Selasa, 28 Juli 2026

Sejarah Dr Tjipto (9): Indisch Partij Menjadi Nationaal-Indische Partij (NIP); Kawan Lama Dr Abdoel Hakim Nasution di Padang


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini

Dr Tjipto Mengoenkoesoemo dan Dr Abdoel Hakim Nasoetion sama-sama lulus Docter Djawa School pada tahun 1905 dan kemudian sama-sama ditempatkan sebagai dokter pribumi di rumah sakit kota Batavia (kini RSCM). Setelah sekian lama keduanya kembali bertemu di dalam partai yang sama Nationaal-Indische Partij (NIP) yang didirikan tahun 1919. Dr Abdoel Hakim Nasoetion menjadi ketua NIP cabang Pantai barat Sumatra. Pengurus pusat Nationaal-Indische Partij (NIP) atau Sarekat Hindia (SH) dipimpin oleh Soewardi Soerjaningrat. Sejarah Willem Iskander Pionir Pendidikan Indonesia

Sarekat Hindia (Nationaal Indische Partij) adalah organisasi pergerakan nasional yang merupakan kelanjutan dari Indische Partij (IP) setelah dilarang oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Sarekat Hindia memiliki fokus perjuangan politik yang berbeda dengan basis massa yang sempat bertransformasi dari kelompok Indo-Eropa ke gerakan radikal petani bumiputera. Setelah para tokohnya diasingkan dan IP dilarang, wadah perjuangan ini sempat berganti nama menjadi Insulinde. Pada tahun 1919, nama Insulinde secara resmi diubah menjadi Nationaal Indische Partij (NIP). Fokus Perjuangan: Persatuan Multietnis: Menyerukan kerja sama antara kaum peranakan (Indo) dan kaum bumiputera untuk kemerdekaan Hindia Belanda. Gerakan Radikal Petani: Sarekat Hindia aktif mengorganisasi kaum petani di pedesaan untuk melakukan perlawanan terhadap kebijakan eksploitatif rezim kolonial. Karena corak politiknya yang radikal dan dianggap membahayakan keamanan umum, Sarekat Hindia mendapat tekanan berat dari pemerintah kolonial Belanda. Pembatasan ruang gerak dan penangkapan para tokohnya membuat organisasi ini tidak berumur panjang dan akhirnya membubarkan diri pada awal tahun 1923 (Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah Indisch Partij menjadi Nationaal-Indische Partij (NIP)? Seperti disebut di atas, Indisch Partij yang didirikan akhir tahun 1912 dilarang pada tahun 1913. Para aktivisnya membentuk Insulinde yang kemudian menjadi NIP pada tahun 1919. Dr Tjipto Mangoenkoesoemo kembali bertemu kawan lama Dr Abdoel Hakim Nasoetion. Lalu bagaimana sejarah Indisch Partij menjadi Nationaal-Indische Partij (NIP)? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Sejarah Pers di Indonesia

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah. 

Indisch Partij Menjadi Nationaal-Indische Partij (NIP); Kawan Lama Dr Abdoel Hakim Nasoetion

Pada tahun 1917 Insulinde mengadakan Kongres Insulinde yang keenam di Semarang (lihat De Indier, 26-05-1917). Dalam kongres ini juga turut aktif Indische Partij cabang Semarang. Kongres Insulinde yang keenam ini (1917). 


Kongres pertama sendiri diadakan pada tahun 1913 di Semarang (lihat De expres, 20-01-1913). Asosiasi Insulinde yang didirikan di Bandung pada tanggal 2 September 1907 tersebut (tanggal 23 Oktober tahun yang sama, pengakuan sebagai badan hukum menyusul untuk jangka waktu 29 tahun) kemudian relokasi ke Semarang pada tahun 1910. Sepulang dari Belanda, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo menjadi anggota Insulinde cabang Soerakarta yang mana kemudian majalah Modjopahit yang terbut tahun 1915 dipimpin Dr Tjipto Mangoenkoesoemo menjadi organ dari Insulinde. 


Dalam Kongres Insulinde yang keenam di Semarang tahun 1917 ini juga turut dihadiri Dr Tjipto Mangoenkoesoemo. Hasil kongres antara lain menginstruksikan Dewan Pusar bekerja sama dengan berbagai dewan asosiasi lainnya, untuk menunjuk kandidat untuk Dewan Rakyat yang akan datang, Rekomendasi juga penunjukan RM Soewardi Soerjaningrat sebagai perwakilan Insulinde di Belanda. Jika pemerintah memutuskan untuk mencabut dekrit pengasingan, Bapak Fransoi dapat diangkat menggantikan RM Soewardi (lihat De Indier, 28-05-1917).


Surat kabar De Indier pertama kali terbit di Semarang pada tanggal 4 Januari 1917 di bawah pemimpin redaksi JR Razoux Kuhr. Lantas mengapa namanya diberi De Indier? Kata Indier berarti Orang Hindia (apapun ras dan suku bangsanya yang menjadi warga Hindia Belanda). Nama De Indier sudah pernah digunakan di Belanda sebagai nama majalah dimana dalam pendiriannya (1913) termasuk Dr Tjipto Mangoenkoeoseomo (yang tengah diasingkan di Belanda). Namun kemudian Dr Tjipto mengundurkan diri. Surat kabar De Indier yang diterbitkan di Semarang menjadi organ dari Insulinde (berbahasa Belanda), yang mana organ dari Insulinde sebelumnya diberi nama “Insulinde”. Sedangkan organ lainnya dari Insulinde berbahasa Melayu yang diberi nama Modjopait. Surat kabar Modjopait ini diterbitkan pertama pada tahun 1915 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 27-09-1915). Disebut majalah Doenia Bergerak (di Soerakarta) akan berhenti tanggal 1 Oktober sehubungan dengan kasus delik pers pemimpin redaksinya Darmakoesoema (anggota Persatuan Pegawai Kereta Api dan Trem). Darmakoesoema dituntut karena artikel yang dimuat atas nama Djojobojo. Lalu kemudian diketahui penulis artikel sebenarnya dengan nama alias Djojobojo adalah Dr Tjipto Mangoenkoesoemo. Sebagaimana diketahui, pada saat Dr Tjipto Mangoenkoesoemo masih di Belanda turut menghadiri pertemuan umum ISDV atas nama Persatuan Pegawai Kereta Api dan Trem di Hindia. Setelah majalah Doenia Begerak berhenti, lalu namanya diubah menjadi Modjopait di bawah pimpinan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo. Perlu ditambahkan disini, surat kabar De expres yang terbit di Bandoeng yang menjadi organ dari Indische Partij telah menghilang sejak akhir Juli 1914. Sementara organ berbahasa Melayu Hindia Moelia juga menghilang seiring dengan kepergian Dr Tjipto Mangoenkoesoemo yang mejadi pemimpin redaksinya diasingkan ke Belanda pada tahun 1913.  Catatan: nama Insulinde pertama kali diperkenalkan oleh Edward Douwes Dekker di dalam novelnya Max Havelaar (1869). Nama Insulinde ini kemudian pertama kali digunakan oleh Dja Endar Moeda pada tahun 1901 sebagai nama organ Medan Perdamaian. Organisasi kebangsaan Medan Perdamaian didirikan Dja Endar Moeda di Padang pada tahun 1900. Organ/majalah Insulinde ini menghilang seiring dengan delik pers yang dialami Dja Endar Moeda yang dihukum cambuk dan diusir dari kota Padang pada tahun 1905. 

Dr Tjipto Mangoenkoesoemo di dalam Kongres Insulinde keenam di Semarang menyatakan keinginan agar Insulinde bergabung dengan apa yang disebut Komite Nasional, yang telah bertemu di Jogja pada tanggal 20 lalu dalam kaitannya dengan pemilihan Dewan Rakyat atau Volksraad yang akan dimulai tahun 1918 (lihat De locomotief, 29-05-1917). Dr Tjipto Mangoenkoesoemo memandang Hindia berparlemen ini juga sesuai dengan tujuan Indische Partij di masa lalu. 


Indische Bond didirikan tahun 1898 di Batavia, organisasi untuk menampung orang-orang Indo Eropa. Oleh karena ada perbedaan diantara para anggota, lalu kemudian membentuk organisasi pecahan tahun 1907 yang diberi nama Insulinde (di Bandoeng). Seperti disebut sebelumnya, karena metode Indische Bond kurang dinamis, lalu pada tahun 1912 suatu komite yang diberi nama Komite Indische Partij dibentuk di Bandoeng yang kemudian pada bulan Agustus melakukan kudeta di Indische Bond di Batavia yang menjadi sebab terbentuknya partai Indische Partij, yang secara resmi didirikan di Bandoeng pada tanggal 25 Desember 1912. Indische Partij mengusung metode perjuangan secara radikal, semantara sisa Indische Bond hanya dapat bertahan seadanya di Batavia. Indische Bond dan Indische Partij menjadi dua organisasi yang berbeda. Namun dalam perkembangan yang singkat, gerakan radikal Indische Partij terhenti karena statutanya ditolak pemerintah pada bulan April 1913. Agitasi yang dilancarkan para anggota Indische Partij pada bulan Juli 1913 menyebabkan EFE Douwes Dekker, Dr Tjipto dan Soewardi pada bulan Agustus ditangkap dan kemudian diasingkang ke Belanda pada bulan September 1913. Ketiga pengasingan ini dihantar oleh Insulinde cabang Batavia dan seiring dengan pelarangan Indische Partij lalu Insulinde menampung para eks Indische Partij yang kemudian secara aktif Insulinde mendukung pembiayaan ketiganya di Belanda melalui Tadofonds. Sementara itu Indische Bond yang sebelumnya lesu darah kemudian didukung oleh para lawan-lawan politik Indische Partij seperti Karel Wijbrand di Batavia. Dalam perkembangannya, Insulinde yang awalnya berpusat di Bandoeng kemudian berpindah ke Semarang (tahun 1910). 

Sementara itu di Belanda pada tahun 1917 ini akan diadakan Kongres Hindia. Kongres ini akan dihadiri semua mahasiswa asal Hindia (Belanda, Cina dan pribumi) yang diketuai oleh HJ van Mook (mahasiswa Indologi di Leiden) yang akan diadakan tanggal 23 November 1917. Sebagaimana disebut sebelumnya, pada tahun 1916 di Den Haag telah diadakan Kongres Pendidikan Hindia (yang dipimpin oleh HJ Abendanon) yang mana mahasiswa pribumi yang tergabung dalam Indische Vereeniging diwakili oleh Dahlan Abdoellah dan Soewardi Soerjaningrat. 


De nieuwe courant, 03-10-1917: ‘Pertemuan dan Asosiasi. Kongres Mahasiswa Hindia. Kami menerima pesan dari Leiden: Dewan Asosiasi Indolog (Mahasiswa) di sini mengusulkan untuk merayakan lustrum ke-3 pada bulan November dengan Kongres Mahasiswa Hindia, yang akan berlangsung selama dua hari. Pada kongres ini, tiga tesis akan dipertahankan: satu oleh seorang Indonesia, satu oleh seorang Cina, dan satu oleh seorang Belanda, yang dianggap mewakili orientasi spiritual dalam masing-masing dari tiga kelompok etnis utama, khususnya orientasi spiritual yang membedakan setiap kelompok dari yang lain. Lebih lanjut, pertemuan yang meriah akan memungkinkan anggota kongres untuk berinteraksi secara pribadi. Semua asosiasi mahasiswa Hindia dan, sejauh mungkin, semua Indolog yang tidak terorganisir diundang ke kongres. Pembentukan Federasi Hindia akan dibahas dengan dewan asosiasi-asosiasi ini, yang harus mencakup dan menyatukan mahasiswa Hindia di Belanda, dan ruang lingkupnya dapat dibatasi sesuai dengan kelemahan awalnya, dengan kemungkinan perluasan di kemudian hari. Chung Hwa Hui telah menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama dengan dewan dan untuk memastikan posisi Cina; Indische Vereeniging akan melakukan hal yang sama untuk bagian Indonesia’. 

Pada saat pertemuan tahunan Indische Vereeniging yang diadakan pada bulan Oktober 1917 juga dibicarakan persiapan untuk menghadiri Kongres Hindia yang pertama tersebut. Selain pergantian pengurus baru, dalam pertemuan ini juga sudah disepakati pembicara mewakili Indische Vereeniging di dalam Kongres Indonesia ditunjuk Dahlan Abdoellah dan penunjukannya telah diterima. 


De nieuwe courant, 14-10-1917: ‘Indische Vereeniging. Pada Sabtu malam, di Koffieguis di Zuid Holland diadakan rapat tahunan dan mengadakan pemilihan pengurus baru. Yang terpilih adalah RM Noto Dhiningrat (ketua), Soerjomihardjo (sekretaris), RM Tjokro Aadi Soerjo (bendahara), Baginda Dahlan Abdoellah (pengawas) dan RM Noto Soeroto (arsiparis). Sebagai delegasi Indische Vereeniging dan pembicara di Kongres Hindia ditunjuk Dahlan Abdoellah, penunjukan telah diterima. Memutuskan untuk mengadakan rapat umum pada hari Sabtu pertama setiap bulan, dimana topik-topik penting tentang tanah air akan dibahas, dan pertemuan luar biasa selanjutnya, jika memungkinkan kuliah, juga dari orang luar, akan berlangsung. Salah satu anggota secara sukarela memberikan ceramah di setiap pertemuan tentang ekspresi gerakan Hindia, yang tawarannya diterima dengan sepenuh hati oleh pertemuan tersebut. Kelompok-kelompok lokal juga akan didorong untuk mengadakan pertemuan secara berkala. Organ perhimpunan Hindia-Poetra selanjutnya akan muncul pada interval yang tidak teratur, berisi seperti ceramah dan pengumuman, juga di mana artikel oleh anggota dan lainnya akan dimasukkan, dan bukan hanya risalah dan laporan tahunan’. Catatan: Pembentukan organ/corong Indische Vereeniging yang diberi nama Hindia Poetra, gagasannya mulai awal tahun 1916 (lihat De Nederlander, 04-02-1916). Namun baru pada kepengurusan Notodiningrat ini akan direalisasikan.  

Siapa yang akan menjadi pembicara di dalam Kongres Hindia sudah diumumkan panitia (lihat De Nederlander, 08-11-1917). Disebutkan tanggal 23 dan 24 ini dalam Indisch Studenten-Congress akan diwakili Baginda Dahlan Abdoellah (Amsterdam) dari Indische Vereeniging dan Han Tiauw Tjong (Den Haag) dari Chieesche Vereeniging Chung Hwa Hui. 

 

De nieuwe courant, 23-11-1917: ‘Pertemuan dan Asosiasi. Kongres Mahasiswa Hindia. Leiden, 23 November. Asosiasi Mahasiswa Indologi, yang didirikan pada 2 Oktober 1902, merayakan ulang tahun lustrum keduanya hari ini dengan sebuah kongres di mana tiga tesis akan dipertahankan: satu oleh seorang pribumi, satu oleh seorang Cina, dan satu oleh seorang Belanda, yang dianggap mewakili gerakan intelektual di masing-masing dari tiga kelompok etnis utama, lebih khusus lagi gerakan intelektual yang membedakan setiap kelompok dari kelompok lainnya. Semua asosiasi mahasiswa Indo/Belanda yang ada di negara ini diundang ke kongres ini. Lebih lanjut, kemungkinan pembentukan Federasi akan dibahas dengan dewan asosiasi-asosiasi ini, yang akan mencakup dan menyatukan mahasiswa Hindia di Belanda, dan yang ruang lingkupnya dapat dibatasi sesuai dengan kelemahan awalnya, sehingga dapat diperluas kemudian. Hari ini, pagi hari, Baginda Dahlan Abdoellah (Den Haag) akan mempertahankan posisi Indische Vereeniging, dan sore hari, Han Tiaüw Tjong (Den Haag) akan mempertahankan posisi Chineesche Vereeniging. Setelah itu, akan diadakan makan bersama di "Indery, Vergulden Turk", dan kemudian pertemuan dewan untuk membahas pembentukan federasi yang disebutkan di atas. Besok pagi, presiden Asosiasi Indolog, HJ van Mook, akan berbicara, membela posisi Belanda. Setelah itu, akan diadakan thé dansant di Stadsgehoorzaal, yang akan mengakhiri perayaan tersebut. Dewan asosiasi penerbitan saat ini terdiri dari para pria berikut: HJ van Mook, presiden; W Hoven, presiden sementara; MPE de Man, quaestor; LA van Hecking Colenbrander, assessor I, dan JW de Stoppelaar, assessor II. Kongres dibuka pagi ini sekitar pukul 10.00. Auditorium kecil universitas itu penuh sesak dengan peserta kongres, yang terdiri exclusively dari mahasiswa yang terdaftar di universitas-universitas Belanda, yang bidang pekerjaannya nantinya akan berada di Hindia. Konferensi ini dihadiri oleh Indische Vereeniging (Perhimpoenan Hindia), Chineesche Vereeniging Chung Hwa Hui, Asosiasi Mahasiswa Indologi dari Korps Mahasiswa Utrecht “Van Verre” (Dari Jauh), Asosiasi Onze Koloniën (Koloni Kita) di Delft, seksi mahasiswa dari Asosiasi Timur dan Barat (Leiden), Asosiasi Koempoelan Tani Djawi (Wageningen), dan subseksi Pertanian Tropis dan Kehutanan dari Asosiasi Mahasiswa di Wageningen. HJ Van Mook membuka kongres dengan pidato yang secara singkat menguraikan asal usul dan tujuan pertemuan ini. Kolaborasi yang lebih erat antara semua intelektual yang akan bekerja di Hindia di masa depan, yang belum pernah terjadi kecuali melalui asosiasi lokal atau sepihak dan berskala kecil, diyakini akan tercapai dalam skala yang lebih luas di masa mendatang. Sebagai langkah pertama menuju tujuan ini, untuk menyatukan orang-orang yang melakukan perjalanan ke daerah tropis dengan wawasan dan tujuan yang berbeda, kongres ini sekarang diselenggarakan. Untuk memastikan keberhasilan kongres pertama ini, Asosiasi Indolog mengamankan kerja sama dari Indische Vereeniging dan Chung Hwa Hui. Hasilnya, akan dimungkinkan untuk menilai apakah kongres ini memberikan dasar untuk melanjutkan jalur ini dan, jika perlu, menghubungkannya dengan pengembangan rencana lain untuk kerja sama yang efektif antara Indische Vereeniging. Pembicara kemudian menyampaikan sambutan hangat kepada para delegasi dari dewan asosiasi yang hadir, mengucapkan terima kasih atas tanggapan mereka terhadap undangan tersebut. Akhirnya, HJ Van Mook menyampaikan harapan terbaiknya untuk keberhasilan kongres ini. Setelah itu, Baginda Dahlan Abdoellah, sebagai juru bicara Indische Vereeniging, diberi kesempatan untuk menyampaikan usulan berikut: “Kita, orang Indonesia, merupakan komponen utama penduduk Hindia Belanda, dan karena itu, kita berhak untuk memiliki bagian yang lebih besar dalam pemerintahan negara daripada yang telah kita miliki selama ini”. 

Satu yang penting dalam Kongres Hindia (Indisch Congres) tahun 1917 ini (tepatnya 23 November 1917) perwakilan Indische Vereeniging Dahlan Abdoellah yang telah ditunjuk pengurus Indische Vereeniging telah mengadopsi penggunaan nama Indonesia dan meminta perhatian kongres bahwa orang Indonesia, yang merupakan komponen utama penduduk di Hindia Belanda, dan karenanya berhak untuk memiliki bagian yang lebih besar dalam pemerintahan negara daripada yang telah ada selama ini. Sementara itu Han Tiauw Tjong ketua asosiasi Cina Chung Hwa Hui mengamini apa yang disampaikan oleh Dahlan Abdoellah, menyatakan “Cina tidak menginvasi Hindia dan karena itu tidak berlebihan kami disambut disana, menjadi kolaborator yang sangat diperlukan untuk pembangunan negara’. 

Nama Indonesia telah diadopsi Indische Vereeniging. Nama Indonesia ini kemudian juga diadopsi oleh mahasiswa Belanda dan mahasiswa Cina. Sebagaimana diketahui selama ini, nama Indonesia diintroduksi oleh orang Inggris (Logan) dan kemudian dipopulerkan oleh akademisi orang Jerman (Bastian) dan selanjutnya diterima diantara orang-orang akademisi Belanda baik di Belanda maupun di Hindia. Dalam hal ini, seperti disebut di atas, nama Indonesia bukan asing diantara orang-orang terpelajar pribumi, terutama pelajar/mahasiswa di Belanda. Ini juga mengindikasikan bahwa orang pribumi sudah mengenal secara luas nama Indonesia, nama yang sudah beredar luas dalam literatur akademik. Bagaimana nama Indonesia ini diterima secara umum telah diterima din dalam Kongres Hindia ini tidak terinformasikan. Yang jelas, seperti dilihat nanti, pada kongres berikutnya tahun 1918 nama Indische Congres (Kongres Hindia) sudah disebutkan dengan nama Indonesia Congres (kongres kedua yang diadakan di Wageningen tanggal 30 Agustus 1918) dengan topik perguruan tinggi. Sebelum kongres tahun 1918 dilangsungkan sudah terbentuk Indonesia Verbond Studeerenden yang diketuai oleh JA Jonkman dengan sekretaris HJ van Mook dan organnya adalah majalah Hindia Poetra yang selama ini menjadi organ dari Indische Vereeniging. Sementara itu Soewardi Soerjaningrat, mantan redaktur Hindia Poetra (semasih di bawah naungan Indische Vereeniging) juga akan memimpin semacaram kantor berita yang diberi nama Indonesisch Persburrau. 

Indische Vereeniging di dalam Kongres Hindia di Belanda, tidak hanya mengusulkan untuk penggunaan nama Indonesia untuk menggantikan nama wilayah Hindia Belanda, Indische Vereeniging juga menyatakan bahwa orang Indonesia, yang merupakan komponen utama penduduk di Indonesia (baca: Hindia Belanda), dan karenanya berhak untuk memiliki bagian yang lebih besar dalam pemerintahan negara daripada yang telah ada selama ini. Pernyataan ini jelas merupakan pernyataan orang pribumi untuk kali pertama menggugat bahwa orang pribumi harus memiliki bagian terbesar dari pemerintahan Indonesia. 


Sejauh ini (hingga) bagian orang Indonesia (baca: pribumi) dalam pemerintahan di Hindia Belanda hanya secuil jika tidak ingin dikatakan tidak ada sama sekali. Sebagai contoh, di dalam lingkungan Departemen Pendidikan, hanya ada dua orang Indonesia sebagai pejabat yang dapat dianggap tertinggi diantara orang pribumi, tetapi hanya jabatan yang terbilang rendah diantara jabatan-jabatan untuk orang Belanda: Soetan Casajangan sebagai guru Eropa kedua di sekolah keguruan di Amboina (dari 10 sekolah keguruan yang ada di Hindia Belanda) dan Raden Kamil sebagai satu-satunya Inspektur Pendidikan Pribumi di wilayah Midden Java (dari beberapa wilayah pendidikan pribumi). 

Porsi yang diminta Indische Vereeniging mewakili pribumi jelas sangat besar, dan itu berarti tuntutan itu menjadi sangat memukul orang-orang Belanda yang tergabung dalam organisasi mahasiswa Belanda asal Hindia di Belanda (yang juga notabene untuk mahasiswa Cina di Belanda yang tergabung dalam Chung Hwa Hui) ). Fakta bahwa di Hindia bahwa orang-orang Belanda sangat mendominasi di semua bidang terutama di pemerintahan (dan orang-orang Cina di bidang perdagangan). Meski tuntutan itu masih bersifat utopis melihat situasi dan kondisi yang ada, tetapi pernyataan itu jelas suatu tujuan yang realistis yang harus tercapai di masa datang. 


Tuntutan semacam ini, sejauh ini tidak pernah terinformasikan di dalam lingkungan organisasi-organisasi Indo Eropa, seperti Indische Bond maupun organisasi-organiasi Indo Belanda-pribumi seperti Insulinde dan Indische Partij. Sebagaimana diketahui sebelumnya di dalam tubuh Indische Partij terdapat nama-nama seperti Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat. Perlu dipahami disini ada perbedaan strategi dalam bernegara yang dipilih Indische Vereeniging di satu sisi dan di sisi lain yang dipilih Insulinde/Indische Partij. Indische Vereeniging yakni mengusung isu kemitraan (bersatu di dalam satu negara, bersifat integratif tetapi harus dibedakan hak-haknya karena asal-usul); sementara Insulinde/Indische Partij mengusung asimilasi (Indo Eropa-pribumi-yang berlawanan dengan orang Belanda totok) tetapi Insulinde/Indische Partij tidak mempersoalkan masalah adanya dominasi di dalam prakteknya. . 

Nama Indonesia sudah diadopsi oleh seluruh mahasiswa asal Hindia di Belanda dan juga sudah terbentuk organisasi baru yang diberi nama Indonesisch Verbond Studeerenden. Dalam Kongres Hindia yang kedua tahun 1918, yang nama kongres telah diubah menjadi Kongres Indonesia, isu yang dibahas adalah tentang isu pendidikan (yang dapat dikatakan sebagai tindak lanjut dari Kongres Pendidian Hindia di Belanda tahun 1916). Sebelumnya, pada tahun 1917 di Belanda sudah ada suatu komite yang dibentuk untuk pendirian peguruan tinggi di Hindia.

 

De locomotief, 14-08-1917: ‘Sekolah Politeknik di Hindia Belanda. Diketahui bahwa sebuah komite, yang anggotanya adalah CJK van Aalst, ketua, JBA Jonckheer, bendahara, H Colyn, Herbert Cremer, VVF van Heukelom, VH ter Kuile, FV van Lennep, H Loudon, JW MacDonald, AC Mees, Ph J Roosegaarde Bisschop, BE Ruys, G. Vissering, dan JW Ijzerman, ingin mendirikan Sekolah Politeknik di Hindia Belanda. Sejumlah besar dana telah terkumpul untuk tujuan ini. Dengan jaminan dukungan keuangan yang substansial tersebut, komite merasa dapat secara resmi memberitahukan rencana mereka kepada delegasi Asosiasi Indië Weerbaar (yang datang dari Hindia). Upacara ini berlangsung pada tanggal 30 Mei di gedung Perusahaan Perdagangan Belanda. Selain para anggota Coinité tersebut di atas, hadir pula JB van Heutsz, mantan Gubernur Jenderal Hindia Belanda; JT Cremer, mantan Presiden Perusahaan Dagang Belanda dan mantan Menteri Koloni; A Muller dan Van Walree, direktur Perusahaan Dagang Belanda; SP van Eeghen, Ketua Kamar Dagang; dan banyak lainnya. Turut hadir pula "Indië Weerbaar" sendiri yang terdiri dari Pangeran Ario Koesoemodiningrat, Raden Toemenggoeng Danoe Soegondo, D van Hinloopen Labberton, Mas Ngabehi Dwidjo Sewojo, Kapten WV Rhemrev, F Laoh, dan Abdoel Moeis. Pembicara pertama adalah CJK van Aalst, yang membawa rekan-rekan anggota Komite untuk meminta persetujuan mereka atas rencana penyelenggaraan upacara ini di gedung Perusahaan Dagang Belanda, yang telah berdiri di Hindia Belanda sejak tahun 1826 dengan nama "De Factorij". Beliau selanjutnya menyebutkan niat semua orang, bekerja sama dengan pemerintah, untuk "berupaya meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial penduduk Hindia Belanda, yang telah terikat dengan rakyat Belanda selama berabad-abad oleh ikatan yang erat dan kuat melalui pengetahuan dan penghargaan timbal balik". "Ketika kami", lanjut pembicara, "menerima laporan dari Hindia tahun lalu bahwa minat yang besar diungkapkan di sana mengenai pertahanan yang lebih kuat terhadap kepulauan Hindia Belanda dari musuh asing, dan ketika minat itu terwujud dalam niat untuk mengirim delegasi ke Belanda untuk secara pribadi menyampaikan keinginan penduduk Hindia di sini, kami di Belanda sangat senang akan hal ini. Kunjungan ini dengan jelas menunjukkan ikatan antara Belanda dan Koloni dengan cara yang terlihat oleh semua orang". "Pemenuhan tujuan sebenarnya mengapa Anda datang ke sini terletak di depan", lanjut pembicara, "di luar lingkup kontak Anda dengan rakyat Belanda. Oleh karena itu, kami telah memutuskan untuk melanjutkan dengan pembentukan sebuah asosiasi, yang tujuannya adalah untuk mendirikan sebuah perguruan tinggi di Hindia Belanda, yang akan menyandang nama Institut Pendidikan Tinggi Teknik di Hindia Belanda, di mana para insinyur Indonesia dapat dilatih di lembaga pendidikan tersebut. Dengan tujuan untuk mendapatkan jumlah siswa yang cukup, kami saat ini sedang mempertimbangkan untuk mengatur penerimaan siswa sedemikian rupa sehingga mereka yang berhasil menyelesaikan sekolah MULO dapat diterima di lembaga ini. Asosiasi yang didirikan di negara ini akan memiliki badan pengatur (pengawas?) disini, tetapi organ utamanya akan berada di Hindia Belanda, yaitu Dewan Direksi, dimana berbagai elemen masyarakat Hindia Belanda akan terwakili. Inilah rencana kami, Tuan-tuan, yang ingin kami bagikan kepada Anda sebelum keberangkatan Anda ke Hindia Belanda. Sebagai penutup, Tuan-tuan. Saya telah menyimpan kabar baik yang diterima tadi malam, yang pasti akan sangat menggembirakan Anda semua, yaitu bahwa FIM telah membujuk Ratu untuk menyetujui bahwa asosiasi yang akan didirikan akan menyandang nama Institut Kerajaan untuk Pendidikan Teknik Tinggi di Hindia Belanda, di mana Ratu kita yang terhormat telah menunjukkan minatnya yang tinggi pada institut masa depan. (Tepuk tangan meriah). Kesempatan selanjutnya diberikan kepada Bapak Raden Toemenggoeng Danoe Segondo, Bupati Magelang. "Dengan minat dan kepuasan yang tak terkatakan," katanya, "kami mendengarkan kata-kata Anda. Semoga Institut Pendidikan Tinggi Teknik ini berdiri sebagai wujud nyata dari sentimen yang membawa kita ke sini sebagai anggota delegasi Indië Weerbaar (Hindia yang Tangguh): hubungan erat antara Hindia Belanda dan Belanda. Bapak Ketua, apa yang Anda sampaikan di akhir pidato Anda sangat menyenangkan kami. Bahwa Yang Mulia, Ratu kami yang terhormat, telah menunjukkan minat yang begitu besar terhadap pendirian Institut ini, pasti akan terdengar dengan antusiasme yang besar di seluruh Hindia Belanda’. 

Kongres Federasi Mahasiswa Indonesia (Congres Indonesisch Verbond) di Wageningen telah dilaksanakan (lihat De avondpost, 31-08-1918). Dalam Kongres Indonesia tahun 1918 di Belanda ini, pembicara dari Indische Vereeniging sendiri diwakili oleh ketuanya Dr Goenawan Mangoenkoesoemo (adik dari Dr Tjipto Mangoenkoesoemo yang tengah studi di Belanda). Sementara dari mahasiswa Cina asal Hindia di Belanda diwakili oleh ketuanya juga Han Tiauw Tjong. 


Perlu dicatat disini bahwa mahasiswa Indonesia yang tergabung dengan Indische Vereeniging juga tergabung dengan Javaansch National Verbond yang diketuai oleh Soerjo Poetro (berbeda dengan Boedi Oetomo/Jong Java di Hindia, yang bersifat kedaerahan) dan Sumatra Sepakat yang diketuai oleh Sorip Tagor (berbeda dengan Sumatranen Bond/Jong Sumatranen Bondo yang baru terbentuk di Hindia). Sementara itu Chung Hwa Hui yang didirikan di Belanda pada tahun 1911 kini dipimpin Han Tiauw Tjong, organiasi mahasiswa Cina asal Hindia yang lebih bersifat nasional (Hindia/Indonesia) yang berbeda dengan organisasi-organisasi Cina yang ada di Hindia. 

Dalam kongres ini sejumlah mahasiswa berbicara di dalam forum (debat) diantaranya Thung Tjeng Hiang, Soerjo Poetro, Sorip Tagor Harahap, Samsi Sastrawidagda, Oei Lauw Pik, Zainoeddin Rasad, Sin Ki Aij dan Dahlan Abdoellah serta Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia. Dalam kongres ini isu pendidikan tinggi menjadi sangat serius. Sejak inilah kemudian, pendirian instutut teknik di Hindia yang didiskusikan pada tahun 1917 di Belanda bergeser menjadi upaya pendirian perguruan tinggi yang akan dibuka pada tahun 1920 (seperti dilihat nanti THS dibuka di Bandoeng pada tahun 1920). 


Sebagaimana diketahun pada tahun 1918 ini di Indonesia telah terbentuk dan dimulainya parlemen Hindia, Dewan Rakyat (Volksraad). Pembukaan secara resmi Volksraad di Weltevreden, Batavia, dibukan pada tanggal 18 Mei 1918 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Johan Paul, Count van Limburg Stirum. Orang-orang pribumi yang melalui proses (pemilihan atau seleksi/pengangkatan) antara lain Abdoel Moeis (Sarekat Islam), Dr Abdoel Rivai (Insulinde), Tjokroaminoto (Sarekat Islam) dan Tjipto Mangoenkoesoemo (Insulinde). 

Pada tahun 1919 kembali diadakan Kongres Indonesia yang kedua. Yang menjadi ketua Indische Vereeniging saat ini adalah Dahlan Abdoellah. Di dalam Hindia Poetra edisi Januari 1919, Sorip Tagor menulis satu artikel. Intinya Sorip Tagor menyatakan bahwa 'studi dan politik sejalan dan sama pentingnya di dalam organisasi'. Sorip Tagor  dengan kata-kata pedas mengatakan 'jika Perhimpoenan Hindia menghindari politik, organisasi tidak akan mencapai apapun dalam bentuk manfaat bagi penduduk Indonesia, baik hari ini maupun masa datang'. Sorip Tagor juga dalam tulisan mempersalahkan sejumlah mahasiswa asal Jawa dari keluarga ningrat yang tak punya perhatian terhadap situasi umum di Hindia dan keadaan kehidupan wong cilik (lihat juga Harry A. Poeze  et al: ‘Di negeri penjajah: orang Indonesia di negeri Belanda, 1600-1950). 


Sejak inilah dapat dikatakan di tubuh Indische Vereeniging telah terjadi awal perubahan haluan organisasi (Indische Vereeniging) yang selama ini terbilang wait en see, yang lajunya bersifat incremental ke arah yang lebih radikal. 

Sorip Tagor dan kawan-kawan berpartisipasi dalam kongres kedua ini (lihat Algemeen Handelsblad, 02-02-1919). Ketua komite kongres adalah HJ van Mook. Yang cukup mengemuka dalam kongres ini adalah bahwa Batavia harus membuka jalan bagi Leiden, Wageningen dan Utrecht dan lainnya di Indonesian. Hanya pendidikan tinggi yang dapat mengisi kekosongan yang ada di Hindia. Dan para guru pertama-tama harus datang dari Belanda, untuk secara bertahap dilengkapi oleh guru-guru pribumi. Sekolah kedokteran hewan dan perguruan tinggi pertanian yang pada saat ini sebagai pelatihan harus diubah menjadi hoogesehool. Tan Ping Se mengatakan bahwa universitas bukan hadiah, tetapi kemerdekaan Indonesia. Kami ingin melepaskan diri, tidak hanya di pendidikan tetapi juga di area ekonomi (tepuk tangan). Namun demikian diantara yang hadir dalam forum ada juga yang menentangnya (tidak ingin Hindia mandiri, tetapi selalu tergantung Negeri Belanda). 


Mangapa Sorip Tagor berapi-api soal nasionalisme? Jawabnya adalah karena Sorip Tagor dan Soetan Casajangan sama-sama memiliki satu pemikiran. Boleh jadi, Sorip Tagor telah banyak mendapat masukan dari Soetan Casajangan. Sejak awal, Soetan Casajangan adalah actor pertama pergerakan pelajar/mahasiswa di Belanda yang kerap memberikan kritik dan solusi kehidupan di Hindia di berbagai forum yang dihadiri oleh kalangan cendekiawan di Belanda. Soetan Casajangan, sebelum pulang ke tanah air, pada tahun 1913 menerbitkan buku yang dicetak di Barns oleh Percetakan Hollandia-Drukkerij. Inilah cara Soetan Casajangan agar orang di Eropa dapat melihat apa yang terjadi di Hindia. Buku itu berjudul: 'Indische Toestanden Gezien Door Een Inlander' (negara bagian di Hindia Belanda dilihat oleh penduduk pribumi). Buku ini adalah sebuah monograf (kajian ilmiah) yang mendeskripsikan dan membahas tentang perihal ekonomi, sosial, sejarah budaya Asia Tenggara (nusantara) dan khususnya pembangunan pertanian di Indonesia. Buku ini berangkat dari pemikiran bahwa sudah sejak lama penduduk pribumi merasakan adanya dorongan untuk penyatuan yang lebih besar yang kemudian dengan munculnya berbagai sarikat, antara lain Indisch Vereeniging (digagas oleh Soetan Casajangan) dan Boedi Oetomo (digagas oleh Soetomo). Buku ini sangat mengejutkan berbagai pihak di kalangan orang Belanda baik di Negeri Belanda maupun di Hindia Belanda. Buku ini adalah buku pertama orang pribumi yang diterbitkan pertama kali dan diedarkan di Eropa. 

Dalam Kongres Indonesia (Indonesisch Congres) yang diadakan di Deventer pada bulan September 1919, tidak lagi dihadiri oleh Soewardi Soerjaningrat. Pada tahun 1919 ini Soewardi Soerjaningrat kembali ke tanah air (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 07-08-1919). Soewardi Soerjaningrat berangkat dari Belanda dengan kapal ss Wilis. 


Sementara itu di Indonesia pada tahun 1919 ini Vereeniging Insulinde yang berpusat di Semarang berganti nama menjadi Nationaal Indische Partij (NIP). Perubahan nama ini yang juga disesuaikan dengan eksisitensi Dewan Pusat (Volksraad) terjadi dalam kongres tahunan kedelapan Insulinde di Semarang yang diadakan pada tanggal 9 Juni 1919. Dalam perkembangannya, seiring dengan diresmikiannya Nationaal Indische Partij (NIP), Soewardi Soerjaningrat (yang belum lama tiba dari Belanda) Soewardi Soerjaningrat ditunjuk sebagai ketua sementara Nationaal Indische Partij (NIP). 

Sorip Tagor pada bulan Desember 1920 lulus ujian akhir (2de helft) di Rijksveeartsenijschool, Utrecht. Sementara itu pada tahun 1920 JA Kaligis diterima di Rijksveeartsenijschool. Sorip Tagor diwisuda dan mendapat gelar dokter hewan (lihat Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad, 30-01-1921). Sorip Tagor adalah sarjana kedokteran hewan pertama orang Indonesia. Setelah mendapat gelar dokter hewan, Sorip Tagor pulang ke tanah air. Sejak Sorip Tagor memulai studi di Utrecht, tahun 1913 hingga lulus dan mendapat gelar dokter hewan berlisensi Eropa tahun 1920, belum pernah pulang. Di Batavia, Gubernur Jenderal mengangkat Dr Sorip Tagor menjadi dokter hewan di lingkungan istana. Penunjukan dan pengangkatan ini secara resmi berdasarkan surat keputusan Menteri Koloni No 89 tanggal 26 Mei 1921 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 22-09-1921). 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Kawan Lama Dr Abdoel Hakim Nasoetion: Soewardi Soerjaningrat Adik Kelas Dr Tjipto Mengoenkoesoemo dan Dr Abdoel Hakim Nasoetion di Docter Djawa School/Stovia

Dr Tjipto Mengoenkoesoemo dan Dr Abdoel Hakim Nasoetion yang sama-sama lulus dari Docter Djawa School/Stovia tahun 1905 dan kemudian keduanya ditempatkan di rumah sakit kota Batavia (kini RSCM), pada tahun 1906 harus berpisah. Dr Tjipto Mengoenkoesoemo ditempatkan di Amoentai, Zuid Borneo, Dr Abdoel Hakim Nasoetion ditempatkan di kampong halamannya di Padang Sidempoean. 


Dr Tjipto Mengoenkoesoemo saat bertugas di kampong halamannya di Demak, pada tahun 1908 mengajukan pengunduran diri (pension dini) sebagai dokter pemerintah. Dr Tjipto Mengoenkoesoemo awalnya membuka praktek dokter di Soerakarta. Sebagai pengurus Boedi Oetomo, dalam Kongres Boedi Oetomo tahun 1909 di Jogjakarta, Dr Tjipto Mengoenkoesoemo menyatakan keluar dari Boedi Oetomo. Dr Tjipto Mengoenkoesoemo mulai melanjutkan perjalanan hidup yang berliku. 

Pada tahun 1911 tulisan mereka muncul kali pertama. Artikel Dr Abdoel Hakim Nasoetion berjudul “Herinneringen uit mijn driejarige dessa-praktijk” terbit di majalah/jurnal Tijdschrift voor Inlandsche Geneeskundigen, afl. 3 en 4, jaargang 1911 (lihat Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 12, 1912, no. 7, 15-02-1912). Artikel Dr Tjipto Mangoenkoesoemo berjudul “Moet de Javaan geestelijk immobiel blijven?” diterbitkan di jurnal/majalah Het Tijdschrift edisi pertama 1 September 1911. Setelah beberapa kali artikelnya diterbitkan Het Tijdschrift tulisannya mulai menyusul diterbitkan di surat kabar De expres. Dari senilah lalu Dr Tjipto Mangoenkoesoemo diangkat sebagai redaktur surat kabar De expres tahun 1912 di Bandoeng yang kemudian bergabung bergabung dengan Indische Partij pada bulan Desember 1912. 


Atas tuduhan agitasi terhadap pemerintah (melalui tulisan), Dr Tjipto Mengoenkoesoemo salah satu yang diasingkan ke Belanda. Akibat kondisi kesehatan, Dr Tjipto Mengoenkoesoemo pada tahun 1914 kembali ke tanah air setelah status hukumnya dicabut pemerintah. Dr Tjipto Mengoenkoesoemo kemudian bergabung dengan Vereeniging Insulinde cabang Soerakarta (yang juga mengelola majalah Modjopait yang kemudian dijadikan sebagai organ Insulinde berbahasa Melayu). 


Dr Abdoel Hakim Nasoetion dari Padang Sidempoean kemudian ditempatkan dari satu tempat ke tempat lainnya di Oost Sumatra (Indrapoera dan Binjai). Dr Abdoel Hakim Nasoetion pension purna bakti kemudian membuka dokter praktek di wilayah perkebunan Batang Toroe, Padang Sidempoean (lihat Geneeskundig tijdschrift voor Nederlandsch-Indië, 1917, 01-01-1917). Dalam daftar Vereeniging tot Bevordering der Geneeskundige Wetenschappen in Nederlandsch Indie (semacam IDI yang sekarang), tercatat nama Dr Abdoel Hakim Nasoetion di Batang Toroe. Lalu dalam perkembangannya Dr Abdoel Hakim Nasoetion memilih tinggal di kota Padang. Dr Abdoel Hakim Nasoetion di Padang memasang iklan praktek dokter (lihat Sumatra-bode, 17-03-1919).


Mengapa Dr Abdoel Hakim Nasoetion memilih bertempat tinggal di kota Padang? Yang jelas Dr Abdoel Hakim Nasoetion bukan berarti tidak mengenal kota Padang. Pada tahun 1902 abangnya Dr Haroen Al Rasjid lulus Docter Djawa School langsung ditempatkan di kota Padang. Lalu Dr Haroen Al Rasjid menikah di Padang tahun 1903 dengan putri Hadji Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda (pemimpin surat kabar Pertja Barat dan juga pendiri organisasi kebangsaan Medan Perdamaian di Padang). Tentu saja Abdoel Hakim Nasoetion yang masih mahasiswa di Docter Djawa School turut menghadiri penikahan tersebut. Jadi, dalam hal ini Dr Abdoel Hakim Nasoetion juga menjadi menantu dari tokoh penting kota Padang di masa lalu (Dja Endar Moeda). Sebagaimana diketahui, Dja Endar Moeda adalah pendiri organisasi kebangsaan Indonesia pertama, Medan Perdamaian di Padang pada tahun 1900. Dalam perkembangannya, Dr Abdoel Hakim Nasoetion diangkat pemerintah sebagai pejabat kesehatan di kota Padang dengan pangkat dokter pribumi kelas 1/Indisch Artrs 1e kl. (terhitung mulai tanggal 23 Mei 1919). Dengan pangkat setara itu (pangkat tertinggi diantara dokter pribumi) maka Dr Abdoel Hakim Nasoetion paling tidak menjabat sebagai kepala dinas afdeeling/gemeente (kabupaten/kota).

Abdoel Hakim, seorang dokter Indonesia di Padang, menulis di surat kabar Bataviaasch nieuwsblad tentang dampak positif kunjungan JH Liefrink, anggota Dewan Hindia Belanda, sebagai Komisaris Pemerintah pada tahun 1916 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 23-04-1919). Dalam tulisannya, Abdoel Hakim menyatakan JH Liefrink dianggap oleh bangsa Melayu sebagai malaikat penyelamat. Segala macam peraturan yang menindas rakyat jelata diringankan atas sarannya, sehingga tahun 1916 terukir dengan huruf emas dalam sejarah bangsa Melayu. Karena kemanusiaannya, ia memiliki banyak penentang di antara para pejabat layanan sipil terkait di pemerintahan Hindia Belanda. 


Dr Haroen Al Rasjid, abang dari Dr Abdoel Hakim sejak 1910 pensiun dini di Sibolga dan kemudian membuka praktek dokter di Telok Betong dan saat ini juga sudah memiliki klinik kesehatan di Tandjoeng Karang. Sementara itu adik mereka Ma’moer al Rasjid pada tahun 1919 lulus dokter dan ditempatkan sebagai asisten dosen di sekolah kedokteran Stovia di Batavia. Pada bulan Juli 1919 Abdoel Hakim gelar Soetan Isrinsah difungsikan pemerintah sebagai dokter pribumi (lihat De locomotief, 08-07-1919). Disebutkan ditunjuk Gubernur Jenderal Hindia Belanda dalam Dinas Medis Sipil, Abdoel Hakim gelar Soetan Isrinsah. Dalam berita ini juga disebutkan: Dipindahkan: dari Padang Sidempoean (Tapanoeli) ke Sibolga, dokter Achmad Mochtar, saat ini ditugaskan sementara di lokasi tersebut; Ditugaskan: Dengan tugas-tugas Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Dinas Medis Sipil di Telok Betong (Distrik Lampong), Haroen al Rasid, dokter Hindia Belanda yang berpraktik swasta di sana. Selama ketidakhadiran dokter sipil di distrik tersebut. Telok Betong (Distrik Lampong), dalam menjalankan tugasnya, Pelaksana Tugas Gubernur Hindia Belanda, Haroen al Rasid. 

Dr Abdoel Hakim Nasoetion di Padang dapat dikatakan salah satu pribumi yang memiliki portofolio tertinggi, sebagaimana dulu mertuanya Hadji Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda pada tahun 1900 mendirikan organisasi kebangsaan Medan Perdamaian di Padang. Dalam hal inilah kemudian, pada saat akan diadakan Kongres Jong Sumatranen Bond pertama di Padang, Dr Abdoel Hakim Nasoetion diangkat sebagai Pembina kongres. Boleh jadi karena para pengurus Jong Sumatranen Bond umumnya adalah mahasiswa kedokteran Stovia di Batavia. 


Pada akhir tahun 1916 mahasiswa asal Sumatra di Belanda mendirikan organisasi untuk tujuan pembangunan di wilayah Sumatra (karena Sumatra sudah jauh tertinggal dibandingkan di Jawa). Organisasi tersebut diberi nama Sumatra Sepakat yang secara resmi didirikan di di tempat kediaman Sorip Tagor Harahap, mahasiswa kedeokteran hewan di Utrecht pada tanggal 1 Januari 1917. Para pengurus: Sorip Tagor, ketua; Dahlan Abdoellah, sekretaris; Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia, bendahara. Sebagai anggota: Zaid Rasad, Achmad Salim (adik Agoes Salim), Mohamad Iljas dan Tan Malaka. Lalu kemudian di Batavia, didirikan organisasi mahasiswa Sumatra yang diberi nama Jong Sumatranen Bond. Organisasi ini dibentuk sebagai sayap pemdua dari organisasi Sumatranen Bond. Jong Sumatranen Bond secara resmi didirikan pada tanggal 9 Desember 1917. Pengurus: T Mansjoer, ketua; Abdoel Moenir Nasoetion, wakil ketua; Mohamad Amir dan Anas, sekretaris; Marzoeki, bendahara. Sebagaimana diketahui, organisasi sejenis sudah dididirikan di Batavia, Jong Java pada tahun 1915. Kongres pertama Jong Sumatranen Bond baru terselenggara pada bulan Juli 1919 di Padang. 

Dalam Kongres Jong Sumatranen Bond yang menjadi ketua panitia adalah Mohamad Amir. Para peserta datang dari berbagai tempat, selain dari Batavia, antara lain juga dari Sibolga dan dari Padang sendiri. Delegasi dari Padang dipimpin oleh Mohamad Hatta (siswa di sekolah Mulo, Padang). Kongres diadakan selama tiga hari yang dimulai tanggal 4 Juli menghadirkan sejumlah pembicara. Pada hari ketiga kongres ditutup pada pukul 1 siang. Dr Abdoel Hakim, sebagai Pembina, mengundang makan siang untuk semua panitia kongres di Centraal Hotel (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 09-07-1919). 


Soewardi Soerjaningrat diterima di tingkat persiapan Docter Djawa School/Stovia tahun 1903 (lihat De locomotief, 07-11-1903). RM Soewardi pada tahun 1904 lulus ujian transisi naik dari kelas satu ke kelas dua di tingkat persiapan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 07-11-1904). Pada tahun 1905 Tjipto Mangoenkoesoemo dan Abdoel Hakim Nasoetion sama lulus dan sama-sama ditempatkan di rumah sakit kota Batavia (kini RSCM). Pada tahun 1907 ini di Stovia, RM Soewardi naik dari kelas tiga tingkat persiapan ke kelas satu tingkat medik (lihat De locomotief, 10-10-1907). Yang juga satu kelas dengan RM Soewardi adalah Abdoel Rasjid Siregar, Mohamad Joesoef, Mohamad Sjaaf dan Raden Soesilo. Pada tahun 1909 RM Soewardi dan Abdoel Rasjid Siregar naik dari kelas satu ke kelas dua tingkat medik (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 15-09-1909). Sejak ini nama RM Soewardi tidak pernah terinformasikan lagi. Sementara Abdoel Rasjid Siregar masih terinformasikan pada tahun 1911 naik dari kelas tiga ke kelas empat tingkat medik (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 19-08-1911). Singkatnya: Abdoel Rasjid Siregar lulus sekolah kedokteran Stovia tahun 1914. Lalu Dr Abdoel Rasjid diangkat sebagai dokter pemerintah yang ditempatkan di BGD Batavia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 10-07-1914). Seperti dulu tahun 1905 Tjipto Mangoenkoesoemo dan Abdoel Hakim Nasoetion sama lulus dan sama-sama ditempatkan di rumah sakit kota Batavia (kini RSCM), kini Dr Abdoel Rasjid ditempatkan di rumah sakit milik BGD (kini RSCM). Tidak lama, lalu Dr Abdoel Rasjid ditempatkan di Medan. Dr Abdoel Rasjid mendirikan perkumpulan para pejabat pemerintahan yang diberi nama Medan Prijaji dan bertindak sebagai ketua (lihat De Sumatra post, 18-01-1915). Seperti disebutkan sebelumnya, Soewardi Soerjaningrat yang terlibat agitasi terhadap pemerintahan yang tergabung dalam Indische Partij kemudian diasingkan ke Belanda pada bulan Oktober 1913. Di Belanda Soewardi Soerjaningrat mengikuti sekolah keguruan. Pada tahun 1915 Soewardi Soerjaningrat lulus guru dengan akta LO (beslit yang mengajar di sekolah ELS/HIS). Yang juga lulus akta LO di Belanda tahun 1915 adalah Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia. Soewardi Soerjaningrat tidak melanjutkan studinya, sementara Soetan Goenoeng Moelia terus lanjut. Soetan Goenoeng Moelia lulus ujian akta guru MO di Den Haag tahun 1917 (lihat De Maasbode, 22-08-1917). Akta serupa ini juga telah diperoleh Tan Malaka di Haarlem pada tahun 1916 (di kampus Tan Malaka pada tahun 1910 Soetan Casajangan lulus MO). Sementara itu, Dr Abdoel Rasjid Siregar di Medan dipindahkan ke rumah sakit kota CBZ di Batavia. Pada tahun 1919, dokter di CBZ Batavia Dr Abdoel Rasjid Siregar diangkat sebagai dosen di STOVIA, (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 13-03-1919). Soewardi Soerjaningrat akhirnya kembali ke tanah air. Soewardi Soerjaningrat berangkat dari Belanda tanggal 7 Agustus 1919 dengan kapal uap ss Wilis. Sebulan kemudian keluar beslit dari Minister van Kolonien tanggal 10 September 1919, 9de afdeeling, No. 66 yang mana Todoeng Gelar Soetan Goenoeng Moelia di Leiden ditempatkan di bawah Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie sebagai guru Hollandsch-inlandsch onderwijs (lihat Nederlandsche staatscourant, 13-09-1919). Soetan Goenoeng Moelia bersiap-siap kembali ke tanah air. Catatan: Seperti dilihat nanti, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo diangkat sebagai anggota Volksraad. Demikian juga dengan Dr Abdoel Rasjid Siregar diangkat sebagai anggota Volksraad (tiga periode berturut-turut sebelum kehadiran Jepang 1942). Dr Abdoel Hakim Nasoetion pada tahun 1945 diangkat sebagai Walikota Padang dan Soewardi Soerjaningrat diangkat menjadi Menteri Pendidikan (2 September 1945 - 14 November 1945) dan kemudian digantikan oleh Soetan Goenoeng Moelia sebagai Menteri Pendidikan. Foto: Dr Tjipto Mangoenkoesoemo (lihat De courant, 22-08-1919).

Tidak lama setelah Dr Abdoel Hakim Nasoetion pindah dari Padang Sidempoean ke kota Padang, seorang pemuda revolusioner, Parada Harahap di Medan kembali ke kampong halaman di Padang Sidempoean pada tahun 1919. Usianya masih 20 tahun. Sebagai redaktur di Medan, surat kabarnya dibreidel. Di Padang Sidempoean Parada Harahap mendirikan surat kabar baru yang diberi nama Sinar Merdeka. 


Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 02-09-1919: ‘Parada Harahap menjadi editor surat kabar Sinar Merdeka di Padang Sidempoean. Editor Parada Harahap mengatakan dalam kata pengantar koran baru ini bahwa lembaga ini berusaha untuk melindungi kepentingan negara dan rakyat, dan memerangi secara penuh dan dengan semangat melawan penindasan dan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh kapitalisme!’.. 

Parada Harahap memilih semboyan/motto surat kabar Sinar Merdeka: ‘Organ Ontoek Kemadjoean Bangsa dan Tanah Air'. Penggunaan frase 'bangsa dan tanah air' melengkapi frase ‘sinar merdeka’ pada nama koran berdimensi nasional ini. Parada Harahap di Padang Sidempoean juga diangkat menjadi redaktur surat kabar mingguan Poestaha, yang diterbitkan oleh Soetan Casajangan pada tahun 1915 (sewaktu menjadi guru di sekolah guru di Fort de Kock sepulang dari Belanda). Parada Harahap dan Soetan Casajangan satu kampong di Padang Sidempoean (Batoenadoea/Pargaroetan). 


Parada Harahap setelah lulus sekolah dasar di Padang Sidempoean merantau ke Oost Sumatra, bekerja sebagai juru tulis (krani) di perkebunan Eropoa di Asahan. Dalam penerapan peraturan Poenale Sanctie, Parada Harahap melihat ketidakadilan terhadap pekerja perkebunan yang menjadi sangat menderita terutama pada pekerja yang berasal dari Jawa. Lalu, Parada Harahap mulai melakukan investigasi diam. Laporan yang dikumpulkannya kemudian dikirimkannya ke surat kabar Benih Mardika yang terbit di Medan. Redaksi kemudian mengolahnya dana menyusun sejumlah artikel yang dimuat pada beberapa edisi pada bulan April 1918. Namun artikel-artikel itu ditanggapi dingin oleh public karena kejadian-kejadian di perkebunan sudah diketahui umum sejak lama. Namun pada bulan Agustus, surat kabar Soeara Djawa yang diterbitkankan di Medan kemudian melansir artikel-artikel Poenale Sanctie tersebut yang lalu menyebabkan heboh di Jawa. Mengapa? Sirkulasi surat kabar Soeara Djawa sampai ke Jawa dan isunya kebetulan tentang pekerja asal Jawa di perkebunan. Sebagaimana diketahui isu politik di Jawa akhir-akhir ini sangat panas terutama soal pekerja perkereta-apian di Jawa (yang mana Dr Tjipto turut mengadvokasi para pekerja). Pemerintah Pusat segera bergegas ke Sumatra Timur lalu turun ke lapangan untuk melakukan penyelidikan. Lalu seperti biasa, apa yang menjadi hasil penyelidikan tidak terinformasikan yang lambat laun public hanya menyimpan sebagai ingata saja. Namun berbeda yang dialami oleh Parada Harahap yang harus dipecat oleh perusahaan tempat bekerjanya karena terbukti Parada Harahap yang membuat laporan. Parada Harahap kemudian merantau ke Medan dan kemudian mendirikan organisasi para krani (kranibond) di Medan. Di Medan, surat kabar Benih Mardika menawari posisi redaktur. Parada Harahap di Medan meningkatkan kapasitas seperti mengikuti pendidikan pembukuan dan lulus ujian. Lagi-lahi, dalam perkembangannya surat kabar Benih Mardika dibreidel yang kemudian membuka jalan bagi dirinya pulang kampong mendirikan surat kabar Sinar Merdeka. 


Sementara itu di Batavia, pada bulan November 1919 (tidak lama sepulang Soewardi Soerjaningrat guru akta LO dan Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia, guru akta MO dari Belanda), Dr Abdoel Rasjid Siregar mendirikan organisasi kebangsaan Batakschebond. Ini adalah organisasi kebangsaan kedua di Batavia yang berasal dari Sumatra (sebelumnya sudah ada Sumatranen Bond). Organisasi kebangsaan Boedi Oetomo didirikan tahun 1908. Sebagaimana diketahui Abdoel Rasjid Siregar, Soewardi Soerjaningrat dan Maa’moer Al Rasjid Nasoetion sewaktu di sekolah kedokteran Batavia satu kelas hingga tahun 1909). Soetan Goenoeng Moelia dan Abdoel Rasjid Siregar sama-sama kelahiran Padang Sidempoean.


De Sumatra post, 15-11-1919: ‘Batakschebond. Sebuah perkumpulan baru telah didirikan di Batavia dengan nama ini. Pengurusnya terdiri dari: ketua Dr Abdoel Rasjid; wakil ketua R. St. Casajangan; sekretaris pertama Abdoel Hamid; sekretaris kedua Merarie Siregar; bendahara W. Faril dan L. Tobing; komisaris Dr Maamoer Rasjid, St. Casajangan, Abdoel Hamid, dan Faril L. Tobing; Shaboedin (dosen pertanian); Hadjoran (pengawas); St. Pamenan, mantan demang; dan Ahmad Pohan’. 

Dalam kepengurusan Batakschbond termasuk adik Dr Sjoeib Proehoeman yakni Shaboedin. Yang duduk sebagai wakil ketua adalah Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan, asisten Inspektur Pribumi di Departemen Dalam Negeri, yang notabene adalah pendiri Indische Vereeniging di Belanda pada tahun 1908. Merarie Siregar dalam hal ini adalah seorang sastrawan terkenal di Batavia. 


Dr Maamoer Rasjid lulus bersama Dr Abdoel Rasjid pada tahun 1914 yang juga merupakan adik dari Dr Abdoel Hakim Nasoetion di Padang. Jadi dalam hal ini, di Stovia Dr Abdoel Hakim Nasoetion satu kelas dengan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo; Dr Maamoer Rasjid dan Dr Abdoel Rasjid adalah teman satu kelas Soewardi Soerjaningrat (namun tidak selesai). 

Dr Abdoel Hakim Nasoetion di Padang cepat dikenal luas, tidak hanya sebagai Pembina Kongres Jong Sumatranen pertama tahun 1919 yang diselenggarakan di Padang, juga karena pasien  Dr Abdoel Hakim Nasoetion di kliniknya tidak hanya dikunjungi pasien pribumi juga pasien-pasien orang Eropa. Seperti biasa dokter berpengalaman selalu dicari para pasien darimanapun mereka berasal. Dr Abdoel Hakim Nasoetion di Padang juga menjadi ketua Nationaal Inidische Partij yang dipimpin Soewardi Soerjaningrat. 


Sumatra-bode, 27-02-1920: Ucapan terimakasih. Yang bertanda tangan di bawah ini menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada dokter Abdoel Hakim, dan perawat Bibit atas perawatan dan perhatian yang diberikan kepada istrin saya selama persalinan putra kami. Heinrich L Kautz’. Sumatra-bode, 27-10-1920: ‘Feminisme di dunia masyarakat pribumi. Direktur dan administrasi surat kabar Melayu "Perempoean Bergarak" (Perempuan Progresif) mengumumkan bahwa untuk pertama kalinya nama dua editor baru disebutkan, yaitu Entje Roehana, kepala Sekolah Derma, dan Ibu Satiaman Parada Harahap di Padang Sidempoean. Referensi dibuat untuk memperkenalkan editor-editor baru ini. Dalam tulisannya, Ibu Roehaoa menyatakan bahwa para pembaca dan dirinya bersama-sama harus berupaya menanam benih perasaan nasional perempuan di Hindia; menemukan cara untuk membangkitkan kebebasan bagi orang Hindia; memastikan bahwa perempuan Hindia mendapatkan suara di dewan lokal; bertindak agar sebuah asosiasi didirikan dengan sebuah manifesto; dan lain sebagainya. Setelah kesepakatan tercapai mengenai hal-hal ini, penulis mendesak, akan mudah untuk mempraktikkannya, tetapi jangan lupa, jika perlu, untuk berkonsultasi dengan para pemimpin rakyat dan gerakan: meminta bimbingan dari pejabat administrasi; meminta bantuan dari para wanita Eropa yang dermawan; dan untuk meminta dukungan dari pemodal asing atau pemodal lokal. Ibu Satiaman Parada Harahap menulis bahwa ia telah berkomitmen pada majalah untuk membantu membawa perempuan ke era kemajuan, sementara sudah sepatutnya perempuan-perempuan ini mendukung tindakan mereka dalam aktivisme mereka. Penulis mencatat bahwa orang-orang yang kompeten telah mengatakan bahwa kemajuan suatu negara tidak mungkin tanpa perkembangan perempuan, tetapi bagaimanapun juga itu berarti bahwa tindakan perempuan di sini dalam aktivisme akan hadir di luar kemajuan. Meskipun penulis tinggal di Tapanoeli, perkembangan perempuan di Medan kemungkinan besar tidak akan berbeda dengan perkembangan perempuan di Tapanoeli, dan perbedaan tempat tinggal tersebut karenanya tidak menimbulkan keberatan’. Catatan: Majalah ‘Perempoean Bergerak’ didirikan oleh Parada Harahap di Medan tahun 1919 dengan mengangkat sejumlah redaktur perempuan. Majalah perempuan ini terus eksis di Medan meski Parada Harahap dan keluarga telah pindah ke Padang Sidempoean bulan Agustus 1919. Pada tahun 1920 ini istri Parada Harahap yang juga tingga di Padang Sidempoean dilibatkan (dari jarak jauh sebagai anggota redaksi) untuk mendukung majalah tersebut terus eksis.

Putra-putri asal Padang Sidempoean sudah lama tersebar. Setelah menempuh pendidikan dasar di Padang Sidempeoan mulai merantau ke berbagai penjuru, ada yang bekerja dan juga tidak sedikit ingin melanjutkan studi bahkan hingga ke Batavia dan Buitenzorg bahkan ke Belanda. Jumlahnya dari waktu ke waktu semakin banyak di Sumatra di Padang, Medan, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Tandjoeng Balai dan Kotaradja (Atjeh) dan di Jawa terutama di Batavia dan Buitenzorg serta Semarang dan Soerabaja (tentu saja di Semenanjung Malaya). Dalam Sensus Penduduk tahun 1920, jumlah orang Padang Sidempoean di Jawa sebanyak 868 jiwa. 


Tidak adanya bank bagi pribumi memunculkan gagasan pendirian bank di Pematang Siantar pada tahun 1920, Bank tersebut didirikan oleh sejumlah perantau asal Padang Sidempoean. Bank yang didirikan itu diberi nama Bataksche Bank. Para pendiri bank ini adalah Dr Alimoesa Harahap, Dr Mohamad Hamzah Harahap, Soetan Pane Paroehoem dan Soetan Hasoendoetan (lihat De Telegraaf, 28-12-1920). Catatan: Bataksche Bank di Pematang Siantar adalah bank orang pribumi yang didirikan dengan badan hukum NV (kini PT). Dr Alimoesa Harahap adalah adik kelas Sorip Tagor di sekolah kedokteran hewan (lulus tahun 1914); Dr Mohamad Hamzah Harahap adalah sepupu Soetan Casajangan, Dr Mohamad Hamzah Harahap lulus sekolah kedokteran Batavia Docter Djawa School tahun 1902 yang sama-sama lulus dengan Dr Haroen Al Rasjid (abad dari Dr Abdoel Hakim Nasoetion); Soetan Hasoendoetan seorang guru di Pematang Siantar yang pengarang novel. Soetan Pane Paroehoem adalah paman dari Dr Mohamad Hamzah Harahap dan Soetan Casajangan yang pekerjaannya sebagai notaris di Pematang Siantar. 

Pada tahun 1921 Kongres Jong Sumatranen Bond yang kedua kembali diadakan di kota Padang pada bulan Mei 1921. Pembina Sumatra Bond di Padang adalah Dr Abdoel Hakim Nasoetion, sedangkan Pembina Sumatranen Bond di Sibolga adalah Dr Abdoel Karim Harahap (Abdoel Hakim dan Abdoel Karim sama-sama sekelas di Docter Djawa School di Batavia bersama Tjipto Mangoenkoesoemo). Dalam kongres ini turut hadir ketua Jong Sumatranen (Bond) cabang Tapanoeli, Parada Harahap (pemimpin redaksi Sinar Merdeka). Delegasi dari Batavia ke kongres di Padang ini juga termasuk Mohamad Hatta. 


Dalam Kongres Jong Sumatranen Bond di Padang tahun 1919, juga turut dihadiri Mohamad Hatta yang saat itu masih kelas tiga MULO di Padang. Setelah lulus MULO, Mohamad Hatta melanjutkan studi (HBS) ke Batavia di sekolah Prins Hendrik School. Saat ini (1921) Mohamad Hatta berada di tahun terakhir di PHS Batavia. 

Mohamad Hatta lulus bidang IPS (afdeeling-A) di PHS (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 06-05-1921). Adik kelas Mohamad Hatta di PHS antara lain Ida Lomongga Nasoetion (afdeeling-B/IPA). Ida Lomongga Nasoetion adalah putri dari Dr Haroen Al Rasjid di Telok Betong (yang juga merupakan abang dari Dr Abdoel Hakim Nasoetion). Sementara itu siswa baru yang diterima di PHS antara lain Amir Sjarifoedin Harahap (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 24-05-1921). Disebutkan ujian masuk kelas-1 di PHS di Batavia, yang dinilai oleh Prins Hendrik School, telah lulus di Sibolga Amir Sjarifoedin. Namun dalam perkembangnnya diketahui, Amir Sjarifoedin Harahap mengalihkan minatnya ke Belanda daripada ke Batavia. Amir Sjarifoedin Harahap berangkat dengan kapal Pieter Zooncoon dari Batavia dengan tujuan akhir Amsterdam tanggal 13 Juli, singgah di Medan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 12-07-1921). Dalam manifest kapal juga tercatat nama M Djoenaedi. 


Sebelumnya, dalam perkembangannya Volksraad yang baru, dimana pribumi diakomodir melalui pemilihan, tetapi (pulau) Sumatra hanya dijadikan satu ‘dapil’ dan hanya satu kursi ke Volksraad di Pedjambon. Meski demikian adanya, kandidat dari Sumatra yang muncul sangat banyak dalam ‘pemilu’ pertama tersebut (lihat De Sumatra post, 05-01-1921). Salah satu kandidat yang muncul adalah Dr Abdoel Hakim di Padang (Nationaal Indische Partij). Dalam daftar kandidat ini juga terdapat nama Abdoel Moeis (incumbent), wartawan di Weltevreden, Dr Abdoel Rasjid Siregar, Inlandsch Docter di Penjaboengan (Tapanoeli); Abdoel Rivai, dokter swasta, Darwis gelar Datoek Modjolelo, demang di Manindjau, res. SWK,  Ibrahim Datoek Tan Malaka, guru di Senembah, Tandjong Morawa, lsmail, guru di Medan, Kajamoedin Harahap  gelar  Radja Goenoeng, penilik sekolah di Medan, Loetan gelar Datoek Rangkaja Maharadja, demang di SWK, Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon, anggota dewan kota di Sibolga, Hadji Agoes Salim, editor surat kabar Neratja di Batavia, Soetan Mohamad Zain, pemimpin redaksi Volkslectuur di Weltevreden, Mohamad Roesad gelar Soetan Pepatih di Padang, Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia, guru sekolah HIS di Kota Nopan (Tapanoeli)’. Nama-nama tersebut merupakan tokoh-tokoh penting saat itu di Sumatra. Dalam hal ini alumni Belanda adalah Firman, Todoeng, Tan Malaka dan Zain. Lantas apakah Dr Tjipto Mangoenkoesoemo (Nationaal Indische Partij) akan terpilih kembali ke Volksraad dari dapil di Midden Java? 

Mohamad Hatta, setelah mengikuti Kongres Jong Sumatranen Bond di Padang, sambil pulang kampong, kemudian Mohamad Hatta berangkat ke Belanda, untuk melanjutkan studi. Mohamad Hatta kemungkinan besar berangkat dari Padang (lihat De locomotief, 01-08-1921). Disebutkan kapal ss Tambora pada tangga 8 Agustus dari Tandjoeng Priok dengan tujuan akhir Rotterdam dan singgah di Padang dimana di dalam manifest kapal tercatat nama Moh. Hatta. Sementara itu pada tahun 1921 ini salah satu mahasiswa yang diterima di sekolah tinggi teknik (THS) Bandoeng adalah Raden Soekarno. 


De Preanger-bode, 13-06-1921: ‘Jong Java. Hari pertama kongres. Kemarin, kongres asosiasi "Jong Java” (Jawa Muda) dimulai…. Bapak Soekartono bertanya apakah diperbolehkan berbicara bahasa Melayu, dan—meskipun telah ditentukan oleh resolusi kongres bahwa bahasa resmi adalah bahasa Belanda—ia diberi kesempatan untuk berbicara. Pembicara menyatakan bahwa federasi tidak mungkin. Jong Java untuk Jawa Raya, Jong; Soematra untuk Sumatera yang besar; ini bukanlah kepentingan bersama. Setelah itu, Bapak Soekarno diberi kesempatan berbicara, dan tampaknya, setelah beberapa tahun menjadi anggota, beliau harus bertanya kepada ketua apa sebenarnya yang diinginkan Jong Java. Apakah Jong Java menginginkan Jawa yang besar dengan banyak pabrik, kapal besar, dan jalur kereta api yang besar? Situasinya saat ini tidak dapat dipertahankan; di sekitar Toelung Agoeng, penduduk menderita di bawah kuk kapitalisme. Para wanita bekerja keras di depan gerobak besar. Di Ponorogo, anak-anak yang kelaparan dijual seharga empat atau lima gulden... (tepuk tangan)…. Bapak Soekarno bertanya, sebagai tanggapan atas pernyataan prinsip Ketua, apakah ini pendapat pribadinya atau pendapat asosiasi. Ketua menjawab bahwa ini adalah pertanyaan yang sulit, tetapi kemudian menyatakan: "Ini adalah pendapat Dewan Eksekutif dan tentu saja mayoritas anggota." Bapak Soekarno meminta kesempatan berbicara dan, di awal pidatonya dalam bahasa Melayu, menyatakan: Tuntut kemerdekaan Jawa, dan menganjurkan agar J.J. dan J.S.B. tetap merdeka. Bapak Soekarno mencatat bahwa sebelum bangsa ini merdeka, banyak orang akan mati kelaparan; oleh karena itu, beliau menganggap perlu untuk terlebih dahulu menghilangkan perjuangan kelas…’. 


Di Pantai Barat Sumatra isu kesenjangan pembangunan di Jawa vs di luar Jawa terus bergulir. Aktivis Sumatranen Bond terus menggelorakannya, mahasiswa-mahasiswa (dan pelajar) asal Sumatra di Batavia, Buitenzorg, Bandoeng serta di Belanda terus melakukan konsolidasi dan memperkuat barisan. Momen ini direspon aktivis pembangunan di Padang dengan mengapungkan perlunya otonomi. Dengan membentuk subkomite mempromosikan kemerdekaan  yang diketuai oleh Dr Abdoel Hakim (lihat De Sumatra post, 14-01-1922). Disebutkan de autonomie-actie. Di Padang membentuk subkomite untuk mempromosikan kemerdekaan Hindia Belanda. Ketua adalah Dr Hakim.


Sementara itu, tokoh muda Batak, Parada Harahap kini sedang di Batavia untuk belajar sedikit lebih banyak bahasa Belanda dan mendapatkan perspektif yang lebih luas (lihat De Indische courant, 07-01-1922). Parada Harahap selama di Padang Sidempoean memimpin surat kabar Sinar Merdeka sudah beberapa kali terkena delik pers yang bahkan harus mendekam di penjara.

Di Batavia, Parada Harahap bekerja sebagai redaktur surat kabar harian Neratja. Dalam jajaran redaksi di surat kabar Neratja juga terdapat nama (Hadji) Agoes Salim. Namun tidak lama kemudian, Parada Harahap mengundurkan diri dan mulai merintis mendirikan surat kabar sendiri di Batavia. Dalam perkembangannya, Parada Harahap telah berketetapan hati akan tinggal di Batavia untuk melanjutkan karirnya di bidang jurnalistik. 


Pada tahun 1923, Parada Harahap menerbitkan majalah Bintang Hindia di Batavia, majalah yang dapat dikatakan sebagai majalah bergambar pertama (memuat foto). Ini mengindikasikan Parada Harahap dalam lima tahun terakhir telah menjadi redaktur surat kabar di tiga kota yang berbeda (Medan, Padang Sidempoean dan Batavia). Masih tergolong muda dari sisi usia (24 tahun), tetapi pengalaman jurnalistik sudah segudang. Di Medan terkenal karena membongkar kasus Poenale Sanctie yang membuat sangat menderita pekerja di perkebunan asal Jawa; di Padang Sidempoean selain menerbitkan surat kabar radikal Sinar Merdeka juga terkenal sebagai pemimpin pemuda di wilayah Tapanoeli. Lalu apakah di Batavia, Parada Harahap dapat meneruskan popularitasnya diantara pribumi? 


Pada tahun 1923 Ida Loemongga Nasoetion, siswa HBS tiga tahun di PHS yang pindah ke sekolah KW III School Batavia lulus ujian akhir di (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 31-05-1923). Yang juga lulus bersamaan dengan Ida Loemongga Nasoetion KW III School antara lain Ali Sastroamidjojo. Ida Loemongga kemudian langsung berangkat studi ke Belanda. Ida Loemongga berangkat dengan kapal ss Insulinde tanggal 16 Juli dengan tujuan akhir Rotterdam (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 13-07-1923). Ali Sastroamidjojo baru berangkat pada tanggal 13 Oktober dengan kapal ss Prinses Juliana tujuan akhir Amsterdam (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 12-10-1923). Ida Loemongga Nasoetion dalam hal ini adalah perempuan pribumi pertama yang studi di perguruan tinggi di Belanda.


Bagaimana Ida Loemongga Nasoetion, seorang perempuan pribumi lulusan SMA berangkat sendiri ke Belanda? Yang jelas di dalam manifest kapal Insulinde, juga ada tercatat nama pribumi lainnya yakni Pangeran Ario Soerjowidjojo, Raden Mas Soekadasie dan Sjamdjoeddin. Tentu saja di Belanda sudah ada organisasi mahasiswa Indonesia (Indonesisch Vereeniging) yang dipimpin oleh Dr Soetomo dkk. Seperti disebut di atas, Amir Sjarifoedin Harahap berangkat dengan kapal Pieter Zooncoon dari Batavia dengan tujuan akhir Amsterdam tanggal 13 Juli 1923. 

Dua putra-putri asal Padang Sidempoean yang masih belia berangkat ke Belanda untuk melanjutkan studi. Amir Sjarifoedin Harahap belum lama lulus sekolah dasar Eropa (ELS) di Medan; dan Ida Loemongga Nasoetion juga belum lama lulus sekolah menengah Eropa (HBS) di Batavia. Tentu saja mereka akan dibimbing senior mereka Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi yang studi bidang hukum di Universiteit te Leiden. 


Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi diterima di sekolah hukum Rechts School di Batavia tahun 1915 (yang diterima lulusan MULO).  Alinoedin Siregar adalah seorang pecatur, dan juga menjadi anggota klub catur di kampusnya (yang masuk bond catur Batavia). Pada tahun 1917 Alinoedin Siregar lulus ujian transisi naik dari kelas dua ke kelas tiga (lihat De locomotief, 21-05-1917). Pada tahun 1918 Alinoedin Siregar lulus ujian akhir dan kemudian ditempatkan di Landraad Medan. Pada tahun 1919 Alinoedin Siregar terpilih di Vereeniging Insulinde Medan sebagai kandidat dalam pemilihan anggota dewan kota (gemeenteraad) Medan (lihat De Sumatra post, 26-05-1919). Sebagaimana diketahui, saat ini, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo adalah anggota Volksraad dari Vereeniging Insulinde. Pada tahun 1920 Radja Enda Boemi akan dipindahkan dari Medan ke Landraad Batavia (lihat De Sumatra post, 28-09-1920). Radja Enda Boemi bersama Dr Abdoel Rasjid Siregar (dokter di Panjaboengan) adalah dua diantara empat kandidat dari Bataksche Bond untuk Volksraad (lihat De Sumatra post, 25-10-1920). Alih-alih pindah ke Batavia, Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi justru berangkat ke Belanda untuk melanjutkan studi huku di Universiteit Leiden. Seperti disebut di atas, pada tahun 1921 Sorip Tagor Harahap lulus sarjana kedokteran hewan di Rijksveeartsenshool di Utreht. Pada tahun 1923 Radja Enda Boemi terdaftar sebagai anggota Vereeniging Oost en West (lihat Het koloniaal weekblad; orgaan der Vereeniging Oost en West, jrg 23, 1923, no. 14, 05-04-1923). Radja Enda Boemi juga terinformasikan sebagai anggota persatuan catur Belanda Nederlandsche Schaakbond (lihat Tijdschrift van den Nederlandschen Schaakbond, jrg 31, 1923, no. 8, 01-08-1923). Seperti dilihat nanti, Radja Enda Boemi lulus sarjana hokum (Mr) bulan Mei di Leiden (lihat De Telegraaf, 30-05-1925) dan dua bulan kemudian meraih gelar doktor di bidang hukum dengan disertasi berjudul “Het grondenrecht in de Bataklanden: Tapanoeli, Simaloengoen en het Karoland” (lihat Algemeen Handelsblad, 10-07-1925). 

Dalam tiga tahun terakhir hingga tahun 1923 ini, situasi dan kondisi politik di Indonesia semakin dinamis. Gerakan bermuculan di berbagai wilayah dan coraknya juga menjadi sangat beragam. Gerakan di tubuh Insulinde yang bersifat asimilasi (yang juga telah diubah namanya menjadi NIP) telah mendapat saingan yang cukup berarti di Jawa dari kelompok ISDV yang dipimpin Henk Sneevliet (yang sejak tahun 1920 berubah namanya menjadi Perserikatan Komunis di Hindia (PKH). 


Pada lapisan muda juga mengalami dinamikanya sendiri, bahkan para pelajar semasih di sekolah sudah melihat dinamika politik yang terjadi. Seperti pernah dikatakan seorang pensiunan guru di Padang yang terjun ke dunia pers ketika ditanya jawabnya enting: “pendidikan dan jurnalistik sama penting; sama-sama mencerdaskan bangsa”. Hal itu kini memang terus terbukti. Para golongan muda banyak yang terjun ke dunia jurnalistimk seperi Parada Harahap dan juga istrinya Satiaman br Siregar aktif di majalah perempuan. Demikian juga para pelajar terus meningkatkan pendididkannya. Amir Sjarifoedn Harahap selepas lulus sekolah dasar (ELS) langsung berangkat studi ke Belanda; Mohamad Hatta lulus sekolah menengah (HBS) juga langsung studi (ekonomi) ke Belanda. Lalu kemudian disusul perempuan pertama pribumi, Ida Loemongga Nasoetion selepas HBS langsung berangkat studi (kedokteran) ke Belanda dan demikian juga Ali Sastroamidjojo studi hokum ke Belanda. Tentu saja, ada juga yang studi di dalam negeri seperti Soekarno yang diterima di THS Bandoeng pada tahun 1921. Satu keberanian Soekarno sewaktu masih di HBS Soerabaja terinformasikan pada kongres Jong Java di Soerabaja tahun 1921 agar bahasa Melayu diperbolehkan di Jong Java dan Jong Java harus ikut memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Seperti dilihat nanti Egon Enggora, anak Dr Abdoel Hakim di Padang selepas sekolah MULO tahun 1924 lanjut studi ke Belanda. 

Para pendukung komunis di Hindia bahkan telah melakukan infiltrasi di dalam tubuh Sarikat Islam (yang diidentifikasi anggota merah). Namun di Pantai Barat Sumatra, NIP masih sangat signifikan dan lebih penting daripada dua jenis SI yang ada di Pantai Barat Sumatra, yaitu yang berkartu merah dan yang berkartu putih (lihat De Indische courant, 07-01-1922). Sementara itu pemerintah terus melakukan penekanan terhadap gerakan-gerakan tersebut. 


Deli courant, 17-01-1921: ‘Baru-baru ini, surat kabar telah beberapa kali memberikan daftar pemimpin yang dianiaya dan aktivis yang dihukum, tetapi yang paling mencolok diberikan beberapa hari yang lalu oleh Soekindar, editor Sinar Hindia. Ini dapat dikutip di sini, meskipun ia juga mengatakan bahwa ia tidak tahu siapa lagi yang telah dipenjara. Kemudian ia mencantumkan semua terpidana yang baru saja menjalani hukumannya "atau masih menjalaninya": Sosrokardono empat tahun. Douwes Dekkei satu tahun. Hadji Misbach 2 tahun. Soerjonitigardjo 2 tahun, van Burink 6 bulan plus 14 hari. Moh. Sanoesi 8 bulan plus 14 hari, Jadisoebroto 1 tahun. Tirtodanoedjo masih ditahan ditambah enam bulan lagi. Marco 5 bulan, Darsono 2 setengah tahun. Tjho Tjoen Wan 4 bulan, Boedi Mandojono 2 tahun. Selanjutnya, para korban berikut telah dijatuhi hukuman tetapi masih memiliki prospek yang kurang menyenangkan yaitu harus menjalani hukuman mereka: Bergsma dan Soewardi masing-masing satu bulan, Pertondo, editor baru Soeara Ra’jat, 14 hari, Liem Ban Goei satu minggu, Chamidin 3 bulan. Selanjutnya, masih menunggu keputusan pengadilan di penjara: Alimin, Moeso, Mod. Kasan, Najoan, Sanjoto, Bratanata, Ngadino. Kita dapat menambahkan ke daftar editor komunis ini nama-nama Soemargo, Moh. Noer, Soetan Seri Alam (3 bulan), Samin dan Ahoeddin di Pantai Timur Sumatera, sementara Parada Harahap dan Manullang dalam proses dan lainnya di Pantai Timur masih menunggu keputusan pengadilan; lebih lanjut, proses hokum Tjokroaminoto saat ini masih diinterogasi oleh Kehakiman Departemen, tetapi dilaporkan bahwa Tjipto telah diasingkan dari sebagian Jawa’. 

Seiring dengan pengasingan sejumlah orang NIP seperti Bergsma, gerakan NIP agak mulai melemah. Seperti disebut di atas, Vereeniging Insulinde dalam kongres di Semarang pada tahun 1919 mengubah namanya menjadi Nationaal Indische Partij (NIP). Sebagaimana diketahui, pada tahun 1907 sebagian anggota Indische Bond memisahkan diri dan kemudian membentuk Vereeniging Insulinde. Pada bulan Agustus 1912 suatu komite Indische Partij didirikan di Bandoeng yang kemudian melakukan kudeta di tubuh Indische Bond yang berpusat di Batavia yang kemudian pada tanggal 25 Desember 1912 secara resmi didirikan Indische Partij di Bandoeng. Pada bulan Juli 1913 sejumlah tokoh Indische Partij ditangkap dan tiga orang diasingkan ke Belanda. Oleh karena Indische Partij dilarang pemerintah, eks anggota Inidische Partij kemudia bergabung dengan Vereeniging Insulinde, yang dewan pusatnya di Semarang. 


Het Centrum, 04-01-1923: ‘Dewan NIP. Rapat NIP yang diadakan di Semarang memutuskan untuk memindahkan Dewan Utama ke Bandoeng. Ketua Dewan Oetama adalah Dahler, anggota Dewan Oetama adalah Tjipto, dan sekretaris, tetapi bukan anggota Dewan Oetama, adalah Douwes Dekker’. 

Sebaliknya dari kelompok komunis terkesan sudah mengambil alih gerakan radikal. Bahkan kelompok komunis ini juga sudah sangat jauh masuk di dalam organisasi mahasiswa di Belanda (Indonesisch Vereeniging) dimana Semaoen dari Moscow berperan. Kelompok ini bermula dari pendirian ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging) di Soerabaja pada 9 Mei 1914 yang dipimpin Henk Sneevliet bersama dengan para tokoh sosialis Belanda dan pribumi. Lambat laun ISDV ini terkontaminasi dengan pengaruh komunis dan kemudian ISDV berubah menjadi Perserikatan Komunis Hindia dimana Sneevliet menjadi pemimpin komunis berkaliber internasional. 


De tribune : soc. dem. Weekblad, 17-05-1923: ‘Pidato Bergsma. Kawan partai Bergsma, salah satu pemimpin proletariat Hindia yang diasingkan dan menghabiskan 25 tahun di Hindia, berharap dapat menjelaskan dalam pertemuan ini bahwa teror memang merajalela di Hindia. Ia tidak bermaksud menggambarkan situasi lebih suram dari yang sebenarnya; itu tidak perlu. Situasinya sudah cukup mengerikan. Pertama-tama, ia ingin memberikan gambaran umum tentang situasi politik di Indonesia. Sejak Revolusi Besar Tiongkok, orang Cina di Jawa mulai bergejolak. Keberhasilan orang Cina mengakibatkan perkembangan gerakan nasionalis di Hindia juga. Pemerintah menganiaya para pemimpin seperti Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkaesoemo, dan lainnya, yang diasingkan. Kemudian muncul Sarekat Islam, organisasi rakyat besar yang dipimpin oleh Tjokro Aminoto, seorang pria yang mencintai negara dan rakyatnya serta berjuang untuk mereka. Pada saat yang sama, muncul gerakan sosialis, yang sayap komunisnya bekerja paling intensif. Pembicara mengenang karya Sneevliet, Baars, Darsono, dan kawan-kawan pribumi lainnya yang bergabung dengan mereka. Para komunis ini bekerja dengan penuh energi dalam pembentukan serikat pekerja revolusioner. Serikat pekerja terkuat di antara mereka adalah Asosiasi Personel Kereta Api dan Trem, yang saat ini berada di tengah-tengah perjuangan terbesar yang pernah dilakukan proletariat Hindia. Pembicara juga menyoroti pekerjaan di Ternate. “Di sana”, teriak pers arus utama, “para komunis membentuk negara di dalam negara!”. Pemerintah terlalu akomodatif terhadap para peneriak ini. Kawan-kawan kita dipenjara secara besar-besaran. Pembicara menguraikan despotisme para satrap Belanda, baik di Jawa maupun di pulau-pulau lain. Rakyat, rakyat sejati, tidak mengetahui alasan perbudakan mereka. Mereka mengira bahwa iblis atau tuhan kita telah menempatkan despot Belanda di sana. Dapat dipahami bahwa orang-orang dengan antusias menyerap kata-kata komunis di mana-mana, yang mengkhotbahkan kebebasan. Para penguasa menggunakan kebohongan yang paling keji. Kaum komunis ingin mensosialisasikan perempuan, membunuh anak-anak, dan sebagainya. Di bawah perlindungan kebohongan ini, dengan melanggar hukum, kawan-kawan kita di Ternate dijebloskan ke penjara. Dengah dan kawan-kawannya, para revolusioner pemberani, dijatuhi hukuman penjara yang lama setelah ditahan sementara. Akhirnya, mereka dinyatakan bersalah tanpa bukti. Pembicara memberikan berbagai contoh penyimpangan keadilan di bawah rezim Kristen ini. Kasus Najaon, seorang pria yang hanya mengamati bahwa para pekerja telah dikosongkan dan jika mereka menginginkan uang, mereka harus mencurinya. Itu sudah cukup untuk memenjarakannya. Dan tidak ada pengacara yang mau membela para revolusioner. Di penjara, masih ada kemeriahan’. 

Setelah kelompok komunis (Sneevliet, Baars, Darsono, dan kawan-kawan) berhasil menggembosi Sarikat Islam, Asosiasi Personel Kereta Api dan Trem juga jatuh ke tangan kelompok komunis. Sebelumnya, Asosiasi Personel Kereta Api dan Trem adalah mitra terkuat NIP di Jawa (yang bahkan hingga saat ini asosiasi tersebut terbilang yang sangat radikal dan masif di Jawa). NIP menjadi melemah relatif terhadap organisasi-organisasi gerakan lainnya di Hindia. Akhirnya NIP dibubarkan (pada tanggal 18 Mei 1923). 


Bataviaasch nieuwsblad, 28-06-1923: ‘Likuidasi NIP. Sehubungan dengan pembubaran NIP, pengaturan likuidasi berikut telah dibuat: Perdagangan Buku dan Brosur Indonesia, disingkat IBBH, akan menjadi entitas independen di bawah komite likuidasi yang di dalamnya, antara lain, Dahler, Tjipto, Vorderman, Wiedenhoff, Alexander, Seelen, Soewardi, dll., memegang kursi. Penerbitan buku "Indie" karya Douwes Dekker akan dilanjutkan dengan biaya dan untuk kepentingan IBBH ((Indische Bouw- en Beurs-Handel). Saldo surplus Tadofonds, demikian pula kas partai dan dana cabang, serta aset NIP akan dialihkan ke IBBH. Arsip NIP akan dimusnahkan’. 

Setelah Nationaal Indische Partij (NIP) dibubarkan, maka para aktivis NIP seperti Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat akan mencari jalannya sendiri-sendiri. Demikian juga dengan Dr Abdoel Hakim Nasoetion di Padang yang menjadi ketua NIP cabang Pantai Barat Sumatra. 


Pada tahun 1924 anak dari Dr Abdoel Hakim Nasoetion di Padang. Egon Onggara Hakim berangkat studi ke Belanda. Egon Onggara Hakim baru lulus sekolah MULO di Padang (sekolah dimana sebelumnya Mohamad Hatta bersekolah). Hingga sejauh ini baru tiga pemuda belia yang baru lulus sekolah dasar Eropa (ELS) berani melanjutkan studi jauh ke Belanda: Abdoel Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon lulus ELS di Medan berangkat ke Belanda patahun 1910. Lalu kemudian Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia lulus ELS di Sibolga berangkat studi ke Belanda tahun 1911. Seperti disebut di atas, pada tahun 1921 Amir Sjarifoedin Harahap segera setelah lulus ELS di Medan langsung berangkat studi ke Belanda. Untuk yang lulusan MULO (setara SMP) kini muncul nama Egon Onggara. Yang pertama untuk hal ini adalah Raden Soemitro pada tahun 1905 yang baru lulus ujian transisi dari kelas tiga ke kelas empat HBS di KW III School Batavia (kira-kira setara SMP) melanjutkan sekolah HBS lima tahunnya di Belanda (dan lulus tahun 1908). 


Tunggu deskripsi lengkapmya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar