Rabu, 18 Maret 2026

Sejarah Jepang (16): Tragedi di Nagasaki dan Hiroshima Tahun 1945; Kini, Apakah Sekutu Masih Tetap Dipimpin oleh Amerika Serikat?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jepang dalam blog ini Klik Disini 

Entah mengapa saya teringat bagaimana terjadi tragedi Nagasaki dan Hirosima tahun 1945. Namun ini hanya soal bagaimana sejarah itu terjadi. Saya tidak berpikir tentang apa yang terjadi dengan perang antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran di Selat Hormuz. Pada tahun 1945 Amerika Serikat didukung oleh Sekutunya. Sementara pada tahun ini, Israel didukung oleh Sekutunya yakni Amerika Serikat. Kalau dulu Amerika Serikat maju dengan slogan “Ini Perang Kami”. Sementara di Selat Hormuz: “Ini Perang Mereka”, Kami hanya mendukung Israel. Apakah itu benar? Saya teringat Nagasaki dan Hirosima. Buku-buku yang Sudah Diterbitkan


Tragedi Hiroshima dan Nagasaki adalah peristiwa pengeboman atom oleh Amerika Serikat terhadap dua kota di Jepang pada akhir Perang Dunia II, tepatnya pada 6 dan 9 Agustus 1945. Peristiwa ini merupakan satu-satunya penggunaan senjata nuklir dalam konflik bersenjata sepanjang sejarah manusia dan menyebabkan kehancuran total serta korban jiwa yang sangat besar. Pada tanggal 6 Agustus 1945 di Hiroshima pesawat B-29 bernama Enola Gay menjatuhkan bom atom jenis uranium bernama "Little Boy". Ledakan ini menewaskan sekitar 140.000 orang hingga akhir tahun 1945. Pada tanggal 9 Agustus 1945 di Nagasaki, tiga hari kemudian, bom plutonium bernama "Fat Man" dijatuhkan di Nagasaki, yang mengakibatkan kematian lebih dari 70.000 orang. Total korban tewas diperkirakan mencapai antara 150.000 hingga 246.000 orang, sebagian besar merupakan warga sipil. Banyak korban yang selamat (Hibakusha) menderita luka bakar parah dan penyakit akibat radiasi jangka panjang. Pengeboman ini memaksa Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945, yang secara resmi mengakhiri Perang Dunia II. Hingga saat ini, lokasi pengeboman seperti Hiroshima Peace Memorial (Genbaku Dome) menjadi pengingat sejarah bagi dunia tentang bahaya senjata nuklir dan pentingnya perdamaian (AI Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah tragedi Nagasaki dan Hirosima Tahun 1945? Seperti disebut di atas, gagasan penulisan artikel karena teringat saja. Fakta bahwa pada hari ini terjadi perang Israel dan Amerika Serikan versus Iran (yang berpusat di selat Hormuz). Apakah ada kesamaan antara Perang Dunia dan Sekutu Dipimpin Amerika Serikat tempo doeloe di Jepang dengan di selat Hormuz sekarang. Lalu bagaimana sejarah tragedi Nagasaki dan Hirosima Tahun 1945? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.  Pengantar Metode Riset Bisnis

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah ahli sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah. 

Tragedi di Nagasaki dan Hiroshima Tahun 1945; Kini, Apakah Sekutu Masih Tetap Dipimpin oleh Amerika Serikat?

Babak baru dalam permulaan puncak Perang Asia Pasifik dimulai. Ini setelah Amerika dengan angkatan lautntyaa telah menyapu kekuatan angkatan laut Jepang di Pasifik bagian barat hingga Papua, Morotai dan pulau-pulau di Filipina. Sementara itu sekutu Amerika di Eropa telah mampu menekan Jerman di wilayah-wilayah pendudukannya seperti Belanda dan Belgia. Amerika Serika di Pasifik barat bagaiman Lone Ranger mendekati pusat kekuatan militer Jepang di pulau-pulau besar Jepang. Angkatan laut Amerika Serikat memulainya di (kepulauan) Okinawa (antara pulau Formosa di selatan dan pulau Honshu di utara. 


Provinciale Zeeuwsche courant, 04-04-1945: Pendaratan baru di Timur Jauh. Operasi di Okinawa terus berjalan sesuai rencana. Pulau itu kini terbagi menjadi dua bagian. Pasukan Amerika mendekati ibu kota, Naki. Sejauh ini, sedikit perlawanan yang dihadapi. Aktivitas juga tidak berhenti di bagian lain Pasifik. Satu pendaratan diikuti pendaratan lainnya. Misalnya, pasukan mendarat di Koenki, 80 km sebelah timur Okinawa, dan melanjutkan ke Pulau Tani Tani, 50 km sebelah selatan Borneo. Pendaratan baru juga dilakukan di ujung tenggara Luzon. Jepang kini terkepung di sana. Kota Legaspi dan San Pablo telah direbut. Pendaratan di Okinawa melibatkan 1.400 kapal, 1.500 pesawat, dan 100.000 orang. Pulau ini memiliki panjang lebih dari 100 km dan sempit. Letaknya 700 km barat daya dari Nagasaki dan 800 km dari Shanghai. Ibu kotanya memiliki 60.000 penduduk. Di tengah-tengah antara Okinawa dan Shanghai terdapat jalur pelayaran ke Formosa. Serangan udara terhadap Jepang akan meningkat setelah pulau itu berada di tangan Amerika. Oleh karena itu, Okinawa akan terbukti menjadi sasaran yang sulit ditaklukkan, tetapi ada sasaran lain (termasuk Leyte). Jika Okinawa direbut, itu akan menjadi benteng pertama Jepang yang ditaklukkan. Pesawat tempur Flying Fortress Amerika menyerang tiga kota di Jepang (BBC). Foto: Target Tokio. Asap mengepul dari Tokyo setelah salah satu serangan oleh pesawat tempur Superfortress Amerika (lihat Amigoe di Curacao, 10-01-1945)

Kehadiran angkatan laut Amerika Serikat di (kepulauan) Okinawa seakan ingin memecah garis hubungan militer Jepang, yang berada di tanah air (Jepang) maupun yang berada di manca negara seperti di Filipina dan Indonesia. Kekuatan militer Jepang, terutama di Indonesia bagian barat (Sumatra, Jawa dan Kalimantan serta Sulawesi) bukan tandingan bagi sekutu Amerika (Inggris/Australia). Namun dengan dukungan angkatan laut Amerika, Australia/Inggris sudah mulai mampu merebut pos militer Jepang di pulau-pulau Pasifik baru termasuk bagian timur pulau Papua. 


Lantas mengapa Amerika Serikat sangat bernafsu untuk menyerang militer Jepang di wilayah Jepang sendiri? Tentu saja Amerika Serikat memiliki utang terhadap Jepang yang harus segera dibayar. Sebagaimana diketahui, Jepang menyerang pangkalan laut Amerika Serikat di Pearl Harbor, Hawaii, pada Minggu pagi, 7 Desember 1941. Serangan mendadak yang dimulai sekitar pukul 07:55 waktu setempat ini melibatkan pesawat tempur Jepang dan mengakibatkan kerusakan besar pada Armada Pasifik AS serta menandai masuknya Amerika Serikat secara resmi ke dalam Perang Dunia II. Perlu dicatat bahwa pada bulan Desember 1941 angkatan udara Jepang sudah mulai memborbardir wilayah Asia Tenggga termasuk di Tarempa (Natura) tanggal 20 Desember 1941. Setelah itu pada tanggal 8 Maret 1942 Pemerintah Hindia Belanda menyatakan takluk kepada pimpinan militer Jepang. Foto: Sebuah kawasan kota modern di Tokio, ibu kota Kekaisaran Jepang, yang menjadi pusat perhatian seluruh dunia akibat pengumuman radio yang sensasional (lihat Nieuwe Haarlemsche courant, 10-08-1945)

Di Eropa pasukan Sekutu semakin menunjukka hasil. Wilayah Belanda pada 5 Mei 1945 terbebas dari pendudukan Jerman Nazi. Pada tanggal ini, seluruh pasukan Jerman di Belanda menyerah kepada pasukan sekutu (Kanada) di Wageningen. Negara-negara Eropa lainnya yang juga terbebas dari kekuasaan Nazi Jerman pada periode Maret-Mei 1945 meliputi Denmark, Norwegia, serta sebagian besar wilayah timur Jerman yang kemudian diduduki oleh Uni Soviet dan dibagi menjadi wilayah Polandia/Rusia. 


Groninger dagblad, 01-06-1945: ‘Sekutu menghancurkan industri perang Jepang; Ranjau memutus jalur pasokan. Daily Mail edisi Senin menulis bahwa pemboman Jerman baru mencapai potensi penuhnya setelah bertahun-tahun, sedangkan penghancuran sistematis potensi perang Jepang akan memakan waktu beberapa bulan. Meskipun demikian, perlawanan Jepang sangat sengit; dua kali lipat artileri anti-pesawat yang digunakan untuk mempertahankan Berlin dikerahkan di sekitar Tokyo. Ranjau udara fosfor, roket, dan berbagai senjata baru, yang detailnya belum dirilis, sedang melawan benteng-benteng super. Dari senjata-senjata baru ini, yang paling menonjol adalah "bola api" yang, menurut awak pesawat, merupakan reproduksi V1, diluncurkan dari pesawat induk dan dipiloti oleh pilot bunuh diri. Mereka mencoba menabrak pesawat Sekutu. Hampir pasti bahwa pertahanan Tokyo diorganisir sesuai dengan rencana, jika bukan di bawah komando sebenarnya, para jenderal "Luftwaffe" Jerman. Di atas Jepang, badai begitu hebat sehingga pesawat di atas Tokyo terkadang mengukur kecepatan angin 250 mil per jam. Ini berarti bahwa, terbang melawan angin, mereka tetap berada tepat di atas senjata anti-pesawat. Jika mereka terbang searah angin, mustahil untuk membidik bom dengan akurat. Pada ketinggian yang lebih rendah, angin kurang kencang, dan karena pengalaman menunjukkan bahwa Jepang sangat buruk dalam membidik dengan senjata anti-pesawat, mereka tidak lagi terbang terlalu tinggi. Terlebih lagi, ini membawa keuntungan bahwa setiap pesawat sekarang dapat membawa 10 ton bom, yaitu empat kali lebih banyak daripada yang dibawa oleh Flying Fortress lama ke Berlin. Tidak akan ada serangan seribu pesawat di daerah ini; kerusakan yang disebabkan oleh 500-600 Flying Fortress sudah cukup. Industri perang Jerman tersebar di sekitar 50 kota. Kawasan industri Jepang tidak memiliki kredibilitas; ada tujuh pusat yang dapat dieliminasi dalam beberapa bulan, yaitu: Tokyo Raya, dengan Yokohama dan Akawasaki; Kobe dan Osaka; Nagoya, Yawate dan Shimonoseki; Nagasaki dan Sasebo dan Omura; Daerah Kura dan Hiroshima; dan Kyoto. Industri berat Jepang di Tiongkok dan Korea terputus dari tanah air Jepang karena pemasangan ranjau secara sistematis. Selama serangan terbaru di Tokyo Selasa lalu, menurut Radio Tokyo, 60.000 rumah hancur dan ratusan ribu penduduk kehilangan tempat tinggal. Laporan Amerika menyatakan bahwa 2.500 pesawat Jepang hancur hanya pada bulan April, yaitu 1/8 dari jumlah total. Pagi ini Osoka diserang hebat oleh 450 Flying Fortress, dikawal oleh 150 Mustang, yang menjatuhkan 3.200 ton bom pembakar. Dalam tiga bulan, 58.000 ton bom dijatuhkan di Jepang, melumpuhkan 43 pabrik senjata utama, termasuk 16 di Tokyo, 17 di Nagoya, dan 7 di Osaka. Pendaratan di Tiongkok diperkirakan akan terjadi. Sekarang setelah Tiongkok merebut Fuchau beberapa waktu lalu, pendaratan cepat di pantai Tiongkok sangat mungkin terjadi. Dalam konteks ini, pembombardiran intensif terhadap Formosa, yang terletak di seberang pelabuhan ini, kepulauan Sakashimara di sebelah timurnya, dan Kyushu menjadi sangat penting. Dari Fuchau hingga Hong Kong, garis pantai sangat cocok untuk operasi amfibi. Kontribusi Belanda. Bapak Van Mook telah mengumumkan di San Francisco bahwa Belanda akan mengirim 200.000 orang ke Timur Jauh dengan peralatan transportasinya sendiri. Sekutu akan menyediakan peralatannya’. Foto: Dua anggota kru terluka ketika pesawat B-29 terbakar setelah melakukan pendaratan darurat di Iwo Jima, dalam perjalanan pulang dari serangan ke Tokyo. Orang-orang di latar depan berjongkok di samping jip untuk menghindari terkena ledakan amunisi (lihat Amigoe di Curacao, 04-06-1945)

Kekuatan militer Jepang tampaknya telah diisolasi. Tidak hanya karena kehadiran pangkalan Amerika Serikat di Okinawa yang memisahkan negara induk dengan wilayah-wilayah pendudukan di selatan (termasuk Indonesia), juga dengan kantong-kantong kekuatan militer di pantai timur Tiongkok seperti Korea, pulau Fuchau dan Hong Kong. Dengan situasi dan kondisi tersebut, para analisis perang sudah mulai bertanya-tanya seberapa lama lagi Jepang akan mampu bertahan? Tentu saja orang-orang Belanda di berbagai tempat akan senang mendengar kemajuan tersebut. 


Trouw, 09-06-1945: ‘Tinjauan Mingguan Luar Negeri. Berapa lama Jepang akan bertahan? Perang telah berjalan jauh dari menguntungkan bagi Jepang selama setahun terakhir, dan muncul pertanyaan: "Berapa lama Jepang akan bertahan?" Tidak diragukan lagi bahwa jika Jepang dapat menarik diri dari perang dengan cara yang bermartabat, mereka akan melakukannya. Mereka tahu bahwa hari-hari mereka sudah dihitung. Jika mereka dapat berdamai dengan Amerika dan Inggris dengan melepaskan wilayah taklukannya, perang akan berakhir dengan cepat. Tetapi mereka juga tahu bahwa Sekutu telah mengajukan tuntutan yang sama untuk negara ini seperti untuk Jerman, yaitu penyerahan tanpa syarat, dan itu adalah sesuatu yang tidak dapat disetujui oleh pemerintah Jepang mana pun. Bagaimanapun, ini berarti pendudukan tanah air dan pengembalian semua wilayah taklukannya di daratan Asia (Mantsjokewo, antara lain). Oleh karena itu, cukup pasti bahwa mereka akan berjuang sampai nafas terakhir mereka. Serangan udara sedang berlangsung. Pesawat-pesawat tempur super-benteng, yang berbasis di Marinir, menjatuhkan bom mereka di Jepang hampir setiap hari. Pesawat-pesawat pengebom ini memiliki tugas yang lebih mudah di Jepang daripada di Jerman. Perlawanan dari pesawat tempur Jepang tergolong ringan, dan hambatan terbesar adalah tembakan anti-pesawat. Tembakan ini sangat hebat. Tokyo sendiri dipertahankan oleh artileri anti-pesawat dua kali lebih banyak daripada sebelumnya. Berlin tetap berdiri, dan 200 lampu sorot ditempatkan di sekitar kota. Artileri tersebut sebagian besar buatan Jerman. Artileri itu dibawa ke Jepang oleh kapal selam Jerman atau diproduksi di sana sesuai rencana Jerman. Namun, dan ini merupakan faktor yang sangat penting, teknologi Jepang untuk mendeteksi pesawat di langit berawan tertinggal bertahun-tahun dari Jerman. Akibatnya, Tokyo dibom dari ketinggian kurang dari 2.000 m saat awan sangat tipis, sesuatu yang tidak akan pernah dilakukan oleh pesawat pengebom berat di Berlin. Tidak heran Perdana Menteri Jepang harus mengakui bahwa Tokyo mengalami kerusakan yang tidak dapat diperbaiki. Ada faktor lain yang berperan. Di Jerman, target industri tersebar di lebih dari 50 area, yang masing-masing harus dibom secara individual. Di Jepang, seluruh industri perang praktis terkonsentrasi di sekitar tujuh kota. Patut disebutkan kota-kota ini. Kemudian akan terlihat bahwa kota-kota tersebut dihancurkan satu per satu oleh angkatan udara Amerika. Mereka adalah Tokyo dengan Yokohama, Kobe dan Osaka, Nagoya, Yawata dan Shimonoseki, Nagasaki dan sekitarnya, dan sekitar Hiroshima dan Kyoto. Para ahli memperkirakan bahwa Amerika akan berhasil melumpuhkan industri perang Jepang dalam beberapa bulan. Bagi armada Jepang, ini adalah sebuah keajaiban. Satu-satunya tujuan para laksamana Jepang adalah untuk menjaga armada mereka agar tidak terlibat dalam pertempuran sebisa mungkin. Mereka tidak dapat mengambil risiko kehilangan kapal-kapal mereka, dan dengan demikian negara mereka, dalam pertempuran beberapa jam. Tentara Jepang masih kuat. Jumlahnya lebih dari empat juta tentara yang dilengkapi dengan baik dan bertekad. Namun, yang membuat kampanye Jepang begitu rumit adalah kenyataan bahwa industri berat Jepang terutama berbasis di daratan Asia. Ada industri besi dan baja, cadangan batubara, dan pabrik-pabrik untuk minyak sintetis dan bensin. Selama Jepang dapat dipasok dengan perbekalan dari Manchuria dan Cina melalui Selat Korea yang sempit, tidak ada akhir yang cepat yang dapat diharapkan dari perang ini. Semangat di antara pasukan Jepang sangat baik. Pendaratan di Okinawa membuktikan hal ini. Amerika tiba di sana pada tanggal 1 April, dan pulau itu masih belum direbut. Singkatnya, kita dapat dengan aman mengatakan bahwa pemboman udara terhadap Jepang akan segera meningkat, tetapi penyerahan total negara terakhir Poros mungkin masih membutuhkan waktu lama’. Foto: Menurut Radio Tokyo, 150 pesawat Amerika, termasuk Superfort, melancarkan serangan siang hari terhadap lapangan terbang dan target militer di distrik Tokyo, Yokohama, dan Osaka. Pesawat B-29 beraksi (lihat De typhoon, 09-07-1945)

Kota-kota industri perang Jepang yang terkonsentrasi di sekitar tujuh kota sudah masuk dalam daftar target yang harus dihancurkan. Akan tetapi kekuatan militer Jepang bukanlah kecil tetapi termasuk yang memiliki bilangan besar yang terdapat di Negara induk maupun wilayah-wilayah pendudukannya. Kota-kota industri perang Jepang tersebut antara lain Tokyo dengan Yokohama, Kobe dan Osaka, Nagoya, Yawata dan Shimonoseki, Nagasaki dan sekitarnya, dan sekitar Hiroshima dan Kyoto. 


Trouw, 25-07-1945: ‘Kronik hari ini. Hondo, jantung Jepang di bawah serangan. Serangan yang menentukan. Hondo (baca: Honshu) adalah nama pulau tengah kepulauan Jepang. Apa yang Jawa bagi Hindia Belanda, Hondo adalah bagi wilayah Tenno: sebuah telur, tanah tempat jantung kehidupan Jepang berdetak. Di sinilah terletak kota-kota besar: Tokyo, Yokohama, Nagoya, dan Osaka, nama-nama yang telah terdengar suram dalam beberapa minggu terakhir karena pemboman terus-menerus oleh benteng terbang super Amerika, yang menjatuhkan ribuan bom di atasnya. Hondo menyediakan Jepang, yang miskin akan sumber daya ini, dengan apa yang disebut bahan baku penting seperti minyak, batu bara, besi, dan tembaga. Tetapi itu sama sekali tidak berperan di Jepang terkait dengan jumlah besar yang dilahap oleh perang. Untuk ini, Jepang bergantung pada wilayah yang ditaklukkan di Selatan dan Korea, tetapi di antara daerah-daerah ini, di mana pasukannya terisolasi, dan tanah air, kapal-kapal Sekutu, lapangan terbang, dan tentara telah bersarang. Tak perlu diragukan lagi bahwa Jepang telah mempertaruhkan segalanya untuk mempertahankan Hondo, dan justru karena alasan itulah sangat mengejutkan bahwa armada Amerika dapat melancarkan serangan terbesarnya, tanpa hukuman dan hambatan, tepat terhadap jantung Jepang ini. Terutama kota-kota pelabuhan yang menanggung dampak terberatnya, serta ladang ranjau Hiroshima. Pengeboman angkatan laut selalu lebih tepat sasaran daripada serangan udara, dan karena itu tidak mengherankan bahwa dampak tembakan pada instalasi pelabuhan, pabrik, dan lapangan terbang pantai sangat menghancurkan. Di mana armada Jepang? Amerika menjawab pertanyaan itu dengan cara mereka sendiri. Laksamana Halsey, yang memimpin unit-unit Amerika yang bertugas melakukan pengeboman, kemarin memberi sinyal bahwa ia telah merusak parah dua kapal perang Jepang, satu kapal induk, dan tiga kapal penjelajah. Itu berarti Jepang kehilangan tiga kapal perang minggu ini, sebuah kemewahan yang tidak mampu lagi mereka tanggung setelah pertumpahan darah beberapa bulan terakhir. Selain itu, empat puluh empat pesawat Jepang hilang. Keributan di laut pedalaman. Secara historis, laut pedalaman antara Shikoku dan tanjung barat daya Hondo telah menjadi tempat perlindungan bagi armada Jepang. Bahwa tempat itu sudah lama tidak aman lagi terbukti dari serangan yang dilakukan oleh pesawat pengebom dari kapal induk terhadap kapal-kapal Jepang yang berada di sana. Sekali lagi, seluruh kawanan pesawat telah lepas landas dan membombardir kapal-kapal Jepang, baik besar maupun kecil. Fakta ketiga yang seharusnya membuat setiap orang Jepang berpikir adalah munculnya kapal selam Amerika di lepas pantai Korea. Semenanjung itu adalah jembatan penghubung Jepang di daratan Asia. Sekarang sudah tidak mungkin lagi bagi kapal-kapal besar Jepang yang membawa pasukan, material, dan kargo untuk kembali ke tanah air untuk berlayar bolak-balik. Mungkin kapal-kapal kecil akan berhasil menembus blokade, tetapi itu pun dianggap tidak mungkin. Dengan demikian, lonceng kematian sedang berbunyi di atas kekaisaran Jepang. Truman telah memperingatkan Jepang. Sekarang menyerah atau mati. Mereka akan memilih yang terakhir. Begitulah sifat orang Jepang’. Foto: Kaisar Hirohito (lihat Keesings historisch archief No. 739 (12-18 Agustus 1945)

Kekuatan militer Jepang di Negara induk khususnya di pulau Hondo (Honshu) sudah berada dalam tekanan berat. Seluruh pulau besar di Jepang ini sudah di-scanning Amerika dan Inggris. Lantas apakah Jepang akan menyerah? Tentu saja tidak. Semua unit-unit perang Jepang terus dalam siaga tinggi bahkan juga yang berada di Indonesia. Perang di darat bukan pula tandingan bagi pasukan Amerika maupun pasukan anggota Sekutunya seperti Inggris/Australia. 


Keesings historisch archief: geïllustreerd dagboek van het hedendaagsch wereldgebeuren met voortdurend bijgewerkten alphabetischen index, 29 Juli 1945-5 Aguistus 1945: ‘Perang di Timur Jauh. 29 Juli--Perdana Menteri Jepang Suzouki menolak ultimatum Sekutu. Jenderal Jiro Minami, presiden persatuan politik Jepang (totaliter), menyatakan: "Rakyat Jepang hanya bersedia berbicara tentang perdamaian ketika seluruh Asia dibebaskan dari eksploitasi Anglo-Amerika". 28 Juli—sebanyak 11 kota diperingatkan melalui serangan pamflet bahwa mereka akan dibom dalam waktu 72 jam. Sebanyak 890.000 penduduk Jepang disarankan untuk mencari keselamatan. Serangan pamflet ini berlanjut. 30 Juli--Oshima, mantan utusan Jepang untuk Berlin, yang telah diakomodasi oleh Amerika di sebuah hotel di Pennsylvania bersama dengan 192 diplomat Jepang yang ditangkap di Eropa, telah terbang ke Tokyo untuk melaporkan tentang pemerintahannya yang tanpa harapan. 1 Agustus--Sebanyak 64 kapal Jepang ditenggelamkan di Laut Pedalaman Jepang oleh pesawat angkatan laut Inggris dan Amerika; lebih dari 80 rusak. Tidak ada lagi kapal perang berat Jepang yang dapat ditemukan. Sebanyak 138 pesawat Jepang dihancurkan. Armada ke-3 menembus Teluk Suruga, hampir sejauh Tokyo, dan membombardir pangkalan kapal selam Junizoe. 2 Agustus--Sebanyak 800 pesawat tempur super-fortress menjatuhkan 6.000 bom di Hatsjisji, Toyama, Nagaoka-Mito, dan Tawaski. 3 Agustus-- Pada bulan Juli, 1.546 kapal Jepang dan lebih dari 330 pesawat dihancurkan. 5 Agustus-- Rantai Kepulauan Rioe-Kyu, yang juga termasuk Okinawa, telah ditempatkan di bawah komando MacArthur "sebagai basis untuk pembentukan pasukan invasi yang perkasa". Peta: Kota-kota yang menjadi target serangan (lihat Keesings historisch archief: geïllustreerd dagboek van het hedendaagsch wereldgebeuren met voortdurend bijgewerkten alphabetischen index, 29 Juli 1945-5 Aguistus 1945)

Pada tanggal 6 Agustus sebuah bom baru digunakan: Bom atom yang efeknya lebih besar daripada 20.000 ton bahan peledak. Kota Hiroshima, kota dengan lebih dari 318.000 penduduk, hancur total oleh bom ini. Menurut Menteri Perang Amerika, tidak ada satu pun makhluk hidup yang selamat. Menjatuhkan bom seukuran bola sepak setara dengan serangan terkonsentrasi oleh 2.000 benteng super. 


Keesings historisch archief: geïllustreerd dagboek van het hedendaagsch wereldgebeuren met voortdurend bijgewerkten alphabetischen index, 07-08-1945-10-08-1945: Pada 7 Agustus--Presiden Truman mengungkapkan, tentang situasi Jepang untuk 'meyakinkan' mereka. Ia ditukar dengan Jenderal Wainwright, pahlawan Corregidor. Pengeboman angkatan laut dan udara yang tak henti-hentinya melemahkan Jepang. Perlawanan Jepang praktis telah hancur. Dalam tiga minggu serangan terus-menerus, 915 kapal Jepang dan 1.076 pesawat dihancurkan. 6 pengeboman pantai dilakukan. Jenderal Spaatz telah mengambil alih komando angkatan udara di wilayah Samudra Pasifik, bahwa pada tanggal 6 Agustus sebuah bom baru digunakan: Bom atom yang efeknya lebih besar daripada 20.000 ton bahan peledak. Kota Hiroshima, kota dengan lebih dari 318.000 penduduk, hancur total oleh bom ini; menurut Menteri Perang Amerika, tidak ada satu pun makhluk hidup yang selamat. Menjatuhkan bom seukuran bola sepak setara dengan serangan terkonsentrasi oleh 2.000 benteng super. Agustus. 9--Menyusul deklarasi perang Rusia, serangan Rusia pun terjadi terhadap Tentara Kwantung Jepang (1 juta orang) di Manchuria. Republik Mongol, yang berada di bawah perlindungan Rusia, juga menyatakan perang terhadap Jepang. Tentara Rusia memulai serangan skala besar dari Honshun, Vladivostok, dan Manchulia. Kota Rashin dan Geusau dibom. Rusia maju di garis depan yang luas. Amerika telah sepenuhnya diinformasikan tentang rencana pertempuran’. Foto: Dampak Bom Atom. Atas: pada 6 Agustus 1945, bom atom pertama dijatuhkan. Hiroshima, pusat industri Jepang, hancur total karenanya (lihat Keesings historisch archief: geïllustreerd dagboek van het hedendaagsch wereldgebeuren met voortdurend bijgewerkten alphabetischen index, 23-09-1945).

Hancurnya kota Hiroshima telah memukul pemerintah (kerajaan) Jepang. Amerika Serikat telah membakar hangus semua penduduk kota Hiroshima. Pasukan Rusia di daratan, mulai dari Vladivostok, Korea dan Tiongkok telah menjadi titik lemah kekuatan Jepang yang selama ini menjadi sumber amunisi perang. Lalu dengan demikian apakah Jepang akan menyerah? 


Leeuwarder koerier, 07-08-1945: ‘Bom Atom. Sensasi saat ini adalah Jepang dibombardir dengan bom fisi atom. Sensasi ini akan sama hebatnya jika, di masa damai, berita telah sampai bahwa mereka berhasil menggunakan energi yang dilepaskan selama pemecahan atom untuk menggerakkan mesin dan sejenisnya. Ini, pada kenyataannya, akan berarti revolusi total di bidang teknis, ekonomi, dan sosial. Tetapi sekarang ada perang, dan rahasia yang telah direbut dari alam tidak digunakan untuk pembangunan, tetapi untuk penghancuran. Pada intinya, fisi atom juga merupakan penghancuran; namanya menunjukkan hal ini. Menurut keadaan ilmu pengetahuan saat ini, atom adalah partikel terkecil dari setiap unsur yang berpindah dari satu senyawa kimia ke senyawa kimia lainnya. Tetapi atom seperti itu membentuk sistem planet kecil tersendiri, di mana partikel bermuatan negatif, elektron, mengorbit inti bermuatan positif. Keseluruhan ini mewakili massa energi yang dilepaskan selama fisi. Energi ini sangat besar sehingga, jika menyebabkan fisi skala besar, hal-hal mengerikan akan terjadi. Bahkan kehancuran total bumi secara teoritis pun dapat dibayangkan. Kami tidak ingin membahas lebih lanjut teori-teori mengenai fisi atom; terlebih lagi, laporan dari Inggris dan Amerika dengan hati-hati menghindari memberikan berita rinci mengenai masalah ini. Mereka cukup menyatakan bahwa kota pelabuhan Hiroshima di Jepang dibom untuk pertama kalinya dua hari yang lalu dengan bom fisi nuklir dan bahwa kota tersebut — atau reruntuhannya — masih tersembunyi di balik awan debu dan puing-puing. Kemudian mereka menguraikan semua persiapan yang diperlukan agar bom atom dapat digunakan secara praktis, dan ketakutan yang dimiliki Sekutu bahwa Jerman akan mendahului mereka dengan penemuan yang "sedang dinantikan." Hal itu tidak terjadi; Eropa telah terhindar dari eksperimen dengan cara penghancuran terbaru dan paling menakutkan — setidaknya untuk saat ini — dan Jepang sekarang menderita akibatnya. Efek bom baru ini tampaknya jauh lebih buruk daripada apa pun yang dihasilkan sejauh ini oleh teknologi bom yang sudah sangat canggih. Tampaknya melampaui semua imajinasi. Kini diharapkan perdamaian dapat "dipercepat" melalui hal itu; Jepang tidak akan mampu menahan pembombardiran terus-menerus dengan proyektil ini dalam waktu lama, dan produksi alat penghancur ini dikatakan terjamin. Karena kita berurusan di sini dengan sesuatu yang berbeda dari "V" yang ingin digunakan Jerman untuk mempercepat berakhirnya perang, prediksi ini mungkin akan menjadi kenyataan. Tapi lalu bagaimana? Dunia memiliki alat penghancur baru, yang lebih dahsyat daripada yang pernah dikenal. Manusia sekali lagi telah menaklukkan kekuatan alam, yang jauh lebih kuat daripada uap dan listrik. Dan penjinakan kekuatan alam ini telah menyebabkan revolusi yang sangat signifikan dalam seluruh kehidupan sosial. Penggunaan energi atom dapat—seperti yang telah kita katakan—menandakan perubahan yang lebih besar lagi, baik untuk kebaikan maupun keburukan. Untuk kebaikan, jika umat manusia menggunakan energi atom untuk meningkatkan kondisi kehidupan di bumi ini; untuk keburukan, jika menggunakannya untuk menghancurkan diri sendiri. Untuk saat ini, energi ini hanya digunakan untuk penghancuran; Lagipula, perang sedang berlangsung, dan hanya satu dari dua pihak yang menyadari penggunaan "senjata rahasia" terbaru ini. Tetapi itu tidak akan tetap demikian; pada akhirnya, energi atom akan menjadi milik bersama, dan jika perang lain pecah saat itu, hal itu akan menyebabkan kehancuran umat manusia. Oleh karena itu, senjata baru ini menempatkan tanggung jawab yang sangat besar pada manusia. Akankah mereka menerimanya dan dengan demikian menghindari perang di masa depan? Tampaknya itu adalah harapan yang terlalu mulia. Namun demikian, kewajiban sekarang terletak pada semua orang, terutama pada semua pemerintah, lebih dari sebelumnya, untuk menghindari perang di masa depan, dan dengan demikian membuat pengaturan yang memadamkan benih konflik sejak dini. Jika ini tidak terjadi, maka generasi mendatang hanya akan dapat hidup di gua-gua; maka 6 Agustus 1945 akan menjadi jalan buntu bagi umat manusia’.
Foto: Pada 9 Agustus 1945, pelabuhan Nagasaki di Jepang menjadi korban (lihat Keesings historisch archief: geïllustreerd dagboek van het hedendaagsch wereldgebeuren met voortdurend bijgewerkten alphabetischen index, 23-09-1945).

Pemerintah Jepang dan semua penduduk Jepang belum hilang rasa duka yang mendalam akibat terbunuhnya ribuan rakyat sipil di Hiroshima pada tanggal 6 Agustus. Lagi-lagi, tiga hari kemudian pada tanggal 9 Agustus angkatan udara Amerika Serikat kembali melakukan serangan bom atom kedua ditujukan ke Nagasaki. 


Het parool, 09-08-1945: ‘Bom atom kedua dijatuhkan, Nagasaki kini menjadi target. Sekretaris Perang Amerika telah menyatakan bahwa tidak ada seorang pun atau apa pun di Hiroshima yang selamat dari kehancuran selama ledakan bom atom. Semua makhluk hidup hancur oleh ledakan tersebut. Sementara itu, bom atom kedua telah dijatuhkan di kota pelabuhan Nagasaki. Sementara itu, peringatan telah dikeluarkan kepada 12 kota Jepang lainnya bahwa mereka telah dimasukkan dalam "daftar kematian" Sekutu, yang disusun di markas besar Angkatan Udara Sekutu di Gum. Ribuan pamflet telah dijatuhkan di kota-kota ini; Hiroshima sekarang hanyalah reruntuhan. Semua makhluk hidup, manusia maupun hewan, telah hangus terbakar hingga mati. Mereka yang berada di dalam rumah terbakar hidup-hidup, dan mereka yang berada di luar tewas akibat tekanan dan panas yang tak terlukiskan. Kesempurnaan bom atom dan janji penggunaannya yang meluas tidak mengubah rencana Sekutu untuk invasi ke Jepang. Persiapan mereka untuk pendaratan amfibi di Pasifik terus berlanjut. Selama serangan kemarin, Jepang, pusat baja utama Jepang, target yang paling heavily defended di Kekaisaran Jepang, lumpuh akibat dampak 1.500 ton bahan peledak yang dijatuhkan oleh 225 Super-fortress’. Foto: Tak lama sebelum Jepang menyerah, Nagasaki yang dihantam bom atom. Tampak jalanan yang terbakar dan reruntuhan menjadi akibatnya. Sebuah regu penyelamat mencari korban luka (lihat Nieuwe Haarlemsche courant, 26-09-1945). 

Sebagai reaksi terhadap hancurnya kota Nagasaki, penyiar radio Jepang masih sempat mengumumkan tindakan pembalasan. Jepang juga dikatakan memiliki senjata rahasia. Namun situasi cepat berubah, Pemerintah Jepang telah mengirimkan telegram berikut melalui pemerintah Swiss dan Swedia kepada Amerika Serikat, Inggris Raya, dan Uni Soviet yang intinya Pemerintah Jepang siap menerima syarat-syarat yang tercantum dalam deklarasi bersama yang dikeluarkan pada tanggal 26 Juli 1945 oleh kepala pemerintahan Amerika Serikat, Inggris Raya, dan Tiongkok, yang kemudian ditandatangani bersama oleh Uni Soviet dengan pemahaman bahwa deklarasi ini tidak berisi tuntutan yang dapat merugikan hak istimewa Yang Mulia Raja sebagai penguasa berdaulat.


Keesings historisch archief: geïllustreerd dagboek van het hedendaagsch wereldgebeuren met voortdurend bijgewerkten alphabetischen index, 09-08-1945-11-08-1945: ‘9 Agustus--Serangan bom atom kedua ditujukan ke Nagasaki. 10 Agustus--Rusia merebut berbagai kota, termasuk Khailor, Progranitsnaya, Sakhalian, Rigun, Argun, dan Fuyan. Selain serangan bom atom di Nagasaki, serangan juga terjadi dengan pesawat-kapal dan benteng terbang raksasa di tanah air Jepang. Tokyo dibom, antara lain. Penyiar radio Jepang kini telah mengumumkan tindakan pembalasan. Jepang juga dikatakan memiliki senjata rahasia. Sementara itu, Amerika terus melanjutkan aksinya. Target industri dan militer di Makaishi di pantai timur laut Hondos telah dibombardir oleh armada. Menyusul deklarasi perang Rusia terhadap Jepang, Menteri Luar Negeri Jepang, Togo, telah mengundang duta besar Rusia di Tokyo, Malik, untuk berkunjung. Karena deklarasi perang telah diserahkan, isyarat ini telah menimbulkan berbagai macam kecurigaan. Domei menyatakan bahwa pemerintah Jepang akan mengizinkan duta besar Rusia untuk mengadakan "konsultasi dengan pemerintahnya". 10 Agustus--Pemerintah Jepang telah mengirimkan telegram berikut melalui pemerintah Swiss dan Swedia kepada Amerika Serikat, Inggris Raya, dan Uni Soviet. "Sebagai ketaatan terhadap perintah luhur Yang Mulia Kaisar, yang selalu menginginkan masalah ini untuk melayani perdamaian dunia, dan sangat menginginkan berakhirnya permusuhan secepatnya, untuk menyelamatkan umat manusia dari malapetaka yang akan ditimbulkan oleh kelanjutan perang, pemerintah Jepang meminta pemerintah beberapa minggu yang lalu, yang saat itu netral Semua hubungan dipertahankan untuk memberikan kerja sama dalam pemulihan perdamaian dengan kekuatan-kekuatan yang bermusuhan. Sayangnya, upaya-upaya demi kepentingan perdamaian ini telah gagal, sehingga pemerintah Jepang, sesuai dengan keinginan Yang Mulia Raja untuk memulihkan perdamaian umum dan keinginan untuk mengakhiri sesegera mungkin penderitaan yang tak terhitung jumlahnya yang disebabkan oleh perang, telah memutuskan hal berikut: Pemerintah Jepang siap menerima syarat-syarat yang tercantum dalam deklarasi bersama yang dikeluarkan pada tanggal 26 Juli 1945 oleh kepala pemerintahan Amerika Serikat, Inggris Raya, dan Tiongkok, yang kemudian ditandatangani bersama oleh Uni Soviet dengan pemahaman bahwa deklarasi ini tidak berisi tuntutan yang dapat merugikan hak istimewa Yang Mulia Raja sebagai penguasa berdaulat". Presiden Truman menyatakan bahwa tanggapan bersama akan diberikan oleh keempat kekuatan besar tersebut. (Reuter - AP - AFP). Foto: Pusat kota Nagasaki hancur lebur sebulan setelah bom nuklir dijatuhkan. Sebuah jalan setapak sempit menembus reruntuhan, yang tersisa dari bangunan-bangunan yang pernah berdiri di sana. Gudang-gudang di latar depan dibangun setelah serangan itu (lihat Amigoe di Curacao, 27-09-1945).

Permintaan menyerah yang dikirimkan pemerintah Jepang pada tanggal 10 Agustus tampaknya langsung ditanggapi Presiden Amerika Serikat Truman dengan menyatakan bahwa tanggapan bersama akan diberikan oleh keempat kekuatan besar (Amerika Serikat, Inggris Raya, dan Tiongkok, serta Uni Soviet). 


Keesings historisch archief No. 739 (12-18 Agustus 1945) mencatat pada tanggal 14 Agustus, pada pukul pukul 14.00 bahwa tanggal 10 Agustus, penyiar radio Jepang mengumumkan bahwa Jepang bersedia tunduk pada persyaratan Potsdam, asalkan posisi Kaisar tidak terpengaruh. Pada pukul 18:45, nota Jepang diterima di Washington. Pada hari Sabtu 11 Agustus pada 10:30 nota balasan Amerika dikirim ke kedutaan Swiss untuk dikirim ke Jepang. Dalam nota itu Amerika Serikat. menerima proposal Jepang, tetapi Mikado akan berada di bawah komando tinggi Sekutu. Pada hari Senin, 13 Agustus, Jepang menulis untuk menjawab untuk menerima tagihan Amerika. Pada hari Selasa, 14 Agustus pukul 1:00 siang, Radio Jepang mengumumkan bahwa Jepang menerima persyaratan Amerika. Jawaban Jepang, 15 Agustus. Tepat setelah tengah malam Attlee, Truman, dan Stalin memberi tahu negara-negara mereka bahwa Jepang telah menyerah. Tanggapan Jepang terhadap syarat-syarat Sekutu berbunyi sebagai berikut: ‘Mengacu pada pemberitahuan tanggal 10 Agustus, mengenai penerimaan syarat-syarat Deklarasi Potsdam, dan tanggapan Pemerintah, Jawaban Jepang - Rede Hirohito, Attlee dan Truman - Kabinet Jepang Baru - Negosiasi di Manila - dari Amerika Serikat, Inggris Raya, Uni Soviet dan Cina, yang dikirim oleh Menteri Luar Negeri Byrnes pada tanggal 11 Agustus, Pemerintah Jepang mendapat kehormatan untuk menyampaikan hal-hal berikut kepada Pemerintah Empat Kekuatan: 1. HM Kaisar telah mengeluarkan Rescript Imperial mengenai penerimaan ketentuan-ketentuan Deklarasi Potsdam oleh Jepang: 2. Kaisar siap untuk mengizinkan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk pelaksanaan ketentuan-ketentuan Deklarasi Potsdam dan penandatanganannya oleh pemerintahnya dan markas besar Kekaisaran untuk memastikan. 3. HM juga bersedia memerintahkan kepada seluruh penguasa angkatan darat, laut dan udara untuk menghentikan perlawanan aktif dan menyerahkan senjata, serta mematuhi perintah Panglima Tertinggi Sekutu sesuai dengan syarat sub 1 dan 2 tersebut. Otoritas ini akan meneruskan perintah ini kepada semua angkatan bersenjata di bawah komando mereka, dimana pun mereka berada. HM Hirohito kepada Rakyatnya—Kaisar Jepang juga berbicara langsung kepada rakyatnya melalui radio—untuk pertama kalinya dalam sejarah. Hirohito mengambil kewajiban serius ‘diturunkan oleh nenek moyang kekaisaran kita’ untuk berjuang demi kemakmuran dan kebahagiaan bersama semua bangsa, serta untuk keselamatan dan kesejahteraan rakyat kita. Dia mengatakan itu ‘jauh dari pikiran kita’ untuk mengganggu, berkomitmen pada kedaulatan negara lain atau terlibat dalam perluasan wilayah. Terlepas dari perjuangan yang berani dan upaya rakyat, jalannya peristiwa telah merugikan Jepang. Selain itu, musuh telah memanfaatkan bom baru dan paling ganas yang kemampuannya menimbulkan kerusakan tak terhitung dan memakan banyak korban jiwa tak berdosa. Melanjutkan pertempuran tidak hanya berarti penghancuran bangsa Jepang, tetapi juga kehancuran total peradaban manusia. Kaisar menyatakan penyesalannya kepada sekutu Jepang di ‘Asia Timur’  memikirkan orang mati dan terluka dan membangunkan orang-orang untuk menjaga persatuan dan mencurahkan seluruh energi mereka untuk membangun ‘masa depan’. Foto: Kepulan asap tebal membubung hingga ketinggian 18.000 meter setelah bom atom dijatuhkan di kepulauan Jepang di atas Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945 (lihat Keesings historisch archief: geïllustreerd dagboek van het hedendaagsch wereldgebeuren met voortdurend bijgewerkten alphabetischen index, 29-09-1945)

Sementara itu, di Amerika, warga mendengar radio Jepang. siaran diterima, melaporkan bahwa kerumunan Kekaisaran Istana menangis setelah mendengar pesan itu dan berseru: ‘Maafkan kami, O Kaisar, usaha kami tidak cukup’. Anami menteri perang, telah melakukan harakiri. Perdana Menteri Suzoeki telah mengundurkan diri. Di lain pihak Pidato Attlee dan Truman memberikan penghormatan kepada orang-orang itu; Attlee dari Inggris menyampaikan terima kasih kepada Sekutu terutama kepada Amerika Serikat, tanpa bantuan ajaib mereka upaya perang di timur ini akan berlangsung bertahun-tahun lagi. Pidatonya disimpulkan sebagai berikut: ‘Perdamaian dipulihkan ke bumi. Mari kita bersyukur kepada Tuhan untuk pembebasan besar ini: dan untuk belas kasihan-Nya; Panjang umur Raja. Truman dari Amerika menyatakan bahwa dia percaya bahwa jawaban Jepang ‘adalah penerimaan penuh atas deklarasi Potsdam, yang menentukan penyerahan penuh’. Dalam pidatonya kepada orang banyak di depan Gedung Putih, mengatakan: ‘Ini adalah hari yang akan menandai akhir dari fasisme dan sistem kepolisian di dunia, adalah ‘Hari Demokrasi’. Sekarang kita harus menghadapi tugas untuk membalikkan keadaan dan membangun pemerintahan yang bebas di dunia. Saya tahu kita siap untuk tugas ini’.


Salah satu surat kabar yang terbit di Belanda. Nieuwe Haagsche courant yang terus memantau siaran radio dari Batavia (Indonesia), pada edisi Senin, 13-08-1945 menyatakan bahwa siaran Jepang yang berbasis di Batavia telah diam (berhenti siaran, pen) sejak Jumat malam (tanggal 10 Agustus, pen). Sudah barang tentu bahwa siaran radio Jepang di Batavia akan terus diam hingga tanggal 14 Agustus saat Kaisar Hirohito berpidato dalam menyatakan menyerah dan menyetujui persyaratan dalam proposal Amerika Serikat. Foto: Pemandangan udara kota Hiroshima di Jepang, sebuah pusat industri dan pangkalan militer penting, yang merupakan target pertama yang dihantam oleh bom atom baru, yang diumumkan oleh Presiden Truman. Setelah itu, Jepang mengklaim kerusakan besar akibat bom-bom baru tersebut. Hanya satu bom yang dijatuhkan dan enam puluh persen kota diperkirakan hancur (lihat Onze toekomst, 15-08-1945)

Sebagaimana diketahui pada masa ini, pada tanggal 14 Agustus 1945 menjelang beberapa menit sebelum Kaisar Hirohito berpidato seluruh jaringan listrik seluruh Jawa padam, termasuk di Batavia. Hal ini menyebabkan radio yang masih bersumber dari listrik tidak bisa menyala (boleh jadi baterai radio belum ditemukan). Tentu saja militer Jepang di Batavia kecele, sebab pada saat itu kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan Tanjung Priok dapat memantau siaran radio Kaisar Hirohito yang dengan segera informasi itu beredar di darat, yang juga segera ditanggapi oleh para pamuda revolusioner seperti Adam Malik dan Chairoel Saleh. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

Kini, Apakah Sekutu Masih Tetap Dipimpin oleh  Amerika Serikat? Apakah Kini Amerika Masih Segila Dulu di Nagasaki dan Hiroshima?

Dulu, Trum-an, kini Trum-p. Apa bedanya? Amerika Serikat tampaknya tetaplah Amerika Serikat. Hancurnya kota dan seisi warganya di Hiroshima dan di Nagasaki, bagi Amerika adalah kemenangan yang dirayakan; bagi Jepang adalah kekalahan yang sangat menyedihkan. Bagi negara lain yang melihat kehancuran kota Hiroshima dan kota Nagasaki dengan masing-masing penduduk yang ratusan ribu yang hangus terbakar adalah tragedi kemanusiaan. Apakah itu dengan demikian menjadi patut dirayakan oleh Amerika Serikat? Bagaimana dengan sekarang di Selat Hormuz? 


Pada tahun 1945 Sekutu adalah satu hal dan Blok Poros adalah hal lain lagi. Blok Poros adalah Jerman Nazi, Italia Fasis dan Jepang (Berlin-Roma-Tokio). Bagaimana dengan Sekutu? Di Timur Jauh dalam mengahadapi Jepang, Sekutu terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Tiongkok dan Uni Soviet. Di Asia Pasifik (termasuk di Indonesia) melawan Jepang terdiri Amerika Serikat, Inggris, Tiongkok, Australia, Belanda, dan Selandia Baru. Di Eropa, Sekutu terdiri Inggris, Uni Soviet, Amerika Serikat, dan Prancis. Blok ini berperang melawan Poros (Jerman, Italia, Jepang). Jadi dalam hal ini, Amerika Serikat (dan juga Inggris) terdapat di semua wilayah perang. Kekuataan terbesar saat ini adalah Amerika Serikat. 

Seperti disebut di atas, perang di Selat Hormuz pada dasarnya dipicu antara krisis hubungan antara Iran dan Israel. Oleh karena kantong-kantong militer Amerika Serika terdapat di berbagai Negara seperti di Arab Saudi, UEA dan lainnya, Amerika Serikat dengan sendirinya terbentuk Sekutu yakni Amerika Serikat dengan Israel melawan Iran. Lalu apakah Amerika Serikat dan Israel dalam hal ini akan mampu mengatasi Iran? 


Pada tahun 1945 Jepang tidak sendiri sebenarnya, karena adanya poros (Berlin, Roma dan Tokio), namun bukan berarti Jepang memiliki sekutu. Demikian juga dengan yang sekarang di Selat Hormuz. Amerika Serikat dan Israel dalam posisi bersekutu melawan Iran. Bagaimana dengan Iran? Iran juga tidak sendiri, ada poros Iran, Rusia dan Tiongkok. Lantas bagaimana dengan poros Amerika Serikat dengan negara-negara Eropa yang tergabung dalam NATO? Catatan: NATO (North Atlantic Treaty Organization) adalah aliansi pertahanan kolektif yang saat ini beranggotakan 32 negara dari Eropa dan Amerika Utara. Didirikan pada tahun 1949 oleh 12 negara pendiri, NATO kini mencakup sebagian besar Eropa, dengan Finlandia (2023) dan Swedia (2024) sebagai anggota terbaru. Anggota NATO awal (perjanjian di Washington 1949): Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Prancis, Belgia, Belanda, Luksemburg, Italia, Portugal, Norwegia, Denmark, dan Islandia. 

Saat Amerika (dan Israel) kewalahan menghadapi Iran, Presiden Amerika Serika Trump meminta bantuan Negara-negara NATO. Namun kurang mendapat respon. Negara-negara seperti Jerman, Prancis, Italia, Spanyol, dan Inggris dilaporkan menolak permintaan tersebut dengan alasan berbeda dari masing-masing Negara tersebut. Terinforemasikan Trump merasa kecewa dan frustrasi karena merasa "ditinggalkan" oleh sekutu-sekutunya di NATO dalam krisis ini. Lalu bagaimana? 


Ini adalah soal geopolitik antara politik Timur (Asia) dan politik Barat (Amerika Serikat dan Eropa). Pada tahun 1945 Jepang dalam posisi yang dihadapi Iran sekarang. Amerika Serikat dengan sekutunya melawan Jepang mendapat perlawanan yang heroik. Sudah banyak kota-kota Jepang yang hancur, namun Jepang tidak mau menyerah dengan ultimatum Amerika Serikat. Lalu bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat di kota Hiroshima dan kota Nagasaki dengan ratusan ribu warga hangus menyebabkan Jepang menyatakan menyerah. Intinya, kematian ratusan ribu penduduknya, Kaisar Jepang Hirohito dengan kesedihan mendalam akhirnya menyerah. Lantas bagaimana dengan perlawanan heroik Iran pada masa ini? Satu yang jelas, pada tahun 1945 hanya Amerika Serikat yang memiliki bom atom, tetapi pada masa ini banyak negara yang telah memiliki bom nuklir.

Tunggu deskripsi lengkapnya


 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar