mulai dikenal luas. Surat kabar yang terbit di Amsterdam sudah memberitakan kapal-kapal yang datang dari Batavia dengan membawa muatan yang banyak seperti lada (pepper), cengkeh (nagelen) dan pala (nooten) (lihat Courante uyt Italien, Duytslandt, &c. 31-07-1627). Melihat perkembangan yang massif di Batavia, sebelum menguat, Mataram mencoba mengusir Belanda dari muara sungai Tjiliwong. Perang yang dilancarkan Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung pada tahun 1828 dan 1829 tampaknya tidak sepenuhnya berhasil. Alih-alih khawatir dari ancaman Mataram (yang juga dibantu Banten) dari arah hulu sungai, VOC/Belanda mulai memperkuat benten/kota Batavia. 

VOC/Belanda telah investasi besar di muara sungai Tjiliwong, di area rawa-rawa yang luas, untuk membangun banteng/kota Batavia. Tidak mungkin lagi VOC/Belanda melakukan relokasi meski ada ancaman banjir dan perlawanan dari kerajaan Mataram. Bagi orang pribumi kawasan banteng/kota Batavia bukanlah area yang ideal untuk pemukiman. Kota Zunda Calapa yang hanya sekadar untuk tempat transaksi perdagangan (lebih dekat ke laut) apalagi melihat muara sungai yang basah penuh rawa-rawa, sarang nyamuk dan banyak buaya. Namun bagi orang Belanda, area rawa-rawa adalah hal yang lumrah di Belanda. Satu keutamaan letak banteng/kota Batavia di hilir/muara sungai yang berbatasan laut adalah area yang memiliki escape yang ideal ke laut. 


Orang Belanda/VOC memulai pembangunan banteng/kota Batavia adalah atas pertimbangan kondisi alamiah sekitar dan situasi social/politik di kawasan DAS Tjiliwong. Situasi dan kondisi alam Belanda di Eropa yang dikelilingi perairan (rawa-rawa dan laut) dan pengalaman yang lama untuk memodifikasinya menjadi jaminan suksesnya VOC/Belanda berisvestasi di area muara sungai Tjiliwong. Namun area banteng/kota Batavia yang telah dibangun secara geomorfologis elevasinya hanya kurang lebih setinggi permukaan laut (0 Mdpl). 

Dari sudut pandang masa kini, benteng/kota Batavia di area 0 Mdpl adalah kesalahan pertama dalam pendirian/pembangunan kota Jakarta. Sebagai pembanding, kota-kota pribumi di daerah aliran sungai (DAS) lebih memilih letaknya jauh ke arah hulu sungai seperti Bantar Gebang di sungai Bekasi, Babaccan di DAS Tjisadane (yang menjadi cikal bakal kota Tangerang); Bantam (ibu kota kesultanan Banten), Simongan di DAS Semarang; Atjeh di DAS Krueng, Kotta Gadang di DAS Batang Arau (Padang). 


Berbeda dengan kota yang tidak memiliki DAS besar seperti Sombaopoe (Makassar), Coupang di pulau Timor, Amboina di Maluku dan Pasoeroean di Jawa Timur. Dalam hal ini, casteel/kota Batavia adalah suatu hal yang unik letak kota baru (di wilayah tropis dengan curah hujan tinggi). Intinya, pendirian/pembangunan kota Batavia (yang menjadi cikal bakal kota Jakarta yang sekarang) adalah kebutuhan saat itu, tetapi seperti kita lihat nanti, menjadi masalah di masa depan (baca: masa kini). 

Keberadaan banteng/kota Batavia, meski tidak terelakkan oleh orang Belanda, tetapi orang Belanda/VOC dengan sadar memilih lokasinya dengan kemampuan untuk mengendalikannya dari bahaya banjir. Pwembangunan kanal-kanal adalah solusinya. Harus diingat pula kanal-kanal tersebut memiliki fungsi ganda: kebutuhan drainase (ancaman banjir), lalu lintas lokal dan menjadi barrier yang ampuh dari ancaman musuh. 


Kota Batavia yang semakin permanen dan semakin meluas ke arah selatan dan ke arah barat dan arah timur. Pada Peta 1660, dalam sketsa terlihat kota Batavia telah diperluas ke arah sisi barat sungai Tjiliwong. Dalam sketsa juga terlihat area non Belanda (di luar tembok banteng/kota) sudah terbentuk pemukiman dank e arah hulu sungai (dari kota lama Jakarta di belokan sungai) sudah tumbuh pemukiman baru terutamaorang-orang Cina. Untujk mengawal kota Batavia (dari ancaman Mataram), dalam sketsa terlihat sudah ada tiga benteng yang dibangun (sekitar 1650), yakni dua di DAS Tjiliwong Fort Jakarta (sekitar Mangga Dua yang sekarang) dan Fort Nordwijk (sekitar Masjid Istiqlal yang sekarang); dan satu banteng di DAS Kroekoet Fort Risjwijk (kawasan Harmoni sekarang). 

Masih dalam Peta 1660 sudah terlihat ada tiga kanal besar yang telah dibangun. Seperti disebut di atas, pembangunan kanal oleh VOC/Belanda dengan tujuan ganda (drainase, lalu lintas dan barrier). Kanal pertama adalah dari kota Batavia ke banteng Risjwijk. Kanal ini kini merupakan kanal yang berada diantara jalan Gajah Mada dan jalan Hayamwuruk). Kanal kedua adalah kanal melintang antara benteng/kota Batavia dengan pelabuhan kecil di muara sungai Antjol/sungai Tirem. Kanal ini dibangun untuk lalu lintas air di belakang laut (juga fungsi pertahanan). Kanal ini kini tepat berada di bawah jalan tol. Kanal ketiga (yang sedang dibangun) adalah kanal Soenter (dari kampong Pulo Gadoeng di sungai Soengai Soenter ke dalam benteng/kota Batavia). Dalam sketsa tampak belum sepenuhnya terhubung dengan benteng/kota Batavia. Kanal ini kini lebih dikenal sebagai kanal Sunter. Dalam sketsa juga sudah terlihat adanya kanal melintang di wilayah hulu yang menghubungkan Fort Nordwijk dan Fort Riswijk (kini kanal di jalan Veteran). 

Tujuan tambahan kanal Batavia-Risjwijk (jalan Gajah Mada/jalan Hayam Wuruk) tersebut adalah untuk mengatur ketinggian permukaan air sungai di pelabuhan kota Batavia (area Kalibesar yang sekarang). Jika terjadi banjir di dalam kota di DAS Tjiliwong debit air dibuang ke sungai Kroekoet melalui kanal Nordwijk-Risjwijk (jalan Veteran). Jika permukaan sungai di pelabuhan kota (Kalibesar) debit air di Fort Nordwik di arahkan melalui kanal (jalan Veteran) dan kanal (Gajah Mada/Hayam Wuruk). Dalam sketsa juga sudah ada kanal penghubung dua sungai (sungai Anke dan sungai Kroekoet). 


Setelah kesalahan pertama  di atas, dari sudut pandang masa kini, pembangunan kanal melintang adalah kesalahan kedua. Mengapa? Untuk kebutuhan VOC/Belanda saat itu sangat jelas untuk mendukung drainase, lalu lintas dan barrier, tetapi sangat merugikan di masa yang akan datang (pada masa ini). Dengan kata lain kesalahan kedua pada masa lampau kini telah menjadi kerugian besar dalam pertumbuhan dan perkembangan kota Jakarta (yang menjadi salah satu faktor terjadinya banjir di dalam kota Jakarta). Secara geomorfologis, aliran sungai secara alamiah mengikuti hukum alam dari wilayah yang lebih tinggi (dataran tinggi/pegunungan) ke wilayah yang lebih renda (dataran rendah dekat pantai). Kanal melintang dalam hal ini  tidak hanya menahan debit air di atas permukaan sungai (sungai-sungai kecil) juga menghambat arus air bawah tanah.


Banyak kanal melintang yang dibangun Belanda sejak era VOC hingga era Pemerintah Hindia Belanda. Seperti disebut di atas, itu demi untuk memenuhi kebutuhan mereka pada saat kanal melinting dibangun. Ini ditemukan di hilir DAS Tjitaroem, DAS Semarang, DAS Brantas, DAS Musi, DAS Batanghari (Jambi). Kanal melintang yang terbilang penting pada era VOC di sekitar Batavia adalah kanal melintang Mookervart antara Fort Tangerang di sungai Tjisadane dengan Fort Anke di sungai Angke (sekitar Pesing yang sekarang) yang selesai dibangun pada tahun 1684; kanal Finkevaart antara sungai Tjilintjing dan sungai Antjol/sungai Tirem pada tahun 1770an. Pada era Pemerintah Hindia Belanda, salah satu kanal melintang yang penting dibangun di kota Padang di DAS Batang Arau yang kemudian dikenal sebagai kanal Banda Bakali. Tentu saja di Batavia juga ada kanal melintang yang baru, salah satu yang penting adalah Kanal Barat (sungai Tjiliwong di Manggarai disodet dan kemudian dialirkan ke sungai Kroekoet di Tanah Abang). Last but not least: Satu kanal melintang yang dibangun pada era Pemerintah Indonesia (Presiden Soekarno) adalah kanal melintang Kali Malang (antara sungai Tjitaroem melalui Kali Bekasi dan setu/danau Malang); dan jangan lupa belum lama  ini juga selesai dibangun kanal melintang BKT (Banjir Kanal Timur). 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Mengapa Masih Banjir di Jakarta dan Berbagai Kota? Alam Tidak Pernah Salah, Cara Berpikir Lama yang Tidak Pernah Disadari

Di masa lalu, sungai-sungai yang membanjiri wilayah Jakarta (Batavia dan sekitarnya) adalah sungai-sungai Tjiliwong, sungai Kroekoet, sungai Pesanggrahan, sungai Anke, sungai Grogol, sungai Tjipinang, sungai Soenter dan sungai Kalibata. Namun dalam perkembangannya di masa lalu, karena kebutuhan untuk pengembangan pertanian, sungai Bekasi dan sungai Tjisadane juga turut membanjiri Jakarta pada masa ini. Bagaimana bisa? 


Pada era VOC sungai Tjiliwong disodet di Katoelampa, lalu dialirkan melalui sungai Tjiloear dan kemudian diteruskan ke Batavia dengan membangun kanal sepanjang jalan pos antara Buitenzorg dan Batavia. Di Tjililitan kanal ini berbelok ke arah arah Senen (dan masuk ke kanal Soenter). Dalam perkembangannya, untuk menambah debit air kanal ini, sungai Tjikeas yang menjadi hulu sungai Bekasi di sekitar Tjibinong disodet dan dimasukkan ke kanal. Pada permulaan Pemerintah Hindia Belanda sungai Tjisadane di Empang (Buitenzorg) dibendung dan dialirkan melalui kanal Jembatan Merah yang kemudian dihubungkan dengan sungai Tjileboet yang terus ke Bodjong Gede. Lalu dalam perkembangannya kanal ini diteruskan hingga Pondok Terong dan Depok. Sebagian debit air ini di Pondok Terong diarahkan/dibuang ke sungai Pesanggrahan, dan debit air di kanal Depok dialirkan ke setu Babakan di Serengseng. Dari setu Babakan ini dibangun kanal melalui Lenteng Agung, Tanjung Barat, Pasar Minggu, Kalibata, Tjikini hingga ke Manggarai (sungai Tjiliwong). 

Apa yang bisa diperhatikan pada masa ini di wilayah Jakarta, tidak hanya curah hujan (tinggi) dan penggundulan vegetasi di wilayah hulu yang menyebabkan banjir di sungai-sungai Jakarta, satu hal yang mungkin tidak disadari (lagi) pada masa ini, adalah pengaruh dari pembangunan kanal (melintang), penyodetan sungai Bekasi dan sungai Tjisadane yang dialirkan ke sungai/kanal yang menuju wilayah Jakarta. Perlu dicatat disini, bahwa sebelum pembangunan kanal dan penyodetan sungai tersebut di masa lampau sudah kerap terjadi banjir. 


Proses sedimentasi jangka panjang di wilayah Jakarta, yang kemudian terbentuk rawa-rawa yang lalu menjadi daratan baru. Wilayah daratan baru ini semakin meluas dan massif dengan adanya pembangunan kanal-kanal drainase. Singkatnya, semua sekarang, apa yang telah dilakukan di wilayah Batavia pada masa lampau, telah menyebabkan secara akumulatif banjir menjadi-jadi (meski sudah ada yang disebut naturalisasi, normalisasi sungai dan sebagainya). Tragisnya banjit itu juga diperparah dengan intrusi air laut (yang notabene disebabkan pembangunan kanal-kanal di masa lampau terutama kanal melintang). 

Lantas apa yang harus dilakukan untuk mengatasi banjir di wilayah Jakarta? Tentu saja ada caranya. Hanya saja, selama ini, tampaknya belum efektif, karena proses mitigasinya terkesan tidak dilakukan maksimal dan berkelanjutan). Program mitigasinya yang dilakukan selama ini boleh jadi tidak tepat. Lalu, apa yang harus dilakukan untuk mengatasi banjir di wilayah Jakarta? 


Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota DepokDisamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di IndonesiaGenerasi Pertama; Sejarah Pers di IndonesiaAwal Kebangkitan BangsaSejarah Sepak Bola di IndonesiaSejarah Pendidikan di IndonesiaPionir Willem IskanderSejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar