Selasa, 23 Februari 2021

Sejarah Jakarta (117): Banjir Jakarta Tidak Cukup Normalisasi. Rancangan Banjir Sejak Era Belanda, Apakah Perlu Dipertanyakan

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Banjir, banjir, banjir lagi. Ungkapan ini akan terus ada. Rancangan pengendali banjir di Jakarta sudah sejak lama final. Tidak butuh lagi rancangan baru. Rancangan baru di era Presiden Soekarno dengan membangun kanal Kali Malang sejatinya telah menabrak rancangan banjir yang sudah ada (sejak era Hindia Belanda). Alih-alih membangun banjir kanal timur (BKT), kanal Kali Malang justru kini telah menjadi beban dan menjadi satu faktor penyebab banjir masa kini. Pembangunan kanal BKT seakan hanya untuk melayani kanal Kali Malang (membuang anggaran dua kali).

Kanal Kali Malang dibangun pada tahun 1960an. Kanal ini dibangun sejatinya bukan untuk mengatas banjir besar yang terjadi beberapa tahun sebelumnya, tetapi hanya sekadar untuk menyediakan air bersih untuk Jakarta. Celakanya, Kanal Kali Malang telah membebani dalam penanganan banjir di Bekasi dan Jakarta. Kanal Kali Malang ingin menandingi kanal Banjir Kanal Barat (BKB) dari Manggarai ke Pejompongan, tetapi cara berpikirnya salah. Kanal BKB mengalihkan air dari dalam kota ke luar kota (ke Angke); sebaliknya kanal Kali Malang membawa air dari luar kota ke dalam kota. Celakanya lagi, kanal BKB dibangun dengan azas kanal di bawah permukaan air, sebaliknya kanal Kali Malang dibangun di atas permukaan air. Kanal BKB menjadi fungsi drainase, sedangkan kanal Kali Malang telah menghambat arus mata air (sungai) dari hulu ke hilir. Artikel ini adalah artikel lanjutan dari artikel Sejarah Jakarta (76): ‘Naturalisasi ala Anies Baswedan Solusi Banjir Jakarta? Pengendali Banjir Tempo Dulu, Kini Butuh Normalisasi’.

Kanal Kali Malang adalah satu hal. Hal lain soal banjir Jakarta adalah telah terjadi pelanggaran terhadap rancangan (desain) pengendali banjir yang sudah final dibangun di era Hindia Belanda. Pelanggaran yang terjadi sekarang bukan soal pembangunan BKT, tetapi abai terhadap pelestarian sistem pengendalian banjir yang sudah final tersebut. Solusi banjir pada masa kini bukan lagi model pembangunan kanal BKT yang mahal, tetapi dapat dilakukan dengan biaya murah dengan metode normalisasi yakni normalisasi terhadap desain banjir yang sudah ada. Kesimpulan ini sudah diakumulasi pada artikel Sejarah Jakarta (102): Banjir, Banjir, Banjir Lagi; Rancangan Pengendali Banjir Jakarta Sudah Lama Final, Hanya Perlu Normalisasi. Namun hasil analisis data sejarah terbaru, normalisasi tidak cukup tetapi juga perlu mempertanyakan apakah rancangan banjir di Jakarta yang dianggap final selama ini masih valid untuk masa kini. Bagaimana bisa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Senin, 22 Februari 2021

Sejarah Ternate (13): Sejarah Teluk Tomini dan Kesultanan Ternate; Mengapa di Teluk Tomini Terdapat Rawa Tempo Doeloe?

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Ternate dalam blog ini Klik Disini 

Adakalanya fakta sejarah tempo doeloe, sangat berbeda apa yang bisa dilihat dan dirasakan sekarang. Tidak selalu bersifat linier. Sebab bisa jadi ada satu masa dalam garis sejarah terjadi interupsi. Bahkan kehadiran orang-orang Belanda di wilayah Indonesia yang sekarang di masa lampau adalah satu bagian dari rentang sejarah dimana terjadi interupsi. Sebab ini hari kita tidak bisa menemukan seorang pun orang Belanda di sekitar kita, padahal di masa lampau orang Belanda terdapat dimana-mana di tengah penduduk (bahkan selama tiga abad). Hal itu yang terjadi pada teluk Tomini. Angkatan laut Hindia Belanda pada tahun 1850an teluk Tomoni adalah suatu wilayah rawa. Tentu sangat berbeda dengan yang sekarang. Itu berarti ada suatu interupsi di teluk Tomini.

Teluk Tomini dan adakalanya disebut teluk Gorontalo. Teluk Tomini adalah suatu teluk yang berada di pulau Sulawesi, menghadap ke Ternate dan lautan Pasifik. Teluk Tomini dapat dikatakan sebagai teluk terluas di Indonesia (luas perairan 140.000 Km2 dengan garis pantai 1.400 Km). Bentuk teluk Tomini tidak lazim untuk ukuran yang luas (120.00-123.30 BT dan 0.30-1.30 LS). Bentuknya tidak cekung seperti umumnya, tetapi hampir membentuk lingkaran. Bentuk teluk ini santa unik. Di pintu masuk teluk ini terdapat sejumlah pulau-pulau kecil seperti pulau Togian dan pulau Una-Uana. Pada masa ini teluk Tomini berbatasan di utara Semenanjung Sulawesi (Provinsi Gorontalo dan Provinsi Sulawesi Utara), di timur Laut Maluku, di selatan Provinsi Sulawesi Tengah dan di barat Provinsi Sulawesi Tengah.

Lantas bagaimana sejarah Teluk Tomini? Saat masih terdapat banyak rawa dan kapal uap Pemerintah Hindia Belanda tidak bisa memasukinya, kerap dijadikan bajak laut sebagai tempat pelarian. Wilayah ini masuk wilayah yurisdiksi Kesultanan Ternate. Lalu mengapa di teluk Tomini pernah terbentuk rawa besar tetapi kini rawa hanya sebatas dekat daratan? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Ternate (12): Sejarah Letusan Gunung Berapi di Maluku Utara; Wilayah Subur yang Berada di Lintasan Ring of Fire

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Ternate dalam blog ini Klik Disini

Sejarah Ternate khususnya dan sejarah Maluku Utara (Halmahera) umumnya tidak hanya soal perdagangan (rempah-rempah) dan kerajaan (kesultanan) juga tentang sejarah letusan gunung apinya. Tentu saja tidak ada yang peduli soal ini dalam sejarah Ternate, Halmahera, Maluku Utara. Dalam narasi sejarah Ternate dan Halmahera hanya dilihat sisi kesuburan tanahnya, namun kurang mendapat perhatian tentang hal terkait dengan gunung-gunungnya yang termasuk gunung berapi. Kesuburan tanah dan aktivitas vulkanik adalah hal yang saling terkait. Hal itulah mengapa narasi sejarah letusan gunung berapi di Maluku Utara penting.

Wilayah Maluku Utara adalah lintasan ring of fire (cincin api) di Pasifik. Cincin api ini di Indonesia meliputi pantai barat Sumatra (pegunungan Bukit Barisan), bagian pedalaman Jawa, pantai utara Bali, Lombok, Sumbawa, Flores hingga Banda, Amboina terus melewati Ternate Halmahera. Pada wilayah Maluku Utara ini terdapat beberapa gunung api yang pernah akrif sejak masa lampau seperti gunung Dukono di Tobelo, gunung Ibu dan gunung Gamkonora di Halmahera Barat, gunung Gamalama di (pulau) Ternate dan gunung Makian di (pulau) Makian.

Lantas bagaimana sejarah gunung berapi meletus di Maluku Utara? Lalu mengapa begitu penting? Narasi sejarah letusan gunung berapi adalah salah satu pengingat agar setiap saat selalu waspada. Letusan gunung berapi seringkali menimbulkan bencana, kerugian jiwa, ternak, harta benda dan lahan-lahan pertanian penduduk. Okelah kalau begitu dan darimana dimulai? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Minggu, 21 Februari 2021

Sejarah Ternate (11): Flora Fauna di Ternate Halmahera; Garis Wallace dan Garis Weber Garis Pemisah Ekosistem Asia dan Australia

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Ternate dalam blog ini Klik Disini

Wilayah Indonesia sekarang dibagi dalam tiga waktu (WIB, WITA, WIT). Di masa lampau para peneliti flora dan fauna telah memetakan wilayah Hindia Belanda (baca: Indonesia) dalam tiga wilayah habitat (ekosistem penyebaran). Tiga wilayah ini diidentifikasi dengan garis pemisah sesuai nama para penelitinya: Wallace dan Weber. Garis Wallace memisahkan Sumatra, Jawa dan Kalimantan dengan Sulawesi. Garis Weber memisahkan Sulawesi dengan Maluku. Garis pemisah ini mirip garis waktu yang sekarang.

Garis Wallace dan garis Weber ini dalam konteks penyebaran flora dan fauna secara teoritis dihubungkan dengan proses pembentukan muka bumi (sebelum dan setelah zaman es). Berdasarkan naiknya permukaan laut, di zaman kuno diasumsikan bahwa Sumatra, Jawa dan Borneo menyatu dengan daratan Asia, sementara Papua menyatu dengan daratan Australia. Hal itulah diasumsikan bahwa flora dan fauna Sumatra, Jawa dan Kalimantan lebih dekat ke Asia, demikian juga flora dan fauna Papua lebih dekat ke Australlia. Diantaranya yang dipisahkan oleh Garis Wallace dan Garis Weber memiliki karakteristik sendiri yang dibagi dua yakni wilayah Sulawesi di atu sisi dan wilayah Maluku di sisi lain.

Lantas bagaimana sejarah flora dan fauna diantara Garis Wallace dan Garis Weber, khususbnya wilayah Maluku dan secara spesifik di Halmahera dan sekitar (Provinsi Maluku Utara)? Seperti disebut di atas nama Wallace dan Weber, sejarah flora dan fauna di Maluku dan sekitar haruslah dikaitkan dengan kedua nama tersebut (Alfred Russel Wallace dan Max Carl Wilhelm Weber). Bagaimana garis itu ditabalkan dengan nama mereka? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Ternate (10): Aksara Halmahera, Apakah Pernah Eksis pada Masa Lampau? Peta Persebaran Aksara di Hindia Timur

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Ternate dalam blog ini Klik Disini 

Apakah pernah ada aksara di Halmahera pada masa lampau? Pertanyaan ini boleh jadi masa kini dianggap tidak penting-penting amat, tetapi dalam artikel ini justru menganggapnya disitulah keutamaan artikel dengan mempertanyakannya. Sebab pulau Halmahera adalah pulau besar, terbesar di kepulauan Maluku, pulau Halmahera juga terbilang banyak penduduknya. Kekayaan alam mereka mengundang orang asing datang. Era Portugis (sejak 1511) dan era Belanda (sejak 1606) adalah bagian terakhir peradaban di Maluku umumnya dan Halmahera khususnya. Lantas apakah tidak ada peradaban tinggi yang sudah eksis sebelumnya seperti aksara? Sangat naif, jika kita menyepelekan pertanyaan tersebut, sebenarnya kita tahu apa-apa tentang sejarah zaman kuno Halmahera.

Sejarah aksara di nusantara (baca: Hindia Timur; Indonesia) adalah sejarah yang panjang, sejak era Hindoe-Boedha. Satu pertanyaan kecil logis untuk membuktikan adanya aksara di zaman kuno (paling tidak sejak era Hindoe Boedha) adalah tak mungkin bisa membangun candi Borobudur (abad ke-8) tanpa ada aksara yang digunakan. Hal itulah mengapa kita berasumsi adanya aksara Pallawa (yang kemudian berkembang menjadi aksara Kawi) yang kini dikenal sebagai aksara Jawa. Penggunaan aksara juga eksis di Sumatra mulai dari Lampung. Keinci, Batak hingga Gayo, di Sulawesi (Bone dan Minahasa), Nusa Tenggara dan Mangindanao (Filipina) serta di Borneo (Kalimantan). Kecuali aksara di Kalimantan, bentuk aksara secara seperti terkesan berakar dari aksara Pallawa. Aksara Pallawa merujuk pada (kebudayaan) India. Aksara Borneo tampaknya memiliki kaitan dengan (kebudayaan) Tiongkok. Aksara yang kita gunakan sekarang (seperti yang digunakan dalam artikel ini) adalah aksara Latin (Eropa). Antara aksara yang berbasis pada aksara Pallawa dan aksara Latin eksis aksara Arab.

Lantas apakah pernah ada aksara di Halmahera pada masa lampau? Seperti disebut di atas di Mangindanao, Minahasa, Bone dan Timor penggunaan aksara eksis. Lalu bagaimana dengan di Halmahera? Kita tidak sedang memahami penyebaran flora dan fauna (garis Wllace dan garis Weber) tetapi soal penyebaran (bahasa atau) aksara. Okelah. Apapun hasilnya, penyelidikan terhadap ada tidaknya aksara zaman kuno di Halmahera haruslah dimulai.  Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.