Senin, 10 Agustus 2026

Sejarah Dr Tjipto (15):Partai Indonesia Raya (Parindra) 1935; Mohamad Hatta ke Digoel, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo Ada di Banda


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Dr Tjipto di blog ini Klik Disini

Dua partai nasionalis Indonesia yang non-cooperative: Partai Indonesia (Partindo) dan Partai Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru). Ir Soekarno telah mengundurukan diri dari Partindo sebelum diasingkan ke Flores pada bulan Februari 1934. Drs Mohamad Hatta menyusul diasingkan ke Boven Digoel 28 Januari 1935. Di Jawa, Partai Bangsa Indonesia (PBI) menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra). Di pengasingan, Mohamad Hatta dipindahkan dari Digoel tanggal 11 Februari 1936 ke Banda (dimana Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Mr Iwa Koesoema Soemantri berada). Metode Riset Bisnis


Partai Indonesia Raya atau Parindra adalah nama yang digunakan oleh dua partai politik di Indonesia. Dr Soetomo, salah seorang pendiri Boedi Oetomo, pada akhir tahun 1935 di kota Solo, menggabungkan antara Persatuan Bangsa Indonesia (PBI), Serikat Selebes, Serikat Sumatera, Serikat Ambon, Budi Utomo, dan lainnya, sebagai tanda berakhirnya fase kedaerahan dalam pergerakan kebangsaan, menjadi Partai Indonesia Raya atau Parindra. PBI sendiri merupakan klub studi yang didirikan Dr Soetomo pada tahun 1930 di Surabaya. Partai Indonesia Raya adalah suatu partai politik yang berdasarkan nasionalisme Indonesia dan menyatakan tujuannya adalah Indonesia Mulia dan Sempurna (bukan Indonesia Merdeka). Parindra menganut asas cooperatie alias bekerja sama dengan pemerintah Hindia Belanda dengan cara duduk di dalam dewan-dewan untuk waktu yang tertentu. Parindra pertama didirikan pada tahun 1935 sebagai hasil penggabungan antara perkumpulan politik Budi Utomo dan Perserikatan Bangsa Indonesia dengan tujuan bekerja sama dengan Belanda untuk mengamankan kemerdekaan Indonesia. Para pimpinan R Soetomo, Mohammad Husni Thamrin, Susanto Tirtoprodjo, Sukarjo Wiryopranoto dan Woerjaningrat (Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah Partai Indonesia Raya (Parindra) 1935? Seperti disebut di atas Partai Bangsa Indonesia dan Boedi Oetomo fusi menjadi Parindra. Dr Tjipto pada awalnya adalah anggota Boedi Oetomo yang kini diasingkan di Banda yang menerima kedatangan Mohamad Hatta yang dipindahkan dari pengasingan di Digoel ke Banda. Lalu bagaimana sejarah Partai Indonesia Raya (Parindra) 1935? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Pengantar Studi Kelayakan Bisnis

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah. 

Partai Indonesia Raya (Parindra) 1935; Mohamad Hatta Diasingkan ke  Digoel, Tjipto Mangoenkoesoemo di Banda

Apalah arti sebuah nama? Yang jelas banyak partai di Indonesia sejak awal semasa Pemerintah Hindia Belanda yang menggunakan nama Indonesia: Partai “Komunis” Indonesia (PKI) oleh Semaoen dkk, Partai “Nasional” Indonesia (PNI) oleh Ir Soekarno dkk, Partai “Bangsa” Indonesia (PBI) oleh Dr Soetomo dkk, Partai “Rakyat” Indonesia (PRI) oleh Mohamad Tabrani dkk, Partai “Pendidikan Nasional” Indonesia oleh Mohamad Hatta dkk, Partai “Republik” Indonesia (PRI) oleh Tan Malaka dkk, Partai “Sarikat Islam” Indonesia (PSII) oleh Tjokroaminito dkk dan Partai “Islam” Indonesia (PARII) oleh Dr Soekiman dkk serta Partai “Moeslim” Indonesia (PERMI) dan Partai “Persatoean” Indonesia (Parpindo). Diantaranya itu, tentu saja ada juga nama Partai Indonesia (Partindo) oleh Mr Sartono dkk dan nama Partai Indonesia Raya (Parindra) oleh Dr Soetomo dkk. 


De koerier, 01-11-1935: ‘Penggabungan. Sabtu lalu, sebuah konferensi yang sangat penting dari Dewan Pusat Boedi Oetomo dan Persatoean Bangsa Indonesia berlangsung. Dari PBI, asosiasi Dr Soetomo di Soerabaya, hadir 15 anggota Dewan Pusat, sementara jumlah delegasi yang sama dari dewan utama Boedi Oetomo hadir di gedung asosiasi Habiprojo di Solo. Konferensi ini dipimpin oleh RMHT Woerjaningnrat (baca: RM Notodiningrat), Bupati Kraton di Solo. Tujuan utama konferensi ini adalah untuk membahas penggabungan kedua asosiasi tersebut dalam sebuah kongres yang diberi judul tepat sebagai kongres pernikahan. Kongres ini akan dibuka di Solo pada tanggal 24 Desember dan akan berlangsung selama tiga hari. Berbagai persiapan diperlukan untuk ini, dan hal-hal tersebut dibahas selama konferensi Sabtu lalu. Boedi Oetomo, asosiasi politik masyarakat adat tertua, dan Persatoean Bangsa Indonesia, organisasi nasionalis masyarakat pribumi, akan digabung menjadi satu asosiasi besar, dan tentu saja hal ini membawa serta berbagai masalah yang harus diselesaikan. Dengan demikian, muncul pertanyaan tentang siapa yang akan dipercayakan dengan jabatan ketua organisasi baru tersebut. Sebuah komite, yang terdiri dari Dr Soepomo dan Wongsonagoro dari BO dan Dr Soebroto dan R Soedirman dari PBI, bertugas untuk mengusulkan kandidat yang sesuai, sementara juga telah diputuskan bahwa dewan utama asosiasi baru tersebut akan terdiri dari 17 anggota. Selama pemilihan 17 anggota dewan utama ini, pilihan ketua, wakil ketua, dan lain-lain, juga akan ditentukan. Lokasi kantor asosiasi juga akan bergantung pada lokasi anggota dewan utama. Selama Kongres, dalam rangka pendirian partai baru, akan diadakan rapat umum besar melalui penggabungan kedua organisasi tersebut, dimana sejarah pendirian BO dan PBI akan dijelaskan sebagai kelahiran satu partai nasionalis pribumi. Lebih lanjut, akan dibahas topik mengenai navigasi perahu tradisional dan pemberian bantuan kepada kaum miskin pribumi oleh organisasi-organisasi pribumi. Dua pembicara untuk dua topik berbeda tersebut adalah seorang Makassar dan seorang Sumatera, yang mana penekanan kuat diberikan pada fakta bahwa bukan Jawaisme tetapi nasionalisme dalam skala besar (yang disebut dengan nama Indonesia Raya) yang hadir dalam asosiasi tersebut. Yang juga patut diperhatikan adalah penggunaan radio sebagai sarana propaganda, baik untuk persiapan maupun untuk Kongres itu sendiri. Asosiasi radio SRI (Siaran Radio Indonesia) di Solo akan menyiarkan melalui pemancarnya tidak hanya berbagai pengumuman mengenai Kongres tetapi juga berbagai pidato yang akan disampaikan di sana. Nama asosiasi baru tersebut adalah Partai Indonesia Raja, tetapi disarankan untuk tidak menggunakan singkatan PIR, melainkan "Parindra". Warna partai baru tersebut merupakan kombinasi dari warna-warna asosiasi yang akan digabung, yaitu hijau-merah PBI dan putih-merah BO dalam warna hijau, merah, dan putih’. 

Lantas mengapa Partai Indonesia Raya (Parindra) didirikan? Yang jelas nama Indonesia Raya sudah muncul sebagai lagu kebangsaan pada saat Kongres Pemoeda Indonesia tahun 1928 di Batavia. Lagu Indonesia Raya tersebut diciptakan oleh WR Soepratman yang direkam oleh Yokimtjan, Populair Orchest dari Toko Popular di Pasar Baroe tahun 1927. 


Indonesia Raya dalam bahasa Belanda adalah Groot IndonesiĆ« yang merujuk pada semua wilayah Hindia Belanda (wilayah Hindia yang dikuasasi Belanda—tidak termasuk The Straitsettlement yang dikuasai Inggris). Sebutan Indonesia Raya sudah eksis sebelum nama itu digunakan WR Soepratman sebagai nama lagu (lihat Oetoesan Melajor, 14-21 Januari 1926 No. 6-9). Sebutan Indonesia Raya menguat pada masa Kongres Pemoeda tahun 1926 sebagai advokasi propaganda dalam arti terbebas dari Belanda yang menjadi lawan dari sebutan Groot Nederland. Nama Indonesia Raja juga digunakan sebagai nama perusahaan di Medan, perusahaan yang menerbitkan surat kabar Matahari Indonesia (menggantikan Benih Timoer) yang mana disebut pemimpin redaksi sementara adalah Mr Koesoemo Soemantri (lihat Het Indische volk; weekblad van de Afdeeling Batavia der Soc. Dem. Arbeiderspartij, jrg 11, 1928, no. 23, 20-08-1928). Setelah lagu Indonesia Raya karya WR Soepratman diperdengarkan dalam Kongres Pemoeda 1928, lalu organisasi Indonesia Moeda yang terbentuk menggunakan nama Indonesia Raja sebagai nama organ/majalahnya (lihat Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 13-02-1929). 

Platform Partai “Indonesia Raya” kurang lebih sama dengan platform Partai Bangsa Indonesia (PBI) sebelumnya, yakni bersifat co-operative (berparlemen) untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia: kemerdekaan Indonesia. Parlemen dalam hal ini adalah Dewan Rakyat (Volksraad) di Batavia. Lalu bagaimana munculnya gerakan non-cooperative di Indonesia? 


Di mulai tahun 1882 oleh Eekhoud untuk menggugat Pemerintah Hindia Belanda yang banyak korupsi dan abaikannnya orang-orang Indo. Gerakan ini meredup karena ditekan oleh pemerintah. Gerakan itu kembali menguat pada akhir tahun 1890an yang mana kemudian pada tahun 1898 dibentuk organisasi orang-orang Indo dengan nama Indischen Bond. Lalu kemudian disusul didirikannya di Belanda Vereeniging Oost en West dan Vereeniging Moederland en Kolonien. Bersamaan dengan itu, diantara golongan pribumi, mulai dan dapat dikatakan yang pertama dibentuk organisasi kebangsaan pribumi di Padang yang diberi nama Medan Perdamaian pada tahun 1900. Pada tahun 1907 sebagian dari anggota Indischen Bond memisahkan diri yang kemudian mendirikan Vereeniging Insulide, yang mana organisasi rang-orang Indo ini juga merangkul orang-orang pribumi. Hingga sejauh ini sudah ada dua organisasi orang-orang Indo yang mencoba untuk berjuang untuk memisahkan Hindia Belanda dari Kerajaan Belanda (dalam satu persemakmuran). Lalu pada tahun 1908 di Belanda para mahasiswa Indonesia membentuk organisasi yang diberi nama Indische Vereeniging. Gerakan radikan sendiri baru muncul tahun 1912. Suatu komite (Indische Partij) yang dibentuk di Bandoeng oleh EFE Douwes Dekker melakukan kudeta di tubuh Indische Bond di Batavia pada bulan Agustus 1912. Komite Inidsche Partij ini kemudian merangkul orang-orang pribumi seperti Dr Tjipto Mangoenkoesoemo. Lalu pada bulan Desember 1912 secara resmi didirikan Indische Partij di Bandoeng, partai yang mengusung non-cooperative untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Sementara itu, Indische Bond dan Insulinde di Indonesia pada satu sisi dan Indische Vereeniging di Belanda di sisi lain, sama-sama mengusung pendekatan cooperative. Sebagaimana diketahui para pemimpin Indische Partij (EFE Douwes Dekker, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat pada tahun 1913 diasingkan ke Belanda. Indische Partij lalu dilarang. Para eks Indische Partij bergabung dengan Vereeniging Insulinde. Dalam perkembangannya ISDV di Soerabaja yang sudah mengadopsi paham komunis mengubah platformnya menjadi non-cooperative hingga terbentukanyan Partai Komunis Indonesia yang dipimpin Semaoen dkk. Pada tahun 1913 Dr Tjipto Mangoenkoesoemo kembali ke tanah air. Para aktivis PKI ini menyusup ke Sarikat Islam yang menyebabkan terbentuk dua paksi (SI Putih dan SI Merah). Sekembalinya di tanah air tahun 1919. Soewardi Soerjaningrat bergabung dengan Insulinde. Dalam pertemuan yang diadakan di Semarang, Insulinde diubah namanya menjadi Nationaal Indische Partij yang kemudian platformnya juga diubah dari cooperative menjadi non-cooperative. Gerakan non-ccoperative ini semakin masif. Para pimpinan PKI ditangkap, Tan Malaka diasingkan ke Belanda pada tahun 1922, lalu kemudian menyusul pengusiran Semaoen pada tahun 1923. Nationaal Indische Partij sendiri, karena statuta tetap tidak diterima pemerintah, akhirnya pada tahun 1923 pengurus pusat Nationaal Indische Partij di Semarang menyatakan partai dibubarkan. Dr Tjipto Mangoenkoesoemo kemudian memilih tinggal di Bandoeng (dan Soewardi Soerjaningrat tetap di Jogjakarta). Sementara itu di Belanda, pada tahun 1924 Indische Vereeniging “dikudeta” oleh para mahasiswa yang berpaham radikal (non-cooperative). Sejak inilah platform Indische Vereeniging berubah dari cooperative menjadi non-cooperative. Lalu, alumni-alumni Indische Vereeniging yang kembali ke tanah air sudah terbelah: paksi cooperative dan paksi non-cooperative. Pengurus Indische Vereeniging memecat sejumlah anggota senior seperti Noto Soeroto dan JB Sitanala. Saat organisasi dipimpin oleh Soekiman dkk tahun 1925 bahkan menuding studi klub Indonesia yang baru didirikan di Soerabaja tahun 1924 (Dr Soetomo, Mr Singgih dkk) sebagai organisasi pemecah belah bangsa. Pada tahun 1926 Mr Sartono dkk yang baru tiba dari Belanda mendirikan organisasi Persatoean Indonesia. Keterlibatan PKI dalam pemberontakan tahun 1926 lalu menyebabkan PKI dilarang pemerintah tahun 1927. Pada tahun 1927 ini di Bandoeng didirikan Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) (dengan ketua Mr Ishak, juga belum lama pulang dari Belanda) dimana didalamnya turut bergabung Ir Soekarno dan Mr Sartono. Lalu kemudian PNI diubah namanya menjadi Partai Nasional Indonesia. Seiring dengan pembentukan organisasi PPPKI pada akhir tahun 1927, PNI mulai mengusug platform non-cooperative. Pada tanggal 30 Desember 1927, Dr Tjipto diasingkan ke Banda. Pasca Kongres PPPKI kedua di Solo pada akhir tahun 1929, Ir Soekarno dkk ditangkap, ditahan dan kemudian diadili. Pada bulan April 1930, Mr Sartono membubarkan PNI, tetapi kemudian Mr Sartono dkk mendirikan Partai Indonesia (Partindo). Lalu kemudian sisa eks PNI mendirikan Partai Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-baru). Keduanya juga mengusung non-cooperative. Pada akhir tahun 1930 Mohamad Tabrani, Dr Mohamad Amir dkk mendirikan Partai Rakyat Indonesia (PRI) dengan sifat cooperative dan kemudian disusul studi klub Soerabaja yang dipimpin Dr Soetomo diubah menjadi partai dengan nama Partai Bangsa Indonesia (PBI) dengan platform cooperative. Pada tahun 1931 dibentuk Partai Republik Indonesia di pengasingan oleh Tan Malaka dkk. Sementara itu di tubuh Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII) terjadi perpecahan yang menyebabkan terbentuk partai-partai baru seperti Partai Islam Indonesia (PARII) yang dipimpin oleh Dr Soekiman dkk. Dalam hal ini Dr Soekiman adalah mantan ketua Indische Vereeniging di Belanda. Bagaimana dengan Ir Soekarno? Setelah dibebaskan dari penjara tahun 1931 bergabung dengan Partindo. Lagi-lagi Ir Soekarno ditangkap dan ditahan lalu pada bulan Februari 1934 diasingkan ke Flores. Dalam konteks inilah kemudian dibentukan Partai Indonesia Raya (Parindra) pada bulan Desember 1935.     

Terbentuknya Parindra (Partai Indonesia Raya) sejatinya tidak tiba-tiba. Seperti disebut di atas, pada tahun 1930 sudah terbentuk Partai Indonesia (Partindo), Partai Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-baru) dan Partai Bangsa Indonesia (PBI) di Soerabaja. Lalu kemudian terbentuk lagi partai baru pada bulan Desember 1930 di Batavia yang diberi nama Partai Rakyat Indonesia (PRI). Dalam konteks inilah terinformasikan Boedi Oetomo ingin melakukan merger.

 

De Amstelbode, 01-01-1931 BATAVIA, 31 Desember (Aneta). Surat kabar Bintang Timoer memberitahukan bahwa Sarekat Soematra, Kaoem Betawi, Sarekat Celebes, Sarekat Ambon, Boedi Oetomo, dan Pasoendan sedang mencari cara untuk melakukan merger. Jika rencana ini terwujud, Partai Rajat Indonesia yang dipimpin oleh Tabrani akan dikeluarkan dari rencana tersebut’. 

Pada tahun 1933 para revolusioner Indonesia terus berjuang, namun tekanan dari pemerintah juga semakin ketat. Partai-partai non-cooperative dan pers pribumi yang bersifat radikal juga dalam pengawasan. Akhirnya puluhan surat kabar dan majalah pribumi yang revolusioner (radikal dan ekstrim) dibereidel pemerintah termasuk surat kabar Bintang Timoer (Parada Harahap), Pewarta Deli (Abdoellah Loebis), Fikiran Rak’jat (Ir Soekarno), Daoelat Rakjat (PNI-baru/Drs Mohamad Hatta) dan Soeara Oemoem (PBI/Dr Soetomo). Dalam konteks inilah kemudian Ir Soekarno pada bulan Agustus 1933 ditangkap. Lalu, sehubungan dengan munculnya rumor bahwa Ir Soekarno akan diasingkan ke Flores, Parada Harahap memimpin tujuh revolusioner Indonesia berangkat ke Jepang pada bulan November 1933. Dalam konteks inilah terinformasikan Boedi Oetomo dan PBI akan merger. 


Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 10-01-1934: ‘Penggabungan Boedi Oetomo dan PBI. Usulan yang Sedang Dikaji. PBI di Surabaya telah menyelenggarakan konferensi di bawah kepemimpinan Dr Soetomo, di mana, antara lain, usulan cabang Semarang dari "Boedi Oetemo" untuk melakukan merger dengan PBI dibahas. Diputuskan untuk membentuk komite untuk mempelajari usulan "Boedi Oetomo" akan mengambil dan menyerahkan laporan mengenai hal tersebut. Ir. Soekarno. Tidak Ada Pengumpulan Dana. Dunia masyarakat pribumi menerima dekrit pengasingan Ir Soekarno dengan ketenangan yang luar biasa. Tidak ada protes yang diajukan terhadap tindakan pemerintah tersebut. Pemandangan menarik perhatian pada bahwa brosur Ir Soekarno, fakta yang menyebabkan penangkapannya, tidak boleh dianggap berbahaya seperti yang ditulis pada saat itu oleh Drs Hatta dengan judul “Indonesia Vrij” (1926). Namun, surat kabar lokal memuat protes terhadap laporan AID, yang menyatakan bahwa pengumpulan dana sedang dilakukan untuk pesta perpisahan di rumah Ir Soekarno pada kesempatan keberangkatannya ke Flores. Dalam hal ini, kita mengetahui bahwa tidak mungkin ada perpisahan pribadi untuk Ir Soekarno. Soekarno di rumahnya di Astana-anjer, Bandung, karena Gubernur Jenderal telah menandatangani dokumen yang menyatakan bahwa Soekarno akan tetap ditahan sampai saat (yang mungkin terjadi dalam beberapa hari) ia berangkat dengan feri satu hari ke Surabaya untuk melanjutkan perjalanan ke Flores, dan langsung menuju Flores dengan kapal KPM. Istrinya akan ikut dalam pengasingan sukarela bersamanya’. 

Ir Soekarno telah diberangkatkan ke Flores pada pertengahan Februari 1934 (dari Bandoeng melalui Soerabaja). Seminggu kemudian, para pemimpin PNI-baru (Daoelat Rakjat) seperti Mohamad Hatta dan Soetan Sjahrir ditangkap. Parada Harahap sepulang dari Jepang juga ditangkap dan ditahan. Selama introgasi, yang juga menghadirkan Konsulat Jepang sebagai saksi, akhirnya dibebaskan, Namun Mohamad Hatta yang juga pulang dari Jepang tetap ditahan, karena sejumlah artikel yang dimuat di majalah Daoelat Rakjat.

 

Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 07-03-1935: ‘Partai PARII. Kami mendapat informasi bahwa cabang Semarang dari Partai PARII sedang mempersiapkan pembentukan cabang Kudus dari partai ini. Sebuah komite sementara telah dibentuk di Kudus. Cabang Semarang telah menunjuk Al Hakim sebagai ketua untuk tahun 1935. Dewan eksekutif baru partai ini, yang berbasis di Djokja, terdiri dari Kjai Tauffiqurrachman, ketua, Amir, sekretaris dan Dr Soekiman, bendahara. Dengan demikian, tampaknya mantan pemimpin, Dr Soekiman, saat ini hanya memegang posisi bawahan. Sejak Desember, partai tersebut telah menerbitkan majalah bulanan sendiri yang berjudul "Damai", yang diedit oleh ketua. Editor majalah tersebut telah dipanggil oleh polisi tiga kali sehubungan dengan pelanggaran penulisan’. 

Sejumlah tokoh revolusioner Indonesia yang bersifat non-cooperative sudah diasingkan. Pada tahun 1922 Tan Malaka mengasingkan diri ke Belanda dan kini aktif di pantai timur Tiongkok (Amoy); Semaoen diusir dari Indonesia tahun 1923. Sejumlah toko PKI yang terlibat dalam pemberontakan komunis pada tahun 1926 telah diasingkan ke Boven Digoel. Lalu pada tahun 1927 Dr Tjipto diasingkan ke Banda. Pada tahun 1929 giliran Mr Iwa Koesoema Soemantri yang diasingkan (juga ke Banda). Lalu yang terakhir, Ir Soekarno pada bulan Februari 1934 ke Ende di Flores.

 

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 21-05-1935: ‘Ir. Soekarno bertani di Flores. Ia telah menjadi petani yang baik. Surat kabar Indonesia Berdjoang (Surabaya) menerbitkan surat dari Ir. Soekarno, yang melaporkan bahwa ia bertani di tempat pengasingannya di Endeh (Flores). Ia sendiri telah membajak sebidang tanah dan menanam berbagai macam tanaman. Beberapa hari yang lalu panen dimulai, di mana ia sendiri dengan antusias ikut membantu. Orang-orang di kalangan mantan rekan partai Soekarno sangat bangga bahwa Soekarno sekarang melakukan pekerjaan pertanian sederhana dan menjadikannya contoh bagi "kelas atas", yang, meskipun dalam kesulitan zaman, meremehkan pekerjaan pertanian’. 

Tokoh revolusioner Indonesia lainnya yang non-cooperative kini tengah berada di tahanan seperti dari pimpinan PNI-baru antara lain Mohamad Hatta, Soetan Sjahrir dan Abdoel Moerad Loebis. Tekanan terhadap para revolusioner Indonesia semakin dirasakan orang Indonesia sebagai pembungkaman. Lantas bagaimana dengan tokoh-tokoh revolusioner lainnya yang non-cooperative maupun yang cooperative? Dr Soekiman yang dulu sangat garang di Belanda (Indische Vereeniging), tampanya kini terkesan lesu darah.

 

Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 01-08-1935: ‘Nasionalis ekstrim. Agitasi Sepenuhnya Lumpuh. Editor kami di Djokja melaporkan: Sebuah laporan aneh baru-baru ini muncul di sepuluh surat kabar Eropa, yang intinya sebagai berikut: pemindahan markas PNI dari Semarang ke Djokja terjadi karena situasi di Semarang menjadi terlalu panas. Meskipun tidak dinyatakan secara gamblang, kesimpulan yang dapat ditarik dari laporan tersebut adalah bahwa Djokja dan sekitarnya akan menjadi surga bagi nasionalis ekstrem. Namun, kenyataan menunjukkan gambaran yang sangat berbeda. Partai Islam Indonesia (PARII), yang memisahkan diri dari Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) di bawah Dr Soekiman, tidak melakukan tindakan politik apa pun, karena hal itu akan sangat merugikan para pemimpinnya. Para pemimpin PNI segera dibawa ke hadapan hakim distrik ketika mereka yakin dapat menyerahkan markas mereka di Djokja. Mereka lebih memilih hukuman pengganti daripada membayar denda yang besar dan sekarang telah diberi kompensasi selama dua bulan. Para pemimpin utama PNI melakukan tur keliling Jawa Timur dan Jawa Tengah, yang sebagian besar berlangsung tanpa gangguan. Hanya Djokja yang memicu penuntutan karena mengadakan pertemuan tanpa izin yang diperlukan, karena hak berkumpul yang terbatas. Mantan klien Digoel tetap sangat tenang dan lebih memilih untuk tidak ikut campur dalam politik, karena mereka berada di bawah pengawasan permanen. Persarikatan Kaoem Tani Indonesia, yang sangat aktif di kawasan bisnis, terutama di wilayah Madiun, telah mengancam beberapa waktu lalu untuk memulai aksi di wilayah ini juga, tetapi belum mampu mendapatkan pijakan di mana pun. Seperti yang dapat dilihat, tidak banyak yang tersisa dari kepemimpinan nasionalis ekstrem setelah semua ini. Tiga pemimpin Persatoean Marhaeni Indonesia, gerakan perempuan Jawa ekstrem, telah ditahan sejak Rabu pagi. Diketahui bahwa ketiga pemimpin tersebut dijatuhi hukuman denda berat oleh hakim distrik karena mengadakan pertemuan terbuka seperti di Diponegoro. Petisi kasasi kemudian diajukan oleh seorang pengacara, sebagian dengan alasan bahwa dua dari tiga perempuan yang dihukum tersebut adalah kerabat dekat Sultan dan oleh karena itu seharusnya diadili di pengadilan kraton. Petisi kasasi ini kemudian ditolak, dan karena Sri Panggian, Moerdyah, dan Inergiah (terjemahan bahasa Jawa untuk energi) tidak mampu membayar denda, mereka dipenjara pada hari Rabu selama 50, 60, dan 20 hari berturut-turut! Sekolah liar Sri Panggian ditutup lebih awal, setelah izin mengajar beberapa guru dicabut. Berikut adalah gambaran singkat dan sangat faktual tentang sejarah terkini para pemimpin nasionalis ekstrem di Yogyakarta, yang darinya menjadi cukup jelas bahwa anggapan bahwa daerah ini menawarkan lahan subur yang sangat baik harus dianggap sangat naif’. 

Seperti disebut di atas, pada akhir tahun 1935 telah didirikan partai baru dengan nama Partai Indonesia Raya yang disingkat Parindra (gabungan dari PBI dan Boedi Oetomo). Yang menjadi ketua Parindra adalah Dr Soetomo (mantan ketua PBI). Partai Parindra bersifat cooperative (berparlemen) untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Mohamad Hatta Diasingkan ke  Digoel, Tjipto Mangoenkoesoemo di Band; Dr Tjipto Mangoenkoesoemo. Mr Iwa Koesoema Soemantri, Drs Mohamad Hatta dan Soetan Sjahrir di Banda

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Klub Como 1907”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia di Jepang”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar