Senin, 09 Maret 2026

Sejarah Indonesia Jilid 6-6: Semua Orang Belanda Bisa Berbahasa Indonesia; Tidak Semua Orang Indonesia Bisa Bahasa Melayu


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini

Ada satu anomali yang sangat besar di Indonesia tentang penyebaran bahasa Eropa. Dalam hal ini bahasa Belanda di Indonesia pada masa ini hampir tidak meninggalkan bekas dalam penggunaannya. Berbeda dengan di Amerika Serikat dan Australia lestari bahasa Inggris, demikian juga bahasa-bahasa Spanyol dan bahasa Portugis (plus bahasa Belanda) di negara-negara Amerika Latin. Di Malaysia dan Filipina bahkan masih terasa jejak-jejak penggunaan bahasa Inggris dan bahasa Spanyol. Sejarah Bahasa Indonesia


Semasa Pemerintah Hindia Belanda, tidak semua, tetapi sebagian besar orang Belanda bisa atau setidaknya memahami bahasa Melayu. Kemampuan ini merupakan kebutuhan praktis karena bahasa Melayu berfungsi sebagai lingua franca atau bahasa perantara di seluruh kepulauan. Orang Belanda yang tinggal di Hindia Belanda harus berkomunikasi dengan pembantu rumah tangga, pedagang di pasar, dan pekerja pribumi yang umumnya tidak mengerti bahasa Belanda. Pemerintah kolonial menggunakan bahasa Melayu untuk urusan administrasi dengan pegawai pribumi tingkat rendah karena penguasaan bahasa Belanda di kalangan pribumi sangat dibatasi oleh kebijakan pemerintah. Di kalangan militer dan kantor pemerintahan, dikenal istilah Dienstmaleisch (Melayu Kedinasan), yaitu bentuk bahasa Melayu sederhana yang digunakan oleh pejabat Belanda untuk memberi perintah atau berinteraksi dengan bawahan pribumi. Banyak orang Belanda di Hindia adalah keturunan campuran (Indo). Mereka sering dibesarkan oleh pengasuh pribumi (babu), sehingga bahasa pertama atau bahasa yang lebih mereka kuasai dalam kehidupan sehari-hari sering kali adalah bahasa Melayu atau bahasa daerah, bukan bahasa Belanda (AI Wikipedia) 

Lantas bagaimana sejarah semua Orang Belanda bisa berbahasa Indonesia? Seperti disebut di atas, semasa Pemerintah Hindia Belanda, sejatinya semua orang Belanda bisa berbahasa Indonesia. Namun sebaliknya, tidak semua Orang Indonesia bisa berbahasa Melayu. Mengapa? Lalu bagaimana sejarah semua Orang Belanda bisa berbahasa Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Buku-buku yang Sudah Diterbitkan

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah. 

Semua Orang Belanda Bisa Berbahasa Indonesia; Tidak Semua Orang Indonesia Bisa Berbahasa Melayu

Ada tiga orang Belanda yang mengkaji secara akademik bahasa Melayu. AA Fokker kelahiran Batavia (kini Jakarta), Ph S van Ronkel kelahiraa Zutfen dan HJE Tendeloo kelahiran Amoerang di Minahasa. Ph S van Ronkel tahun 1892 di Rijke Universiteit te Leiden lulus ujian kandidat dalam bidang taal- en letterkunde van den Oost-Indischen Archipel (lihat Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 23-09-1892). 


Pada tahun 1894 Ph S van Ronkel mengajukan karyanya untuk kontes dan berhasil (lihat De standard, 28-05-1894). Disebutkan di Faculteit van Letteren en Wijsbegeerte aan de Rijksuniversiteit te Leiden, 23 Mei dianugerahi medali emas kepada Ph S van Ronkel, kandidat dalam Simitische en in de Indische taal en letterkunde aande Leidsche universiteit atas karyanya berjudul “Men vraagt een kritische vergelijking van de Javaansche Menak en de Maleische Hikajat Amir Hamzah niet de Arabische en de Perzische bronnen".


Dr Ph S van Ronkel, Dr AA Fokker dan HJE Tendeloo adalah tiga yang pertama yang bergelar doktor dalam bidang bahasa (Melayu) yang terbilang sangat sukses selama studi. Mereka bertiga dapat dikatakan doktor yang telah melingkupi tentang tiga aspek utama pada kajian bahasa (bahasa dan sastra) Melayu: aspek sastra (Dr Ph S van Ronkel), aspek fonetik bahasa (Dr AA Fokker) dan aspek verba dan nomina (HJE Tendeloo).


AA Fokker lulus ujian kandidat bidang sastra di Rijks-universileit te Leiden tahun 1894 (lihat De avondpost, 20-04-1894). Tidak lama kemudia AA Fokker lulus ujian sarjana  dalam bahasa dan sastra kepulauan Hindia Timur di Universitas Leiden (lihat De Maasbode, 29-09-1894). Akhirnya, AA Fokker meraih gelar doktor dalam bidang taal- en letterkunde van den 0I dengan disertasi berjudul “Malay phonetics” (lihat Utrechtsch provinciaal en stedelijk dagblad, 12-07-1895). Pada bulan ini juga  HJE Tendeloo di Rijks-Universiteit te Leiden meraih gelar doktor ganda dalam bidang taal- on letterkunde van den Oost-Indischen Archipel dengan disertasi berjudul “Maleische verba en nomina verbalia” dan dalam bidang rechtswetenschap dengan disertasi berjudul “0ver de wenscheliikheid der invoering van het Torrensstelsel in Nederlandsch-lndië” (lihat De Telegraaf, 11-07-1895). HJE Tendeloo lulus ujian masuk perguruan tinggi tahun 1892 (lihat Utrechtsch provinciaal en stedelijk dagblad, 17-07-1892). HJE Tendeloo lulus ujian kandidat dalam bidang rechten di Leiden 1893 (lihat Het vaderland, 23-05-1893). HJE Tendeloo lulus ujian kandidat dalam bidang taal- on letterkunde van den Oost-Indischen Archipel (lihat De Telegraaf, 02-07-1893). HJE Tendeloo lulus sarjana dalam bidang taal- on letterkunde van den Oost-Indischen Archipel (lihat De Maasbode, 05-06-1894). HJE Tendeloo lulus sarjana Rijks-Universiteit te Leiden dalam bidang rechtswetenschap (lihat Provinciale Noordbrabantsche en 's Hertogenbossche courant, 07-03-1895). 

Dr Ph S van Ronkel, Dr AA Fokker dan HJE Tendeloo adalah tiga yang pertama yang bergelar doktor dalam bidang bahasa (Melayu) yang terbilang sangat sukses selama studi. Mereka bertiga dapat dikatakan doktor yang telah melingkupi tentang tiga aspek utama pada kajian bahasa (bahasa dan sastra) Melayu: aspek sastra (Dr Ph S van Ronkel), aspek fonetik bahasa (Dr AA Fokker) dan aspek verba dan nomina (HJE Tendeloo). 


Raden Kartono setelah lulus HBS di Semarang 1896 melanjutkan studi ke Belanda (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 18-07-1896). Raden Kartono, anak dari Bupati Djapara disebutkan akan kuliah di Polytechnische School di Delft (lihat De Preanger-bode, 27-07-1896). Keberadaan Raden Kartono sebagai mahasiswa di Delft diberitakan tahun 1898 (lihat De Telegraaf, 10-08-1898). Namun dalam perkembangannya nama Raden Kartono di Polytechnische School di Delft tidak terinformasikan lagi. Mengapa? Pada tahun 1901 diberitakan nama Raden Kartono di lulus ujian negara untuk universitas dari tanggal 22 hingga 24 Augustus yang mana terdapat 8 kandidat untuk faculteiten der godgeleerdheid der rechtsgeleerdheid en der letteren en wijsbegeerte (fakultas fakultas teologi, hukum, dan sastra dan filsafat). yang mana lima kandidat lulus diantaranya Raden Mas Pandji Sosro Kartono, (lihat De nieuwe courant, 25-08-1901). Raden Kartono kuliah dalam bidang studie der oostersche talen (program studi bahasa-bahasa Timur) yang diselenggarakan di [Universiteit te] Leiden. Pada tahun 1903 Raden Kartono diberitakan lulus ujian kandidat pada bidang Taal- en Letterkunde van den Oost-lndischer. Archipel di Leiden (lihat De Telegraaf, 30-06-1903). Raden Kartono berhasil menyelesaikan studinya di Leiden tahun 1909 (lihat Het vaderland, 08-03-1909). Disebutkan di Leiden lulus ujian sarjana dalam bidang Taal- en Letterkunde van den Oost-Indischen Archipel. Dalam hal ini Raden Mas Pandji Sosro Kartono.menjadi sarjana Indonesia pertama di bidang bahasa dan sastra. 

Dalam konteks inilah Dr Ph S van Ronkel adalah orang pertama yang menginformasikan bahwa “semua orang Belanda (tentu saja yang berada di di Hindia) semua bisa berbahasa Melayu. Tentu saja Dr Ph S van Ronkel mengetahui hal itu dan Dr Ph S van Ronkel juga memiliki kompetensi untuk menyatakan itu. 


“Daendels in de Maleische Litteratuur” door Ph S van Ronkel: ‘Kita semua bisa berbahasa Melayu. Baik di dalam maupun di luar dinas, kita berbicara bahasa Melayu di Hindia sebagai bahasa ibu kedua kita. Kesalahan hampir tidak diperhatikan; selama orang saling memahami, itu sudah cukup. Seiring pengaruh bahasa lisan Batavian menyebar melalui lalu lintas yang terus meningkat, bahasa Melayu lisan universal muncul, penuh dengan kata-kata asing, tetapi mudah dan nyaman. Berbicara bahasa Melayu pun menjadi hal biasa” (lihat Koloniaal tijdschrift, jrg 7, 1918, Deel: Tweede halfjaar). 

Dalam hal ini pula diketahui tidak hanya orang Belanda bisa berbahasa Melayu, juga diantara mereka sudah banyak yang menjadi ahli bahasa Melayu (dari orang Melayu sendiri dan dari orang Indonesia/pribumi di Hindia Belanda yang menggunakan bahasa Melayu). Para ahli bahasa Melayu tersebut bahkan sudah banyak pula yang sudah mencapai gelar akademik tertinggi (doktor). Mengapa bisa begitu? Seperti dikatakan Ph S Ronkel di atas: “kita berbicara bahasa Melayu di Hindia sebagai bahasa ibu kedua kita”. Dalam hal ini perlu dicatat bahwa sebelum munculnya para sarjana bahasa, nama-nama orang Belanda yang menekuni bidang bahasa di Hindia sudah banyak bahkan sejak awal era VOC. Pada permulaan Pemerintah Hindia (selepas pendudukan Inggris 1811-1816) terdapat nama yang pertama Eijsinga van Rooda yang diangkat sebagai kepala komis di kantor Algeemenen Secretarie di Batavia (lihat Bataviasche courant, 11-09-1819). 


Kantor ini sangat intens pertemuan dua bahasa, bahasa Belanda yang terhubung dengan surat menyurat dan dokumen kebijakan dan bahasa Melayu yang terhubung dengan penduduk pribumi di berbagai wilayah di Hindia (Belanda). Eijsinga van Rooda menikah dengan seorang wanita Indo bernama AWA Thilo yang mana putri mereka lahir tahun 1823 (lihat Bataviasche courant, 15-02-1823). Hingga tahun 1825 Eijsinga van Rooda masih bekerja di kantor ini (lihat 's Gravenhaagsche courant, 10-08-1825). Pada tahun 1825 ini terbit buku Eijsinga van Rooda berjudul “Maleisch en Nederduitsch woordenboek” diterbitkan oleh Ter Lands Drukkery di Batavia. Putra tunggal Eijsinga van Rooda, berusia lima belas bulan, meninggal dunia hari ini (lihat Bataviasche courant, 19-04-1826). Ini mengindikasikan putri pertama mereka juga telah meninggal. Pada tahun 1826 Eijsinga van Rooda sebagai Maleische translateur van het Gouvernement (lihat Leydse courant, 17-04-1826). 

Pada awal tahun 1927 terinformasikan Eijsinga van Roorda menjadi penerjemah bagi Sultan Jogja ketika datang ke Buitenzorg (untuk menemui Gubernur Jenderal Hindia Belanda). Dalam hal ini perlu dicatat bahwa pada tahun 1826 mulai terjadi Perang Jawa (di Jawa bagian tengah). Sultan Jogja dalam hal ini bisa berbahasa Melayu. 


Leydse courant, 17-01-1827: ‘Orang-orang Batavia, 20 Agustus (1826) Yang Muli Sultan Sepuh Jogjakarta, dengan dua kereta kuda, dikawal oleh detasemen, tiba dari Batavia di Buitenzorg, dan turun di paviliun Istana, yang telah disiapkan untuk Yang Mulia, di mana beliau disambut oleh Residen Buitenzorg dan WN Servatius, dan dengan salvo 17 tembakan meriam. Sekretaris Residen, Lanny, telah bertemu Yang Mulia di stasiun terakhir. Kemudian, atas permintaannya, Yang Mulia diberikan audiensi khusus dengan Yang Mulia Raja. Komisaris Jenderal diizinkan masuk, diterima olehnya, duduk di sofa yang dilapisi satin kuning, di posisi yang agak tinggi. Atas undangan Komisaris Jenderal, yang belum muncul, beliau mengambil tempatnya di kursi yang dilapisi satin merah, berdiri di lantai dasar di sebelah kirinya. Kemudian, melalui penerjemah Melayu Pemerintah, Roorda van Eysinga, Pangeran menyampaikan keinginannya untuk kembali ke Kerajaan Jawa, sesuai dengan permintaan tertulisnya, dan untuk secara pribadi bekerja sama dalam memulihkan ketertiban di Jawa. Ia juga ingin melihat rancangan perjanjian aliansi, yang disusun olehnya dan Dewan Hindia, Munbinghe, diratifikasi dengan persetujuan Yang Mulia. Yang Mulia menanggapi dengan cara yang sama, menyatakan kesediaannya untuk mempertimbangkan permintaannya secara positif dan rancangan yang diusulkan. Dengan demikian audiensi berakhir. Pada pukul empat sore, pada waktu yang ditentukan untuk pengumuman permintaan Pangeran dan keputusan Pemerintah, Yang Mulia diundang untuk melakukannya, dan diperkenalkan oleh Residen dan Sekretaris dengan penghormatan militer yang biasa. Semua yang hadir, kecuali Yang Mulia, berdiri saat kedatangannya dan memberi hormat kepada Pangeran, setelah itu, atas undangan Yang Mulia, ia duduk di tempat duduk yang telah ditentukan (sofa di sebelah kiri sofa yang lebih tinggi milik Komisaris Jenderal). Yang Mulia kemudian memberikan penjelasan singkat tentang jalannya acara kepada Majelis, yang terdiri dari para Pejabat Tinggi Pemerintah yang diundang, dan meminta agar akta persekutuan dibacakan dengan lantang dalam bahasa Belanda dan Melayu. Setelah itu, Imam Besar diantar ke Majelis, dan Pangeran mengucapkan sumpah atas akta proklamasi berdasarkan Al-Quran. Selama upacara ini, semua yang hadir, kecuali Yang Mulia Komisaris Jenderal, tetap berdiri di depan tempat duduk mereka. Akta proklamasi kemudian ditandatangani oleh Sultan dan, setelah diserahkan kepada Yang Mulia, diratifikasi dengan tanda tangannya. Yang kemudian dengan khidmat memproklamirkan Yang Mulia mantan Sultan Hamang Koeboeana Kedua, atas nama Yang Mulia Raja Belanda, sebagai Sultan Yogyakarta yang sah, dengan nama Sultan Sepoe’. Catatan: Pada tahun 1828 Eijsinga van Roorda diangkat menjadi Sekretaris der Residentie Bantam, sebelumnya Hoofd-Kommies ter Algemeene Sekretarie (lihat Nederlandsche staatscourant, 17-07-1828). Sebagai orang Belanda yang sangat menguasai bahasa Melayu, Eijsinga van Roorda menerjemahkan karya berjudul “De Kroon aller Koningen (Mahkota Semua Raja) yang digambarkan oleh Bocharie van Djohor, diterjemahkan dari bahasa Melayu ke dalam bahasa Belanda oleh PP Roorda van Eysinga (lihat Opregte Haarlemsche Courant, 28-08-1830). Pada saat ini Eijsinga van Roorda tengah cuti di Eropa/Belanda (lihat Nederlandsche staatscourant, 08-11-1830). Lagi-lagi putri Roorda van Eysinga meninggal dunia 27 September di Kempen berusia lima setengah tahun (lihat Opregte Haarlemsche Courant, 04-10-1831). Putri Roorda van Eysinga lahir di Kempen (lihat Opregte Haarlemsche Courant, 01-11-1832). 

Segera setelah usai Perang Jawa (1825-1830), sejumlah pemuda Eropa/Belanda dijadikan oleh Pemerintahan Hindia Belanda di Jogjakarta dan Soerakarta direkrut untuk menjadi eleves (siswa) dalam mempelajari bahasa Jawa (kursus) dan juga berfungsi sebagai penerjemah (Belanda-Jawa atau sebaliknya). Salah satu lulusannya adalah CL van den Berg (lihat Javasche courant, 10-11-1832). Disebutkan diangkat sebagai Asisten Residen Karang-anjar, Residentie Bagelen, eleves untuk bahasa Jawa dan penjabat penerjemah di Djocjocarta, CL van den Berg untuk menggantikan Asisten Residen HJ Levijssohn yang diberhentikan dengan hormat.

 

Tentang bahasa Jawa sudah kerap terinformasikan sejak era VOC. Tetapi tidak terkait dengan orang Belanda. Saat itu orang Belanda tergantung kepada para penerjemah, terutama orang Moor dan orang Arab. Orang Jawa teriutama di pedalaman masih sangat jarang yang bisa berbahasa Belanda, tetapi sudah banyak yang mampu berbahasa Melayu terutama para pedagang bahkan orang kraton. Residen pertama Soerakarta, HJ Nahuijs sudah bisa berbahasa Melayu. Namun mulai menjadi persoalan Ketika cabang-cabang pemerintahan semakin meluas di pedalaman Jawa hingga ke pantai selatan. Pengetahun bahasa Melayu tidak lagi cukup, karena orang Jawa berbahasa Jawa. Hal itulah mengapa pengetahuan bahasa Jawa menjadi prioritas bagi pejabat-pejabat baru Belanda di wilayah pedalaman. Namun sebelum terbentuk pelembagaan bahasa Jawa, ketika HG Nahuijs menjadi Residen di Jogjakarta, terjadi pemberontakan (Perang Jawa 1825-1830). Kursus bahasa Jawa di Jogjakarta pada tahun 1832 ditingkatkan menjadi suatu lembaga yang disebut Instituut voor de Javaansche taal yang berlokasi di Soerakarta. Yang menjadi direktur lembaga adalah JCF Gericke. Siswa-siswa pertama dalam pembentukan lembaga ini adalah K Vikcert, J Schbitz, H Homs Loonoic, S Senstius, G Bader, C Chauvigny de Blot, N Esche, L Külbhkamp Lemmers, J Lichte dan J Tab yang kemudian turut dua elèves dari pegawai resident di Soerakarta J Wilkens dan A Vincent. JFC Gericke sendiri sebenarnya adalah seorang misionaris yang ditempatkan Nederlandsch Bijbelgenootschap di Soerakarta. Di lembaga ini JFC Gericke dibantu oleh seorang mantan perawat. 

Eijsinga van Rooda tidak hanya pernah menerbitkan kamus “Maleisch en Nederduitsch” yang diterbitkan tahun 1825, pada tahun 1833 buku tentang bahasa karya Roorda van Eysinga kembali diterbitkan (lihat Opregte Haarlemsche Courant, 02-11-1833). Disebutkan: Pemberitahuan penting; K van Hulst di Kampen telah menerbitkan: “Noodzakelijk Handboek der laag Maleische taal voor Nederlanders die naar Oost Indie wenschen te gaan” (menerbitkan: "Buku Pegangan Penting Bahasa Melayu Rendah untuk Orang Belanda yang Ingin Pergi ke Hindia Timur) karya PP Roorda van Eysinga, f1.20, dapat dipesan di semua toko buku terkemuka. Dari Penjual Buku K van Hulst di Kampen. 


Buku ini menjadi penting, karena buku yang baik untuk dijadikan sebagai panduan bagi orang Belanda yang akan berangkat ke Hindia. Upaya yang dilakukan oleh Eijsinga van Rooda sudah pernah dilakukan bahkan sejak era Portugis. Ini dapat diperhatikan dari daftar buku berikut: (1) Elout, CPJ. 1812. Maleische Spraakkunst. Haarlem; (2) Marsden, William. 1812. A Dictionary and Grammar of the Malayan Language. London; (3) Rees, Willem van. 1803. Maleisch handboekjen, of Hollandsch-Maleisch en Maleisch-Hollandsch woordenboekjen, naar alphabetische orde. Moeleman Junior; (4) Werndly, George Henric. 1736. Maleische spraakkunst: uit de eigen geschriften d. Maleiers opgemaakt, m. inleiding en twee boekzalen v. boeken in deze tale zo van Europëers als v. Maleiers geschreven. Amsterdam; (5) Anonymus. 1708. Collectanea malaica vocabularia. Of Maleische woord-boek-sameling. Zynde een by een sameling van alle tot nog toe gedrukte Maleische woorde-boeken. Batavia: Stads-Drukker (catatan: dalam buku ini juga disebut nama-nama Caspar Wiltens, Sebastian Danckaerts, Justus Heurnius dan Gueyniers; (6) Roman, Johannes. 1674. Grondt ofte Kort bericht van de Maleysche tale, vervat in twee deelen. Amsterdam; (7) Roman, Johannes. 1655. Kort Bericht van de Maleysche letter-konst. Joan Blaev; (8) Danckaerts, Sebastiaan. 1628. Vocabularium ofte Woortboeck, naer ordre van den Alphabet, int ' t Duytsch-Maleysch, ende Maleysch-Duytsch. Eertyts ten deele ghecompaneert by Caspar Wiltens: ende namaels oversien, vermeerdert, ende uytgegeven door Sebastianus Danckaerts (S: Gravenhaghe 1623); (9) Danckaerts, Sebastiaan. 1623. Grammaticale observation; (10) Danckaerts, Sebastiaan. 1621. Historisch ende grondich verhael, vanden standt des Christendoms int quartier van Amboina, mitsgaders vande hoope ende apparentie eenigher reformatie ende beternisse van dien. Gravenhaag; (11) Houtman, Frederik de. 1603. Spraeck ende woord-boeck in de Maleysche ende Madagaskarsche talen, met vele Arabische ende Turcsche woorden. Asmterdam; (12) Houtman, Frederik de. 1596. ‘Spraeckende woord-boeck Inde Maleysche ende Madagaskarsche Talen’ dalam Journael vande reyse der Hollandtsche schepen ghedaen in Oost Indien, haer coersen, strecking hen ende vreemde avontueren die haer bejegent zijn, seer vlijtich van tijt tot tijt aengeteeckent; (13) Pigafetta, Marc Antonio. 1522. ‘Vocabulaire a des Iles de la Mer du Sud’ dalam Premier Voyage autour du Monde, par le Chevalier de P, sur l'escadre de Magellan, pendant les anneés 1519-20-21 et 22; suivi de l'Extrait du Traité de Navigation du même Auteur, &c. Paris l'an IX (1801). 

Eijsinga van Rooda dalam cutinya di Belanda tampaknya tidak kembali lagi ke Hindia. Pada tahun 1836 Eijsinga van Rooda, berdasarkan beslit tanggal 31 Oktober diangkat sebagai dosen (Hoogleeraar) dalam Oostersche taal-, land- en volkenkunde di Koninklijke Militaire Akademie te Delft (lihat Dagblad van 's Gravenhage, 23-11-1836). 


Sebelumnya Eijsinga van Rooda telah menerbitkan kamus bahasa Jawa. “Algemeenen Nederduitsch en Javaansch woordenboek in de Kromo, Ngoko; Modjo-en Kawische taal, met geaathographieerde tafel” dengan kutipan dari berbagai penulis - demi kemudahan setiap orang dengan aksara Latin (Italiaansch karakter), menurut abjad Belanda, disusun oleh PP Roorda van Eysinga yang diterbitkan oleh K.van Hulst edisi 1834 dan 1835 (lihat Nederlandsche staatscourant, 26-05-1835). Lantas dalam hal ini apakah Eijsinga van Rooda juga memperlajari bahasa dan aksara Jawa? Tampaknya iya. Seperti disebut di atas, di Soerakarta sudah didirikan lembaga bahasa Jawa. Atas semua jasa-jasanya, pemerintah kerajaan Belanda memberikan bintang Nederlandschen Leeuw kepada PP Roorda van Eysinga (lihat Algemeen Handelsblad, 14-07-1835). Tidak hanya itu, Roorda van Eysinga di Faculteit der Wis-en Natuurkunde di Universiteit te Leiijden oleh Letterkundige Faculteit dier Hoogeschool diberikan gelar Doktor Honoris Causa, yang dikenal karena Tata Bahasa dan Kamus Melayunya, dan tulisan-tulisan lainnya (lihat Bredasche courant, 06-12-1835). Lalu kemudian sudah ada yang menyebut Roorda van Eysinga sebagai professor (lihat Journal de La Haye, 05-07-1836). Roorda van Eysinga menerbitkan buku, yaitu: "Gids ter beoefening van het maleis, voor alle standen” (Panduan Praktik Bahasa Melayu, untuk semua kalangan) (lihat Bredasche courant, 28-04-1837). Kursus: Untuk mempersiapkan diri ke Hindia Belanda, akan membuka kursus khusus tentadang bahasa, geografi dan etnologi wilayah Hindia Timur. Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi Profesor Linguistik, Geografi, dan Etnologi Wilayah Hindia Timur di Akademi Militer Kerajaan di  Breda, PP. Roorda van Eysinga (lihat Opregte Haarlemsche Courant, 13-02-1838). Kursus tersebut telah menghasilkan: Belanda. Breda, 16 Juli. Ujian yang diadakan di sini, oleh para kadet tahun keempat, yang ditujukan untuk bertugas di Hindia Timur, baru-baru ini di hadapan Profesor Roorda van Eysinga, sebagai Dewan Pengawas Akademi Militer Kerajaan, mendapat kehormatan dengan kehadiran para BEG. (British Eastern General) PF Vermeulen Krieger, Letnan Kolonel, dan Jhr. M. van Geen, Kapten, Ajudan Yang Mulia Letnan Jenderal Baron van Geen, semua perwira yang yang juga berjasa dalam berbagai kampanye di Hindia Timur dan telah memperoleh keyakinan melalui pengalaman akan perlunya pengetahuan tentang bahasa, geografi, dan etnografi (lihat Bredasche courant, 17-07-1838). Roorda van Eysinga menerbitkan buku tentang deskripsi geografis Hindia Belanda, juga untuk mereka yang mempersiapkan diri untuk kelas di Akademi Militer Kerajaan, dengan maksud untuk akhirnya berangkat ke Hindia Belanda. Dengan peta: ƒ3.50 (lihat Dagblad van 's Gravenhage, 05-09-1838). Perpustakaan Oriental milik PP Roorda van Eysinga, Profesor Bahasa Oriental, Geografi, dan Etnologi di Akademi Militer Kerajaan di Breda, yang mengumpulkan banyak manuskrip langka dan berharga selama tinggal di Hindia, berisi jumlah manuskrip Melayu yang jauh lebih besar daripada klaim milik Dulaurier di Paris. Lebih jauh lagi, sarjana yang sama (Roorda van Eysinga) memiliki koleksi beberapa ratus surat yang ditujukan kepadanya dalam bahasa Melayu dan Jepang oleh kaisar, raja, pangeran, dan tokoh penting lainnya; koleksi ini tidak diragukan lagi harus dianggap sangat unik (lihat Bredasche courant, 11-12-1838). 

Philippus Pieter Roorda van Eysinga tampaknya menjadi orang Belanda yang menjadi ahli bahasa-bahasa Hindia, khususnya bahasa Melayu. Pada tahun 1839 Eysinga menerbitkan buku berjudul “Beknopte Maleische Spraakkunst en Chrestomathie, met Italiaansch en Arabisch karakter, benevens een volledig Hoog en Lang Maleisch en Nederduitsch Woordenboek, met Italiaansch karakter” diterbitkan oleh (penerbit) Broese. 


Sementara Roorda van Eysinga sudah berada di Belanda dan telah menjadi guru besar dalam bidang bahasa Melayu di Delft, seorang mahasiswa teologi di Utrechtsche Hoogeschool CJ van der Vlis meraih gelar doktor dalam bidang filogi dengan judul “Disputatio critica de Ezrae libro Apocrypho vulgo quarto dicto” (lihat Utrechtsche courant, 19-08-1839). Pada tahun 1840 Dr CJ van der Vlis oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda diangkat sebagai anggota Sub-Komisi Pendidikan di Soerakarta, untuk menggantikan anggota JW. van Zanten, yang telah berangkat ke Belanda (lihat Algemeen Handelsblad, 31-10-1840). Perlu ditambahkan disini bahwa WR van Hoëvell meraih gelar doktor dalam bidang teologi di Groningen. WR van Hoëvell kemudian berangkat ke Hindia dan diangkat menjadi anggota komite untuk dukungan bagi umat Kristen yang membutuhkan di wilayah Batavia, menggantikan HJ de Wilt sebagai anggota, yang diberhentikan dari posisi tersebut (lihat Javasche courant, 20-06-1838). Seperti kita lihat nanti Dr WR van Hoëvell adalah yang mendirikan majalah pertama di Hindia Tijdschrift voor Neerland's Indie yang kali pertama diterbitkan di Batavia pada tahun 1838. WR van Hoëvell adalah orang yang menemukan dokumen bahasa dari misionaris Belanda di Formosa G Happart pada tahun 1650.  Dalam Tijdschrift voor Neerland's Indie (deel XVIII) temuan itu dimua sebagai berikut: Gilbertus Happart dengan judul “Woordenboek der Favorlangsche taal” dan Dr CJ van der Vlis dengan judul “Formosaansche woordenlijst met aanteekeningen betreffende de Formosaansche taal” (Kamus Formosa dengan catatan mengenai bahasa Formosa). Kamus tersebut berisi 3.000 kosa kata telah diterbitkan dengan kata pengantar Dr WR van Hoëvell. Perlu diingat bahwa bahasa Favorlang adalah bahasa asli di pulau Formosa (kini Taiwan) yang mana bahasa Favorlang mirip dengan bahasa Austronesia (bahasa-bahasa yang ditemukan di Indonesia) misalnya kemiripan penyebutan bilangan dan penyebutan nama anggota tubuh. Raut wajah orang asli Formosa mirip dengan orang Indonesia. Bahasa Favorlang ini sudah punah seiring dengan derasnya migran dari Tiongkok ke pulau Formosa. 


T
unggu deskripsi lengkapnya

Tidak Semua Orang Indonesia Bisa Berbahasa Melayu: Mengapa Bahasa Melayu Tidak Lestari di Indonesia?

Philippus Pieter Roorda van Eysinga ahli bahasa-bahasa Hindia, bahasa Melayu telah menjadi guru besar bahasa di Akademi Delft. Tentu saja banyak guru besar bahasa di Belanda, Namun tentang bahasa di Hindia baru satu orang. Philippus Pieter Roorda van Eysinga tidak pernah terinformasikan kuliah di perguruan tinggi, namun karena ketekunannya dalam bahasa Melayu di Hindia pada akhirnya Universiteit Leiden menganugerahinya gelar Doktor Honorias Causa dalam bidang bahasa-bahasa Hindia. Setelah gelar doctor inilah, Philippus Pieter Roorda van Eysinga memberi jalan pada dirinya menjadi guru besar di Akademi Delft. 


Algemeen Handelsblad, 29-02-1840: ‘Leyden, 27 Februari. Hari ini, JJ de Hollander lahir di Aartswoud menerima gelar doktor privatnya di bidang letteren (sastra) di sini, setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul "Literaria Inaug. de Euripidis Supplicibus" (tentang tragedi "Para Pemohon" karya Eupides)’. 

Pemerintah Kerajaan Belanda (Raja Willem II) merasa perlu untuk mendirikan Akademi Kerajaan untuk melatih insinyur. Akademi Kerajaan ini didirikan di Delft yang dibuka tahun 1842. Seiring dengan rencana pendirikan Akademi Delft tersebut, mantan Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Jean Chrétien Baud, 1833-1836) yang menjadi Menteri Koloni (yang menggantikan van den Bosch) mengusulkan di Akademi Delft didirikan cabang yang melatih pegawai negeri Hindia Timur. 


Untuk tujuan tersebut, Roorda van Eysinga diangkat sebagai profesor bahasa Oriental, geografi, dan etnologi di akademi tersebut. Kombinasi yang tampaknya aneh antara teknik dan pelatihan pegawai negeri dijelaskan oleh Baud sebagai berikut: "Sejak tahun 1826, apa yang disebut system budaya telah diperkenalkan di Hindia, sebuah sistem yang telah menciptakan kebutuhan bahwa pelatihan pegawai negeri tidak boleh hanya bersifat linguistik, tetapi juga industri dan komersial". Pendirian Akademi Delft terjadi selama masa Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Pieter Merkus (1841-1844). Pendirikan cabang yang melatih pegawai negeri Hindia Timur di Akademi Delft menyebabkan Instituut voor de Javaansche taal di Surakarta harus dibubarkan (1 Februari 1843). Seperti disebut di atas, instutut bahasa Jawa di Soerakarta dipimpin oleh JCF Gericke. Nederlandsche staatscourant, 23-02-1843: ‘Berdasarkan keputusan tanggal 20 Februari 1843, No. 55, JJ de Hollander, doktor Sastra dan Filsafat Spekulatif, diangkat sebagai pengajar bahasa-bahasa Oriental dan linguistik serta sastra salah satu Negara Eropa di akademi militer”. Catatan: Akademi Militer di Breda adalah akademi untuk menyiapkan perwira militer dengan pangkat letnan dua. 

Pada tahun 1844 Akademi Delft telah mulai menghasilkan lulusan. Yang pertama adalah dua mahasiswa yang berhasil lulus ujian terbuka untuk gelar sarjana hukum (Hindia) HW Mees dan FCT Deeleman. Menteri Koloni turut hadir pada ujian tersebut, menyatakan kepuasannya sepenuhnya kepada Profesor Roorda dan Profesor Meursing atas apa yang telah dicapai dalam waktu singkat kurang dari dua tahun. 


Leydse courant, 22-07-1844: ‘Pada tanggal 29 Juni, ujian terbuka dua sarjana hukum berlangsung di Akademi Kerajaan di Delft. Mereka telah mempersiapkan diri di sana dengan mempelajari bahasa, geografi, dan etnologi Hindia Belanda untuk bertugas sebagai pejabat kolonial kelas satu. Mereka adalah HW Mees dan FCT Deeleman. Ujian tersebut dilakukan di hadapan sebuah komite yang ditunjuk oleh Menteri Dalam Negeri, yang ditambah dengan D Lenting, mantan menteri di Batavia, sekarang di Zeist. Dalam berbagai mata pelajaran yang tercakup dalam ujian—bahasa Jawa dan Melayu, geografi dan etnologi Hindia Belanda, hukum Islam, dan hukum serta lembaga Jawa—para peserta ujian memberikan bukti yang jelas tentang studi yang tekun dan kemajuan yang sukses. Oleh karena itu, keduanya diberitahu, setelah ujian, bahwa ujian tersebut telah memenuhi persyaratan Komisi, dan sebagai bukti, diploma akademik akan diberikan kepada mereka dalam bentuk uang tunai. Ujian pertama ini sudah menunjukkan apa yang dapat diharapkan dari peraturan yang bermanfaat, yang juga menjadikan Akademi Kerajaan di Delft tersedia untuk pelatihan pegawai negeri sipil bagi Hindia Belanda. Menteri Koloni, yang karena kepentingan khusus hadir pada ujian tersebut, menyatakan kepuasannya sepenuhnya kepada Profesor Roorda dan Profesor Meursing atas apa yang telah dicapai dalam waktu singkat kurang dari dua tahun, termasuk penyusunan dan pencetakan buku-buku dasar, yang, sejauh menyangkut bahasa Jawa, tidak tersedia dalam jumlah yang cukup untuk dijadikan dasar pengajaran reguler. Namun, berkat kerja sama yang tekun dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda, jumlah manuskrip bahasa Jawa dan Melayu serta esai linguistik yang ditujukan untuk Akademi Delft kini terus meningkat, termasuk yang patut disebutkan secara khusus adalah manuskrip kamus bahasa Jawa yang akan segera diterbitkan oleh (JFC) Gericke, Delegasi Lembaga Alkitab Belanda di Jawa; draf pertama, yang telah diterima, dari kamus bahasa Jawa lain yang lebih luas oleh Winter di Soerakarta, yang, lahir dan besar di antara orang Jawa, mengenal bahasa Jawa sebagai bahasa ibunya dan juga mempelajarinya secara ilmiah; dan akhirnya sejumlah manuskrip Jawa, yang akan diterbitkan di bawah pengawasan Profesor Roorda’. 

Dr JJ Hollander yang menjadi dosen di Akadami Militer di Breda menerbitkan buku berjudul “Handleiding tot de Kennis der Maleische Taal en Letterkunde, voor de Kadetten van Alle Wapenen” yang diterbitkan oleh penerbit Broese en Comp. di Breda (lihat Bredasche courant, 23-03-1845). Pada saat ini, kembali Universiteit te Leiden meluluskan mahasiswanya untuk gelar doktor dalam sastra.

 

Leydse courant, 09-06-1845: ‘Promotie aan de Leydsche Hoogeschool. Pada tanggal 6 Juni, J Pijnappel Gz, lahir di Amsterdam, dalam Letteren (Sastra), setelah pembelaan publik atas Spesimennya (Publieke verdediging van zijn Specimen, continens), berjudul "Vitas ex Lexico Biographico Ibn-Callicanis, quae non exstant nisi in codice Amstelodamensi”.

Sementara itu di Belanda, terinformasikan dua sarjana bahasa akan berangkat ke Hindia untuk meneliti bahasa Makassar-Bugis dan untuk meneliti bahasa Batak. Kedua sarjana tersebut adalah BF Matthes dan HN van Tuuk yang dipekerjaan oleh lembaga zending Belanda untuk tujuan akhir penerjemahan Alkitab. Tentu saja kedua sarjana bahasa tersebut sangat menarik, karena keduanya adalah sarjana-sarjana bahasa lulus perguruan tinggi di Belanda yang akan pertama di Hindia. Sebagaimana diketahui, seperti disebut di atas, Prof Roorda van Eysinga saat berada di Hindia (mempelajari bahasa Melayu/Jawa) bukanlah berpendidikan sarjana. Demikian juga dengan nama JFC Gericke. 


Leydse courant, 03-01-1848: ‘Baru-baru ini kami melaporkan keputusan Lembaga Alkitab Belanda untuk mengirim para sarjana ke Hindia Timur, yang akan mempraktikkan bahasa Macassar dan Bugis di Sulawesi, dan bahasa Batak di Sumatra, untuk mempersiapkan dan memulai penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa tersebut sesegera mungkin. Pada kesempatan itu, kami menyebutkan penunjukan BF Matthes untuk Sulawesi. Kini kami mengetahui bahwa H Neubronner van der Tuuk, yang sebelumnya merupakan mahasiswa di Groningen, kemudian di Universitas ini di Leiden, yang sekarang berada di Delft, juga telah ditunjuk sebagai delegasi dari Lembaga ini. Beliau telah dipercayakan dengan tugas yang terhormat, namun sulit, untuk menulis tata bahasa dan bibliografi bahasa Batak, untuk kemudian memulai penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa tersebut’. De Nederlander : nieuwe Utrechtsche courant : (staatkundig- nieuws-, handels- en advertentie-blad) / onder red. van J. van Hall. 26-10-1848: ‘Lembaga Alkitab Belanda mendistribusikan 24.465 Alkitab dan Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru selama tahun keuangan lalu (di antaranya 50 disumbangkan kepada umat Katolik Roma); pendapatan mencapai ƒ 48.150,60, pengeluaran ƒ 46.481,20. Perjanjian Baru dalam bahasa Jawa telah dicetak dan tersedia dengan harga ƒ 15. Misi Bapak Guericke, Matthes, dan Neubronner van der Tuuk ke Hindia untuk menyebarkan Alkitab dalam bahasa Indonesia menelan biaya ƒ 17.000 setiap tahunnya bagi Lembaga tersebut’.

Dalam hal tentang kebahasaan di Hindia ini Roorda van Eysinga dan JFC Gericke adalah satu hal (perintis), sementara itu BF Matthes dan HN van der Tuuk adalah hal lain (yang masuk dalam golongan sarjana). Tentu saja juga ada diantara para pegawai pemerintah (ambtenaar) yang karena tugasnya akhirnya terhubung dengan perihal bahasa seperti C van Heerdt dan C von de Wall. 


Satu yang menarik dalam daftar mahasiswa yang lulus ujian dengan meraih gelar doktor di Belanda adalah mahasiswa yang lahir di Hindia yakni JHC Kern, yakni lahir di Poerworedjo tahun 1833. Rotterdamsche courant, 15-10-1855: ‘Kemarin, di Universitas Leiden, JHC Kern, lahir di Poerworedjo, dipromosikan menjadi Doktor Sastra setelah secara terbuka membela disertasinya berjudul “Specimen Historium, Exhibens: Scriptores Graecosderebus Persicis Achaenteni Darium monumentis collatos” (Spesimen Sejarah, yang Dipamerkan: Penulis Yunani, Persia, Akhemenid, Darius, dan monumental mereka)’. 

Para praktisi bahasa-bahasa di Hindia juga terdapat diantara sejumlah guru-guru Belanda di Hindia yang mengajar di berbagai sekolah termasuk sebagai guru di sekolah guru pribumi di Hindia. Diantara mereka ini juga ada yang terhubung dengan pelajaran bahasa, seperti guru HC Klinkert, gutu FSA de Clercq, guru D Gerth van Wijk dan guru CA van Oppuijsen. Meski mereka ini berangkat dari guru di Hindia, tetapi seperti kita lihat nanti ada juga yang dipromosikan sebagai dosen dan guru besar di Universiteit te Leiden.


De standard, 25-11-1880: ‘Leiden, 21 November. Hari ini, di Universitas Negeri di sini di Leiden, C Snouck Hurgronje, lahir di Oosterhout, dianugerahi gelar doktor dalam bidang Semitische letterkunde (sastra Semit) untuk disertasi akademisnya yang berjudul: "Het Mekkaansche Feest”. Catatan: Christiaan Snouck Hurgronje lahir pada tanggal 8 Februari 1857 adalah doktor sastra/bahasa keempat (setelah JJ Hollander, J Pijnappel dan JHC Kern) yang kemudian terhubung dengan Hindia (Belanda). Algemeen Handelsblad, 03-02-1881: ‘Senat Universitas Negeri Leiden telah menganugerahkan gelar doktor kehormatan dalam bidang bahasa dan sastra kepulauan Hindia Timur kepada BF Matthes’. Gelar doktor honoris causa dalam bahasa ini merupakan yang kedua setelah Rooda van Eysinga. Catatan: Apa yang dikaji oleh C Snouck Hurgronje, tentang aspek dalam agama Islam, mengingatkan doctor LCW van den Berg di masa sebelumnya. Sebagaimana diketahui LCW van den Berg lahir di Haarlem meraih gelar doktor dalam bidang hukum tahun 1868 di Leiden dengan disertasi berjudul “Specimen Juridicum Inaugurale de Contractu ‘do ut des’ jure Mohammedano” Contoh Hukum Perdana tentang Kontrak ‘memberi dan menerima’ dalam Hukum Islam)’.

Perlu diingat dalam hal ini para alumni Akademi Delft yang menjadi pejabat di Hindia yang selama studi di Delft dibekali pengetahun Indische taal-, land- en volkenkunde dan kemudian mereka di Hindia menjadi terhubung dengan perihal bahasa, geografi dan etnografi Hindia. Perlu dicatat di sini bahwa sekolah menengah pertama yang didirikan sejak tahun 1865 di Batavia (KW III School) dalam perkembangannya juga ada pelajaran tentang “Indische taal-, land- en volkenkunde”. 


Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 04-10-1881: ‘Pendidikan. Dewan pengawas lembaga kota untuk pelatihan pejabat Hindia Timur di Leiden mengusulkan untuk memberhentikan secara hormat HC Klinkert dari mengajar geografi dan etnografi; untuk memberhentikan secara hormat GJ Grashuis dari mengajar bahasa Jawa dan menugaskannya untuk mengajar bahasa Sunda, dengan gaji tahunan 750 gulden; untuk mengangkat HC Humme, mantan residen, sebagai dosen bahasa Jawa, dengan gaji tahunan 2000 gulden; untuk mengangkat GA Wilken, pengawas anak-anak di bawah umur dalam administrasi internal wilayah di luar Jawa dan Madura, sebagai dosen bahasa daerah dan bahasa rakyat, juga bahasa asli, dengan gaji tahunan 2000 gulden; untuk selanjutnya mengangkat sebagai dosen hukum agama, lembaga dan adat istiadat C Snouck Hurgronje, doktor dalam bahasa dan sastra Semit, dengan gaji tahunan 2000 gulden; dan untuk menganugerahkan gelar dosen kepada Klinkert, Grashuis dan Dr Bijvanck’. Catatan: GJ Grashuis lahir di Groningen meraih gelar doktor dalam bidang rechten (hukum) di Leiden dengan Stellingen (lihat Het nieuws van den dag: kleine courant, 17-12-1875). Dalam berita ini juga disebut di Utreccht JP Esser lahir di Batavia meraih gelar doctor di bidang godgeleerdheid dengan disertasi berjudul “De brief van Philemon”. WGC Bijvanck lahir di Amsterdam meraih gelar doktor dalam bidang letteren (sastra) dengan disertasi berjudul “Studia in Ti. Gracchi Historiam” (lihat Het nieuws van den dag: kleine courant, 27-09-1879). Prof AC Vreede, Mr GJ Grashuis dan WGC Bijvanck diangkat sebagai dosen di Opleideing van Oost Indie Ambenaren di Leiden (lihat Het Vaderland, 27-10-1877).

Setelah JJ Hollander, J Pijnappel, JHC Kern dan C. Snouck Hurgronje, kembali mahasiswa meraih gelar doktor di bidang bahasa dan sastra yang terhubung dengan Hindia yakni  JLA Brandes. JHC Kern dan JLA Brandes seperti kita lihat nanti akan banyak memberi kontribusi dalam membaca naskah-naskah kuno dan prasasti-prasasti yang ditemukan di Hindia. 


Haagsche courant, 04-06-1884: ‘Di Universitas Leiden, JLA Brandes, yang lahir di Rotterdam, telah dianugerahi gelar doktor dalam taal- en letterkunde van den Oost-Indischen archipel (bidang bahasa dan sastra kepulauan Hindia Timur) atas disertasi akademiknya yang berjudul: “Bijdrage tot de vergelijkende klankleer der Westersche afdeeling van de Maleisch-Polynesische taalfamilie” (Kontribusi terhadap fonologi komparatif cabang Barat dari keluarga bahasa Malayo-Polinesia). Provinciale Overijsselsche en Zwolsche courant, 04-12-1884: ‘Senat Universitas Leiden menganugerahkan gelar doktor honoris causa dalam taal en letterkunde van den Oost-Indischen archipel (bidang bahasa dan sastra nusantara Hindia Timur) kepada GA Wilken di Leiden”.

Dalam konteks itulah semua ini yang menjadi latar belakang orang-orang Belanda di Hindia (Timur) hingga era Pemerintah Hindia Belanda mengapa orang-orang Belanda bisa berbahasa Indonesia (bahasa Melayu di wilayah Hindia Belanda). Dalam konteks ini pula dipahami, orang-orang Belanda adalah yang pertama mempelajari bahasa Melayu, mulai dari alat komunikasi, pembentukan kamus, penataan tata bahasa Melayu (fonetikal, leksikal/gramatikal dan sintaksi) dan penulisan buku dan pengajaran bahasa Melayu di sekolah-sekolah. Orang-orang Belanda pula yang terbilang pertama mempelajari manuskrip berbahasa Melayu yang kemudian dihubungkan dengan pemahaman sastra berbahasa Melayu.


Paralel dengan itu, dalam konteks ini pula bahasa Melayu menjadi penting bagi setiap orang Belanda selama berada di Hindia maupun orang-orang Belanda yang akan berangkat ke Hindia. Dalam konteks ini pula secara perlahan tumbuh pers berbahasa Melayu (investor orang-orang Eropa/Belanda) di Hindia Belanda sejak 1850an dan terus berkembang hingga diadopsi dan diakuisisi oleh orang pribumi/orang Indonesia. 

Demikianlah secara berkesinambungan terbentuk koneksi antara Belanda dan Hindia dan sebaliknya yang terkait dengan akademik khsusnya di bidang bahasa, geografi dan etnografi. Orang-orang Belanda ke Hindia dan sebaliknya orang Belanda yang berkiprah di Hindia kembali ke Belanda. Secara akademik hubungan kedua wilayah yang berjauhan seakan dua Negara yang berbeda tetapi saling terhubung dalam dunia akademik. 


Provinciale Overijsselsche en Zwolsche courant, 27-05-1884; ‘Menteri Koloni telah membentuk komite yang bertugas menyelenggarakan ujian pegawai negeri sipil utama di Belanda tahun ini sebagai berikut: Dr H Kern dan Mr PA van der Lith, profesor di Leiden; JJ Meinsma, JRPF Gonggrijp, Dr AWT Juynboll dan GK Niemann, profesor di Delft; JA van den Broek dan JSA van Dissel, dosen di Delft; HC Humme, Dr WGC Bijvanck, GA Wilken dan Dr C. Snouck Hurgronje, dosen di Leiden; ND Lammers van Toorenburg, mantan residen di Den Haag; Dr BF Matthes, yang terakhir menjabat sebagai direktur sekolah guru pribumi di Makassar, Den Haag; HJ Oosting, yang terakhir menjabat sebagai pejabat untuk praktik bahasa Sundanese di Jawa, saat ini sedang cuti di negara ini, di Assen, dan R van Eek, guru di Akademi Militer di Breda’. Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 16-06-1884: ‘Dr. Chr. Snouck Hurgronje, dosen di Institut Kota untuk Pelatihan Pegawai Negeri Sipil Hindia Timur di Leiden, telah berkonsultasi dengan Bapak JA Kruyt, Konsul Jenderal Belanda di Jeddah, menyusun rencana perjalanan ilmiah ke kota pelabuhan tersebut untuk mengumpulkan data guna menambah pengetahuan kita tentang Islam secara umum, khususnya tentang Islam di wilayah jajahan kita di Hindia Timur dan pengaruh ibadah haji di Mekkah terhadapnya. Penelitian ini akan sangat bermanfaat bagi mata kuliah yang beliau ajarkan. Mengingat, untuk melaksanakan rencana ini, beliau harus melakukan perjalanan ke Arab untuk jangka waktu yang cukup lama sebelum berakhirnya liburan musim panas mendatang, beliau telah meminta izin dari Dewan Kota untuk mengisi posisinya di Institut Kota selama waktu yang dibutuhkan untuk penelitian ilmiah tersebut melalui seseorang yang ditunjuk olehnya dan diberi wewenang untuk melakukannya menurut pendapat Wali Kota dan Anggota Dewan. Setelah berkonsultasi dengan Dewan Pembina Lembaga Kota, Wali Kota dan Anggota Dewan tidak berkeberatan untuk memberikan cuti abadi tersebut, dengan alasan telah terbukti bahwa pendidikan dapat disediakan secara memadai’. Catatan: Pada akhir tahun 1884 ini terinformasikan bahwa JA Kruyt akan mengakhiri tugasnya di Jeddah (lihat Nederlandsche staatscourant, 18-12-1884). Dr C Snouck Hurgronje sendiri berada di wilayah Arab antara bulan Agustus 1884 hingga bulan September 1885. 


Deretan nama-nama JJ Hollander, J Pijnappel, JHC Kern, C Snouck Hurgronje dan JLA Brandes terus memanjang dengan nama Johan Christoph Gerhard Jonker yang lahir di Leiden dengan meraih gelar doktor di bidang taal- en letterkunde van den Oost-Indischen Archipel pada tahun 1885. JCG Jonker memiliki gelar doktor ganda yang mana sebelumnya tahun 1882 meraih gelar doktor dalam bidang hukum di Leiden. 


Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 03-07-1885: ‘Hari ini di Universiteit te Leiden, meraih gelar doctor dalam bidang bidang taal- en letterkunde van den Oost-Indischen Archipel (bahasa dan sastra Kepulauan Hindia Timur) JCG Jonker lahir di Amsterdam, dengan disertasi berjudul “Een oud-Javaansch Wetboek vergeleken met Indische rechtsbronnen” (Sebuah Kitab Undang-undang Jawa Kuno dibandingkan dengan sumber-sumber hukum Hindia)’. Algemeen Handelsblad, 14-06-1882: ‘Di Universitas Leiden, JCG Jonker, lahir di Amsterdam, telah dipromosikan menjadi Doktor Hukum dengan disertasi akademis yang ditandatangani dengan judul “Over Javaansch recht". Catatan: JCG Jonker seperti dilihat nanti menulis tentang bahasa Rote dan bahasa Bima. De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 14-04-1892: ‘Di Rijks-Universiteit di Utrecht, F De Haan, kelahiran Leeuwarden, menerima gelar doktor Sastra Klasik (klassieke letteren) kemarin dengan disertasi berjudul: “Annotationes ad Demtsthenis quae lertur orationem Lacriteam”.

Setelah JJ Hollander, J Pijnappel, JHC Kern, C. Snouck Hurgronje, dan JLA Brandes kembali mahasiswa meraih gelar doktor di bidang bahasa dan sastra yang terhubung dengan Hindia yakni  HH Juynboll dan N Adriani. JHC Kern, JLA Brandes dan HH Juynboll seperti kita lihat nanti akan banyak memberi kontribusi dalam membaca naskah-naskah kuno dan prasasti-prasasti yang ditemukan di Hindia.


De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 16-10-1893: ‘Pendidikan. HH Juynboll, lahir di Delft, hari ini dipromosikan menjadi Doktor dalam bidang Bahasa dan Sastra Kepulauan Hindia Timur di Universitas Leiden setelah mempertahankan disertasinya "Drie boeken van het oud-Javaansche Mahabharata in Kawi-tekst en Nederlandsche vertaling, vergeleken met den Sanskrit-tekst" (Tiga Kitab Mahabharata Jawa Kuno dalam Teks Kawi dan Terjemahan Belanda, Dibandingkan dengan Teks Sansekerta)’. Utrechtsch provinciaal en stedelijk dagblad, 01-06-1893: ‘N Adriani, di Universitas Negeri Leiden, telah dipromosikan menjadi doktor di bidang taal- en letterkunde van den Oost Indischen Archipel (bahasa dan sastra Kepulauan Hindia Timur) lahir di Oud-Loasdrecht, dengan disertasi berjudul “Sangireeche spraakkunst”. Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 14-06-1892: ‘Berita Akademi. Senat Akademik di Leiden telah mempromosikan AC Vreede, guru besar bahasa dan sastra Jawa (Javaansche taal en letterkunde) di Universitas Negeri di sana, menjadi Doktor Honoris Causa (bevorderd tot doctor honoris causa) dalam Bahasa-Bahasa Hindia (Indische talen).

Seperti disebut di atas, pada tahun 1896 ada tiga doktor baru yang terhubung dengan Indonesia yakni Dr Ph S van Ronkel, Dr AA Fokker dan Dr HJE Tendeloo. Ketiga doktor tersebut di  bidang bahasa/sastra.  Namun doktor-doktor baru yang (kemudian) terkait dengan penyelidikan di Hindia terus bertambah. Tentu saja tidak hanya sastra/bahasa, tetapi juga bidang lainnya seperti hukum. Tentu saja bidang hukum ini memiliki keutamaan dengan bahasa-bahasa di Hindia terutama bahasa Melayu.


Algemeen Handelsblad, 31-01-1897: ‘Ujian akademik. Meraig gelar doctor di bidang taal-en letterkunde van den Oostindischen Archipel, GAJ Hazeu lahir di Amsterdam dengan disertasi berjudul “Bijdrage tot de kennis van het Javaansche tooneel" (Kontribusi terhadap Pengetahuan tentang Teater Jawa)’. Algemeen Handelsblad, 14-05-1898: ‘Pendidikan. Ujian akademik. Leiden. C van Vollenhoven, lahir di Dordrecht, diangkat menjadi doktor di bidang staatswetenschap (Ilmu Politik) setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul “Omtrek en inhond van het internationale recht" (Garis Besar dan Tujuan Hukum Internasional); kemudian, meraih gelar doktor ilmu hukum yang sama setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul "Stellingen". Catatan: C van Vollenhoven memiliki doktor ganda seperti halnya, yang telah disebut di atas Dr Ph S van Ronkel. 

Dr Ph S van Ronkel, Dr AA Fokker dan Dr HJE Tendeloo (sastra dan bahasa Melayu), Dr GAJ Hazeu (doktor, bahasa dan sastra, 1897) dan C van Vollenhoven (doktor, hukum adat, 1898) adalah sebagian dari orang Belanda yang mempelajari bahasa Melayu yang secara akademik melalui perguruan tinggi hingga ke tingkat doktoral. Sementara sebagian yang lain melalui jalan yang berbeda seperti Roorda van Eysinga pada tahun 1820an hingga HC Klinkert yang mulai dari bawah diantaranya melalui pers berbahasa Melayu yang kemudian kini menjadi dosen bahasa Melayu di Universiteit te Leiden. 


De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 16-06-1899: ‘Dalam surat kabar Java Bode tanggal 13 bulan ini, salah satu telegram menyebutkan bahwa Bapak H. G. Klinkert, dosen bahasa Melayu di Universitas Leiden, telah diangkat menjadi Ksatria Orde Oranye-Nassau pada kesempatan ulang tahunnya yang ketujuh puluh. Sehubungan dengan hal ini, Java Bode menyatakan: "HC Klinkert, yang menerima bintang ordo kehormatan pada akhir hayatnya, telah menjalani kehidupan yang luar biasa. Awalnya ia dilatih sebagai surveyor untuk mencari pekerjaan di Inggris untuk pembangunan kereta api; ia lulus ujian tersebut pada usia 18 tahun, tetapi segera dipekerjakan oleh pabrik terkenal di Fyenoord; ia kemudian seharusnya bekerja di Perusahaan Kapal Uap Hindia Belanda milik Gores De Vries, tetapi hal ini tidak terwujud karena pemberontakan di Paris pada tahun 1848". Klinkert kemudian berlayar selama satu setengah tahun sebagai insinyur di kapal Rhine, sebuah profesi yang harus ia tinggalkan karena cedera. Selama periode hidupnya ini, ia merasakan panggilan untuk mengabdikan diri pada pekerjaan misionaris; pada tahun 1856 ia berangkat ke Japara, di mana ia menikahi seorang gadis berdarah campuran yang hanya berbicara bahasa Melayu dan Jawa; hal ini mendorongnya untuk mempelajari bahasa Melayu. Untuk menutupi biaya penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Melayu Rendah, ia mendirikan surat kabar berbahasa Melayu “Selompret Melajoe”, yang masih diterbitkan di Semarang hingga saat ini. Ia mengedit surat kabar harian ini hingga ia mendapat dukungan dalam pekerjaannya selanjutnya dari Lembaga Alkitab Belanda. Setelah pindah dari Semarang ke Tjiandjoer, ia ingin bekerja di sana sebagai misionaris, tetapi tidak dapat memperoleh izin dari Pemerintah untuk hal ini, meskipun ia menerima dukungan untuk sekolah yang telah ia dirikan. Setelah kemudian menghabiskan tiga tahun di Riouw untuk mempelajari bahasa Melayu murni, ia berangkat ke Belanda, di mana Perjanjian Baru diterbitkan. Sakit memaksanya untuk menghentikan pekerjaan rohaninya, dan ia menetap di Druten sebagai petani. Pada tahun 1879 ia diangkat sebagai guru bahasa Melayu dan geografi serta etnologi Hindia Belanda di lembaga kota Leiden, dan pada tahun 1890 sebagai dosen sementara bahasa Melayu di Universitas Negeri di sana. Rangkaian tulisannya hampir tak terbatas’. 

JHC Kern, kelahiran Poerworedjo yang meraih gelar doktor dalam bahasa pada tahun 1855 dalam karirnya di bidang bahasa juga memiliki kisahnya sendiri. Dr JHC Kern sebelum kembali ke Hindia, mencoba belajar berbagai bahasa. Kelak Kerm dikenal sebagai ahli bahasa Sanskerta yang dalam perkembangannya pada masa ini menjadi ahli bahasa Kawi (Jawa Kuno). 


Bataviaasch nieuwsblad, 03-01-1899: ‘Bersama surat-surat Prancis, kami hanya menerima Deli Ct. tanggal 5 November. Raja Portugal, pada kesempatan perayaan Vasco da Gama di Lisbon, telah memberi bintang sebagai perwira dalam Ordo St. Tbiago para pria: Prof. H Kern, ketua Komisi Vasco da Gama ke-10; P Groeneveldt, mantan wakil presiden Dewan Hindia Belanda, ketua Perhimpunan Geografi Kerajaan Belanda; dan Prof Dr CM Kan, pendiri Perhimpunan tersebut; dan sebagai ksatria dalam ordo yang sama, FC Kramp, sekretaris Perhimpunan Geografi Kerajaan Belanda’. Bataviaasch nieuwsblad, 25-01-1899: ‘Menteri Koloni telah menunjuk sebuah komite penasihat untuk merevisi persyaratan pelatihan dan pengangkatan pejabat untuk layanan Hindia Belanda. Komite tersebut terdiri dari: Groeneveld, mantan Wakil Presiden Dewan Hindia Belanda, sebagai ketua; Dr J Kern, profesor di Leiden; Mr. J. de Louter, profesor di Utrecht; Mullemeester, mantan kepala pejabat Hindia Belanda; dan Mr AA de Vries, referendaris di Departemen Koloni’. 

Prof H Kern, seorang Indo, kelahiran Poerworedjo menjadi salah satu ahli bahasa yang penting di Hindia. Dalam konteks ini, seperti lainya, Prof Kern sejak awal sudah menjadi bagian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Batavia ataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (yang didirikan tahun 1787) juga menjadi bagian dari Instituut voor Taal-, Land en Volkenkunde yang didirikan tahun 1850an di Belanda. Dua lembaga ini, hingga kini (1899) masih dianggap sangat strategis dalam kajian-kajian yang terkait dengan Hindia Belanda, terutama dalam kontribusinya dalam bidang bahasa dan sastra di Hindia. 


De Telegraaf, 18-02-1899: ‘Ilmu Pengetahuan. Institut Kerajaan untuk Bahasa, Geografi dan Etnologi (Instituut voor Taal-, Land en Volkenkunde). Hari ini, rapat umum tahunan Institut Kerajaan untuk Geografi dan Etnologi Belanda diadakan di Den Haag. Laporan Tahunan untuk tahun 1898 diterbitkan oleh sekretaris, EP Kielstra, yang isinya sebagai berikut: Dewan pada tahun lalu terdiri dari TH der Kinderen (Ketua), Prof. Dr. JHC Kern (Wakil Ketua), Prof. Dr. I. Ranjaard, Prof. Dr. K. Martin, Prof. Dr. Meiann, Prof. JE. Heeres, AJ. Immink, JE. Henny, Prof. Dr. A. C. Vreed, Prof. Dr. J. J. M. de Groot, J. U. de Groot (Peningmeester) dan FB. Kielstra (Sekretaris). Institut tersebut mengalami kehilangan besar pada tanggal 10 tahun itu karena meninggalnya ketuanya, Bapak der Kinderen. Jumlah anggota biasa tetap hampir tidak berubah; jumlahnya mencapai 558 pada tanggal 1 Januari, dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada rapat umum tanggal 4 Juni 1886, anggota Prof. Dr. GK Niemann diangkat sebagai anggota kehormatan. Selain ketua, yang meninggal dunia adalah anggota asing Dr. Friedrich Muller dan anggota biasa Dr. A. van Ak, H. P. L. van den Berg, Jhr. Mr. W. K. de Brauw, Jhr. Q. J. H. Oldman, J. J. K. Muller, J. D. Oortman Gerling, T. I. van Stockutn, Mr. W. A. ​​​​Baron van Verschuer, L. Wejsels, P. A. Daum, D. Uroeneveld, Jhr. H. de Koek, J. K. G. Numan dan J. Q. Schot. Komisaris Institut di Batavia, Bapak B. Uostink, dikirim oleh Pemerintah Hindia untuk sebuah misi ke Tiongkok dan karenanya harus mengundurkan diri dari jabatan komisaris. Dewan dengan senang hati menemukan Dr. J. I. A. Brandes bersedia bertindak sebagai komisaris lagi menggantikan Bapak Hoetink. Bersama dengan Dr. I. H. S. van Konkel, para pria tersebut, seperti biasa, mengelola kepentingan institut dengan cara yang paling tepat. Selama tahun tersebut, Dewan memutuskan untuk menggunakan wewenang yang diberikan pada akhir Pasal. I peraturan dan menunjuk Tuan G. P. Koutfaer sebagai Wakil Sekretaris. Selanjutnya diputuskan untuk mencetak ulang 1e deel de Babad miliknya. Tanah Djawi yang telah dicetak ulang, namun pengerjaannya dihentikan pada saat itu karena meninggalnya Prof. Melnsma dan juga karena pertimbangan yang bersifat gerejawi. Het bestuurslid prof. Vrsede dengan ramah mengurus pencetakan ulang, yang praktis telah selesai. Jika hal ini gagal memenuhi kebutuhan keuangan, mengingat tuntutan tinggi yang diajukan oleh Institut, diputuskan lebih lanjut untuk menerbitkan perjanjian dan kontrak dengan para pangeran pribumi pada abad ke-17 dan ke-11 — yang mungkin sepenuhnya lengkap — di Arsip Kerajaan. Profesor Heeres telah menjanjikan bantuannya untuk publikasi ini. Yang sangat mengecewakan Dewan, Yang Mulia Menteri Koloni menemukan alasan dalam keadaan Hindia yang sangat menguntungkan untuk melanjutkan pekerjaan Bapak W. Iosegaarde, Uskup Hindia, kepada negara, sehingga pekerjaan tersebut akan dilanjutkan dengan biaya Institut selama beberapa bulan pertama tahun 1990, tetapi dssrna harus dihentikan. Kondisi keuangan Institut I memuaskan. Selain gedung dengan perabotannya, perpustakaan dan dana buku lembaga tersebut memiliki 21.630 dalam pajak warisan dan 2.230 dalam bentuk tunai. Namun, seperti yang telah dicatat dalam laporan sebelumnya, kemajuan tetap diperlukan, karena perpustakaan (terus-menerus menimbulkan masalah), dan untuk penyimpanan yang efisien, perpindahan ke gedung yang lebih luas secara bertahap menjadi perlu. Para pria berikut telah diangkat sebagai anggota oleh Dewan Institut: A. di Belanda: P. N. Adriani, Rotterdam; C. C. F. van Baak, Leiden; C. O. van Baerle, di Kementerian Infrastruktur; Mr. C. Baks, id.; F. de Bé, id.; Rev. W. van Bsmmlen, Utrecht, sementara di Batavia; J. Benkhof, Doetinchem; H. C. A. de Block, Den Haag; Dr. M. G. da Boer, Amsterdam; Q D. Bom H.Ji., ld.; Mr. A. C. Bondam, 's-Hertogsbosch; Dr. H. Brugman, 's-Uravenbage; Dr. J. T'allenbach, Hoorn; A. van Deldan, 's-Gravenbage; M.Doxy, Leiden; Tuan A.J. Driesaen, Amsterdam; Tuan JA Feith, Groningen; James de Frimery, Den Haag; W. van Leer, Utrecht; Tuan J.C van Harsncarspel, Den Haag; Jhr. Tuan J. E. Huydecoper van Maarsseveen sa Nigtevegt, Utrecht; A. A. Knuijvor, Den Haag; T.C.van der Kulk, id.; F.Landberr, id.; dr, L.A"aü L.ngeraad, Lekkerkerk ; Tuan J. Lost, Den Haag; Tuan P.H.P. van Marie, id.; J.de Meester, Rotterdam, Anton Mensing. Amsterdam; Tn. A. Nilanravenh.; Raden Mas Pandji Sosro Kartono, id.; JCR Schonek, id.; jhr. Tn. JWM Schorer, id.; Tuan A. Slotemaker, id.; Dr. Sloos, Amsterdam; JHW Unger, Rotterdam; Tuan W.R. Veder, Amsterdam; Dr.Jh. Burning, id.; E. Vonck, Den Haag; F.da Vries van Hoijit, Delft; P.G. Wiesemao, s-Gravenhage. B. di luar negeri Leo Bouchal, Wina. C. Di Hindia. H. P. A. Bakker, Pontianak; HJM Bouman, Weltevreden; Jbr. Tuan F. J. vaa ​​​​Beyma thoe Kingma, Weltevreden: Tuan A. Brouwer, Makasear; UD.van Capelle, Magalang; ICE van JJaalen, Soerabaya; J.G. Bourman, Weltevreden ; E.F.L, J.H. vaa ​​​​Elders, Koewala Kapak; W.F. Engeloert van Beverwoude, Soerabaya; J Esehbach, Telok Betong; mr. J.W. van Drmen, Weltevreden ; J. A. P. Grevertudlyk Nijmegen; dr. F. de Haan, Weltevreden: mr. A.C.J. Helfricb, H.J. Hooghwinkel, id.; J.P Jannetts- Walan, Weltevreden ; Lusten, Surabaya; Ma'amun Al Rasjid Perkssa Alam Shah, Sultan Dcli; id. J. Meerteos, Weltevrden; Tb. H d Meer. id.; I. P. Mieidel,; Mohammad Adil Khalifatoal Mueminin, Sultan Kutei; CHD Mood de Froldevtlle Trenggalek; Tn. A Paet ke Gans, Surabaja; Pangeran Ario Mataram, Soerakarta; A E. Ftro, Weltevreden; Raden Adipati Llano Radjo, Djocjokarta; Raden Adipati Soero Diningrat, Soorakarta; Raden Mas Adipati Ario, Japara; Raden Mas Toemenggoeng Soeriadi Kosoemo, Ledok J. Reyaeaboch, Weltevreden; Th. A.M.Ruys, ld. A.Schuurman, id. Tn. H. Schuytsr, id. Tuan J.M.O. baron vaa Slinflodt, id.; Oke Sotra, id.; P.A.v.d. Btadt, Rem bang, F.J. Stokhuvsen, Weltevreden; KG Taylor, id; Tuan Th. Thomas, Makasasar; C.F.H. Tuckermann, Tn. W. de Veer, Ponntianak; A.H.J.  Welbeehm, Weltevreden; LC Wellink, PadangSldempoean; Tuan H. Wibers, Surabaya; H.U.Wlllems, Ambon. K.v.Dunmalen, Weltevreden; A.E. Wijsa, Bondowoiso, Bpk. F. J. van dar Ziresp, Weltevreden’. Catatan: Sudah ada satu mahasiswa Indonesia di Belanda, Raden Pandji Sosro Kartono yang kuliah di Universiteit Leiden dalam bidang bahasa dan sastra. 

Pada tahun 1899 ini di Belanda di lembaga bergengsi Instituut voor Taal-, Land en Volkenkunde terdapat dua nama penting yang sama-sama kelahiran Jawa, yakni: sang ketua Prof H Kern; dan satu mahasiswa pribumi kelahiran Jepara RM Pandji Sosro Kartono (abang dari RA Kartini) yang tengah kuliah bahasa dan sastra di Leiden yang dalam hal ini menjadi salah satu anggota dewan.

 

De nieuwe vorstenlanden, 08-11-1899: ‘Prof. Kern. Ketika Kern, setelah tiba di Benares, datang untuk bergabung dengan Kolese, direktur dari kedua lembaga afiliasi, Ralph Griftith, yang dikenal sebagai ahli Sanskerta melalui terjemahan yang sangat baik dari Kumarasambhava karya Kalidasa, memberitahunya tentang tugasnya: ia harus mengajar para Brahmana, yang sudah menguasai Sanskerta dengan baik, metode Eropa dan praktik kritis bahasa tersebut, dan juga menginstruksikan mereka dalam bahasa Inggris. Yang terakhir terutama digunakan oleh orang-orang Hindu yang sedang mempersiapkan diri untuk pendidikan tinggi di Queen's College. Lebih lanjut, profesor diberi kebebasan paling besar, asalkan ia menyibukkan diri dengan murid-muridnya dari pukul tujuh pagi hingga setengah sebelas. Sejumlah murid ini mengikuti pendidikan tersebut semata-mata untuk dapat mengikuti ujian atau karena mereka dapat memanfaatkan tunjangan yang diberikan dan karena itu melanjutkan studi mereka. Bersama mereka, Kern sesekali membaca beberapa penulis Inggris dan, dengan penuh minat dan khususnya, membantu sedikit meningkatkan kemampuan mereka, sementara ia terutama mencurahkan pekerjaannya untuk mengajar Sanskerta kepada para Brahmana. Sesuatu dibaca, pemikiran mereka dicari, pemikirannya diberikan, semua ini dalam bahasa Sansekerta—singkatnya, semacam ceramah singkat. Sebagian besar Brahmana jauh lebih tua darinya; ada beberapa yang sangat berpengalaman dalam sastra kaum mereka, sehingga Kern sendiri banyak belajar sambil memperdebatkan poin-poin utama Nyaya (logika), atau tentang drama: "lebih banyak dari mereka," katanya sendiri, "daripada mereka dari saya." Hubungannya sangat baik. Kern, yang sudah mahir dalam cara berpikir dan berbicara orang India, dengan tenang dan ramah menyampaikan ilmunya yang luas, sangat dicintai oleh para Brahmana; mereka menganggap Karna atau Karneprabbu (') sebagai salah satu dari mereka sendiri, dan berbicara dengan sangat bebas dengannya tentang hal-hal yang dengan mudah akan mereka katakan kepada orang Inggris. Di sisi lain, ia mengembangkan simpati yang semakin besar terhadap tipe Brahmana yang mulia dan bangga, sangat hormat tanpa sedikit pun sanjungan; tanpa pamrih dan seringkali berbudaya tinggi. Di kalangan kasta Brahmana, berkembanglah konsep "gentleman" yang mana orang Inggris masa kini patut bangga. Sungguh aneh bahwa hanya sedikit orang Inggris yang tahu bagaimana menghargai kaum Brahmana, bahkan sebaliknya. Selama kunjungan yang sering diterima Kern dari mereka, sikap mereka terhadap para penguasa dibicarakan dengan sangat bebas. Saat itu belum lama setelah pemberontakan. Mereka umumnya mengakui: "Kita tidak bisa hidup tanpa orang Inggris; hanya mereka yang menjaga ketertiban dan administrasi, keadilan mereka jauh lebih baik daripada kita. Tetapi tidak ada satu pun dari kita yang kita cintai; kita sebenarnya membenci mereka. Di Hindia, kita yang dalam beberapa hal lebih beradab daripada banyak dari mereka sendiri, mereka anggap sebagai setengah kera, "nigger" atau paling banter "penduduk asli". Dan sekarang halaman-halaman beruntung ini dari kesimpulan sketsa biografi. Jika pembaca, melalui uraian sebelumnya, belum mencapai tingkat kekaguman yang cukup atas pengetahuan yang begitu komprehensif, adalah tugas mudah bagi penulis untuk meningkatkan kekaguman itu tanpa jatuh ke dalam nada sinis. Inti dari poliglottisme yang luar biasa ini umumnya diketahui. Dia tidak hanya membaca dan berbicara banyak bahasa, tetapi juga dengan mudah memiliki penilaian ilmiah tentangnya, yang memungkinkannya, bahkan pada saat orang lain masih berjuang dengan prinsip-prinsipnya, untuk menganggap dirinya termasuk dalam jajaran ahli bahasa. Belum lama ini, salah satu anggota Akademi Kerajaan (di Delft) pernah mendengarnya berkata: "Ya, bahasa Keltische, saya juga ingin tahu sesuatu tentang mereka." Mungkin setahun kemudian (tiga bulan, kata penggemar yang memberi tahu kami), artikel jurnal karyanya muncul mengenai bahasa dan sastra Kelt, yang membuat sarjana Kelt yang hebat, Profesor Windisch yang ramah di Leipzig, teman Kern, merasa gembira karena mendapatkan keuntungan tak terduga dari keluarga kecil sarjana Kelt. Sarjana itu kemudian, pada saat seperti itu, pertama-tama mempelajari tata bahasa dengan cepat, kemudian membaca teks, dalam jumlah yang sangat banyak, dan kemudian mulai mempelajari bahasa, sebuah seni dengan fondasi yang lebih kokoh, di mana ia selalu memiliki pengetahuan yang luas tentang literatur jurnal, meskipun ia tidak mengikutinya secara sistematis. Ia sudah mengetahui bahasa-bahasa Jermanik dan bentuknya yang sekarang dan historis; ia memiliki kesukaan tertentu pada sastra Swedia. Dari bahasa-bahasa Romawi, bahasa Spanyol sangat menarik baginya. Demi sastra ia belajar bahasa Hongaria; Ia mengenal penyair dan novelis Petöh, Aranyi, Eötvös, Jokai, dan Josika juga. Penulis Rusia favoritnya adalah Pushkin, Lermontof, Gogol, dan Dostoevsky. Ia juga membaca banyak karya dan jurnal ilmiah Rusia, yang laporannya secara teratur ia kirimkan, serta beberapa karya penulis Ceko. Kern hanya mempelajari bahasa-bahasa Semit dan Hamitik secara dangkal; bahasa Ibrani, Arab, dan Koptik bukanlah bahasa yang sepenuhnya asing baginya, tetapi karena takut terlalu larut dalam bahasa-bahasa yang terlalu jauh dari wilayah yang terus dianggapnya sebagai wilayah sejatinya, yaitu bahasa Hindia, ia tidak mempelajarinya lebih dalam. Bahasa yang sangat istimewa adalah bahasa Georgia, atau Gruz, yang dituturkan di Kaukasus dan tampaknya tidak termasuk dalam suku bahasa lain yang dikenal. Untuk membentuk pendapatnya sendiri mengenai masalah khusus yang terkait dengannya, Kern mempelajari bahasa Georgia, yang tidak mudah, karena bantuan yang tersedia sangat tidak memadai dan tata bahasa yang ada telah disusun tanpa pemahaman sedikit pun tentang karakter bahasa tersebut. Namun, ia merasa terbayar dengan usahanya ini, karena bahasa Georgia menunjukkan kepadanya ciri-ciri yang sangat menarik dalam struktur dan bentuknya, yang membuatnya layak untuk dipelajari secara menyeluruh. Ketika prasasti batu Armenia Kuno di Wan ditemukan, ia ingin memastikan apakah ada hubungan antara bahasa mereka dan bahasa Georgia. Namun, ketika ia menyadari bahwa ia tidak dapat melakukan ini tanpa membiasakan diri dengan aksara paku Asyur, ia membatasi diri dan meninggalkan proyek tersebut. Hubungan yang dicurigai ternyata tidak ada. Bahasa Osseik, salah satu cabang dari garis keturunan Teranian, tidak asing baginya. Dari bahasa-bahasa Ural-Alsik, ia menguasai bahasa Milgyaarse, Finlandia, dan Italia dengan baik, dan lebih jauh lagi ia berlatih bahasa Mongolia, Yakutia, dan sedikit Baloyed, Mordvinia, dan Ostyak. Seandainya kita tidak menyebutkan sebelumnya kecintaan Kern pada musik dan alam, orang mungkin akan mengira bahwa pria yang begitu banyak tahu dan bekerja tidak akan menemukan waktu atau keinginan untuk mengarahkan minatnya pada hal-hal kuno. Pendapat itu sepenuhnya salah. Kern sangat tertarik pada segala sesuatu yang terjadi di dunia. Ia adalah pembaca surat kabar yang rajin; kebijakan luar negeri, khususnya, lebih menarik baginya daripada kebijakan dalam negeri. Ini juga tampaknya sesuai dengan pandangan positifnya. Politik partai yang berat sebelah mengganggunya; Ia sangat yakin bahwa Belanda memiliki peran terhormat untuk dimainkan, peran yang tidak ada hubungannya dengan slogan-slogan partai yang usang. Pemilihan parlemen tidak menarik baginya: ketika ia tidak mengenal orang yang tepat untuk pekerjaan itu, ia tinggal di rumah. Apa yang ingin ia lihat, dengan kesadarannya yang tajam akan rakyat dan pengaruhnya yang mendalam, adalah gejolak besar sejarah, perkembangan alam liar’. 

Jadi menjadi sangat jelas bahwa terbentuknya bahasa Melayu Pasar yang digunakan di Hindia Belanda yang awalnya (hanya sekadar) alat komunikasi, dengan keberadaan para akademisi dan para pegiat bahasa tersebut, diantaranya seperti disebut di atas, menjadi pra kondisi ke arah perkembangan selanjutnya yang kemudian terbentuknya Bahasa Indonesia. Bagaimana dengan di Negara lain? 


Selain orang Belanda, yang juga intens dalam hal bahasa-bahasa pribumi, adalah orang-orang Inggris. Wilayah koloni Inggris yang luas, mulai dari wilayah orang-orang Arab di Timur Tengah di Laut Merah hingga Persia dan terus ke India, Burma, The Strait Settlement hingga pantai Timur Tiongkok (plus Australia). Belanda hanya terkonsentrasi di Indonesia (baca: Hindia Belanda). Dibanding koloni Belanda di Suriname dan Curacao, orang-orang Belanda lebih banyak dan lebih intens di Hindia. Hal ini karena di Hindia Belanda tidak hanya bahasa Melayu sebagai lingua franca, juga di Hindia Belanda begitu banyak bahasa-bahasa etnik. Lantas apa perbedaan peneliti Belanda dan pegiat bahasanya dibandingkan dengan peneliti Inggris dan pegiat bahasanya? Itu sangat ditentukan oleh cara Belanda dalam berkoloni di Indonesia dan cara Inggris berkoloni di India dan wilayah-wilayah koloni Inggris lainnya. Pemerintah Hindia Belanda berkoloni secara penuh yang mengakibatkan hubungan antara orang Belanda dan penduduk pribumi sangat intens dalam berbagai aspek termasuk bahasa dan sastra. Hal itulah, seperti kita lihat nanti mengapa orang Belanda, seperti disebut di atas, sangat berkesinambungan dan konsisten mempelajari bahasa Melayu Pasar di Indonesia, bahkan sejak era VOC. Konsistensi inilah yang menjadi faktor penting mengapa bahasa Melayu Pasar di Indonesia jauh lebih berkembang jika dibandingkan dengan bahasa Melayu Pasar di Semenanjung Malaya yang nota bene menjadi wilayah kekuasaan Inggris. Keutamaan para peneliti Belanda dan pegiat bahasanya di Indonesia menjadi bukti penting mengapa bahasa Melayu terus di jalurnya menjadi lingua franca hingga terbentuknya Bahasa Indonesia jika dibandingkan dengan di India dimana peneliti Inggris dan pegiat bahasanya tidak berhasil membentuk satu bahasa sebagai lingua franca. Perlu digaris bahwahi di sini, salah satu peneliti Inggris (filologi) di India, Sir William Jones menemukan adanya kekerabatan bahasa Sanskerta dengan bahasa-bahasa Eropa yang dipublikasikannya di Calcutta. 

Upaya kodifikasi bahasa Melayu Pasar di Indonesia paling tidak sudah diapungkan oleh HN van der Tuuk dan HC Klinkert pada tahun 1865. Babak baru dalam pengembangan bahasa Melayu Pasar yang nantinya ke arah terbentuk Bahasa Indonesia dimulai. Dalam konteks inilah menjadi penting peran sarjana-sarjana baru dan doktor-doktor baru lulusan Belanda yang berminat dalam bahasa Melayu dan bahasa etnik lainnya di Indonesia. Namun demikian guru-guru bahasa Melayu di Indonesia, baik di sekolah-sekolah Eropa/Belanda maupun sekolah-sekolah pribumi seperti sekolah guru (kweekschool) juga memberi kontribusi yang signifikan dalam berkembangnya bahasa Melayu di Hindia Belanda. Bagaimana dengan babak selanjutnya? 


Dalam hal inilah muncul nama-nama seperti yang dikutip di atas, doktor-doktor baru diantaranya AA Fokker (lahir di Batavia) dan HJE Tendeloo (klahir di Amoerang). Tentu saja para seniornya mereka seperti Prof Kern (lahir di Poerworedjo) masih aktif dalam bidang kebahasaan. Mereka bertiga ini kebetulan kelahiran Indonesia (yang mana bahasa Melayu menjadi bahasa kedua mereka sejak lahir). Perlu dtambahkan disini, Raden Mas Sosro Kartono (lahir di Jepara), segera setelah lulus HBS di Semarang berangkat ke Belanda pada tahun 1896. RM Kartono kemudian diketahui menjadi mahasiswa di Universitetit Leiden yang mengambil bidang bahasa dan sastra. 

Pada tahun 1901, Charles Adrian van Oppuijsen menerbitkan bukunya berjudul “Handleiding bij de Beoefening van het Maleische Letterschrift” yang diterbitkan 1901. CA van Ophüijsen saat ini adalah Inspecteur van het Inlandsch Onderwijs di Pantai Barat Sumatra. Buku panduan karya CA van Ophüijsen berisi 42 bab; dua buku kecil yang menyertainya, berjudul “Doea Sebaja”, berisi latihan membaca sebanyak itu pula. Setelah mempelajari suatu bab, bacalah latihan yang sesuai dengan nomor bab tersebut. 


Sumatra-bode, 12-08-1902: ‘Aksara Melayu. Keberhasilan kebijakan kolonial Belanda sebagian besar memang disebabkan oleh prinsip bahwa adat istiadat asli harus dihargai semaksimal mungkin dalam urusan administrasi, dan kebiasaan baik penjajah Belanda untuk berkomunikasi dengan masyarakat yang ditaklukkan dalam bahasa mereka sendiri. Sayangnya, masih terlalu sedikit perhatian yang diberikan oleh banyak orang terhadap praktik bahasa Melayu, dan sangat menggembirakan mendengar bagaimana sebagian besar orang, bahkan setelah tinggal di Hindia selama bertahun-tahun, masih merusak idiom ini. Hanya sedikit yang dapat menulis huruf Melayu yang layak, dan itupun sebagian besar hanya dengan huruf Latin; hanya sedikit yang menguasai aksara Melayu (Arab). Oleh karena itu, kami dengan senang hati mengumumkan terbitnya Buku Panduan untuk PRAKTIK AKSARA MELAYU, dengan dua buku bacaan pendamping yang disusun oleh Bapak Ch. A. van Ophuijsen, Inspektur Pendidikan Adat di sini. Buku panduan ini, yang juga sangat cocok untuk pembelajaran mandiri, berisi 42 bab; dua buku pendamping, berjudul üoea Sebaja, berisi latihan membaca sebanyak itu pula. Dengan belajar tekun, seseorang dapat dengan mudah mempelajari aksara Melayu dari buku-buku ini dalam dua bulan. Seperti diketahui, para pejabat yang berhasil lulus ujian bahasa Melayu menerima kontribusi finansial dari Pemerintah dan biaya perjalanan gratis ke dan dari Batavia. Bukankah kesempatan serupa juga dapat diberikan di sini, di pesisir, kepada para pejabat bawahan seperti juru tulis, petugas registrasi, dll.? Setelah lulus, mereka juga berhak mendapatkan imbalan finansial. Pengetahuan yang baik tentang bahasa dan aksara Melayu di kalangan para pejabat ini tentu akan jauh lebih penting bagi masyarakat umum daripada bagi para pejabat itu sendiri. Dengan ini kami mencatat bahwa buku panduan tersebut tersedia dengan harga 75 sen dan Doea Sebaja I dan II seharga 20 dan 25 sen dari administrasi penerbitan ini’. 

Buku panduan karya CA van Ophüijsen kemudian pada tahun 1902 diadopsi oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai buku bacaan wajib di sekolah-sekolah pemerintah maupun swasta. Sejak inilah nama ejaan yang dikenal Ejaan Ophuijsen menjadi awal permulaan ejaan di Indonesia. Dengan demikian ejaan bahasa Melayu dalam aksara Latin menjadi distandarkan. Usulan HN van der Tuuk pada tahun 1865 untuk membuat kodifikasi bahasa Melayu menjadi kenyataan (dalam arti digunakan secara massif di seluruh Hindia Belanda). 


CA van Ophüijsen lahir di Solok, setelah lulsu HBS di Belanda, memulai karir sebagai pegawai pemerintah di onderafdeeling Mandailing, Afdeeling Angkola Mandailing pada tahun 1875. Namun alih-alih menulis tentang pemerintah local, CA van Ophüijsen justru banyak menulis sastra local. Tampaknya karena itu, CA van Ophüijsen mengusulkan dirinya menjadi guru. Lalu dibentuk komite untuk mengujinya. CA van Ophüijsen lulus ujian guru pada tahun 1879. CA van Ophüijsen ditempatkan di sekolah guru di Probolinggo dalam pelajaran bahasa Melayu. Pada tahun 1881 CA van Ophüijsen dipindahkan ke sekolah guru di Padang Sidempoean (dibuka sejak 1879). Selama menjadi guru, CA van Ophüijsen di Padang Sidempoean banyak menulis di jurnal dan menerbitkan buku karyanya tentang sastra dan bahas Batak dan juga sastra dan bahasa Melayu. Selama delapan tahun di Padang Sidempoean, lima tahun terakhir sebagai direktur sekolah hingga kemudian diangkat sebagai Inspektur Pendidikan Pribumi di wilayah Pantai barat Sumatra yang berkedudukan di Padang. CA van Ophüijsen tetap menulis buku-buku pelajaran dan juga berbagai artikel yang dimuat di jurnal, majalah dan surat kabar. Singkatnya setelah karyanya diadopsi pemerintah sebagai pedoman ejaan di sekolah-sekolah pemerintah, CA van Ophüijsen kemudian diangkat menjadi guru besar bahasa Melayu di Universiteit Leiden pada tahun 1905. Prof CA van Ophüijsen tetap konsisten menulis tentang sastra/bahasa Melayu dan juga sastra/bahasa Batak. 

Pada tahun 1908 D van Hinloopen Labberton menerbitkan suatu buku berjudul ”Register op de artikelen voorkomende in het Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde en de Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, loopende tot het jaar 1907, benevens eene inhoudsopgave tevens prijslijst van 's Genootschaps uitgaven bijgewerkt tot juni 1908” yang diterbitkan oleh Nijhoff. Buku ini berisi indeks artikel-artikel yang diterbitkan di Indonesia termasuk dalam "Verhandelingen Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen" (sejak 1779) dan artikel-artikel dalam "Tijdschrift voor Indische Taal, Land en Volkenkunde" (Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië) sejak 1853 (dan seperti dilihat nanti masih terbit hingga tahun 1940). Artikel-artikel tersebut meliputi topik-topik geografi, bahasa dan etnografi di seluruh Indonesia (baca: Hindia Belanda). 


Dalam buku indeks dapat dengan mudah ditemukan judul-judul artikel yang ditulis oleh para peneliti dan pegiat bahasa. Tentu saja di dalam indeks ini terdapat artikel H Kern, HN van der Tuuk, HC Klinkert, CA van Ophuijsen, Roorda van Eysinga, Tendeloo, Pijnappel, JJ Hollander dan lainnya. Indeks ini menjadi semacam indeks Daghregister yang pernah disusun oleh CA van der Chijs yang diterbitkan pada tahun 1885. Untuk Katalog buku terdapat pada hasil karya yang disusun oleh GP Rouffaer, dan WC Muller berjudul “Catalogus der Koloniale Bibliotheek van het Kon. Instituut voor de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch Indië en het Indisch Genootschap (tujuh jilid) yang didukung Koninklijk Instituut voor de Taal-, Land- en Volkenkunde (Leiden) dan diterbitkan oleh Drukker/Uitgever Nijhoff. Perlu ditambahkan disini masih ada satu majalah bernama Tijdschrift voor Neerland's Indie (terbit pertama 1838 dan edisi terakhir pada tahun 1902). Sumber lainnya yang dapat ditambahkan disini adalah majalah/jurnal Natuurkundig tijdschrift voor Nederlandsch-Indië, terbit pertama tahun 1852 (dan masih terbit hingga tahun 1942). Sebagai pendukung dapat didaftar disini buku tahunan Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië sejak 1816 dan majalah Landbouw; tijdschrift der Vereeniging van Landbouwconsulenten in Nederlandsch-Indië sejak 1925. 

Di dalam indeks artikel yang disusun oleh D van Hinloopen Labberton (hingga artikel tahun 1907), sejatinya, semua wilayah di Indonesia (baca: Hindia Belanda) sudah ditulis dalam berbagai aspek. Untuk aspek bahasa, semua bahasa-bahasa etnik yang memiliki populasi signifikan (jumlah poengguna yang cuku banyak) sudah terinformasikan. Mulai dari bahasa-bahasa berpopulasi besar di pulau-pulau besar hinggan bahasa-bahasa berpopulasi kecil di pulau-pulau kecil, mulai dari Sabang hingga Merauke. Lantas siapa D van Hinloopen Labberton? 


Perjalanan karirnya terbilang unik. D van Hinloopen Labberton lulus sekolah HBS di Gelderland tahun 1893 termasuk tiga besar (lihat Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 05-08-1893). Lalu kemudian berangkat ke Hindia. Pada tahun 1893 D van Hinloopen Labberton menulis artikel di majalah Tijdshriften. Archief voor de Java-Suikerindustrie dengan judul “Logarithmen in 3 decimalen voorliet laboratorium”. D van Hinloopen Labberton bersama J Terwen menerjemahkan buku Algemeene Geschiedenis oleh GL Kriegk dan FC Schlosser dalam bahasa Jerman ke bahasa Belanda yang diterbitkan tahun 1897 (Het nieuws van den dag: kleine courant, 03-10-1897). Pada tahun  1899 D van Hinloopen Labberton dengan penunjukan sebagai pegawai negeri sipil, berlaku efektif 1 Januari 1899, di bawah wewenang Sekretaris Jenderal Algemeen Secretarie (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 07-01-1899). Kembali menulis artikel di majalah tersebut dengan judul “Welke inkomsten trekt Java uit de suikercultuur” (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 18-06-1900). Sebagaimana diketahui Indisch Bond didirikan tahun 1898. Pada tahun 1903 D van Hinloopen Labberton menjadi ketua Indisch Bond afdeeling Buitenzorg (lihat De Preanger-bode, 24-02-1903). 

Pada tahun 1904 diadakan Internationaal Theosophisch Congres di Belanda (Amsterdam) yang turut dihadirinya (lihat Het vaderland, 21-06-1904). D van Hinloopen Labberton membawakan makalah berjudul Gazzhali’s ’Kitab Tasaoep’ in zijn Soendaneesch bewerking en een zinverwant Javaansch zedekundig geschrift” (Kitab Tasaoep' karya Gazzhali dalam adaptasi Sundanese dan risalah moral Jawa yang terkait). D van Hinloopen Labberton sangat menguasai bahasa Melayu dan bahasa Jawa. 


Verzameling van verslagen en rapporten behoorende bij de Nederlandsche Staatscourant, 01-01-1905: ‘Komisi sehubungan dengan penyelenggaraan ujian yang dimaksud dalam Keputusan Kerajaan tanggal 26 April 1902, resolusi Menteri Koloni sementara tanggal 29 April 1902, bagian D, no. 2G. Berdasarkan Keputusan Pemerintah tanggal 19 November 1901, no. 9, para gentlemen berikut ditunjuk sebagai anggota komite untuk menyelenggarakan ujian pegawai negeri sipil senior pertama pada tahun 1905: a. sebagai anggota, juga ketua, Dr. C. Snouck Hurgronje, penasihat urusan masyarakat adat dan Arab; b. sebagai anggota, juga sekretaris, Dr. Ph. S. van Ronkel, guru di Departemen Bahasa, Geografi dan Etnologi Hindia Belanda di Gimnasium Willem II; sejumlah subkomite sesuai dengan jumlah mata pelajaran yang diujikan. Subkomite-subkomite tersebut terdiri dari: 1. Sejarah Hindia Belanda: J. G. Pott, C. den Hamer, G. M. Peyte; 2. Geografi dan Etnologi Hindia Belanda: G. A. J. Hazeu, C. M. Pleyte, J. Knebel; 3. Hukum agama, lembaga etnis dan adat istiadat Hindia Belanda: J. Reepmaker, Dr. Pil. van Ronkel, W. M. G. Schumann; 4. Lembaga Negara Hindia Belanda: Mr. I. A. Nederburgh, Mr. J. G. Pott, Mr. Dr. W. M. G. Schumann; 5. Bahasa Melayu: O. den Ilamer, Dr. Ph. S. van Ronkel, D. van Hinloopen Labberton; 6. Bahasa Jawa: Dr. G. A. J. Hazeu, D. van Hinloopen Labberton, J. Knebel”. 

Dalam hal ini disebutkan D van Hinloopen Labberton adalah guru di Departemen Bahasa, Geografi dan Etnologi Hindia Belanda di Gymnasium Willem III di Batavia (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 27-02-1905). Dalam edisi pertama majalah Het Daghet D van Hinloopen Labberton menulis artikel  Javaansche Liiteratuur (lihat Soerabaijasch handelsblad, 23-01-1906). Menulis buku berjudul Javaansche kronieken (Babad tanah djawi) (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 02-01-1907). Singkatnya, pada tahun 1912 saat didirikan Indisch Partij, D van Hinloopen Labberton termasuk pengurus. D van Hinloopen Labberton juga aktif dalam gerakaan Indie Weerbaar dan kemudian menjadi anggota Volksraad 


Bataviaasch nieuwsblad, 25-09-1916: ‘Penghasutan. Belakangan ini, beberapa media pers di Hindia benar-benar semakin tidak terkendali. Kami ingin menarik perhatian pada tulisan-tulisan surat kabar Melayu Pertimbanqan, yang diterbitkan di Bandung dengan dana dari Tiongkok, di bawah kepemimpinan redaksi Bapak Razoux Kühr. Bapak tersebut dibantu dalam tugas editorialnya oleh seorang editor Tionghoa, seorang editor lokal, dan seorang editor Amerika, dan khususnya tulisan-tulisan editor Amerika itulah yang ingin kami soroti. Apa yang berani disampaikan oleh orang asing itu, Y. Minami, kepada pembaca lokal dan Tionghoa-nya dengan slogan "Asia untuk orang Asia" melampaui batas dan karena itu, seperti yang telah kami informasikan dari Bandung, telah menyebabkan penangkapan jurnalis tersebut hari ini. Dalam Pertimbangan tanggal 16 September 1916, Bapak Minami menulis "tentang situasi Jepang di Hindia Belanda* dan dengan berani menyertakan, antara lain, bagian-bagian berikut: "Meskipun Jepang masih tetap tenang, hati mereka tetap dipenuhi amarah mengenai gerakan Indië-Weerbaar, karena, misalnya, Hinloopen Labberton yang berkuasa, sebagai pejabat pemerintah, tidak ragu-ragu untuk mengadakan pertemuan publik besar di Semarang sedemikian rupa sehingga kebencian terhadap Jepang ditanamkan dalam pikiran berbagai kelompok penduduk". "Bahwa Pemerintah Belanda telah menunda keberangkatan delegasi ke Belanda tidak akan berpengaruh, karena semua pejabat pemerintah, dengan kehendak bebas mereka sendiri, berusaha untuk menabur kebencian terhadap Jepang di hati semua penduduk negara ini". Memang bukan masalah kecil. Namun masih ada lagi. Kesimpulan artikel tersebut berbunyi: "Tidak boleh ada kata-kata yang digunakan yang dapat menimbulkan komplikasi diplomatik antara Jepang dan Belanda". Namun, sebaiknya Gubernur Jenderal, van Limburg Stirum, memperhatikan dengan saksama apa yang telah saya katakan di sini”. Sementara itu, Pemerintah tampaknya menganggap perlu untuk segera mempertemukan Bapak Minami dengan hakim pidana. Mungkin hakim tersebut dapat membujuknya untuk berhenti menghasut lebih lanjut, seperti yang telah dilakukannya dalam Pertimbangan tanggal 18 September, di mana kita membaca tidak lebih dan tidak kurang dari: "Belanda tidak dapat dibantu dari luar saat ini; oleh karena itu, jagalah kebebasan Anda dan kebebasan anak-anak dan cucu Anda" Y. Minami. Kami senang bahwa pemerintah menunjukkan akan menghentikan tulisan yang merusak ini’. 

Pada tahun `1918 D van Hinloopen Labberton berangkat ke Belanda. Sebagaimana diketahui dalam Kongres Hindia pada tahun 1917 nama Indonesia sudah diadopsi oleh semua organissi mahasiswa Belanda, Cina dan pribumi. Setelah lima bulan kembali ke Hindia. Gelarnya sudah disebut Prof D van Hinloopen Labberton. Indonesia dalam hal ini telah menjadi rumah kedua Prof D van Hinloopen Labberton. Saat dibentuknya parlemen (Volksraad) di Batavia pada tahun 1918, Prof D van Hinloopen Labberton menjadi anggota parlemen. D van Hinloopen Labberton masih tetap sebagai guru sekolah. 


Pada tahun 1917 di Belanda diadakan Kongres Hindia. Sejumlah anggota Indische Vereeninging yang menjadi pengurus seperti Notodoningrat, Sorip Tagor Harahap dan Dahlan Andoellah, dalam kongres tersebut mengusulkan di forum agar digunakan nama Indonesia untuk menggantikan nama Hindia (Belanda). Usulan ini tampaknya diterima. Lalu kemudin pada kongres Hindia tahun 1918 nama kongres sudah diubah menjadi Indonesia Congres. Salah satu keputusan yang dibuat antara organisasi Belanda, Cina dan primuni asal Hindia dibentuk federasi yang diberi nama Indonesia Verbond Studerenten. Sejak inilah nama Indonesia resmi digunakan di kalangan mahasiswa asal Hindia di Belanda. Nama Indonesia juga kemudian mulai diadopsi di Volksraad (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 29-04-1921). Disebutkan dalam sidang Volksraad tanggal 29 April, D van Hinloopen Labberton, Cramer dan Vreede mengusulkan mengandemen konstitusi Pasal-1 nama ‘Nederlandsc Indie’ untuk diganti dengan nama ‘Indonesia’. Sementara Stokvis dan Koesoemo Joedo mengusulkan dengan Insulinde. Namun ketika diajukan voting, yang menolak perubahan sebanyak 18 melawan lima. Siapa yang lima tersebut sudah pasti tiga diantaranya Labberton, Cramer dan Vreede. Catatan: Volksraad anggota pribumi Laoh, Raden Kamil, Koesoemojoedo, de Gueljoe, Waworentoe, Djajadiningrat, 'Dwidjosewojo, Soselisa, Soetan Toemenggoeng dan Abdoel Moeis. Namun yang menjadi tanda tanya bergitu banyak anggota pribumi di Volksraad hanya dua yang setuju dengan pengadopsian nama Indonesia. Pada tahun 1921 ini juga didirikan satu perusahaan asuransi pribumi dengan menggunakan nama Indonesia (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 14-10-1921). Siapa yang menjadi pengurus perusahaan asuransi Indonesia ini adalah Dr. Ratu Langi sebagai ketua, Darma Koesoema sebagai wakil ketua dengan komisaris Djajadiningrat, Abdoel Rivai, Soetan Toemenggoeng, Wreksodiningrat (baca: Notodiningrat), Mangoenkoesoemo dan Sastrodipoera yang berkedudukan di Bandoeng (lihat De locomotief, 14-10-1921). Oleh karena itu besar kemungkinan yang setuju dengan nama Indonesia di Volksraad, selain Labberton, Cramer dan Vreede adalah Hoesein Djajadiningrat dan Soetan Toemenggoeng. 

D van Hinloopen Labberton paling tidak sudah dua kali kalah dalam ikut berjuang bersama Indisch Partij untuk demi pemisahan Hindia Belanda (baca: Indonesia) sebagai negara terpisah dari Negara Kerajaan Belanda di Eropa. Pada tahun 1913 dalam Indisch Partij gagal karena partai itu kemudian dibekukan pemerintah. Lalu kini pada tahun 1921 gagal memperjuangkan nama Indonesia di Volksraad. 


Rotterdamsch nieuwsblad, 17-11-1923: ‘Profesor Belanda di Tokyo. Bapak D van Hinloopen Labberton telah diangkat sebagai Profesor Bahasa Belanda dan Melayu di Universitas Kekaisaran di Tokyo. Bapak D van Hinloopen Labberton adalah seorang ahli bahasa yang sangat terampil, terutama di bidang bahasa Oriental’. 

Nama Indonesia tidak diakui oleh Pemerintah Kerajaan Belanda (dalam Sidang Tweede Kamer) dan juga nama Indonesia tidak diakui oleh Pemerintah Hindia Belanda (Volksraad). Sementara itu, nama Jepang semakin popular di Hindia Belanda. Orang pribumi sangat antusias dengan semakin majunya Negara Jepang, orang pribumi mulai memalingkan pandangan ke timur di Matahari Terbit di Jepang. Bagaimana dengan orang Belanda sendiri di Hindia? Sebagian ada yang mencoba bersikap realistik termasuk Prof Dirk van Hinloopen Labberton yang belum lama ini mendapat tawaran dari Universitas Tokio untuk mengajar bahasa Belanda dan bahasa Melayu. 


Hubungan antara Belanda dan Jepang sejatinya sudah lama berlangsung. Awalnya bahasa asing di Jepang adalah bahasa Portugis (sejak 1552?). Pada tahun 1612 pelaut-pelaut Belanda mencapai Jepang. Akibat para misionaris Portugis menghasut penduduk untuk menentang otoritas kekaisaran Jepang, orang Portugis diusir dari Jepang pada tahun 1641. Lalu kerajaan Jepang hanya mengizinkan Belanda saja yang berdagang di Jepang. Sejak inilah bahasa Belanda mulai secara intens menggeser bahasa Portugis. Singkatnya, pada tahun 1852 Amerika Serikat menekan Jepang untuk membukan perdagangannya kepada semua orang asing. Dalam perkembangannya mulai muncul gerakan restorasi Jepang yang secara resmi diberlakukan pada tahun 1868. Dalam kebijakan baru ini pemerintahan Meiji menetapkan bahasa Inggris sebagai bahasa yang digunakan dalam semua perjanjian dengan orang asing. Dalam perkembangannya seiring dengan didirikannya Universitas Kekaisaran Jepang di Tokio, juga bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Inggris. Dalam konteks inilah kemudian bahasa Belanda mulai terpinggirkan di Jepang. 

Bagaimana D van Hinloopen Labberton diminta ke Jepang? Boleh jadi ini, seiring dengan semakin intensnya migrasi dan perdagangan Jepang ke laut selatan (baca: Hindia), pada tahun 1910 mulai muncul kursus-kursus bahasa Melayu di Jepang yang mana didatangkan guru/para penutur bahasa Melayu dari The Straits Settlement (Singapoera). Lantas bagaimana dengan munculnyta permintaan Universitas Tokio kepada Dirk van Hinloopen Labberton untuk mengajar bahasa Belanda dan bahasa Melayu? 


Haagsche courant, 19-11-1923: ‘Warga Belanda di Jepang. Kami menerima surat dari Tokio tertanggal 14 Oktober: Dari Kedutaan Besar Yang Mulia di Peking, Jhr WF Roëll, Sekretaris Kedutaan di sana, telah tiba di sini; beliau akan bekerja di Kedutaan selama beberapa bulan. Bapak Thorbecke, yang ditempatkan di sini dalam kapasitas tersebut, telah berangkat ke Belanda melalui Amerika. Juga tiba di sini dari Sydney adalah Bapak D van Hinloopen Labberton, yang terkenal di Hindia Belanda, yang telah ditempatkan di sini selama 18 bulan sebagai guru di sekolah bahasa asing. Selama waktu itu, beliau bermaksud untuk memperkaya studi perbandingannya mengenai bahasa Melayu, Jawa, dan Jepang. Seperti yang mungkin diketahui, ahli bahasa ini sebelumnya bekerja di Hindia Belanda sebagai guru bahasa Jawa. Penerjemah mahasiswa, Bapak Besier, yang terakhir bekerja di Wakil Konsulat di Yokohama dan saat ini di Konsulat di Kobe, menurut informasi yang kami terima, akan kembali ke Tokyo bulan depan’. 

D van Hinloopen Labberton, ketua Teosofi di Hindia sudah berangkat ke Jepang (lihat De avondpost, 19-11-1923). Surat kabar di Batavia Bataviaasch nieuwsblad, 28-11-1923: ‘Profesor di Tokyo. Java Nippo melaporkan bahwa Bapak D. van Hinloopen Labberton telah diangkat menjadi Profesor Bahasa Belanda dan Melayu di Universitas Kekaisaran di Tokyo’. Provinciale Geldersche en Nijmeegsche courant, 14-01-1924: ‘Mengenai pengangkatan v. Hinloopen Labberton sebagai profesor di Universitas Tokyo, "N. Soer. Ct." menulis bahwa pengangkatan ini mungkin merupakan hasil dari kualitas lain dalam diri cendekiawan tersebut selain hanya keilmuannya saja, yaitu pandangan politiknya yang ekstrem. Beberapa politisi paling fanatik dari India Inggris telah dipekerjakan di pendidikan tinggi di Jepang. "N. Soer. Ct." mengindikasikan bahwa sesuatu yang meragukan atau berbahaya akan segera terjadi di sini’.

 

Bataviaasch nieuwsblad, 19-11-1925: ‘Perpisahan Dr CD de Langen. Semalam, Dr C.D. de Langen, anggota komite beri-beri internasional untuk Timur Jauh, yang baru-baru ini menghadiri konferensi Asosiasi Kedokteran Tropis Timur Jauh di Tokyo dan akan berangkat ke Belanda Rabu mendatang untuk bertindak—di mana pun dikenal—sebagai direktur Institut Penyakit Tropis baru di Rotterdam, memberikan kuliah kepada anggota dan tamu Perkumpulan Debat Medis Stovia di auditorium gedung sekolah kedokteran mengenai perjalanan terbarunya ke Jepang. Pada abad ke-16 dan awal abad ke-17, para dokter pabriklah yang memperkenalkan ilmu kedokteran ke Jepang. Orang Jerman, Denmark, dan Swedia juga termasuk di antara para dokter pabrik tersebut. Situasi itu berlanjut hingga sekitar tahun 1856. Baru pada tahun itu dokter Belanda Pompe van Meerdervoort, khususnya di Nagasaki, dapat mencoba memperkenalkan ilmu dermatologi secara lebih intensif. Setelah pembukaan (restorasi) Jepang dipercepat oleh kedatangan Komodor Ferry dari Amerika, perkembangan pun semakin pesat. Sekolah-sekolah kedokteran muncul di Tokyo, Kyoto, dan Osaka, tempat para dokter Belanda dari Nagasaki dipanggil. Di antara mereka, selain van Meerdervoort, dapat disebutkan Eykman, Benkema, dan von Sieboldt (yang dinaturalisasi sebagai warga negara Jerman). Hingga sekitar tahun 1880, situasinya tetap seperti itu. Kemudian orang Belanda digantikan oleh orang Jerman, bukan karena mereka tertinggal dalam pengetahuan, tetapi karena telah ditemukan di Jepang bahwa banyak buku kedokteran Belanda telah diterjemahkan dari bahasa Jerman. Ketika orang Jepang telah mempelajari keahlian dari orang asing, orang Jerman pun harus memberi jalan. Memang masih ada beberapa orang Inggris, tetapi di Universitas Tokyo, misalnya, tidak ada lagi orang asing, kecuali sebagai profesor bahasa asing. Pembicara bertemu, antara lain, dengan Bapak Van Hinloopen Labberton dan Felix Dyck—yang terakhir, seperti diketahui, adalah seorang profesor musik dan saat ini juga konduktor orkestra besar, yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan’. 

Pada bulan Oktober 1926 terinformasikan berada di Belanda (lihat Algemeen Handelsblad, 09-10-1926). Disebutkan Prof. D. van Hinloopen Labberton, yang saat ini merupakan profesor di Universitas Oriental Society (To-yo-koy-kai) di Tokyo, menyampaikan presentasi tentang: Kondisi Pendidikan di Timur Jauh, khususnya Jawa dan Jepang, pada pertemuan Perkumpulan Hindia (Indisch Genootschap) yang diadakan tadi malam. Dalam pertemuan itu banyak yang bertanya-tanya tentang Jepang. Tampaknya Prof. D. van Hinloopen Labberton tidak kembali ke Jepang. Prof. D. van Hinloopen Labberton di Jepang sekitar 18 bulan. Setelah kembali ke Belanda, Prof. D. van Hinloopen Labberton melanjutkan studinya di perguruan tinggi. 


Pada bulan Januari 1927 terinformasikan di Leiden Prof. D. van Hinloopen Labberton lulus sarjana bahasa (taalkundig) Indologi (lihat Onze courant, 14-01-1927). Disebutkan seorang Profesor lulus ujian. Sebagai peristiwa penting, dapat diumumkan bahwa kemarin sore seorang profesor, yaitu Prof. D. van Hinloopen Labberton, profesor di Universitas Asosiasi Oriental di Tokyo, berhasil lulus ujian sarjana linguistik dalam bidang Indologi di Universitas Leiden. Prof. D. van Hinloopen Labberton lahir di Doesburg pada tahun 1874’. 

Ini ibarat mengikuti pepatah lama: belajar itu seumur hidup, mulai dari buaian hingga liang lahat. Tentu saja usia Prof D van Hinloopen Labberton tidak muda lagi. Usianya lulus sarjana sudah mencapai 53 tahun. Jalan hidup Prof D van Hinloopen Labberton dapat dikatakan sangat unik. Sudah bergelar guru besar, tetapi kuliah sarjananya baru dimulai. Sangat tidak lazim. Seperti disebut di atas, D. van Hinloopen Labberton lulus HBS (tiga besar) di Belanda tahun 1892 dan kemudian berangkat ke Hindia. Ketertarikannya pada sejarah, D van Hinloopen Labberton dengan cepat belajar bahasa Melayu dan bahasa Jawa yang kemudian mengantarkannya menjadi guru sekolah untuk bahasa Melayu dan bahasa Jawa. Ini mirip dengan apa yang dialami oleh Prof Charles Adrian van Ophuijsen. 


Orang pribumi sendiri sudah banyak yang sarjana dan bahkan yang sudah berhasil meraih geklar doktor sejak 1909. Pada tahun 1925 ini Samsi Widagda dipromosikan doktor (lihat De Maasbode, 18-11-1925). Disebutkan Samsi Widagda lahir di Soeracarta dengan desertasi berjudul De Ontwikleing voor der Handelspolitiek van Japan. Bagaimana Samsi Widagda memahami sementara tidak pernah ke Jepang? Satu yang pasti bahwa ketika Samsi Widagda masih mengajar bahasa Jawa di Univ Leiden, ada juga guru bahasa Jepang yang mengajar di Universitas Leiden (lihat De nieuwe courant, 23-10-1921). Seperti kita lihat nanti Parada Harahap pada tahun 1933 memimpin rombongan tujuh revolusioner ke Jepang termasuk diantaranya Samsi Widagda dan Mohamad Hatta. Catatan: Yang meraih gelar doktor pada tahun 1927: Achmad Mochtar di bidang Kedokteran di Amsterdam; Sim Ki Ay di bidang Kedokteran di Leiden; Soepomo di bidang Hukum di Leiden; dan Tan Sin Hok di bidang teknik di Delft. 

Apa yang menjadi topik skripsi dalam bidang bahasa Prof Drs D van Hinloopen Labberton tidak terinformasikan. Namun yang jelas Prof Drs D van Hinloopen Labberton selain menaruh perhatian pada Indonesia kemudian mempelajari Jepang. Prof Drs D van Hinloopen Labberton. 


De Maasbode, 23-09-1927: ‘Asal Usul Orang Jepang. Drs D. van Hinloopen Labberton, mantan profesor di Universitas Oriental Society di Tokyo, Jepang, akan memberikan paparan lebih lanjut pada hari Sabtu pagi pukul sebelas di Institut Kolonial di Amsterdam untuk kongres ketiga "Institut Internasional Antropologi", mengenai data tentang asal usul Austronesia dari orang Jepang, yang telah diungkapkan oleh penelitiannya tentang subjek ini’. 

Prof Drs D van Hinloopen Labberton tampaknya belum puas dengan pendidikannya. Prof Drs D van Hinloopen Labberton kembali studi tetapi di bidang lain yakni bidang sejarah. Pada tahun 1929 Prof Drs D van Hinloopen Labberton lulus sarjana sejarah (geschiedenis) Indologi (lihat De Maasbode, 04-06-1929). Disebutkan di Amsterdam lulus sarjana sejarah (geschiedenis) Indologi. Prof Drs Drs D van Hinloopen Labberton yang menganggap dirinya adalah orang Indonesia, segera kembali ke Hindia (lihat De Maasbode, 28-11-1929). Disebutkan kapal ms Sibajak tanggal 27 November berangkat dari Rotterdam dengan tujuan akhir Batavia, dimana diantara penumpang adalah GouwKwat Hongh, DJ van Hinloopen Labberton dan istri (baca: Dirk Jan van Hinloopen Labberton), dan RM Mr AK Pringgodigdo. 


Pada saat Prof Drs D van Hinloopen Labberton sudah berada di Batavia, Hindia, dua bukunya diterbitkan di Naarden, Onderwerp (lihat Het volk: dagblad voor de arbeiderspartij, 17-01-1930). Dua buku tersebut berjudul “De Godsdienst der oude Persen-Zoroaster” (Agama Bangsa Persia Kuno-Zoroaster) dan berjudul “Het Mohammedanisme" (Agama Islam). 

Pada bulan Mei 1930 Prof Drs D van Hinloopen Labberton terinformasuikan sudah berada kembali di Belanda (lihat De Gooi- en Eemlander: nieuws- en advertentieblad, 13-05-1930). Ada apa? Mengapa begitu singkat Prof Drs D van Hinloopen Labberton di Batavia? Di Belanda, Prof Drs D van Hinloopen Labberton terinformasiukan sebagai rektor Lyceum Teosofis (rector van het Theosophisch Lyceum) (lihat De Nederlander, 27-05-1930). Sesuatu yang mengejutkan, tidak lama kemudian Prof Drs D van Hinloopen Labberton berhasil meraih gelar doktor (gelar akademik tertinggi).

 

De Telegraaf, 24-03-1931: ‘Pendirikan Prof Doktor van Hinloopen Labberton. Amsterdam, 23 Maret: Kami telah mendengar bahwa Prof. D. van Hinloopen Labberton, mantan profesor Masyarakat Oriental di Tokyo, saat ini rektor Lyceum Teologi di Naarden, akan dianugerahi gelar doktor di bidang Sastra di universitas kota pada Kamis sore, tanggal 26 bulan ini’. 

Dalam hal ini Dirk Jan van Hinloopen Labberton tidak beralasan untuk mencapai pendidikan tinggi meski sudah berusia tua. Pada tahun 1931 Dirk Jan van Hinloopen Labberton sudah berusia 57 tahun (usia menjelang pension). Sementara itu di kota yang sama Amsterdam Ida Loemongga Haroen Nasoetion berhasil meraih gelar doktor dalam bidang kedokteran di Universiteit Amsterdam dengan disertasi berjudul DIAGNOSE EN PROGNOSE VAN AANGEBOREN HARTGEBREKEN. Nona Ida Loemongga Haroen Nasoetion lulus HBS di PHS Batavia tahun 1922, satu-satunya mahasiswa perempuan pribumi yang studi di Belanda. 


Zutphensche courant, 27-03-1931: ‘Di Universitas Amsterdam, Bapak D. van Hinloopen Labberton, lahir di Doesburg, telah dipromosikan menjadi Doktor Sastra dan Filsafat berdasarkan disertasinya: "De Angelsaksische Witena—Gemot en de Magna Carta Libertatum". Foto: Pada upacara penganugerahan gelar doctor Prof van Hinloopen Labberton. Di Universitas Kota Amsterdam, Prof. D. van Hinloopen Labberton (kedua dari kiri), mantan profesor Masyarakat Oriental di Tokyo, dianugerahi gelar Doktor Sastra dan Filsafat (lihat De Sumatra post, 15-04-1931). 

Prof Dr Dirk Jan van Hinloopen Labberton setelah memperoleh semua apa yang ingin dicapainya apakah akan kembali ke Indonesia? Seperti disebut di atas, Dirk Jan van Hinloopen Labberton tiba di Hindia pada tahun 1892 dan kemudian menjadi guru sekolah dalam bidang bahasa, menjadi pengurus Indisch Bond, menjadi pendukung Indisch Partij, ketua Teosofi, ketua Volksraad, lalu kemudian berangkat ke Jepang untuk menjadi guru besar bahasa Belanda dan bahasa Melayu yang kemudian kembali ke Belanda untuk melanjutkan studi (sarjana bahasa, sarjana sejarah dan doktor dalam bidang bahasa dan filsafat. 


De Nederlander, 22-11-1933: ‘Kursus Bahasa Jepang. Mengingat pentingnya pengetahuan bahasa Jepang bagi semua orang yang berurusan dengan, atau akan berurusan dengan, Timur, Prof. Dr. D. van Hinloopen Labberton, mantan profesor di Universitas Kolonial di Tokyo, telah setuju untuk memberikan kursus mingguan bahasa Jepang di Amsterdam’. Catatan: Saat ini Prof Dr Dirk Jan van Hinloopen masih menjadi rektor Lyceum Teosofis di Naarden (dekat Amsterdam). 

Pada tahun 1937 Prof. Dr. D. van Hinloopen Labberton terinformasikan berada di Amerika Serikat (lihat Arnhemsche courant, 21-07-1937). Disebutkan atas permintaan Prof. Dr. J. Hinloopen Labberton, yang telah tinggal di Amerika untuk tujuan studi selama beberapa waktu. Namun setelah di Amerika, nama Prof. Dr. D. van Hinloopen Labberton tidak pernah terinformasikan lagi. Mengapa? 


Pada bulan Mei 1840, wilayah (kerajaan) Belanda diduduki militer Jerman. Lalu kemudian menyusul Indonesia diduduki militer Jepang sejak Maret 1942. Tidak ada lagi rumah bagi Prof. Dr. D. van Hinloopen Labberton, yang kemudian tampaknya Amerika menjadi rumah barunya. Sudah barang tentu Prof. Dr. D. van Hinloopen Labberton termasuk salah satu yang diburu oleh militer Jepang. Mengapa? Pada tahun 1933 Prof. Dr. D. van Hinloopen Labberton termasuk salah satu yang menandatangani Manifesto Domestik tentang Pengusiran Orang Yahudi di Jerman (lihat Arnhemsche courant, 05-05-1933). Semua asset teosofi di Belanda telah disita dan dihancukan militer Jerman (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 25-07-1941). Catatan: Pemerintah Kerajaan Belanda baru dipulihkan pada bulan Mei 1945 (setelah takluknya Jerman oleh Sekutu). Tamat sudah nama Prof. Dr. D. van Hinloopen Labberton. Pada tahun 1961 Prof. Dr. D. van Hinloopen Labberton diberitakan meninggal dunia dalam usia 86 tahun di Ojai, California (lihat Algemeen Handelsblad, 12-09-1961). 

Nama Prof. Dr. D. van Hinloopen Labberton sudah lama menghilang. Informasi terakhir pada tahun 1937 sudah berada di Amerika Serikat. Namun ada satu sisa jejak Prof. Dr. D. van Hinloopen Labberton yang digantikan oleh orang Indonesia, yakni pengajaran bahasa Melayu di Jepang. Pada tahun 1932 WJS Poewadarminta akan ke Jepang (lihat Soerabaijasch handelsblad, 10-11-1932). Disebutkan ahli bahasa pribumi Indonesia di universitas Jepang. Telegram Aneta dari Solo mengabarkan bahwa ahli bahasa pribumi Poerwadarminta telah diangkat menjadi guru sastra Melayu dan Arab di sebuah universitas Jepang. Poerwadarminta akan berangkat tanggal 26 ini. Posisi WJS Poewadarminta kemudian digantikan oleh R Soejono pada tahun 1938 (lihat De locomotief, 26-06-1939). Pada saat Jepang menginvasi Hindia Belanda tahun 1942, R Soedjono adalah penerjemah di kementerian luar negeri Jepang di Tokio. Singkatnya, pada masa pendudukan militer Jepang di Indonesia, diakui Bahasa Indonesia secara resmi sebagaio bahasa Negara. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar