Selasa, 16 Juni 2026

Sejarah Indonesia Jilid 6-8: Nasib Esperanto Bahasa Indonesia Bahasa Pemersatu Dunia; Apakah Bahasa Inggris Bertahan Selamanya


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini

Bahasa Indonesia telah resmi diakui sebagai bahasa internasional setelah ditetapkan sebagai bahasa resmi Konferensi Umum UNESCO pada tanggal 20 November 2023. Status ini menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ke-10 di forum tersebut, bersanding dengan bahasa besar dunia seperti Inggris, Arab, Mandarin, Prancis, Spanyol, Rusia, Hindi, Italia, dan Portugis. Bahasa Indonesia sedang dalam proses strategis menuju pengakuan global. Pemerintah menargetkan bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi PBB pada 2045. Sejarah Bahasa Indonesia


Bahasa Esperanto adalah bahasa buatan (bahasa terencana) yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. Bahasa ini diciptakan pada tahun 1887 oleh Dr Ludwik Lazar Zamenhof, seorang dokter mata asal Polandia. Tujuan utama pembuatan Esperanto adalah menjadi bahasa bantu internasional yang netral, mudah dipelajari, serta mampu menjembatani perbedaan budaya tanpa menghapus bahasa ibu masing-masing bangsa. Tata bahasanya tidak memiliki pengecualian sama sekali. Setiap huruf hanya memiliki satu bunyi, sehingga ditulis sesuai dengan cara diucapkan. Akar katanya diambil dari bahasa-bahasa Eropa, terutama rumpun Roman, Jermanik, dan Slavia. Menggunakan prefiks dan sufiks yang logis untuk mengubah arti kata dasar secara instan. Bahasa Esperanto menggunakan penanda akhir kata yang konsisten untuk menunjukkan kelas kata:Kata benda selalu diakhiri huruf -o (contoh: amiko = teman). Kata sifat selalu diakhiri huruf -a (contoh: amika = ramah). Kata kerja bentuk sekarang diakhiri -as (contoh: lumas = bersinar). Beberapa contoh frasa dasar sehari-hari: Saluton! = Halo! Dankon. = Terima kasih. Kiel vi fartas? = Bagaimana kabarmu? Mi estas indoneziano. = Saya adalah orang Indonesia. Meskipun belum berhasil menjadi bahasa resmi global, Esperanto tetap hidup sebagai bahasa yang aktif digunakan oleh komunitas internasional (AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah nasib bahasa Esperanto, Bahasa Indonesia bahasa pemersatu dunia? Seperti disebut di atas, diantara bahasa-bahasa dunia terdapat bahasa Esperanto, bahasa yang dibuat baru yang diduga dibuat untuk mengedepankan satu bahasa sebelum bahasa Inggris menyebar di seluruh muka bumi. Bahasa Esperanto ini muncul setelah keberadaan Bahasa Indonesia (yang masih disebut bahasa Melayu) eksis. Ke depan, apakah bahasa Inggris bertahan selamanya? Bagaimana dengan Bahasa Indonesia? Lalu bagaimana sejarah nasib bahasa Esperanto, Bahasa Indonesia bahasa pemersatu dunia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Sejarah Catur di Indonesia

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah. 

Nasib Bahasa Esperanto, Bahasa Indonesia Bahasa Pemersatu Dunia; Apa Bahasa Inggris Bertahan Selamanya?

Apa itu Esperanto? Yang jelas mudah dieja dan mudah diucapkan (sesuai fonetiknya saja): e-s-p-e-r-a-n-t-o. Nama suatu bahasa baru yang diciptakan. Lantas mengapa nama itu yang dipilih untuk suatu nama bahasa baru? 


Nama Esperanto, yang paling mirip dengannya adalah nama kapal Esperance (lihat Rotterdamse courant, 03-05-1800). Nama Esperance sebagai nama kapal juga ada di perairan Indonesia (lihat Bataviasche courant, 06-12-1823). Esperanza sebagai nama orang/tempat di Spanyol (lihat Bredasche courant, 27-08-1836). Esperanza yang berarti "harapan" dalam bahasa Spanyol. Nama kapal Esperanza tampaknya terdapat di banyak tempat/pelabuhan. Nama koffe-onderueiuing Esperanza di Sumatra (lihat Sumatra-courant : nieuws- en advertentieblad, 09-08-1884). Juga pernah ada nama klub sepak bola di kota Como tempo doeloe FC Esperia. Tidak pernah terinformasikan sebutan/nama “esperanto”. 

Pada tahun 1887 terinformasikan Esperanto sebagai nama orang, Dr Esperanto. Doktor tersebut telah menciptakan bahasa internasional baru berdasarkan "Kuryer Warszawski" dan akan segera menerbitkan risalah yang membahas seluruh kurikulum bahasa baru ini secara detail. 


Rotterdamsch nieuwsblad, 01-09-1887: ‘Tidak ada lagi Volapuk! Seorang Dr Esperanto telah menciptakan bahasa internasional baru berdasarkan "Kuryer Warszawski" dan akan segera menerbitkan risalah yang membahas seluruh kurikulum bahasa baru ini secara detail. Penemu tersebut menjamin bahwa seseorang dapat menemukan rahasia bahasa ini dalam waktu paling lama satu jam dan dapat dipahami dengan jelas dengan bantuan panduan ini. Lebih lanjut, penulis menyatakan bahwa setiap orang, bahkan tanpa pemahaman tentang bahasa yang menakjubkan ini, masih mampu memahaminya melalui kamus yang hanya terdiri dari satu daftar tetapi tetap memuat seluruh kosakata bahasa yang menjanjikan ini. Seandainya orang itu tidak memiliki nama yang menjanjikan, kita tidak akan mempercayainya sama sekali; namun, sekarang kita hanya akan menunggu peristiwa yang akan datang, dengan keyakinan penuh bahwa orang itu tidak akan mengkhianati namanya’. 

Nama Dr Esperanto diduga adalah nama samaran. Disebutkan Dr Esperanto akan menulis panduan bahasa Esperanto dalam bahasa Polandia (lihat Het nieuws van den dag: kleine courant, 05-09-1887). Apakah dalam hal ini Dr Esperanto adalah orang Polandia? Lalu apakah nama/sebutan Esperanto berasal dari nama/sebutan Esperanza atau Esperance? Satu yang jelas, bagaimana bahasa ciptaan Dr Esperanto semakin terinformasikan. Bahasa Esperanto menjadi pesaing utama bahasa (ciptaan) Volapuk.


Arnhemsche courant, 26-03-1889: ‘Aneka ragam. Volapük. XVI. Pada akhir Oktober tahun lalu, sebuah pameran berbagai barang yang berkaitan dengan bahasa artistik Schleyer diadakan oleh Vereniging (perhimpunan) Volapük di Leipzig. Pameran ini mencakup, antara lain, 250 buku dalam berbagai bahasa yang mendukung dan menentang Volapük dan sistem bahasa dunia lainnya, 26 lembar Volapük berbeda dari Jerman, Denmark, Belgia, Belanda, Italia, Austria, Prancis, Swedia, Swiss, Inggris, Spanyol, Tiongkok, Jepang, dan Amerika, sekitar 500 karya cetak lainnya, seperti buku teks, lagu, cerita, ijazah, anggaran dasar berbagai asosiasi, dll., sekitar 100 surat kabar harian dalam berbagai bahasa (termasuk Arnhemsche Courant) yang berisi artikel dalam atau tentang Volapük, dan akhirnya, koleksi tidak kurang dari 2.000 surat dan kartu pos dari seluruh penjuru dunia, termasuk Asia, Afrika, dan Australia, yang ditulis dalam Volapük. Pameran ini dibuka selama tiga hari, dari tanggal 29 hingga 31 Oktober, dan dikunjungi oleh banyak orang yang tertarik, termasuk 300 orang pada hari pertama.—Disunting oleh Lord Karl Lentreto, Leipzig, dengan kolaborasi Mr J Lott van Weenen, Dr FW Fricke van Wiesbaden, Dr Th Baker dari New York dan A Reyen dari Nantes, dua edisi pertama dari jurnal internasional baru telah terbit, yang bertujuan untuk membahas pertanyaan tentang "bahasa dunia" secara umum dan ilmiah. Jurnal ini bernama Interpretor, dan akan terbit sebulan sekali. Semua artikel dicetak berdampingan dalam tiga bahasa (Inggris, Jerman, dan Prancis). Para editor—menurut pernyataan mereka—mengambil sudut pandang umum: mereka adalah pendukung gagasan bahasa buatan universal, tanpa menganggap volapük sebagai solusi terbaik untuk masalah tersebut. Bahkan cukup jelas bahwa mereka berpendapat bahwa dalam banyak hal persyaratan yang seharusnya dipenuhi oleh "bahasa dunia" belum terpenuhi; Lalu, apa yang “sebenarnya” mereka inginkan terbukti dari "sketsa sistem alami bahasa dunia", dimana jumlah rencana telah ditambah satu lagi. Meskipun nilai atau ketidakberhargaannya suatu sistem tidak dapat dinilai dari beberapa baris, semoga contoh kecil dari bahasa dunia "alami" yang baru tetap dapat menemukan tempat di sini.— II raiz tu Amerik. A. Mi te hoer, das yu intend tu gö tu Amerik. B. Nun, dan si mus av in il foarst plas il burs wel garn'ed mit geld , du yu not denk so? A. No, mi te not wil sê sa , ü ken ov ï relatsión ov diz land e ov il ingl'ish spik ri bï ov mör yuz dhan geld (Perjalanan ke Amerika. A. Saya dengar Anda berencana pergi ke Amerika, B. Nah, kalau begitu, pertama-tama seseorang harus mengisi dompetnya dengan uang, bukankah begitu juga menurut Anda? A. Tidak, saya tidak bermaksud mengatakan itu, pengetahuan tentang hubungan negara ini dan bahasa Inggris akan lebih berguna daripada uang. Menurut saya, upaya ini dapat disebut jauh kurang berhasil daripada Volapük. Banyaknya tanda di atas vokal, huruf e terbalik (8) dan kata-kata yang dipisahkan menjadi dua oleh apostrof membuat bahasa Tuan Lott sangat tidak menyenangkan untuk dilihat dan sulit digunakan. Bahasa 'dunia' baru lainnya adalah Mundolinco, yang diciptakan oleh Tuan J Braakman di Hillegom. Dia telah mulai menerbitkan majalah bulanan untuk mempromosikan bahasa tersebut, yang berjudul Miso tempo (Zaman Kita). Berikut adalah contoh dari sebuah fabel berjudul: Resse incredentsjone (Sesuatu yang luar biasa). Esses passadore un mese superbe nobilisto ci se opinos, ce il item bone et item genere esses sicute el regino ; il ecsvehes non tempe altre ca en un pilento ccn cvarto cavali.... Dia adalah seorang Helmand yang sangat bangga, yang membayangkan dirinya sama hebat dan terhormatnya dengan raja; Dia tidak pernah berkendara selain dengan kereta "dengan empat kuda dari.... dll." (Harga majalah bulanan Miso tempo f1 per tahun.) Di antara "bahasa-bahasa dunia", yang menurut saya saat ini kita miliki sekitar sepuluh, Volapük hingga saat ini telah menemukan perluasan dan penerapan terbesar; namun ada juga cukup banyak korespondensi dalam Lingvo internacia dari Dr Esperanto anonim, atau lebih tepatnya nama samaran, di Warsawa, dan tampaknya bagi saya ini saat ini adalah satu-satunya pesaing serius Volapük. Sebagai contoh, di sini saya berikan pembukaan surat yang saya terima beberapa hari yang lalu dari A Grabowski di Moskow. Estimata sigonoro! Kvankam tute ne konata de vi, mi prenis al mi la liberecon skribi karton leteran en lingvo internacia, kaj ricevis vian amindan respondon, dan kiu vi donas al mi la permeson korespondadi kun vi pri la lingvo esperanta. (Tuan yang Terhormat! Meskipun sama sekali tidak Anda ketahui, saya telah mengambil kebebasan untuk menulis kartu pos kepada Anda dalam bahasa internasional, dan telah menerima balasan baik dari Anda, yang mana Anda memberi saya izin untuk
(Untuk berkomunikasi dengan Anda mengenai bahasa Esperanto).—Pemberitahuan kecil. Perusahaan Daniel Pellereau et Cie di La Rochelle telah memutuskan untuk menerbitkan surat edarannya dalam bahasa Prancis, Inggris, dan Volapük. Di Sekolah Komersial di Bucharest, kursus Volapük dengan 80 siswa telah dibuka oleh Licherdopol. Sebuah dekrit dari Menteri Pendidikan di Italia berisi otorisasi untuk membuka kursus publik Volapük di Institut Teknik Kerajaan di Turin. Dalam majalah bulanan yang diedit oleh Dr JE Weiss di Munchen, dalam "Volapükan nolik e nepaletik", sebuah artikel oleh Dr TC Winkler muncul, di mana ia mendesak para naturalis untuk menggunakan Volapük dalam deskripsi tumbuhan dan hewan mereka: sebagai contoh, ia memberikan deskripsi spesies ikan fosil yang ditemukan di Württemberg (Pachycormus Westermani, Winkler). Dua jurnal Volapük baru patut disebutkan, yaitu, 1. Volabled, timapenad valemik ko spods se voladils valik. Ed. AC Foulques di Naples, dan 2. Volapük, Ed. HV Lund di Copenhagen. Bapak R. Mehmke di Darmstadt terus menyediakan risalah matematika dalam bahasa Volapük. Jumlah pitidel Volapük, menurut edisi April Volapükabled, cukup banyak. thana hingga 237, sedangkan pasang surut naik tepat menjadi 1000. Dalam entri terakhir para lulusan, berikut ini muncul dari Belanda: No. 940 A Hoppen di Heino; no. 948 W. Kooiman di ZuidScharwoude; no. 967 A Hendriks di Dreumel; no. 976 JG Funkler di Haarlem. Sisanya didistribusikan di antara Jerman, Swiss, Italia, Prancis, Denmark, Inggris, Austria, Spanyol, Rumania, Bosnia, Rusia, California, Texas, dan Amerika Serikat bagian Utara. Dalam Volapükabled Dana (yang diedit oleh E Enna dan W Hansen di Kopenhagen), muncul potret Yeh Yü-lin, Editor majalah bahasa dunia Tionghoa "Van kuo t'ung hua". "tzu tien", yang telah disebutkan oleh dalam artikel sebelumnya. Ternyata ia adalah seorang pemuda berusia sekitar 30 tahun. Siapa pun yang ingin berkesempatan berkorespondensi dengan orang Tionghoa dalam bahasa volapük dapat menulis surat ke alamat: Söle Yeh Yü-lin, Customhouse, Amoy, China. Namun, Yü-lin hanya membalas kartu pos dengan balasan berbayar, “bi nevilom pelön potadelidis; klu ogepukom te potakadis ko gepük ya pepelöl".—Panggilan. Klub Volapiikaklub Flentik sekali lagi akan memberikan kesempatan tahun ini untuk mendapatkan diploma volapüka Spodal melalui ujian. Kesempatan untuk mengikuti ujian ini juga akan diberikan di Arnhem, tepatnya pada tanggal 14 April. Ujian ini sepenuhnya tertulis dan berlangsung paling lama 3 jam. Ujian ini terdiri dari terjemahan dari bahasa ibu ke bahasa Volapük dan sebaliknya, serta penulisan surat dalam bahasa Volapük. Penggunaan tata bahasa dan kamus diperbolehkan. Mereka yang ingin mengikuti ujian diundang untuk menghubungi R Kerkhoven di Lochem, atau saya yang bertanda tangan di bawah ini. Dr H van de Stadt, Volapük. Arnhem, 18 Maret 1889’. Sampul buku Esperanto-Belanda (1901)

Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang menyebabkan munculnya berbagai bahasa ciptaan seperti bahasa Volapuk dan bahasa Esperanto? Nama Dr Esperanto kemudian diketahui nama aslinya adalah Dr Zamenhof (lihat Het nieuws van den dag: kleine courant, 08-07-1894). 


Het nieuws van den dag: kleine courant, 08-07-1894: ‘Pendapat (pangeran) Tolstoi tentang bahasa dunia. Surat kabar mingguan Rusia, Nedelja, pada tanggal 12 Juni lalu menerbitkan surat dari Pengeran Tolstoy, di mana ia mengungkapkan pendapatnya mengenai pentingnya penggunaan bahasa dunia bagi umat manusia. Sebelum menerbitkan surat tersebut, surat kabar itu membahas beberapa refleksi tentang kebutuhan akan bahasa internasional dan cara-cara yang telah digunakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut hingga saat ini. Meskipun bahasa Yunani telah menjadi sarana pertukaran ide antar bangsa beradab pada masa itu sejak zaman Alexander Agung, pada awal era Kristen bahasa tersebut digantikan oleh bahasa Latin, yang masih banyak digunakan hingga saat ini, 15 abad setelah punahnya bangsa Bohemia. Namun, bahasa Latin tidak lagi mampu beradaptasi dengan tuntutan kehidupan modern, dan pada abad terakhir muncul bahasa-bahasa dunia: bahasa Prancis untuk diplomasi, bahasa Jerman Tinggi untuk sains, bahasa Inggris untuk perdagangan, dan bahasa Italia untuk musik. Akibatnya, kita memiliki sejumlah bahasa dunia, yang mempelajarinya membutuhkan banyak waktu dan usaha. Pertanyaan tentang satu bahasa dunia telah menarik perhatian Descartes dan Leibniz, dan kemudian, di Rusland, Dr HM Glybokowski dan Baranowski. Namun, solusi yang memuaskan belum tercapai. Di zaman kita, dua bahasa dunia baru muncul: Volapuk dan Esperanto. Pada tahun 1879, pendeta RK bernama Schleier, yang telah menguasai lebih dari 50 bahasa, menerbitkan tata bahasa dan kamus berdasarkan bahasa dunia yang ia ciptakan: Volapuk. Bahasa ini segera mendapatkan banyak pengikut dan menyebar ke beberapa negara. Namun, kompleksitasnya dan banyak ketidaksempurnaan dalam tata bahasa dan kamus tidak kondusif untuk penyebarannya secara luas. Pada tahun 1887, brosur pertama tentang bahasa dunia baru muncul: Esperanto. Penemunya adalah dokter Rusia, Zamenhof. Ia menerbitkan brosur ini dengan nama samaran: Esperanto (the hopeful), dan bahasa baru tersebut mendapatkan namanya dari situ. Akar kata dalam Esperanto dipinjam dari berbagai bahasa Eropa. Tata bahasanya sangat sederhana dan tidak lebih dari empat halaman. Seluruh studi bahasa ini terdiri dari mempelajari tata bahasa tersebut dan sekitar 900 kata dasar. Esperanto bernada merdu dan lembut, mengingatkan pada bahasa Italia. Bahasa ini telah digunakan oleh 17 kelompok etnis yang berbeda. Karya-karya berbagai penulis Eropa telah diterjemahkan ke dalam Esperanto, sementara karya-karya asli juga telah ditulis dalam bahasa tersebut. Sejak tahun 1889, sebuah majalah bernama Esperantistos telah terbit di Jerman dan St Petersburg. Di ibu kota dan beberapa kota lain di pesisir, terdapat perkumpulan untuk mempelajari Esperanto. Bahasa ini juga dipraktikkan di bagian lain dunia, tetapi secara umum, jumlah penggunanya belum sebesar yang dibutuhkan oleh tujuannya. Tidak ada alasan untuk meragukan masa depannya, tetapi masa depanlah yang akan menunjukkan sejauh mana bahasa ini mampu memenuhi tujuannya. Surat Tolstoy kepada salah satu perkumpulan yang disebutkan di atas berbunyi sebagai berikut: 'Tuan-tuan yang Terhormat! Saya telah menerima surat Anda, dan saya ingin berusaha untuk memenuhi permintaan Anda sebaik mungkin, yaitu untuk menyampaikan pendapat saya mengenai konsep bahasa universal dan internasional dan sejauh mana Esperanto sesuai dengan konsep tersebut. Bahwa umat manusia harus menjadi satu kawanan di bawah satu gembala dalam hal intelektual dan kasih sayang, dan bahwa untuk tujuan ini, yang terpenting adalah orang-orang saling memahami, tidak diragukan lagi. Namun, jika orang-orang ingin saling memahami, maka hal berikut diperlukan: ​​baik semua bahasa menyatu menjadi satu bahasa (sesuatu yang, jika memungkinkan, hanya dapat terjadi setelah waktu yang sangat lama); atau pengetahuan tentang berbagai bahasa begitu luas sehingga tidak hanya karya yang ditulis dalam bahasa apa pun dapat diterjemahkan ke bahasa lain, tetapi juga memungkinkan setiap orang, dari bangsa mana pun mereka berasal, untuk menjalin hubungan dengan seseorang dari bangsa lain; atau bahwa salah satu bahasa dipilih dari semua bahasa, yang studinya wajib bagi semua bangsa; atau bahwa, seperti yang dibayangkan oleh para Volapukuist, berbagai bangsa mempraktikkan bahasa internasional, yang sengaja diciptakan untuk tujuan itu. Para Esperantis juga menginginkan pilihan yang terakhir ini, dan menurut saya ini juga yang paling masuk akal dan sederhana. Dengan ini, saya telah menjawab pertanyaan pertama. Pertanyaan kedua: sejauh mana Esperanto memenuhi persyaratan sebagai bahasa dunia, saya, sebagai hakim yang tidak berkualifikasi dalam hal ini, tidak dapat menjawab dengan pasti. Saya hanya tahu ini: bahwa Volapuk tampak sangat kompleks, sedangkan Esperanto, di sisi lain, tampak sangat sederhana, yang harus diakui oleh setiap orang Eropa kepada saya. (sebagai bahasa dunia dalam arti sebenarnya, yaitu yang juga mencakup orang Cina, orang Afrika, dan lain-lain, dalam lingkarannya, kita membutuhkan bahasa lain — tetapi bagi orang Eropa, Esperanto sangat mudah). Ketika, enam tahun yang lalu, saya menerima buku tata bahasa, kamus, dan beberapa esai dalam bahasa Esperanto, setelah beberapa jam belajar saya mampu, jika bukan untuk menulis, setidaknya untuk membaca bahasa itu. Bagaimanapun, upaya yang diperlukan untuk mempelajari bahasa ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan keuntungan yang sangat besar yang menyatukan orang-orang Eropa dan Amerika, sehingga orang-orang Kristen, sehingga kita hampir tidak dapat menahan diri untuk mengujinya. Menurut saya, mempelajari bahasa yang menyatukan sebanyak mungkin orang adalah pekerjaan Kristen yang sangat baik. Saya sering melihat bagaimana orang-orang saling bertentangan, tidak dapat saling memahami hanya karena hambatan mekanis. Oleh karena itu, mempelajari Esperanto dan menyebarkan bahasa tersebut adalah karya Kristen, yang sesuai untuk perluasan Kerajaan Allah di bumi. Dan perluasan itu adalah tujuan utama, bahkan satu-satunya, tujuan hidup manusia. L Tolstoi’. 

Bahasa Esperanto yang dapat dikatakan sebagai suksesi bahasa Volapuk telah menyita perhatian internasional. Bahasa Latin di zaman modern telah lahir. Sebagaimana diketahui selama ini bahasa-bahasa modern telah mengerucut bahasa Prancis untuk diplomasi, bahasa Jerman Tinggi untuk sains, bahasa Inggris untuk perdagangan, dan bahasa Italia untuk musik. Kebutuhan terhadap satu bahasa, bahasa yang universal menjadi sangat strategis. 


Het nieuws van den dag: kleine courant, 16-05-1895: ‘Telah disampaikan. Bahasa dunia "Esperanto". Laporan singkat yang Anda publikasikan di surat kabar Anda pada tanggal 1 April mengenai bahasa dunia Esperanto telah mendorong Klinkenberg untuk membagikan temuannya mengenai pembelajaran bahasa tersebut kepada para pembaca Het Nieuws. Bapak Editor! Saya senang menemukan sekutu dalam diri Klinkenberg. Dalam tulisannya, beliau tidak hanya menunjukkan bahwa beliau dengan penuh cinta mengabdikan diri pada praktik bahasa tersebut, tetapi beliau juga mendorong orang lain untuk menguasainya dan berharap agar "Esperanto" menjadi bahasa dunia. Komentar penulis terhormat tersebut hanya menyangkut waktu yang dibutuhkan untuk mempelajarinya, yaitu: untuk menguasainya secara menyeluruh. Penulis pasti akan setuju dengan saya bahwa seseorang dengan akal sehat, tanpa guru, dapat menerjemahkan dari dan ke Esperanto dalam waktu dua jam—dengan bantuan daftar kosakata yang sangat terbatas. Tentu saja, yang saya maksud adalah mereka yang mengetahui salah satu bahasa baru yang digunakan dalam buku teks Esperanto. Buku teks ini sudah ada dalam 17 bahasa berbeda, termasuk, tentu saja, edisi Prancis, Jerman, dan Inggris. Belum ada edisi dalam bahasa kita. Saya diberi tugas terhormat melalui surat tertanggal 2 April 2011 untuk mengatur adaptasi bahasa Belanda, tetapi saya belum menerimanya untuk saat ini, terutama karena saya percaya bahwa mereka yang baru pertama kali mempelajari ini akan memiliki kemampuan berbahasa Jerman yang cukup untuk memanfaatkan Lehrbuch karya Dr Zamenhof, yang juga dapat saya rekomendasikan tanpa ragu-ragu. Seperti yang telah saya katakan: Saya sangat yakin bahwa Klinkenberg akan sepenuhnya setuju dengan saya bahwa seseorang dapat menulis dalam bahasa itu dalam 2 jam — tanpa guru. Namun, mengenai penguasaan bahasa tersebut, sehingga seseorang dapat mengekspresikan diri di dalamnya tanpa bantuan kamus, saya dengan mudah mengakui kepada penulis terhormat bahwa dibutuhkan lebih banyak waktu untuk ini, meskipun saya tidak sampai menuntut dua minggu untuk itu. Tetapi, bahkan dengan mengakui bahwa itu membutuhkan waktu dua minggu, bukankah itu merupakan kepuasan yang besar ketika, setelah waktu yang singkat, seseorang mengetahui bahasa yang dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan praktisi lain yang tersebar di seluruh dunia; dan di antara para praktisi tersebut terdapat orang-orang yang sangat terkenal dan berpengaruh: profesor di setiap fakultas, rektor dan guru di gimnasium, dokter, pengacara, editor jurnal-jurnal besar, seniman, dll., dan jumlah mereka, menurut daftar resmi kami pada tanggal 15 Januari, telah meningkat menjadi 3.000 pada saat itu. Esperanto, saya menggemakan pernyataan Dr Zamenhof dengan penuh keyakinan: adalah bahasa yang sangat merdu dan sama cocoknya untuk sains dan perdagangan seperti halnya untuk puisi. Jurnal Aurora do Cavado, yang diterbitkan di Lisbon, berisi surat-surat dari Tolstoy, Max Müller, dan Phillips mengenai bahasa tersebut, dan saya berharap segera dapat menawarkan kepada pembaca jurnal ini kesempatan untuk mempelajari pendapat para tokoh tersebut mengenai masalah ini, dan siapa pun yang mengetahui arti nama-nama tersebut dalam bidang bahasa pasti akan yakin akan pentingnya bahasa tersebut. Untuk memberikan penilaian kepada pembaca tulisan ini mengenai kemerduan bahasa tersebut, saya lampirkan catatan singkat dari Dr Zamenhof, yang sengaja tidak saya terjemahkan, serta beberapa baris dari salah satu edisi terakhir majalah kami. Estas al mi tre agrable vidi, ke la lingvo Esperantokomencas nun vastigi ankau an via lando. Ali esperas ke en la internaoia af er o al kin aligis jam tre multa da landoj, ankau Holandujo baldau okupoa ne lastan lokon.—Kun estimo kaj Saluto. Aphorismoy. Multaj bonaj amikoj estas eimilaj al ombro, kiu montras sm nur en luma loko. L'Honio ne estas kreita por plezuro, kaj taal lia okulo ploras, kiam lia koro ridas. Terima kasih banyak kepada atas rekaman daza regah", Yang Mulia Jac. M. Vaz Dias. 

Lalu mengapa orang Belanda lambat bereaksi terhadap bahasa ciptaan baru Esperanto? Disebutkan buku teks Esperanto sudah ada dalam 17 bahasa berbeda, termasuk, tentu saja, edisi Prancis, Jerman, dan Inggris, namun belum ada edisi dalam bahasa Belanda. Sementara itu bahasa Volapuk adalah bahasa semesta alam (puk=bahasa dan vol=alam semesta). Kongres Volapuk sendiri telah diadakan pada tahun 1889 di Paris. Tiga belas negara diwakili. Dan, kini bagaimana dengan bahasa Esperanto? Apa arti terminologi Esperanto? Apakah nama kapal penjelajah semua lautan? Yang jelas bahasa Esperanto memasuki dunia, menyebar dengan cepat. Usianya yang baru delapan tahun saja dan sudah ada praktisi di Rusia, Jerman, Inggris, Swedia dan Norwegia, Italia, Spanyol, Amerika, Afrika, dan bahkan Prancis. 


Leeuwarder courant, 14-12-1895: ‘Gaung. CLXXII. Tidak ada yang baru di bawah matahari — setidaknya, begitulah klaim Jan dan Alleman. Saya menulis Alleman dengan huruf kapital; saya tidak tahu apakah itu benar, tetapi saya menghormatinya, karena dia tahu banyak dan mengklaim tidak kurang dari itu. Jadi dia dan Jan mengatakan bahwa tidak ada yang baru di bawah matahari, dan mereka mungkin mengetahuinya. Tetapi jika tidak ada yang baru di bawah matahari, maka tidak ada juga yang lama atau, lebih tepatnya, usang di sisi matahari tempat bumi berada. Karena jika yang baru selalu "sudah ada", maka yang lama hidup kembali berulang kali dalam yang baru. Dan karena itu yang lama tidak usang. Apakah saya benar atau tidak? Tidak ada yang baru di bawah matahari! Betapa merendahkannya hal itu bagi semua penemu yang berpikir bahwa mereka membawa sesuatu yang baru bagi umat manusia! Betapa menyedihkannya hal itu bagi b. v. den uitvinder vaa do Esperanto'. Esperanto. Nama yang mulia, yang bunyinya menyiratkan lamunan, istana di udara, pandangan yang tertuju ke langit. Saya bahkan tidak berbicara tentang arti nama itu. Dengan bantuan beberapa bahasa Romawi, orang langsung memahaminya. Ada sesuatu yang penuh harapan di dalamnya, dan itu cukup ditunjukkan hanya oleh bunyinya saja. Cukup ucapkan kata itu dengan lembut: huruf s dan p yang bersebelahan di antara dua vokal memaksa Anda, suka atau tidak, untuk mengucapkan suku kata pertama setengah detik lebih lambat daripada suku kata berikutnya: Anda sudah menatap masa depan; batu pertama istana di udara Anda telah diletakkan. Di sini terbaring seorang penjahit dengan rambut cokelat kemerahan di peti matinya; Anda tidak akan menebaknya semudah itu jika Anda tidak tahu, kata Kepala Sekolah, saat ia menceritakan beberapa epitaf dari penemuannya. Dan begitu pula dengan Esperanto. Jika seseorang tidak tahu apa itu, ia tidak akan menebaknya semudah itu. Ada orang yang percaya bahwa itu adalah minuman meja baru, yang dimaksudkan untuk menggantikan anggur, seperti Amplosia. Yang lain melihatnya sebagai kafe chantant baru di sebuah kota metropolitan, tetapi ada juga yang langsung membayangkannya sebagai perusahaan asuransi jiwa, surat kabar, atau kapal uap. Tetapi kami, para ahli, yang tahu sebanyak kami berdua, kami para jurnalis, menyatakan secara singkat dan ringkas bahwa Esperanto adalah... bahasa dunia baru. Ya, memang, bahasa dunia baru; bahasa yang akan dikenal dan ditulis, jika tidak diucapkan, oleh semua anak umat manusia, orang Lapp dan Zoulous, orang Alaska dan Patagonia, dan semua yang hidup di antara mereka. “Akrab!” Anda akan berkata, “tidak ada yang baru di bawah matahari! Sama seperti Volapük!”. Tepat, kurang lebih seperti itu. Tetapi mengenai Volapük; bagaimana keadaan sebenarnya mengenai hal itu? Apakah bahasa itu telah memenuhi tugasnya untuk menjadi puk (bahasa) dari vol (alam semesta)? Sekitar sepuluh tahun yang lalu, segala sesuatunya berkembang sedemikian rupa sehingga kami sudah membayangkan sebuah jabatan profesor untuk Volapük akan didirikan, yang anggarannya akan dimasukkan dalam anggaran Parlemen dengan persetujuan umum. Namun, hal itu tidak terjadi; untuk membalas dendam, beberapa Anggota Parlemen saat ini dengan keras menentang "penciptaan" seorang profesor arkeologi dengan dalih bahwa orang tersebut harus sangat berilmu sehingga tidak ada batasannya. Seolah-olah keilmuan seorang profesor bahasa dunia akan memiliki batasan! Sekarang, sekitar sepuluh tahun yang lalu, orang tidak dapat membuka surat kabar—untungnya saat itu tidak sebanyak sekarang—tanpa membaca tentang para volapist binaan; saya percaya mereka disebut volapistidels. Terkadang seorang gadis muda, terkadang seorang pria tua, dan satu demi satu menerima sertifikat volapist ulung dari pendeta Schleier yang baik. Di jalan-jalan besar Paris, trik tata bahasa ringkas dijual seharga sepuluh sen dengan suara serak yang kasar, yang tentu saja membuktikan bahwa para penjualnya bukanlah pedagang kaki lima, oleh para pedagang kaki lima yang berjalan-jalan. Et moi aussi, j'y allais de mes deux sous, —Aku mengorbankan sepuluh senku, pembelian termurah yang pernah kulakukan dalam hidupku. "Satu bahasa yang ditambahkan adalah satu negara yang ditambahkan", kata orang-orang yang rendah hati; Orang-orang yang tidak rendah hati berkata: "Satu bahasa tambahan adalah satu nyawa tambahan". Dan aku membeli bahasa dunia seharga sepuluh sen! Atau lebih tepatnya, bahasa dunia, seluruh dunia: berapa banyak negara, berapa banyak nyawa untuk uang tembaga yang kikuk itu! Namun, sesaat kemudian, aku duduk dengan sangat rendah hati di rak atap trem, seolah-olah aku adalah manusia biasa....Perjalanan itu panjang: jalur Montrouge—Gare du l'Est. Kami hampir tidak sampai di Boulevard Sevastopol ketika aku selesai mempelajari tata bahasa. Ketika aku tiba di tujuan, semuanya masih terngiang di kepalaku. Betapa mudahnya, bahasa semua orang. Dua puluh enam huruf, yang terdiri dari 8 vokal dan 18 konsonan; itu sebenarnya bagian tersulit dari tata bahasa. Tapi kemudian: Tekanan: selalu pada suku kata terakhir. Jenis kelamin: selalu maskulin, kecuali untuk wanita dan makhluk perempuan lainnya. Jumlah: bentuk jamak selalu berakhiran s. Kasus: yang pertama: kata itu sendiri; dan kemudian kata itu dengan a, e, dan i setelahnya: yang kedua, ketiga, dan keempat. Ini untuk bentuk tunggal. Dan karena bentuk jamak dibentuk dengan cukup sederhana oleh s, dalam kasus kedua, ketiga, dan keempat, a, e, dan i berada di antara kata dan s dari bentuk jamak. Semuanya sesederhana itu. Dengan sedikit belajar untuk mencari kata-kata, selesai. Karena sangat mudah, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan studi, karena saya berpikir, jika sampai pada titik di mana seseorang tidak lagi dapat memesan steak di restoran atau tiket kereta api di stasiun tanpa volapük, saya akan menguasainya dalam sekejap dan terus menggunakan volapük, sekuat tenaga. Kemudian, pada tahun '89, Kongres Volapuk bertemu di Paris. Tiga belas negara diwakili. Saya pergi untuk melihat, dan semua pria berdebat satu sama lain dengan sangat gembira—bagi mereka sendiri, tetapi saya tidak mengerti apa pun. Itu adalah bahasa Volapük, dan mengalir dengan lancar, dan terkadang mengingatkan saya pada bahasa Tartarin Tarascon; itu berasal dari semua vokal, dan terkadang juga dari bahasa-bahasa Skandinavia karena seringnya muncul bunyi ö- (eu) dan o-. Namun, tampaknya bagi saya bahwa bahkan saat itu ada sedikit perbedaan dalam pengucapan berbagai pria, tetapi saya tidak tinggal lama di sana, karena saat itu adalah hitatim (musim panas) atau hita (panas) tim (cuaca). Dan sekarang Anda langsung melihat bahwa kata sifat datang sebelum kata benda. Ketika saya berjalan-jalan lagi di Champs-Élysées dan merenungkan apa yang telah saya dengar dan lihat, saya tidak berpikir bahwa bahkan sekarang, enam tahun kemudian, orang akan bertanya apa yang telah terjadi pada Volapük, apakah masih dipraktikkan, apakah masih ada atau telah lenyap dari muka bumi, karena, sungguh! keheningan yang menyelimutinya menjadi menakutkan. Memang benar, tidak ada yang baru di bawah matahari. Kebangkitan dan kejatuhan bahasa buatan sebagai bahasa lisan dan tulisan juga telah terjadi. Kita juga pernah mendengarnya di masa lalu. Beberapa bahkan mengklaim bahwa pada abad ketiga di Roma, seorang dokter Yunani menciptakan sesuatu yang serupa. Tetapi yang pasti adalah bahwa pada awal abad ke-15, Pastor Herman Hugo atau Hugon, seorang yang sangat terpelajar, menerbitkan sebuah buku kecil berbahasa Latin di Antwerp di mana ia mencoba menciptakan bahasa universal, sebuah upaya yang kemudian diulangi oleh banyak cendekiawan. Tetapi tampaknya bahasa seperti halnya penyair, yang tidak diciptakan tetapi dilahirkan. Bahasa dunia universal tetap menjadi salah satu keinginan yang tidak terpenuhi. Namun belum lama ini, seorang pria dengan kepercayaan diri yang teguh, Dr Zamenhof, seorang Rusia, datang dan mencoba lagi. Dengan penuh keberanian, ia menerima tugas tersebut dan memberi anak dari pemikirannya nama yang indah, memohon perlindungan, dan menjanjikan: Esperanto. Memang, nama itu dipilih dengan baik. Dengan pengalaman masa lalu, kita harus terus berharap, meskipun peluangnya kecil, untuk sekali lagi memaksa semua bahasa untuk berbisik dalam bahasa yang sama. Begitu Esperanto memasuki dunia, ia menyebar dengan cepat. Usianya baru delapan tahun dan sudah ada praktisi di Rusia, Jerman, Inggris, Swedia dan Norwegia, Italia, Spanyol, Amerika, Afrika, dan bahkan Prancis, di mana, seperti diketahui, dibutuhkan banyak usaha untuk mempelajari bahasa lain. Lagipula, orang bisa melewati dunia dengan bahasa Prancis, seperti kata lagu itu, "tres aimable, tres aimable!" Sekarang, Esperanto jauh lebih mudah daripada bahasa Prancis dengan subjungtif, imperfek, dan passé définisi-nya, belum lagi partisipan sebelum atau sesudah pelengkap langsung, yang merupakan mimpi buruk bagi semua siswa yang juga memikirkan pekerjaan mereka di luar kelas. Oh, jauh lebih mudah! Seseorang mempelajari tata bahasa dalam satu jam dan kosakata dalam beberapa hari, sehingga bahkan lebih cepat daripada bahasa ibu. Penemu bahasa ini bahkan mengklaim bahwa Orientalis terkenal Max Muller menulis Esperanto dengan lancar dan cepat, dan bahwa Tolstoy bahkan menulis cerita dan artikel yang sangat indah dalam Esperantisto, organ resmi bahasa baru ini, yang sama sekali tidak meremehkan sastra. Sebaliknya! Puisi telah ditulis dalam Esperanto dan bahkan terjemahan karya Homer dan Shakespeare. Esperanto — “dia yang berharap” — seperti semua bahasa “umum”, telah mencari akar kata dalam idiom yang paling tersebar luas — Inggris, Prancis, dan Jerman — yang paling sering muncul dan paling sedikit menimbulkan kesulitan. Contoh: Tindakan mencintai ditunjukkan oleh radikal am. Jika Anda ingin membentuk kata benda dengan radikal ini dan mengungkapkan kata cinta, Anda hanya perlu menambahkan o setelahnya; kata Anda jelas: arno = cinta. Atau kata sifat? Ambil sebuah a; ama = mencintai. Atau kata kerja? Tambahkan as setelah radikal dan Anda memiliki bentuk waktu sekarang: amas = Saya mencintai; b, dan Anda memiliki bentuk waktu lampau: amia = memiliki cinta. Tambahkan os untuk kala depan: amos = Aku akan mencintai. Dan selalu perhatikan untuk semua kata kerja: tidak ada kata kerja yang tidak beraturan; semuanya teratur dalam bentuknya yang paling murni. Dan seperti kata kerja, begitu pula sebenarnya semuanya. Semuanya proporsional, dan itu adalah pemikiran yang diberkati. Kesederhanaan adalah yang terpenting dalam komposisi Esperanto. Sangat sedikit aturan dan sama sekali tidak ada pengecualian. Dan poin terakhir ini adalah hak istimewa yang tak ternilai, karena meskipun dikatakan bahwa pengecualian menguatkan pemberontak, hal itu tentu tidak terjadi di benak anak-anak sekolah. Saya dapat berbicara dari pengalaman tentang hal itu. Saya masih teringat hukuman yang saya terima di masa lalu karena dalam bahasa Prancis satu kata adalah 'zus' dan yang lainnya dengan akhiran yang sama persis 'zoó' dalam bentuk jamak. Karena saya berselisih dengan kata-kata yang berakhiran 'al' dan 'ou'. Akankah Esperanto juga memperluas jangkauannya di negara kita dan mendekatkan persaudaraan antar bangsa? Itu mungkin. Namun tak seorang pun perlu heran akan hal ini, sama seperti bahasa ini muncul dan menghilang, seperti upaya Pastor Hugo atau Hugon pada abad ke-17, dan seperti yang mungkin dilakukan oleh Pastor Schleier pada abad ke-17. Tak ada yang baru di bawah matahari, begitulah kata semua orang’. 


Tampaknya Dr Zamenhof belajar dari kesulitan yang dihadapi pengguna dalam bahasa Volapuk. Bahasa Esperanto yang diperkenalkan Dr Zamenhof telah diterima secara masif, bahasa Volapuk mulai ditinggalkan. Dari daftar terbaru disebutkan sebanyak 4.660 pada tanggal 1 Januari 1899 praktisi bahasa Esperanto, sementara jumlah ini telah meningkat menjadi 5.025 praktisi pada tanggal 1 Januari 1900. 


Apeldoornsche courant, 05-06-1900: ‘Sesuatu tentang "Esperanto. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai ahli bahasa telah berupaya menyusun sebuah bahasa dunia. Semua orang masih ingat pesatnya perkembangan "Volapuk" beberapa tahun yang lalu, tetapi perkembangan itu segera mereda, dan saat ini nama "Volapuk" hampir tidak terdengar lagi. Bahasa itu pasti masih memiliki pengguna, tetapi tidak menjadi seperti yang dibayangkan orang semula, dan ini tidak mengherankan. "Volapuk" terlalu kompleks; membutuhkan terlalu banyak latihan dan terlalu banyak waktu untuk menguasai bahasa ini. Betapa berbedanya hal ini dengan "Esperanto". Dikenal oleh sangat sedikit orang di Belanda, bahasa ini sudah memiliki ribuan pengguna, terutama di Eropa Timur dan Asia Utara. Beberapa hari yang lalu, penulis tulisan ini menerima dari penemu Dr Zamenhof di Warsawa, Polandia, daftar ke-20 nama praktisi "Esperanto," yang berjudul "Adresaro de la Esperantisto", dari daftar tersebut terlihat bahwa jumlah praktisi mencapai 4.660 pada tanggal 1 Januari 1899, sementara jumlah ini telah meningkat menjadi 5.025 pada tanggal 1 Januari 1900. Seperti yang ditunjukkan daftar tersebut, para praktisi ini ditemukan di Rusia, Bulgaria, Turki, Siberia, Austria, Hongaria, Jerman, Swiss, Prancis, Spanyol, Belgia, Belanda, dan lebih jauh lagi di Amerika Utara dan Selatan. Semua orang akan memahami betapa pentingnya daftar nama seperti itu, terutama untuk perdagangan; seorang praktisi dari Belanda, yang tidak tahu sepatah kata pun bahasa Rusia, dapat berkomunikasi dalam "Esperanto" dengan seorang Rusia dari jantung Siberia, yang tidak mengerti satu huruf pun bahasa kita, atau dengan seorang Spanyol atau dengan seorang Bulgaria atau dengan seorang Turki. Pengenalan bahasa dunia yang sangat sederhana dan mudah dipelajari, seperti "Esperanto" yang memungkinkan orang-orang dari berbagai negara dan kebangsaan dapat berkomunikasi satu sama lain baik secara lisan maupun tulisan, dan memungkinkan penulisan buku yang menarik bagi semua orang, merupakan hal yang sangat penting. Dr Zamenhof mengungkapkan hal ini dengan sangat indah dalam baris-baris berikut: Sur neutrala lingva fundamento, Komprenante unu la alian, La popoloj faros en konsento Unu grandan rondon familian. Yang berarti: "Di atas dasar bahasa dunia yang netral, orang memahami orang lain dan bangsa-bangsa, yang terikat oleh persatuan, akan menjadi satu keluarga besar". "Bahasa Esperanto" ini diperkenalkan oleh Dr Zamenhof pada tahun 1887 dan, karena kesederhanaannya, segera mendapatkan banyak pengikut dan sekarang telah memiliki literatur lebih dari 100 karya, di antaranya Iliad karya Homer, karya-karya Shakespeare, Byron, dan Goethe. Esperanto sangat mudah dan tata bahasanya sangat sederhana dan singkat, serta disusun sedemikian rupa sehingga siapa pun dapat membentuk sejumlah besar kata sesuai dengan aturan tetap, sehingga tidak perlu dipelajari, akibatnya kamus kecil hanya berisi 25 halaman, dalam format cetak kecil. Seluruh tata bahasa Esperanto dapat dipelajari dalam satu jam dan seluruh bahasa beserta kata-katanya hanya dalam beberapa hal. Mereka yang memahami 2 atau 3 bahasa Eropa akan langsung memahami "lingvo Esperanto", karena kata-kata dasarnya diambil dari bahasa-bahasa utama Eropa, misalnya la patro kaja la patrino estas en domo, yaitu ayah dan ibu ada di rumah; atau mia frato pli bone kantas ol mi, yaitu saudara laki-laki saya bernyanyi lebih baik daripada saya; atau la lingvo Esperanto estas tre bonsona kaj egale bona por la scienco kaj komeroo kiel ankau por la poezio, yaitu bahasa dunia Esperanto sangat merdu dan sangat nyaman untuk ilmu pengetahuan serta perdagangan dan puisi’. 


Lantas mengapa kemudian ada orang Belanda yang mengadopsi dan mempopulerkan bahasa Esperanto, bahasa yang diucapkan sesuai ejaannya? Fakta bahwa orang Belanda di Indonesia (baca: Hindia Belanda) yang memiliki minat pada penyelidikan bahasa, sedang giat-giatnya mengkodifikasi Bahasa Indonesia (baca: bahasa Melayu) yang diucapkan sesuai dengan yang dieja. Lalu apakah orang Belanda yang berada di Indonesia tertarik dengan bahasa Esperanto?


Soerabaijasch handelsblad, 15-01-1902: ‘Esperanto, kami menerima dari Drevcs Uitterdijk (Trompschool, Hilversum) deskripsi yang antusias tentang bahasa dunia baru, Esperanto, yang menurut Dr Zamenhof, di suatu tempat di Rusia, merupakan karya ciptaannya. Memang, kami tidak memiliki tempat untuk tiga artikel yang menyertainya. Selain itu, kami tidak terlalu percaya pada bahasa "buatan". Eksperimen di bidang itu telah berulang kali gagal. Kami memiliki ingatan samar tentang Vulapuk; dalam beberapa tahun, kemungkinan besar hal yang sama akan terjadi pada Esperanto’. 

Seiring dengan meningkatnya yang mengadopsi bahasa Esperanto di Eropa, di Belanda mulai dibentuk asosiasi Esperanto (lihat Soerabaijasch handelsblad, 01-05-1902). Disebutkan di bawah kepemimpinan Drevea Uitterdijk dari Hilversum, sejumlah orang bertemu kemarin sore dengan tujuan membentuk sebuah asosiasi Esperantis Belanda. 


Menurut pernyataan ketua, saat ini ada tiga makalah yang diterbitkan di luar negeri untuk mempromosikan bahasa dunia Esperanto. Perancang bahasa ini, Dr. Zamenhoff dari Warsawa, menyusun bahasa dunia ini 16 tahun yang lalu dengan mengambil akar kata yang paling sering digunakan dari 10 bahasa lain. Salah satu penyebar bahasa ini terbesar di luar Rusia adalah L de Beaufront, yang buku teksnya untuk Belanda diedit oleh Drevea Uitterdijk dengan tambahan kamus. Di Belanda, terdapat sekitar 200 praktisi Esperanto; Di Apeldoorn sudah ada klub Esperantis, sementara ketua pertemuan akan segera memberikan beberapa kuliah tentang Esperanto di Hilversum, dan mungkin akan membuka kursus pada musim dingin mendatang untuk praktik bahasa dunia muda ini. Dari apa yang disampaikan ketua selama pembahasan ini, tampak bahwa tujuannya bukanlah untuk menggantikan bahasa lain, tetapi untuk membangun bahasa korespondensi umum, bahasa komunitas umum; dengan mengingat hal ini, para pendukung menyebut bahasa tersebut sebagai "bahasa bantu Esperanto". Setelah beberapa diskusi, pertemuan dilanjutkan dengan pembentukan kelompok orang Belanda. Asosiasi Esperantis", yang mana Dreves Uiterdijk dari Hilversum akan bertindak sebagai direktur dan W Greve dari Kampen sebagai sekretaris, dewan utama akan berbasis di Kampen. Selanjutnya, diadakan diskusi mengenai penerbitan jurnal tentang bahasa Esperanto di Belanda. Diputuskan untuk menerbitkan sebuah publikasi dari Bond van Nederlandsch Esperantistenvereenigingen (Lembaga Asosiasi Esperanto Belanda), yang jurnal tersebut akan berfungsi sebagai jurnal studi bagi para praktisi Esperanto. Selain itu, upaya akan dilakukan untuk menyebarluaskan bahasa ini melalui berbagai cara. 

Bahasa ciptaan sebelumnya Volapuk telah memiliki saingan kuat pada bahasa ciptaan baru Esperanto. Sejumlah orang di Belanda tampak bersemangat dengan bahasa Esperanto ini. Mengapa? Satu yang jelas sudah didirikan asosiasinya dan bahkan telah terbit majalah edisi pertamanya “La Holanda Pioniro”. 


Provinciale Drentsche en Asser courant, 19-08-1902: ‘Edisi pertama “La Holanda Pioniro” telah terbit, majalah bagi orang-orang di negara kita yang tertarik pada bahasa dunia baru, Esperanto. Volapuk gagal. Mengapa? Orang-orang menunjukkan minat yang cukup pada saat itu, tetapi bahasa tersebut terbukti tidak memenuhi persyaratan. Sekarang, upaya baru sedang dilakukan dengan Esperanto. Menurut para ahli, bahasa ini sangat mudah, kaya, dan merdu. Setelah satu minggu belajar, bahasa ini dapat digunakan untuk korespondensi luar negeri. Setelah membaca sekilas majalah tersebut, kita mendapat kesan bahwa bahasa ini benar-benar sederhana dan merdu, gabungan dari bahasa-bahasa Romawi dan Jermanik, jauh lebih sederhana daripada Volapuk, yang juga menggunakan akar kata dari bahasa-bahasa Asia. Esperanto terkadang menyerupai bahasa Italia atau Spanyol, dan terkadang bahasa Swedia. Berikut sebagian dari kata pengantar dengan terjemahan di sebelahnya: Jen delikata novnaskito de novnaskita Esperantista grupo modeste aligas al nombro da kolegoj spertaj per longa praktikado. lom timema gi faras la unuan pason sur la glitiga vojo al estonteco ideala kiun gi firme kredas atingi: la verdan stelon kiu ankau briletas de malproksime al nia nebula holanda cielo caj kiu, iom post iom, devas farigi suno. Ilmu ke sepuluh kondukas nia tuta frataro internacia, ni sentas la forton por tenadi altan nian ilagoQ de “Esperanto” kiu montras la devizon plena je e espero: “ La estonteco estas nia.” (Di sini, seorang bayi baru lahir yang lembut dari kelompok Esperantis yang baru terbentuk dengan sederhana bergabung dengan barisan kawan-kawannya, yang berpengalaman dalam latihan yang panjang. Dengan agak takut-takut, dia mengambil langkah pertama di jalan licin menuju masa depan gemilang yang dia yakini akan dia capai: bintang hijau yang juga bersinar dari jauh di langit Belanda kita yang berkabut dan perlahan-lahan harus menjadi matahari. Menyadari bahwa seluruh persaudaraan internasional kami mengarah ke sana, kami merasakan kekuatan untuk mengibarkan bendera Esperanto kami, yang memiliki moto penuh harapan: “Masa depan adalah kita”). Editor-penerbit jurnal ini adalah Dreves Uitterdijk, yang dari tangannya juga telah muncul kamus kulit lengkap. Selain beberapa artikel kecil, di majalah ini kami menemukan beberapa puisi dan terjemahan Saïdja en Adinda karya Multatuli, yang kedengarannya cukup menyenangkan dalam bahasa Esperanto: Kiam tiu ci bubalo estis forprenita de 1'patro de Saidjo kaj bucigita…Mi diris, leganto, ke mia rakonto estas unutona). 

Bahasa Esperanto sejauh dapat dikatakan telah mengungguli bahasa-bahasa ciptaan yang sudah pernah ada. Saat bahasa Esperanto “naik daun”, komunitas dan bahasa ciptaan Volapuk masih eksis. Namun satu hal yang ingin digarisbawahi disini adalah penciptaan bahasa baru pada dasarnya dimaksudkan untuk bahasa internasional pemersatu diantara pengguna bahasa-bahasa yang beragam. Oleh karenanya secara teknis bahasa ciptaan ini ingin mengeliminasi perbedaan gramatikal dan fonetikal dalam bahasa-bahasa menjadi satu bahasa yang mudah dipelajari oleh setiap orang. Seperti disebutkan bahwa setelah satu minggu belajar, bahasa Esperanto dapat digunakan untuk korespondensi luar negeri. 


Berbagai pendapat umum, bahasa Esperanto diciptakan oleh satu orang bernama yang awalnya disebut Dr Esperanto (nama samaran) lalu kemudian terinformasikan dengan nama asli Dr Zamenhoff yang berasal dari Warsawa (Polandia). Para peminat dan penggiat bahasa Esperanto memberi kesan bahwa bahasa Esperanto suatu bahasa yang benar-benar sederhana dan merdu, gabungan dari bahasa-bahasa Romawi dan Jermanik, jauh lebih sederhana daripada Volapuk, bahasa Esperanto juga menggunakan akar kata dari bahasa-bahasa Asia. Bahasa Esperanto terkadang menyerupai bahasa Italia atau Spanyol, dan terkadang bahasa Swedia. Tolstoi pada tahun 1894 menyebut bahasa Esperanto dipinjam dari berbagai bahasa Eropa. Tata bahasanya sangat sederhana dan tidak lebih dari empat halaman. Seluruh studi bahasa ini terdiri dari mempelajari tata bahasa tersebut dan sekitar 900 kata dasar. 

Siapa Dr Esperanto yang nama aslinya Dr Zamenhoff dari Polandia? Nama Dr Zamenhoff tentu saja menjadi sangat penting karena dia sendiri yang telah menciptakan bahasa Esperanto itu. Lantas mengapa Dr Zamenhoff berupaya untuk mencipatkan bahasa baru? Yang jelas, bahwa sebelum terbentuk bahasa Esperanto sudah ada bahasa-bahasa ciptaan baru (namun kurang berhasil, salah satu yang terpopuler diantaranya bahasa Volapuk).

 

Dr. Ludwik Lejzer Zamenhof (15 Desember 1859-14 April 1917) adalah seorang dokter mata asal Polandia keturunan Yahudi yang terkenal di dunia sebagai pencipta bahasa Esperanto, bahasa kecerdasan buatan (artifisial) yang paling banyak digunakan hingga saat ini. Ia lahir di kota Białystok, yang kala itu berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Rusia (sekarang wilayah Polandia). Latar belakang kehidupan dan visinya yang luar biasa menjadikan dirinya salah satu tokoh perdamaian dunia yang diakui oleh UNESCO. Białystok sendiri dihuni oleh berbagai suku bangsa yang berbeda, seperti orang Polandia, Rusia, Jerman, dan Yahudi. Zamenhof merasa prihatin melihat seringnya terjadi kesalahpahaman dan bentrokan antaretnis di kota kelahirannya. Ia berkesimpulan bahwa akar masalah dari permusuhan tersebut adalah tidak adanya bahasa yang netral untuk berkomunikasi. Oleh karena itu, ia bermimpi menciptakan bahasa universal yang mudah dipelajari oleh siapa saja guna menyatukan umat manusia. Sembari mengembangkan rancangan bahasanya sejak masa sekolah, ia menempuh kuliah kedokteran di Moskow dan Warsawa hingga lulus menjadi dokter spesialis mata pada tahun 1885. Pada 26 Juli 1887, dengan bantuan dana dari mertuanya, ia menerbitkan buku panduan bahasa pertamanya yang berjudul “Lingvo internacia” (Bahasa Internasional) di Warsawa. Zamenhof menerbitkan buku tersebut menggunakan nama samaran Doktoro Esperanto yang berarti "Dokter yang Berharap". Di kemudian hari, para pengguna bahasa tersebut mulai menyebut bahasa baru ini dengan nama "Esperanto". Selain fasih berbahasa Rusia, Yiddish, dan Polandia, ia juga menguasai bahasa Jerman, Prancis, Inggris, Latin, Yunani, dan Ibrani. Setiap tanggal 15 Desember diperingati oleh komunitas global sebagai Hari Zamenhof (Zamenhof Day) untuk merayakan warisan literatur dan bahasa Esperanto. Zamenhof wafat di Warsawa pada masa Perang Dunia I (1917), namun impiannya tentang dunia yang damai tanpa sekat komunikasi tetap hidup melalui jutaan penutur Esperanto di seluruh penjuru dunia saat ini (Wikipedia). 

Tunggu deskripsi lengkapnya

Apakah Bahasa Inggris Bertahan Selamanya? Bahasa Indonesia Jauh Lebih Mudah dan Lebih Sederhana dari Bahasa Esperanto

Sebagian saja, sudah cukup bagi kita untuk mengetahui seluk belum penciptaan dan penyebaran bahasa Esperanto di Eropa. Bagaimana dengan bahasa pemersatu di Indonesia (baca: Hindia Belanda). Nah, itu yang akan difokuskan dalam artikel ini. Dalam sejarah bahasa sendiri, tidak pernah terinformasikan secara tepat bagaimana asal usul suatu bahasa hingga ditemukan melalui penemuan arkeologis aksara. Dalam hal ini bahasa telah berbeda-beda meski kemudian dapat menggunakan aksara yang sama.


Bahasa dan aksara adalah dua hal yang berbeda, tetapi dapat memiliki kaitan satu sama lain. Dalam penemuan arkeologis, seperti Hieroglif di sungai Nil di Mesin, aksara sudah ada sejak kuno, aksara Cuneiform (bangsa Sumeria di Mesopotamia/Irak yang sekarang), aksara Lembah Indus (Pakistan/India), aksara Tiongkok dan Abjad Fenisia yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya aksara modern seperti Latin, Arab, Yunani, dan Ibrani. Sementara di nusantara jumlah aksara dapat diringkas menjadi aksara mirip aksara Jawa (Jawa) dan aksara mirip aksara Batak (Sumatra). Aksara Jawa ada kemiripan dengan aksara-aksara di India, tetapi aksara Batak berbeda. Aksara Batak lebih mirip aksara Fenisia (Syria). Bagaimana bisa? Penjelasannya dapat dibaca dalam: A Phoenician Alphabet on Sumatra by EEW Gs Schröder in Journal of the American Oriental Society, Vol. 47, 1927.

Pada masa ini aksara Latin menjadi sangat masif digunakan di seluruh muka bumi, demikian juga dengan penggunaan bahasa Inggris yang sangat luas di seluruh bagian dunia. Namun yang jelas tidak ada aksara tunggal dan juga tidak ada bahasa tunggal. Satu setengah abad yang lalu Dr Zamenhof mencoba membuka ruang baru ke arah penggunaan bahasa pemersatu, bahasa Esperanto, tetapi dalam perjalanan waktu yang terjadi layu sebelum berkembang (idem ditto dengan aksara Latin). Lalu apakah kini bahasa Inggris yang penggunaannya sangat masif dapat menjadi bahasa pemersatu? Yang jelas seluruh muka bumi ini sangat heterogen dalam bahasa-bahasa.


Lantas bagaimana dengan bahasa pemersatu di wilayah kecil di nusantara? Tidak pernah diketahui secara jelas. Kita mulai memperhatikan pada era Hindu/Budha dengan memeriksa prasasti-prasasti. Meski terdapat unsur bahasa Sanskerta, tetapi unsur bahasa lokal masih lebih dominan, seperti misalnya dalam prasasti Kedoekan Boekit yang berasal dari abad ke-7. Teks Tanjung Tanah yang berasal dari abad ke-14 unsur bahasa local sangat dominan. Demikian juga prasasti yang berasal dari abad ke-14 yang beraksara Jawi (Arab) yang ditemukan di Terengganu dengan unsur bahasa local yang dominan sudah masuk unsur bahasa Arab/Persia. Demikian juga dalam teks Negarakertagama (masih abad ke-14) yang beraksara Kawi unsur bahasa lokalnya juga masih lebih dominan. Artinya, di nusantara tidak pernah bahasa asing menjadi bahasa pemersatu. Sementara bahasa-bahasa lokal yang dimaksud terdapat pertukaran bahasa antara satu tempat dengan tempat lain. Dalam hal ini unsur bahasa asing hanya sekadar diserap. Dalam hal ini bahasa pemersatu terbentuk dengan sendirinya, secara alamiah dalam kurun waktu yang panjang. Bahasa “pemersatu” sudah terbentuk (bukan dibentuk seperti bahasa Esperanto), saat lalu lintas perdagangan antar pulau mulai dari Sumatra hingga Papua sudah sangat masif dimana muncul awal kehadiran pelaut/pedagang Eropa (Portugis/Spanyol). Tentu saja tidak/belum disebut bahasa Melayu. Mengapa? Penamaan bahasa baru muncul kemudian.

Di wilayah Nusantara, antara pulau Sumatra dan pulau Papua, antara pulau Timor hingga pulau Luzon. Teks Tanjung Tanah di Sumatra (Jambi) dan teks Negarakertagama di Bali (Tjakranegara) pada abad ke-14 mengindikasikan bahasa-bahasa yang sudah eksis. Pelayaran Cheng Ho pada abad ke-15 ke Jawa dan Sumatra yang ditulis Ma Huan menggunakan aksara Tiongkok dan bahasa Cina. Nama-nama tempat yang dicatat Ma Huan dalam sejumlah pelayaran (1405-1533) Jawa, Palimbang (Palembang?), Aru (Padang Lawas/Tapanuli?) Manlaka (Malaka?) dan Sumantala (Sungai Karang?).


Pada masa ini sudah ada sejumlah penjelajah/pedagang dari Laut Mediterania yang mencapai nusantara. Marco Polo dari Venesia pada tahun 1292 sepulang dari Tiongkok singgah di Sumatra. Ibnu Batutah dari Tunisia tahun 1345 dalam perjalanannya ke Tiongkok singgah di Sumatra. Nicolo Conti asal Venesia sepulang dari Tiongkok pada tahun 1421 singgah di Sumatra.

Jauh sebelum kehadiran Portugis dan Spanyol di Hindia Timur (baca: nusantara), sudah ada sejumlah deskripsi tentang nusantara yang beredar di Eropa. Deskripsi perjalanan penjelajah/pedagang dari Laut Mediterania menjadi sumber awal penulisan deskripsi wilayah timur (baca: Nusantara/Hindia Timur). Salah satu deskripsi penting yang ditulis oleh Martin Behaim (6 Oktober 1459-29 Juli 1507), seorang pedagang tekstil dan kartografer Jerman. Ia melayani John II dari Portugal sebagai penasihat dalam hal navigasi dan berpartisipasi dalam pelayaran ke Afrika Barat.

 

Notice Sur Chevalier Martin Behaim, Celebre Navigateur Portugais; Avec La Dsecription de Son Globe Terrestre, Par M. dE Murr. Java Minor (Jawa Kecil/Sumatra?): "Pulau ini memiliki keliling dua ribu liga Italia, dan memiliki delapan kerajaan. Penduduknya memiliki bahasa mereka sendiri, dan sangat taat pada penyembahan berhala. Berbagai macam rempah tumbuh di sana. Di kerajaan Bossman terdapat banyak unicorn, gajah, dan monyet, yang memiliki ciri dan bentuk manusia. Selain itu, tidak ada gandum yang tumbuh di sana, tetapi mereka tetap membuat roti dengan beras; dan sebagai pengganti anggur, mereka minum minuman keras yang diekstrak penduduk pulau dari pohon: ada merah dan putih; itu adalah minuman yang cukup enak yang banyak ditemukan di kerajaan Samara (Samudra?). Di kerajaan Dageram, kebiasaannya adalah ketika berhala mengatakan bahwa seseorang tidak dapat sembuh dari penyakitnya, mereka segera dicekik, dan teman-teman mereka memasak daging mereka dan memakannya dengan sangat gembira, agar tidak menjadi, kata mereka, makanan bagi cacing. Di kerajaan Jambri (Jambi?) penduduknya, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki ekor di belakang mereka seperti anjing. Di sana tumbuh sejumlah besar toko kelontong; dan ada berbagai macam hewan, seperti unicorn, dll. Di kerajaan lain, yang disebut Fanfur (Barus?), tumbuh kamper terbaik di dunia, dijual seberat emas. Ada pohon-pohon besar yang darinya, di antara kulit kayu dan kayunya, diekstraksi tepung yang digunakan untuk membuat roti dan enak dimakan. Mark Paul mengatakan, dalam bab ke-16 buku ketiganya, bahwa ia menghabiskan lima bulan di pulau ini. Java Major (Jawa Besar/Jawa?): “Ketika meninggalkan negeri besar bernama Cathay (Canton?), di kerajaan Ciamba (Campa?), seseorang melakukan perjalanan sejauh seribu lima ratus liga Italia ke timur, ia menemukan pulau bernama Grand Java, yang kelilingnya tiga ribu liga Italia. Raja pulau ini tidak tunduk pada upeti apa pun, dan ia menyembah berhala. Di pulau ini, ditemukan segala macam bahan makanan, seperti lada, pala, bunga pala, jahe, lengkuas, cengkeh, kayu manis, dan segala macam akar, yang dibawa ke sana dan kemudian diangkut ke seluruh dunia; itulah sebabnya selalu ada banyak pedagang di sana’. 

Pada tahun 1509 pelaut-pelaut Eropa pertama (Portugis) sudah mencapai Sumatra dan Malaka. Pada tahun 1511 skuadron Portugis menduduki Malaka yang kemudian tiga kapal melanjutkan pelayaran ke Maluku melalui Jawa, Alor/Timor, Banda dan Maluku (baca: Amboina). Pada tahun 1521 (April) pelaut Spanyol melalui lautan Pasifik mencapai Filipina (Zebu) dan kemudian bertemu pelaut/pedagang Portugis di Maluku. Salah satu yang turut dalam navigasi pelayaran Spanyol ini adalah   Antonio Pigafetta yang menulis kamus kecil dari bahasa yang ditemukannya di Hindia Timur di Maluku. 


Kamus kecil bahasa di Nusantara disusun oleh Antonio Pigafetta dicatat pertama kali pada tahun 1521 ketika ia singgah di Pulau Tidore, Maluku, dan secara resmi diselesaikan atau disusun dalam rentang tahun 1522 hingga 1524. Daftar kata ditulis dwibahasa (Eropa dan bahasa setempat). Ada sebanyak sekitar 425 kosa kata. Pigafetta mempelajari dan mengumpulkan kata-kata tersebut sepanjang pelayaran ekspedisi Ferdinand Magellan, salah satunya dibantu oleh Enrique penerjemah lokal. Sebahagian dari catatan kamus ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1536. Naskah asli dokumen ini (manuskrip Ambrosiana) kini disimpan dengan rapi di Milan, Italia. Dalam kamus Pigafetta yang berasal dari abad ke-16 tidak disebut bahasa Melayu. Antonio Pigafetta hanya menyebut bahasa yang digunakan di Filipina dan bahasa yang digunakan di Maluku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis. Pigafetta menyebutkan bahwa “Orang-orang Moor telah tinggal di Malucho selama, mungkin, lima puluh tahun, katakanlah, sebelum tempat itu dihuni oleh para bangsawan. Kosa kata yang terdapat di dua wilayah tersebut dapat dibandingkan. Untuk pembanding, editor/penulis buku manambahkan satu kolom kata-kata yang dikumpulkan oleh Forster (lihat Voyage du capitaine Cook au tour du monde, en 1772 jusqu'en 1775, par Forster), dan kolom lainnya yang dikumpulkan oleh David Haex (lihat David Haex. 1631. Dictionarium malaico - latinum. Romæ). Catatan: Georg Forster (27 November 1754-10 January 1794); Antonio Pigafetta berasal dari Vicenza, Lombardia, Italia. Masa pencatatan di Maluku selama enam minggu (sebanyak 425 kosa kata).

Kamus Antonio Pigafetta dalam hal ini dapat dikatakan kamus pertama yang dikumpulkan di nusantara (baca: Hindia Timur di Maluku). Kamus ini merupakan satu manuskrip Italia. Lalu dalam perkembangannya diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis yang dibuat oleh Maria Louise dari Savoy. Interpretasi bahasa Italia dilakukan oleh Prof Dr J. Gonda yang diterbitkan tahun 1936 di bawah judul “Pigafetta’s Vocabularium van Het Molukken-Maleisch”. Bagaimana dengan kamus-kamus lainnya? Sebelum membicarakan kamus David Haex (1631) dan kamus Georg Forster (1772), ada baiknya mendeskripsikan kamus yang disusun oleh Frederik de Houtman yang diterbitkan di Amsterdam tahun 1603. 


Dalam pelayaran pertama orang Belanda ke Nusantara (Oost Indie) yang dipimpin Cornelis de Houtman, di dalamnya termasuk salah satu ahli bahasa, namanya Frederik de Houtman. Frederik adalah saudara dari Conelis de Houtman (lihat Frederik de Houtman, 1603). Para pelaut Belanda ini tentu saja tidak hanya mengandalkan kamus Portugis-Melayu (yang jumlah kosa kata sangat terbatas), tetapi sepanjang perjalanan inilah peran Frederik de Houtman sebagai ahli bahasa (untuk mengumpulkan dan menyalin ke dalam aksara Latin). Perjalanan pelayaran hari demi hari yang dipimpin C de Houtman dapat dibaca pada Journael vande reyse der Hollandtsche schepen ghedaen in Oost Indien, haer coersen, strecking hen ende vreemde avontueren die haer bejegent zijn, seer vlijtich van tijt tot tijt aengeteeckent, 1598. Pelayaran ini dimulai pada tanggal 2 April 1595 dengan total 249 orang. Di dalam jurnal ini juga berisi beberapa peta termasuk peta pulau Madagaskar, Sumatra dan. Peta-peta yang dilampirkan dalam jurnal ini berbahasa Portugis. Ini mengindikasikan bahwa C de Houtman merujuk pada peta-peta buatan Portugis. 

Di dalam jurnal ini juga dilampirkan kamus (kecil) dengan terjemahan bahasa Belanda. Dalam jurnal ini juga pelaut-pelaut Belanda yang juga ada yang bisa berbahasa Portugis memanfaatkan para penerjemah berbahasa Portugis ke dalam bahasa lokal. Dalam lampiran, kamus kecil ekspedisi Cornelis de Houtman dinyatakan sebagai berikut: 


Sommighe Maleyſche woorden/welcke ſpraecke gantsch Oolt-Indien door ghe bzupckelick is/ghelijckmen hier te lande de Franſopſche tale ghebzupckende is / principael in groote hupfen/ ende men mach daer allenthalben mede te recht comen: oock de Portugeſche ſpraecke is hier feer nut / om datmen over al Tolcken vint die Portugeelch ſpreken—Beberapa kata dalam bahasa Melayu/yang bahasanya sangat sederhana di seluruh Hindia Timur/sama seperti bahasa Prancis yang sederhana di negara ini/terutama dalam lompatan besar/dan hal ini dapat dibenarkan di mana-mana: bahasa Portugis juga sangat berguna di sini/karena kita menemukan penerjemah di mana-mana yang berbicara bahasa Portugis. 

Satu hal yang penting dan terpenting di dalam pernyataan awal kamus kecil tersebut (yang disusun Frederik de Houtman) dinyatakan kamus atau kumpulan kata bahasa Melayu (Maleyſche woorden). Sebagaimana diketahui ekspedisi pertama Belanda ini dari Madagaskar mencapai pantai barat Sumatra di pulau Enggano, lalu berlayar ke selatan Sumatra di Lampin (Lampung?) terus ke Bantam (Banten?), yang selanjutnya singgah di Sonda Calapa (Jakarta?), Joana, Madura, Lombok dan terakhir di Bali (sebelum kembali ke Belanda). Di kota-kota pelabuhan tersebutlah Frederik de Houtman menyusun kamus bahasa Melayu. 


Pernyataan Frederik de Houtman di pembukaan kamus kecilnya, mengindikasikan yang dapat dikatakan untuk kali pertama muncul penyebutan bahasa Melayu. Bandingkan dengan kamus yang disusun oleh Antonio Pigafetta pada tahun 1521 yang hanya menyebut bahasa yang digunakan di Maluku. Kedua kamus beda zaman yang ditulis oleh orang Eropa (Italia dan Belanda) dapat dibandingkan. Antonio Pigafetta mendaftarkan 425 kosa kata, sementara Frederik de Houtman hanya sebanyak 157 kosa kata. Frederik de Houtman juga mendaftarkan sebanyak 23 kosa kata bahasa Jawa. Dalam hal ini Frederik de Houtman secara sadar (telah) membedakan antara bahasa Melayu dan bahasa Jawa. 

Pada ekspedisi kedua Cornelis de Houtman tahun 1599 kembali ikut Frederik de Houtman. Saat beradi di Atjeh, Cornelis de Houtman terbunuh,  sementara Frederik de Houtman dijebloskan ke penjara tahun 1600. Frederik de Houtman baru dibebaskan pada tahun 1602. Selama di penjara tampaknya Frederik de Houtman menyelesaikan kamusnya. 


Ekspedisi Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman sebelum berlayar ke Indonesia singgah di Madagaskar selama enam bulan. Besar dugaan sekembali dari Indonesia singgah lagi di Madagaskar. Demikian juga dengan dengan ekspedisi Cornelis de Houtman. Pulau Madagaskar tampaknya menjadi tempat persinggahan kapal-kapal ekspedisi Belanda dari Eropa ke Hindia Timur di di Madagaskar. 

Sekembali ke Belanda pada tahun 1603 kamus lengkap Frederik de Houtman diterbitkan di Amsterdam (sekitar 250 halaman). Kamus ini selain daftar kata juga contoh kalimat bahasa Melayu (Maleys) yang diterjemahkan dalam bahasa Duyts (dialek Belanda-Jerman). Satu hal yang baru dalam kamus ini juga dilengkapi dengan kamus bahasa Madagaskar berikut contoh kalimat. 


Dalam kata pengantar kamus ini Frederik de Houtman menyatakan sebagai berikut: Pada pelayaran kedua ke Hindia Timur, yang dilakukan oleh almarhum saudara saya Cornelius de Houman (setelah tahun 1595, pelayaran pertama, yang dari Bangsa Belanda telah melakukan pelayaran dengan kapal ke Hindia Timur, dan melakukannya lagi, saudara saya de Houtman yang sama, saya melakukan pelayaran kedua, dan saudara saya kemudian hancur karena penangkapan komandan dan tipu daya Portugis, bersama dengan banyak orang lain dari bangsa kita, dengan cara yang licik dan kejam: Demikianlah saya, sebagai orang yang malang, bersama dengan banyak orang lain ke tangan orang-orang yang tidak percaya, tetap dipenjara di sana di pulau Sumatra, di Atchein, selama tidak lebih dari dua puluh bulan tanpa berbagai bahaya dalam hidup saya: Tetapi akhirnya, diselamatkan dengan penuh keagungan oleh kebaikan dan perlindungan Tuhan yang penuh rahmat dan tiba di tanah airku. Tetapi Tuhanku selain pengunduran diriku, pemahaman dan rahmat yang diterima dari bahasa Melayu, yang di seluruh Hindia Timur, seperti bahasa umum (walaupun banyak bahasa asli lainnya juga bukan:) dari bahasa Melayu, yang diucapkan oleh orang tua dan muda, dan pada akhirnya, semua tindakan kerja sama akan dimungkinkan dan kemajuan akan tercapai, hingga Maluku Eylanden dan wilayah-wilayahnya. Oleh karena itu, kembali pada pandangan dan tujuan saya yang telah disebutkan sebelumnya, saya telah mengumpulkan, bersama dengan bahasa Belanda Rendah kita, sebuah bahasa dan buku pendahuluan, menurut pemahaman saya yang terbatas, di mana bahasa Melayu, dan ditambahkan pula bahasa Madagaskar muncul di samping bahasa-bahasa yang tidak terucapkan: Bahasa Madagaskar juga lebih bermanfaat bagi kapal-kapal yang melakukan pelayaran ke Hindia Timur, karena kapal-kapal kita sering mengunjungi pulau Madagaskar, yang oleh Portugis, bernama Sant Laurens, terletak di sebelah timur Caep de bonne Eſperance, penduduknya harus memperbarui, seperti dari berbagai sumber, bahan, buah-buahan, dan minuman bergizi lainnya. 

Buku karya Frederik de Houtman tersebut tidak lagi dapat dikatakan sebagai kamus kecil (daftar kata) tetapi sudah merupakan buku bahasa Melayu hingga halaman 75 (dan bahasa Madagaskar hal 77-83). Dalam daftar kosa kata (kamus) disandingkan tiga bahasa (Duyts, Maleys, Madagaskers) dari halaman 85 sampai 180 sebanyak 95 halaman kali 25-16 kata = 2.400 kata). Dalam buku ini juga dilampirkan perbandingan bahasa Duyts, Arabish, Turcy (halaman 185-222). Singkatnya, buku bahasa Frederik de Houtman (bahasa Melayu) ini terus digunakan bahkan masih digunakan untuk waktu yang lama yang dicetak ulang di Asmterdam (1673) dan dicetak ulang lagi di Batavia (1707). 


Para misionaris di Maluku dan tempat lainya juga melakukan pengumpulan bahasa dan menulis kajian mereka, antara lain: Sebastiaan Danckaerts pada tahun 1621 menulis “Historisch ende grondich verhael, vanden standt des Christendoms int quartier van Amboina, mitsgaders vande hoope ende apparentie eenigher reformatie ende beternisse van dien (diterbitkan di Gravenhaag). Sebastiaan Danckaerts tahun 1628 menulis “Vocabularium ofte Woortboeck, naer ordre van den Alphabet, int 't Duytsch-Maleysch, ende Maleysch-Duytsch. Eertyts ten deele ghecompaneert by Caspar Wiltens: ende namaels oversien, vermeerdert, ende uytgegeven door Sebasrianus Danckaerts (S: Gravenhaghe 1623). Johannes Roman tahun 1655 “Kort Bericht van de Maleysche letter-konst (Joan Blaev). Johannes Roman tahun 1674 “Grondt ofte Kort bericht van de Maleysche tale, vervat in twee deelen (Amsterdam). Sejumlah kompilasi yang diterbitkan: Anonymus. 1708. “Collectanea malaica vocabularia. Of Maleische woord-boek-sameling. Zynde een by een sameling van alle tot nog toe gedrukte Maleische woorde-boeken. Batavia: Stads-Drukker” (catatan: dalam buku ini juga disebut nama-nama Caspar Wiltens, Sebastian Danckaerts, Justus Heurnius dan Gueyniers. George Henric Werndly. 1736. “Maleische spraakkunst” (E Maatschappij). Penulis bahasa selanjutnya: William van Rees. 1803. “Maleisch handboekjen, of Hollandsch-Maleisch en Maleisch-Hollandsch woordenboekjen, naar alphabetische orde (Moeleman Junior, Amsterdam) dan William Marsden. 1812. “A Dictionary and Grammar of the Malayan Language (London). 

Bandingkan kamus yang disusun oleh Antonio Pigafetta tahun 1521 sebanyak 425 kata dengan kamus yang disusun oleh Frederik de Houtman pada tahun 1603 yang sudah mencapai 2.400 kata. Antonio Pigafetta mengumpulkannya hanya terbatas di Tidore (Maluku). Frederik de Houtman mengumpulkannya di Lampung, Banteng, Jakarta, Juana, Madura, Lombok, Bali plus di Atjeh. Banyaknya kosa kata di dalam kamus Frederik de Houtman menyebabkan kamus tersebut masih digunakan lebih dari satu abad. 


Pengumpulan bahasa Melayu yang digunakan selama VOC, basisnya kosa kata yang digunakan di berbagai tempat di Indonesia (Sumatra, Jawa, Bali dan Maluku dan lainnya). Lalu dalam perkembangannya, setelah kamus Frederik de Houtman cukup lama digunakan mulai muncul buku-buku bahasa Melayu kompilasi seperti yang ditulis oleh George Henric Werndly. Lalu di penghujung era VOC/Belanda tersebut, seorang Inggris William Marsden di Bengkulu (pantai barat Sumatra) mulai menulis bahasa Melayu secara komprehensif yang tidak hanya daftar kata (kamus) juga deskripsi tatabahasanya yang diterbitkan pada tahun 1812 (seiring dengan pendudukan Inggris di Jawa). 

Singkatnya, kamus dan tatabahasa Melayu di Indonesia (baca: Hindia Belanda) sudah tersedia. Secara teknis itu dimulai oleh Frederik de Hourman (pelaut/pedagang), yang kemudian dikerjakan secara komprehensif oleh William Marsden (pegawai pemerintah/administrator). Lalu kemudian dilanjutkan oleh para sarjana Belanda seperti Roorda Esinga dan JJ Hollander. 


Roorda van Eisinga. 1825. “Maleisch en Nederduitsch woordenboek (Landsrukkerij, Batavia); Philippus Pieter Roorda van Eysinga. 1839. “Beknopte Maleische Spraakkunst en Chrestomathie, met Italiaansch en Arabisch karakter, benevens een volledig Hoog en Laag Maleisch en Nederduitsch Woordenboek, met Italiaansch karakter” (Broese). JJ de Hollander. 1845. “Handleiding tot de kennis der Maleische taal” (Broese); JJ de Hollander. 1856. “Handleiding bij de beoefening der Maleische taal en letterkunde, voor de kadetten van alle wapenen bestemd voor de dienst in Nederlandsch Indie” (Geboeders); W Robinson en E Netscher. 1855. “Proeve tot opheldering van de gronden der Maleische spelling” (Genootschap); Anonymus. 1856. “Kitab péngadjaran basa Malajoe” (Lange en Co); C van Heerdt. 1857. “Eerste gronden der Maleische taal” (Van Kampen). Jan Pijnappel (Gz). 1862. “Maleische spraakkunst voor eerstbeginnenden” (Nijhoff); J Pijnappel. 1863. “Maleisch-Nederduitsch woordenboek” (Frederik Muller). 

Hingga sejauh ini, keberadaan bahasa Melayu apa adanya. Artinya, sejak era Antonio Pigafetta, Frederik de Houtman, Willliam Marsden era JJ de Hollander, tulisan-tulisan bahasa yang ada hanya merujuk pada situasi dan kondisi (alamiah) yang ada (apa adanya). Pada saat inilah muncul dua sarjana bahasa HN van der Tuuk dan HC Klinkert yang sahut menyahut di dalam jurnal/majalah akademik pada tahun 1865 yang mulai mengkritisi penulisan bahasa Melayu selama ini oleh para pedahulu (termasuk Prof Roorda Esinga) dan keduanya mengemukakan perlunya (saatnya) dilakukan kodifikasi (standarisasi) bahasa Melayu. Dua sarjana tersebutlah yang menginisiasi modernisasi bahasa Melayu (SPOK dan perihal imbuhan) yang kemudian menjadi cikal Bahasa Indonesia). 


Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar