Minggu, 01 Februari 2026

Sejarah Jepang (10): Aksara Bahasa Jepang Hiragana, Katakana dan Kanji; Mengapa Gagal Introduksi Aksara Latin di Jepang?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jepang dalam blog ini Klik Disini 

Bahasa Jepang ditulis menggunakan campuran tiga jenis aksara utama: Kanji (karakter Tiongkok untuk makna), serta dua aksara fonetik/suku kata yaitu Hiragana (untuk kata asli/gramatikal) dan Katakana (untuk kata serapan asing). Ketiga sistem ini digunakan bersamaan dalam kalimat untuk merepresentasikan bunyi dan konsep secara spesifik. 


Aksara Latin, yang dikenal di Jepang sebagai Romaji, pertama kali diperkenalkan pada pertengahan abad ke-16 oleh para misionaris Yesuit dari Portugal (sekitar 1548). Sistem romanisasi pertama dikembangkan oleh seorang Katolik Jepang bernama Anjirō (atau Yajirō) bersama para misionaris untuk membantu penyebaran agama Kristen tanpa harus menguasai sistem penulisan Jepang yang rumit. Salah satu penggunaan awal yang paling terkenal adalah dalam kamus Nippo Jisho (1603), sebuah kamus bahasa Jepang-Portugis yang mencatat pelafalan bahasa Jepang zaman itu menggunakan ejaan Portugis. Penggunaan aksara Latin masa Isolasi (Edo) sempat menghilang hampir sepenuhnya setelah Jepang melarang kekristenan dan menutup diri dari dunia luar pada awal abad ke-17. Aksara Latin kembali populer pada akhir abad ke-19 (Era Meiji) dimana misionaris Amerika James Curtis Hepburn mengembangkan sistem yang sekarang menjadi standar dunia, yaitu Sistem Hepburn (1867), untuk kamus bahasa Jepang-Inggris miliknya. Beberapa cendekiawan pada era Meiji, seperti Mori Arinori, bahkan sempat mengusulkan agar aksara Latin menggantikan Kanji dan Kana sepenuhnya demi memodernisasi Jepang, meskipun ide ini tidak pernah diterapkan secara resmi. Saat ini, Romaji diajarkan di sekolah dasar Jepang dan digunakan secara luas untuk pengetikan pada keyboard komputer serta papan tanda internasional (AI Wikipedia).. 

Lantas bagaimana sejarah bahasa Jepang dan aksara Hiragana, Katakana dan Kanji? Seperti disebut di atas, aksara Hiragana, Katakana dan Kanji digunakan di Jepang bahkan hingga ini hari. Introduksi aksara Latin di Jepang sejak era Portugis tampanya tidak sepenuhnya berhasil. Lalu bagaimana sejarah bahasa Jepang dan aksara Hiragana, Katakana dan Kanji? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*. 

Bahasa Jepang dan Aksara Hiragana, Katakana dan Kanji; Mengapa Gagal Introduksi Aksara Latin di Jepang?

Bahasa lisan ke percetakan melalui aksara bahasa (bahasa tertulis). Itu adalah tahap pertama dalam peradaban manusia. Tahap kedua adalah penggunaan aksara dalam system computer untuk membentuk bahasa tulisan (yang dapat dicetak) dan bahasa lisan (yang dapat didengar). Perjalanan aksara berangkat dari tahap pertama ke tahap kedua. Dalam hal ini, saat orang Eropa menemukan bahasa Jepang sudah memiliki aksaranya sendiri. 


Seperti halnya aksara-aksara di Indonesia, aksara Jepang juga memiliki sejarah panjang. Aksara Jepang berakar dari pengaruh Tiongkok di barat sebelum akhirnya berkembang menjadi sistem yang unik. Awalnya, Jepang tidak memiliki sistem tulisan sendiri hingga aksara dari Tiongkok diperkenalkan sekitar abad ke-4 atau ke-5 M. Aksara-aksara di Indonesia seperti aksara Batak dan aksara Jawa berakar dari aksara-aksara di arah barat (India, Arab dan Fenesia). Prasasti-prasasti di Hindia Timur (Indonesia) pada abad ke-5 umumnya adalah aksara Brahami/Pallawa. Di Jepan pada masa ini, terdapat tiga aksara utama. Aksara Kanji berasal dari karakter logografis Tiongkok kuno (Dinasti Han). Karakter ini digunakan untuk melambangkan makna atau ideogram, seperti kata benda, akar kata kerja, dan kata sifat. Aksara Hiragana berkembang pada zaman Heian (abad ke-9) dari bentuk tulisan kursif (tulisan tangan cepat) aksara Tiongkok. Aksara Katakana terbentuk pada periode yang sama dengan menyederhanakan bagian-bagian tertentu dari karakter Kanji. Sistem ini awalnya dikembangkan oleh para biksu Buddha sebagai metode cepat (semacam stenografi) untuk membubuhi keterangan atau membaca kitab suci. Di Indonesia, swebelum terbentuk aksara Latin pada masa ini, sudah eksis paling tidak dua jenis aksara: aksara Batak adalah aksara suku kata (abjad) dan aksara Jawa (abugida). Aksara Jawa ada kemiripan dengan aksara-aksara di India, tetapi aksara Batak berbeda. Aksara Batak lebih mirip aksara Fenisia (Syria). Aksara Eropa/Latin bersifat alphabet (fonetik) yang diturunkan dari aksara Fenesia yang dapat dianggap sebagai aksara yang lebih sederhana dan menjadi aksara standar dunia masa kini. Lantas, bagaimana dengan aksara di Jepang. 

Keberadaan aksara di Jepang dan juga di Indonesia (aksara Jawa dan aksara Batak) yang sudah cukup lama diketahui oleh orang Eropa, tetapi masih sangat minim tentang apa yang harus dipahami. Penyelidikan aksara-aksara di Indonesia dimulai di Jawa. Cetakannya dilakukan di Belanda. 


Bataviasche courant, 19-10-1825: ‘Beberapa waktu yang lalu di Belanda, tepatnya di Haarlem seorang peminat bahasa Jawa (Javaansche taal) P van Vlissingen, menginisiasi pembuatan aksara Jawa (Javaansche alphabet) atas permintaan pemerintah ke dalam percetakan pada tahun 1824 dengan nama Javaansche Drukkerij’. Hasil pertama percetakan itu adalah menerbitkan suatu puisi dengan menggunakan bahasa dan aksara (karakters) Jawa (lihat). Sejak inilah awal era baru dunia cetak mencetak bahasa Jawa dan aksara Jawa. Dalam hubungan ini van Vlissingen, ditempatkan di Soerakarta pada tahun 1820, untuk berkonsentrasi disana pada bahasa Jawa yang ditugaskan oleh Sekretaris Jenderal Pemerintah, Baud, untuk menyiapkan rancangan produksi dan pembentukan sebuah perusahaan percetakan Jawa. 

Segera setelah usai Perang Jawa (1825-1830), sejumlah pemuda Eropa/Belanda dijadikan oleh Pemerintahan Hindia Belanda di Jogjakarta dan Soerakarta direkrut untuk menjadi eleves (siswa) dalam mempelajari bahasa Jawa (kursus) dan juga berfungsi sebagai penerjemah (Belanda-Jawa atau sebaliknya). Salah satu lulusannya adalah CL van den Berg (lihat Javasche courant, 10-11-1832). Disebutkan diangkat sebagai Asisten Residen Karang-anjar, Residentie Bagelen, eleves untuk bahasa Jawa dan penjabat penerjemah di Djocjocarta, CL van den Berg untuk menggantikan Asisten Residen HJ Levijssohn yang diberhentikan dengan hormat. 


Kursus bahasa Jawa di Jogjakarta pada tahun 1832 ditingkatkan menjadi suatu lembaga yang disebut Instituut voor de Javaansche taal yang berlokasi di Soerakarta. Yang menjadi direktur lembaga adalah JFC Gericke. Siswa-siswa pertama dalam pembentukan lembaga ini adalah K Vikcert, J Schbitz, H Homs Loonoic, S Senstius, G Bader, C Chauvigny de Blot, N Esche, L Külbhkamp Lemmers, J Lichte dan J Tab yang kemudian turut dua elèves dari pegawai resident di Soerakarta J Wilkens dan A Vincent. JFC Gericke sendiri sebenarnya adalah seorang misionaris yang ditempatkan Nederlandsch Bijbelgenootschap di Soerakarta. Di lembaga ini JFC Gericke dibantu oleh seorang mantan perawat. 

Pendirian institut di Soerakarta ini penting dalam bahasa Jawa. JFC Gericke juga mendapat bantuan dari CF Winter (penerjemah bahaasa Jawa-Belanda) untuk mengajar dua jam setiap minggu. JFC Gericke menyebut orang Jawa, sekalipun terpelajar tidak mengetahui struktur gramatikal bahasanya sendiri dan karenanya tidak memiliki kemampuan untuk mengajar orang lain. Hal itulah JFC Gericke sendiri yang menyusun materi untuk para partisipannya yang orang Belanda di dalam institut. Tentu saja pada saat ini sudah ada orang Belanda lainnya yang bisa berbahasa Jawa seperti CF Winter. Lantas bagaimana dengan aksara Jepang? 


Algemeen Handelsblad, 29-06-1846: Bahasa dan Sastra Jepang. Di antara bangsa-bangsa Asia yang dianggap beradab, tidak ada yang bahasa dan sastranya masih begitu sedikit dikenal di Eropa selain bahasa dan sastra Jepang. Memang benar bahwa Eropa telah memiliki hubungan perdagangan dengan Jepang selama lebih dari 300 tahun, tetapi hingga beberapa tahun yang lalu, sangat sedikit upaya yang dilakukan untuk mengenalkan diri kita pada peradaban sastra bangsa yang luar biasa ini. Jepang baru ditemukan oleh Portugis pada tahun 1542 ketika Ordo Yesuit yang bersemangat segera mengirim misionarisnya ke sana untuk memulai pekerjaan konversi. Kebutuhan untuk memperkenalkan bahasa masyarakat tersebut memunculkan penerbitan beberapa karya linguistik; bahkan seluruh Perjanjian Baru dalam bahasa Jepang dikatakan telah dicetak sejak awal (Myaco 1613, fO.). Tetapi semua karya ini sangat kurang, seperti halnya semua tulisan linguistik para misionaris Katolik sebelumnya, dan sekarang sangat langka sehingga hampir tidak lebih dari dua atau tiga salinan yang dapat ditemukan di perpustakaan Eropa. Setelah bangsa kita menetap di pulau Decima sekitar pertengahan abad ke-17, kita hanya terus berhubungan dengan kekaisaran Jepang. Untuk waktu yang lama, Belanda tidak mempedulikan hal lain selain perdagangan, bahasa, dan sastra, terutama karena orang Jepang sangat mudah mempelajari bahasa Belanda dan, menurut hukum setempat, hanya orang Jepang yang dapat digunakan sebagai penerjemah resmi. Memang benar bahwa karya-karya para penjelajah seperti Kampler Thunberg, Titsingh, van Ovenneer Fisscher, dll., telah banyak memberikan pencerahan tentang sejarah, geografi, dan ciri alam Jepang, tetapi tidak tentang bahasa dan sastranya. Baru-baru ini beberapa sarjana memberikan perhatian khusus pada subjek ini, terutama di negara kita, Tuan v. Siebold, yang telah menjadikan tujuannya untuk membuat negara ini dan rakyatnya dikenal seluas mungkin, dan telah membagikan hasil terbaik dari upayanya dalam karyanya yang terkenal, Nippon. Sumber pengetahuan yang kaya tentang bahasa Jepang adalah karya yang luar biasa namun juga sangat berharga berjudul Bibliotheca Japonica (Leiden 1833-41, 4°), yang diterbitkan oleh Bapak v. Siebold, bekerja sama dengan Bapak J. Hoffmann, dengan bantuan seorang kaligrafer Tiongkok yang terampil, Ko Tsching Dschang, bersama dengan buku panduan karya sarjana yang sama (Epitome linguae Japoniccé). Mengenai kekayaan besar sastra Jepang di semua bidang ilmu pengetahuan dan seni, kita dapat memperoleh gambaran dari deskripsi yang diberikan oleh Bapak von Siebold dan Hoffmann tentang karya-karya Jepang yang dicetak dan berupa manuskrip yang ditemukan di Museum Kerajaan di Den Haag (Catalogus Librorum Jap., dll., L. B, 1845). Sebelumnya, buku-buku Jepang termasuk di antara barang-barang langka, hanya ditemukan di sana-sini di perpustakaan sebagai barang koleksi. Bapak Titsingh, yang tinggal di Nangasacki selama empat belas tahun, awalnya membawa sejumlah besar buku Jepang ke Eropa; Namun, ia membawa harta karun ini ke Paris, di mana, setelah kematiannya, sebagian dicuri dan sebagian lagi tersebar. Kemudian, Tuan J. Cock Blomhof dan van Ovenneer Fisscher membawa koleksi yang kaya ke Belanda dan menyumbangkannya ke Museum Den Haag. Tetapi dalam hal kekayaan dan seleksi yang bijaksana, koleksi-koleksi tersebut jauh terlampaui oleh perpustakaan buku-buku Jepang yang berhasil dikumpulkan oleh Tuan v. Siebold selama tujuh tahun tinggalnya (1823-1830) di Jepang, dengan biaya yang sangat besar dan seringkali tidak tanpa risiko bagi nyawanya. Kami tidak ingin membebani pembaca kami dengan daftar judul karya-karya utama dari perpustakaan Jepang ini. Cukuplah dikatakan bahwa perpustakaan ini kaya akan berbagai bidang dan membuka bidang yang luas, namun masih jarang dieksplorasi, bagi mereka yang ingin mengabdikan diri pada studi bahasa dan sastra Jepang. Kami berharap bahwa tambang ini, yang masih hampir sepenuhnya belum dieksplorasi di negara kita, tidak akan tetap tidak digunakan oleh para sarjana kita. Bangsa ini, yang selama lebih dari dua abad telah mengutamakan kita di atas bangsa lain dalam perdagangan, sangat layak untuk kita kenal juga dari segi budaya intelektual mereka. Kami akan menambahkan beberapa detail lebih lanjut di sini mengenai bahasa, aksara, dan buku-buku Jepang. Bahasa Jepang sangat berbeda dari bahasa Cina; kaya akan variasi dan infleksi kata, sementara bahasa Cina tidak memiliki struktur seperti itu; hubungan sintaksis kata-katanya juga sangat berbeda dari bahasa Cina. Namun, masih sulit untuk menentukan dialek mana yang harus diklasifikasikan untuk bahasa Jepang; tampaknya bahasa ini unik di antara bahasa-bahasa Asia seperti halnya bahasa Basque di antara bahasa-bahasa Eropa. Pada tahun 660 SM, Zin-mu, pendiri negara Jepang, menetap di pulau Nippon di provinsi Lamato, tempat bahasa Jepang terbaik dan paling murni dituturkan, baik secara tradisional maupun saat ini. Di utara dan selatan kekaisaran, bahasa tersebut telah sangat terkontaminasi oleh imigran dan interaksi dengan orang asing. Dialek lama masih tetap murni dalam puisi-puisi, dan bahkan di istana kekaisaran, upaya dilakukan untuk tetap setia padanya. Pada abad ke-3 M, karya-karya Coafucius telah diperkenalkan ke Jepang, tetapi baru pada abad ke-6, melalui pengenalan Buddhisme dari Chira, studi bahasa dan tulisan Cina menjadi tersebar luas, dan bahkan sampai pada tingkat yang sangat kuat sehingga setiap orang Jepang dari kelas beradab harus mempelajari kedua bahasa tersebut sejak kecil, agar sepenuhnya mahir dalam bahasa Cina dan juga bahasa ibunya. Namun, pengucapan bahasa Cina di mulut orang Jepang sangat berbeda dari apa yang disebut bahasa Mandarin dan lebih mendekati dialek Fo-kieir; Bahasa Tionghoa hampir dapat dianggap sebagai dialek Tionghoa yang terpisah, yang tidak diragukan lagi hampir sepenuhnya tak tertandingi oleh orang Tionghoa daratan. Tetapi bahkan di Jepang sendiri, terdapat dua pengucapan bahasa Tionghoa: yang umum digunakan, disebut Kanwon, dan yang lainnya, Gowon, yang hanya digunakan oleh pendeta dan dokter. Namun, bahasa Tionghoa tidak memberikan pengaruh apa pun pada bahasa Jepang sehari-hari; kata-kata dan ungkapan yang telah masuk ke dalamnya dengan mudah menunjukkan asal asingnya dan harus tunduk pada kombinasi kata yang menjadi ciri khas bahasa Jepang. Tetapi aksara Tionghoa tetap tidak berubah dan tidak berbeda sedikit pun dari aksara Kerajaan Surgawi. Adapun keakraban dengan bahasa Tionghoa (285 M), orang Jepang tampaknya tidak perlu memiliki bentuk tulisan, dan bahkan jauh setelahnya, bahasa Jepang tidak tertulis. Namun, ketika kebutuhan muncul, dan disadari bahwa tidak mungkin menerapkan tulisan Cina untuk mengekspresikan bunyi bahasa asli yang sama sekali berbeda, dan terutama untuk menunjukkan hubungan linguistik ucapan, sebuah sistem suku kata Jepang (silabari) dibentuk, sudah pada paruh pertama abad ke-19, yang mana karakter tulisan Cina berfungsi sebagai dasar, tetapi hanya sebagai simbol untuk bunyi. Untuk tujuan ini, Kibi (meninggal 775), yang dididik di Cina, memilih 47 karakter tulisan Cina, yang, untuk kemudahan, akan berfungsi dalam bentuk singkat sebagai simbol bunyi untuk sejumlah suku kata Jepang. Dengan demikian muncullah silabari yang elegan dan mudah (disebut I-rofa, sesuai dengan bunyi tiga karakter pertama), yang dikenal sebagai Katakanna Irofa. Alfabet Jepang adalah sebagai berikut: i, ro, fa, ni, fo, fe, i, tsi, ri, mv, ru, wo, wa, ka, io. Ta, re, so, tsu, ne, na, ra, nu, u, ni, no, o, ku, ja, ma, ke, fu. ko, je, ie, sa, kt, ju, me, mi, si, e, fi, mo, se, su, n. Orang Jepang menggunakan alfabet ini, selain alfabet Cina, untuk menunjukkan pengucapan mereka menurut bahasa sehari-hari Jepang, untuk menunjukkan makna mereka dalam bahasa sehari-hari, dan untuk mengekspresikan konteks linguistik dari bagian-bagian ucapan. Bentuk lengkap dari alfabet ini digunakan seperti inisial kita. Sebuah aksara suku kata kedua yang strukturnya serupa, Firakanna Irofa, berasal dari abad ke-9, tetapi telah banyak diubah seiring waktu, sehingga karakter Cina asli tidak dapat lagi dikenali di dalamnya. Jenis ketiga, Munyo Karma (dinamakan demikian berdasarkan terjemahan puisi yang ditulis dengannya, Mun-yo-Sio, yaitu, sepuluh ribu lembar!), setia pada aksara Tiongkok, dan sebagai tulisan kursif, telah menjadi gaya Vamaio Kannu Irafu, yang menjadi dasar bahasa Jepang, dengan penambahan beberapa aksara dari bahasa lain secara sembarangan, dan dengan banyak kebebasan dalam penulisan dan perpaduan. Buku-buku orang Jepang ditulis dalam bahasa Tiongkok atau bahasa Jepang. Bahasa Tiongkok murni, tanpa campuran dari bahasa sehari-hari, biasanya merupakan karya ilmiah yang ketat; terkadang berisi... Ditulis dalam bahasa Tiongkok, terjemahan Jepang yang disisipkan, di mana semua kata, atau hanya kata-kata yang paling sulit dan penting, ditulis dalam bahasa Jepang dengan aksara Katakana, di samping aksara Tiongkok. Buku-buku Jepang yang sebenarnya, yaitu buku-buku yang ditulis dalam bahasa Jepang, jarang sekali murni berbahasa Jepang, melainkan campuran antara bahasa Cina dan Jepang, sedemikian rupa sehingga aturan infleksi dan kombinasi kata dalam bahasa Jepang menjadi dasarnya, dan banyak karakter Cina yang disisipkan harus dibaca seperti kata-kata Jepang tanpa untuk memperhatikan bunyi khas yang mereka miliki. Untuk memahami buku-buku berbahasa Mandarin, bahkan pengetahuan bahasa Mandarin yang paling mendalam pun tidak cukup, karena seseorang hanya mengetahui beberapa karakter Mandarin, tetapi tidak seluruh koherensi kalimat. Namun, seluruh kalimat juga terjalin dalam bahasa Mandarin, dan interferensi ini, yang terkadang terdiri dari tanda-tanda untuk konsep dan terkadang hanya berupa representasi bunyi, membuat membaca buku-buku berbahasa Mandarin sangat sulit’. 

Aksara Jawa sudah dipelajari dan dipahami, namun aksara Jepang meski sudah mulai ada yang mencoba memahaminya, namun tidak sepenuhnya mampu menjelaskan. Mengapa? Yang jelas, pada tahun 1850 misionaris di Belanda mengirim ahli bahasa-bahasa Timur ke Tanah Batak, Dr HN van der Tuuk. Pada tahun 1855 artikel pertama van der Tuuk tentang aksara Batak sudah diterbitkan di jurnal. Dalam konteks inilah kemudian, setelah begitu banyaknya dokumen aksara bahasa Jepang di museum Amsterdam, Belanda, mulai ada usul di Belanda untuk mempelajari aksara Jepang. 


Algemeen Handelsblad, 19-06-1855: ‘C Leemans kemudian menyampaikan laporan tentang proposal Hoffman untuk mempromosikan pengetahuan tentang bahasa Cina dan Jepang. Laporan tersebut membahas pentingnya seperangkat huruf cetak Tiongkok dan memberikan rincian mengenai hal ini, serta menyimpulkan bahwa pemerintah harus didekati dengan permintaan untuk melakukan penyelidikan di Jepang terhadap individu yang memiliki kecenderungan dan kualifikasi untuk membuat huruf cetak, biaya yang terkait, dan waktu yang dibutuhkan, dan selanjutnya mengalokasikan dana untuk hal ini serta untuk pembuatan huruf cetak’.

 

Tunggu deskripsi lengkapnya

Mengapa Gagal Introduksi Aksara Latin di Jepang? Aksara Latin di Jepang Hanya sebagai Pelengkap Aksara Tradisional (Kanji, Hiragana, Katakana) dan Kebutuhan Komputer

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar