*Untuk melihat semua artikel Sejarah Sepak Bola Indonesia di blog ini Klik Disini
Artikel ini sudah lama artikel dibuat, tetapi tidak kunjung diupload. Namun kabar duka hari ini tanggal 19 Maret 2026 pemilik klub Como bahwa Bapak Michael Bambang Hartono dikabarkan meninggal dunia di Singapura. Klub Como 1907 tengah berduka. Namun demikain nama Michael Bambang Hartono akan selalu dikenal oleh supporter Coma 1907. Semoga klub fenomenal ini terus Berjaya di bawah dukungan sang adik Robert Budi Hartono. Sejarah Sepak Bola di Indonesia
Como 1907 adalah klub sepak bola Italia yang saat ini berkompetisi di Serie A, kasta tertinggi liga Italia. Klub ini menjadi sangat populer di Indonesia karena dimiliki oleh pengusaha asal Indonesia, yaitu Keluarga Hartono (Grup Djarum) melalui anak perusahaan mereka, SENT Entertainment. Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono sejak 2019 mengakuisisi klub yang berada di kota peguinungan di pinggir danau Como. Dukungan finansial mereka, Como dinobatkan sebagai klub sepak bola dengan pemilik terkaya di Italia menurut Forbes. Kabar Duka Terbaru: Pada 19 Maret 2026, klub secara resmi menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya salah satu pemiliknya, Michael Bambang Hartono. Saat ini klub dilatih oleh legenda sepak bola Cesc Fabregas dari Spanyol. Markar klub berada di Stadion Giuseppe Sinigaglia yang terletak di pinggir Danau Como. Klub ini dibeli saat berada di Serie D (divisi empat) setelah mengalami kebangkrutan, lalu berhasil promosi beruntun hingga mencapai Serie A pada musim 2024/2025. Identitas klub dikenal dengan julukan I Lariani dan identik dengan warna biru kerajaan (royal blue) (AI Wikipedia).
Lantas bagaimana sejarah Klub Como 1907 di Danau Pegunungan di Como, Italia? Nah, itu dia: jarang ditulis. Pada masa ini hanya terinformasikan telah dimiliki oleh Hartono Bersaudara, klub yang awalnya berada di Serie-D tetapi kini dalam waktu singkat sudah di Serie-A dan moga-moga segera berpartisipasi dalam Liga Champion Eropa. Lalu bagaimana sejarah Klub Como 1907 di Danau Pegunungan di Como, Italia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.Sejarah Pers di Indonesia
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.
Klub Como 1907 di Danau
Pegunungan di Como, Italia; Klub Hartono Bersaudara dari Serie-D, Kini Serie-A
Kota Como dapat dikatakan adalah kota tua. Ketika kota Como di wilayah Lombardy di bawah Kerajaan Spanyol menjadi bagian yang diperintah oleh gubernur Spanyol dari Milan. Wilayah Italia sendiri berada di bawah kerajaan Spanyol sejak 1559. Saat ini pelaut-pelaut Spanyol dan pelaut Portugis sudah mencapai seluruh muka bumi.
Sebagaimana diketahui setelah pelaut-pelaut Portugis mencapai Maluku pada tahun 1511, lalu kemudian pelaut-pelaut Spanyol menyusul mencapai Maluku. Pelaut-pelaut Portugis berlayar dari Eropa ke Timur melalui Afrika Selatan, hingga ke India, lalu mencapai Malaka dan Maluku. Sementara pelaut-pelaut Spanyol berlayar menuju barat melalui Amerika Selatan dan kemudian melintasi Lautan Pasifik hingga mencapai pulau Zebu di Filipina dan Maluku pada tahun 1521. Foto: Peta Portugis yang dibawa ekspedisi Belanda pertama (1595)
Berdasarkan pengetahuan (buku dan peta orang-orang Portugis dan Spanyol), ekspedisi pertama Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman dimulai pada tahun 1595 dengan berlayar melalui Afrika Selatan dan pada akhir tahun 1596 mencapai pantai barat pulau Sumatra di pulau Enggano. Sejak itu ekspedisi Belanda ke Maluku semakin intens. Pada tahun 1605 pelaut-pelaut Belanda di bawah pimpinan Admiral van Hagen berhasil menaklukkan benteng Portugis di Amboina. Pada tahun 1612 kembali pelaut-pelaut Belanda menaklukkan Portugis di pulau Solor dan Koepang (Timor). Sementara Spanyol tidak tergoyahkan di Filipina, lalu pada tahun 1619 pos perdagangan utama Belanda (VOC) direlokasi dari Amboina ke Batavia (kini Jakarta).
Tijdinghe uyt verscheyde quartieren, 20-09-1620: ‘Venesia, 4 September. Situasi Gryson (seperti yang tertulis dari Italia) belum membaik, karena Gubernur Milan memberikan bantuan semaksimal mungkin kepada para pemberontak di Voltolina (Valtellina), dan telah menyiapkan 1.500 orang untuk dikirim ke sana; namun, mereka tidak mengenakan lambang Raja Spanyol, melainkan lambang Paus, yaitu Kunci Santo Petrus. Sementara itu, segala macam persiapan militer sedang dilakukan di Como dan wilayah yang sama, untuk terlebih dahulu menangani Gryson dengan serius’. Catatan: Gryson atau Grisons adalah Grigioni dalam bahasa Italia atau Graubünden dalam bahasa Jerman. Graubünden kini salah satu negara bagian (kanton) di (negara) Swiss dengan ibukota di Chur (kota tertua di Swiss (dekat Davos). Voltolina (Valtellina)adalah nama lembah yang menjadi bagian dari provinsi Sondrio, di region Lombardia, Italia.
Wilayah Lombardia pada masa ini adalah sebuah wilayah administratif di Italia Utara yang terletak di antara pegunungan Alpen dan Lembah Po. Ibu kota berada di Milano (Milan). Dalam perkembangannya wilayah adminstrasi Lombardia (Lombardy) berkembang yang kini terdiri dari 12 provinsi: Milan, Bergamo, Brescia, Como, Cremona, Lecco, Lodi, [Akhir] Matua, Monza dan Brianza, Pavia, Sondrio, dan Varese. Di wilayah Lombardia ini terdapat tiga danau besar: Danau Como, Danau Gard(i)a, dan Danau Maggiore. Foto: Peta Italia Utara dari Genoa ke Venezia (1600)
Dalam hal ini di masa lampau wilayah Como adalah bagian dari Milan. Sementara Valtellina adalah lembah strategis di Alpen yang menjadi perebutan kekuasaan antara Milan, Swiss (Grisons), dan Austria. Wilayah Valtellina menjadi bagian wilayah Italia sejak 1859.
Nederlandsche staatscourant, 26-03-1874: ‘Italia. Dalam *Observatore Cattolico* dimuat surat yang disampaikan oleh para petinggi gereja Lombardia kepada Raja Italia sehubungan dengan rancangan undang-undang tentang perkawinan sipil wajib. Surat tersebut ditandatangani oleh Uskup Agung Milan dan para uskup Brescia, Bergamo, Mantua, Pavia, Cremona, Como, dan Lodi’. Apeldoornsche courant, 29-08-1874: ‘"Dia akan meninggalkan Belgia— tulis reporter ini — pergi ke Inggris atau Italia, dan lebih disukai ke tepi danau Como, di mana udaranya akan bermanfaat bagi kesehatannya’. Opregte Haarlemsche Courant, 05-02-1879: ‘Tahun lalu, di distrik Como saja, 37.000 kilogram tembakau dipesan’. Utrecht Provincial and Municipal Daily, 16-02-1879: ‘Suatu ketika, sebelum ketenarannya mapan, ia pernah tinggal di sebuah hotel di Danau Como dan menghabiskan waktu bersama para tamu lainnya’. De standard, 31-01-1899: ‘Di perbatasan Italia-Swiss dekat Como, delapan petugas bea cukai Italia terkubur di bawah salju beberapa hari ini. Tiga di antaranya ditemukan tewas di bawah tumpukan salju. Lima lainnya mengalami luka yang cukup serius’. Provinciale Noordbrabantsche en 's Hertogenbossche courant, 25-05-1899: ‘Raja Umberto membuka pameran listrik internasional di Como pada hari Sabtu, yang diadakan untuk memperingati seratus tahun penemuan besar (Alessandro)b Volta’. Catatan: Alessandro Volta (lahir 18 Februari 1745 di Como) adalah fisikawan dan kimiawan Italia sebagai penemu baterai listrik pertama sekitar tahun 1799–1800.
Klub Hartono Bersaudara dari
Serie-D, Kini Serie-A: Kota Como dan Promosi Indonesia
Wilayah Comodi Lombardia adalah provinsi terjauh Italia di sebelah utara (berbatasan dengan Swiss). Sebagaimana diketahui, Swiss awalnya juga masuk wilayah kekuasaan Austria. Sebagai wilayah paling terpencil di Italia di pegunungan Alpen, provinsi Como sejatinya baru baru mendapat perhatian pada tahun 1903. Ini sehubungan dengan adanya konsesi pembangunan kereta api listrik dari Milan hingga ke Como.
Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 29-09-1903: ‘Kereta api listrik. Di Italia, uji coba penting dengan kereta api listrik akan segera dilakukan. Perusahaan Milan Utara telah diminta untuk menerapkan traksi listrik pada jalur-jalurnya, dengan panjang gabungan 293 Km, yang sebagian besar membentang ke danau-danau. Untuk tujuan ini, mereka bermaksud memanfaatkan Sungai Liro yang berarus deras, sebuah aliran sungai pegunungan yang berasal dari Splugen dan mengalir ke Danau Como. Sebuah pembangkit listrik akan dibangun di Chiavenua untuk tujuan ini, yang akan memasok tenaga listrik berkinerja tinggi. Rencananya, operasi ini akan dimulai pada tahun 1905, bersamaan dengan pembukaan Terowongan Simplon’.
Bataviaasch nieuwsblad, 10-10-1902: ‘Baru-baru ini, jalur kereta listrik di sepanjang pantai Danau Como, melewati Chiavenna, Colico, dan Soudrio, dibuka untuk umum. Pada hari pertama, empat kereta ekspres, dua puluh kereta reguler, dan empat kereta barang beroperasi. Panjang jalur tersebut adalah 100 Km. Tenaga listrik disuplai oleh pembangkit air terjun Adda. Arus listrik, awalnya 20.000 volt, dikurangi menjadi 3.000 volt di stasiun dan dialirkan melalui jalur listrik atas. Segera, tenaga listrik yang sama juga akan digunakan untuk jalur Lecco-Colico’. Catatan: Adda berada di salah satu cabang selatan danau Como yang menjadi pintu keluar debit permukaan danau Como melalui sungai Adda yang bermuara ke sungai Po (diantara kota Piacenta dan kota Cremona—kota dimana klub Cremonese berada, klub yang mengandalkan kipper Indonesia, Emir Audero).
Wilayah (provinsi Como di region Lombardia, di Italia utara) berpusat di danau Como dengan kota utama di kota Como (di cabang selatan lainnya danau Como). Kota Como sendiri terletak pada elevasi sekitar 201 M di atas permukaan laut (Mdpl) di tepi danau glasial, yang dikelilingi pegunungan kapur dan granit dengan ketinggian yang bervariasi di wilayah sekitarnya. Sementara dasar danau Como terbilang dalam (lihat De Nederlander, 04-01-1904). Disebutkan danau Laggiore memiliki kedalaman yang sama, danau Como hampir dua ribu kaki (609 M?), dan danau memiliki kedalaman 1.900 kaki di beberapa tempat dan danau Constance memiliki kedalaman lebih dari seribu kaki.
Kota Como sendiri letaknya tidak terlalu tinggi, Hanya sekitar 201 Mdpl. Yang menjadi luar biasa adalah kedalaman danau Como sendiri yang mencapai 609 M. Ini artinya dasar danau Como terbilang dalam (bahkan berada di bawah permukaan laut). Sebagai pembanding, Kota Milan ini cenderung datar memiliki elevasi rata-rata sekitar 120 Mdpl, sementara Kota Turin, ketinggian rata-rata sekitar 239 Mdpl (berada di kaki Pegunungan Alpen, yang menjadi wilayah awal lembah Sungai Po (Po Valley). Sedangkan Kota Piacenza memiliki elevasi rata-rata sekitar 61 Mdpl.
Danau Como bertetangga dengan danau Maggiore. Kedua danau ini mirip, danau glasial, yang dikelilingi pegunungan kapur dan granit dengan ketinggian yang bervariasi. Kedalaman kedua danau ini juga kurang lebih sama. Dua danau ini juga menjadi hulu atau sumber utama sungai Po. Seperti halnya sungai Adda yang menjadi pintu keluar danau Como, sungai Tocino adalah pintu keluar danau Maggiore yang keduanya bermuara ke sungai Po (yang bermuara ke arah timur di laut Adriatik di dekat Kota Venezia/Venice). Kota terbesar di danau Maggiore adalah kota Verbania (elevasi 197 Mdpl).
Sungai Tocini mengalir ke selatan dan kemudian bertemu dengan sungai Po di sekitar kota Pavia, kota yang memiliki elevasi rata-rata sekitar 80 Mdpl. Perlu ditambahkan disini kota lainnya yakni Kota Mantua di bagian hilir sungai Po berada pada ketinggian rata-rata 19 Mdpl. Seperti disebut di atas, sungai Po adalah sungai terpanjang di Italia (seperti halnya sungai Batanghari di Sumatra). Di daerah aliran sungai (DAS) Po ini nama-nama kota utama mulai dari laut: (1) Venezia, 0 Mdpl (pulau di sekitar muara sungai Po; seperti halnya pulau Canton di depan muara sungai Canton di pantai timur Tiongkok; dan pulau Mangore di depan muara Bengawan/Solo). (2) Mantua, 19 Mdpl yang mana kota dibentuk/dikelilingi tiga danau buatan di bagian utara dan sungai Po di bagian selatan); (3) Cremona, 45 Mdpl; (4) Piacenta, 61 Mdpl, (5) Pavia, 77 Mdpl, dan (6) Turin 239 Mdpl (bandingkan dengan kota Como 201 Mdpl). Catatan: Mengapa disebut sungai Po, hanya satu suku kata? Di masa lalu, seperti pada peta-peta tahun 1600 di Jawa dan Sumatra terdapat beberapa nama tempat yang dimulai dari kara Po atau Poh.
Kota Pavia dan kota Mantua adalah dua kota di DAS Po
yang memiliki lanskapnya tersendiri. Kota Pavia merupakan muara sungai Tocini di
sungai Po. Sementara kota Mantua adalah kota yang diantara sungai Po di selatan
dan sungai Mincio di utara. Sungai Mincio berhulu di danau Gardia dan bermuara
di sungai Po. Di sungai Mincio inilah dulunya di abad ke-12 dibentuk danau-danau
buatan (Lago Superiore, Lago di Mezzo, dan Lago Inferiore) sebaga bagian sistem pertahanan koat (dari arah utara).
Kota Pavia termasuk kota kuno. Berdasarkan Peta 1523 area kota berada di sisi utara sungai Po dan di selatan sungai Tocini. Akan tetapi pada masa ini area kota Pavia berada di sebelah utara sungai Tocini. Sementara Kota Mantua pada Peta 1600 posisinya tetap seperti apa yang diperhatikan sekarang. Dalam hal ini dapat ditambahkan kota yang memiliki kaitan dengan pentingnya perairan adalah Kota Venezia. Seperti disebut di atas, adalah pada dasarnya adalah kota pulau (yang tidak jauh dari muara sungai Po di Laut Adriatik).
Provinciale Noordbrabantsche en 's Hertogenbossche courant, 06-01-1906: ‘London, 5 Januari. Central News melaporkan dari Jenewa kemarin: Surat kabar Swiss sedang membahas sebuah rencana besar, yang diusulkan oleh seorang insinyur Swiss untuk menghubungkan Swiss dengan Laut Utara dan Laut Mediterania yang dapat dilayari melalui pembangunan dua kanal besar. Yang pertama akan menghubungkan danau Constance dengan Rotterdam melalui sungai Rhine, yang kedua danau Como dengan Laut Mediterania melalui sungai Po. Biayanya diperkirakan mencapai 324.000.000 franc, yang jumlahnya akan meningkat pesat dengan pembangunan listrik tenaga air yang akan diperoleh. Diperkirakan 6.000 tenaga kuda dapat diperoleh dari sistem kanal di utara Pegunungan Alpen dan 220.000 tenaga kuda dari bagian selatan’. Catatan: Sungai Po adalah sungai terpanjang di Italia, membentang sekitar 652-661 Km dari Pegunungan Alpen (Monviso) di barat ke Laut Adriatik (dekat Venesia) di timur. Sungai ini merupakan tulang punggung ekonomi Italia Utara, mengairi lahan pertanian luas (termasuk penghasil beras terbesar) dan menopang kawasan industry. Seperti disebut di atas, sungai Po di Lembah Po mengalir melintasi kota-kota penting seperti Turin, Piacenza, Cremona dan Ferrara. Lembah Po sendiri memberi kontribusi sekitar 40% dari total produksi makanan Italia dan mencakup zona industri utama. Pada masa ini Lembah Po sering mengalami kekeringan menyebabkan penyusutan air dan ancaman terhadap irigasi serta produksi pertanian. Sungai Po ibarat sungai "Ganga-nya Italia" dan memiliki peran sejarah serta ekologi yang krusial. Sepak bola di Milan (lihat Algemeen Handelsblad, 29-11-1906 dan Algemeen Handelsblad, 23-03-1906).
Dalam narasi sejarah masa kini, pada tahun 1907 di kota Como didirikan klub sepak bola, klub yang kini masih eksis, Como 1907 (klub yang dimiliki Hartono Bersaudara). Klub Como mengadopsi warna biru kerajaan dengan stadion yang kini disebut Stadion Giuseppe Sinigaglia. Lantas bagaimana perjalanan klub Como ini? Sebagai klub sepak bola pertama di Como, sejatinya di Kota Como sejak lama terkenal dengan klub-klub dayungnya, yang bahkan ikut berpartisipasi dalam turnamen dayung internasional (lihat Algemeen Handelsblad, 07-06-1907). Disebutkan kompetisi dayung di Paris. Klub dayung "Lario" dari Como akan berkompetisi dalam kompetisi internasional di Paris dalam nomor dayung berpasangan senior, beregu empat orang, dan beregu delapan orang (tim beregu empat orang meraih posisi kedua yang bagus di belakang tim Ghent pada Kejuaraan Eropa tahun 1906).
Klub Como didirikan setelah AC Milan dan sebelum Inter Milan. Klub AC Milan dididirikan tahun 1899; klub Internasional Milan didirikan pada tahun 1908 (klub yang pernah dipimpin oleh Ketua PSSI, Erick Thohir). Pada era itu, di Bandoeng, sepak bola terinformasikan pertama pada tahun 1904 (lihat De Preanger-bode, 31-03-1904). Disebutkan Bataviasch Voetbalclub (BVC) Batavia akan melawat ke Bandoeng untuk melawan anak-anak Bandoengsche. De Preanger-bode, 30-12-1904 melaporkan sore ini di Bandung akan dilangsungkan pertandingan antara klub BVC Batavia dan klub UNI Tjimahi dan besok sore pukul empat sore di Tjimahi. Lalu, pada awal tahun 1905 sejumlah pertandingan sepak bola digelar di Bandung. Kemarin antara BVC Batavia vs UNI dari Tjimahi. Hari ini Minggu akan ada pertandingan antara klub UNI dari Tjimahi dengan klub Sidolig dari Bandung di lapangan Tjimahi (lihat De Preanger-bode, 16-01-1905). Suksesi klub Sidolig kelak adalah Persib Bandoeng masa ini (biru-putih). Sementara suksesi klub Vios di Batavia kelak adalah Persija Jakarta masa ini. Perlu ditambahkan disini, pertandingan sepak bola di Indonesia (baca: Hindia) terinformasi pertama tahun 1893 di Medan, antara tim XI dari Penang (Inggris) melawan tim XI di Medan (Belanda). Sebagaimana diketahui pada masa ini, klub tertua di Italia adalah klub Genoa CFC yang didirikan pada tahun 1893. Peta: Peta geomorfologis (dataran luas) kota Bandoeng tempo doeloe mirip dengan peta geomorfologis kota Milan (Bandoeng, 768 Mdpl; Milan, 120 Mdpl). Kedua kota ini sama-sama diapit pegunungan di utara maupun di selatan. Jika di pegunungan utara Milan terdapat kota Como (kota wisata), dalam hal ini di pegunungan utara Bandoeng terdapat kota Lembang (kota wisata).
Arnhemsche courant, 01-08-1910: ‘Penerbangan yang berani di pegunungan. Sebuah telegram dari Bellinzona melaporkan bahwa di Lembah Sassina, dekat Danau Como, sebuah pesawat terlihat terbang tinggi di udara, mengelilingi Pic des Trois Seigneurs dua kali dan mendarat di Conca di Bianbino Pel. Banyak orang mendaki Conca di Bianbino untuk lebih memahami penerbangan tersebut. Setelah pesawat mendarat, kedua pilot di dalamnya dikelilingi oleh kerumunan yang antusias. Mereka mengaku sebagai dua insinyur dari Flurns, yang sedang membuat pesawat biplan hasil penemuan mereka di lokasi terpencil dekat Danau Lecco. Puncak gunung yang mereka lewati berada di ketinggi 1.500 Mdpl di atas danau. Setelah beristirahat selama satu jam, kedua orang asing itu lepas landas lagi dan menghilang ke arah lembah’. De avondpost, 14-09-1910: ‘Berita olahraga. Dayung. Tim dayung Paris mengalahkan tim dayung Milan di Danau Como’. De avondpost, 29-09-1911: ‘Olahraga motor. Henri Meyes, mantan pemimpin redaksi "Kamploe," akan melakukan perjalanan indah dengan sepeda motornya pada tanggal 2 Oktober. Rutenya sebagai berikut: Arnhem, Cologne, Bingen, Mainz, Paris, Heidelberg, Strasbourg, Basel; Basel, Olten, Lucerne, Fleulen, Göschenen; Overtoom, St. Gothard; Airolo, Bellinzona, Pallanza, Domodossola, menyeberangi Simplon; Brig, Bellinzona, Lugano, Como, Milan, Milan, Pavia, Genoa, Nice, Mars; Lyon, Dijon, Paris, Reims, Liège, Ark. Dia berharap dapat menyelesaikan perjalanan ini dalam 10 atau 14 hari. "Tentu saja", tulisnya, "akan ada kesulitan di sepanjang jalan". “Mungkin beberapa kesulitan juga akan terbukti tidak dapat diatasi. Kita tahu tentang jalur pegunungan Alpen yang hebat dalam proyek ini, yang sejauh yang diketahui, belum pernah dilalui oleh sepeda motor? Namun, ada kemungkinan bahwa kendaraan bermotor dengan mesinnya yang halus akan dengan cemerlang mengatasi transmisi dua kecepatannya”. Catatan: Danau Como seperti disebut di atas, sudah lama dikenal sebagai tempat wisata, yang bahkan sudah juga diketahui oleh orang Belanda karena kerap dipromosikan perjalanan travel wisata, termasuk pake ke Como. Hal itulah diduga mengapa seorang novelis Belanda pernah menulis novelnya berlatar belakang Como (lihat Het nieuws van den dag: kleine courant, 08-01-1907). Disebutkan novel Marie Colban terbit berjudul “Professorsliefde” (Cinta Profesor). Novel ini, yang ditulis dengan gaya yang memikat, sebagian berlatar di danau Como dan di Swedia yang ditambahkan foto-foto’. Klassemen Liga utama Prancis (lihat Algemeen Handelsblad, 29-11-1906).
Giuseppe Sinigaglia adalah nama olahragawan utama dari kota Como. Bukan pemain sepak bola, tetapi pemain dayung professional (lihat De Maasbode, 13-09-1912). Disebutkan pada Rabu malam, pengundian berlangsung untuk kejuaraan (dayung tunggal senior), dayung ganda, dan nomor junior (dayung tunggal junior). Sebuah pesan telah diterima dari Giuseppe Sinigallia dari Societa Canottieri, di Como, bahwa ia mengundurkan diri dari partisipasi. Rekan senegara kita Belanda, Nereid, Nijkerfc, akan datang bersama Dr von Gaza, pemenang tahun lalu’. Klassemen Liga utama Inggris (lihat De avondpost, 23-10-1907)
Kota Como sudah sangat dikenal luas. Namun tidak terinformasikan tentang sepak bola. Yang kerap terinformasikan tentang kota Como adalah kejuaraan dayung, tempat destinasi wisata dan juga tentang pendaratan pesawat terbang ampibi. Kota Como juga adakalanya dijadikan tempat kejuaraan olahraga lainnya seperti kejuaraan tennis internasional.
Haagsche courant, 09-10-1913: ‘Kompetisi penerbangan di sekitar danau-danau Italia dimenangkan oleh pilot Jerman, Hirth. Dua hari yang lalu, Hirth dikalahkan dalam pesawat amfibi oleh pilot Prancis, Morano, dengan selisih waktu 3 menit 45 detik. Kemarin, Hirth unggul 12 menit 40 detik dalam penerbangan jarak jauh 160 km dari Pallanza ke Como. Hirth menyelesaikan perjalanan pulang pergi total dalam 3 jam 31 menit. 27 detik. Dengan demikian, Hirth tetap menjadi pemenang dengan pesawat monoplane Albatros dan mesin Mercedes-nya’. Klassemen Liga utama Belanda Wilayah Barat (lihat De courant, 25-03-1907). Liga utama Belanda terbagi dua wilayah: Barat dan Timur. Masing-masing juara wilayah diadu (kandang dan tandang) untuk menentukan juara nasional.
Klub sepak bola Como tidak kunjung ‘datang’ dalam pemberitaan. Mengapa? Yang jelas tentang sepak bola, yang kerap terinformasikan dalam surat kabar berbahasa Belanda adalah liga sepak bola Inggris, liga sepak bola Belanda dan liga sepak bola Belgia. Dalam hal ini dapat ditambahkan, tentang liga sepak bola di Hindia Belanda (baca: Indonesia) juga cukup sering terinformasikan. Hingga sejauh ini pada tahun 1916 bagaimana perjalanan klub Como tidak terinformasikan. Yang terinformasikan, dan tidak terduga adalah ‘kepergian’ Giuseppe Sinigallia.
De courant, 19-08-1916: ‘Dayung. Sinigaglia. London, 18 Agustus. (Telepon pribadi-dari koresponden terbang kami). Dilaporkan dari Roma ke "Times": Menurut laporan dari Como, Letnan Sinigaglia, pemenang "Diamond Sculls" tahun 1914, telah gugur di medan perang. Dalam perjalanannya dari London pada Juni 1914, Sinigaglia pertama kali ikut serta dalam lomba "Coupe des Nations", lomba sepanjang 4.000 meter yang diadakan di Sungai Seine di Juvisy dekat Paris. Pada kesempatan itu, orang Italia itu menang dalam waktu 14 menit 19 detik. Orang Inggris Kinnear finis 15 panjang di belakangnya. Sinigaglia kemudian memberikan gambaran lain tentang apa yang menanti lawannya di Sungai Thames. Adapun lomba "Diamond Sculls", Sinigaglia memenangkan babak penyisihan pada hari pertama dalam waktu 8 menit 52 detik di depan Pinks. Pelaut Italia itu memulai dengan dua kali mengenai pasak, tetapi tetap berhasil menang dengan selisih dua panjang penuh. Keesokan harinya, Sinigaglia menang dalam waktu 9 menit 30 detik di depan Ayer, yang finis 3 panjang di belakang. Setelah itu, Dibblfc yang harus mengakui keunggulan pelaut Italia tersebut. Pelaut Italia itu menghadapi Stuart (Cambridge) dari Inggris dalam perlombaan penentu. Stuart benar-benar keluar dari perlombaan setelah hanya 1 mil dan harus diangkat keluar dari perahunya. Pada tahun yang sama, yang sangat disayangkan bagi Inggris, Grand Chaupjejenge Clip (untuk kelas 1 di belakang) dimenangkan oleh Harvard (Amerika)’. Klassemen Liga utama Belgia (lihat Algemeen Handelsblad, 29-11-1906).
Lantas mengapa klub sepak bola Como di kota Como di danau Como, di provinsi Como, region(al) Lombardia di negara Italia tidak terinformnasikan? Bisa jadi, meski disebutkan klub Como didirikan tahun 1907, hingga betahun-tahun hanya (tetap) sebagai klub kecil di kota kecil di wilayah terpencil (paling utara Italia) masih yang sulit atau belum mampu bersaing dengan klub-klub lainnya yang berada di kota-kota besar seperti di Milan dan Turin. Dalam hal ini, klub Coma bisa jadi masih berada di level rendah (Serie paling rendah) dimana klub-klub seperti dari Milan (AC Milan dan Inter Milan) sudah sangat kompetitif di serie paling atas.
Namun itu hanya baru sekadar asumsi saja, tentunya, karena ketiadaan data kurang terinformasikan klub Como. Sementara itu, yang dinarasikan pada masa ini di Italia, klub yang tertua adalah klub Genoa, disebutkan didirikan pada 7 September 1893, klub sepak bola yang masih eksis hingga ini hari. Juga dinarasikan bahwa pembentukan federasi: sepak bola Italia (Federazione Italiana Giuoco Calcio-FIGC) pada tahun 1898. Ini dapat dikatakan lima tahun setelah didirikannya klub Genoa atau satu tahun setelah dibentuknya klub sepak bola Juventus di kota Turin. Tentu saja banyak pula klub-klub pendiri federasi sepak bola Italia yang sudah tiada, dilikuidasi, vakum, atau tetap sebagai klub kecil yang menjadikannya tidak terinformasikan. Klassemen Liga utama Jerman Wilayah Berlin (lihat De avondpost, 21-11-1907). Liga utama Jerman terbagi tujuh wilayah termasuk Wilayah Berlin.
Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Seperti di Italia, sebelum federasi sepak bola nasional didirikan, liga/kompetisi sepak bola bersifat perserikatan (bond) di berbagai kota/residentie/region. Perserikatan pertama dibentuk di Soperabaja pada tahun 1902. Sementara di Batavia perserikatan sepak bola baru dibentuk tahun 1904, dimana salah satu klub yang berpartisipasi dalam kompetisi sepak bola Batavia merupakan pemain sepak bola pribumi seluruhnya yakni klub STOVIA. Lalu kemudian menyusul perserikatan di Medan pada tahun 1906.
Kota-kota atau residentie/region di Jawa sudah banyak yang memiliki bond. Lalu pada tahun 1919 federasi sepak bola pertama dibentuk dengan nama Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB). Ini bermula ketika diadakan kejuaraan antar kota pada tahun 1914 di Semarang. Pada kejuaran antara kota tahun 1918 muncul gagasan pembentukan ferederasi NIVB (namun secara defacto masih terbatas di Jawa). Klub-klub terkuat di Batavia adalah Vios, di Bandoeng adalah Sidolig dan di Soerabaja adalah Thor. Pertandingan klub Vios dari Batavia dan Sidolig dari Bandoeng selalu memiliki tensi tinggi (saling menjadi musuh bebuyutan). Pada awal tahun 1927 klub Vios bertandang ke Bandoeng untuk melawan klub Sidolig. Panitia membuat foster besar yang dipajang di sudut jalan kota. Dalam foster dilukiskan kostum Sidolig Bandoeng dengan kaos warna biru dan celana putih, sementara klub Vios dengan kaos warna oranye dan celana warna hitam. Gambaran ini masih tampak pada masa ini sebagai cira khas kostum klub Persib Bandung dan kostum klub Persija. Sebagaimana dilihat nanti, pada tahun 1930 dibentuk federasi sepak bola pribumi yang diberi nama Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI). Federasi alternatif ini dibentuk pada 19 April 1930 di Yogyakarta. Ini mengindikasikan bahwa di Indonesia (Hindia Belanda) terdapat dua federasi, seperti kita lihat nanti bahwa FIFA hanya mengakui satu federasi di setiap negara. Sebagaimana diketahui kejuaran dunia (FIFA) pertama diadakan pada tahun 1930 (di Uruguay).
Sebagaimana di berbagai negara, keutaman suatu klub pada masanya dapat diperhatikan bagaiman suatu klub memberikan kontribusi dalam pembentukan tim nasional (timnas) pada masa tersebut. Pembentukan timnas di berbagai negara tersebut (terutama di Eropa) biasanya dilakukan pada saat menjelang pertandingan persahabatan antara satu dengan negara lainnya (atau sebaliknya). Timnas Italia seperti kita lihat nanti bertanding dengan sejumlah negara- antara lain: Swiss, Belanda, Prancis dan lainnya.
Inilah starting eleven Timnas Italia yang pernah terinformasikan yang diduga kuat baru dimulai pada tahun 1912 (lihat De Courant, 15-03-1912). Tim Italia ini dibentuk untuk melawan tim nasional Prancis. Para pemian timnas Italia tersebut adalah sebagai berikut: Faroppa (Piemonte, kiper); Sala (Milan), Vecchi (Milan), belakang; Ara (Milano I), Leone (Pro Vercelli) dan Milano II, tengah; Berardo (Pro Vercelli), Cevenini (Milan), Rampini (Pro Vercelli), Mariani (Genoa), depan. Setelah itu tidak terinformasikan lagi pembentukan tim nasional Italia.
Dalam pembentukan tim nasional Italia pertama tidak
terinformasikan adanya pemain dari klub Como. Sebakliknya yang terinformasikan
hanya tiga klub yang memberikan kontribusi yakni Piemonte, Milan, Milano I, Pro
Vercelli, Milano II, dan Genoa. Dalam hal ini Turun adalah ibu kota wilayah
Piedmont (wilayah berbatasan dengan Prancis/Swiss). Klub Piedmonte beradan di
kota Turun dan Pro Vercelli berasal dari kota Vercelli di wilayah Piedmont.
Lantas apakah tiga wilayah itu (Genoa, Piedmont dan Milan) di bagian utara
(negara) Italia yang menjadi gambaran sepak bola di Italia? Yang jelas, sejak
pembentukan tim nasional sepak bola Italia pada tahun 1912 tidak pernah
terinformasikan lagi pembentukan timnas berikutnya. Mengapa?
Perang Balkan pecah antara Liga Balkan dan Kesultanan Utsmaniyah yang sedang retak. Perjanjian London setelah itu mengurangi luas Kesultanan Utsmaniyah dan menciptakan negara merdeka Albania, tetapi memperbesar teritori Bulgaria, Serbia, Montenegro, dan Yunani. Ketika Bulgaria menyerbu Serbia dan Yunani pada tanggal 16 Juni 1913, negara ini kehilangan sebagian besar Makedonia ke Serbia dan Yunani dan Dobruja Selatan ke Rumania dalam Perang Balkan berikutnya sehingga destabilisasi di wilayah ini semakin menjadi-jadi. Sementara itu, Italia awalnya merupakan anggota Triple Alliance bersama Jerman dan Austria-Hungaria, namun memilih untuk tetap netral saat perang pecah pada tahun 1914. Pada akhirnya, Italia bergabung dengan Blok Sekutu (Inggris, Prancis, dan Rusia) setelah menandatangani Perjanjian London pada tahun 1915, dengan janji akan mendapatkan wilayah-wilayah tertentu milik Austria-Hungaria. Italia resmi menyatakan perang terhadap Austria-Hungaria pada 23 Mei 1915. Pertempuran sebagian besar terjadi di sepanjang perbatasan utara dengan Austria-Hungaria, yang dikenal sebagai Front Italia. Medan tempurnya sangat sulit karena berada di pegunungan Alpen yang terjal dan bersalju. Singkatnya eskalasi perang ini terus meningkat yang kemudian dikenal sekarang sebagai Perang Dunia di Eropa. Namun disela-sela perang itu juga terinformasikan pertandingan antara Italia dan Swiss (lihat Haagsche courant, 08-02-1915). Disebutkan hari minggu lalu di stadion di Turin diadakan pertandingan internasional antara Italia dan Swiss. Italia menang dengan skor 3-1. Singkatnya lagi perang ini baru berakhir pada tahun 1918.
Pembentukan tim nasional sepak bola Italia baru terinformasikan kembali pada tahun 1920. Singkatnya berikut adalah nama-nama pemain sepak bola berdasarkan klub dalam pembentukan timnas Italia.
1920: Italia vs Belanda: Giaccone (Juventus Turin), kiper; Bruna (Juventus), deVecchi (Genoa), belakang; Ara (Vercelli), Menegheti (Novara), Lovali (Milan), tengah; Balloncewri (Alessandri), Brezzi (Genoa), Sardi (Genoa), Rampini II (Vercelli), Jorlivos (Modeno), depan (lihat Algemeen Handelsblad, 18-05-1920). Pada tahun 1921 Italia vs Belanda di Amnsterdam yang berakhir imbang 2-2 dengan starting line up kedua timnas (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 09-05-1921). 1922: Italia vs Swiss: Trivellini (Bresscia), kiper; deVecchi (Genoa), Calligaris (Casale) belakang; Romano (Reggiana), Baldi (Bologna), Barbieri (Genoa), tengah; Forivesi (Modena), Gevenini III (Internazinale), Moscardini (Luchese), Balloncewri (Alessandri), Pozzi (Bologna), depan (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 07-12-1922)
Jumlah klub yang terinformasikan di Italia dari waktu ke waktu semakin banyak. Dalam kompetisi sepak bola Italia pada tahun 1923 terinformasikan terbagi ke dalam dua divisi (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 15-09-1923).
Disebutkan kejuaraan Italia tahun ini akan dimainkan dalam dua divisi yang masing-masing terdiri dari 12 klub. Di Divisi A, klub-klub berikut akan bermain: Geneva, Alessandria, Livorno, PA d'Arena, Juventus, Novara, Casalé, Modena, Internztionale, Virtus, Brescia, dan Novese, sedangkan di Divisi B, klub-klub berikut akan berkompetisi: Pro Vervelle, Padova, Legnano, SPAI, Torino, Bologne, Milan, Doria, Hellas, Pisa, Cremona, dan Spozia.
Pada tahun 1924 Italia juga berpartsipasi dalam
turnamen sepak bola di Olimpiade di Paris selama 15 hari diantara tanggal 5 dan
27 Juli 1924 dengan 22 negara (lihat De Sumatra post, 12-07-1924). Berdasarkan 24 pertandingan yang dimainkan dalam
turnamen, daftar di mana tim-tim dibagi ke dalam kelas sesuai dengan kekuatan
mereka. 1. Uruguay; 2. Swedia, Belanda, Spanyol, Cekoslowakia. 3. Swiss,
Hongaria, Italia, Mesir, Belgia. 4. Irlandia, Estonia, Amerika, Slavia Selatan,
Turki, Rumania, Luksemburg, Bulgaria. 5. Polandia, Latvia, Luksemburg. Timnas sepak bola Italia memenangkan pertandingan
putaran pertama melawan Spanyol (1-0) dan Luxemburg (2-0). Timnas Italia
terhambat di perempat final setelah dikalahkan Swiss dengan skor 1-2. Ini menandakan
tim Swiss dapat dikatakan tim kuat. Swiss akhirnya menyerah di final melawan
Uruguay (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 14-07-1924).
1925: Italia vs Hongaria (di lapangan FC Milan); De Pra (Genova), kiper; De Vecchi (Genova) dan Calligaris (Genova), belakang; Aliberti (Torino), Baldi dan Genovesi (keduanya Bologna), tengah; Levratto (Hellas), Magnozzi (Livorno), Della Vaile (Bologna), Cevenini III dan Conti (Internazionale), depan (lihat De Sumatra post, 18-02-1925). Disebutkan Italia mengalahkan Hongaria (2-1). Italia telah membalas kekalahan telak yang diderita di Budapest pada Mei 1924. Hongaria menang 7–1 pada kesempatan itu.
Pertandingan persahabatan antara Italia yang
terbilang sering adalah melawan tim nasional Swiss sudah sebanyak empat kali (lihat
Deli courant. 26-05-1926). Disebutkan timnas Italia sudah melakukan
pertandingan empat kali lawan timnas Swiss: di Bern 1920 (3-0 untuk Swiss), di
Malaan 1921 (2-1 untuk Italia); di Geneve 1922 (1-1), di Parijs 1924 (2-1 untuk
Zwitserland). Kini pertandingan yang kelima akan diadakan di Zurich dengan
komposisi pemain sebagai berikut: De Pra (Genoa), kipper; Calligaris (Casale),
Borgato (Bologna), belakangl Fayenz (padua), Bernardini (Roma), Janni (Torino),
tengah; Tansini (Cremona), Magnozzi (Livorno), Schiavio (Bologna), Balonciere
(Torino), Conti (Internazionale, Mlilaan), depan (lihat Deli courant. 26-05-1926).
1927 Italia vs Inggris (di Italia; Combi (Juventus). kiper, Rosetta (Juventus),
Caligaris (Casale), belakang; Jani (Turin), Bernardini (Internazionale),
Cevenini (Internazionale), tengah; Conti
(Internazionale), Balonciere (Turin), Libonati (Turin), Rossetti (Turin),
Levratto (Genoa), depan (lihat Voorwaarts : sociaal-democratisch dagblad, 07-02-1927).
1928: Italia vs Swiss (di Geneve): Combi (Juventus), kipper; Rosetta dan
Caligaris (keduanya Juventus), belakang; Colombari (Torina), Janni (Torino),
Pitto (Bolgna), tengah; Conti (Ambrosiana), Balonciere (Torino), Libonati
(Torino), Rossetti (Torino), Levratto (Genoa), depan (lihat Nieuwe
Rotterdamsche Courant, 19-10-1928).
1928: Italia vs Belanda (di San Siro Stadion di Milaan): Combi (Juventus), kipper; Rosetta dan Caligaris (keduanya Juventus), belakang; Colombari (Torina), Janni (Torino), Pitto (Bologna), tengah; Conti (Ambrosiana), Balonciere (Torino), Libonatti (Torino), Vecchina (Padoa), Levratto (Geno), depan. Kapten: Balonciere (Torino), Libonatti (Torino), Vecchina (Padoa) dan Levratto (Genoa). Untuk cadangan: Compiani (Milano), Pietoboni (Ambrosiana) dan Rosseti (Torino) (lihat Provinciale Geldersche en Nijmeegsche courant, 29-11-1928).
Sudah barang tentu selain liga Italia sudah berjalan
dengan baik dan juga pembentukan tim nasional melawan timnas negara lain, juga
ada pertandingan antar klub yang mewakili klub-klub Italia (lihat Arnhemsche
courant, 26-06-1929). Disebutkan untuk Piala Eropa Tengah, di mana setiap
negara peserta telah menunjuk dua klub untuk saling bertanding sesuai dengan
sistem piala, namun, klub yang diundi untuk saling berhadapan masing-masing
memainkan satu pertandingan tandang dan satu pertandingan kandang. Empat
pertandingan untuk babak pertama dimainkan pada hari Minggu. Di Turin, Juventus
mengalahkan Slavia (Praha) 1-0; di Wina, Rapid mengalahkan Genoa FC (Italia) 5-1;
di Budapest, First Vienna FC mengalahkan Hungaria 4-1; dan di Praha, Ujpest
(Budapest) mengalahkan Sparta 6-1.
1930: Italia vs Belanda (di Amsterdam): Combi (Juventus), kiper; Rosetta dan Caligaris (keduanya Juventus), belakang; Barbieri (Genova), Ferraris (AS Roma), Pitto (Bolgna), tengah; Constantibo (Bari), Balonciere (Torino), Meazza (Ambrosian), Magnozzi (Livorno), Orsi (Juventus), depam (lihat Arnhemsche courant, 14-03-1930).
Klub Como yang disebut didirikan pada tahun 1907 dengan kostum warna biru kerajaan tampaknya belum pernah pemainnya bermain untuk timnas Italia. Sebagaimana dinarasikan pada masa ini klub Como promosi ke liga utama (Prima Categoria) pada musim 1913/14 dan bertahan hingga mengalami degradasi tahun 1922. Lalu juga dinarasikan klub Como telah memilikui stadion baru tahun 1928 dengan nama Stadion Giuseppe Sinigaglia dengan kapasitas 13.602. Juga dinarasikan klub Como kembali promosi ke divisi utama pada musim 1930/31 dan bertahan hingga beberapa tahun. Namun semua itu tidak terinformasikan.
Sepak bola di Olimpiade (musim panas) sudah disertakan sejak 1900. Di wilayah Eropa Tengah sudah dilaksanakan kejuaraan antar negara maupun antar klub dimana Italia turut berpartisipasi. Pada tahun 1930 FIFA menyelenggarajkan kejuaraan dunia pertama yang diadakan di Uruguay. Juaranya adalah Uruguay. Italia tidak berpartisipasi. Mengapa? Yang jelas Italia akan menjadi tuan rumah kejuaraan dunia tahun 1934. Seperti dilihat nanti, kota-kota di Italia sebagai tuan rumah: Milan, Bologna, Roma, Firenze, Napoli, Genova, Turin dan Trieste. Lalu bagaimana dengan kota Como?
Kota Como dan Promosi Indonesia: Sepak Bola Italia dan Sepak Bola Indonesia, Piala Dunia di Italia 1934 dan Piala Dunia di Prancis 1938
Dalam Piala Dunia di Uruguay Italia tidak berpartisipasi, tetapi Prancis mengirim tim nasionalnya. Prancis gugur di babak grup. Lantas seberapa kuat timnas Prancis? Yang jelas pada tahun 1932 diadakan pertandingan antara timnas Prancis melawan timnas Italia. Hasilnya Italia menang di kandang Prancis di Paris. Bersamaan dengan itu, timnas Italia-B melakukan pertandingan melawan Luxemburg di kota Como.
De Maasbode, 11-04-1932: ‘Pertandingan Nasional. Keberhasilan Italia. Di Stadion Colombes-le-Parys, tim sepak bola Prancis dan Italia saling berhadapan. Italia menang 2–1. Skor babak pertama 1–1. Di Como, tim Luxemburg bermain melawan timnas Italia-B. Italia menang 13–0’.
Pada tahun 1933 terinformasikan jalan tol dibangun antara Milan dan Como (lihat Nieuwe Venlosche courant, 06-10-1933). Ini dengan sendirinya menambah akses cepat dari Milan ke Como dan sebaliknya. Seperti disebuut di atas, jaringan kereta api komuter listrik sudah dioperasikan se wilayah Milan (Lombardia). Sudah barang tentu, jalan tol tersebut akan sendirinya menjadi penting ke depan, terutama tidak lama lagi Italia akan menjadi tuan rumah Piala Dunia.
Overijsselsch dagblad, 04-05-1934: ‘Jalan-jalan di Italia umumnya sangat bagus (di sana-sini bahkan sangat baik). Di bagian yang datar, rute agak monoton, tetapi ini diimbangi oleh fakta bahwa kita melewati kota-kota seperti Milan, Florence, Bologna, dan Assisi, yang begitu kaya akan keindahan perkotaan sehingga kita rela menempuh beberapa ratus kilometer jalan yang kurang menarik demi kota-kota tersebut. Dan akhirnya, tujuan akhir: Roma, yang hanya dengan menyebut namanya saja sudah cukup untuk membangkitkan gambaran keindahan. Dan siapa pun yang sama sekali tidak tertarik pada sepak bola, tentu saja, dapat memutar kemudi sekarang ke arah Kota Abadi, dari mana tidak ada seorang pun yang pernah kembali dengan rasa tidak puas’.
Piala Dunia 1934 di Italia semakin hari semaki heboh. Pers di Belanda sudah memetakan rute menuju Roma. Pertandingan babak pertama Belanda (melawan) Swiss justru diadakan di kota Milan. Mengapa harus menuju Roma? Boleh jadi orang-orang selama Piala Dunia juga ingin ke Roma, ibu kota negara Italia dan juga pusat Katolik (Vatikan). Boleh jadi juga karena orang-orang Belanda teringat pepatah lama: “mille viae dūcunt hominēs per saecula Rōmam” yang artinya “banyak jalan menuju Roma”. Berbagai rute tersebut juga ada yang melalui Como terus ke Milan.
Overijsselsch dagblad, 04-05-1934: ‘(1). Utrecht— Namur— Lyon— Nice— Roma (3.161 km). Utrecht ’s-Bosch (56 km) —Eindhoven (31,5 km) K.M.) Hasselt (58.5 K.M.) Liège (39 KM) Namur (64.5 KM) Givet (51 KM) Reims (142 KM) Vitry le F. (76 KM) Chaumont (103 KM) Langres (35 KM) Dijon (65.5 KM) Chalon s.S. (68 KM) Lyon (126.5 KM) Valence (101 KM) Avignon (128.5 KM) Aix en P. (76 KM) St. Raphael (125 KM) Nice (72.5 KM) Genoa 206.5 KM) Livomo (215 KM) Grosseto (135 KM) Roma (185 KM). (2). Utrecht—Cologne—Munich—Bruner Pass—Roma (1.856 KM), Utrecht—Arnhem (60,5 KM) – Nijmegen (18 KM) Krefeld (80,5 KM)—Cologne (o5 KM) Koblenz (87,5 KM) Wfesbaden (72 5 KM) Frankfurt ad. Mam (35,5 KM) Nuremberg (220,5 KM) Munich (180,5 KM) Kufstein (91 KM) Innsbruck (76,5 KM) Brenner Pass (39,5 KM) Bolzano (87 KM) Verona (156,5 KM) Modena (103 KM) Bologna (38,5 KM) Roma (454 KM). (3). Utrecht—Luksemburg—Terowongan Simplon Roma (1.922 KM). Utrecht—Breda (68 KM) Antwerpen (50,5 KM) Brussel (47 KM) Namur (GO KM) Dinant (28 KM) Arlon (109 KM) Luksemburg (26 KM) Mstz (59 KM) Nancy (57 KM) Belfort (104 KM) Bern (146 KM) Lausanne (93,5 KM) Martigny (68,5 KM) Brig (82,5 KM) Simplon Pas (22,5 KM) Milan (166,5 KM) Bologna (220 KM) Florence (105,5 KM) Siena (69,5 KM) Grosetto (94 KM) Roma (185 KM). (4). Utrecht—Cologne—Basel—Terowongan Gothard—Roma (1.836 KM). Utrecht—Arnhem (60,5 KM) Wesel (69 5 KM) Cologne (102 KM) Koblenz (87,5 KM) Mainz (92 KM) Heidelberg (90 KM) Karlsruhe (57,5 KM) Freiburg (138,5 KM) Basel (67 KM) Luzern (95,5 KM) Göschenen (84,5 KM) St. Gotthard Pass (19 KM) Airolo (16,5 KM) Lugano (90 KM) Como (30,5 KM) Milan (43 KM) Bologna (220 KM) Florence (105,5 KM) Assisi (200,5 KM) Roma (166,5 KM). (5). Utrecht—Heidelberg—Chur—Julier pass—Roma (1.854 KM). Utrecht—Heidelberg (501,5 KM) Stutkar» (103 KM) Sigmaringen (113 KM) Lindau (101 KM) – Feldkirch (45.5 KM) – Chur (59 KM) Lenzerheide Pass (15 KM) Jul er Pass (49.5 KM) – Silvaplana (8 KM) – Maloja Pass Chiavenna (31.5 KM) Milan (122.5 KM) Roma (696 KM)’.
Bagaimana persiapan tim dari berbagai negara? Ada 16 negara yang akan berpartisipasi di babak Final Piala Dunia di Italia 1934. Seperti disebut di atas Belanda akan menghadapi Swiss di babak pertama; sementara Italia akan mengahadapi Amerika Serikat. Pertandingan Belanda vs Swiss akan dimainkan di kota Milan. Kota yang sudah dikenal oleh beberapa pemain Belanda sebab, seperti disebut di atas pada tahun 1928 timnas Belanda dan timnas Italia melakukan pertandingan persahabatan yang dilakukan di Milan.
Rotterdamsch nieuwsblad, 05-05-1934: ‘Olahraga. Sepak Bola. Kejuaraan Dunia. Pengundian di Roma. Het Nieuwsblad mewawancarai Lotsy. Koresponden kami di Roma menulis kepada kami pada tanggal 3 Mei: Malam ini pukul enam, seluruh dunia sepak bola internasional berkumpul di Hotel Ambassadors untuk acara besar pengundian Kejuaraan Dunia. Sekitar dua puluh jurnalis internasional diundang untuk hadir dalam upacara tersebut. Untuk Belanda, hanya Het Nieuwsblad yang diundang. Sebelumnya, Komite Persiapan mengalami kesulitan besar dalam menyepakati delapan tim yang akan tergabung dalam kelompok tim kuat. Awalnya, Belanda lolos di peringkat keenam, dan masalah utamanya menyangkut Hungaria. Tampaknya ada diskusi yang cukup intens di dalam FIFA tentang Hungaria, tetapi pada akhirnya baru terungkap saat pengundian bahwa "pihak" Hungaria yang menang. Daftar tim "kuat" adalah sebagai berikut: Argentina, Austria, Brasil, Cekoslowakia, Jerman, Italia, Belanda, dan Hungaria. Kami percaya bahwa Spanyol tersingkir pada saat-saat terakhir di hadapan Hungaria. Tim-tim yang disebut "lemah" adalah: Belgia, Prancis, Mesir, Rumania, Spanyol, Swedia, Swiss, dan pemenang pertandingan pendahuluan yang akan dimainkan di Roma melawan Amerika Serikat Meksiko. Bagi Belanda, sudah merupakan kehormatan besar untuk ditempatkan di grup "kuat", karena tidak diragukan lagi negara-negara di divisi ini memiliki peluang bagus untuk mencapai perempat final. Satu-satunya pertanyaan adalah: melawan siapa Belanda akan diundi? Aula tempat pengundian akan berlangsung tampak mengesankan. Sebuah meja besar, di sampingnya berdiri patung dada Mussolini yang mengagumkan, dan di kedua sisinya barisan tentara dari milisi fasis, dengan karabin di pundak mereka....Pertunjukan militer ini disebabkan oleh kedatangan H.E. Starace, sekretaris Partai, yang akan mewakili pemerintah pada pengundian tersebut. Tokoh-tokoh terpenting saat itu adalah dua pemuda Balilla, yang, dengan seragam mereka, akan memimpin pengundian. Di belakang meja, terlihat para tokoh besar gerakan sepak bola. Dr. Bauwens, Lotsy dari Belanda, Mauro, dan yang lainnya, yang melirik dengan agak iri ke arah Piala Dunia, yang diletakkan di depan meja. Sebuah pernak-pernik Avar, dari emas murni, tingginya sekitar tiga puluh sentimeter. Kami merasakan ketegangan di aula kecil itu, yang meningkat ketika Starace memperlihatkan dirinya. Akhirnya, para milisi menyerahkan senapan mereka, perintah-perintah terdengar, dan sekretaris partai dipimpin masuk. Para delegasi asing mengulurkan tangan kanan mereka, seolah-olah mereka semua memiliki darah Romawi di dalam pembuluh darah mereka. Tangan Lotsy menonjol di atas semua yang lain. Setelah pidato-pidato yang biasa, dilanjutkan dengan pengundian. Dua orang Balilla terjun ke ruang dewan dan yang pertama muncul dari pengundian adalah Italia dan pemenang pertandingan antara Amerika Serikat dan Meksiko. Italia sudah memenangkan pertandingan pertama! Kami langsung ditempatkan di perempat final, karena baik Meksiko maupun Amerika Serikat bukanlah lawan bagi 'Nerazzurni'. Kami duduk dengan tegang menunggu Belanda, yang baru keluar dari pengundian pada percobaan keenam. Sebelumnya, kami menyaksikan dengan menyesal saudara-saudara lemah seperti Rumania, Mesir, Spanyol, dan Swedia melewati kami, sehingga dari partai-partai yang kurang kuat, hanya Swiss, Prancis, dan Belgia yang tersisa. Akankah ini menjadi pertandingan Belanda-Belgia lagi? Visi yang tak terlukiskan terbentang di depan mata kami. Lotsy pun termenung. Akhirnya, Belanda keluar dari bus yang tepat. De Balilla yang kedua menunggu agak terlalu lama, bahkan mengambil dua huruf sekaligus.... salah satunya harus ia abaikan. Yang tersisa adalah.... Swiss. Belanda—Swiss, kalau begitu! Bisa jadi lebih baik. Kami sudah mengamankan Belgia dan Prancis, seperti kata pepatah, tetapi Swiss selalu menjadi lawan yang berbahaya bagi kami. Selain itu, Swiss sangat dekat dengan Italia sehingga jumlah pendukungnya selalu melebihi jumlah pendukung Belanda. Sebuah handicap ganda. Hasil undian lengkapnya adalah: A. Italia—Pemenang Amerika Serikat—Meksiko di Roma. B. Cekoslowakia—Rumania di Trieste. C. Hongaria—Mesir di Napoli. D. Argentina—Sweden di Bologna. E. Brasil—Spanyol di Genoa. F. Belanda—Swiss di Milan. G. Austria—Prancis di Turin. H. Jerman—Belgia di Florence. Segera setelah itu, putaran kedua pada tanggal 3 Juni ditetapkan: Pemenang H—Pemenang D di Milan. Pemenang F—Pemenang B di Turin. (Oleh karena itu, kemungkinan Belanda akan menghadapi Cekoslowakia di Turin). Pemenang G—Pemenang C di Bologna. Pemenang E—Pemenang Ate Napeds. Penentuan lapangan pertandingan tidak mudah, tetapi terbukti berhasil bagi kami. Para delegasi berdiskusi selama lebih dari dua jam sebelum mencapai kesepakatan. Tuan Lotsy telah berupaya untuk menyelenggarakan pertandingan di Milan atau Turin dan ini dapat dianggap sebagai keberhasilan pribadi. Pejabat Belanda harus mempertimbangkan bahwa lapangan-lapangan ini memang telah ditentukan untuk Belanda. Pertama, stadion di Milan dan Turin adalah yang terbaik di Italia, dan kemudian jarak yang lebih pendek memainkan peran penting. Kami meminta pendapat Bapak Lotsy tentang peluang Belanda setelah pengundian. Meskipun dalam suasana hati yang baik, beliau tidak terlalu gembira. Swiss dan mudah-mudahan selanjutnya Chekho-Slovakia bukanlah lawan yang mudah, dan di atas itu, tim nasional Belanda agak kelelahan saat ini. Bayangkan saja, kita masih sepenuhnya terlibat dalam kompetisi kejuaraan, di mana banyak pemain terlibat. Anderiessen dari Ajax, misalnya, akan memainkan tiga pertandingan dalam satu minggu, karena Belanda bermain melawan Prancis pada Hari Raya Surga. Tetapi bukankah lebih baik mengganti pemain Ajax melawan Prancis? Itu akan menjadi solusi terbaik, tetapi untuk moral tim, itu mungkin merupakan langkah yang salah. Jika anak-anak kita dikalahkan oleh Prancis karena absennya Anderiessen, kekuatan mereka akan sangat berkurang. Sebuah tim sangat sensitif... Bagaimanapun, para pemain kami lelah, dan itu merupakan kendala besar melawan tim-tim profesional yang sekarang kami hadapi. Karena pemain Swiss juga profesional, kami bermain di Milan untuk pertama kalinya, dan saya menganggap itu sangat menguntungkan. Kami mungkin akan menampung pemain di Como atau tempat lain di Danau Como. Ada fasilitas pelatihan yang sangat bagus di Como. Selain itu, kami ingin membawa koki Belanda atau Jerman bersama kami, karena makanan Italia akan mengganggu perut. Bagaimanapun, Tuan Lotsy menyimpulkan, kami penuh semangat, meskipun bisa lebih beruntung. Kami masih memiliki satu kesempatan lagi untuk berbicara dengan Dr. Bauwens tentang tim kami. Dia akan memimpin pertandingan penultimate melawan Belgia dan percaya bahwa Belanda telah menjadi sangat kuat, tetapi telah melemah secara signifikan, padahal sebelumnya merupakan bagian terkuat dari tim, yaitu pertahanan. Sebelumnya, kata Dr. Bauwens, pertahanan Belanda mungkin yang terkuat di Eropa, tetapi masa itu tampaknya telah berakhir. Dia tidak banyak berkomentar tentang tim Swiss. Swiss sering mengubah susunan tim mereka paling lambat di musim ini, sehingga sulit untuk memprediksi apa pun. Hanya pertahanan mereka yang konstan dan sangat kuat. Séchehaye, Mincalli, dan Weiler adalah batu sandungan bagi setiap pertahanan, sehingga penyerang Belanda harus bertindak drastis untuk meraih kesuksesan melawan mereka’.
Tim Italia di bawah pimpinan pelatih Vittorio Pozzo, pemusatan latihan intensif diadakan di kota Florence. Bagaimana dengan Belanda? Setelah selesai pemusatan latihan di kota Arnhem, Belanda kemudian merangsek ke Italia mendekati TKP di kota Como. Untuk apa?
Ons Noorden, 07-05-1934: ‘Pemain untuk Piala Dunia. Para pemain terpilih untuk kejuaraan dunia akan diberangkatkan pada Selasa tanggal 22. Mereka adalah Keizer, van Male, Weber, van Run, van Diepenbeek, Lelveld, Pellikaan, Anderlessen, van Heel, Onorinsen. Graafland, Wels, Vente, Bakhuis, Smit, Miinders Lagenclaal, J Mol dan Schoemaker. Para pemain dan ofisial akan check-in di hotel di Como’. Pada tanggal 11 Mei, L Boeijon, Kepala Konsul KNVB, berangkat dari Den Haag untuk mencari tempat tinggal yang tenang di Como bagi tim nasional sepak bola Belanda selama pertandingan Kejuaraan Dunia. (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 26-05-1934).
Masing-masing federasi sepak bola dari negara peserta Piala Dunia 1934 di Italia sudah barang tentu mengorganisasikan bagaimana masyarakatnya dapat mendukung timnas masing-masing. Belanda juga telah mempersiapkannya dengan perjalanan kereta api dari Den Haag ke Milan (pp).
Haagsche courant, 09-05-1934: ‘Kejuaraan Dunia. Belanda—Swiss. Dewan Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belanda dengan ini memberitahukan kepada kami bahwa mereka yang ingin menghadiri pertandingan Belanda—Swiss yang akan dimainkan di Milan pada tanggal 27 Mei mendatang, dan yang tidak memanfaatkan kesempatan yang ditawarkan oleh agen perjalanan terkenal, dapat mengajukan permohonan tiket untuk pertandingan tersebut di Kantor Asosiasi di Van de Spiegelstraat 21 di sini, paling lambat tanggal 12 bulan ini, dengan menyertakan jumlah yang harus dibayar, ditambah 30 sen untuk biaya administrasi. Harga tiket masuk adalah ƒ1,30, ƒ1,95, ƒ3,25 dan ƒ6,50. Permohonan yang diterima setelah tanggal 12 Mei harus dibatalkan. Lokasi pertandingan. Panitia penyelenggara pertandingan Kejuaraan Dunia telah melakukan perubahan pada lokasi beberapa pertandingan. Dengan demikian, di babak kedua, pemenang pertandingan Brasil—Spanyol akan menghadapi pemenang pertandingan Italia—Amerika Serikat. Di sisi lain, Napoli telah ditetapkan sebagai pengganti Florence untuk pertandingan perebutan hadiah ketiga. Asosiasi Perjalanan Belanda. Partisipasi dalam kereta tambahan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Perjalanan Belanda dijamin akan berjalan. Namun, pendaftaran masih dibuka. Jika jumlah penumpang untuk kereta tambahan terlalu banyak, kereta tambahan kedua akan dijadwalkan oleh N.R.V. untuk menciptakan kemungkinan membawa sebanyak mungkin pendukung ke Italia untuk tim nasional kita. Rotala Neerlandica. Perjalanan ke Italia dengan kereta khusus juga diselenggarakan oleh agen perjalanan "Rotala Neerlandica", Rijnstraat 18a, di sini, untuk menghadiri turnamen Kejuaraan Dunia. Kereta berangkat pada tanggal 25 bulan ini dan kembali pada tanggal 29 Mei. Tarif pulang pergi untuk kelas tiga hanya ƒ28,50. Perjalanan yang diselenggarakan oleh agen perjalanan Lissone—Lindeman ini dimulai pada tanggal 26 Mei. Warga Den Haag berangkat dari Stasiun S.S. pada pukul 08.29 pagi. Tarif pulang pergi ke Milan dan kembali, termasuk biaya tambahan perangko Italia, dan tempat duduk yang dipesan, adalah kelas 2 sebesar 95,30 dan kelas 3 sebesar 37,75. Dengan menggunakan kereta ini, Anda juga dijamin mendapatkan tempat duduk untuk dua pertandingan, dengan membayar 5,5 per pertandingan untuk tribun terbuka dan 6,75 per pertandingan untuk tribun tertutup. Kereta kembali dari Milan pada hari Jumat, 1 Juni, dan tiba di Belanda pada Sabtu pagi, 2 Juni, sehingga semua orang dapat sampai ke tujuan tepat waktu sebelum liburan Minggu. Untuk kenyamanan peserta, telah disediakan juga semua makanan dan penginapan di hotel-hotel yang sangat baik. Biaya untuk: penginapan dan semua makanan sesuai program, transportasi dari dan ke hotel, tiket untuk dua pertandingan, transportasi dari dan ke stadion Milan dan Turin, wisata ke Turin, dan semua tip, berjumlah total ƒ54,50. Jika menggunakan hotel terbaik, harga ini akan dinaikkan sebesar ƒ10. Karena, tentu saja, banyak yang ingin melihat sesuatu tentang Italia pada hari-hari ketika tidak ada pertandingan, beberapa wisata telah diorganisir, yang partisipasinya bersifat opsional. Jika Belanda secara tak terduga tidak bermain di Turin, perjalanan sehari penuh ke Como dan Villa d'Este akan ditawarkan sebagai pengganti perjalanan ke Turin dan tiket masuk untuk pertandingan; tidak ada biaya untuk perjalanan ini. Rutenya adalah: Milan—Monsa—Lecco—Bellagio—Como—Villa d'Este kembali ke Milan’.
Ambisi Italia untuk menjuarai Piala Dunia 1934 sangat kuat. Hal itu tentu saja karena bertindak sebagai tuan rumah yang akan didudukung oleh para supporternya. Para pemain Italia sudah ditetapkan (lihat daftar di bawah). Klub Juventus dari Turin sebagai juara liga (serie) Italia menjadi penyumbang pemain terbanyak. Federasi sepak bola Italia juga mendatangkan empat pemain dari Amerika Selatan. Bagaimana bisa? Yang jelas Italia akan melawan Amerika Serikat di Roma pada tanggal 27 Mei ini.
Rotterdamsch nieuwsblad, 17-05-1934: ‘Olahraga. Sepak Bola. Untuk Kejuaraan Dunia. Para pemain Italia yang terpilih. Koresponden kami di Roma menulis kepada kami pada tanggal 14 bulan ini: Hari ini komite tim nasional Italia memilih 22 pemain yang harus membela warna Italia di Kejuaraan Dunia mendatang. Pilihannya jatuh pada: Penjaga Gawang: Combi (Juventus), Ceresoli (Ambrosiana), Cavanna (Napoli); Bek: Atlemanda (Ambrosiana), Montiglio (Bologna), Rosetta (Juventus), Caligaris (Juventus); Gelandang: Varglien (Juventus), Castellizzi (Ambrosiana), Fizziolo (Fiorentina), Monti (Juventus), Ferraris (Roma), Bertolini (Juventus); Lini depan: Arcari (Milan), Guarisi (Lazio), Meazza (Ambrosiana), De Maria (Ambrosiana), Borel (Juventus), Schiavio (Bologna), Ferrari (Juventus), Guaita (Roma), Orsi (Juventus). Menarik untuk dicatat bahwa empat pemain ini awalnya berasal dari Amerika Selatan dan dibeli dari sana seiring waktu, atau, seperti yang disebut secara halus di sini, dipanggil kembali ke tanah air mereka. Mereka adalah Guarisi, De Maria, Orsi, dan Guaita, di mana Orsi sangat menonjol di Olimpiade Amerika pada saat itu. Guarisi adalah warga Brasil; tiga lainnya "dipinjamkan" oleh Argentina ke sepak bola Italia. Tim juara Juventus secara tradisional memiliki perwakilan terbaik. Tidak kurang dari sembilan pemain dari klub Turin saat ini berada di sekitar Florence untuk mempersiapkan diri menghadapi perebutan Kejuaraan Dunia. Setelah mereka adalah Ambrosiana dari Milan, yang secara konsisten menduduki puncak klasemen selama musim lalu tetapi tersingkir oleh Juventus di menit-menit terakhir. Klub ini memiliki lima perwakilan di antara 22 pemain yang terpilih. Saat ini, Asosiasi Sepak Bola sedang bernegosiasi dengan Manchester City, yang bermain imbang dengan Fiorentina kemarin di Florence (3–3), untuk mengatur pertandingan tim Italia melawan juara Piala Inggris. Berita bahwa tim nasional Belanda akan tiba di Como pada tanggal 22 bulan ini untuk pertandingan melawan Swiss disertai dengan komentar yang sangat positif di pers Italia’.
Singkatnya: Belanda yang bermain melawan Swiss di Milan pada tanggal 27 Mei harus mengakui keunggukan Swiss dengan skor 2-3 (lihat De Indische courant, 28-05-1934). Dengan demikian timnas Belanda sudah langsung gugur di babak pertama. Mengapa itu bisa terjadi? Dalam catatan lama antara Belanda dan Swiss sudah pernah melakukan pertandingan 10 kali dimana lima kali di Swiss dan lima kali di Belanda (saling mengalahkan). Dalam pertandingan yang terakhir 22 Januari 1933 di Amsterdam berakhir imbang (lihat De Gooi- en Eemlander: nieuws- en advertentieblad, 26-05-1934). Jadi dalam hal ini timnas Swiss juga sangat kompetitif. Lalu bagaimana dengan timnas Italia?
De Indische courant,28-05-1934; ‘Hiruk pikuk di Milan. Milan, 27 Mei (Aneta). Ribuan warga asing dan puluhan ribu warga Italia memadati delapan lapangan sepak bola tempat babak pertama Piala Dunia dimainkan. Milan dibanjiri oleh warga Swiss dan Belanda. Di stasiun Como, para pejabat Belanda menyambut para pendukung Belanda yang tiba dengan kereta tambahan, yang menyanyikan Wilhelmus saat kereta berangkat menuju Milan. Hasil pertandingan lainnya adalah: Cekoslowakia — Rumania 2-1 (babak pertama) 0-1. Italia — Amerika Serikat 7-1 (babak pertama 3-0). Argentina — Swedia 2-3 (babak pertama 1-1). Hongaria — Mesir 4-2 (babak pertama 2-2). Austria — Prancis (setelah perpanjangan waktu) 3-2 (babak pertama 1-1). Brasil — Spanyol 1-3 (babak pertama 0-3). Jerman — Belgia 5-2 (babak pertama 1-2). Analisis singkat pasca pertandingan. Hasil pertandingan secara umum dapat dianggap normal. Argentina, seperti yang diperkirakan, tidak memiliki peluang dengan tim amatirnya dan bahkan kalah dari Swedia, yang juga bukan termasuk tim kuat. Sementara Brasil kalah dari Spanyol dan Amerika Serikat kalah dari Italia, peserta Amerika telah tersingkir. Tim Prancis memberikan penampilan yang luar biasa dengan terlebih dahulu kalah dari Austria di babak perpanjangan waktu. Di babak selanjutnya, yang akan dimainkan pada tanggal 30 bulan ini, negara-negara berikut akan saling berhadapan: Jerman — Swedia. Cekoslowakia — Swiss. Austria — Hongaria. Italia — Spanyol. Detail penting lainnya. Como, 27 Mei (Aneta). Van Heel tetap menjadi kapten tim nasional Belanda, atas desakan Van der Meulen. FIFA. Roma, 27 Mei (Aneta). Kongres FIFA memilih Lotsy sebagai anggota dewan’.
Setelah mengalah Amerika Serikat dengan skor 7-1, bertemu Spanyol di babak perempat final yang diadakan di kota Firenze pada tanggal 31 Mei. Setelah perpanjangan waktu (1-1), akhirnya Italia berhasil unggul dengan satu gold an akan bertemu Austria di semifinal pada tanggal 3 Juni di kota Milan. Hasilnya Italia menang 1-0.
Di partai puncak (grand final) yang diadakan di kota Roma pada tanggal 10 Juni, Italia berhasil mengalahkan Cekoslowaki dengan skor 2-1 (lihat Nieuwe Apeldoornsche courant, 11-06-1934). Italia di Piala Dunia: "Veni, vidi, vici" (Aku datang, aku melihat, aku menaklukkan). Starting line up Italia: Kiper, Combi; Belakang, Monzegito dan Allemandi; Tengah, Ferraris IV, Monti dan Bertolini; Depan, Guaita, Meazza, Schiavio, Ferrari dan Orsi.
Piala Dunia 1934 dengan final di kota Roma dimana juaranya Italia adalah satu hal. Kota Como adalah hal lain. Dalam hal ini kota Como menjadi “basecamp” timnas Belanda di Italia. Hal itu dipilih karena pertandingan melawan Swiss diadakan di kota Milan. Jarak antara kota Como dengan kota Milan hanya 45 Km. Satu yang penting dipilih Belanda di Como karena juga ada stadion bagus untuk latihan dan juga di Como tersedia masakan Jerman yang cocok buat orang Belanda.
Stadion di Como bernama Stadio dell' Union Calcistica “Comense" (lihat De Gooi- en Eemlander: nieuws- en advertentieblad, 26-05-1934). Disebutkan para pemain sepak bola Belanda di Como. Pelatih timnas Belanda Herberts memberikan teori selama latihan di lapangan sepak bola di Como, di Stadio dell' Union Calcistica "Comense". Catatan: Stadion di Como ini selesai dibangun pada tahun 1928. Pemain andalan Italia, Monti juga pernah tinggal di Como (lihat Provinciale Geldersche en Nijmeegsche courant, 15-10-1938). Disebutkan bahwa Hans Gisdanni Monti, salah satu gelandang bertahan terhebat yang pernah dikenal dunia sepak bola, lahir pada tahun 1911 di Münster di tepi sungai Neckar. Ia tinggal bersama ibunya yang berkebangsaan Jerman hingga berusia sebelas tahun, dan kemudian pindah ke Como, Lugano, Locarno, dan pada tahun 1932, sebagai pemain sepak bola profesional, di Turin, di mana bintangnya bersinar sebagai gelandang bertahan tim nasional Italia di Juventus. Monti (berayah Italia), kini kembali bersama ibunya di Münster.
Sampai
sejauh ini, meski kota Como sudah dikenal sejak ‘baheula’, tetapi bagaimana
sepak bola di Como tidak kunjung terinformasikan. Yang terinformasikan adalah
di kota Coma sudah memiliki stadion bagus bernama Stadio dell' Union Calcistica
"Comense" dimana timnas Belanda melakukan pelatihan sebelum menuju
pertandingan Piala Dunia 1934 di kota Milan. Tampaknya hingga sejauh ini klub
sepak bola di kota Como masih terbilang klub kecil relatif terhadap klub-klub
besar di Milan, Turin dan sebagainya. Lalu bagaimana dengan Piala Dunia tahun
1938 di Prancis?
Pada tanggal 15 Maret 1937, dalam sidang FIFA menunjuk Jepang dan Indonesia untuk melakukan pertandingan prakualifikasi Piala Dunia 1938 yang pemenangnya akan melawan (play-off) pemenang pertandingan (play-off) antara Amerika Serikat (juara Amerika Utara) dengan Argentina (juara Amerika Tengah) untuk memperebutkan satu tempat dalam melengkapi 16 negara yang akan berlaga dalam final Piala Dunia 1938 di Prancis. Dalam hal ini penunjukan Indonesia dari Asia karena masa itu Indonesia telah memiliki kompetisi lokal yang teratur, sedangkan Jepang sebelumnya pernah memiliki tim Olimpiade yang kuat. Tim yang kuat dari Jepang dan tim memiliki kompetisi teratur dari Indonesia (sekarang kompetisi Jepang yang teratur).
Dalam Piala Dunia 1938 di Prancis timnas Indonesia (baca: Hindia Belanda) akan melakukan pertandingan prakualifikasi. Piala Dunia 1938 di Prancis akan diadakan pada bulan Juni di sejumlah kota termasuk kota Lyon yang cukup dekat dijangkau dari kota Como (sekitar 350 Km) melalui terowongan Mont Blanc atau Frejus (terowongan di pegunungan Alpen bagian barat).
Pertandingan melawan tim Jepang yang dijadwalkan di Hong Kong, Jepang mengndurkan diri (karena Jepang terlibat perang dengan Tiongkok). Indonesia menjadi maju untuk melawan hasil play-off antara Amerika Serikat dengan Argentina yang akan dijadwalkan dimainkan di Belanda. Namun Argentina berhalangan hadir. Oleh karena sepak bola belum popular di Amerika, Amerika juga kemudian membatalkan keberangkatannya ke Belanda untuk melawan wakil Asia yakni, Indonesia. Akhirnya Indonesia tanpa pernah melakukan babak kualifikasi yang sebenarnya berhak ke Prancis. Jadi, dalam hal ini prosesnya Indonesia menuju putaran Piala Dunia di Prancis berjalan normal (tetap dengan kemenangan WO).
Pelatih Indonesia Mastenbroek telah menetapkan 17 pemain yang benar-benar berangkat ke Prancis berdasarkan hasil seleksi dari turnamen tiga subwilayah di Jawa. Mr. Karel Lotsy (Presiden KNVB, PSSI-nya di negeri Belanda) mendukung kehadiran Indonesia di Prancis. Surat kabar De Indische courant, 12-04-1938 memberitakan bahwa secara aklamasi Mohamad Nawir ditunjuk menjadi kapten tim dan Rohrig sebagai wakil kapten. Tim Indonesia (NIVU) terdiri dari: Mo Heng (Malang), Samuels (Surabaya), Anwar (Batavia), Nawir (Soer.), Taihutu (Batavia), Patiwael (Batavia), Hong Djien (Soer.), Hukom, F Meeng, Tan See Han, Summers. Cadangan: Van Beuzekom (Batavia), Harting (Surabaya), Van der Burj (Djocja), Faulhaber (Semarang), Sudarmadji (Surabaya) dan Telwe (Surabaya). Tim Indonesia berangkat dengan kapal ke Eropa.
Tim Indonesia tiba di Den Haag tanggal 18 Mei 1938 setelah melakukan perjalanan panjang dengan kereta api dari Marseille. Di stasion kereta api Den Haag, tidak dinyana, Tim Indonesia disambut meriah, baik oleh pejabat KNVB, pengurus klub HBS maupun para simpatisan dan keluarga para pemain termasuk para mantan-mantan pemain sepak bola di Indonesia. Tim Indonesia kemudian menaiki bus menuju hotel Duinoord di Sweelinckplein, tempat para pemain dan official menginap selama di Belanda. Setiba di hotel dilakukan pertemuan khusus antara pemain dan official Tim Indonesia dengan pejabat KNVB, pimpinan HBS dan lainnya. Training kemudian dilakukan. Tempat training centre selama di Belanda ditetapkan di kompleks sepak bola klub HBS, Den Haag. Tim Indonesia di Den Haag direncanakan akan tinggal sampai tanggal 31 Mei 1938.
Setelah
tim menyelesaikan pemusatan latihan di Den Haag, Tim Indonesia berangkat
tanggal 2 Juni 1938 menuju Rheims, Prancis. Tim Indonesia berangkat dari Den
Haag pada pukul 10.56 ke Prancis. Setelah tiba di Paris jam 16.54, tim disambut
oleh konsul. Pada hari berikutnya, pukul 10.30 meneruskan perjalanan ke Rheims.
Menurut official tim, sampai tanggal 1 Juni penjualan tiket pertandingan
Indonesia-Hongaria telah habis terjual dengan menghasilkan sebanyak 70.000
franc. Kapasitas stadion memiliki 19.000 tempat duduk.
Tim Hungaria sendiri sudah lebih dulu tiba di Rheims. Waktu yang ada dimanfaatkan oleh Tim Indonesia untuk berlatih fisik dan uji coba lapangan stadion Velodorme, Rheims. Malam sebelum hari-H, Walikota Rheims mengundang dan menjamu makan malam kedua tim. Susunan pemain kedua tim diumumkan (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 07-06-1938). Seperti disebut di atas, tujuh belas pemain ke Prancis terdiri dari delapan orang Belanda, tiga orang Ambon, dua orang Sumatra, satu orang Jawa dan tiga orang Cina. Yang diturunkan sebagai line-up adalah dua Cina (Mo Heng dan Hong Djien), satu Jawa (Sudarmadji), dua Ambon (Pattiwael dan Taihutu) dan dua Sumatra (Anwar dan Nawir). Itu berarti ada tujuh non-Belanda. Empat Belanda adalah Samuels, Hukom, Zommers dan F Meeng. Nama Meeng tidak ditemukan dalam marga orang Belanda, apakah Frans Meeng adalah orang Indo? Demikian juga dengan nama Hukom, apakah orang Indo? Yang benar-benar orang Belanda hanya ada nama Zommers dan Samuels.
Orang
Prancis ternyata memiliki cara pandang tersendiri tentang sepakbola. Ternyata
penduduk Kota Rheims datang berbondong-bondong ke stadion untuk menonton dan
menunaikan tiket yang telah mereka beli jauh sebelum hari pertandingan. Mereka
sangat respek terhadap Tim Indonesia setelah membaca semuanya di dalam koran
pagi. Tapi, tak mereka sangka, sebelum pertandingan dimulai, dari tengah
lapangan para pemain Indonesia memberi salam hormat kepada para penonton yang
telah duduk manis baik ke arah tribun barat maupun tribun timur (hal serupa ini
tidak dilakukan Tim Hungaria). Sontak, para penonton berdiri untuk membalas
salam hormat Tim Indonesia. Rasa hormat di balas dengan rasa hormat.
Pertandingan dimulai. Priiit. Roger Conrie, wasit asal Prancis meniup pluit, tanda pertandingan dimulai. Mo Heng, yang sudah sembuh dari cedera pergelangan tangan, berada sigap di depan gawang. Pertahanan Tim Indonesia yang dikawal oleh dua center back, Hukom dan Samuel agak rapuh, sehingga Mo Heng harus beberapa kali menyelamatkan gawang Tim Indonesia sebelum akhirnya gawang Tim Indonesia kebobolan. Tidak ada riuh rendah, melainkan penonton terdiam saja ketika gol pertama terjadi. Ini menujukkan tanda bahwa kelihatannya penonton yang hampir seluruhnya orang Prancis dan sebagian besar penduduk Kota Rheims memihak Tim Indonesia. Tidak ada sorak sorai penonton setiap gol yang tercipta kepada Tim Hungaria. Akan tetapi, setiap ada adegan indah dan heroik dari pemain Indonesia, para penonton bergemuruh.
Indonesia dalam pertandingan ini kalah telah 6-0. Boleh jadi, orang Prancis melihat pertandingan ini sebuah drama: antara tim kuat vs tim lemah. Memang akhirnya, Tim Hungaria menang telak enam kosong, tetapi para penonton puas melihat penampilan Tim Indonesia yang sangat heroik.
Inilah drama dalam sepak bola dan orang Prancis yang hadir di stadion memang menikmati betul drama itu. Sisi humanis penonton Prancis lebih mengemuka dalam pertandingan Tim Indonesia vs Tim Hungaria. Untuk diketahui klub kota Rheim bernama Stade de Rheim adalah juara nasional liga Prancis tahun 1935 (lihat De Telegraaf, 27-05-1935).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Sepak Bola Italia dan Sepak Bola Indonesia, Piala Dunia di Italia 1934 dan Piala
Dunia di Prancis 1938: Como 1907 Klub Orang Indonesia dan Timnas Indonesia di
Piala Dunia
Dalam dunia sepak bola, suatu kota dihubungkan dengan lokasi stadion dan namanya, dan juga dhubungkan dengan nama klub yang ada tingkat pencapaiannya di berbagai level pertandingan/kompetisi. Seperti disebut di atas, hal yang berkaitan dengan klub sepak bola di Como, hingga sejauh ini belum terinformasikan. Hanya dinarasikan bahwa di kota Como didirikan klub bernama Como pada tahun 1907.
De grondwet, 21-09-1940: ‘Pertemuan antara Harbig dan Lanzi yang lebih baik. Tahun ini, Rudolf Harbig akan memiliki kesempatan lain untuk menguji kekuatannya melawan Mario Lanzi. Pertemuan ini akan berlangsung pada kesempatan pembukaan stadion baru di Como pada tanggal 29 September. Namun, belum dikonfirmasi apakah kedua atlet hebat ini akan berkompetisi di nomor 400 atau 800 meter. Beberapa atlet Finlandia juga akan berkompetisi pada kesempatan ini’.
Pada tahun 1940 terinformasikan di Como terdapat stadion baru. Pertanyaannya apakah stadion baru ini adalah stadion lama (yang disebut Stadio dell' Union Calcistica "Comense" yang pernah menjadi tempat pelatihan timnas Belanda dalam Piala Dunia 1934)? Yang jelas stadion baru di Como memiliki lintasan atletik. Besar kemungkinan kelak lintasan atletik itu dihilangkan yakni dengan membangunan tribun yang menjadi tribun lebih dekat ke lapangan seperti masa ini. Perlu dicatat di sini, dengan membandingkan foto stadion Como pada tahun 1934 dan foto masa kini tampak kurang lebih sama view-nya (latar bukit di sebelah kanan ke arah danau).
Kota Como adalah kota tua. Keuatamaan kota Como sudah lama dikenal sebagai kota wisata (danau Como). Danau Como sendiri diinformasikan memiliki kedalaman 400 Mdpl (lihat De Graafschapper, 15-12-1947). Disebutkan danau Lugano mencapai kedalaman 270 meter di titik terdalamnya, danau Como mencapai kedalaman 400 meter. Seperti disebut di atas, berdasarkan informasi tahun 1904 kedalaman danau Como mencapai 609 Mdpl. Yang mana yang benar? Apakah danau Como menjadi semakin dangkal (200 M) selama 40 tahun terakhir ini?
Setelah sekian lama, keberadan klub sepak bola di kota Como mulai terinformasikan. Klub kota Como ini disebut AC Como. Mengapa baru terinformasikan sekarang di tahun 1949 ini? Apakah klub Como (Associazione Calcio Como) sudah meningkat prestasinya sehingga mendapat liputan media?
De Maasbode, 18-10-1949: ‘Risiko Profesi: Wartawan Sepak Bola Italia Dibunuh. Meskipun terkadang terjadi di lapangan sepak bola kita bahwa wasit diserang dan menerima pukulan keras dari pemain yang emosi, wartawan olahraga dibiarkan tanpa gangguan dan paling-paling hanya menderita akibat ulah pendukung klub yang melampiaskan kemarahan mereka di atas kertas tentang kritik tidak adil yang ditujukan kepada tim favorit mereka yang kalah. Namun, bahwa profesi ini bukannya tanpa risiko, terbukti dari sebuah laporan dari Como, di mana mayat Sergio Cabaglio, seorang wartawan sepak bola untuk sebuah surat kabar lokal, ditemukan di jalan. Polisi menetapkan bahwa kematiannya adalah akibat pukulan yang dilayangkan kepadanya. Beberapa hari sebelumnya, penerbit Het Wad telah menerima surat yang menyatakan bahwa kritik yang dilontarkan Cabaglio kepada tim AC Como telah menimbulkan kesan yang sangat buruk’.
Kota Como
sendiri masih memiliki daya tarik tersendiri bagi dunia sepak bola. Pada tahun
1934 stadion di Como dijadikan timnas Belanda sebagai tempat p[elatihan
terakhir sebelum berlaga bulan Mei di kota Milan (melawan timnas Swiss). Pada
tahun 1949 ini, stadion yang terdapat di kota Como dijadikan timnas Italia
sebagai pemusatan latihan sebelum bertolak ke London melawan timnas Inggris.
De Maasbode, 28-11-1949: ‘Skuad biru dalam nada minor. Pertandingan tahun ini. Namun kejutan di kandang Spurs masih mungkin terjadi. Hujan turun di Como pada Sabtu pagi. Hujan gerimis perlahan dan sunyi dari langit kelabu yang datar, dan angin terasa lesu namun anehnya dingin, dan kota serta danau tiba-tiba tidak lagi menyerupai, dari kejauhan, kartu pos berwarna di rak kartu di aula megah "Villa Imperiale di Montrasio". Di aula "Villa" duduk enam belas selebriti sepak bola berharga yang akan membentuk skuad Italia pada Rabu sore mendatang di London, di kandang Spurs di White Hart Lane, yang akan melakukan upaya gigih untuk kedua kalinya dalam lima belas tahun untuk mengalahkan para grandmaster sepak bola indoor Inggris di tanah mereka sendiri. Mereka menunggu mobil yang akan mengantar mereka ke bandara Milan, dari mana mereka akan diterbangkan ke Inggris dalam beberapa jam, dan para jurnalis Italia jarang melihat rombongan sepak bola Italia yang tampak lebih murung daripada keenam belas orang terpilih ini. Keenam belas orang terpilih ini tahu betul. Mereka hanya perlu melihat langit Como yang kelabu dan meneteskan air untuk mengetahui bahwa rombongan Italia di sana, di London, menghadapi nasib yang sama seperti skuad Italia yang berangkat ke London lima belas tahun lalu’. Winschoter courant, 23-11-1949: ‘Nama-nama pemain timnas Italia yang akan ke Inggris: Kiper: Moro (Turino) atau Sentimenti (Lazio); Belakangr: Giovanni (Internazionale) dan Becattini (Genoa); Tengah: Fattori (Internazionale) Barola (Juventus) dan Piccini (Juventus) atau Annovazzi (Milano); Depan: Boniperti (Juventus), Basetto (Sampdoria), Amadei atau Lorenzi (keduanya Internazionale), Martino (Juventus) dan Carapellese (Torino)’.
Klub sepak bola di kota Como saat ini sudah menjadi klub besar, klub yang sudah bersaing di liga utama Italia. Saat ini klub kota Como dirumorkan sedang mendatangkan bintang sepak bola dari Belanda. Apakah ini mengindikasikan klub AC Como baru saja promosi pada tahun 1949 ini? Yang jelas sejak disebut klub Como didirikan tahun 1907 belum pernah terinformasikan di dalam liga Italia.
Twentsch dagblad Tubantia en Enschedesche courant en Vrije Twentsche courant, 08-12-1949: ‘Sepak bola. Terlouw ke Como. Rinus Terlouw, pemain kunci tim nasional Belanda dan Sparta, akan bermain untuk klub papan atas Italia, Como, menurut koresponden Milan dari Algemeen Dagblad. Meskipun Terlouw sendiri membantah rumor tentang kepergiannya beberapa hari yang lalu, koresponden tersebut mengklaim bahwa negosiasi antara Como dan Terlouw telah berhasil diselesaikan. Pemain kelahiran Rotterdam ini kemungkinan akan berangkat ke Italia dalam beberapa minggu lagi. Pertandingan Belanda-Denmark karenanya akan menjadi pertandingan internasional terakhir yang akan dimainkan Terlouw; Sparta mungkin dapat memanfaatkan kemampuan Terlouw satu atau dua kali lagi. Como menempati peringkat kedelapan di divisi teratas Italia dan berada di posisi yang sama dengan Internazionale, klub Wilkes’.
Rumor kehadiran bintang sepak bola Belanda Rinus Terlouw di Como semakin diperjelas (lihat De vrije pers: ochtendbulletin, 16-12-1949). Disebutkan mengenai pemain kunci Sparta dan tim nasional Belanda, Terlouw, ketua (klub) Como, Carlo Songla, membantah bahwa klubnya bermaksud untuk merekrut Terlouw. Songla menyatakan bahwa negosiasi telah dilakukan dengan Terlouw, tetapi negosiasi tersebut hanya terbatas pada "kontak sederhana". Tidak ada kontrak yang ditandatangani dan Como tidak berniat untuk membuka kembali diskusi tersebut. Satu yang penting dari tadisi klub di Como adalah mengunjungi.
Twentsche courant, 07-02-1950: ‘Para pemain sepak bola bersama Paus. Sabtu lalu, klub sepak bola Como, yang dijadwalkan bermain pertandingan di Como, diterima dalam audiensi oleh Bapa Suci. Ini hampir menjadi tradisi bagi para pemain sepak bola yang datang ke Roma untuk terlebih dahulu mengunjungi Bapa Suci’.
Pertandingan antara klub ibu kota (Roma) dengan klub dari wilayah terpencil (AC Como). Klub AC Como mengalahkan klub “IL Tempo” Roma dengan skor 1-0.
Dagblad voor Noord-Limburg, 28-04-1950: ‘Catatan Roma. (dari koresponden Roma kami). Menangis karena sepak bola. Ini menangis karena sepak bola. Karena sebagian besar ketenaran kami (baru-baru ini) berkat pertemuan kami dengan Faas Wilkes, kami juga membaca koran Senin. Hari ini Senin dan kemarin itu terjadi. Lima belas detik sebelum akhir pertandingan Roma vs Como ketika wasit memberikan penalti kepada Roma, yang akan diambil oleh kapten Andreoli. Bola membentur tiang dan gol penyelamat yang diharapkan gagal terwujud. Hasil: 1-0 untuk Como. Dan lihatlah sekarang bagaimana “II Tempo” menggambarkan tragedi ini: “Wasit telah meniup peluit akhir. Sebelum para Biru Cómö, sang pemenang, saling berpelukan, para Kuning-Merah yang kalah menangis. Dengan tangan di rambut mereka, Andreoli menangis di atas segalanya, tak terhibur karena ia gagal mencetak gol. Terbaring lelah di tanah, Trerè yang pemberani juga menangis, dan lawan yang tak kalah tangguh, Ghiandi muda, mencoba menghiburnya dengan penuh kasih sayang. Penonton pun sangat tersentuh oleh akhir yang dramatis ini.” Dan untuk membuat mereka yang berani di rumah ikut meneteskan air mata, foto-foto telah mengabadikan air mata dan keputusasaan Andreoli untuk selamanya, dan bahkan tiang gawang putih yang fatal dengan noda hitam kotor telah difoto, tiang yang menghancurkannya, dengan noda lumpur tempat Andreoli dan Trerè menangis. Setelah membaca ini, kami menyimpulkan bahwa kami telah salah. Sampai sekarang, kami menganggap pemain sepak bola sebagai semacam suku Mohican terakhir, sebagai semacam bajak laut yang merosot, namun tetap saja bajak laut; Sebagai koboi, perampok jalanan, orang-orang tangguh dengan tangan besar dan kaki yang lebih besar lagi yang melepaskan nafsu jahat ayah mereka pada bola dan bahkan tidak mendirikan kerajaan dalam prosesnya. Jadi, bukan begitu kenyataannya. Seseorang seharusnya menangis ketika bermain sepak bola dan kalah saat bermain. Dengan pengetahuan ini, kami telah merevisi penilaian kami terhadap para pemain sepak bola’.
AC Como tidak hanya mampu mengalahkan klub Roma secara dramatis, klub AC Como juga mampu mengalahkan klub Internazionale di kandangnya di Milan. AC Como memenangkan pertandingan dengan skor 2-1. Sebuah kekecewaan, karena Inter mendominasi pertandingan pertama dengan skor 0-1. Selama lima menit terakhir, bola lebih banyak berada di tribun daripada di lapangan, karena pertahanan Como, yang disorak-sorai oleh para pendukungnya, senang memprovokasi penonton tuan rumah.
De Telegraaf, 16-05-1950: ‘Adegan Sepak Bola Penuh Gairah. Warga Italia menunjukkan pertunjukan berkualiatas baik. Faas Wilkes Ikut Berperan. Oleh Jan Blankers. Milan. 13 Mei. Saling menatap tajam sambil berbicara dengan penuh semangat dan membuat gerakan tangan yang lebar, dua pendukung sepak bola Italia duduk di sebelah kiri saya, yang berselisih tentang pembatalan gol ketiga Como dalam pertandingan melawan "Inter", klub Faas Wilkes. Dalam perdebatan sengit mereka, mereka melupakan segala sesuatu di sekitar mereka, dan saat hidung mereka semakin dekat, apa yang telah saya duga sejak lama terjadi: mereka saling beradu fisik. Tetapi cara mereka melakukannya sangat berharga sehingga saya masih sakit perut karena tertawa. Pendukung Como, yang dagunya dihiasi janggut bergaya Balbo yang artistik dan yang jelas-jelas memenangkan duel verbal, merasa dirinya semakin berani seiring berjalannya perdebatan. Namun, tepat ketika dia berpikir dia dapat mengamankan kemenangan, seluruh gambaran pertempuran berubah dalam setengah detik. ‘Strijd om het baardje”. Gerakan tak masuk akal dari pendukung Inter itu berubah menjadi positif. Dan sebelum pendukung Como itu menyadari apa yang akan terjadi, janggut kecilnya dicengkeram erat dan kepalanya melakukan gerakan akrobatik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, cengkeraman janggut itu menandai akhir dari pertempuran. Para petugas bergegas maju dari segala arah untuk memisahkan para praktisi jiu-jitsu. Insiden kecil ini, yang berakhir tanpa pertumpahan darah dan mungkin hanya mengakibatkan leher kaku, menggambarkan dalam segala hal suasana dan atmosfer di tribun selama pertandingan sepak bola Italia. Ini adalah komedi dan drama sekaligus, di mana semua yang hadir berpartisipasi dengan antusiasme yang besar. Di lapangan, dua puluh dua seniman sepak bola yang telah melupakan lebih banyak tentang sepak bola daripada yang kita ketahui di negara kita pada umumnya, dan yang cukup artistik untuk menjual keterampilan mereka dengan cara yang artistik. Di tribun, ribuan penonton, yang juga menuntut bagian mereka dalam permainan. Para pemain sepak bola memainkan permainan mereka dengan sangat baik, meskipun keras dan rumit. Tetapi dalam segala hal yang mereka lakukan, pertanyaan mendasar selalu: bagaimana reaksi penonton saya? Bagi para seniman profesional, mereka adalah "pemain yang memikat penonton" dan ini adalah syarat yang penting, bahkan vital, karena popularitas mereka di kalangan penonton pada akhirnya menentukan apakah mereka akan tetap berada di garis depan. Mereka menampilkan pertunjukan sepak bola, dan sesuai dengan semua olahraga profesional, pertunjukan itu dirancang, di atas segalanya, untuk menciptakan efek. Tak terhitung banyaknya trik. Orang Italia menguasai seni ini dengan sempurna. Sore ini kita melihat banyak sekali trik dari kedua belah pihak, dengan para pemain yang menjatuhkan diri ke tanah bahkan sebelum bola dapat diarahkan kepada mereka. Ketika wasit meniup peluit untuk pelanggaran tersebut, lapangan sepak bola menjadi panggung tempat adegan-adegan penuh gairah berlangsung. Tidak pernah dalam satu sore pun saya melihat lebih banyak pengakuan ketidakbersalahan dan lebih banyak kemarahan palsu yang ditampilkan daripada dalam pertandingan sepak bola ini, yang sebenarnya tidak berarti karena posisi di klasemen praktis sudah ditentukan. Faas Wilkes juga telah menunjukkan banyak hal dalam hal ini. Dia juga menggunakan kedua tangannya dengan kekuatan yang penuh amarah ketika sesuatu yang menurutnya tidak dapat diterima membuatnya kesal. Sungguh pemandangan yang lucu melihat para pemuda Belanda yang rendah hati bermain dengan cara ini. Tetapi itu adalah bagian dari permainan, dan jika dia tidak melakukannya, para pendukung Inter pasti akan segera bosan dengannya. Pertandingan selalu diikuti dengan intensitas tinggi. Ketika para pemain melakukan kesalahan, para penonton tidak ragu untuk menunjukkan ketidaksetujuan mereka dengan jelas. Para penonton di tribun ikut berpartisipasi dalam setiap aksi yang terjadi, dan ketika penyerang tengah Inter menendang bola tinggi melewati gawang dari posisi bebas, saya langsung mendapat pelajaran visual di sebelah kanan saya tentang bagaimana seharusnya bola seperti itu dimainkan. "Bebaskan Horstelen." Tentu saja, mereka menggunakan sistem stopper-pivot di Italia, dan Wilkes sangat memahami perannya dalam sistem tersebut. Dia membantu bertahan jika diperlukan, dan selama serangan ke gawang, dia selalu berada di separuh lapangan sendiri untuk membantu mengalihkan permainan segera setelah serangan berhasil dipatahkan. Beberapa kali saya melihatnya mencoba melakukan salah satu larinya, yang membuatnya terkenal di Belanda. Tetapi tim lawan bereaksi secepat dia, sehingga dia tidak bisa langsung menerobos pertahanan. Selain itu, permainan ini sangat agresif sehingga akan sangat tidak bijaksana untuk terlalu lama menguasai bola. Karena jika seseorang gagal merebut bola secara sah, setidaknya ia dapat meraih pinggang pemain lawan atau menjatuhkannya dengan cara lain. Hal itu terjadi dengan cepat dan membuat suasana di tribun tetap meriah. Yang sangat mengecewakan para penggemar Inter, Como memenangkan pertandingan dengan skor 2-1. Sebuah kekecewaan, karena Inter mendominasi pertandingan pertama dengan skor 0-1. Selama lima menit terakhir, bola lebih banyak berada di tribun daripada di lapangan, karena pertahanan Como, yang disorak-sorai oleh para pendukungnya, senang memprovokasi penonton tuan rumah dengan terus-menerus menendang bola keluar, bahkan ketika sama sekali tidak ada alasan untuk itu. Pelakunya dijamin akan mendapatkan tepuk tangan meriah, dan ini dimanfaatkan dengan sangat cerdik. Ada kemungkinan besar kedua tim akan datang ke Belanda akhir tahun ini untuk memainkan sejumlah pertandingan. Dan! tanpa ragu, kita akan menyaksikan sepak bola yang sempurna, meskipun dari sisi Italia itu akan menjadi "sepak bola liburan". Namun, jangan terlalu meremehkan trik-trik yang digunakan para pemain ini, karena mereka adalah bagian tak terpisahkan dari sepak bola ini seperti anak kecil bagi ibunya. Dan saya yakin, kita akan terkejut jika menganggapnya serius.’.
Liga Italia musim 1949/1950 telah berakhir. Klub AC Como yang diduga baru promosi telah berhasil membuat kejutan masuk dalam papan atas di akhir musim. Seperti biasanya klub-klub selepas musim yang melelahkan diaakan tour ke luar negeri. Klub AC Como melawat ke Belanda. Mengapa harus ke Belanda?
Winschoter courant, 23-05-1950: ‘Tim liga spartan. Tim Liga Spartam amatir Inggris akan memainkan empat pertandingan di Belanda di bawah naungan Dana Van Weerden Poelmans, yaitu: 27 Mei di Enschede melawan tim Twente; 29 Mei di Exloo melawan tim Drenthe; 2 Juni di Eindhoven melawan PSV di Philips Sports Park; dan 4 Juni di Bergen op Zoom melawan tim Brabant di taman olahraga Roozenoord. Como juga bermain di Den Haag. Kini telah dikonfirmasi bahwa klub papan atas Italia, Como, yang datang untuk memainkan beberapa pertandingan di Belanda, juga akan bertemu dengan tim Den Haag. Pertandingan ini akan dimainkan pada hari Kamis, 8 Juni atau Jumat, 9 Juni di lapangan HBS’.
Di Belanda klub AC Como melakukan sejumlah pertandingan. Klub AC Compo sepenuhnya adalah pemain-pemain lokal yang berasal dari seputar danau Como. Meski demikian para pemain Como membuat klubnya mendapat bintang. Lantas siapa pemaian bintang AC Como? Pemain bintangnya adalah Faas Wilkes asal/orang Belanda. Hal itulah diduga mengapa tour AC Como diarahkan ke Belanda. Faas Wilkes tampaknya pengganti Rinus Terlouw asal Belanda sempat dirumorkan pada awal musim.
Nieuwsblad van het Zuiden, 10-06-1950: ‘Pertemuan di Danau Maggiore. Faas Wilkes di Como. Faas mengatakan bahwa tim Como ini sepenuhnya "dibina sendiri" bahwa para pemain berasal dari kota itu sendiri dan lingkungan sekitarnya, dan bahwa dia jarang melihat tim yang berlatih begitu intensif. Selain itu, katanya, Anda akan melihat sendiri kemampuan para pemain ini. Saya bahkan tidak memberi tim nasional Belanda kesempatan melawan para seniman sepak bola ini. Lihat, sungguh menyenangkan mendengar kata-kata ini dari mulut seorang warga Belanda yang sekarang telah memahami seluk-beluk sepak bola Italia. Tentu saja, percakapan kemudian beralih ke pengalaman Faas di Milan. Wilkes sangat puas, memiliki temperamen yang baik, dan memainkan sepak bola yang menyenangkan, meskipun ia merasa menyesal bahwa sebagian pers Belanda terus menyebarkan laporan tendensius tentang dirinya, berbicara tentang kegagalan, dll. Dengan melakukan itu, para jurnalis ini menunjukkan bahwa mereka tidak memahami apa yang ditawarkan. Jangan sampai orang-orang di Belanda melupakan, di atas segalanya, bahwa sepak bola di Italia adalah masalah. Saya sendiri juga harus mempertimbangkan hal ini ketika akan menandatangani kontrak baru. Iklan dan pencapaian hasil berjalan beriringan di sini, demikian pandangan Wilkes selama percakapan yang menyenangkan ini’. Tabel: Klassemen Liga Inggris, divisi pertama dan divisi kedua (lihat Algemeen Dagblad, 13-11-1950).
Dalam
musim 1949/1950 klub AC Como dari kota Como disebut sebagai klub papan atas
Italia. Namun tidak terinformasikan peringkat berapa di dalam klassemen akhir
kompetisi. Boleh jadi papan atas adalah sepertiga atas, dimana sepertiga bawah
adalah papan bawas. Oleh karena liga utama Italia sebanyak 20 tim, itu berarti
sepertiga atas sekitar 6 klub teratas. Yang jelas setelah usai kompetisi
Italia, klub Como melakukan tour ke Belanda untuk melawan tim-tim sepak bola
setempat. Bagaimana situasinya pada musim berikutnya?
Dalam awal musim kompetisi liga utama Italia 1950/1951, klub asal kota Como dalam tiga pertandingan awal berada pada posisi ke-7 dengan poin 4 (lihat De Telegraaf, 25-09-1950). Tidak terinformasikan apakah poin tersebut merupakan dua kali menang satu kalah atau satu kali menang dengan dua kali imbang (lihat klassemen sementara). Dalam berita ini juga ditampilkan hasil klassemen liga di Prancis, Belgia, Belanda dan Inggris. Catatan: Liga utama Belanda terbagi ke dalam lima wilayah. Nieuwe Apeldoornsche courant, 03-10-1950: ‘Milan dan Bologna bersama-sama memimpin liga Italia dengan 8 poin dari 4 pertandingan. Internazionale, klub Wilkes, berada di posisi ketiga dengan 7 poin dan diikuti oleh Palermo, Juventus, dan Como, yang masing-masing memiliki 6 poin. Pro Patria, klub yang diperkuat Lakerberg, berada di posisi yang sama dengan Atalanta, Trieste, Napoli, dan Florence dengan 3 poin (10–14). Di posisi terbawah adalah Sampdoria dan Lucca, yang hanya berhasil mengumpulkan 1 poin dari 4 pertandingan’. Algemeen Dagblad, 16-10-1950: ‘Italia. Hasil pertandingan Divisi Pertama adalah sebagai berikut: Bologna-Padua 2-2, Florence-Juventus 1-2, Milan-Lucca 2-0, Napoli-Genoa 1-1, Palermo-Novarra 3-2, Pro Patria-Internazionale 2-0, Lazio-Roma 1-0, Sampdoria-Trieste 3-1, Turin-Como 2-2, Udine-Atalanta 2-1. Milan memimpin dengan 12 poin, diikuti Bologna dengan 11 poin, Juventus dengan 10 poin, dan Internazionale serta Lazio dengan 9 poin. Lucca berada di posisi terbawah dengan 1 poin’. De Maasbode, 31-10-1950: ‘Di Italia, hasil pertandingan yang dimainkan di Divisi Pertama adalah sebagai berikut: Bologna-Juventus 0-5; Florence-Atalanta 1-0; Lucca-Lazio 1-1; Mithan-Genoa 4-0; Napoli-Como 7-0; Pro Patria-Trieste 2-2; Roma-Novarra 0-0; Padua-Sampdoria 2-1; Turin-Palermo 2-1; Internazionale-Udine 3-1. Setelah delapan pertandingan, Milan memimpin dengan 15 poin, diikuti oleh Internazionale dan Juventus, keduanya dengan 13 poin’.
Dalam musim 1950/1951 klub AC Como tidak terinformasikan posisinya jelang berakhir paruh musim. Yang terinformasikan AC Como kalah melawan Roma (yang berada di posisi bawah). Ini menjadi revans bagi Roma, yang mana pada putaran kedua musim sebelumnya mengalami kekalahan yang menyakitkan. Juga terinformasikan Faas Wilkes pada musim 1950/1951 ini sudah pindah ke Internazionale di Milan. Klassemen sementara di puncak berada Internazionale dan Juventus (juara musim lalu). Pemain bintang asal Belanda yang kini di Inter, Faas Wilkes bersama Gunnar Nordahl asal Swedia top skor (masing-masing dengan 10 gol).
Algemeen Dagblad, 13-11-1950: ‘Italia. Hasil pertandingan yang dimainkan pada hari Minggu untuk Divisi Pertama Italia adalah sebagai berikut: Atalanta-Lazio 1-0; Florence-Trieste 3-1; Turin-Juventus 1-4; Milan-Internazionale 2-3; Napoli-Novara 3-0; Palermo-Padua 3-0; Pro Patria-Genoa 5-2; Roma-Como 2-0; Udine-Bologna 2-1; Sampdoria-Lucea 3-1. Juventus, juara tahun lalu, dan Internazionale saat ini berada di puncak klasemen, masing-masing dengan 17 poin. Milan, yang kalah dari Internazionale di kandang, akibatnya naik ke posisi ketiga klasemen dengan 16 poin. Di posisi terbawah adalah Genoa dan Roma dengan masing-masing 6 poin. Luces menutup klasemen dengan 5 poin. Pertemuan kandang antara Milan dan Internazionale, pertandingan ke-109 antara kedua klub, sangat penting karena Milan memimpin liga dengan Inter di posisi kedua. Sekarang, tentu saja, peran telah berbalik. Terlebih lagi, tiga pencetak gol terbanyak Italia bertemu, yaitu Faas Wilkes dan Gunnar Nordahl (masing-masing dengan 10 gol) dan Lorenzi dengan 9 gol. Milan, 12 November. Derbi sepak bola besar di sini antara klub Faas Wilkes, Internazionale, dan Milano, yang dimainkan di tengah gerimis, berakhir dengan kemenangan (3-2) untuk Internazionale. Trio penyerang tengah Milano asal Swedia, Gunnar Nordahl sebagai penggeraknya, membutuhkan waktu cukup lama untuk beradaptasi. Inter memanfaatkan hal ini, terutama berkat permainan brilian Faas Wilkes, untuk unggul. Gol pertama dicetak oleh pemain sayap kanan asal Hongaria, Nyers, dan gol kedua oleh penyerang tengah asal Swedia, Skoglund. Dua tembakan keras dari Faas Wilkes sangat sulit dihalau oleh kiper Milano. Di babak kedua, penyerang tengah Milano, Nordahl, mencetak dua gol. Kemudian Inter mencetak gol kemenangan melalui penyerang tengah Skoglund. Faas Wilkes secara umum dianggap sebagai pemain terbaik di lapangan’.
Dalam paruh pertama musim 1950/1951 AC Como berhasil Juventus. Sebagaimana diketahui Juventus adalah juara musim sebelumnya. Klub AC Como dalam klassemen sementara berada pada peringkat ke-7 dengan 13 poin. Pada posisi pertama adalah Inter dengan poin 19 yang disusul Milan di peringkat ke-2 dan Juventus di posisi ke-3. Setelah dua pertandingan beikutnya posisi menjadi: 1. Internazionale, Milan, Juventus dan Como (bandingkan dengan saat kalimat ini ditulis, hasil pecan ke-30: 1. Inter, 2. Milan, 3. Napoli, 4. Como). Lalu apakah dalam hal ini klub AC Como tetap konsisten?
De waarheid, 20-11-1950: ‘Di Italia: Karena kekalahan Juventus melawan Como, Internazionale, klub Faas Wilkes, telah memimpin klasemen sendirian. Internazionale sendiri menang 3-1 melawan Palermo. Klasemen sekarang adalah: Internazionale 19 poin; Milan 18 poin; Juventus 17 poin; Lazio, Palermo, Bologna, dan Como 13 poin. Bologna menang 5-2 melawan Pro Patria, tim tempat Wim Lakenberg bermain’.
Singkatnya, pada akhir musim 1950/1951 klub AC Como berada pada peringkat ke-8 dengan 40 poin. Ini seakan kurang lebih sama dengan pencapaian musim, sebelumnya. Yang menjadi juara adalah Milan dengan 60 poin dan di belakangnya dengan kurang dari 1 poin ditempati Internazionale. Peringkat terbawah adalah Roma 28 poin dan Genoa 27 poin.
De Maasbode, 18-06-1951: ‘Sepak bola di Italia. Internazionale finis 1 poin di belakang juara Milan. Di Italia, pertandingan terakhir kejuaraan sepak bola telah dimainkan. Milan, yang dikalahkan 2-1 oleh Roma, tetap memegang gelar juara: mereka memperoleh 60 poin dari 38 pertandingan dan tidak dapat disusul lagi. Tempat kedua diamankan oleh Internazionale (klub Faas Wilkes) dengan 59 poin, diikuti oleh Juventus dengan 54 poin. Peringkat selanjutnya adalah: 4 Lazio 46 poin. 5 Florence 44 poin. 6 Napoli 43 poin. 7 Bologna 41 poin. 8 Como 40 poin. 9 Udine 35 poin. 10 Palermo dan Pro Patria masing-masing 34 poin. 12 Novara dan Sampdoria masing-masing 33 poin. 14 Atalanta 32 poin. 15 Turin, Lucca dan Trieste masing-masing 30 poin. 18 Padua 29 poin. 19 Roma 28 poin. 20 Genoa 27 poin. Hasil kemarin, hari terakhir, adalah: Bologna-Lazio 7-2, Internazionale-Genoa 5-2, Juventus-Atalanta 6-2, Lucca-Como 5-0, Padua-Naples 2-0, Pro Patria-Turin 4-0, Roma-Milan 2-1, Sampdoria-Palermo 5-1, Trieste-Novara 3-0, Undine-Florence 2-2.
Pada musim 1951/1952 AC Como masih berpartisipasi dalam liga pertama Italia. Demikian juga pada musim 1952/1953. Namun pada musim 1953/1954 AC Como tidak lagi berpartisipasi. Mengapa? Apakah degradasi? Yang jelas pada musim 1953/1954 ini jumlah klub yang berpartisipasi dalam liga utama Italia hanya 18 klub saja. Ada pengurangan dua klub.
Tampaknya AC Como mengalami degradasi bersama klub lainnya, dan kemudian ada juga yang promosi yang kemudian jumlah keseluruhan klub yang berkompetisi menjadi jumlahnya hanya 18 klub saja.
Klub kota Como baru terinformasikan kembali pada tahun 1963 (lihat De Gooi- en Eemlander, 18-06-1963). Disebutkan Messina, Lazio, Roma, dan Bari dipromosikan ke divisi pertama sepak bola Italia. Klub Lucques, Como, dan Sambenedetto del Tronto terdegradasi ke divisi ketiga.
De nieuwe Limburger, 06-09-1969: ‘Musim sepak bola di Italia kini juga telah dimulai dengan putaran pertama piala sepak bola. AC Milan, juara Piala Eropa, hanya bermain imbang melawan Varese. Hasil putaran pertama piala: Arezzo - Fiorentina 0-2, Bari - Livorno 2-1 Catanzaro - Cagliari 0-l, Palermo - Catanja 4-l, Milan - Varese I-l. Como – Verona 3-4, Genoa – Sampdoria I-l, Pisa – Inter 0-l, Mantova – Juventus 0-0, Brescia – Atalanta I-2, Pacenza – Torino I-l, Monza – Vicenza 2-l, Foggia – Casetana I-0, Regina – Napoli I-l, Perugia – Lazio I-l, Ternana – Eoma 0-0, Cesana – Modena 0-0, Bologna – Reggiana 2-0’.
Seberapa lama klub Como di divisi 3 dan kembali ke divisi 2 tidak terinformasikan. Yang jelas klub Como kembali promosi ke divisi pertama (utama) liga Italia pada tahun 1975 (lihat Het Parool, 27-06-1975). Disebutkan Verona promosi ke Divisi Pertama Italia, mengikuti jejak Perugia dan Como. Dalam pertandingan penentu, Verona mengalahkan Catanzaro dengan skor 1-0.
Het Parool, 06-10-1975: ‘Italia: Ascoli-Fiorentina I-0, Bologna-AC Torino 1-0, lnternazionale-Cesena 0-0. Juventus-Verona 2-1. Napoli-Como 2-0. Perouse-AC Milan 0-0, AS Roma-Cagliari 1-1, Lazio-Sampdoria 1-0. Het Parool, 13-10-1975: ‘Italia. US Cagliari-AC Ascoli 0-0. AC Cesena-AS Roma 2-0. Como-Juventus 2-2. Fiorentina-SSC Napoli 1-1. Lazio Roma- lnternationale Milan 1-1, AC Mllan-Sampdoria 1-0. AC Torino-Peruggia 3-0, Verona-AC Bologna 1-0. Algemeen Dagblad, 12-04-1976: ‘Italia. Bologna - Sampdoria 1-0, Cagliari - Lazio 2-1, Como Torino 0-1, Juventus - Ascoli 2-1, Milan - Fiorentina 2-1, Napoli - Inter Milan 3-1, Roma Perugia 1-2, Verona - Cesena 2-2. Torino 25-38, Juventus 25-37, Milan 25-34, Napoli 25-31, Inter M. 25-30, Cesena 25-28, Bologna 25-28, Perugia 25-27, Fiorentina, Roma 25-22, Verona 25-19, Lazio 25-18, Ascoli 25- 18, Sampdoria 25-18 Cagliari, Como 25-13’.
Algemeen Dagblad, 10-05-1976: ‘Italia. Ascoli - Bologna 0-0, Cagliari - Fiorwitina 2-1, Cesena - Conin 2-0, Inter - Roma 2-0, Juventus - Sampdoria 2-0, Lazio - Milan 4-0, Napoli - Perugia 4-0, Verona - Torino 0-0. Torino 29-44, Juventus 29-43, Milan 29-38, Napoli 29-36, Inter 29-35, Bologna 29-32, Cesena 29-31, Perugia 29-29, Fiorentina 29-26, Roma 29-24, Verona 29-23, Sampdoria 29-22, Ascoli 29-22, Lazio 29-22, Como 29-20, Cagliari 29-17.
Klub Como
tampaknya kesulitan bersaing di liga utama Italia. Pada pelamn ke-25 klub Como
sempat ke posisi terendah. Pada minggu ke 29 klub Como memang naik satu
peringkat, namun masih ada peluang untuk lolos degradasi dari sisa 3
pertandingan terakhir asalkan klub-klub peringkat bawah lainnya tersandung.
Limburgsch dagblad, 21-06-1976: ‘Roma. Setelah pertandingan pada pekan terakhir divisi utama Italia, telah dipastikan bahwa Genoa, Catanzaro dan Foggia akan bermain di divisi kedua musim depan. Klub-klub ini akan menggantikan Ascoli, Como, dan Caglieri’.
Klub Como tidak mampu bertahan di liga utama Italia. Klub Como terpaksa terdegrasi. Hanya satu musim di liga utama. Klub Como kembali berkompetisi di divisi kedua. Dalam perkembangannya pada tahun 1980 klub Como kembali promosi.
NRC Handelsblad, 15-09-1980: ‘Italia. Bologna - Ascoli 1-0, Brescia - Avellino 1-2, Cagliari - Juventus 1-1. Como - Roma 0-1. Fiorentina - Perugia 1-0. Napels - Cantranzaro 1-1. Torino - Pistoiese 1-0, Udinese - Internationale 0-4’. De: Volkskrant, 29-09-1980: ‘Italia. Bologna-Rome 1-1, Bescia-Juventus 1-1, Cagliari-Ascoli 2-0, Como-Internazionale -0, Fiorentina-Catanzaro 1-1, Napels-Pistoise 1-0, Torino-Avellino 2-0, Udinese-Peregia 1-1. Fiorentina 3 5; Roma 3 5, Inter 3 4, Juventus 3 4, Torino 3 4, Catanzaro 3-4, Napoli 3-3, Cagliari 3-3, Ascoli 3-2, Como 3-2, Udinese 3-2, Brescia 3-1, Pistoiese, 3-1, Bologna 3 min 1; Perugia 3 min 1; Avellino 3 min 3’.
Klub Como pada musim 1980/1981 masih bisa bertahan di peringkat 13 dari 16 klub, namun pada musim 1981/1982 kembali degradasi sebagai peringkat terbawah di dalam klasemen akhir.
Lalu dua musim berada di liga kedua, kembali promosi. Pada musim 1985/1986 menempati posisi 9; pada musim 1986/1987 pada posisi 10. Pada musim 1987/1988 klub Como berada pada posisi 14 dari 16 klub yang secara teoritis terdegradasi, namun karena ada penambahan jumlah klub pada musim 1988/1989 menjadi 18 klub, maka klub Como terselamatkan. Akan tetapi pada musim baru 18 klub ini, klub Como mengalami degradasi sebagai posisi 16.
Setelah lebih dari satu dekade, klub Como kembali
promosi. Untuk memperkuat tim di musim 2002/2003 klub Como mendatangkan Jean-Paul
van Gastel asal Belanda bebas transfer. Jean-Paul van Gastel sendiri musim
sebelumnya di klub Temana di Serie-B, tetapi klubnya tersebut degradasi ke
Serie-C. Namun yang menjadi persoalan, Jean-Paul van Gastel di Temana
sebelumnya kurang menit bermain.
Algemeen Dagblad, 13-07-2002: ‘Van Gastel pindah ke Como. Rotterdam - Jean-Paul van Gastel melanjutkan kariernya di sepak bola Italia di Como, yang berhasil promosi ke Serie A musim lalu. Mantan gelandang Feyenoord ini telah menandatangani kontrak dua musim dengan klub barunya. Van Gastel, yang mengunjungi De Kuip pada hari Kamis, sebelumnya terikat kontrak dengan Temana selama enam bulan. Setelah klub tersebut terdegradasi ke Serie C, pemain asal Brabant ini menjadi pemain bebas transfer. Ia hampir tidak mendapatkan waktu bermain di Temana, tempat ia memiliki kontrak 2,5 tahun’.
Pada musim 2002/2003 di liga utama Italia (Serie-A) ini, tampaknya klub Como mengalami kesulitan dalam bersaing dengan klub-klub lainnya. Klub Como akhirnya terdegradasi. Pengalaman serupa ini pernah dialami klub Como yang tidak mampu bertahan di liga utama pada musim 1975/1976. Lantas kapan kembali klub Coma promosi ke liga utama Italia (Serie-A)? Dalam hal inilah sangat berperan Hartono Bersaudara di klub Como di pegunungan di danau Como di wilayah Italia utara.
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com











































Tidak ada komentar:
Posting Komentar