Jumat, 28 April 2017

Sejarah Kota Padang (22): Eny Karim, Tokoh Berasal dari Tapanuli? Lika Liku Menelusuri Sejarah Masa Lampau

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disin


Eny Karim adalah tokoh penting di Sumatera Barat maupun di Sumatera Utara. Namun, sejauh ini sangat sulit mendapatkan data dan informasi tentang Eny Karim. Informasi tentang Eny Karim yang ada di Wikipedia terbilang minim jika dibandingkan dengan kiprahnya. Adakah data dan informasi tentang Eny Karim terjadi missing link? Peran penting Eny Karim adalah pimpinan delegasi pemerintah (pusat) ke Kota Padang dalam upaya normalisasi di Sumatera Tengah (daerah) pada peristiwa PRRI (1957).

Eny Karim (wikipedia_
Menelusuri data dan informasi tentang Eny Karim sangat melelahkan. Petunjuk bahwa Eny Karim berasal dari Tapanuli sudah saya temukan beberapa tahun yang lalu ketika menulis serial artikel Kota Medan. Petunjuk ini juga muncul ketika menulis serial artikel Kota Bandung. Lantas apakah dalam serial artikel Kota Padang ini dapat menambah keterangan siapa dan bagaimana Eny Karim? Eny, juga ditulis Eni dan Enie.

Di dalam Wikipedia, dengan melihat sepintas namanya, Eny Karim disebut seorang putri padahal Eny Karim adalah putra. Ini menunjukkan bahwa mengidentifikasi siapa Eny Karim memang tidak mudah. Suatu teka-teki. Untuk kelengkapan sejarah nasional, tantangan untuk menjawab teka-teki tersebut masih menggoda meski penelusurannya terbilang cukup berlika-liku.

Senin, 24 April 2017

Sejarah Kota Padang (21): Abdoel Hakim, Satu-Satunya Orang Pribumi yang Menjadi Wakil Wali Kota di Era Belanda (1931-1942)

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disin


Jabatan wali kota (Burgemeester) sesungguhnya baru diadakan pada tahun1916 di Kota Batavia dan Kota Soerabaja. Kemudian menyusul di Kota Medan (1918) dan Kota Bandung (1920). Di Kota Padang sendiri jabatan wali kota kali pertama diadakan tahun 1928. Tidak semua kota di Hindia Belanda memiliki walikota. Fungsi pemerintahan di kota-kota lainnya dilaksanakan oleh Asisten Residen. Namun tidak semua wali kota didampingi oleh wakil wali kota (Loco Burgemeester).

Dr. Abdoel Hakim (1949)
Kota Padang diubah statusnya menjadi kota (gemeente) pada tanggal 1 April 1906 (Kota Medan pada tahun 1909). Suatu kota dibentuk menjadi gemeente karena hal khusus: kepadatan penduduk yang tinggi dan keragaman suku bangsa, dan yang lebih penting kota dinominasikan untuk mampu membiayai sendiri (dalam arti ekstensifikasi dan intensifikasi pajak). Untuk perencanaan dan pengawasan dibentuk dewan kota (gemeenteraad) yang melibatkan orang-orang non Eropa/Belanda untuk fungsi legislatif. Pimpinan dewan berada di tangan Asistem Residen. Setelah adanya wali kota (Burgemeester) fungsi eksekutif dan legislatif berada di tangan wali kota.

Dalam sejarah Hindia Belanda (baca: Indonesia), hanya ada dua kota (gemeente) yang pernah memiliki wakil wali kota (loco burgemeester) yang berasal dari orang pribumi. Dua wakil wali kota tersebut adalah M. Husni Thamrin di Kota Batavia dan Abdoel Hakim di Kota Padang. Menariknya, jabatan wakil wali kota Kota Padang ini dipegang Abdoel Hakim selama 11 tahun (1931-1942). Suatu waktu yang terbilang sangat lama bagi seorang wakil wali kota, apalagi pribumi.

Sabtu, 22 April 2017

Sejarah Kota Padang (20): Sejarah Sepakbola Kota Padang, Ini Faktanya; Bermula di Plein van Rome

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disin


Sepakbola bermula dari orang-orang Eropa. Itu yang ditemukan di berbagai kota seperti di Medan (1891), Batavia (1894), Soerabaja (1889), Semarang dan Bandoeng (1903). Ini berarti sepakbola kali pertama ditemukan di Medan. Meski demikian adanya, namun kompetisi sepakbola kali pertama dilaksanakan di Batavia (1904). Lapangan yang digunakan untuk sepakbola di Medan adalah Esplanade (aloon-aloon), di Batavia adalah Koningsplein (kini lapangan Monas) dan di Bandoeng adalah Pieters Park (kini taman Balai Kota). Sementara di Kota Padang adalah Plein van Rome (kini Lapangan Imam Bonjol).

Plein van Rome, Alang Lawas Padang (1930)
Salah satu klub yang berkompetisi di Batavia (Bataviasch Voetbal Bond) adalah Docter Djawa Voetbalclub. Klub ini pemainnya adalah mahasiswa Docter Djawa School/STOVIA. Secara teknis klub ini adalah klub orang-orang pribumi. Di Medan sudah ada klub orang-orang pribumi, seperti Sultan dan Tapanoeli Voetbalclub. Pada tahun 1907 Docter Djawa VC melakukan pertandingan persahabatan dengan Tapanoeli VC di Medan. Salah satu pemainnya adalah Radjamin Nasoetion. (kelak diketahui Radjamin Nasution adalah pendiri perserikatan Medan dan perserikatan Soerabaja).

Sepakbola di Padang

Sepakbola sendiri di Kota Padang tentu saja sudah dikenal. Siapa yang memperkenalkan sepakbola sudah barang tentu orang-orang Eropa sebagaimana di kota-kota lain. Pada tahun 1908 di Padang dilaporkan terdapat sebanyak 17 klub sepakbola (Soerabaijasch handelsblad, 04-01-1908). Jumlah ini bukan sedikit. Klub-klub tersebut terdiri dari klub orang-orang Eropa/Belanda (sipil dan militer) dan klub-klub orang Melayu, Kling, Arab dan Tionghoa. Klub-klub itu menggunakan lapangan Plein van Rome (Gereja Katolik Roma) yang memiliki empat lapangan sepakbola yang berdampingan yang kualitasnya terbilang baik. Lapangan sepakbola ini berada di Alang Lawas.

Kamis, 20 April 2017

Sejarah Kota Padang (19): Abdoel Moeis Jaga Jarak Sarikat Islam, Kritik Boedi Oetomo; Sumatranen Bond Didirikan

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disin


Abdoel Moeis (1916)
Abdoel Moeis lahir di Sungai Puar, Agam, 3 Juli 1883. Setelah tamat ELS, Abdoel Moeis melanjutkan pendidikan ke Batavia di STOVIA. Oleh karena tidak berhasil menyelesaikan pendidikannya, Abdoel Moeis memulai karir sebagai pegawai pemerintah di Bandoengsche Afdeelingsbank di Bandoeng. Kemudian pada tahun 1911 dipindahkan menjadi Mantri Loemboeng di Afdeeling Bandoeng (De Preanger-bode, 11-03-1911). Pada tahun 1913, Abdoel Moeis diketahui bekerja di surat kabar De Preanger-bode yang terbit di Bandoeng sebagai corrector (De Preanger-bode, 01-01-1913).

Sarikat Islam

Ketika Sarikat Islam membuka cabang di Bandoeng, Abdoel Moeis  ikut berpartisipasi yang duduk sebagai sekretaris (lihat De Preanger-bode, 10-02-1913). Abdoel Moeis juga menjadi editor mingguan Serikat Islam, yang menyuarakan misi Sarikat Islam. Dalam edisi No. 2 terdapat tulisan dari Dr. Tjipto dan Soewardi (De Preanger-bode, 16-03-1913). Dalam perkembangannya tiga orang komite SI ditangkap: Tjipto Mangoenkoesoemo (di kantor redaksi majalah Expres), Suardi Surjaningrat dan Abdul Moeis (di kantor administrasi Preanger Bode). Mereka ditangkap polisi karena alasan provokatif. Selain juga Wigna di Sastra, hoofdredacteur van de Kaoem Moeda juga ditangkap (Bataviaasch nieuwsblad, 31-07-1913).

Rabu, 19 April 2017

Sejarah Kota Padang (18): Ida Loemongga, Perempuan Indonesia Pertama Bergelar Ph.D (1931); Like Mother, Like Daughter

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disin


Pada tanggal 22 Maret 1905 di Padang, pasangan Haroen Al Rasjid dan Alimatoe’ Saadiah sangat berbahagia. Putri pertama mereka lahir. Putri mereka yang cantik itu diberi nama Ida Loemongga. Keluarga muda ini kemudian pindah ke Sibolga, karena Haroen Al Rasjid yang dokter lulusan Docter Djawa School tahun 1902 ini dipindahkan dari Padang ke Sibolga. Setelah beberapa tahun di Tapanoeli dan masa dinas berakhir, Haroen Al Rasjid meminta pension dan akan membuka dokter praktek di Telok Betong, Lampong. Pada tahun 1918, Ida Loemongga diterima sebagai siswa di Prins Hendrik-school di Batavia.

Ida Loemongga, saat sidang terbuka di Amsterdam, 1932
Prins Hendrik-school sekolah paling elit di Batavia menerima pendaftaran murid baru (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 14-05-1918). Untuk afdeeling-B HBS (SMA jurusan IPA), dari ratusan siswa yang diterima dari berbagai kota, antara lain: sebagai berikut: Padang: A. de Bruin, S. Le Febvre, JW. Meijer, S. Quittner, J. Ch. van Reenen, EH. Westerbeek (m.), F. van Alphen, HA. de .Tongh Swemor, Lie Lee Sian Nio (m.), SG, Evers (m.), FC. Alexander (m.), J. Kroegmans (m.), Corie Oeij (in.), A. Davies (m.), AW. Ch. Bouwmeester (m.), EV, Koodering Clemens (m.), AHF. Geertsema Beckering (m.) en C. Kromhout (m.); Medan: E. Bonebakker (m.), AM. Scrvaas (m.), JC. Hoppe (m.), HL. Fliers (m.), FH. Doornik (m.), E. Baume (m.), EPJ. Duson, A. Everaars, EH. Vorster, V. Th. Holl, TA. Swamhuysen, M. Th. van Rijck, en WF. Fliers. Te1ok Betong: M. G.. van Hunink (m.), en Haroen al Rasjad Ida Loemongga (ms.).
  
Pada tahun 1922 Ida Loemongga lulus afdeeling-B (IPA) di Prins Hendrik School, lantas diterima ujian masuk di STOVIA. Namun karena Ida Loemongga tergolong cerdas, maka Ida Loemongga termasuk yang direkomendasikan langsung untuk melanjutkan pendidikan ke Negeri Belanda. Keluarga Ida Loemongga tidak keberatan dan sangat mendukung. Ida Loemongga yang diterima di Universiteit Utrecht didukung semua keluarga besar. Ida Loemongga lantas berangkat sendiri pada tahun 1923.

Selasa, 18 April 2017

Sejarah Kota Padang (17): Soetan Mohamad Salim Fort de Kock, Soetan Goenoeng Toea Padang Sidempoean; Like Father, Like Son

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disin


Kota Padang, ibukota Province Sumatra’s Westkust, yang teridiri dari tiga residentie: Padangsche Benelanden, Padangsche Bovenlanden dan Tapanoeli. Ibukota Residentie Padangsche Bovenlanden adalah Fort de Kock. Pada tahun 1875, Kota Padang Sidempuan sebagai ibukota Residentie Tapanoeli. Province Sumatra’s Westkust dibentuk tahun 1834 dan Residentie Tapanoeli baru dibentuk pada tahun 1845. Meski terbilang masih muda, Province Sumatra’s Westkust sudah memunculkan tokoh-tokoh pribumi yang berpengaruh (paling tidak di wilayah Pantai Barat Sumatra).

Soetan M. Salim: Djaksa di Padang, Pad. Pandjang, Kota Pinang
Ada dua tokoh pribumi yang perlu namanya dikemukakan kembali, yakni: Soetan Mohamad Salim di Fort de Kock dan Soetan Goenoeng Toea di Padang Sidempoean. Mereka berdua tidak memiliki pendidikan formal Eropa/Belanda, tetapi berhasil belajar secara otodidak yang lalu kemampuannya diapresiasi pemerintah dengan mengangkat menjadi pegawai pemerintah. Mereka berdua memiliki karir yang mirip dan keduanya sama-sama memiliki anak-anak hebat yang menjadi tokoh-tokoh terkenal di Indonesia. Uniknya lagi: keduanya sama-sama meninggal di Kota Medan.

Soetan Mohamad Salim van Fort de Kock

Soetan Mohamad Salim ‘was een selfmade man, want hij had noch de Europeesche, noch een Inlandsche school bezocht, doch zich door zelfstudie ontwikkeld, zoodat hij reeds op jeugdigen leeftijd aangesteld werd tot djaksa’ (lihat De Indische courant,     13-11-1934). Soetan Mohamad Salim memulai karir sebagai djaksa di Solok. Setelah beberapa tahun di Solok, Soetan Mohamad Salim dipindahkan ke Kota Padang Pandjang. Karirnya terus meningkat dan kemudian pangkatnya dinaikkan menjadi hoofd-djaksa di Kota Pinang, Residentie Sumatra’s Ooskust.