Minggu, 15 Januari 2017

Sejarah Bandung (1): Saat Bandung Masih Kampung, Cianjur Sudah Menjadi Kota; Ini Faktanya

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini

Wilayah Preanger adalah termasuk wilayah kolonial yang paling berat, yang mana pada sisi luar topografinya bergunung-gunung yang meliputi Tjiandjoer, Sumedang, Limbangan yang di bagian dalam di area Bandung terbilang area yang relatif datar. Gunung-gunung yang ada di sekitar Preanger selalu menjadi ancaman bencana alam. Di area dataran tinggi inilah kelak Kota Bandung berkembang pesat. Kota Bandung sendiri adalah kota yang relatif muda, dan jauh lebih tua dari Batavia, Cirebon, Buitenzorg, Tjiandjoer dan Sumedang. Lantas kapan kota Bandung muncul? Dan bagaimana perkembangan selanjutnya? Mari kita lacak dengan artikel pertama.

Kampong Bandung, 1818
Serial artikel Sejarah Bandung ini merupakan suatu upaya menunaikan permintaan seorang teman lama yang asli Bandung dua tahun lalu (2015) ketika itu saya tengah membicarakan beberapa artikel saya tentang sejarah sepakbola Bandung di blog saya di detik com. Kebetulan pada saat yang bersamaan dengan penulisan sejarah Bandung ini saya sudah mulai menulis beberapa artikel sejarah Bogor dan sejarah Jakarta. Oleh karena sejarah Jakarta, sejarah Bogor dan sejarah Bandung adalah satu kesatuan sejarah, maka untuk memahami sejarah Bandung juga harus parallel memahami sejarah Jakarta dan sejarah Bogor. Saya sendiri, terus terang saya nyaris tidak mengenal Kota Bandung karena hanya beberapa kali dalam hidup saya pernah ke Bandung dan itupun selalu sesat di tengah Kota Bandung. Saya tidak sendiri, karena orang Bogor sendiri bahkan masih banyak yang sama sekali belum pernah ke Bandung (ibukota Provinsi Jawa Barat) tetapi sangat mengenal kota Jakarta. Saya juga, terus terang saya nyaris tidak mengenal Kota Medan karena hanya beberapa kali dalam hidup saya pernah ke Medan dan itupun selalu sesat di tengah Kota Medan. Oleh karena saya sudah menulis sejarah Kota Medan (baru 54 artikel yang diupload), maka dengan latar keingintahuan ingin mengenal lebih jauh Kota Bandung, maka semangat untuk menulis sejarah Kota Bandung muncul sekaligus untuk menunaikan permintaan teman dari Bandung.    

Preanger, Suatu Daerah Sunyi di Priangan

Preanger adalah penyebutan orang Belanda untuk wilayah Priangan. Nama Preanger sudah muncul di era VOC. Nama itu terus digunakan oleh Inggris (1811-1916) dan pemerintah Hindia Belanda. Priangan menurut informasi yang diperoleh orang-orang Belanda adalah daerah kering, sunyi dan dianggap sebagai tempat pelarian dari petinggi dan penduduk (Hindu) ketika Kerajaan Pakuan Pajajaran dihancurkan oleh Cirebon dan Banten (Islam).

Sabtu, 07 Januari 2017

Sejarah Bogor (2): Kopi Buitenzorg, Lebih Tua dari Kopi Preanger; Sentra Produksi di Megamendung dan Cibungbulang

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini


Pada tahun 1725 belum ada kopi di Jawa bahkan pada tahun 1836 belum ada teh di Jawa (De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 31-07-1867). Abraham van Riebeek adalah orang pertama yang memperkenalkan tanaman kopi di Hindia Timur pada era VOC (lihat Almanak van Nederlandsch Indie voor het jaar 1871).

Almanak van Nederlandsch Indie voor het jaar 1871
Pada tahun 1703 van Riebeek memimpin ekspedisi ke Pakuan-Pajajaran. Rute yang dilalui tim ekspedisi Riebeek ini adalah Casteel, Tjilititan, Tandjong, Seringsing, Pondong Tjina, Depok, Pondok Terong, Bodjong Manggies (dekat Bojonggede), Kedoenghalang dan Paroengangsana (Tanah Baru). Abraham van Riebeek menjadi Gubernur Jenderal VOC di Hindia Timur tahun 1709 dan membangun jalan besar ke pantai selatan Jawa (melanjutkan pembangunan yang telah dimulai sejak tahun 1698). Selama menjadi Gubernur Jenderal, van Riebeek berhasil meredakan pemberontakan di pantai Malabar (India). Abraham van Riebeek meninggal tahun 1713 (semasih menjadi Gubernur Jenderal VOC).

Abraham van Riebeek besar kemungkinan sangat mengenal daerah Malabar (di India) dan daerah (sekitar hulu) Batavia. Penanaan kopi pertama dilakukan di sekitar Batavia (Eerste koffij aan planting in de omstreken van Batavia) pada tahun 1710 diduga karena peran dari Abraham van Riebeek (lihat Almanak van Nederlandsch Indie voor het jaar 1871).

Dalam perkembangan lebih lanjut, kopi yang diintroduksi di Jawa sudah menghasilkan dan produksinya terus meningkat dari waktu ke waktu. Selanjutnya kopi juga diintroduksi di Sumatra terutama pantai barat Sumatra (1820) termasuk Tapanoeli (1840). Kopi-kopi dari Hindia Belanda yang bermutu tinggi di ekspor ke Eropa dan yang bermutu rendah di perdagangkan secara domestik untuk diolah. Pengolahan kopi terbesar dibangun di Buitenzorg pada tahun 1866.

Komoditi Kopi

Courante uyt Italien, Duytslandt, &c., 16-07-1633
Ketika VOC membuka pos perdagangan utama di Batavia (1619) dan didirikannya casteel Batavia (selanjutnya disebut Batavia) dan pada decade-dekade awal VOC belum ada kopi dalam daftar perdagangan ekspor dari Batavia. Komoditi utama yang terdaftar dalam manifest kapal (sebagaimana dilaporkan di surat kabar) antara lain, hanya  lada, pala, puli, dammar, kemenyan, kamper, rotan, jahe dan lainnya. Produk-produk saat itu masih produk tahan lama dan popular di Eropa. Produk ini merupakan gabungan dari hasil perdagangan kecil (antar pulau) di Hindia Timur yang berasal dari Maluku, Sulawesi, Sumatra. Produk melalui Batavia ke Belanda juga ada yang didatangkan dari Siam, Tiongkok (porselin) dan produk tembaga dari Jepang (lihat antara lain surat kabar Courante uyt Italien, Duytslandt, &c., 16-07-1633).
 
Dalam perkembangan lebih lanjut. komodi gula dikemmbangkan di Jawa dan diekspor. Tebu juga didatangkan dari Jawa Tengah dan pabrik gula dipusatkan di Batavia. Di Batavia dan sekitarnya pada tahun 1710 terdapat sebanyak 130 pabrik gula. Gula dari Hindia Timur ini untuk mendapingi pasar kopi dan teh yang sudah ada di Eropa.  Dalam perkembangan lebih lanjut pada nantinya didirikan dua pabrik gula aren di Buitenzorg.

Gula dan kopi kemudian menjadi produk ekspor utama dari Jawa. Ini mengindikasikan produk primer (seperti lada, dammar, kamper) telah bergeser ke produk sekunder seperti gula dan kopi. Dari hasil-hasil hutan menjadi usaha-usaha pertanian (budidaya).

Senin, 02 Januari 2017

Sejarah Bogor (1): Sejarah Kota Bogor Dimulai dari Fort Padjadjaran (1687) yang Menjadi Istana Buitenzorg (1745)

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini
*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini

Sejarah Kota Bogor, sejauh ini, telah ditulis secara keliru dan diinterpretasi salah. Penulisan sejarah kota Bogor menjadi tidak proporsional karena penempatan urutan waktu tidak berada pada garis yang sebenarnya.  Kota Bogor sendiri adalah kota yang dibangun di masa lampau yang yang lokasinya dipilih oleh para pendahulu sesuai dengan anugerah alam untuk kebutuhan pertahanan, panorama dan religi. Titik origin kota Bogor dalam hal ini seharusnya dipandang dari awal mula keberadaan istana Buitenzorg, yang lokasinya berada pada titik persinggungan terdekat antara sungai Ciliwung dan sungai Cisadane (eks Pakuan Pajajaran).

Lukisan tertua Buitenzorg, 1770
Bayangkan kita berada di tengah kota (titik origin) di masa lampau. Kita berada diantara dua sungai besar yang sejajar yang merupakan jarak terdekat dua sungai ini (titik singgung) yakni sungai Ciliwung dan sungai Cisadane. Diantara dua sungai besar ini terdapat sungai kecil bernama Cipakancilan. Ke arah selatan (sisi sungai Cisadane) terdapat panorama gunung Salak, ke arah utara panorama melandai menuju ke laut. Ke hulu arah timur menuju pusat ibukota kerajaan Pakuan dan ke hilir arah barat persawahan dan berbelok ke utara mengikuti aliran sungai Ciliwung menuju laut. Titik singgung inilah pusat kota Bogor yang sekarang (Bazaar/Pasar Bogor).  Dari titik origin ini ke arah hulu adalah kota lama (Pakuan Pajajaran) dan ke arah hilir terbentuk kota Buitenzorg. Batas itu kini berada di Pasar Bogor dimana di pangkal jalan Suryakencana kini dibuat gapura dengan bertuliskan ‘Lawang Suryakancana’ (lawang=pintu gerbang). 

Buitenzorg, Belanda Manfaatkan Kearifan Lokal

Nama Buitenzorg adalah nama popular Bogor setelah ekspedisi Belanda (VOC) dimulai tahun 1703 oleh van Riebeek. Sejak itu Bogor mulai dieksploitasi dengan munculnya area-area semacam konsesi yang disebut land (tanah-tanah partikelir).

Minggu, 01 Januari 2017

Sejarah Jakarta (16): Raffles (1811-1816); Java Government Gazette, Surat Kabar Inggris di Batavia Terbit Perdana 29-02-1812

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Sejauh ini, informasi Batavia hanya bersumber dari surat kabar berbahasa Belanda. Hal itu , karena Belanda yang mnguasai Batavia. Pada tanggal 26 Agustus 1811 Inggris menduduki Batavia. Dua minggu kemudian, Inggris membuat proklamasi pada tanggal 11 September 1811 lalu disusul kemudian tanggal 18 September 1811 membuat perjanjian dengan Belanda yang isinya Jawa dan Madura dikuasai Inggris. Butir berikutnya dari perjanjian tersebut bahwa semua tentara Belanda menjadi tawanan Inggris dan orang sipil Belanda dapat dijadikan pegawai Inggris. Pimpinan Inggris dalam hal ini Thomas Stamford Raffles.

Java Government Gazette, edisi pertama 29-02-1812

Pimpinan Inggris di India yaitu Lord Minto memerintahkan Thomas Stamford Raffles yang berkedudukan di Penang untuk menguasai Jawa. Lalu Raffles diangkat sebagai Letnan Gubernur dengan tugas mengatur dan inisiasi perdagangan dan keamanan.

Lantas apakah semua surat kabar Belanda berhenti? Ternyata tidak. Namun demikian diantara surat kabar berbahasa Belanda muncul surat kabar berbahasa Inggris. Surat kabar tersebut adalah Java Government Gazette yang terbit di Batavia. Surat kabar bentukan pemerintah Inggris di Hindia Belanda (East India) inilah yang mengabarkan segala sesuatu yang berkenaan dengan pemindahan kekuasan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Minggu, 25 Desember 2016

Sejarah Jakarta (15): Buitenzorg Ibukotanya Blubur, Sejarah Kota Bogor yang Sebenarnya



*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Jika kita datang ke Bogor, kini kita disambut dengan satu monumen ‘pintu gerbang’ yang menempel pada latar belakang Kebun Raya Bogor. Monumen ini terdiri dari sembilan pilar ‘paku alam’ yang sejajar, yang menopang satu batang besar sebgai plakat yang bertuliskan ‘Dinu Kiwari Ngancik Nu Bihari, Seja Ayeuna Sampeureun Jaga’. Arti harfiahnya adalah yang ada sekarang adalah hasil masa lampau dan yang dilakukan sekarang buat masa datang.

Semboyan ini saya paham betul artinya dari sudut sejarah, dan saya juga paham betul geografi Kota Bogor secara rinci. sebagai sebuuah lanskap dimana semboyan itu melekat. Saya pernah menjadi warga kota yang indah ini dengan KTP Kota Bogor selama sepuluh tahun. Ketika saya datang ke Kota Bogor baru-baru ini, saya tidak kaget melihat semboyan ini tetapi justru saya menggugatnya: Mengapa monumen semacam itu tidak sejak dulu dibuat?.

Titik singgung sungai Ciliwung dan Cisadane
Kota Bogor masa kini adalah kota yang di masa lampau yang dipilih oleh para pendahulu sesuai dengan anugerah alam untuk kebutuhan pertahanan, panorama dan religi. Pilihan lanskap kota alam ini sejauh yang saya tahu terbaik di nusantara. Titik origin kota Bogor (sebelumnya bernama Buitenzorg) yang sekarang adalah titik persinggungan antara sungai Ciliwung dan sungai Cisadane.

Bayangkan kita berada di tengah kota (titik origin) di masa lampau. Kita berada diantara dua sungai besar yang sejajar yang merupakan jarak terdekat dua sungai ini (titik singgung) yakni sungai Ciliwung dan sungai Cisadane. Diantara dua sungai besar ini terdapat sungai kecil bernama Cipakancilan. Ke arah selatan (sisi sungai Cisadane) terdapat panorama gunung Salak, ke arah utara panorama melandai menuju ke laut. Ke hulu arah timur menuju pusat ibukota kerajaan Pakuan dan ke hilir arah barat persawahan dan berbelok ke utara mengikuti aliran sungai Ciliwung menuju laut. Titik singgung inilah pusat kota Bogor yang sekarang (Bazaar/Pasar Bogor).  Dari titik origin ini ke arah hulu adalah kota lama (Pakuan Pajajaran) dan ke arah hilir terbentuk kota Buitenzorg. Batas itu kini berada di Pasar Bogor dimana di pangkal jalan Suryakencana kini dibuat gapura dengan bertuliskan ‘Lawang Suryakancana’ (lawang=pintu gerbang). 

Untuk mudahnya kita dapat membagi periode kota ini: masa kini (Kiwari), masa lalu (Bihari) dan masa datang. Kita mulai dari nama Buitenzorg sebagai hasil kearifan lokal masa lampau dan memproyeksi ke masa datang.

Sabtu, 24 Desember 2016

Sejarah Jakarta (14): Jalan Pos, Cikal Jalan Raya; Titik Nol Casteel Batavia. Pos Pertama di Bidara Tjina

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Jalan pos (postweg) adalah jalan utama yang menghubungkan satu tempat utama (hoofdplaats) dengan tempat utama lain untuk keperluan pos. Jalan pos juga menjadi jalur moda transportasi darat untuk arus barang dan orang. Jalan pos dalam perkembangannya menjadi jalan raya utama pada masa kini. Jalan pos sudah ada sejak era VOC. Jalan pos kemudian dirancang ulang oleh Daendles dengan kebijakannya yang terkenal, yakni pembangunan jalan pos trans-Jawa dari Anyer-Panaroekan.

Bataviasche koloniale courant, 05-01-1810
Daendles membuat keputusan yang dimuat dalam surat kabar, Bataviasche koloniale courant edisi pertama (lihat Bataviasche koloniale courant, 05-01-1810). Di dalam keputusan ini (General Reglement) terdapat aturan umum (general reglement) yang dibuat oleh Gubernur Jenderal Daendles (setelah dua tahun menjabat untuk) menetapkan beberapa nama tempat yang dijadikan sebagai patokan (check poin) jaringan jalan pos yang menghubungkan semua wilayah di Jawa (dimana orang-orang Eropa tinggal).

Satu hal yang menarik dalam pembagian wilayah (distrik) ini hanya disebutkan nama tempat Bantam, Batavia, Semarang dan Surabaya. Hal ini terkait dengan penarikan garis dari satu tempat ke tempat lain sebagai jalan pos. Ini berarti belum ada pembagian wilayah administrasi sebagaimana nanti Jawa dibagi tiga (lima) wilayah: West Java, Midden Java dan Oost Java (Djocjakarta dan Soerakarta). Sementara dalam General Reglement, 1810, rute antar tempat-tempat utama yang disebut tidak diperinci seperti rute Batavia-Buitenzorg.

Jalan Pos Batavia-Buitenzorg

Jalan pos Batavia-Buitenzorg adalah salah satu ruas jalan pos utama di Jawa. Jalan pos ini bermula ketika istana Buitenzorg dibangun sebagai tempat peristirahatan Gubernur Jenderal (dalam perkembangannya menjadi kantor Gubernur Jenderal). Jalan pos Batavia-Buitenzorg menjadi bagian dari jalan pos trans-Jawa (Daendles).