Sabtu, 07 Maret 2026

Sejarah Indonesia Jilid 4-3: Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb dalam Navigasi Pelayaran (Perdagangan) Eropa; Arab vs Iran


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Indonesia Jilid 1-10 di blog ini Klik Disini

Selat Bab el-Mandeb adalah selat sempit ((chokepoint) yang menjadi jalur perairan strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia. Selat ini memisahkan dua benua, yakni Asia (Semenanjung Arab) dan Afrika (Timur Laut Afrika). Pada masa ini terletak di antara negara Yaman di sisi Asia, serta Djibouti dan Eritrea di sisi Afrika memiliki lebar sekitar 32 km (20 mil). Pulau Perim membagi selat ini menjadi dua saluran: saluran barat seluas 26 km dan saluran timur (Bab Iskender) seluas 3 km. Dalam bahasa Arab, "Bab el-Mandeb" berarti "Gerbang Air Mata" atau "Gerbang Duka Cita".  Pengantar Metode Riset Bisnis


Selat Hormuz adalah jalur pelayaran paling strategis di dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Sejarah Selat Hormuz mencatat transisi kawasan ini dari pusat perdagangan kuno yang makmur menjadi titik api geopolitik paling strategis di dunia modern. Nama "Hormuz" diambil dari Kerajaan Hormuz kuno yang menguasai wilayah tersebut antara abad ke-10 hingga ke-17. Sejak abad ke-10, selat ini telah menjadi gerbang utama perdagangan dunia yang menghubungkan India dan Tiongkok dengan Timur Tengah serta Eropa. Lokasinya yang strategis membuat kekuatan Eropa, terutama Portugal, menduduki wilayah ini pada awal abad ke-16 untuk mengendalikan jalur rempah-rempah sebelum akhirnya direbut kembali oleh kekuatan lokal (Persia) dengan bantuan Inggris pada 1622. Sejak penemuan cadangan minyak besar di Timur Tengah pada abad ke-20, Selat Hormuz bertransformasi menjadi "urat nadi energi dunia". Kini merupakan jalur bagi sekitar seperlima (20%) pasokan minyak dunia dan lebih dari seperempat perdagangan minyak dan gas maritim global. Secara hukum internasional, Selat Hormuz dikategorikan sebagai perairan internasional yang terbuka bagi pelayaran global, namun secara geografis diapit oleh Iran dan Oman (AI Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb dalam navigasi pelayaran (perdagangan) Eropa? Seperti disebut di atas, dua selat ini sejak dahulu telah menjadi jalur masuk ke Laut Merah dan ke Teluk Persia dalam navigasi pelayaran perdagangan. Pada masa ini terdapat kekuatan Arab di Laut Merah dan kekuatan Iran di Teluk Persia. Lalu bagaimana sejarah Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb dalam navigasi pelayaran (perdagangan) Eropa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Sejarah Bahasa Indonesia

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja. Dalam hal ini saya bukanlah penulis sejarah, melainkan hanya sekadar untuk menyampaikan apa yang menjadi fakta (kejadian yang benar pernah terjadi) dan data tertulis yang telah tercatat dalam dokumen sejarah. 

Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb dalam Navigasi Pelayaran (Perdagangan) Eropa; Arab vs Iran

Pelaut-pelaut Eropa pertama mencapai Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb berasal dari Portugal. Bagaimana dengan pelaut Belanda? Pada bulan April 1595 ekspedisi pertama Belanda berangkat dari Amsterdam menuju Hindia Timur. Ekspedisi ini dipimpin oleh Cornelis de Houtman. Saat ekspedisi ini mencapai Hindia Timur di pantai barat Sumatra (pulau Enggano), buku berjudul “Beschrijvinge van de gantsche custe van Guinea, Manicongo, Angola, Monomotapa, ende tegenover de Cabo de S. Augustijn in Brasilien yang menyalin sebagian dari buku berbahasa Latin berjudul “Itinerario” karya Jan Huyghen Linschoten yang diterbitkan tahun 1596 di Amstredan. Di dalam buku inilah ditemukan nama Pulau Ormus, antara Persia dan Arabia, yang kemudian menjadi asal usul nama Selat Hormuz.


Beschrijvinge van de gantsche custe van Guinea, Manicongo, Angola, Monomotapa, ende tegenover de Cabo de S. Augustijn in Brasilien ...door Jan Huyghen Linschoten, 1596: ‘Benteng-benteng Portugis di Afrika, atau Barbar, adalah, yaitu: Tangier, Zepta, Arzilla, Eylandt van Madera, Flemish Eylanden, As Ilhas dos Açores, sebagaimana adanya: Tercera, Sint Michiel, Santa Maria, Sint Iorgie, Pico, Fayael, Gratiosa; d'Eylanden Flores dan Corvo; d'Eylanden van Cabo verde adalah, Sint Jacob, O Fogo Mayo, Boa vista, Sant Antonio, dan Sant Nicolaes; Arguyn sebuah benteng di negara Guinea; The Myne of Saint Iorgie, sebuah kastil yang berdekatan dengan Custe of Aethiopiae yang sama; juga tidak di bagian depan Custe the Eyland del Principe, Sant Thome, Atubon; Kerajaan Kongo dan Angola, dan Custe Ethiopia yang sama, berada di bawah upeti Portugal; Eylandt Santa Helena; di sisi lain Cabo de bona Esperança, benteng Soffala; Eylandeken dari Mozambik; Pulau Ormus, antara Persia dan Arabia; kota dan benteng Diu; kota-kota dan benteng Daman, Bacayn, Chaul, Goa, tempat tinggal para Viçeroy, semuanya terletak di pantai India; Kota dan Benteng Kehormatan, Barcelor, Mangalor, Cananor, Cranganor, Cochijn, Coulan, semuanya terletak bersama di Custe Indische yang sama, disebut Malabar; Sebuah benteng di 't Eylandt van Seylon, disebut Columbo; Kota Negapatan, dan Sant Thome, dan Custe of Choramandel; Kota dan Benteng Malaka; d'Eylanden van Maluco, yaitu Tarnate, Tydor, Banda, dan Amboyna; Tanah dan Pantai Brasilien, sepanjang 500 mil, dibagi menjadi delapan Kapten atau pemerintahan, dari mana setiap tahunnya dibawa ke Portugal lebih dari 150 V Duysent Arroben Suyckers, yaitu, setiap Arrobe terdiri dari 32 feri; Pelabuhan tersebut bernama todos os Santos, atau Alderheylighen, tempat Gubernur Brasilien melarangnya. Pendapatan tahunan biasa dari Mahkota Portugal berjumlah lebih dari satu juta emas dan 100 ribu ducat setiap tahunnya’. 

Lantas kapan nama Pulau Ormus dicatat menjadi nama selat (Selat Hormuz)? Nama Ormus sebagai nama selat (Straat Ormus) paling tidak sudah terinformasikan pada tahun 1826 (lihat Pieter Johannes Prinsen. “Geographische oefeningen, of Leerboek der aardrijkskunde”. Uitgever Johannes van der Hey en zoon, 1826). Pelaut Belanda sendiri sudah mencapai pulau Ormus pada saat ekspedisi dipimpin P van den Broek pada tahun 1616-1618. Saat itu Inggris ‘masih tidur’. Belanda sendiri sebelumnya sudah menguasai Afrika Selatan sebelum melakukan ekspansi ke Arabia, Hindoestan dan Suratte, Coromandel, Malabar. 


Aktivitas perdagangan Belanda (VOC) secara bertahap mulai dialihkan dari Maluku dan sekitarnya dan dipusatkan di Batavia sejak 1619. Sebelumnya (1616-1618) ekspedisi di bawah pimpinan P. van den Broek tiba di Arabia, Hindoestan dan Suratte. Kelak Pieter van den Broecke, eerste Directeur van Suratte, Persien en Arabien. Sejak itu berbagai tempat di jalur pelayaran menjadi wilayah-wilayah pengaruh kekuasaan VOC termasuk Coromandel, Malabar, China hingga Jepang. Wilayah-wilayah kekuasaan baru itu banyak diperoleh dari ‘pengusiran’ pelaut-pelaut Portugis. Foto: P van den Broek, “Dubes “VOC di Jazirah Arab (lukisan 1720) 

Pelaut-pelaut Belanda memulai kontak dengan Tanah Arab yang diawali dengan ekspedisi yang dipimpin P. van den Broek tersebut. Pada saat inilah pelaut-pelaut Belanda mengetahuai keberadaan pulau Ormus (pulau yang berada di antara Persia dan Arabia. Surat kabar yang terbit di T'Antwerpen, Nieuwe tijdingen, 15-11-1622 menyebutkan (pulau) Ormus di bawah (Raja/Kerajaan) Persia (Coninck van Persien) yang menjadi wilayah Gouverneur van Ormus yang berkedudukan di kota (Stadt) Ormus yang tengah berperang dengan Portugis. 


Pada saat Belanda di Arabia tersebut, Makkah dan Madinah sendiri berada di wilayah Yaman. Namun dalam perkembangannya, wilayah Arabia dan Yaman saling menggantikan: Arabia menjadi Yaman dan Yaman menjadi Arabia (lihat peta-peta Portugis). Dalam Peta 1680 (peta yang diterbitkan di Belanda berbahasa Latin), di wilayah Laut Merah yang sekarang sudah teridentifikasi nama Jeddah, suatu pelabuhan yang berada di suatu teluk di sisi timur. Nama lainnya yang masih popular hingga kini antara lain Suez. Nama-nama tempat di pedalaman seperti Mecca dan Medinah teridentifikasi dalam peta. Hal yang berbeda dengan pemahaman sekarang, jazirah Arab yang sekarang kala itu, bagian utara adalah wilayah Yaman dan bagian selatan adalah Arabia. Pada masa kini, bagian selatan dikenal sebagai wilayah Yaman dan bagian utara adalah wilayah Saudi Arabia. Satu yang jelas nama selat sudah diidentifikasi: Selat Bab-el Mandeb dicatat sebagai Babelmandel Fretum (Selat Bab-el Mandeb) dan Selat Ormuz dicatat sebagai Basora Fretum (Selat Basrah). Sedangkan Laut Merah dicatat sebagai Mare de Mocca et Boharcorsus olim Arabicus (Laut Mcca dan Boharcorsus, dulunya Arab). Peta: Wilayah Laut Merah (1680)

Portugis kembali merebut kota Ormus dari Persia dan mengepung kastilnya sebagaimana dilaporkan surat kabar yang diterbitkan di Amsterdam, Tijdinghe uyt verscheyde quartieren, 28-12-1624. Tampaknya yang menjadi kekuatan Eropa di kawasan dari Laut Merah hingga Goa adalah Portugis. 


Oprechte Haerlemsche courant, 25-04-1669: ‘Berita berikut ini telah diterbitkan di Lisbon, Lisbon, 10 Maret. Baru-baru ini tiba sebuah kapal Prancis yang menyampaikan keluhan khusus tentang perjanjian buruk yang diterimanya dari para perampok Aljazair, yang telah berada di pantainya dan membawa sekitar 250 budak negro, senilai 50.000 mahkota, yang akan diampuni oleh Portugis. Kami telah menerima informasi dari Goa, bahwa pada bulan April tahun sebelumnya, Wakil Raja Goa, yang terpisah dari Goa, mengirimkan armada 14 kapal, masing-masing dengan 22 hingga 24 meriam, bersama dengan 14 kapal bersenjata yang lebih kecil, untuk mengembalikan reputasi Portugis, yang sedang menyerang Pangeran Miscate (kini kota Muskat, Oman) sebagai balas dendam, karena telah mengusir Portugis selama beberapa tahun. Namun sebaliknya, Windt telah mencegahnya dua kali: meskipun demikian, sebagian dari Armada ini, yang dikomandoi oleh saudara laki-laki Don Francisco di Melo, telah memasuki pelabuhannya, dan telah membakar 80 kapal dari berbagai jenis bendera, dan kemudian mengusainya dan menerima tunggakan setengah dari bea cukai Corigo. Ia juga mengambil alih 4 kapal besar, yang dimuat dengan kuda Arab, sutra, dan sejumlah besar mutiara, dengan 3 perahu layar, yang barang-barangnya dibagi di antara para prajurit: sisa Armada ini mundur dan menangkap satu kapal berharga lainnya, yang datang dari Monsellayatan dan dua kapal lainnya dari Banda, dekat Bonvain, yang mana Pangeran kembali dijadikan upeti Portugal’. 

Kerajaan Persia berpusat di kota Ispahan (lihat Oprechte Haerlemsche courant, 05-01-1683): ”Ispahan, ibu kota Persia, 22 April 1682. Melalui surat-surat dari Bender Abassi, melalui Ormus. Melalui surat-surat dari Bender Abassi ini, juga telah dipahami bahwa Marquis de Tavora, Raja Muda Hindia, telah tiba dari Lisbon ke Goa dengan 5 gallion; bahwa ia telah mengumpulkan pasukan sebanyak 6.000 orang dan armada sebanyak 25 kapal dan 50 galliot, dibagi menjadi tiga skuadron; bahwa ia tidak lagi ingin mengeluarkan paspor kepada orang Turki yang berdagang di Hindia Timur; dan bahwa ia telah menyita semua surat berharga para perwira, bangsawan, dan tentara Portugis yang telah mencoba bernegosiasi melawan perintahnya, dengan mengatakan bahwa mereka hanya boleh berusaha mencari kekayaan melalui persenjataan demi kejayaan negara mereka. 


Dikatakan bahwa tiga kapal dengan bendera Brandenburg, masing-masing membawa 300 orang dan dilengkapi dengan 50 meriam, serta sebuah kapal perbekalan, telah tiba di Samudra Hindia. Seorang duta besar dari Raja Siam telah tiba di Bender Abassi (kini Bandar Abbas, Iran). Beberapa duta besar masih berada di sana, yang telah dideportasi oleh Raja kita atas biayanya sendiri selama masa tinggal mereka; di antara mereka ada beberapa orang yang (tanpa ada urusan lain dengan istana ini) datang ke sini semata-mata untuk menampilkan perdagangan mereka dengan prestise yang lebih besar. Seorang Pangeran Siry (yang mengaku sebagai duta besar Polandia) telah tiba di sini dengan rombongan 60 orang dari berbagai negara. Raja kita, setelah mendengar kabar bahwa Abdel Aziz, Kan dari Usbeques, telah diusir dari Kerajaan Bocara oleh saudaranya, dan telah mundur ke perbatasan Persia, memperkirakan hadiah berupa kain sutra senilai 5.000 Toman, atau 225.000 Guilder, di samping jumlah uang yang sama, yang dikirim kepadanya, dan dinyatakan bahwa Yang Mulia setiap hari memerintahkan dan memberikan 100 Toman, atau 4.500 Guilder, untuk pengusirannya: di sini juga, persiapan besar-besaran dilakukan untuk menerimanya”. 

Pada Peta 1690, Pulau Ormus adalah pulau kecil de selat yang letaknya lebih dekat ke wilayah Iran yang sekarang. Kota pelabuhan terdekat dari pulau di wilayah Iran diidentifikasi kota Gamron (kini namanya Bandar Abbas). Di kota Gamron diidentifikasi bendera wakrana merah putuh hijau (yang kini menjadi bendera Iran berdampingan dengan bendera putih dengan garis di tengah hirizontak dan vertical (diduga bendera Inggris). Sementara semenanjung di wilayah Arab (kini masuk wilayah UEA/Oman yang menjorok ke selat diidentifikasi sebagai Cabo Mon Zandan (kini Sarjah). 


Di dalam buku Itinerario” karya Jan Huyghen Linschoten (1596) sudah disebut banteng di Pulau Ormus. Karya Jan Huyghen Linschoten terbitan 1614 berjudul ‘Itinerarivm, ofte schipvaert naer Oost ofte Portugaels Indien’ diterbitkan di Amsterdam pada masa ini dapat dikase. Sementara area benteng Ormus ini masih diidentifikasi pada Peta 1690. Letak Benteng Ormus ini tepat berada di ujung utara pulau yang menghadap ke wilayah daratan Persia. Situs banteng Ormus (Portuguese Castle) masih teridentifikasi pada Googlemap masa ini. 

Satu yang menarik di Selat Ormus, secara geomorfologis pulau-pulau yang terletak di selat sempit (ujuang Semenanjung wilayah Arab dengan Pulau Ormus, tampaknya berbeda apa yang digambarkan pada Peta 1690 dengan situasi dan kondisi pada masa ini. Mengapa? Apakah telah terjadi proses sedimentasi di kawasan ujung semenanjung di selat sempit ini? Seperti disebut di atas, di ujung pulau Ormus menhdapat ke daratan wilayah Iran terdapat banteng Portugis. 


Pada Peta 1690 kedalaman laut di selat yang lebih dalam berada di sisi wilayah semenanjung. Sementara yang terdangkal berada di celah antara Pulau Ormus dengan daratan wilayah Persia. Hal itulah diduga yang menyebabkan perairan di sekitar Pulau Ormus lebih tenang dan Portugis memungkinkan untuk membangun banteng di pulau. Pulau-pulau kecil yang diidentifikasi pada Peta 1690 antara satu pulau dengan pulau lainnya kedalaman laut terbilang dalam (50-75 Mdpl).  Lalu mengapa pada masa ini seperti pada Googlemap pulau-pulau kecil yang dulunya terpisah satu sama lain kini menjadi menjadi menyatu (tidak dapat dilewati lagi). Besar dugaan pulau-pulau kecil pada Peta 1690 adalah pulau-ulau karang yang menjadi kawasan berbahasa dalam navigasi pelayaran. Jadi dalam hal ini bukan proses sedimentasi yang terjadi di ujung semenanjung tetapi proses karangisasi (bukit-bukit karang?). Namun pengiudentifikasian pulau-pulau kecil pada Peta 1690 tidak tepat (hanya digambarkan secara acak karena kurangnya informasi (jarak dilewati navigasi pelayaran karena kawasan yang berbahaya (arur laut yang kuat dan tebing-tebing karang berbahaya). 

Tunggu deskripsi lengkapnya 

Arab vs Iran: Sejak Jan Huygen van Linschoten (1563-1611) dan Pieter van den Broecke (1585-1640)

Pangeran Shiraz dengan bantuan Inggris,  mengusir Portugis dari benteng mereka di Pulau Hormuz pada tahun 1622. Gamron kemudian disebut Bender Abassi (kini Bandar Abbas, Iran) kemudian mengambil alih pulau sebagai pasar komoditas utama di Teluk. Pemerintah VOC saat itu berdebat beberapa kali apakah akan menduduki Ormus untuk melindungi pelayaran mereka di Teluk, tetapi akhirnya memutuskan untuk tidak melakukannya. Sementara itu, Perusahaan terus berdagang secara teratur dengan dan di Ormus. Lantas dimana letak pos VOC/Belanda di kawasan selat/teluk? 


Seperti disebut di atas perwakilan Belanda di kawasan Jazirah Arab (termasuk Laut Merah dan Selat Ormus) pada tahun 1616-1618 adalah P van den Broek. Setelah itu (sejak 1622) Inggris semakin digdaya di kawasan Selat Ormus. Bagaimana dengan VOC/Belanda sendiri? Tampaknya VOC/Belanda membiarkan saja Inggris semakin kuat di kawasan. Sebagaimana diketahui VOC/Belanda yang berpusat di Batavia (sejak 1619), awalnya berkedudukan di Amboina, setelah mengusir Portugis dari banteng di Amboina pada tahun 1605. Lalu kemudian pelaut-pelaut Belanda pada tahun 1612 mengusir Portugis di pulau Solor dan di Koepang (pulau Timor). Foto: Lukisan kota (pelabuhan) Gamron (1665) 

Bagaimana dengan Selat Bab-el Mandeb yang menjadi pintu masuk teluk/Laut Merah? Seperti disebut di atas, di Jazirah Arab(ia) terdapat dua selat, di bagian timur Selat Ormus dan di bagian barat Selat Bab-el Mandeb. Di selat Ormus ada beberapa pulau selain Pulau Ormus yakni Pulau Gnismich (paling besar) dan Pulau Le Reck. Di Selat Bab-el Mandeb ada nama Pulau Mayyun di dekat daratan Arabia. 


Pada Peta 1623 nama selat diidentifikasi sebagai Babelmandeb. Arti nama ini dalam bahasa Arab adalah Bab=gerbang dan Mandab=ratapan/air mata yang secara keseluruhan Bab-el Mandeb diartikan sebagai gerbang/pitu masuk untuk memasuki teluk/Laut Merah, dari Samudra Hindia (Teluk Aden). Selat ini memisahkan Yaman di Semenanjung Arab (Asia) dari Djibouti dan Eritrea (Afrika). Kota terdekat dari selat sempit Bab-el Mandeb ini adalah Aden (di suatu teluk). Babelmandeb ini tampaknya adalah nama suatu pulau di celah sempit tersebut (yang kemudian dijadikan nama selat). Peta: Jazirah Arabia (1623) 

Wilayah navigasi pelayaran perdagangan di wilayah Jazirah Arab adalah satu hal, wilayah navigasi pelayaran perdagangan di wilayah Hindia Timur yang berpusat di Batavia (VOC/Belanda) adalah hal lain lagi. Namun bagaimana relasi antara dua wilayah berjauhan ini? Satu yang jelas sudah sejak zaman kuno sudah ada jalur perdagangan antara wilayah Jazirah Arab (selat Beb-el Mandeb dan selat Ormus) dengan Nusantara (baca: Hindia Timur). Pada masa orang Eropa (dimulai Portugis) salah satu kota penting di Selat Ormus adalah Gemmeron (kini Bandar Abbas, kota yang diduga berasal dari era kejayaan Abbasiah), sedang di Selat Bab-el Mandeb adalah kota Aden dan kota Mocha (kota yang terkenal dengan pusat perdagangan kopi). 


Navigasi pelayaran perdagangan Eropa pertama ke Hindia Timur adalah perlaut-pelaut Portugis. Tentu saja itu terjadi setelah orang Portugis melakukan perdagangan sejak lama di Jazirah Arab (dan pantai barat India seperti di Goa). Pelaut-pelaut Portugis pada awalnya belajar dari pelaut-pelaut (orang) Moor (beragama Islam) yang sudah sejak lama terusir dari Eropa selatan (Andalusia) di Spanyol pada masa Perang Salib. Sisa peradaban orang Moor itu terdapat di sejumlah kota seperti Cordoba, Malaga, Sevilla, Granada dan Toledo. Orang Moor dalam hal ini nama umum keturunan orang Arab yang menikah dengan orang-orang non Arab di berbagai tempat (termasuk di Hindia Timur). Nama-nama Eropa tersebut sebelumnya bernama Arab: Cordoba (Qurtubah), ibukota kekhalifahan Umayyah pada abad ke-10; Granada (Garnatah) benteng terakhir kekuasaan Islam di Spanyol yang terkenal dengan istana Alhambra; Sevilla (Isbiliya), kota pelabuhan penting terkenal dengan menara Giralda (bekas minaret); Toledo (Tulaytulah), pusat pengetahuan, perpustakaan, dan transmisi ilmu pengetahuan Arab ke Eropa; Malaga & Almeria, kota pesisir yang memiliki benteng pertahanan (Alcazaba) kuat dari masa Moor; Madrid (Al-Majreet) kota yang berkembang sebagai benteng pertahanan penting pada abad ke-9. Foto: Lukisan kota Mocha di Laut Merah (1634) 

Di Hindia Timur (baca: wilayah Indonesia) keutamaan orang Portugis yang sudah satu abad kemudian (mulai) digantikan oleh keutamaan orang Belanda (yang berpusat di Batavia). Pada permualaan abad orang Belanda di Hindia Timur (abad ke-17), komunitas penduduk keturunan  sudah sangat banyak dan meluas di seluruh Hindia Timur: keturunan Cina umumnya di pantai utara Jawa; keturunan Portugis umumnya di pantai barat Malaya (Malaka) dan pulau-pulau di Nusa Tenggara seperti Flores, Solor dan Timor; keturunan Arab yang dikenal sebagai orang Moor ditemukan di banyak tempat seperti Maluku, Sumbawa/Bima, pantai utara Jawa (termasuk di Banten). Orang Moor yang dimaksud dalam hal termasuk keturunan Arab yang berasal dari India (seperti Pakistan). 


Orang-orang Moor ini di Hindia Timur umumnya pedagang yang menggunakan kapal sendiri yang sebelumnya menjadi feeder untuk perdagangabn orang Portugis. Oleh karena itu pada saat kehadiran Belanda di Hindia Timur yang banyak pedagang kaya yang merupakan keturuan Cina dan keturunan Arab (Moor). Seperti ditunjukkan dalam foto, upacara pernikahan Islam di Batavia yang lukisannya berasal dari East Indian Voyage karya Wouter Schouten (1676) dengan judul "seorang Moor yang kaya" (yaitu seorang Muslim keturunan Arab atau India). Dalam foto lukisan tersebut terlihat momen mempelai wanita yang digendong oleh ayahnya di punggungnya, dihadirkan kepada mempelai pria yang berdiri di belakang kain, diapit oleh dua pengiring pria. Foto: Lukisan Upacara pernikahan Islam orang Moor (keturunan Arab) di Batavia (1676) 

Lalu bagaimana dengan nama tempat suci agama Islam di Jazirah Arab di Mekkah dan Medinah? Dalam peta-peta Portugis/Latin kedua tempat kota suci tersebut sejatinya sudah teridentifikasi. Meski letaknya jauh di pedalaman tetapi karena kota suci yang sudah lama dikenal juga menjadi perhatian para kartografer. Namun demikian, nama Jeddah sudah teridentifikasi, lebih awal karena boleh jadi karena berada di pantai, suatu pelabuhan kecil. Pada saat era Portugis pelabuhan besar di seputar teluk/Laut Merah adalah Mocha dan Suez (plus Aden di pintu masuk Selat Bab-el Mandeb). 


Seperti disebut di atas, saat Belanda memulai perdagangan di Hindia Timur, awalnya di Banten, kemudian di Amboina, lalu kembali ke Banten sebelum di Batavia pada tahun 1619. Tentu saja dari Atjeh hingga Amboina orang-orang Belanda banyak menemukan para haji (yang kemungkinan umumnya adalah orang-porang Moor). Dalam hal ini, orang-orang Belanda paham kedudukan para haji, apalagi para haji ini banyak yang memiliki usaha perdagangan yang besar. Dalam konteks inilah tentang terminology haji sampai ke kalangan pembaca surat kabar di Belanda. Dalam konteks ini pula nama tempat Mekka (dan Medina) di Jazirah Arab sebagai kota suci agama Islam dipahami letaknya dimana. Perlu dicatat disini bahwa buku-buku tentang Islam (Al-Qur’an dan tentang Nabi Muhammad)  sudah diterbitkan di Belanda, seperti buku berjudul: “Mahomets Alkoran: door du Ryer uit d'Arabische inde Fransche, en door JH Glazemaker inde Nederlantsche taal vertaalt” yang diterbitkan oleh Ian Rieuwertsz di T’Amsterdam, 1658. [Al-Quran Muhammad diterjemahkan oleh du Ryer dari bahasa Arab ke bahasa Prancis, dan oleh JH Glazemaker ke dalam bahasa Belanda]. Bagian pertama buku ini Al-Qur’an dan bagian kedua deskripsi tentang Muhammad. 

Selain di peta, nama Mekka, paling tidak sudah terinformasikan pada tahun  1688 (lihat Amsterdamse courant, 09-03-1688). Disebutkan berbagai bangsa dan negara di Hindia Timur, serta Indoestan, dari Mughal: juga masih tersedia bagian pertama, yang membahas egara-negara di bawah kendali Raja Agung, seperti Kepulauan, Kontinental, Tanah Suci (Heylig lant), Mesir, Woestynen van Arab Saudi, Mekka dan tempat-tempat lain di Afrika dan Afrika, dan bagian kedua membahas Suriah, Meshopotamia, Efrat dan Tigris, serta Persia. 


Nama Mekka dan Medina juga teridentifikasi dalam peta yang dibuiat di Belanda yang diterbitkan tahun 1747. Peta ini merupakan peta buatan Belanda. Dalam peta tersebut Mekka berada di belakang pantai dari kota Jeddah. Medinah berada di seblah utara kota Medina. Dua kota di pedalaman (Mekka dan Medina) tampaknya hanya dua kota yang diidentifikasi di wilayah pedalaman wilayah Arabia. Dalam peta ini sudah diidentifikasi nama selat: Selat (Sraat van) Bab-al Mondub ou de Mekka. Satu yang menarik nama Laut Merah diidentifikasi sebagai Roode Zee (Laut Merah) yang juga mengidentifikasi dengan nama (bahasa) Prancis: Mer Rouge ou Golfe d’Arabie (Laut Merah atau Teluk Arab). Sementara di Pulau Ormus diidentifikasi sebagai nama (Straat van) Ormuz. Dalam peta ini nama Gom(me)ron sudah diidentifikasi dengan nama Bandar Abbasi. BREAKING NEWS: “Kapal meledak di Selat Hormuz, tiga ABK WNI belum diketahui nasibnya”: 6 Maret 2026. Diperbarui 7 Maret 2026. Sebanyak tiga warga Indonesia belum diketahui nasibnya setelah kapal tunda (tug boat) yang mereka awaki mengalami ledakan di Selat Hormuz, pada Jumat (06/03). Kejadian bermula ketika satu perahu tunda bernama Musaffah 2 yang berbendera Uni Emirat Arab (UEA) berlayar di Selat Hormuz antara perairan UEA dan Oman, pada Jumat (06/03) pukul 02.00 dini hari waktu setempat. Menurut keterangan saksi mata, Musaffah 2 mengalami ledakan yang menyebabkan kapal terbakar dan tenggelam. Kapal itu berawak tujuh orang. Empat ABK (anak buah kapal) berasal dari Indonesia, tiga lainnya dari India dan Filipina. Akibat ledakan tersebut, tiga ABK asal Indonesia belum diketahui nasibnya. Adapun satu ABK WNI mengalami luka-luka.

Lalu mengapa peta Belanda Peta 1747 menyebut Selat Bab-el Mandeb juga sebagai Selat Mekka? Mengapa bukan Mocca? Boleh jadi, pengetahuan orang Belanda sudah mengangap bahwa melalui selat tersebut merupakan satu-satunya jalur ke Mekka (saat kaum Muslimin terutama dari Hindia Timur) saat melakukan ibadah Haji.  


Saat kedatangan Belanda 1595, kapal-kapal Arab, Persia dan Tiongkok lalu lalang di perairan Nusantara. Kota suci Makkah dan Madinah sendiri di masa lampau silih berganti penguasa. Semuanya ingin menjaga dan memelihara dengan baik. Sejak 1517 dua kota suci ini di bawah Kesultanan Utsmaniyah, Turki yang beribukota Istambul (Negara Saudi Arabia yang kita kenal sekarang belum terbentuk). Foto: Lukisan tertua Masjidil Haram dan Ka'bah (1750)

Berita-berita perjalanan haji umumnya datang dari Turki dan Mesir. Selain dua kawasan ini penduduknya dominan agama Islam, juga karena letaknya yang cukup dekat dengan kota suci Makkah dan Madinah. Pada saat itu, tentu saja kapilah dari Mesir masih melalui darat (belum ada terusan Suez). Saat itu memang, Makkah dan Madinah berada di bawah Kesultanan Utsmaniyah (Turki) yang beribukota di Istambul. Jamaah-jamah asal Turki antara lain dilaporkan oleh Oprechte Haerlemsche courant, 02-11-1683.

 

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar