Jumat, 24 Juli 2026

Sejarah Dr Tjipto (7): Kembali ke Tanah Air, Soewardi Soerjaningrat Lulus Akta Guru LO di Den Haag; Kongres Pendidikan I (1916)


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini

EFE Douwes Dekker, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat berangkat dari Tandjoeng Priok pada tanggal 6 September 1913 ke Belanda. Seperti disebut sebelumnya,  Dr Tjipto Mangoenkoesoemo karena sakit dan setelah mendapat izin dari pemerintah kembali ke tanah air pada bulan Agustus 1914. Bagaimana dengan EFE Douwes Dekker dan Soewardi Soerjaningrat? Yang jelas pada tahun 1916 di Den Haag diadakan Kongres Pendidikan Hindia. Sejarah Bahasa Indonesia


Kongres Pendidikan Hindia 1916 (Eerste Koloniaal Onderwijs-Congres atau Kongres Pengajaran Kolonial Pertama) diselenggarakan pada tanggal 28–30 Agustus 1916 di Den Haag (Ruang pertemuan Koninklijken Zoölogischen Botanischen Tuin/Dierentuin). Kongres ini mempertemukan para pendidik, pejabat pemerintah kolonial, praktisi misi keagamaan, serta mahasiswa asal Hindia untuk membahas arah kebijakan dan masa depan sistem pendidikan bagi masyarakat pribumi di Hindia. Tokoh pendidik Belanda, politisi kolonial, organisasi zending, serta para pelajar pribumi yang sedang menempuh studi di Belanda (seperti anggota Indische Vereeniging). Tujuan Kongres ini lahir dari perdebatan mengenai Politik Etis yang dijalankan oleh pemerintah. Terdapat kesadaran bahwa pendidikan bagi masyarakat pribumi di Hindia Belanda sangat tertinggal dan diatur secara diskriminatif. Pemerintah kolonial membutuhkan tenaga kerja pribumi berpendidikan rendah untuk mengisi posisi administratif sekunder, namun para tokoh pergerakan menuntut sistem pendidikan yang lebih adil, luas, dan berpihak pada kemajuan bangsa pribumi. Rekomendasi kongres memicu diskusi lanjutan pada kongres-kongres berikutnya (1917) dan mendorong berdirinya sekolah-sekolah guru yang lebih tinggi (Hogere Kweekschool-HKS) (AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah kembali ke tanah air, Soewardi Soerjaningrat lulus akta guru LO di Den Haag? Seperti disebut di atas, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo akan melanjutkan studi kedokteran, tetapi harus kembali ke tanah air. Soewardi Soerjaningrat berhasil lulus akta guru LO dan kemudian pada tahun 1916 diadakan Kongres Pendidikan Pertama di Den Haag. Lalu bagaimana sejarah kembali ke tanah air, Soewardi Soerjaningrat lulus akta guru LO di Den Haag? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Sejarah Willem Iskander Pionir Pendidikan Indonesia

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah. 

Kembali ke Tanah Air, Soewardi Soerjaningrat Lulus Akta Guru LO di Den Haag; Kongres Pendidikan Pertama 1916

Seperti disebut sebelumnya, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo karena sakit dan setelah mendapat izin dari pemerintah kembali ke tanah air pada bulan Agustus 1914. Sementara EFE Douwes Dekker telah menetap di Geneve (kini di Swiss). Bagaimana dengan Soewardi Soerjaningrat? Satu yang jelas, sudah terinformasikan Soewardi Soerjaningrat terinformasikan melanjutkan studi di Belanda (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 05-01-1914). Disebutkan Soewardi Soerjaningrat sedang belajar. Soewardi telah memulai studinya untuk menjadi seorang guru. 


Soewardi Soerjaningrat memiliki latar belakang sekolah dasar Eropa (ELS) di Jogjakarta dan sekolah kedokteran di Batavia. Soewardi Soerjaningrat diterima di tingkat persiapan Docter Djawa School/Stovia tahun 1903 (lihat De locomotief, 07-11-1903). RM Soewardi pada tahun 1904 lulus ujian transisi naik dari kelas satu ke kelas dua di tingkat persiapan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 07-11-1904). Pada tahun 1907 ini di Stovia, RM Soewardi naik dari kelas tiga tingkat persiapan ke kelas satu tingkat medik (lihat De locomotief, 10-10-1907). Yang juga satu kelas dengan RM Soewardi adalah Abdoel Rasjid Siregar, Mohamad Joesoef, Mohamad Sjaaf dan Raden Soesilo. Pada tahun 1909 RM Soewardi dan Abdoel Rasjid Siregar naik dari kelas satu ke kelas dua tingkat medik (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 15-09-1909). Sejak ini nama RM Soewardi tidak pernah terinformasikan lagi. Sementara Abdoel Rasjid Siregar masih terinformasikan pada tahun 1911 naik dari kelas tiga ke kelas empat tingkat medik (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 19-08-1911). Singkatnya: Abdoel Rasjid Siregar lulus sekolah kedokteran Stovia tahun 1914. Lalu Dr Abdoel Rasjid dingkat sebagai dokter pemerintah yang ditempatkan di BGD Batavia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 10-07-1914). 

Pada bulan Juni disebutkan Soewardi Soerjaningrat juga akan pergi ke Jenewa dalam beberapa bulan (lihat Delftsche courant, 29-06-1914). Ada apa Soewardi Soerjaningrat ke Jenewa (Jerman) dalam beberapa bulan sementara sekolahnya berada di Belanda? Boleh jadi saat ini tengah libur studi di Belanda lalu Soewardi Soerjaningrat ke Geneve untuk bertemu dengan koleganya EFE Douwes Dekker. Lalu apakah keduanya masih membicarakan politik? 


De nieuwe courant, 30-11-1914: ‘Tjipto. Soer. Nbl. melaporkan: Sabtu siang sekitar pukul setengah dua, telah tiba di Soerabaja dari Djokja. Ya, ditemani oleh seorang Kristen setempat, Darma Kasoema, dan disambut di stasiun Kotta oleh presiden perkumpulan De Indische Club, Bapak W., dan berbagai anggota Eropa dan pribumi dari Insulinde, Tjipto Mangoenkoesoemo, yang telah kembali dari Belanda, bukan Koesoema. Tjipto, mengenakan jas putih, sarung, dan penutup kepala, tidak banyak bicara. Setelah memberi salam, ia segera berangkat ke rumah yang disewanya di Peneleh. Menurut N. Soer. Ct., sebuah petisi kepada Ratu beredar di kalangan masyarakat pribumi, meminta izin kepada Douwes Dekker dan Soewardi, seperti Tjipto, untuk kembali ke Hindia. Perguruan Tinggi Pelatihan Guru untuk Guru Pribumi . Dr. Hazeu, Direktur Pendidikan, meresmikan perguruan tinggi pelatihan guru domestik (Hoogere kweekschool vau inlandsche onderwijzers) di Poerworedjo pada tangga; 19 Oktober. Leeuwarder courant, 30-11-1914: ‘Menurut "N. Soer. Ct.", sebuah petisi kepada Ratu beredar di kalangan penduduk pribumi, meminta izin kepada Douwes Dekker dan Soewardi, serta Tjipto, untuk kembali ke Hindia’.

Lantas mengapa Soewardi Soerjaningrat memilih sekolah keguruan di Belanda. Bukankah Soewardi Soerjaningrat telah terjun ke dunia politik. Di Belanda juga ada mahasiswa Indonesia yang mengambil bidang hokum, yang boleh jadi dapat sesuai dengan aktivitas Soewardi Soerjaningrat selama ini. Yang studi di bidang hukum di Belanda antara lain RM Noto Soeroto. Satu yang jelas, lawan-lawan politik mereka di Hindia tidak senang kembalnya Dr Tjipto apalagi ketiganya. 


Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 19-12-1914: ‘Kepergian yang menyedihkan. Ketika trio terkenal Tjipto, Soewardi, dan Douwes Dekker memilih untuk melarikan diri ke Eropa setelah perintah interniran, yang dimungkinkan oleh sumbangan dari "rekan partai" dikatakan bahwa ketiganya akan "belajar". Tjipto untuk menjadi dokter, Soewardi menjadi guru, dan duo terkenal Multatuli untuk mempelajari "masalah kolonial". Semua itu dibayar "oleh sumbangan". Para "kawan" menyediakan biaya hidup mereka. Namun, Tjipto melakukan hal lain selain belajar untuk menjadi dokter; ia merasa lebih tertarik pada "hubungan antara kulit putih dan cokelat", menjadi lumpuh, dan diizinkan kembali ke Jawa karena sakitnya. Soewardi gagal dalam ujian guru, dan Douwes Dekker tidak lebih dari beberapa artikel ancaman konyol di Die neue Zeit yang ditujukan kepada Pemerintah Belanda. Tak perlu diragukan lagi bahwa hasil dari begitu banyak pengorbanan finansial pasti berdampak melumpuhkan bahkan bagi badan Tadofonds. Memberikan uang kepada para pemalas dan pengangguran yang menjalani hidup malas di Eropa, sementara para kontributor Tadofonds bekerja keras untuk mencari nafkah di tengah panas yang menyengat, sangat tidak produktif; dalam jangka panjang, hal itu bahkan membunuh antusiasme IP yang paling bersemangat sekalipun. Sampai-sampai wesel pos mulai berkurang. Tjipto mungkin tidak lagi "diberikan kepada badan amal", tetapi bahkan untuk dua orang yang tersisa dari longsoran IP, tidak ada lagi tunjangan pensiun. Krisis ekonomi, yang membuat banyak orang disini menganggur, tentu saja langsung terasa dan dalam semua keparahannya pertama kali oleh para parasit. Karena alasan ini, Douwes Dekker menganggap bijaksana untuk mendekat sedikit. Dari Swiss yang indah, menurut laporan terbaru, ia akan turun ke Singapura. "Jauh di mata, jauh di hati": ia merasakan kebenaran pepatah ini di dompetnya, dan karena itu ia akan menetap sedikit lebih dekat dengan sumber dari mana sedekah diberikan kepadanya. Sang pahlawan tidak lagi memiliki uang untuk bepergian; kas Insulinde dan para pekerja Tadofonds yang miskin, yang di masa-masa sulit ini hanya bisa bertahan hidup dengan susah payah, mungkin akan berlumuran darah untuk biaya perjalanan. Dua ribu gulden harus dikumpulkan "begitu saja"! Betapa lebih bermanfaatnya uang ini dapat digunakan untuk mendukung para pekerja setia dan pekerja keras di Belanda, yang bersedia tetapi tidak mampu bekerja dan yang menderita kekurangan bersama keluarga mereka! Kami menawarkan ide kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang yang bijaksana. Namun, begitu berada di Singapura, DD akan dapat melakukan studi yang cermat tentang perbedaan perlakuan terhadap orang Indo di masyarakat di sana (Inggris) dan di koloni Belanda. Lebih lanjut, dilaporkan bahwa Ibu Douwes Dekker ingin membuka sekolah swasta di Semarang. Baiklah, kami mendoakan yang terbaik untuk warung pendidikan wanita ini, tetapi kami masih sedikit ragu untuk mengucapkan selamat kepada warga Semarang atas guru dadakan ini. Lagipula, dalam surat kabar kami tanggal 30 April 1911, kami membahas rencana gila yang menghantui pikiran para kaki tangan DD yang rela dan disalahgunakan pada hari-hari setelah 26 Desember 1912, ketika IP didirikan. Kami menulis: “Dengan menggunakan nama samaran, hasutan untuk melakukan pembunuhan dilakukan secara terselubung, begitu terselubung sehingga hakim pidana tidak dapat menangkapnya”. Dan kami ingat bagaimana Ibu Douwes Dekker, dalam sebuah artikel di Expres yang ditandatangani dengan nama lengkapnya, mengecam seorang penentang IP dan menyatakan keterkejutannya bahwa dia tidak diracuni! Apakah mengherankan jika kita tidak dapat mengucapkan selamat kepada Semarang atas pendidik yang lembut dan bijaksana ini, dan bertanya-tanya apakah wanita ini memang orang yang tepat untuk mempercayakan anak-anak kita kepadanya? Waspadalah!’. Catatan: Surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie yang terbit di Batavia dipimpin oleh Karel Wijbrand, seorang yang di dalam pers berbahasa Belanda di Hindia termasuk anti nasionalis dan cenderung rasis. Seperti dilihat nanti Karel Wijbrand akan mendapat lawan yang sepadan dengan jurnalis Parada Harahap. 


Pers berbahasa Belanda terus menyoroti kehadiran Dr Tjipto di Hindia. Tampaknya ada kekhawatiran dari mereka dan merasa tidak adik mencabut penahanan Dr Tjipto, sementara yang berhak untuk itu adalah Soewardi Soerjaningrat, yang dianggap menjadi korban dari EFE Douwes Dekker dan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo. Dr Tjipto dianggap tetap berbahaya bahkan jika dibandingkan dengan EFE Douwes Dekker. Hal ini karena pijakan Douwes Dekker yang didukung oleh orangp-orang Indo-Eropa telah dibersihkan. Saat ini tampak sudah mulai bergeser yang sebelumnya antara orang Belanda versus Indo/pribumi, kini di Solo sudah muncul gerakan baru yang berifat reformis (organnya Doenia Bergerak) yang mengusung oleh pribumi untuk pribumi untuk melawan unsur Eropa dan melawan unsur Cina. 


De Preanger-bode, 17-02-1915: ‘Oleh karena itu, dapat dimengerti bahwa dunia domestik merasa tidak puas ketika menjadi jelas bahwa Tjipto, yang segera pulih kekuatannya, terjun bebas ke kehidupan politik. Hal ini dirasakan sebagai ketidakadilan, terutama terhadap Soewardi, yang secara umum dianggap sebagai korban dari dua orang lainnya. Oleh karena itu, Soewardi bahkan lebih berhak atas pengampunan, menurut pemahaman umum manusia bahwa instrumen kurang bersalah daripada "pencipta intelektual". Kami tidak ingin menyembunyikan bahwa, sebagai konsekuensi tidak langsung, perasaan dan konsep yang sempit (misalnya, terhadap kelompok penting Indo-Eropa, yang mewakili sekitar 80 persen populasi Eropa) juga telah dibersihkan. Namun, mari kita tetap pada tindakan saat itu dan sekarang. Dalam hal ini terdapat kesamaan karakter yang khusus, dan perbedaan esensi yang khusus. Saat itu, tindakan tersebut berasal dari masyarakat Indo-Eropa untuk masyarakat Indo-Eropa. Upaya dilakukan untuk melibatkan dunia Tiongkok dan pribumi di dalamnya. Yang pertama gagal; yang kedua tidak sepenuhnya gagal. Unsur pribumi, yang ikut terseret, terus menempati posisi sekunder. Saat ini, tindakan tersebut berasal dari pihak pribumi untuk masyarakat pribumi, melawan unsur Eropa dan melawan unsur Cina’. De Sumatra post, 26-02-1915: ‘Tijpto Mangoenkoesoemo. Baru-baru ini dilaporkan bahwa Dokter Tjipto Manaroenkoesoemo, yang saat itu berangkat ke Belanda bersama Douwes Dekker dan Soewardi karena perintah interniran tetapi kemudian mendapat izin untuk kembali ke Hindia Barat karena sakit, diinterogasi oleh Asisten Residen di Solo mengenai sebuah artikel yang ditujukan untuk organ lokal majalah “Doenia Bergerak” (Marco dkk?), yang belum dicetak, tetapi Asisten Residen telah diberikan akses kepadanya. Terungkap bahwa Tjipto mengirimkan artikel ini, berjudul: "Justitie mengamoek", yang menarik perhatian pada berbagai penganiayaan yang dialami editor lokal baru-baru ini, pada tanggal 16 Januari. Artikel yang dimaksud telah jatuh ke tangan pemerintah’. 

Sudah terinformasikan Soewardi Soerjaningrat melanjutkan studi keguruan di Belanda. Namun tidak/belum terinformasikan sekolahnya dimana? Yang jelas, orang Indonesia yang sudah menyelesaikan pendidikan keguruan (akta LO dan akta MO) adalah Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan (pendiri Indische Vereeniging) di Rijkskweekschool di Haarlem (1906-1910). Sementara saat ini di kampus tersebut yang studi (keguruan) adalah Tan Malaka (1913-….). Sedangkan, Sjamsi Widagda sudah menyelesaikan studi keguruannya di sekolah keguruan sawasta di Den Haag. 


Sjamsi Widagda adalah guru muda (lulusan sekolah guru kweekschhol) dari Jogjakarta yang dikirim oleh Boedi Oetomo pada tahun 1911. Boedi Oetomo menitipkan Sjamsi Widagda kepada Soetan Casajangan, yang saat itu sebagai guru bahasa Melayu di sekolah perdagangan (Handelschool) di Haarlem dan Rotterdam. Sjamsi Widagda lulus ujian guru akta LO pada tahun 1913. Sebagaimana diketahui pada tahun 1913 ini pada bulan Juli Soetan Casajangan kembali ke tanah air; lalu sebaliknya pada bulan Oktober Soewardi Soerjaningrat tiba di Belanda (bersama Dr Tjipto dan EFE Douwes Dekker) dan sebulan kemudian menyusulan pada bulan November 1913, Tan Malaka (bersama Sorip Tagor dan Dahlan Abdoellah) tiba di Belanda. Saat ini pada tahun 1915 Sjamsi Widagda tengah mengikuti pendidikan bahasa Melayu dan etnografi di (Universiteit) Leiden. Lantas, apakah Soewardi Soerjaningrat memilih memilih sekolah keguruan karena sebelumnya Sjamsi Widagda studi keguruan di Belanda. Sebagaimana diketahui, selagi masih di Bandoeng, Soewardi Soerjaningrat adalah pengurus Boedi Oetomo cabang Bandoeng. 

Soewardi Soerjaningrat akhirnya terinformasikan telah menyelesaikan studi keguruannya dengan mendapat akata guru LO. Sekolah keguruan yang diikuti Soewardi Soerjaningrat tersebut berada di Den Haag. Namun apakah sekolah keguruan tersebut sekolah swasta atau sekolah pemerintah tidak terinformasikan. Seperti disebut di atas Sjamsi Widagda studi keguruan di sekolah keguruan swasta di Den Haag. 


De Preanger-bode, 16-06-1915: ‘Personalia, Den Haag (Pribadi.), 15 Juni. Soewardi telah lulus ujian sertifikat pendidikan dasar. Ia tidak akan kembali ke Hindia untuk sementara waktu’. De nieuwe courant, 17-06-1915: ‘Kami menerima pesan bahwa RM Soerjadi adalah mantan penduduk Den Haag yang berhasil mengikuti ujian pendidikan dasar, sertifikat guru, di sana Sabtu lalu, seorang pengasingan Hindia Belanda, lebih dikenal dengan nama Soewardi. Mengingat situasi istrinya, Soewardi telah memutuskan untuk sementara waktu membatalkan niatnya untuk pergi ke Bangka, tempat penahanannya’. Catatan: siswa yang diterima di sekolah keguruan di Belanda untuk akta LO adalah lulusan sekolah menengah tiga tahun (kira-kira lulus SMP). Soetan Casajangan, Sjamsi Widagda dan Tan Malaka adalah lulusan sekolah guru (kweekschool) tiga tahun di Indonesia. Besar dugaan syarat yang digunakan oleh Soewardi dalam hal ini adalah pendidikannya di sekolah kedokteran (Stovia di Batavia), yang mana jika telah melewati tingkat persiapan (3 tahun) dianggap setara dengan lulus sekolah menengah 3 tahun. Seperti disebut di atas Soewardi sudah berada di tingkat medik sebelum keluar dari Stovia. 

Soewardi Soerjaningrat tampaknya tidak segera kembali ke tanah air. Disebutkan karena istrinya di Belanda diduga sakit. 


De Maasbode, 08-07-1915: ‘Multatuli de Tweede. Dari laporan tahunan asosiasi "Insulinde" tahun 1914, kita menemukan di Soer. Hbl., antara lain, bahwa Douwes Dekker saat ini sedang menulis karya standar tentang Hindia, yang akan diterbitkan sesegera mungkin; jika memungkinkan, juga dalam bahasa Melayu. Buku tersebut akan muncul dalam 5 jilid dan terdiri dari sekitar 2.000 hingga 3.000 halaman cetak. Awalnya, rencananya — demikian laporan tersebut berlanjut — adalah bahwa DD, Soewardi, dan pasangan serta anak-anak mereka masing-masing akan pergi ke Singapura. Keadaan telah menyebabkan perubahan dalam hal ini. DD hanya akan mengirim istri dan anak-anaknya kembali ke Hindia dan kemudian akan mengabdikan dirinya pada ilmu politik di Zurich. Sungguh luar biasa betapa banyaknya pria ini mengadopsi paman buyutnya dan sesama martir, pahlawan Lebak’. De Sumatra post, 17-09-1915: ‘Para mantan pemimpin IP. Douwes Dekker, yang tidak berniat untuk ditahan di Timor, akan pergi ke Amerika Serikat. Soewardi, yang sedang bepergian melalui Jerman bersama Douwes Dekker, ditangkap karena dikira orang Jepang. Keduanya diberikan izin perjalanan yang sah. Butuh banyak usaha untuk membebaskan Soewardi; ia ditahan selama 10 jam’. 

Pada saat ini tahun 1915 yang menjadi ketua Indische Vereeniging adalah Sam Ratulangi sebagaimana sebelumnya diberitakan Bataviaasch nieuwsblad, 01-02-1915. Disebutkan Sam Ratulangi terpilih menjadi ketua Indische Vereeniging menggantikan Noto Soeroto. Sam Ratulangi juga adalah seorang guru. 


Pada tahun 1912 Sam Ratulangi diketahui berangkat ke Belanda dengan kapal ss Rembrandt berangkat dari Batavia tanggal 21 Maret 1912 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 20-03-1912), Disebutkan di dalam manifest kapal Sam Ratulangi dengan status guru kelas 1. Pada bulan September 1915 Sam Ratulangi diberitakan telah lulus ujian dan mendapat akta guru MO Matematika (lihat Het vaderland, 13-09-1915). Sam Ratulangi dalan kawan-kawan dari Indische Vereeniging menghadiri pemakaman C Th van Deventer (lihat Arnhemsche courant, 01-10-1915). Catatan: Sam Ratulangi setelah lulus ujian sekolah dasar Eropa (ELS) di Tondano berangkat studi ke Batavia di sekolah Wilhelmina School jurusan tekni dua tahun. Lalu kemudian setelah lulus ujian guru (kweekschool) di Bandoeng menjadi seorang guru sekolah. 

Lantas bagaimana dengan mahasiswa Indonesia lainnya di Belanda? Seperti disebut di atas, Soewardi Soerjaningrat lulus ujian akta guru LO (lihat De nieuwe courant, 17-06-1915). Yang kuliah di bidang keguruan, sebelumnya terinformasikan Dahlan Abdoellah lulus ujian guru akta LO di Den Haag (lihat Het vaderland, 03-06-1915). Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia tinggal di Leiden lulus ujian akta guru LO di Haarlem (lihat De Maasbode, 12-05-1915). 


Lalu bagaimana dengan Tan Malaka? Sejak kehadirannya di Belanda, Tan Malaka tidak pernah terinformasikan namun tercatat di Rijkskweekschool di Haarlem sejak tahun ajaran 1913/1914. Mengapa? Yang terinformasikan adalah pada tahun 1915 Sorip Tagor Harahap lulus ujian Propedeuse di bidang kedokteran hewan di Utrecht. 

Hingga tahun 1915 ini sudah menunjukkan sudah ada sejumlah orang pribumi yang telah menyelesaikan studi keguruan di Belanda dengan akta guru LO. Yang pertama adalah Soetan Casajangan (lulus akta LO pada tahun 1907) dan Sjamsji Widagda lulus akta LO tahun 1913 dan Sam Ratulangi yang selanjutnya yang lulus tahun 1915 ini adalah Soetan Goenoeng Moelia, Dahlan Abdoellah dan Soewardi Soerjaningrat. Namun yang tetap menjadi pertanyaan di bidang keguruan ini adalah Tan Malaka. 


Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 06-12-1915: ‘Dalam malajah Modjopait, Tjipto Mangoenkoesoemo dalam sebuah artikel berjudul “Een good Teeken” (Pertanda Baik) yang menceritakan bahwa mahasiswa Indonesia di Belanda telah memutuskan bahwa interaksi satu sama lain harus secara eksklusif menggunakan bahasa Jawa atau Melayu, dalam interaksi mereka satu sama lain, sementara para pelanggar kesepakatan ini adalah mereka satu sama lain, sementara pelanggar kesepakatan ini dihukum. "Bukankah ini hal yang baik bagi kaum intelektual di Jawa, yang telah mengadopsi kebiasaan selalu berbicara bahasa Belanda dalam interaksi sehari-hari mereka (satu sama lain)?" tanya penulis’. 

Dalam perkembangannya, masih pada tahun 1915 terinformasikan Dahlan Abdoellah dan Sjamsi Widagda mengikuti program bahasa Melayu dan Etnografi (lihat Deli courant, 27-12-1915). Disebutkan lulus ujian di Den Haag Mas Sjamsi dan Dahlan Abdoellah dalam Bahasa Melayu dan Etnografi. Sjamsi Sastra Widagda saat ini juga sebagai guru bahasa Melayu di sekolah perdagangan Handelschool di Amsterdam. Sebagai tambahan pada tahun 1915 Mangaradja Soeangkoepon kembali ke tanah air setelah menyelesaikan sekolah perdagangan Handelschool di Amsterdam. 


Sjamsi Widagda dan Dahlan Abdoellah serta Tan Malaka adalah lulusan sekolah guru (kweekschool) di tanah air. Seperti disebut di atas, Soewardi Soerjaningrat masuk ke sekolah keguruan di Belanda dengan persyaratan pendidikan yang ditempuhnya di Stovia (lulus tingkat persiapan, setara lulusan sekolah menengah tiga tahun). Bagaimana dengan Soetan Goenoeng Moelia? Pada usia belia, setelah lulus sekolah dasar Eropa (ELS) di Sibolga, Soetan Goenoeng Moelia berangkat studi ke Belanda pada tahun 1911. Di Leiden, Soetan Goenoeng Moelia mengikuti pendidikan di sekolah menengah yang kemudian lanjut ke sekolah keguruan. 

Tunggu deskripsi lengkapnya

Kongres Pendidikan Pertama 1916; Indische Vereeniging di Belanda dan Soewardi Soerjaningrat

Soetan CasajangkapnyaSoetan Casajangan telah meninggalkan legasi yang baik di Belanda dalam banyak hal, seperti persatuan dan pentingnya organisasi, keuatamaan sekolah keguruan bagi bangsa dan perjuangan yang tanpa henti untuk meningkatkan pendidikan pribumi. Saat inilah Sam Ratulangi dkk di Belanda mengambil peran lanjutan dari para senior mereka. 


Para perintis di Belanda dalam hal persatuan dan organisasi dimulai oleh guru Soetan Casajangan sebagai ketua Indische Vereeniging (1908-1910), kemudian dilanjutkan oleh Dr Ph Laoh (1910/1911), Hoesein Djajadiningrat (1911/1912), Dr HJD Apituley (1912/1913) dan kemudian RM Noto Soeroto (1913/1914) sebagai generasi pertama dan kini memasuki generasi kedua dimulai guru Sam Ratulangi (1914/1915). Catatan: Soetan Casajangan adalah anak seorang lulusan sekolah guru di Padang Sidempoean; juga Sam Ratulangi adalah anak seorang lulusan sekolah guru di Tondano. 

Lalu bagaimana dengan Soewardi Soerjaningrat? Dr Tjipto Mangoenkoesoemo sudah dibebaskan dari tahanan dan telah kembali ke Hindia. Seperti disebut di atas, Soewardi Soerjaningrat telah menyelesaikan studinya dengan akta guru LO, tapi belum pulang karena diduga istrinya sakit. Namun posisi Soewardi Soerjaningrat masih bersifat dilematis, jika pulang harus ditahan di Bangka, lalu jika masih tetap di Belanda, apakah Soewardi Soerjaningrat akan melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi untuk mendapatkan akta guru MO? Bagaimana dengan Sam Ratulangi, ketua Indische Vereeniging yang bulan September  1915 lalu telah lulus ujian guru akta MO, apakah akan segera kembali ke tanah air? Yang jelas, kepengurusan Indische Vereeniging dari Sam Ratulangi telah diestafetkan kepada pengurus baru yang dipimpin oleh Loekman Djajadiningrat, mahasiswa di bidang teknik di Delft. 


Het vaderland, 11-01-1916: ‘Indische Vereeniging. Sabtu sore lalu, rapat umum "Indische Vereeniging" berlangsung di sini. Laporan tahunan dengan jelas menunjukkan bahwa, karena keadaan luar biasa, asosiasi tidak dapat melaksanakan sebagian besar program kerjanya, yang diumumkan pada awal tahun asosiasi, selama tahun lalu. Laporan keuangan menunjukkan kondisi dana yang memuaskan. Setelah pembacaan laporan-laporan ini oleh ketua sementara dewan lama, transfer resmi dewan pun berlangsung. Menurut laporan di Tel., dewan baru terdiri dari 2 orang Sundanese, 2 orang Jawa, dan 1 orang Melayu. Ketuanya adalah R Loekman Djajadiningrat (Sundanese); sekretaris RM Joedjono (Jawa). Dalam programnya, dewan baru telah memasukkan: a. pengajuan status badan hukum untuk asosiasi, yang telah dilakukan beberapa kali di masa lalu oleh berbagai anggota. b. usulan, tetapi baru akan berlaku sekarang. Sebuah komite penyelidikan dan persiapan telah dibentuk, di mana Sarengat, anggota dewan yang akan pensiun, memegang kursi. Penerbitan sebuah organ perkumpulan, yang atas usulan anggota Soewardi Suryaningrat, akan diberi nama "Hindia Poetra" (Putra-putra Hindia). Dengan penerbitan organ ini, sebuah pekerjaan yang bermanfaat dan baik sedang dilakukan, karena tujuannya bukan hanya untuk memberi kesempatan kepada anggota pribumi, tetapi juga kepada para donatur Belanda dan pihak-pihak lain yang berkepentingan untuk menyampaikan pendapat mereka tentang berbagai hal yang berkaitan dengan Hindia dan Belanda, dan dengan demikian untuk menjalin kontak yang lebih dekat. Lebih lanjut, laporan-laporan penting dari masyarakat pribumi akan dimasukkan dalam terjemahan ke dalam organ yang akan didirikan, sehingga anggota dan pihak-pihak lain yang berkepentingan tetap mendapat informasi secara teratur tentang hal-hal yang berkaitan dengan makanan adat, yang mungkin tidak akan mereka ketahui. Organ ini menjanjikan hasil yang bermanfaat, juga karena pendapat Belanda dapat diungkapkan di dalamnya. Bapak Mac Donald, seorang donatur perkumpulan, telah menjanjikan dukungan finansialnya untuk penerbitan tersebut. Untuk itu, ucapan terima kasih yang pantas dari perkumpulan telah disampaikan. c. Penyelenggaraan kuliah, termasuk, baru-baru ini, oleh Dr Hazeu, Direktur Pendidikan di Hindia Belanda, dengan izin, tentang "Pendidikan Pribumi"; oleh Bapak Lekkerker, Inspektur Pendidikan Pribumi, dengan izin; dan oleh Bapak Muhlenfeld, inspektur di administrasi internal di Jawa, seorang ahli kondisi Vorstenlanden (Kerajaan Soerakarta/Jogjakarta). d. Penyelenggaraan perayaan peringatan sederhana pada kesempatan ulang tahun ke-5 asosiasi, di mana akan diadakan konser Gamelan, yang akan dibawakan oleh para anggota sendiri’. 

Lalu apa yang menjadi program utama dan program baru dari kepengurusan Indische Vereeniging 1915/1916 yang baru terbentuk? Pengurus baru akan membentuk organ dari Indische Vereeniging berupa majalah. Dalam rapat pengurus yang baru dilaksanakan telah dibentuk komite yang dipimpin R Sarengat untuk pembentukan majalah itu. Dalam rapat yang juga turut dihadiri oleh Soewardi Soerjaningrat mengusulkan namanya adalah "Hindia Poetra”.

 

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 10-01-1916: ‘Kesengsaraan Tado. Seorang kenalan mengirimkan surat edaran dari dewan utama asosiasi Insulinde kepada para anggotanya, yang isinya mendesak mereka untuk mendukung Tadofonds. Pembaca pasti ingat untuk apa dana ini, yang didirikan oleh para nasionalis Hindia Belanda selama masa kampanye IP melawan otoritas Belanda, digunakan. Awalnya untuk mendukung kampanye partai dan surat kabar De Expres, kemudian untuk menutupi biaya tinggal triumvirat yang diasingkan di Belanda. Dana itu sekarang berada di ambang "kehabisan" memang! Sama seperti seluruh perlengkapan "nasionalis" lainnya. "Gerakan" Hindia Belanda memiliki kesamaan dengan pohon-pohon Hindia Belanda, yaitu tumbuh sangat cepat, tetapi tidak cukup berakar, sehingga tumbang hanya dengan sentuhan ringan. Hal itu terlihat jelas dari laporan Tjipto di De Voorpost, edisi Belanda dari majalah Modjopahit, mengenai "gerakan Indische", di mana ia menulis minggu lalu: "Terutama di dunia orang-orang Hindia pribumii, telah diamati hal-hal yang menunjukkan bahwa gerakan di sana dianggap telah diciptakan untuk kepentingan pribadi beberapa orang; gejala kemerosotan telah terlihat yang, dalam kemiskinan kita, membuat kita bertanya-tanya apakah orang Jawa tidak akan pernah belajar". Itu merujuk pada SI dan penggelapan dana tunai. Mengenai Insulinde, ia mengatakan bahwa kurangnya solidaritas telah terjadi. Dan dengan itu, kita kembali ke titik awal kita: Tadofonds Insulinde. Kurangnya solidaritas, pada kenyataannya, adalah alasan mengapa dana ini tidak lagi dapat bertahan. Situasinya sangat tidak menguntungkan, demikian pernyataan dewan utama dalam surat edaran tersebut, "sehingga kita akan segera dihadapkan pada kenyataan bahwa dukungan yang harus kita berikan kepada para pengasingan kita harus dikurangi sedemikian rupa sehingga, dengan niat terbaik sekalipun, mereka tidak mungkin dapat hidup dengan dukungan tersebut dan oleh karena itu harus menderita kemiskinan". Oleh karena itu, di bawah usia 10 tahun, Soewardi dan "dokter" Douwes Dekker tidak dapat mencari nafkah di luar pekerjaan menghasut revolusi. Pada tanggal 12 Oktober, pendidik yang disebutkan pertama kali menulis kepada dewan utama Insulinde: "Karena sekarang tampaknya GG Idenburg tidak ingin menerima kembali Idenburg sebagai seorang wanita di Hindia, dan Pleyte tidak dapat melawan Idenburg, saya percaya yang terbaik adalah tidak menunggu pencabutan penahanan Idenburg di Bangka sebagai individu tunggal, tetapi di Belanda. Rencana Idenburg adalah ini: Seperti yang Anda ketahui, saudara laki-lakinya, Soerjopranoto, seorang ahli pertanian di Wonosobo, menerbitkan jurnal ekonomi sosial, Medan Boediman. Meskipun para editor bermaksud untuk bekerja sangat liberal, yaitu, bahkan revolusioner jika perlu (ruang. Ed. N. v. d. D. v. N. I), meskipun para kontributor disarankan untuk sebisa mungkin tidak, saya tidak keberatan untuk berkontribusi pada jurnal tersebut". Pemerintah Hindia Belanda mengetahui, seperti halnya Tjipto dan Douwes Dekker, apa yang juga menanti Soewardi, seandainya ia kembali ke sini. Yaitu: "pekerjaan revolusioner". Para pria ini tidak mampu melakukan pekerjaan sosial. Tanpa Tadofonds, mereka tidak mampu menyediakan roti untuk istri dan anak-anak mereka. Tetapi "pekerjaan" revolusioner: itu mereka pahami! "Namun, jangan lupa" — demikian Soewardi dalam surat yang sama, — "bahwa segera setelah penahanan saya dicabut, saya akan segera kembali ke Hindia sendiri, untuk memulai pekerjaan besar itu lagi dengan semangat yang diperbarui". Begitu rusaknya pemikiran pemuda pribumi yang sesat ini sehingga ia tidak menganggap mampu menyediakan dan bekerja untuk keluarganya sendiri sebagai hal yang "besar". Karena ia tetap tidak mampu melakukannya. Tetapi "besar", menurutnya, adalah menghasut penduduk pribumi yang tidak berpendidikan untuk melawan Otoritas. Dan Dewan Eksekutif Insulinde tidak hanya berusaha untuk menjaga agar orang-orang malang yang sombong itu tetap hidup dengan sedekah, tetapi juga untuk mendukung mereka dalam rencana jahat mereka. Kegagalan Tadofonds—(surat edaran tersebut adalah buktinya)—dengan sendirinya sudah merupakan kecaman terhadap bisnis Insulinde yang menyedihkan’. 

Dalam perkembangannya komite pembentukan organ Indische Vereeniging yang dipimpin oleh R Sarengat, yang juga mahasiswa bidang teknik di Delft, menunjuk Soewardi Soerjaningrat yang akan menjadi editor majalah Hindia Poetra tersebut. Namun, seperti biasa, lawan-lawan politik Soewardi Soerjaningrat (Dr Tjipto dan EFE Douwes Dekker) di Hindia (terutama Karel Wijbrand dari surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie), akan selalu “nyinyir” apapun usaha kebaikan yang akan mereka laksanakan. 


Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 07-02-1916: ‘Berlagak pamer. Pada bulan Maret mendatang, akan terbit semacam majalah bulanan, berjudul Hindia Poetra, organ dari "Indischen Bond" (Indische Vereeniging) di Den Haag. Majalah ini akan diterbitkan dalam bahasa Belanda dan diedit oleh penghasut revolusi yang diusir, Soewardi! Dalam beberapa bulan, kami memperkirakan, "majalah bulanan" ini akan tergeletak di bagian belakang tipografi seperti itu. Red’. 

Dalam hubungannya dengan orang pribumi (dan orang-orang Indo), termasuk organisasi mahasiswa pribumi di Belanda, Indische Vereeniging, orang-orang Belanda sendiri terbelah menjadi dua kubu. Di Hindia, orang-orang Belanda (totok) seperti Karel Wijbrand sangat menentang apapun yang dilakukan oleh orang-orang pribumi/Indo dan juga terhadap orang-orang Belanda lainnya yang secara aktif mendukung perkembangan pribumi seperti Deventer, Abendanon, van Hogendorp, Charles Adrian van Ophuijsen di Belanda. Karel Wijbrand dkk ini juga adakalanya mengkritisi Pemerintah Hindia Belanda jika ada kebijakannya yang pro kepada pengembangan orang pribumi. Seperti pernah dikatakan EFE Douwes Dekker dulu saat pemebentukan Indische Partiij di Bandoeng, Karel Wijbrand dkk ini adalah yang akan menjadi musuh nyata Indische Partij. 


Het vaderland, 16-04-1916: ‘Indische Vereeniging. Jumat lalu, Asosiasi Hindia mengadakan rapat umum di Café Riche, di mana Bapak Lekkerkerker, Inspektur Pendidikan Pribumi di Hindia, yang sedang cuti, memberikan ceramah tentang: "Orang Pribumi untuk Orang Pribumi". Rapat tersebut dihadiri banyak orang, dan minat anggota serta donatur sangat luar biasa, yang dapat dikaitkan dengan kehidupan yang dibawa oleh "Hindia Poetra" dalam asosiasi Opgewekt. Bapak Lekkerkerker memulai dengan menyatakan bahwa semboyan yang umumnya dianut oleh Hindia: "Orang Pibumi untuk Orang Pribumi" tidak lengkap. Semboyan tersebut disertai dengan bagian kedua dari semboyan tersebut, yang menurut pembicara, adalah: "Orang Pribumi untuk Orang Pribumi". Dengan "Indiërs", pembicara memahami semua anak-anak negeri Hindia, tanpa membedakan agama, warna kulit, asal, dan lain-lain. Selanjutnya, pembicara membahas berbagai masalah sosial di Hindia, membandingkannya dengan kondisi serupa di Eropa dan di negara Asia yang masih muda, Jepang, dan sampai pada keyakinan bahwa harus ada pemerataan berbagai kelas sosial di Hindia. Untuk tujuan ini, kelas atas di Hindia  juga harus melepaskan banyak hak istimewa dan keuntungan mereka dan mencurahkan upaya terbaik mereka untuk penghapusan kelas pekerja. Sungguh menggelikan bahwa kaum terdidik di Hindia menikmati gaji yang lebih tinggi daripada rekan-rekan mereka di negara lain, di Eropa, di Jepang, dan lain-lain, sementara para petani dan pengrajin berpenghasilan jauh lebih rendah daripada orang-orang yang setara dari negara lain mana pun. Itu harus berubah. Hindia adalah negara berkembang, dan pengaturan banyak urusan sosial harus dimulai di sana sejak sekarang, yang diperlukan untuk negara yang harmonis. Sehubungan dengan hal ini, pembicara menyoroti berbagai kewajiban yang harus dipenuhi oleh para intelektual pribumi, khususnya, terhadap negara dan rakyat mereka. Secara khusus, kewajiban untuk melakukan pengorbanan pribadi ketika hal itu harus dilakukan demi kepentingan negara. Pembicara secara meyakinkan menunjukkan betapa kecil nilainya dan betapa sementara sifat popularitas, dan menyimpulkan dengan seruan untuk kerja keras tanpa lelah dan pengabdian tanpa pamrih dalam melayani tanah air. Setelah beberapa hadirin, secara berturut-turut Bapak Baron van Hogendorp, Soewardi, Soerjo Poetro, Abendanon, Versteegh, De la Croiz, dan Loekman Djajadiningrat, bertukar pandangan tentang subjek tersebut dengan Bapak Lekkerkerker, yang kemudian menghasilkan debat yang hidup dan informatif, ketua menutup pertemuan dengan ucapan terima kasih kepada pembicara malam itu dan kepada hadirin atas perhatiannya, kemudian dilanjutkan dengan pertemuan internal tunggal’. 

Surat kabar yang terbit di Batavia Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie yang dipimpin Karel Wijbrand (yang belakangan ini mendekati Indische Bond) yang selalu nyinyir terhadap perkembangan pribumi, sebaliknya, tentu saja juga ada yang mendukung perjuangan pribumi terutama di dalam barisan Vereeniging Insulinde seperti surat kabar De nieuwe vorstenlanden  di Soerakarta (dalam hal ini jangan pula lupa, diantara orang-orang pribumi juga belakangan ini juga mulai terbelah dengan semakin meningkatnya aktivitas dari kelompok yang berhaluan komunis melalui Indische Sociaal Democratische Vereeniging-ISDV yang dipimpin Henk Sneevliet di Soerabaja). 


De nieuwe vorstenlanden, 05-05-1916: ‘Selamat datang! Selamat datang, adik kecil. Selamat datang di kehidupan! Hindia Poetra lahir di Belanda, buah dari perkumpulan Iodian di sana, dipercayakan kepada S Soerjaningrat untuk membesarkannya. Selamat datang adik kecil, selamat datang di kehidupan! Tumbuhlah, anak roh, untuk kepuasan orang tuamu, demi kebaikan tanah kelahiran mereka! Jarang sekali ada majalah yang dikirimkan kepada kami sebagai pengumuman yang begitu kami sukai. Hindia Poetra adalah surat kabar bulanan Hinia umum dengan teks bahasa Belanda eksklusif, ditujukan untuk orang Hindia (Indiers) dan semua pihak yang berkepentingan terkait Hindia. Dalam kata pengantarnya, para editor menulis: “Fakta bahwa Indische Vereeniging telah menyerahkan seluruh pengelolaan jurnal kepada seseorang yang memiliki keyakinan kuat membuat penjelasan yang lebih rinci tentang cara majalah bulanan ini akan diedit menjadi perlu. Namun lebih dari itu, Hindia Poetra bermaksud untuk menjadi lebih dari sekadar organ resmi sebuah asosiasi, sehingga penjelasan singkat dalam kata pengantar memang tidak boleh absen. Ketika dewan IV bertanya kepada kami apakah kami bersedia untuk mengambil alih pengoperasian organ yang akan diluncurkan, kami memberikan jawaban bersyarat. Terlepas dari kenyataan bahwa kami harus diberi kebebasan dalam hal penyuntingan, menurut pandangan kami, organ tersebut harus menjadi majalah Hindia umum yang juga cukup menarik bagi orang luar, dengan Indische Vereeniging hanya menerima mahasiswa Hindia yang belajar di negara ini—sekitar 40 orang—sebagai anggota”. Tampaknya dewan pengurus memiliki pendapat yang sama, sehingga setelah rencana tersebut disetujui oleh rapat umum, menyusul janji dukungan keuangan yang diapresiasi oleh Bapak JW Macdonald, pelaksanaan rencana tersebut dapat berjalan dengan cepat. Harus segera ditegaskan bahwa Hindia Poetra tidak akan menjadi organ perjuangan politik; karena lebih dari satu alasan, hal ini dikesampingkan. Surat kabar kami ingin memiliki karakter Hindia umum, yang berarti kami akan mendedikasikan kolom kami untuk membahas segala macam topik yang mungkin bermanfaat bagi Hindia dan rakyat Hindia. Kontribusi tentang pendidikan, seni dan sains; pertanian, peternakan dan industri; perdagangan, politik, dll.; singkatnya, segala sesuatu yang dapat mendorong perkembangan harmonis rakyat Hindia, akan dengan senang hati diterbitkan oleh para editor. Bahwa sudut pandang Hindia akan selalu diadopsi oleh kita hampir tidak perlu dikatakan". Kami mencatat dengan senang hati bahwa RM Soewardi telah melepaskan diri dari masa lalu, memberikan contoh yang baik bagi rekan-rekan editornya dari berbagai surat kabar pribumi, yang sebenarnya diharapkan sedikit lebih menahan diri. Bapak A Muhle memberikan nasihat yang baik dalam artikelnya "De Inlandsche Pers": "Harus diakui", tulis sahabat orang Jawa ini, bahwa surat kabar Jawa tidak hanya memberikan contoh bagi beberapa surat kabar Eropa yang diedit dengan sangat baik, tetapi dengan demikian juga terlalu banyak meniru bagian dari pers harian Eropa yang, selama bertahun-tahun—untuk mengutip Profesor Snouck Hurgronje sekali lagi—"membaca kecaman dari semua daerah kumuh". Dan betapapun dapat dimengertinya menurut saya, bahwa seorang jurnalis Eropa, yang menulis secara berlebihan, seperti yang biasa dilakukan dalam penulisan kreatif, membawa kesedihan yang mendalam, seseorang tidak boleh membiarkan dirinya tergoda untuk memberikan ekspresi terbuka seperti itu pada pemikirannya. Penulis di No. 232 Kaoem Moeda, menyebut Van Haastert sebagai "jurnalis Eropa setengah matang dengan otak yang terbuat dari kotoran kandang yang dicampur dengan hidrogen sulfida". Jika seorang anak jalanan melempar kotoran kuda ke arah kita, tentu kita tidak akan membalasnya dengan setimpal? Nah, dalam jurnalisme, hal ini juga tidak perlu. Tulisan, yang beberapa contohnya telah diberikan di atas, mengutuk dirinya sendiri, dan terlalu memperhatikan tulisan adalah hal yang merendahkan martabat kehidupan yang layak. Maka, yang sangat menyenangkan adalah kata pembuka yang saya temukan di edisi pertama Medan Boediman, yang masih merupakan organ resmi singkat dari Asosiasi Boedi Oetomo. Saya membaca, antara lain: "Namun, satu nasihat tidak boleh disembunyikan dari Anda di sini: berhati-hatilah dalam mengungkapkan pemikiran Anda tentang masalah politik, jangan terlalu tajam dalam kritik Anda terhadap tindakan pemerintah. Betapa mudahnya orang salah menafsirkan kata-kata kami; kami duduk di sini di tengah-tengah masyarakat yang sebagian besar tidak mampu mengungkapkan pendapat". Pengendalian diri para kolaborator diharapkan oleh Partai Radikal". Cara orang Belanda terkadang diperlakukan bahkan membuat anggota partai dan teman-teman Tjipto merasa terasing. Hal itu disebabkan oleh toko bagian Belanda dari Asosiasi Insulinde yang terabaikan. Terdapat perbedaan besar antara majalah yang beredar saat itu, De Indiër, yang juga diedit oleh RM Soewardi, dan Hindia Poetra. Dalam seperti yang dikatakan NC, suara organ baru ini terdengar lebih tua, cukup terbuka dan tidak agresif. Dan inilah jalan yang akan membawa kita lebih dekat kepada keinginan semua orang, yaitu pemerintahan mandiri Hindia’. 

Sebagaimana diketahui, seperti disebutkan sebelumnya, bahwa Indische Partij di Bandoeng lahir dari suatu kudeta di tubuh Indische Bond di Batavia tahun 1912. Lalu dalam perkembangannya sisa Indische Bond semakin menarik jarak dengan Indische Partij, sebaliknya Vereeniging Insulinde semakin terhubung dengan Indische Partij. Namun pada tahun 1913 Indische Partij dilarang dan tiga anggotanya yang dianggap melakukan agitasi (Dekker, Tjipto dan Soewardi) dan ditahan dan kemudian berangkat ke Belanda. Keberangkatan ketiganya ke Belanda didukung pembiayaan oleh Insulinde melalui Tadofonds. Belakangan ini Vereeniging Insulinde juga terkesan semakin akrab dengan ISDV. 


Bataviaasch nieuwsblad, 14-06-1916: ‘Kongres Indiers. Semarang, 11 Juni 1916. Para anggota Hindia, yang bersatu dalam Insulinde, bertemu selama Pentakosta di Semarang di sebuah tempat di Paradeplein. Kongres ini dipimpin oleh Bapak Topee. Beliau membuka pertemuan dengan pidato yang menyatakan, antara lain, bahwa asosiasi tersebut tidak berjalan dengan baik dalam setahun terakhir. Tidak banyak tanda-tanda kehadiran yang kuat. Pertemuan anggota biasanya dihadiri sedikit orang. Hanya selama pemilihan kotamadya upaya yang baik dilakukan. Dewan utama telah mengeluarkan seksi Toemah Loentoeng di Mecado, yang berjumlah 400 anggota. Dalam pidato ini, pembicara juga membahas hubungan antara Insulinde dan ISDV. Beliau mencatat bahwa kerja sama antara Insulinde dan ISDV hanya terbatas pada komite untuk kebebasan pers, dll., dan lebih jauh lagi pada politik kotamadya, terutama untuk pemilihan dewan kotamadya. Terkadang terdengar nada sumbang mengenai kerja sama tersebut, meskipun perlu dipahami dengan jelas bagaimana situasinya. Insulinde tidak memiliki masalah dengan ISDV, dan ISDV pun tidak memiliki masalah dengan Insulinde, tetapi tiga pemimpin Insulinde (Teeuwen, Topee, dan Tjipto) menentang tindakan Sneevliet dan Dekker dalam kasus Darra Koesoema, yang mengatur agar Darra Koesoema dipecat dari ISDV tanpa diberi kesempatan untuk berbicara. Penilaian pembicara tentang sosialisme adalah bahwa sosialisme tidak dapat berkembang di tanah Indonesia. Sosialisme tidak dapat begitu saja ditransplantasikan ke sini. Itu adalah konsekuensi yang diperlukan dari perkembangan kapitalisme. Pembicara membandingkan hal ini dengan kebangkitan kembali saroenbond yang diamati di Timur di kalangan orang Asia. Pembicara membandingkan Douwes Dekker dan Soewardi dengan triumvirat Belanda yang terkenal pada tahun 1913, yang membebaskan tanah airnya dari dominasi asing. Oleh karena itu, pembicara menyarankan agar Gubernur Jenderal saat ini, yang leluhurnya merupakan bagian dari triumvirat tersebut, karena rasa hormat atas perbuatannya, membatalkan perintah pengasingan terhadap Douwes Dekker dan lainnya. Berdasarkan laporan tahunan yang dibahas setelah pidato ini, diketahui bahwa jumlah anggota pada tanggal 31 Desember 1915 mencapai sekitar 1.000 orang. Asosiasi tersebut mencatat defisit sebesar f3.751,20 untuk tahun 1915. Modal awal Tadofond telah habis sepenuhnya. Beberapa distribusi masih dapat dilakukan, tetapi setelah itu, dukungan untuk anak-anak Douwes harus dikurangi. Di hadapan Bapak Sneeuwjagt, Weijaemuer, dan Raads Pramoe, Soefnar, Sasra, dan Soeria terpilih menjadi anggota dewan. Selanjutnya, diputuskan untuk memperkuat Tadofonds untuk tujuan itu, meminta anggota untuk membayar iuran. Marco kemudian mengajukan proposal untuk pembentukan dana studi. Soeria menyatakan pendapat yang kuat bahwa pemerintah harus menyediakan kesempatan untuk belajar. Teeuwen menyatakan bahwa ada begitu banyak disiplin ilmu yang baik di Jepang dan bahwa disiplin ilmu tersebut memiliki pengaruh yang tak terbantahkan terhadap perkembangan masyarakat Jepang. Hal ini mendorong Darna untuk membacakan sebuah artikel dari organ Pertimbangan, di mana editor Jepang menulis bahwa jika tentara Belanda di Hindia tidak menyediakan universitas, Jepang akan melakukannya. Akhirnya, diputuskan untuk mencari dukungan dari SI, Boedi Oetonio, dan Poencian juga, untuk membentuk dana studi. Selanjutnya, surat pendahuluan dari seksi Meester Cornelis dibahas, yang ingin meminta Menteri untuk menerbitkan semua dokumen yang berkaitan dengan pendirian sekolah-sekolah pribumi sesuai dengan undang-undang tahun 1871. Pertemuan tersebut menyarankan agar seksi itu sendiri meminta dokumen-dokumen ini dari Direktur Pendidikan di Batavia. Masalah penerimaan semua ras ke semua sekolah diperdebatkan dengan sengit, dan masalah bahasa pengajaran juga dimasukkan dalam diskusi. Diputuskan untuk mengajukan permintaan kepada Menteri untuk mendirikan sekolah-sekolah di Hindia yang dapat diakses oleh semua ras. Sebuah usulan disetujui untuk meminta Menteri menghapus pasal peraturan pemerintah yang menjadi dasar dekrit pengusiran. Untuk pencetakan Voorpost dan Modjopait, yang telah ditemukan percetakannya di Semarang, dana harus dikumpulkan. Diputuskan untuk meminta dana ini melalui telegram dari Tadofonds. Pada pertemuan berikutnya, bahasa Melayu akan menjadi bahasa resmi. Selanjutnya, masalah pendirian surat kabar harian dibahas, dan beberapa kapitalis Hindia, Jepang atau Jerman, bersedia menyediakan dana hingga f40.000 jika Insulinde memperoleh saham senilai f10.000. Nama-nama tidak boleh disebutkan. Para pria ini, yang tetap berada di balik layar, akan menangani administrasi. Insulinde akan mengurus penyuntingan. Untuk tujuan ini, Insulinde telah diberikan kebebasan penuh. Razoux Kuhr dan Tjipto akan memimpin tim redaksi. Melalui sumbangan murah hati dari seorang warga Hindia, sebesar f80 Pada tahun, Insulinde berhasil mengumpulkan 10.000 gulden. Namun, penerbitan majalah tersebut harus ditunda untuk sementara waktu. Kekhawatiran muncul bahwa hal itu akan kembali berakhir dengan kegagalan. Tetapi dengan tegas dinyatakan bahwa Insulinde tidak ada hubungannya dengan keberhasilan atau kegagalan usaha tersebut. Akibatnya, selama diskusi umum, diputuskan untuk mengadakan Pertemuan Tahunan berikutnya di lokasi yang berbeda. Tjipto membahas masalah penerimaan orang Jepang ke dalam asosiasi. Menurutnya, tidak ada keberatan terhadap hal ini. Namun, seorang anggota dari Batavia dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada orang Jepang yang mendaftar sebagai anggota di cabang Batavia. Hanya ada satu orang Jepang yang bertanya apakah ia bisa menjadi anggota. Pertemuan pagi ditutup setelah itu. Pada pertemuan malam Kongres Hindia pada tanggal 11 Juni di Semarang, Darna Koesoema membacakan pidato yang disusun oleh Rijken dan membahas tentang pertahanan nasional Indonesia. Di dalamnya, dinyatakan bahwa rakyat Hindia juga ingin memiliki suara dalam pemilihan penindas mereka. Dalam menghadapi ambisi ekspansionis Jepang, Belanda melakukan yang terbaik untuk membuat Hindia tangguh. Dan ini dengan bantuan rakyat Hindia, yang, juga dengan tujuan evolusi mereka, melakukan yang terbaik untuk mendukung Belanda. Tjipto menyampaikan pidato tentang parlemen Hindia. Menurut ketua parlemen, rancangan pembentukan dewan kolonial akan memberi kita pengganti majelis perwakilan. Ia memiliki sistem yang berbeda untuk diusulkan. Ia menginginkan parlemen dengan 100 anggota, setiap anggota mewakili sebuah daerah pemilihan. Ketua haruslah wakil presiden Dewan Hindia. Bahwa parlemen tersebut... Ketua parlemen belum menganggap perlu untuk segera memberlakukan undang-undang. Menurutnya, lebih baik bagi DPR untuk membatasi diri pada periode pertama pada pengesahan anggaran untuk Hindia Belanda. Pada tahun-tahun pertama, Majelis Kedua juga harus melakukan pengawasan terhadap parlemen muda tersebut dengan menggunakan hak veto. Ketua parlemen menganggap para direktur departemen sebagai menteri. Ketua parlemen akan dengan senang hati melihat hak pilih aktif untuk parlemen ini tercermin dalam semua abjad. Ini akan memastikan bahwa jumlah pemilih sudah mencapai 600.000 jiwa pada saat itu. Ketua parlemen belum ingin memberikan hak pilih universal kepada rakyat. Ia khawatir akan penyalahgunaan, seperti yang saat ini terjadi dalam pemilihan keturunan. Melalui pendidikan yang lebih baik, jumlah pemilih akan terus meningkat. Ketua parlemen tidak ingin memberikan hak pilih kepada warga Belanda, sebagai warga negara asing, hingga setelah satu tahun. Tetapi warga negara asing lainnya juga, menurut pendapatnya, harus diberi kesempatan untuk mendapatkan hak pilih. Ketua parlemen mendukung hal itu: bahwa ras tertentu tidak boleh diwakili secara proporsional di parlemen; para delegasi harus duduk di sana atas nama seluruh rakyat. Untuk menghindari kekacauan bahasa di parlemen, menurut pandangan ketua parlemen, bahasa Belanda harus tetap menjadi bahasa resmi sementara parlemen. Majelis menyatakan harapan agar Tjipto dapat mempresentasikan hal ini sekali lagi pada kongres SI yang akan datang. Selanjutnya, majelis membahas dalam bahasa Melayu beberapa penyalahgunaan yang terjadi selama perekrutan untuk pantai barat Sumatera. Diputuskan untuk memberikan subsidi sebesar 50 guilder per bulan dari Tadofonds kepada Darna, yang akan pergi ke Belanda untuk mempelajari kondisi di sana, dengan syarat Dewan Tadofonds menyetujuinya. Pertemuan dengan ini diakhiri. Pertemuan ditutup dengan formalitas yang biasa. Para anggota Hindia tetap berkumpul untuk hiburan, di mana Ibu Fietterma-de Ridder menyanyikan beberapa lagu’. 

ISDV yeang terbentuk di Hindia (Soerabaja) pada dasarnya adalah orang-orang yang berasal dari Partai SDAP (Sociaal-Democratische Arbeiderspartij) di Belanda. Pada tahun 1914, saat diadakan pertemuan umum SDAP turut dihadiri oleh Dr Tjipto Mangoenkoesoemo yang mengatasnamakan dirinya sebagai perwakilan organisasi para pekerja kereta api pribumi di Hindia. Sekarang Dr Tjipto sudah berada di Jawa. Bagaimana dengan Soewardi Soerjaningrat di Belanda? Lalu bagaimana sekarang hubungan keduanya? 


Bataviaasch nieuwsblad, 28-06-1916: ‘Edisi kedua Hindia Poitera, organ Hindia di Belanda, telah terbit, yang antara lain memuat uraian tentang posisi terkait publikasi tersebut. Bagaimanapun, editornya adalah tokoh Hindia yang terkenal, Soewardi Soerianingrat, dan ini segera menimbulkan pertanyaan: apa ini? dan memicu ungkapan keraguan. Namun, publikasi tersebut tidak memberikan alasan untuk keraguan itu; publikasi ini radikal tetapi tenang, dan pasti akan memberikan pengaruh yang sangat baik di Belanda’. 

Apa yang menjadi aktivitas utama Soewardi Soerjaningrat di Belanda tidak terinformasikan. Sudah lulus guru dengan akta LO, tetapi belum kembali ke tanah air. Sementara sebagai pemimpin redaksi Hindia Poetra, apakah Soewardi Soerjaningrat melanjutkan studi di Belanda tidak terinformasikan. Yang terinformasikan adalah Sorip Tagor lulus ujian kandidat dokter hewan di Rijksveeartsenijschool di Utrecht pada bulan Juni 1916 (lihat Algemeen Handelsblad, 19-06-1916).

 

Tiga guru lainnya yang telah mendapat akta LO, Sjamsi Widagda, Dahlan Abdoellah dan Soetan Goenoeng Moelia melanjutkan studi keguruan untuk mendapatkan akata guru MO. Dahlan Abdoellah sendiri di dalam kepengurusan Indische Vereeniging duduk sebagai archivaris (Nieuwe Rotterdamsche Courant, 10-08-1916). Bagaimana dengan Tan Malaka yang tercatat sebagai mahasiswa studi keguruan Rijkskweekschool di Haarlem? 

Nama Tan Malaka mahasiswa studi keguruan Rijkskweekschool di Haarlem terinformasikan telah lulus dengan akta guru LO (lihat Algemeen Handelsblad, 26-08-1916). Disebutkan seorang Melayu dari Soeliki pertama kali studi sekolah guru di Fort de Kock. Disana dia lancar dalam studi dan lulus ujian akhir dengan sangat baik sehingga Studiefond Soeliki memutuskan untuk mengirim pemuda itu ke Belanda untuk mendapatkan sertifikat guru. 


Tan Malaka terinformasikan menulis artikel berjudul “Een Indische sage” di majalah Jeugd (lihat  Het schoolblad; wekelijksche courant voor lager, middelbaar en gymnasiaal onderwijs, jrg 45, 1916, no. 34, 24-08-1916). Tan Malaka di Belanda cukup dekat dengan Sorip Tagor. Mereka berdua (plus Dahlan Abdoellah) sama-sama berangkat ke Belanda pada bulan Oktober 1913. Mereka berdua berangkat ke Belanda dapat dikatakan merupakan dorongan Soetan Casajangan, ketua Indische Vereeniging yang pertama yang menjadi guru di sekolah guru Fort de Kock. Tan Malaka juga mendapat dana pendidikan dari Studiefond yang didirikan Soetan Casajangan di Belanda. Sorip Tagor sendiri adalah senior Tan Malaka di sekolah guru Fort de Kock. Sorip Tagor setelah lulus di sekolah guru di Fort de Kock ditempatkan sebagai pengajar di Sibolga, namun setahun kemudian Sorip Tagor mendaftar di sekolah kedokteran hewan yang baru dibuka di Buitenzoeg pada tahun 1907. Pada tahun 1912 Sorip Tagor lulus dan diangkat asisten dosen. Pada bulan Agustus 1913 saat Soetan Casajangan di Buitenzorg berudiensi dengan GG bertemu dengan Sorip Tagor dan kemudian Soetan Casajangan berangkat ke Fort de Kock sebagai guru. Pada bulan Oktober Sorip Tagor dan Tan Malaka (serta Dahlan Abdoellah) berangkat dari Padang ke Belanda. 

Pada bulan Agustus 1916 di Belanda diadakan Kongres Pendidikan Kolonial Hindia Belanda (Eerste Koloniaal Onderwijscongres) di Den Haag, Belanda. Kongres ini diselenggarakan pada tanggal 28, 29, 30 Agustus 1916 di aula Kebun Binatang di Den Haag. 


Dalam kongres umumnya yang hadir orang Belanda. Kongres ini diketuai oleh JH Abendanon. Dalam kongres ini juga turut hadir anggota Indische Vereeniging. Beberapa nama pribumi sebagai pembicara antara lain Dahlan Abdoellah dan Soewardi Soerjaningrat. Dahlan Abdoellah sendiri di dalam kepengurusan Indische Vereeniging duduk sebagai archivaris (Nieuwe Rotterdamsche Courant, 10-08-1916). Sam Ratulangi adalah ketua Indische Vereeniging sebelumnya (yang kini telah digantikan oleh Loekman Djajadiningrat). Kongres Pendidikan Hindia tersebut diikuti 204 peserta termasuk 47 asosiasi. Pidato pembukaan disampaikan oleh Ketua Kehormatan, Menteri Koloni Pleyte, yang memberikan pidato. Prof. Kern, sebagai anggota Komite Kehormatan, diberikan sambutan khusus. Telegram penghormatan dikirim kepada Ratu dan Pangeran. Ada dukungan untuk penyatuan sistem pendidikan dasar dan, terkait dengan sistem pendidikan menengah, untuk penyatuan. Hampir semua orang mendukung penggunaan bahasa asli sebagai alat komunikasi, khususnya bahasa Melayu. Beberapa anggota Indische Vereeniging yang muncul dalam diskusi (forum) antara lain Sam Ratulangi, Soerjopoetro dan Dr Ph Laoh serta Siti Soendari yang disampaikan dalam bahasa Melayu, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh RM Suardhy Suryaningrat (Siti Soendari membatasi diri pada pengembangan perempuan Jawa, karena hanya dialah yang dapat berbicara tentang hal itu). Sementara dari Chung Hwa Hui antara lain Dr Yap Hong Tjoeng. Agenda: Sesi II. Tempat apa yang harus ditempati dalam pendidikan, di satu sisi bahasa-bahasa asli, termasuk Tionghoa dan Arab, dan di sisi lain bahasa Belanda? Penyaji antara lain RM Soewardi Soerjaningra, guru sastra Jawa. Sesi VII: Haruskah guru yang termasuk dalam kelompok penduduk non-Eropa diberikan tempat yang menonjol, juga dalam pendidikan yang disediakan dengan. Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar? Apakah pelatihan mereka, dengan dukungan Negara, juga diinginkan di tanah air? Bagaimana seharusnya pelatihan ini diorganisir? Penyaji antara lain Dahlan Abdoellah, guru bahasa Melayu. Catatan: Siti Soendari Darmabrata kembali ke tanah air pada tanggal 1 Desember 1916 dengan kapal ss Rembrandt dari Amsterdam tujuan Batavia (lihat Algemeen Handelsblad, 30-11-1916). Dalam manifest kapal juga tercatatn nama Li Tjwan Hien dan Soedibio Ambia, Nama Siti Soendari pertama kali terinformasikan pada bulan Maret 1915 dimana disebut ia adalah seorang mantan redaktur majalah wanita Jawa (Wanito Sworo) akan ke Belanda untuk studi keguruan (lihat De Preanger-bode, 16-03-1915). Siti Soendari ke Belanda didukung dana dari asosiasi “De Vrouw" pimpinan nyonya Bijlevelt (istri residen Jogja) dan berangkat tanggal 18 ini bersama nyonya Bijlevelt (lihat De Preanger-bode, 19-03-1915). Hingga saat ini, RA Karlinah, putri dari Pangeran Notodiredjo dari keluarga Pakoe-Alam, adalah satu-satunya perempuan Jawa yang memiliki sertifikat guru. 

Sehabis kongres pendidikan, Tan Malaka dan Sorip Tagor terinformasikan menjadi anggota Vereeniging Oost en West. Mereka bertiga termasuk yang bersedia untuk memberikan les privat bahasa-bahasa Hindia kepada anggota organisasi (lihat Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 16, 1916, no. 48, 30-11-1916). Sorip Tagor mengajar dalam bahasa Batak dan Tan Malaka mengajar dalam bahasa Melayu. Tan Malaka disebutkan sebelumnya yang tinggal di Bussum adalah anggota baru dengan kontribusi sebesar f2.50 (lihat Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 16, 1916, no. 37, 14-09-1916). 


Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 16, 1916, no. 48, 30-11-1916: ‘Daftar Anggota Asosiasi Oost en West, yang bersedia memberikan les privat bahasa-bahasa Hindia. Sorip Tagor, Inl. Veearts, Burg. Reigersstr. 51bis, Utrecht. — Maleisch. — Battaksch; Ibrahim gelar Datoek Tan Malaka, Korte Singel 36, Bussum. — Maleisch. (Nadere informaties Ned.-Ind. Onderwijs- en Studiekas, Rokin 84, Amsterdam). Dalam perkembangannya daftar pengajar bertambah yakni Sjamsi Widagda untuk pengajaran bahasa Jawa (lihat Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 17, 1917, no. 10, 08-03-1917). Seperti dilihat nanti maklumat tersebut masih terus dipublikasikan hingga sepanjang tahun 1917 hingga awal tahun 1918 (lihat Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 18, 1918, no. 6, 07-02-1918). Pada bulan Agustus tidak ada lagi nama Sjamsi Widagda dalam daftar (Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 18, 1918, no. 32, 08-08-1918). Mengapa? Dahlan Abdoellah dan Sjamsi Widagda ditunjuk sebagai asisten dosen di Rijks-Universiteit te Leiden (lihat De locomotief, 02-10-1918). Dahlan Abdoellah untuk bahasa Melayu dan Sjamsi Widagda untuk bahasa Jawa. Nama Sorip Tagor dan Tan Malaka keduanya masih ada sebagai daftar pengajar sampai akhir tahun 1918 (lihat Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 18, 1918, no. 52, 26-12-1918) dan juga hingga akhir tahun 1919 (lihat Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 19, 1919, no. 48, 27-11-1919). Setelah iini tidak muncul lagi maklumat tersebut. 

Demikianlah para mahasiswa Indonesia di Belanda pada saat libur panjang memanfaatkan waktu untuk mengisi kegiatan yang berguna termasuk dalam hal ini Tan Malaka dan Sorip Tagor yang mengajar bahasa di lingkungan Vereeniging Oost en West. Bagaimana dengan Soewardi Soerjaningrat? Tidak terinformasikan apakah mengikuti kuliah, tetapi seperti disebut di atas, Soewardi Soerjaningrat tampaknya sudah cukup sibuk dengan mengelola majalah Hindia Poetra. Sorip Tagor kemudian mempelopori didirikannya ‘Persatoean Anak Sumatra’ di Utrecht yang secara resmi didirikan pada tanggal 1 Januari 1917.

 

Pada tanggal 1 Januari 1917, Sumatra Sepakat resmi didirikan dengan nama ‘Soematra Sepakat’. Dewan terdiri dari Sorip Tagor (sebagai ketua); Dahlan Abdoellah, sebagai sekretaris dan Soetan Goenoeng Moelia sebagai bendahara. (Salah satu) anggota komisaris (benama) Ibrahim Datoek Tan Malaka. Tujuan didirikan organisasi ini untuk meningkatkan tarap hidup penduduk di Sumatra, karena tampak ada kepincangan pembangunan antara Jawa dan Sumatra. Mereka yang tergabung dalam himpunan ini menerbitkan majalah yang akan dikirim ke Sumatra dan mengumpulkan berbagai buku yang akan dikirimkan ke perpustakaan di Padang, Fort de Kock, Sibolga, Padang Sidempoean, Medan. Koeta Radja dan di tempat lain di Soematra  (lihat De Sumatra post, 31-07-1919). Catatan: Mohammad Iljas lulus sekolah HBS di Batavia (KW III S) dan berangkat ke Belanda tahun 1913 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 30-07-1913). Achmad Salim adalah adik dari Agoes Salim. Zaid Rasad adalah adik dari Baginda Djamaloedin yang dikirim Dja Endar Moeda (kakak kelas Soetan Casajangan di sekolah guru Padang Sidempoean) untuk melanjutkan studi ke Belanda pada tahun 1904. 

Di tengah gerakan Sumatra ini, Sorip Tagor, Dahlan Abdoellah, Soetan Goenoeng Moelia dan  Tan Malaka harus membagi perhatian untuk membangun Sumatra dan juga untuk menyelesaikan studi. 


De Telegraaf, 17-04-1917: ‘Indie Weerbaar. S-Gravenhage, 16 April. Para deputi komite Indle Weerbaar (kecuali Mr. Rerarev) hari Sabtu lalu menjadi tamu Indische Vereeniging dan pertemuan publik yang sangat sibuk. Ketua Indische Vereeniging Loekman Djajadiningrat. menyambut utusan itu. Abdoel Moeis memberikan pidato kepada dimana ia menjelaskan secara terperinci keinginan Sarikat Islam pada kongres ke-6 dan memprotes ekspresi seperti ‘de kurk waarop Nederlands welvaart drijft’ yang menjadi latar belakang kepentingan Hindia digulir. Dia membela rakyat Hindia dan menginginkan bahwa ini akan didengar oleh semua organisasinya. Dwidjo Sewojo menyatakan bahwa keinginan asosiasi Boedi Oetomo sepenuhnya sejalan dengan argumen Abdoel Moeis. Dr Ph Laoh perwakilan dari Sarikat Minahasa mempertanyakan kesetiaan para Minahassers kepada pemerintah Belanda dan menyatakan bahwa bangsanya mengejar cita-cita yang sama dengan kelompok populasi lainnya. Pangeran Koesoemodiningmt dari kelompok pangeran mengajukan permohonan untuk ajaran Buddha Hindu. Soewardi mendukung argumen Abdoe Moeis dengan siapa perwakilan Boedi Oetcmo menyatakan solidaritasnya untuk kegembiraannya. Mr van Mook dan Blom berdebat untuk ide asosiasi. Abcndanon menolak oposisi Hindia dan Belanda. Dibutuhkan diskusi bersama tentang kepentingan bersama. tidak membawa perselisihan ke garis depan. Di masa defensif militer ini, ia khawatir perhatian akan dialihkan dari pendidikan sosial. Anggaran besar yang diperlukan untuk pertahanan, nantinya akan diperhitungkan untuk pembangunan ekonomi, sehingga membuat masyarakat kuat. R Sarengat menjelaskan bahwa siswa Hindia selalu menjunjung tinggi gagasan nasional, di masa depan negara mereka. Noto Soeroto menyesalkan bahwa tindakan SI sering dikaburkan oleh tindakan tercela dari beberapa pemimpin. Berkenaan dengan pertahanan Hindia, jika Jerman, Inggris, Prancis, dan negara adikuasa lainnya melucuti, Hindia tidak diperlukan untuk berterima kasih secara militer lagi Abdoel Moeis membela ide-ide Rhine terhadap Mr Abendanon menganjurkan pembentukan serikat dimana semua orang yang memiliki minat dalam pengembangan Hindia dan rakyat mereka akan disatukan. Pangeran Koesoemodiningrat merumuskan pendapat tentang Hindia Tangguh (Indie Weerbaar) dengan demikian kita harus memiliki rumah di sekitar rumah kita. Siapa untuk siapa? Tentu saja dari mereka yang membuatnya. Ketua akhirnya mengumumkan pertemuan lanjutan di mana debat bisa berbicara cukup karena kurangnya waktu’. 

Meski anak-anak Sumatra telah mendirikan Sumatra Sepakat, tetapi visi persatuan nasional Indonesia tetap dijunjung di dalam Indische Vereeniging. Sumatra Sepakat tampaknya tidak terlalu melibatkan diri tentang isu Indie Weerbaar, tetapi seiring sejalan dengan padangan umum yang berlaku di Indisch Vereeniging yakni membangun kemitraan kepada semua pihak. 


Soetan Goenoeng Moelia lulus ujian akta guru MO di Den Haag tahun 1917 (lihat De Maasbode, 22-08-1917). Seperti disebut di atas Tan Malaka lulus akta MO tahun 1916, sementara Sam Ratulangi lulus ujian dan mendapat akta guru MO Matematika tahun 1915. Yang pertama mendapat akta guru MO adalah Soetan Casajangan pada tahun 1909. Dengan demikian, sudah ada empat guru Indonesia yang telah meraih gelar pada sekolah keguruan tertinggi (MO). Bagaimana dengan guru-guru lainnya yang kini masih berada di Belanda? Mereka itu adalah Sjamsi Widagda, Dahlan Abdoellah, dan Soewardi Soerjaningrat. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar