Senin, 18 April 2022

Sejarah Barus, Tapanuli (7): Situs Bongal di Jalur Perdagangan Kuno Tapanuli; Lumut dan Djaga-Djaga Pintu Masuk ke Angkola

 

*Semua artikel Sejarah Barus, Tapanuli dalam blog ini Klik Disini

Belum lama ini ditemukan situs kuno di kawasan Teluk Tapanuli yang dinamai Situs Bongal. Dalam laman Dinas Kebudayaan & Pariwisata, Provinsi Sumatera Utara disebutkan situs Bongal telah ditetapkan sebagai cagar budaya dengan SK Kabupaten No. 2565/DISDIK/2021 yang berada di Desa Jago-jago, Bukit Bongal, Jago-jago, Kec Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah. Sudah barang tentu berita itu menarik minat dan telah menjadi perhatian Pemerintah Daerah Sumatera Utara dan Kabupaten Tapanuli Tengah.

Situs Bongal adalah satu tempat yang akan mengubah historiografi (kesejarahan) Indonesia. Data arkeologis yang berhasil diungkap menunjukkan bahwa bukti-bukti awal interaksi para penghuni Kepulauan Nusantara dengan berbagai kawasan dunia lama yang telah memiliki peradaban tinggi seperti Timur Tengah, India, dan Cina. Hasil analisis pertanggalan menggunakan metode AMS didapat rentang angka tahun yang cukup tua, yang menjadi petunjuk kuat bahwa situs Bongal telah aktif dalam arus pelayaran dan perniagaan dunia sejak abad ke-6 M, hingga abad ke-10 M. Konsekuensi logis dari munculnya hasil pertanggalan absolut tersebut adalah situs purbakala dalam kurun sejarah tertua bukan lagi situs Lobu Tua (Barus), tetapi situs Bongal (di Desa Jago-jago). Mengingat data arkeologis tertua dari situs Lobu Tua (Barus) yang telah dianalisis pertanggalannya secara absolut berasal dari abad ke-9 M; sementara pertanggalan tertua di situs Bongal berasal dari abad ke-6 M. Situs Bongal sejauh ini adalah satu-satunya situs di Nusantara yang mengandung bukti tertua interaksi kawasan kepulauan ini dengan kawasan asal Islam (Timur Tengah). Bukti itu terwakili oleh keberadaan koin-koin perak (Dirham) dari para pemimpin daulah Umayyah dan Abbasyah, yang berasal dari kurun abad ke-7 M, hingga ke-9 M. Data lain yang memperkuat interpretasi telah terjalinnya interaksi antara Bongal dengan Timur Tengah sedini masa awal Islam adalah artefak-artefak yang bertitimangsa relatif dari abad ke-7 hingga ke-9 M, antara lain gerabah halus berglasir dari Persia dan wadah-wadah berbahan kaca yang diproduksi di kawasan Syam/Suriah (https://cagarbudaya.sumutprov.go.id).

Lantas bagaimana sejarah situs Bongal? Seperti disebut di atas, situs Bongal adalah situs yang belum lama ditemukan. Hasil penmuan yang ada di area situs seakan para arkeolog ditantang kembali untuk membuka lembar kepurbakalaan yang tersembunyi selama ini. Situs Bongal sendiri sesungguhnya tidak berada di remote area, tetapi berada di dalam kawasan peradaban kuno yang luas antara Barus di pantai barat dan Binanga di pantai timur. Lalu bagaimana sejarah area Situs Bongal? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Situs Bongal di Jalur Perdagangan Kuno Tapanuli; Lumut dan Djaga-Djaga Pintu Masuk ke Angkola

Tunggu deskripsi lengkapnya

Situs Bongal: Berada di Kawasan Peradaban Kuno yang Luas Antara Barus di Pantai Barat dan Binanga di Pantai Timur

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar