Selasa, 18 Agustus 2020

Sejarah Pulau Bali (40): Sejarah Kopi Bali di Kintamani; Mengapa Orang Bali Menolak Menanam Kopi Sejak Era VOC-Belanda?

 

 *Untuk melihat semua artikel Sejarah Bali dalam blog ini Klik Disini

Apakah ada sejarah kopi Bali? Ada, Bagaimana sejarah kopi Bali? Nah, itu dia. Sejauh ini kurang terinformasikan. Okelah, sambil seruput kopi, kita coba cari tahu. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Sebab menurut mereka, sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri maupun para penikmat kopi akan menciptakan imajinasinya sendiri.

Sejarah kopi di Indonesia bermula sejak era VOC. Itu dimulai di Kedaoeng, daerah aliran sungai Tangerang (sungai Tjisadane). Tokoh yang mengintroduksi kopi tersebut--yang bibitnya dari Malabar, India—adalah Abraham van Riebeeck tahun 1710 (Gubernur Jenderal VOC 1709-1713). Dari Kedaoeng kemudian menyebar ke Depok (land miliki Cornelis Chastelein) lalu ke land Bodjong Gede (land milik Abraham van Riebeeck). Sukses pertama kemudian dilanjutkan ke hulu sungai Tjisadane, sungai Tjiliwong, Tjilengsie dan Tjitaroem hingga ke Priangan (Preanger(. Pada tahun 1724 bupati Semarang sudah mulai menaman kopi di daerah aliran sungai Semarang (hingga meluas ke Banaran).

Pada masa kini kopi Kintaani Bali cukup populer. Lantas bagaianana itu bermula? Yang jelas orang Bali sejak era VOC menolak menanam kopi. Apa sebab? Itu adalah satu hal. Hal lain adalah bagaimana kopi Kintamani bisa muncul dan tetap bertahan hingga ini hari? Pertanyaan-pertanyaan tersebut memicu kita untuk mencari jawab. Seruput kopi tidak akan enak jika sejarah kopi yang diminum tidak mengetahui sejarahnya. Sambil seruput kopi kita lacak ke sumbernya.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Introduksi Kopi di Bali

Kapan introduksi kopi di Bali tidak diketahui secara pasti. Namun keberadaan kopi di Bali paling tidak sudah diketahui pada tahun 1843 (lihat Javasche courant, 16-09-1843). Disebutkan kapal berbendera Hindia Belanda dari Bali tiba di Soerabaja, diantaranya membawa 165 picol kopi. Namun setelah itu tidak pernah ada lagi kabar kopi dari Bali. Keberadaan kopi Bali kembali muncul pada tahun 1869 (lihat Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 12-07-1869). Disebutkan kopi Bali dipatok dengan harga f23 di Rotterdam namun disebutkan belum ada permintaan ekspor. Beberapa bulan kemudian diberitakan bahwa kopi asal Timor di Rotterdam dengan harga f30. Disebutkan kopi Timor cukup enak tapi rasanya agak tidak murni. Beberapa bulan kemudian diberitakan bahwa persediaan kopi di Bali sudah cukup dan siap diekspor dengan kisaran harga f18 dan f20 (lihat Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 16-11-1869).

Dari keterangan ini mengindikasikan bahwa kopi Bali mulai mendapat perhatian di perdagangan internasional. Meski informasi kopi Bali sudah tersedia tetapi minat ekspor (baca: impor di Rotterdam) belum muncul. Oleh karena itu harga kopi Bali hanya dipatok sekitar f20. Sementara itu harga kopi Bonthain diharga f32 dan kopi Pare-Pare sebesar f27 (lihat Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 19-10-1869). Harga kopi di Jawa lebih tinggi lagi seperti di Pamanoekan per picol senilai f39.3. Harga kopi tertinggi di pasar internasional adalah kopi Mandailing dengan harga f40.8 dan kopi Angkola dengan harga f39.7  per picol (lihat De locomotief, 18-01-1869). Mandailing dan Angkola berada di Afdeeling Mandailing en Angkola, Residentie Tapenoeli (kini Padang Sidempuan).

Pengembangan kopi di Bali diduga baru dimulai setelah Pemerintah Hindia Belanda membentuk cabang pemerintah di Bali yakni di Afdeeeling Boeleleng dan Afdeeling Djebrana sejak 1857. Seperti di wilayah lain, pengembangan kopi dilakukan oleh pemerintah, sudah barang tentu kopi di Bali juga dikembangkan oleh pemerintah. Oleh karena pengembangannya masih baru, maka kopi Bali belum dikenal di pasar dunia di Eropa (Rotterdam atau Amsterdam). Sebaliknya kopi Timor sudah lebih dikenal dari kopi Bali karena Pemerintah Hindia Belanda lebih dulu membentuk cabang pemerintahan di Timor (termasuk pulau-pulau sekitar seperti Flores).

Introduksi kopi di Jawa sudah dimulai pada tahun 1710 yang dimulai di sekitar Batavia yang kemudian meluas ke Priangan (1713), Semarang (1724) dan terakhir di Oost Java (Malang). Bibit-bibit kopi ini didatangkan dari Malabar, India. Tokoh terkenal introduksi kopi ini di Hindia adalah Abraham van Riebeeck. Sementara itu introduksi kopi di Sumatra (pantai barat Sumatra) yang mengintroduksinya adalah Inggris yang juga mendatangkan bibit dari Malabar pada tahun 1790an (sehubungan dengan pemindahan pos perdgangan Inggris dari Ambonia ke Bengkoelen). Sebagaimana diketahui Inggris menggantikan koloni Belanda di Malabar. Pada era Pemerintah Hindia Belanda, bibit-bibit kopi ke pantai barat Sumatra tidak lagi didatangkan dari Malabar tetapi dari Jawa. Pemerintah Hindia Belanda membuka cabang pemerintahan di Tapanoeli kali pertama di afdeeeling Mandailing en Angkola pada tahun 1840.

Lantas sejak kapan kopi diintroduksi di Bali? Tampaknya belum begitu lama. Meski produksi kopi Bali sudah terdeteksi perdagangannya di Soerabaja pada tahun 1843, namun setelah itu tidak muncul lagi. Heinrich Zollinger (1847) menyatakan kopi di Bali (dan juga di Lombok) tidak ditanam dan ada pelarangan menanam kopi. Menurut Zollinger pelarangan tersebut oleh para radja-radja untuk mencegah masuknya orang asing. Bahkan radja Bali Selaparang di Lombok melarang penjualan opium kepada penduduk.

Secara historis hubungan Belanda dengan Bali sejak era VOC terbilang paling akrab. Meski demikian, radja-radja Bali cenderung mencegah keterlibatan orang asing di pedalaman, Boleh jadi, ketika pemerintah VOC telah mengintroduksi kopi di Midden Java dan Oost Java, radja-radja Bali tidak bersedia mengadopsinya. Radja-radja Bali dan juga Lombok cenderung mengandalkan perdagangan beras dan kapas yang merupakan produk tradisional.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Sejarah Kopi Kintamani di Bali

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Lampiran:

 

Tabel-1. Jumlah produksi kopi berdasarkan jenis kopi menurut wilayah di Indonesia 1920 (dalam pikul)

Jenis kopi

Sumatra

Jawa

Sulawesi dan Bali

Total

Liberia

14.972

6.243

2.074

23.289

Jawa

16.312

24.291

70.621

111.224

Robusta

411.235

256.645

4.998

672.878

Total

442.519

256.645

4.998

807.391

 

1 pikul= £ 136

 

 

Tabel-2. Deskripsi singkat kopi terkenal di Sumatra

District, Market Names
and Gradings
 
Trade Values and Cup Characteristics
Mandheling
(Mandailing)

The best coffee in the world"; also the highest priced. Formerly a  Government coffee. 

Yellow to brown, large-sized bean; dully roast, but free from quakers. 

It is of heavy body, exquisite flavor and aroma 

Ankola

(Angkola)

Formerly a Government coffee. Large fat bean, making a dull roast. 

Second only to Mandhelings; it has a heavy body  and rich, musty  flavor.

Siboga (Sibolga)

A harder bean  Ankola; sometimes called Private Estate Ankola.

Ayer Bangies

(Air Bangis)

Government coffee. Large even bean, with Mandheling and Ankola; 
of a delicate flavor but not much body.

 

Coffee beans origins:

ORIGIN

OVERALL QUALITY

CHARACTERISTICS

LOOK FOR

BRAZIL

Average

Sweet (some describe it as "fruity"), neutral

Bourbon Santos

COLOMBIA

Good to excellent

Sweet, good flavor, full body, slight acidity.

Medellin, Armenia, Manizales. Regardless of origin, Supremo is highest grade.

COSTA RICA

Excellent

Hearty, rich

Tarrazu, Tres Rios, Heredia, Alajuela. "Strictly hard bean" is best grade.

DOMINICAN REPUBLIC

Above average to excellent

Varies. Bani is more mellow, while Barahona is heavier and more acidic.

Bani, Ocoa, Barahona

ECUADOR

Average to above average

Sharp acidity. May be hard to find in stores.

N/A

EL SALVADOR

Average

Medium acidity, neutral to mild flavor

High grown

ETHIOPIA

Inconsistent, in part because of internal political problems

Sweet flavor with floral aroma. Much of the coffee is harvested from wild trees.

Yergacheffe, Harrar, Djimma

GUATEMALA

Excellent

Rich, spicy or smoky flavor (growers burn pitch near the plantations in severe weather to protect their crops; this smoke lends the beans their beans distinctive flavor).

Antigua, Coban, Huehuetenango. "Strictly hard bean" best available grade.

HAITI

Above average

Sweet, mellow, fair-bodied with a soft, rich flavor. Continuing political problems in Haiti may make its coffees difficult to find.

Best grade is "strictly high-grown washed."

JAMAICAN HIGH MOUNTAIN

Excellent

Rich, full-bodied, and well balanced

Wallensford Blue Mountain, Silver Hill Estate Mountain. Watch out for "Blue Mountain style," a blend of beans intended to have the same flavor characteristics as Blue Mountain, but which may contain no beans from that plantation.

JAMAICAN LOW MOUNTAIN

Average to below average, far inferior to Jamaican high mountain

Often used as filler in cheaper coffee blends

N/A

JAVA (Indonesia)

Good

Spicy or slightly smoky, full-bodied, with a strong flavor and little acidity

Rare Old Java

KENYA

Excellent

Full-bodied, rich, a bit winy, with a hint of black currant

AA is best grade

KONA (Hawaii)

Above average to excellent

Smooth and mild, rich flavor, medium acid

N/A. Watch out for "Kona style," which may have similar flavor but is not required to contain any Kona beans.

MEXICO

Above average

Fine acidity, light, delicate body, and pleasantly mellow flavor.

Chiapas (Tapachula), Coatepec, Oaxaca

ORIGIN

OVERALL QUALITY

CHARACTERISTICS

LOOK FOR

MOCHA JAVA

Usually above average

Mocha Java is actually a mixture of one part Yemen Mocha beans to two parts Java Arabica beans. The combination makes a more complete coffee than either alone.

N/A

NEW GUINEA

Above average

Similar to Java, but more understated

Arona

NEW ORLEANS COFFEE

Usually above average

Coffee isn't grown in New Orleans, but the area has become known for this blend, a dark-roasted coffee blended with the root chicory.

Cafe Du Monde is most well-known brand name

NICARAGUA

Inconsistent, can be above average

Fair acidity, mild flavor, medium to light body

Jinotega, Matagalpa

PERU

Inconsistent, can be above average

Good flavor, with medium body, mild acidity, aromatic

Chanchamayo

SUMATRA

Above average

Very rich, full-bodied, fairly acidic

Ankola, Mandheling

TANZANIA

Average

Sharp, winy, acidic, rich, medium to full body

Moshi, Kilimanjaro, Arusha; high-grade AA

UGANDA

Above average

Similar to Kenya, but with lighter body

Arabica beans rather than robusto; best region is Bugishu

VENEZUELA

Average to above average

Low acidity, may be sweet, delicate.

Maracaibos: Merida, Trujillo, Tachira. Best grade is Lavado Fino.

YEMEN (Mocha)

Excellent

Small beans, with winy, smooth flavor, spicy aftertaste

N/A

ZIMBABWE

Above average to excellent

Winy, lighter-bodied with spicy aftertaste.

Washed coffee

*Sumber: 'All About Coffee' oleh William H. Ukers. New York, June 17, 1922 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar