Selasa, 01 Desember 2020

Sejarah Riau (20): Pulau Panyengat; Raja Ali Haji dan Elisa Netscher; Riwayat Bahasa Melayu Kweekschool Padang Sidempuan

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Riau di blog ini Klik Disini

Pulau Penyengat tempo doeloe disebut Pulau Mars. Mengapa? Karena pulau yang lebih besar sudah disebut Pulau Bintang. Lalu pulau yang lebih kecil di dekat Pulau Mars disebut Pulau Venus. Nama Pulau Bintang kemudian mengalami reduksi dan hanya disebut Pulau Bintan (idem dito nama pulau Batang menjadi Batam). Perubahan nama pulau Mars menjadi Penyengat mengindikasikan era Portugis berakhir. Di pulau Penyengat inilah kemudian mendudukkan Sultan Muda (Riau) Lingga sementara Belanda membangun ibu kota (fort) di suatu tanjung yang disebut Tandjoeng Pinang (kini ibu kota pulau Bintan dan ibn kota Riau).

Meski nama era Portugis berakhir, dengan diubahnya nama pulau Mars dan nama pulau Venus, tetapi sesungguhnya masih ada yang tersisa dengan nama Riau sendiri. Nama Riau berasal dari era Portugis yang disebut Rio dan ditulis Rheo. Rio dalam bahasa Portugis adalah sungai. Nama Rheo adalah suatu nama tempat di sungai yang beruara ke teluk yang sempit. Kota Rheo atau Riouw ini adakalanya disebut Kota Lama setelah didirikannya kota Tandjong Pinang. Dalam perkembangannya nama Rheo atau Riouw sebagai nama tempat menghulang sehubungan dengan semakin populer nama Riouw dijadikan sebagai nama wilayah (seperti halnya Tapanoeli, Padang, Batavia, Banten dan sebagainya).

Lantas bagaimana sejarah Pulau Penyengat? Bermula dari kedudukan Soeltan Moeda Riouw-Lingga yang kemudian muncul seorang tokoh sastrawan Melayu yang kini dikenal Raja Ali Haji. Lalu seorang sarjana bahasa Belanda muncul bernama Mr Elisa Netscher yang mendapat hoki yang kemudian diangkat menjadi Residen Riouw ((1861-1870) dan kemudian menjadi Gubernur Sumatra’s Westkust (1870-1878). Pada tahun 1875 seorang pegawai di Panjaboengan yang menyukai sastra Batak ingin menjadi guru. Resident Netscher menyetujuinya. Guru baru itu bernama Charles Adrian van Ophuijsen yang kemudian menjadi guru di sekolah guru (kweekschool) Padang Sidempoean (1881-1889) yang mana lima tahun terakhir sebagai direktur sekolah. Charles Adrian van Ophuijsen adalah penyusun tatabahasa bahasa Melayu (cikal bakal tatabahasa Indonesia). Bagaimana semua itu bisa terhubung? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Senin, 30 November 2020

Sejarah Riau (19): Sungai Mati di Sungai Rokan; Apakah Muara Rokan Kanan dan Rokan Kiri Tanda Batas Laut Tempo Dulu?

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Riau di blog ini Klik Disini 

Di daerah aliran sungai Rokan begitu banyak sungai mati (aliran sungai yang terjebak karena terbentuk aliran arus baru). Sungai mati ini selain di pantai utara Jawa juga dimukan di pantai barat Borneo (di daerah aliran sungai Kapuas). Di daerah aliran sungai Musi dan sungai Batanghari juga ditemukan sungai mati. Adanya sungai mati mengindikasikan kerap terjadinya banjir di dataran rendah. Banjir sebagai luapan sungai dari pedalaman mengindikasikan muncul proses sedimentasi di hilir atau pantai (khususnya di teluk).

Pada masa lampau, pulau Sumatra yang sekarang tidak seluas tempo doeloe dan selat Malaka tidak sesempit yang sekarang. Sungai-sungai dari (pegunungan) Bukitbarisan ke pantai timur tidak sepanjang yang sekarang. Sungai Musi hanya sebatas Kota Palembang yang sekarang dan sungai Batanghari hanya sampai sebatas Kota Jambi yang sekarang. Semua sungai-sungai yang mengalir ke pantai timur telah menjadi faktor terjadinya proses sedimentasi jangka panjang yang membentuk atau memperluas pulau serta menutupi lautan menjadi daratan (rendah). Ini seakan sungai-sungai besar ke pantai timur terkesan kini lebih panjang jika dibandingkan tempo doeloe.

Pertanyaannya: apakah muara sungai Rokan Kanan dan sungai Rokan Kiri adalah suatu teluk di pantai tempo doeloe? Apakah pulau-pulau yang berada di teluk telah membengkak menjadi daratan dan kemudian jalan sungai ke pantai kini hanya menyisakan mulut muara sungai Rokan yang luas? Sungai Rokan Kanan menjadi arah navigasi ke candi Padang Lawas dan sungai Rokan Kiri ke candi Muara Takus. Candi Padang Lawas sendiri bermula dari arah pantai barat Sumatra di danau Siais. Bagaimana semua itu terjadi? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.