*Untuk melihat semua artikel Sejarah Soetan Casajangan di blog ini Klik Disini
Narasi sejarah Indonesia, pada dasarnya belum sepenuhnya menggambarkan peta geomorfologis sejarah Indonesia keseluruhan. Yang terkesan adalah di wilayah terntentu narasinya sangat padat dan bahkan data sampah juga dinarasikan. Sementara itu di berbagai wilayah lainnya di Indonesia hanya dikupas tipis-tipis. Bahkan di banyak wilayah di Indonesia bahkan banyak data sejarah yang belum digali sepenuhnya lebih dalam meski sudah diketahui di permukaannya sudah memgandung unsur emas, intan dan sebagainya. Jika digali terus sudah tentu akan lebih memperkaya lagi narasi sejarah Indonesia. Sejarah Willem Iskander Pionir Pendidikan Indonesia
Soetan Casajangan (born Rajiun Harahap, 1874–1927) was a pioneering Indonesian educator and nationalist figure who co-founded the Indische Vereeniging (Indies Association) in the Netherlands, which later transformed into the politically influential Perhimpunan Indonesia. Born in Padang Sidempuan, North Sumatra, he made history as the second student from the Tapanuli region to pursue higher education in Europe. Key Historical Contributions: (1) Indische Vereeniging: He co-founded this student organization in 1908 and served as its first chairman, establishing a crucial hub for early Indonesian nationalist thoughts in Europe. (2) Educational Pioneer: Trained as an educator, he became one of Indonesia's early certified teachers and played a vital role in developing native education systems. (3) National Awakening: His efforts in mobilizing overseas students provided the organizational blueprint for future independent leaders fighting against Dutch colonial rule (AI Wikipedia)
Lantas bagaimana sejarah Soetan Casajangan Soripada? Seperti disebut di atas, data sejarah Indonesia sangat melimpah, bahkan masih banyak yang belum tergali. Sebagai contoh, jika nama Soetan Casajangan Soripada (bukan ditulis dengan Soetan Kasajangan Soripada) dicari tidak ditemukan di Wikipedia. Namun AI Wikipedia masih dapat memberikan deskripsinya dalam bahasa Inggris. Satu yang penting dan terpenting, perjalananya awal Soetan Casajangan Soripada terinformasikan sebagai siswa di sekolah guru Kweekschool Padang Sidempoean yang menjadi salah satu murid kesayangan Charles Adrian van Ophuijsen. Lalu bagaimana sejarah Soetan Casajangan Soripada? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Sejarah Bahasa Indonesia
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah.
Soetan
Casajangan Soripada; Kweekschool Padang Sidempoean dan Charles Adrian van
Ophuijsen
Sebelum bahasa Melayu dikodifikasi (distandarkan), sudah lama orang Batak mempelajari bahasa Melayu yakni dengan caranya sendiri. Seperti dilihat nanti, bahasa Melayu yang akan dikodifikasi para sarjana Belanda, akan menjadi cikal Bahasa Indonesia yang sekarang. Lantas bagaimana orang Batak (khususnya di pedalaman Tapanuli Selatan) yang memiliki bahasa dan aksara sendiri mempelajari bahasa Melayu?
TJ Willer dalam laporan akhir jawabatannya sebagai Asisten Residen Angkola Mandailing. Residentie Tapanoeli (1846) mengusulkan perlunya mendirikan sekolah di Angkola Mandailing (kini wilayah Tapanuli Selatan). Saat ini di Jawa belum ada sekolah yang didirikan pemerintah. Rekomendasi TJ Willer tersebut baru dapat direalisasikan oleh Asisten Residen Angkola Mandailing ketika dijabat oleh AP Godon (1849). Dua sekolah pertama dibangun di Panjaboengan (ibu kota onderafdeeling Mandailing) dan di Panjaboengan (ibu kota onderafdeeling Angkola). Pada tahun 1954 masing-masing lulusan terbaik dari dua sekolah tersebut telah diterima di sekolah kedokteran di Batavia (lihat Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws-en advertentieblad, 18-01-1855). Dua siswa dari Angkola Mandailing tersebut merupakan yang pertama dari luar Jawa. Tentu saja bahasa yang digunakan di sekolah kedokteran Batavia bahasa pengantar adalah campuran bahasa Melayu dan bahasa Belanda. Sekolah kedokteran Batavia sendiri dibuka pada tahun 1851. Lama studi dua tahun. Keduanya lulus tahun 1856 dimana Dr Asta (Nasution) ditempatkan di Mandailing dan Dr Angan (Harahap) di Angkola. Saat ini AP Godon masih tetap sebagai Asisten Residen Angkola Mandailing. Sementara JAW van Ophuijsen sebagai controleur di Afdeeling Natal (1853-1855). Dalam struktur pemerintahan di Residentie Tapanoeli, JAW van Ophuijsen dapat dikatakan sebagai ‘anak buah’ Asisten Residen Afdeeling Angkola Mandailing dan (AP Godon). Oleh karena di Natal belum ada sekolah, sudah barang tentu para orangtua mengantar anak-anak mereka untuk sekolah di Panjaboengan.
Anak usia sekolah di wilayah Tapanuli Selatan (afdeeling Angkola Mandailing) mempelajari bahasa Melayu melalui sekolah. Sebab orang tua mereka biasanya berbahasa sendiri (bahasa Angkola Mandailing). Terbukti lulusan sekolah di afdeeling Angkola Mandailing mampu berbahasa Melayu dengan baik sehingga dapat diterima di sekolah kedokteran di Batavia pada tahun 1854 dan berhasil menjadi dokter pada tahun 1856. Boleh jadi karena sukses ini, pemerintah pusat (di Batavia) memperluas pendidikan di Angkola Mandailing.
Surat Keputusan [department pendidikan dan budaya] tanggal 7 Oktober 1857, No. 39, (dinyatakan) sebanyak sepuluh sekolah pribumi didirikan di Residentie Tapanoeli, yaitu: Muara Sama, Kota Nopan, Muara Sipongi, Panjaboengan, Padang Sidempoean, Batoe Na Doea, Sipirok, Boenga Bondar, Si Mapil apil dan Siboga’. Berita negara ini tampaknya telah menegaskan dua sekolah yang didirikan di Afdeeling Angkola Mandailing (di Panjaboengan dan Padang Sidempoean) adalah inisiatif pejabat pemerintah di tingkat lokal dan para pemimpin lokal. Di satu sisi sukses itu nyata; di sisi lain pemerintah pusat (Batavia) akan menaikkan status sekolah pertama di Panjaboengan dan Padang Sidempoean sekaligus memberi bonus delapan sekolah baru yang akan dibiayai oleh pemerintah (sekolah pemerintah). Pemerintah sendiri telah mencanangkan (program) pembangunan pendidikan di Hindia Belanda pada tahun 1848. Salah satu program pendidikan tersebut membuka sekolah guru di Soerakarta (1852). Dalam perkembangannya disebutkan akan ada tiga siswa yang akan lulus menjadi guru, sementara jumlah siswa di sekolah guru telah meningkat dari 13 siswa menjadi 15 siswa dan direncanakan akan menjadi 30 siswa (lihat Javasche courant, 07-06-1854). Salah satu lulusan sekolah guru Soerakarta akan membuka sekolah pertama di Japara tahun 1854 (lihat Javasche courant, 13-01-1855). Pada tahun 1856, Asisten Residen JAW van Ophuijsen mendirikan sekolah guru di Fofrt de Kock. Singkatnya, pada tahun 1857 di Jawa sudah semakin banyak sekolah yang didirikan.
Apa yang menyebabkan pemerintah pusat membangun sekolah di afdeeling Angkola Mandailing tentu saja karena pendapatan asli daerah (PAD) sangat baik. Surplus Angkola Mandailing di neraca pendapatan pusat, sebagian disisihkan untuk membangun sekolah di Angkola Mandailing plus satu sekolah di Sibolga (ibu kota Residentie Tapanoeli). Kemauan anak-anak Angkola Mandailing untuk bersekolah dan PAD yang tinggi menyatu dalam satu kebijakan pemerintah pusat dalam perluasan pendidikan di Angkola Mandailing khusunya dan di Tapanoeli umumnya.
Nieuw Amsterdamsch handels-en effectenblad, 01-12-1857: ‘Hasil pengepulan kopi di Padang, yang ditutup pada tanggal 30 September, terdapat sebanyak 5.172 picols dari Mandheling dengan harga van ƒ 36 tot f 36 15/120; sebanyak 1.143 picols dari Ankola dengan harga van f 36 5/120 tot f 36 10/120’, Catatan: Harga kopi dari Mandailing dan Angkola baik di pusat lelang di Padang maupun di Belanda adalah harga tertinggi.
Pada tahun 1857, salah satu lulusan sekolah di Mandailing Sati (Nasution) berangkat studi keguruan ke Belanda. Tentu saja itu bukan biaya yang murah yang harus ditanggung orangtua/keluarga. Sati berangkat bersama AP Godon (yang mendapat cuti dua tahun ke Eropa). Mereka berdua berangkat pada bulan Maret 1857 (lihat De Oostpost: letterkundig, wetenschappelijk en commercieel nieuws- en advertentieblad edisi 26-03-1857). Disebutkan kapal berangkat dari Padang. Kapal ini memakan waktu sangat lama (5-6 bulan) untuk tiba di Amsterdam melalui Afrika Selatan, Spanyol, Inggris. AP Godon dan Sati tiba di Amsterdam bulan September 1857 (lihat Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 04-09-1857).
Akhirnya Sati terinformasikan telah lulus sekolah keguruan di Haarlem dengan akta guru bantu (hulpacte). Namun namanya telah diubahnya sendiri dengan nama Willem Iskander. Mengapa? Willem Iskander paling tidak sudah lulus tahun 1860. Ini terlihat nama Willem Iskander termasuk salah satu lulusan sekolah guru di Kerajaan Belanda. Di dalam daftar itu disebutkan sebagai berikut: ‘Iskander, Willem, geb. in 1841, geëxam. in Noordholland, kweekeling te Amsterdam’ (lihat majalah Nieuwe bijdragen ter bevordering van het onderwijs en de opvoeding, voornamelijk met betrekking tot de lagere scholen in het Koningrijk der Nederlanden, voor den jare ...., Volume 30, D. du Mortier en zoon, 1860. Informasi inilah yang kali pertama memberitahukan bahwa Si Sati mengganti namanya sendiri dengan nama Willem Iskander. Nama Willem sendiri sejak lama dikenal di Belanda dan pada masa ini di Belanda adalah nama umum untuk orang Belanda. Nama Willem ini saling dipertukarkan dengan nama William (yang juga nama Raja Belanda, Radja Willem III). Bagaimana dengan nama Iskander? Iskander pada masa ini adalah nama depan seorang sastrawan Rusia saat ini yang melarikan diri ke London. Nama Iskander tidak ditemukan di Belanda. Sati alias Willem Iskander telah mencapai yang dicita-citakan, Tentu saja AP Godon di Belanda senang dengan berita kelulusan teman baiknya itu. Kelulusan Willem Iskander ini diperkuat penjelasan Prof Millies (Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws-en advertentieblad, 14-10-1860). Willem Iskander setelah lulus tidak langsung pulang ke tanah air. Willem Iskander di Belanda di luar studi keguruan, juga ingin meningkatkan pengetahuan umumnya dengan mempelajari berbagai pengatahuan dan mengunjungi sejumlah tempat tertentu seperti pabrik, surat kabar, pelabuhan dan sebagainya. Sementara itu sang mentor yang juga teman baiknya AP Godon, meminta pension diri dan tidak kembali ke Hindia yang kemudian dirinya mendapat bintang dari negara (lihat Provinciale Overijsselsche en Zwolsche courant: staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 24-06-1861).
Sati alias Willem Iskander setelag lulus sekolah guru di Haarlem kembali ke tanah air (lihat Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 27-07-1861). Di dalam manifest kapal Petronella Catharina yang membawanya pulang dari Amsterdam dengan tujuan akhir Batavia disebut W Iskander. Kapal yang ditumpangi Willem Iskander langsung ke Batavia. Willem Iskander sendiri sebelumnya belum pernah ke Batavia (pada masa ini dikenal BTL). Kesempatan ini tentu saja akan dimanfaatkan oleh Willem Iskander untuk bertemu dengan sejumlah pejabat pemerintah di Batavia sebelum pulang kampong di Mandailing en Angkola. Willem Iskander di Batavia bukan lagi seorang siswa lulusan sekolah dari sekolah di pedalaman Sumatra, tetapi guru lulusan Eropa di Belanda. Rencana Willem Iskander untuk mendirikan sekolah guru di Mandailing dan dalam proses pematangan akhir dilakukan di Batavia. Willem Iskander tiba dengan kapal Batavia di Padang pada akhir Desember 1861 (lihat Bataviaasch handelsblad, 24-12-1861).
Willem Iskander adalah pribumi pertama studi (keguruan) ke Eropa/Belanda. Tampaknya, sukses Willem Iskander dari Mandailing atas biaya sendiri yang kemudian dibantu pemerintah sebagai beasiswa telah menarik perhatian para misionaris Belanda di Sipirok. Pendeta GA van Asselt di Sipirok mengirim anak didiknya Dja Odjo untuk studi keguruan ke Belanda. Dja Odjo dititipkan kepada janda para misionaris (yang suami mereka terbunuh di Kalaimantan) di Batavia untuk ikut ke Belanda pada tahun 1860. Djo Odjo dititipkan kepada guru di Amsterdam. Namun sayang, Dja Odjo diberitakan meninggal dunia di Amsterdam pada tahun 1861.
Willem Iskander benar-benar merealisasikan cita-citanya untuk mendirikan sekolah guru tahun 1862. Letak sekolah yang dipilih adalah tempat strategis di kampong Tanobato (onderafdeeling Mandailing) di tengah jalan lintas antara Panjaboengan dan (pelabuhan) Natal. Ini mengindikasikan telah didirikan tiga sekolah guru di Hindia Belanda (baca: Indonesia). Yang pertama di Soerakarta (1852), yang kedua di Fort de Kock (1856) dan kini yang ketiga di Tanobato (1862).
Jumlah siswa yang diterima, melalui seleksi yang ketat, sebanyak 18 lulusan sekolah di seluruh Angkola Mandailing. Seperti disebut di atas, pada tahun 1857 pemerintah pusat mendirikan sekolah pemerintah di Muara Sama, Kota Nopan, Muara Sipongi, Panjaboengan, Padang Sidempoean, Batoe Na Doea, Sipirok, Boenga Bondar, Si Mapil Apil dan Siboga.
Salah satu siswa yang diterima di sekolah guru Tanobato yang dipimpin guru Willem Iskander adalah Mangaradja Soetan, putra Patoean Soripada yang menjadi Koeria di Batoe Na Doea.
Kweekschool Padang Sidempoean dan Charles Adrian van Ophuijsen: Kajian Tatabahasa Indonesia Dimulai di Padang Sidempoean
Mangaradja Soetan (baca: Maharadja Soetan), setelah lulus sekolah guru di Tanobato tidak menjadi guru. Mangaradja Soetan tampaknya lebih memilih mengabdikan pengetahuannya untuk pemerintahan lokal di Batoe Na Doea untuk membantu sang ayah Patoean Soeripada sebagai (kepala) Koeria. Dalam perkembangannya, diketahui Mangaradja Soetan telah menggantikan sang ayah sebagai kepala Koeria.
Terminologi Koeria dalam hal ini sebagai wilayah pemerintahan lokal di bawah onderafdeeling yang terdiri sejumlah kampong. Di wilayah Minangkabau kepala Koeria setara dengan kapala Laras dan di Jawa setara dengan kapala distrik. Kepala Koeria bertanggung jawab kepada Controleur (pejabat Belanda di tingkat onderafdeeling).
Pada tahun 1871 Mangaradja Soetan terinformasikan melakukan perjalanan ke Betawi (baca: Batavia). Dalam perjalanan ini sebelum melanjutkan perjalanan dari Padang ke Betawi Mangaradja Soetan menulis di surat kabar berbahasa Belanda yang terbit di Padang, untuk dapat dibaca keluarga atau teman-teman di kampong. Mangaradja Soetan menulis dalam bahasa Melayu. Tulisan itu dibuat tanggal 17 September atau sebelumnya yang kemudian diterbitkan pada edisi tanggal 20 September.
Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 20-09-1871: ‘CHABAR DARI MAHARADJA SOETAN. Kapala koeria Batoe Nandoea. Bahoea dengan banjak tabe kapada sobat sobat. ijaiioe siapa ijang soeka dapat chabar darie hal perdjalanan saija ka Balawie sebab soeka maliliat negrie bagoes. Adapoen saija soeda barangkat derie Padang Sidempoean pada tanggal 29 Agustus [1871], lalu sampe di Siboga pada tanggal 31 Agustus lalu tida koerang apa apa di djalan dan di Siboga soeda banjak soeka hatie, sebab soeda banjak omong-omong dengan toean toean yang ada di sitoe. Dan pada 11 September barangkat derie Siboga sama kapal apie Sunda, dan sampe di Padang pada 13 September, dan tida kurang apa di laut atawa di kapal itoe, malinkan senang hatie sadja. dan soeda toeroen derie kapal ka Padang, maka barsoea dengan baik kapada kanalan saija orang malaijoe, dan toean toean; apalagie soeda mangadap kapada saripandoeka toean besaar. Djadie pada 17 September mau balaijer dengan kapal apie Vice-Presidenl Prins ka Batawie. (nantie di samboeng lagie)’.
Mangaradja Soetan selamat sampai ke Betawi (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 23-09-1871). Disebutkan warga asing tiba di Batavia, dari tanggal 16 hingga 22 September, di Java Hotel, Maharadja Soetan dan Easton dari Padang. Satu yang penting dari surat Mangaradja Soetan yang dimuat di surat kabar di Padang ditulis dalam bahasa Melayu. Mengapa?
Satu yang jelas yang dapat disimpulkan Mangaradja Soetan adalah orang kampong tetapi cara berpikirnya di zaman itu sudah cosmopolitan. Suratnya tidak ditulis dalam bahasa Batak dan bahasa Belanda, tetapi dalam bahasa Melayu, bahasa yang dapat dibaca oleh orang Belanda dan juga, dalam hal ini, dapat dibaca orang Batak di Angkola Mandailing. Satu yang penting dan terpenting dari teks surat tersebut (empat paragraph) Mangaradja Soetan sudah menggunakan tata bahasa (SPOK, kata sambung, imbuhan, tanda koma) yang dapat dibandingkan dengan pada masa ini (Bahasa Indonesia). Hanya saja saat itu belum ada kodifikasi bahasa Melayu, sehingga dalam tulisan Mangaradja Soetan tampak tercampur dengan bahasanya sendiri (bahasa Batak) seperti awalan (mar, ma, ba, bar dan di) yang digunakan dalam tata bahasa Batak, penulisan (ejaan) kata dan tanda baca dan kata sambung. Dan tentu saja dalam teks tersebut penulisan ejaan menggunakan ejaan umum Belanda (meski tidak konsisten) seperti j=dj, y=j, u=oe, huruf pada akhir kata ie dan c=ch. Singkatnya, Mangaradja Soetan seorang yang terpelajar, lulusan sekolah guru yang telah mempelajari bahasa Melayu. Bahasa Melayu sendiri saat itu belum terkodifikasi (belum distandarkan). Kritik HN van der Tuuk dan HJ Klinkert terhadap penulisan bahasa Melayu dan perlunya kodifikasi baru muncul pada tahun 1865. Namun kritik itu tampaknya belum ada gerakan bersama ke arah kodifikasi tersebut. Kritik kedua ahli bahasa itu juga ditujukan kepada Prof Roorda Esinga dan Dr Jan Pijnappel.
Surat Mangaradja Soetan sudah barang tentu dibaca oleh gurunya Willem
Iskander yang masih menjadi kepala sekolah guru (kweekschool) di Tanobato. Saat
ini (1871) Willem Iskander berusia 30 tahun, lantas berapa usia Managaradja Soetan?
Tentu masih sangat muda (20-an tahun). Willem Iskander sudah sering ke Batavia.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




Tidak ada komentar:
Posting Komentar