*Untuk melihat semua artikel Sejarah Sepak Bola Indonesia di blog ini Klik Disini
Pada masa ini ada dua nama yang dihubungkan dengan Kota Semarang: Maximilian van der Sluys Veer dan Jay Idzes. Max dan istrinya, Elly Kristanti, adalah pemilik terakhir rumah kuno bersejarah sebelum dihibahkan ke Yayasan Mardi Waluyo pada 2013. Rumah tersebut dibangun sekitar tahun 1890 awalnya dimiliki oleh arsitek Belanda ternama, Abraham Fletterman. Pada tahun 1952. Max menjabat sebagai Bendahara II di perkumpulan bernama Samarangse Van. Mereka adalah kerabat dekat Corrie Fletterman, yang merawat rumah itu setelah tahun 1965. Bangunan itu kini menjadi cagar budaya di Jalan Kyai Saleh No 15 Semarang..Sejarah Sepak Bola di Indonesia
Jay Idzes, bek tangguh Timnas Indonesia kelahiran Belanda (2 Juni 2000), memiliki darah Indonesia dari kakek dan neneknya. Kakeknya lahir di Semarang pada 1939 dan pernah merasakan masa penjajahan, sedangkan neneknya dari Jakarta. Ia memilih dinaturalisasi (Desember 2023) karena hubungan erat dengan keluarga, yang mendukung kariernya sebagai pemain profesional. Kakek Jay Idzes sempat hidup di panti asuhan selama 10 tahun, dan mengalami masa sulit penjajahan Jepang. Hingga saat ini, nama lengkap kakek Jay Idzes tidak dipublikasikan secara spesifik ke publik oleh sang pemain. Meskipun identitas namanya dirahasiakan, Jay Idzes telah membagikan beberapa informasi penting mengenai latar belakang kakeknya yang menjadi dasar garis keturunannya: Kakek Jay Idzes (ayah dari ibunya) lahir di Semarang pada tanggal 16 November 1939 akhirnya pindah ke Belanda pada usia sekitar 20 hingga 25 tahun. Jay mengungkapkan bahwa ibunya (single parent) membesarkan dirinya dan saudara perempuannya sendirian selama bertahun-tahun. Jay lahir dan besar di Mierlo, Belanda. Nenek Jay Idzes berasal dari Jakarta dan kakeknya dari Sumatera (AI Wikipedia).
Lantas bagaimana sejarah Jay Idzes dan marga van der Sluys di Semarang? Seperti disebut di atas, kakek Jay Idzes lahir di Semarang pada tahun 1939, tetapi tidak terinformasikan namanya. Sementara itu di Semarang pada masa terdapat rumah cagar budaya yang konon dimiliki keluarga van der Sluys. Untuk sekadar diketahui, Semarang adalah kota kelahiran HJ van Mook. Lalu bagaimana sejarah Jay Idzes dan marga van der Sluys di Semarang? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. Buku-buku yang Sudah Diterbitkan
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.
Jay Idzes dan Marga van der
Sluys di Semarang; Lika Liku dalam Melacak Asal Usul Para Leluhur
Jika ditanya AI, kakek Jay Idzes disebut (ayah dari ibunya) lahir di Semarang pada tanggal 16 November 1939. Sementara Jay Idzes sendiri lahir di Mierlo, Belanda pada tanggal 2 Juni 2000. Itu berarti ada jarak waktu 61 tahun antara kelahiran sang kakek dengan Jay Idzes, Lantas siapa saja yang lahir di Semarang pada tahun 1939?
Ada ratusan kelahiran dari pasangan Eropa/Belanda di Semarang dalam tahun 1939. Lalu apakah ada yang lahir pada tanggal 16 November? Dari-sumber-sumber surat kabar yang ada di Indonesia (baca: Hindia Belanda) yang lahir tanggal 16 November 1939 adalah sebagai berikut: LJ Wijnvoord-JM van Puffelen (z=zoon) di Batavia (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 18-11-1939); G Bos-ES van Beek, anak perempuan (d=dochter) di Batavia; JPU Jung-O Ch E Dreesens (d) di Batavia (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 20-11-1939); Sardeman-Roda (z) di Padang (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 17-11-1939); Tjoa Sie Liem-Wilkens (z) di Malang (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 20-11-1939); Ziegeller-Winters (d) di Soebang (lihat Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 20-11-1939). Tabel (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 06-12-1939).
Dari sumber-sumber surat kabar di Indonesia yang lahir tanggal 16 November 1939 tidak ada di Semarang. Bagaimana dengan semua surat kabar yang berbahasa Belanda? Namun yang lahir di Semarang di seputar tanggal 16 November 1939 (tidak disebutkan tanggal berapa) adalah sebagai berikut: De Telegraaf, 17-11-1939: van Hensbergen-Knebel (z). De Gooi- en Eemlander: nieuws- en advertentieblad, 21-11-1939: HAL Muller-Bouwman (z).
Dari semua sumber yang dapat dilacak, tidak ada informasi yang lahir di Semarang pada tanggal 16 November 1939. Informasi yang ada lahir di Batavia, di Padang, di Malang dan di Soebang. Tentu saja belum dapat disimpulkan, karena bisa saja ada sumber yang belum terlacak (sumber yang hilang). Namun demikian, seandainyapun semua sumber mengindikasikan tidak ada yang lahir di Semarang pada tanggal 16 November 1939, bisa jadi bahwa sumber yang berasal dari AI yang menyebut kakek Jay Idzes lahir di Semarang pada tanggal 16 November 1939 berarti sumber AI tidak akurat (memang banyak yang ditemukan sumber AI tidak akurat).
Lika Liku dalam Melacak Asal Usul Para Leluhur: Para Pemain Sepak Bola Diaspora yang Dinaturalisasi di Indonesia
Seperti dikutip dari jawaban AI di atas, disebutkan kakek Jay Idzes pernah berada di panti asuhan selama 10 tahun (sejak masa pendudukan Jepang 1942). Apa yang menyebabkan demikian? Permasalahan serupa ini biasanya kedua orang tuanya telah tiada (sementara jika ada saudara-saudaranya, tetapi belum ada yang mandiri). Jika kakek Jay Idzes lahir tahun 1939, itu berarti usianya baru tiga tahun pada permulaan pendudukan militer Jepang. Selama pendudukan Jepang, semua orang Eropa/Belanda yang aktif dikurung dan para wanita dan anak dikumpulkan di kamp interniran.
Pendudukan militer Jepang berakhir pada tahun 1945. Setelah bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, pasukan Sekutu/Inggris memasuki wilayah Republik Indonesia dengan tujuan untuk melucuti dan mengevakuasi militer Jepang yang dengan sendirinya juga dilakukan pembebasan para interniran Eropa/Belanda. Pasukan Sekutu/Inggris mendarat di Semarang pada tanggal 20 Oktober 1945.
Selama pendudukan militer, terutama yang berada di kamp tahanan orang Eropa/Belanda banyak yang berakhir dengan kematian. Di kamp interniran Semarang paling tidak terdapat dua orang Belanda berusia muda yang dieksekusi (lihat Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 06-11-1945). Disebutkan oleh Kempetai melakukan eksekusi di Semarang: CA van der Sluys, 22 tahun, tanggal 24 Oktober 1943 dan J van der Sluys, 19 tahun pada tanggal 24 Oktober 19'43.
CA van der Sluys dan J van der Sluys diduga bersaudara (beda tiga tahun), Biasanya yang dieksekusi adalah tahanan yang melakukan perlawanan, atau sebelum di tahan semasa Pemerintahan Hindia Belanda dianggap telah melakukan perlawanan kepada kehadiran Jepang. Bisa juga orang Eropa/Belanda yang melakukan gerakan bawah tanah sejak kehadiran militer Jepang dan kemudian ditangkap lalu dimasukkan ke tahanan. Dalam hal ini pengadilan militer Jepang memutuskan kedua van der Sluys tersebut harus dihukum eksekusi (mati).
Lalu bagaimana dengan jawaban AI yang menyatakan bahwa kakek dari Jay Idzes lahir tanggal 16 November 1939? Tampaknya tidak akurat. Jadi, kapan kakek dari Jay Idzes lahir? Tidak terinformasikan. Tidak ada bukti yang dapat dilacak. Seperti disebut di atas, AI juga menyebut kakek Jay Idzes lahir di Sumatra. Sumatra mana? AI tidak dapat diandalkan untuk menunjukkan kebenaran absolut.
Faktor apa yang menjadi sulit melacak nama dan tanggal kelahiran kakek Jay Idzes di Semarang tentu saja banyak. Dari sisi tanggal jelas kurang. Namun jika tersedia informasi awal seperti nama, terutama nama belakang (marga) kakek Jay Idzes akan lebih dimungkinkan secara cepat. Faktor yang juga meningkatkan kecepatan pencarian jika nama dan nama marga nenek Jay Idzes tersedia.
Informasi awal tentang kakek Jay Idzes tanggal dan tempat kelahiran (di Sumatra) tidak cukup untuk melacaknya. Bagaimana dengan sumber awal tentang pengalaman dari kakek Jay Idzes yang semasa kecil tinggal di panti asuhan? Satu yang jelas banyak faktor yang menyebabkan seorang anak (harus) dititipkan atau tinggal di panti asuhan yang secara umum terbagi dua kategori: ketiadaan orang tua (meninggal) dan kesibukan orang tua (bekerja keras) yang tidak memiliki waktu untuk menjaganya. Untuk kategori kedua ini biasanya pada usia pra sekolah.
Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 16-02-1940: ‘Sekolah Prasekolah di Bodjong. Dunia Kecil Penuh Sukacita, tetapi Juga Tragedi. Karya-karya indah sedang dilakukan di Sekolah Prasekolah di Bodjong. Sebuah dunia kecil penuh sukacita, mata yang berbinar, tangan-tangan terulur penuh percaya diri mencari uluran tangan yang besar, pelukan-pelukan kecil yang malu-malu, mencari perlindungan di sudut tempat bermain, sukacita setelah banyak penderitaan! Setiap anak adalah drama tersendiri, hingga Sekolah Prasekolah secara bertahap mengubah drama ini menjadi komedi. Kami harus datang dan melihat bayi kembar yang baru lahir, jadi panggilan telepon dari Ibu Go de Froy mendorong kami. Dan kami pergi untuk melihat bayi kembar yang baru lahir dan, sambil lewat, juga melihat pasangan yang paling baru, karena setelah panggilan telepon itu, pasangan baru lainnya telah tiba, yang pertama dari empat anak laki-laki yang saat ini dimiliki Sekolah Prasekolah. Sekolah Prasekolah memiliki tiga pasang, enam anak perempuan, di mana pasangan tertua telah lama dipindahkan ke panti asuhan lain karena mereka berusia enam tahun. Tetapi Senin lalu, pasangan baru tiba. Sebuah panggilan telepon dari Pekalongan: sebuah keluarga yang membutuhkan. Suami dan istri itu harus bekerja keras untuk mencari nafkah, dan anak-anak mereka hampir tidak bisa diawasi. Seorang pengasuh menggendong bayi kembar yang baru berusia satu bulan setiap hari di dalam gendongan, satu anak di setiap sisi. Mereka diberi minum sesekali, tetapi kondisi mereka terlihat semakin memburuk. Orang tua mereka sendiri menyadari bahwa mereka tidak dapat lagi mengatasinya. Kemudian Taman Kanak-kanak, yang sudah memiliki reputasi baik jauh di luar Semarang, ditutup. Pertama, mereka dengan hati-hati menanyakan tentang kompensasi. Orang tua mereka tidak mampu memberikan banyak, tetapi mereka senang membayar semampu mereka. Ternyata jumlahnya sangat sedikit, tetapi anak-anak tetap diterima dengan baik. Begitulah asal mereka, dari dunia gendongan yang penuh penderitaan. Mereka dirawat, ditempatkan di buaian yang indah, semuanya cerah dan bersih. Suster Margot, perawat setia di panti asuhan itu, bangga dengan anggota baru tersebut, meskipun ia dan Ibu Godefroy mengalami kesulitan selama beberapa malam pertama dengan pasangan baru ini. Tidak hanya di malam hari, tetapi juga di siang hari, kedua gadis itu menangis. Mereka tidak bisa berbaring; mereka terbiasa digendong dalam gendongan hampir sepanjang hari, dan mungkin bahkan sepanjang malam; perasaan "berbaring" benar-benar baru, aneh, dan asing. Mereka dengan keras memprotes ketidaksenangan mereka. Sekarang, setelah tiga hari, keadaan sudah lebih baik; mereka tertidur dengan cepat, dan pasangan yang tenang itu dengan bangga diperlihatkan kepada kami. Orang tua si kembar ini meminta kepala sekolah untuk memberi nama anak-anak mereka, jadi sekarang mereka dipanggil Treesje dan Rruusje. Baru berumur satu hari. Selain kegembiraan ini, ada tragedi baru. Seorang ayah pribumi membawa anaknya yang baru berumur dua hari. Pasangan keempat untuk Taman Kanak-kanak. Dua anak laki-laki yang baik lahir pada hari Selasa, yang merenggut nyawa ibu mereka. Bantuan dokter sia-sia; sang ibu meninggal tak lama setelah melahirkan. Dan sang ayah, yang menguburkan istrinya pada hari yang sama, datang ke Taman Kanak-kanak keesokan harinya dengan kedua anaknya. Dia bertanya apakah mereka bisa datang ke sini, kedua anaknya. Dengan pasrah, dia menyaksikan mereka dibawa pergi oleh Ibu Godefroy dan Suster Margot. Buaian sudah siap; setelah dicuci, tangisan anak-anak terdengar dari tempat tidur yang bersih. Sang ayah diizinkan datang dan melihat, betapa canggungnya ia berdiri bersama anak-anaknya, yang masih belum tahu apa-apa tentang kehilangan besar mereka. Sebuah rumah yang aman. Banyak buku bisa ditulis tentang Taman Kanak-kanak ini; kita akan menyebutkan beberapa kasus lagi. Kita sudah pernah menulis tentang bocah Tionghoa kecil itu sebelumnya; ayah dan ibu hampir tidak punya waktu untuk anak-anak mereka, yang lahir lemah, banyak di antaranya telah meninggal. Bocah Tionghoa ini adalah yang pertama dalam keluarga yang selamat, berkat perawatan dari Taman Kanak-kanak. Ayah dan ibu sering datang mengunjungi putra mereka yang berusia satu tahun. Sekarang seorang gadis telah lahir dalam keluarga ini, seorang gadis yang akan segera dibawa kembali oleh ayah dan ibu untuk sementara waktu, tanpa rasa takut, tanpa khawatir, dengan sukacita. Dan bocah itu duduk di tempat tidurnya, sudah mencoba menarik dirinya sendiri di jeruji, menghadapi kehidupan sebagai anak laki-laki yang sehat. Boneka-boneka Mienitje. Mienitje sekarang berada di Jogja. Dia tinggal di kampung sampai dia berusia empat tahun. Ibunya seorang penduduk asli Amerika, ayahnya orang Eropa, Mientje tidak dikenali. Sebuah cerita yang sudah biasa. Dia tinggal di kampung sampai usia empat tahun, kemudian datang ke Taman Kanak-kanak untuk sementara waktu, dan sekarang berada di Jogja bersama orang tua penduduk asli, orang-orang kaya, yang menulis surat-surat penuh rasa syukur. Mientje sekarang memiliki dua boneka, semuanya untuk dirinya sendiri. Sebagai pengingat rasa syukur akan Taman Kanak-kanak, dia menamai boneka-boneka itu Vera dan Sonja, nama dua gadis dari panti asuhan. Kasih sayang kekanak-kanakan. Senam. Kembali di rumah bermain yang luas, seluruh kelompok sibuk; sebagian besar dari 56 anak menerima senam dari sekelompok asisten. Di dalam kotak-kotak di sekitarnya terdapat bayi-bayi. Seorang gadis kecil Tionghoa menjulurkan kepalanya. Dan cerita pun dimulai. Sang ayah terbunuh di Tiongkok, dalam perang melawan Jepang. Sang ibu bekerja di sini, tetapi sekarang dirawat di rumah sakit jiwa. Bayi merangkak dengan gembira dan mencoba mengucapkan "halo." Hidup terus berjalan. Kita bisa terus bercerita, menceritakan lebih banyak kisah. Tetapi sekarang kami akan membiarkan pembaca kami menyampaikan pendapat mereka. Mohon dukung pekerjaan luar biasa yang dilakukan oleh Kleuterhuis, terutama secara finansial, agar mainan dan pakaian untuk anak-anak selalu dapat digunakan’.
Panti
asuhan di Indonesia (baca: Hindia Belanda) sudah lama keberadaannya. Awalnya
lembaga panti asuhan di tempat tertentu di bawah naungan lembaga gereja atau
zending, namun dalam perkembangannya juga ada yang dilakukan oleh individu atau
keluarga sebagai volunteer. Di Semarang pada tahun 1875 terinformasikan ada dua
panti asuhan/panti jompo yang dikelola oleh lembaga Protestan dan lembaga
Katolik Roma.
Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 20-10-1875: ‘Wees en Armhuis di Semnanq. Lembaga ini dimaksudkan untuk menampung anak-anak usia dini. Lembaga ini melayani perawatan, pendidikan moral, dan pengajaran, terutama dalam pekerjaan praktis, bagi anak-anak miskin, terlantar, atau yatim piatu dari warga Eropa atau mereka yang dianggap setara dengan mereka. Untuk setiap anak, pembayaran pertama ke lembaga ini harus sebesar 30 gulden. Untuk perawatan dan pendidikan 460 anak di lembaga ini dan panti asuhan Katolik Roma di Semarang, pemerintah memberikan subsidi sebesar 8 gulden per bulan untuk setiap anak. Panti Asuhan Katolik Roma di Semarang. Lembaga ini dikelola oleh sebuah dewan sukarelawan, yang anggotanya ditunjuk oleh Gubernur Jenderal. Seorang wali internal dan seorang wali internal membantu dewan tersebut dan menerima imbalan dari kas negara. Lihat juga: Subsidi pemerintah untuk perawatan dan pendidikan anak-anak diberikan kepada panti asuhan Katolik Roma di Semarang’.
Jika kakek Jay Idzes lahir tanggal 16 November 1939, itu berarti usianya masih dua tahun pada akhir tahun 1941. Pada akhir tahun 1941 orang-orang Belanda di Indonesia semakin panic karena eskalasi perang Asia semakin dekat ke wilayah Indonesia. Pada tanggal 21 Desember 1941 pesawat tempur Jepang sudah menjatuhkan bom di Tarempa (Natuna). Singkatnya, pada tanggal 8 Maret 1942 Pemerintah Hindia Belanda di Indonesia menyatakan takluk kepada pimpinan militer pendudukan Jepang di Indonesia.
Bataviaasch nieuwsblad, 05-05-1941: ‘Pemuda Kurang Mampu. Atas inisiatif Bapak JF. Je's, direktur Lembaga Pendidikan Soekiboemische Opvoeds Gestichten (Lembaga Pendidikan Soekiboemische), dan Bapak JP van der Ploeg, direktur Panti Asuhan Protestan di Semarang, sebuah pertemuan diadakan di gedung Koloni Liburan Anak di Salatiga, yang mempertemukan para direktur dan distrik lembaga pendidikan dan panti asuhan, serta perwakilan dari Pro-Juventute. Terwakili 15 lembaga, baik besar maupun kecil, yang masing-masing didedikasikan untuk pendidikan anak-anak kurang mampu, terlantar, atau ditinggalkan di Jawa dan tempat lain, tergantung pada sifat siswa mereka. Batavia, Bandung, Soekiboemische; Semarang, Buitenzorg, Temanggoeng, Malang, Surabaya, Oengaran, dan Salatiga diwakili oleh para direkturnya. Dari para pejabat Pro Juventute, hadir perwakilan dari Bandung, Surabaya, Solo, dan Semarang. Moe van Emmerik, direktur Koloni Palang Putih, juga menunjukkan minatnya. Markas besar Tentara Neraka telah mengirimkan tiga perwakilan, termasuk Mayor Palstra. Hadir pula direktur dan kepala panti asuhan putra dan putri Thay Tong Bong Yan di Surabaya, direktur asosiasi Jawa Perkoempoelan Pemeliharaan Anak Jatim di Surabaya, dan direktur Institut Vincentlus di Buitenzorg. Pada pembukaan, Bapak Jens menyatakan penyesalannya bahwa Bapak van der Steur tidak dapat meluangkan waktu untuk menghadiri pertemuan penting ini. Bapak Van der Ploeg memberikan presentasi tentang "Apa yang menjadi perhatian kita dalam pendidikan," sementara Bapak Jens berbicara tentang "Hukuman dan Penindasan." Tujuan para penggagas tercapai melalui konferensi skala kecil ini. Di masa depan, para pekerja muda yang disebutkan di atas tidak akan lagi bekerja secara independen, tetapi bersama-sama. Benih telah ditanam, dan terserah kepada para promotor untuk membangun sebuah asosiasi pekerja di kalangan pemuda yang kurang beruntung. Setelah itu...
Pada masa inilah diduga banyak orang tua Eropa/Belanda yang memiliki bayi dan anak kecil diduga menitipkan anak ke panti-panti asuhan. Lalu bagaimana situasi dan kondisi orang Eropa/Belanda pada masa pendudukan militer Jepang? Mereka semua diinternir ke kamp-kamp penampunga dan bagi perempuan dipisahkan di kamp interniran tersendiri. Sudah barang tentu, ibu-ibu yang memiliki bayi tidak layak untuk merawatnya di kamp interniran. Dalam konteks inilah peran lembaga-lambaga panti asuhan menjadi penting bagi bayi-bayi dan balita (bawah lima tahun). Sementara orang Eropa/Belanda yang bertugas (tentara dan pegawai pemerintah) bergerak secara random di mana ditugaskan di berbagai tempat di Indonesia dan bagi orang Eropa yang berada di suatu wilayah oleh militer Jepang disatukan ke dalam sejumlah kamp interniran di wilayah tersebut.
Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 08-11-1945: ‘Kapal KPM "Van Heutsz" saat ini mempertahankan layanan reguler antara Batavia dan Semarang untuk mengevakuasi 12.000 tahanan dari Jawa Tengah. Evakuasi tahanan dari Jawa Tengah melalui pesawat juga terus berlanjut. Diperkirakan evakuasi akan selesai dalam dua minggu’. Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 08-01-1946: ‘Data Pribadi. W Mouthaan, perwira militer, sld., polisi militer, Barak Juliana, Palembang, meminta informasi tentang Melis (MLD Surabaya); Eddy dan Doffy (Panti Asuhan Katolik Roma Nieuw Tjandi, Semarang); Henky dan Max Mouthaan (Sosrowidjajan 107, Djokja). Westhoff, Javaweg 55, meminta informasi atas nama suaminya, yang dalam keadaan sehat di Bangkok, tentang Ibu Nani Clara Leendertz-de Jongh, alamat terakhir yang diketahui: Societeitstr. 73, Djember. AHA Maphar, sersan, Kamp 5, T. 48, Balikpapan, meminta informasi tentang istrinya, penduduk terakhir Kaliwoengoe, Djombang. PG Sutherland, apartemen Eucourt 16, lantai 3. Floor Stamford Road Hill Street, Singapura, meminta informasi tentang istri dan tiga putrinya: Alamat terakhir yang diketahui: Speelmanstraat 20, Soerabaia. Tidak ada kabar sejak akhir Oktober. HEE Smith, 1st sld, Landraadkampement Palembang, meminta informasi tentang istrinya, terakhir bekerja di Palang Merah Salatiga, dan empat anak. Juga tentang orang tuanya: SC Smith, terakhir tinggal di Oengaran. J Th van Esch Tjidengkamp (Tjidengwest 76), Batavia, meminta informasi tentang Ny HSU van Esch—Catoire dan tiga anak, Jan, Gerrie, dan Herdie. Alamat terakhir yang diketahui: Perusahaan Djamintoro, Djatiroto. AC Nettekoven, Defensielijn van de Bosch 28, A Batavia, meminta informasi tentang Ny. Ina Nettekoven-Dibbets dan dua putra, Eddeke dan Robby. Alamat terakhir yang diketahui: Tjemara hoeve, Solo. Ny J Lapré, Tjemaralaan 29, Batavia, meminta informasi tentang W Ch Lapré, yang meninggalkan Tjihapitkamp menuju Banjoebiroe, pangkat terakhir: kapten infanteri. Keluarga BWLA van Hettven, Oranjeboulevard 11, Batavia, meminta informasi tentang putra mereka BJ van Heuven, prajurit milisi, nomor registrasi 48421. Alamat terakhir yang diketahui: lapangan terbang militer Samarinda II, grup pesawat ke-1, divisi ke-1, detasemen Du Rij. W. F. Schimmel, RvD Koningsplein Barat 9, Bat.-C, meminta informasi tentang Ny E Leefers dan 2 anak; diduga meninggalkan kamp di Jawa Tengah menuju Bandung pada 24 Agustus 1945; tentang keluarga K Scheeffer, yang tinggal di Roemer Visscherweg, Bandung pada tahun 1940; dan selanjutnya tentang Ibu "Titi" Thomas, alamat terakhir yang diketahui: Laan Wieehert, Batavia. Ia juga meminta Bapak L Leefers untuk menghubunginya. WM Couwenberg, Sersan Militer Kelas 2, Batalyon ke-52, Kompi ke-2, Seksi 4, Area 2, Balikpapan, meminta informasi tentang ibunya, janda, JW Couwenberg - vd Putte, Sengkaling, Malang, dan Nona IMK Wiegleb, Oro-Oro Dowo 74, Malang. PL v Loon, 57 Julianakamp Branksome Road, Singapura, meminta informasi tentang istri dan putrinya. Keduanya dibawa pergi dari Sirikajaweg 42, Surabaya, pada tanggal 16 November; tidak ada kabar dari mereka sejak saat itu. AM Hermanus, Sersan Infanteri Balikpapan meminta informasi tentang istri dan dua anaknya. Alamat terakhir yang diketahui: Dj Tembaan 21, Jember. JHK v Gorcum, smi le comp. le reg. veldart. Balikpapan meminta informasi tentang istri dan dua anaknya. Alamat terakhir yang diketahui: Kemoeningweg 9, Surabaya. G Story, Hofwijckstraat 35, Amsterdam, meminta informasi tentang Bapak dan Ibu Story-Laubcher. AAG Cooper, Lt. II rm. VSD, Rumah Sakit Negara Johore, Bangsal 2 tempat tidur 14, Johore Bahru, Singapura, meminta informasi tentang istri dan putranya. Alamat terakhir yang diketahui: Bangert, Selabatoeweg 33, Soekaboemi. Matrikulasi Militer AN Smit, Orangelaan 24, Palembang, meminta informasi tentang istrinya. Alamat terakhir: Koninginnelaan 9 Soerabaja atau sf Modjoagoeng, Modjokerto’.
Pendudukan militer Jepang di Indonesia tidak lama. Pada tanggal 14 Agustus 1945 Kaisar Jepang menyatakan takluk kepada Sekutu yang dipimpin Amerika Serikat. Dalam situasi inilah bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Lalu Sekutu diwakili militer Inggris untuk melucuti senjata dan mengevakuasi militer Jepang dari Indonesia termasuk membebaskan para interniran Eropa/Belanda di kamp-kamp interniran. Sebelum akhir tahun 1945 semua para interniran Eropa/Belanda telah dibebaskan. Pada saat inilah setiap orang Eropa/Belanda mencari informasi tentang keluarga mereka (orang tua, suami/istri dan anak) yang berada di kota berbeda dan juga termasuk di panti-panti asuhan.
Seperti dikutip di atas, kakek Jay Idzes sempat hidup di panti asuhan selama 10 tahun, dan mengalami masa sulit selama penjajahan Jepang. Kakek Jay Idzes (ayah dari ibunya) lahir di Semarang pada tanggal 16 November 1939 akhirnya pindah ke Belanda pada usia sekitar 20 tahun.
Lantas mengapa kakek cukup lama berada di panti asuhan (sekitar 10 tahun)? Dalam hal ini pada akhir tahun 1945 (saat semua interniran Eropa/Belanda telah dibebaskan) usia kakek Jay Idzes sekitar enam tahun. Lalu mengapa setelah perang tidak ada yang menjemputnya di panti asuhan, dan bahkan harus tetap berada di panti asuhan hingga usia 10 tahun? Apakah kedua orang tuanya telah tiada? Apakah ayahnya meninggal dalam perang melawan Jepang dan ibunya meninggal selama di dalam kamp interniran? Satu hal yang terpenting yang tetap menjadi pertanyaan adalah siapa nama Kakek dan Nenek dari Jay Idzes?
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






Tidak ada komentar:
Posting Komentar