Selasa, 20 Juni 2017

Sejarah Bogor (17): Sejarah Hotel Salak Sebenarnya, The Heritage Bermula dari Suatu Losmen; Ini Faktanya

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disin


Kota Buitenzorg adalah salah satu destinasi wisata utama di masa lampau terutama bagi orang-orang Eropa/Belanda yang tinggal di Batavia. Dengan meningkatnya kebutuhan wisatawan dalam hal akomodasi, pengadaan penginapan terus berkembang: mulai dari losmen lalu meningkat menjadi hotel.

Het nieuws van den dag voor Ned.-Indie, 21-05-1923
Tempat penginapan di Buitenzorg awalnya berupa kos dan penyewaan rumah. Lalu kemudian berkembang menjadi pengusahaan losmen yang kemudian berkembang menjadi hotel. Satu bentuk penginapan lainya disebut pesanggrahan yang biasanya dibangun oleh pemerintah (di tempat-tempat tertentu) yang tujuan utamanya untuk tempat transit dalam perjalanan jarak jauh. Selain kantor-kantor pemerintah di ibukota afdeeling menyediakan pesanggrahan juga para pemimpin lokal (seperti Bupati) menyediakan tempat penginapan.

Dari tiga hotel pertama yang pernah ada di Kota Buitenzorg di masa doeloe hanya satu yang masih tersisa hingga ini hari di Kota Bogor, yakni: Hotel Salak, The Heritage. Bagaimana kehadiran hotel-hotel tersebut dan bagaimana keberlangsungan Hotel Dibbets yang menjadi Hotel Salak sejak dari awal hingga sekarang ada baiknya ditelusuri secara komprehensif. Mari kita lacak!

Senin, 19 Juni 2017

Sejarah Bogor (16): Wisatawan Tempo Doeloe, dari Batavia ke Buitenzorg (1870); Ida Pheiffer Orang Eropa Pertama Lihat Danau Toba (1852)

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disin


Wisatawan tempo doeloe tampaknya cukup unik jika dibandingkan dengan wisatawan masa kini. Wisatawan tempo doeloe selain menantang geografis yang jauh, juga mengalami kesulitan perjalanan. Uniknya, diantara wisatawan itu ada yang ingin mengunjungi tempat yang belum dikunjungi orang Eropa. Perjalanan wisatawan ini ternyata masih berguna bagi kita, karena hasil perjalanan mereka ditulis dan mengirimkannya ke surat kabar. Bahkan diantaranya ada juga yang membukukannya. Catatan perjalanan wisata mereka inilah yang berguna bagi kita sekarang ini.

Ida Pheiffer, orang Eropa pertama lihat danau Toba
P van Diest, seorang Belanda melakukan wisata ke Buitenzorg yang dibukukan dengan judul Een Reistochtje van Batavia naar Buitenzorg yang diterbitkan CG Stemler, Amsterdam, 1872. Wisatawan kedua, seorang gadis Austria, Ida Pheiffer yang melakukan perjalanan wisata bahkan hingga ke Danau Toba yang ditulisnya dan dimuat dalam surat kabar Algemeen Handelsblad, 09-05-1853.

Dua pelancong tempo doeloe tersebut adalah P van Diest dan Ida Pheiffer. Mereka berdua adalah sebagian dari sejumlah pelancong yang dokumennya masih ditemukan utuh hingga ini hari. Dalam risalah mereka, banyak data dan informasi yang tidak ditemukan dalam deskripsi lain tetapi detail fakta justru sangat membantu pemahaman kita tentang tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi. Mereka ini tidak hanya berhasil menyenangkan diri mereka tetapi juga telah membantu menyebarluaskan pengetahuan (tidak hanya bagi orang doeloe tetapi juga bagi kita pada masa ini). Itulah kontribusi para wisatawan tempo doeloe.

Sabtu, 17 Juni 2017

Sejarah Bogor (15): Gemeente Buitenzorg Dibentuk 1905; Wali Kota Pertama A. Bagchus Diangkat Tahun 1920

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disin


Setelah Gemeente Batavia dibentuk tahun 1903, Kota Buitenzorg dan Kota Chirebon termasuk kota yang terbilang awal dibentuk menjadi kota praja (gemeente). Pembentukan Kota Buitenzorg sebagai gemeente berdasarkan Staatblads No 206 Tahun 1905. Kota Bandung sendiri ditetapkan statusnya menjadi gemeente baru terjadi pada tahun 1906. Ini mengindikasikan bahwa Kota Bogor sebagai penerus Kota Buitenzorg adalah kota praja yang terbilang cukup tua di Indonesia.

Daftar Wali Kota Bogor
Pada tahun 1927 dua pejabat penting diangkat di Buitenzorg, yakni: Residen Buitenzorg FWW Slangen dan Burgemeester Buitenzorg Mr. Wesseling (Bataviaasch nieuwsblad, 10-06-1927). Dengan wali kota baru ini, Buitenzorg telah memiliki wali kota yang kedua sejak diangkatnya wali kota Buitenzorg yang pertama tahun 1920, A. Bagchus (Bataviaasch nieuwsblad, 31-01-1920).   

Selama belum diangkat wali kota (burgemeester) di Buitenzorg, peran wali kota dilakukan oleh Asisten/Residen Buitenzorg. Hal serupa ini juga yang terjadi di kota-kota lain. Kota Bandung menjadi gemeente tahun 1906 sementara wali kota definitif baru diangkat pada tahun 1817. Demikian juga di Kota Medan yang menjadi gemeente tahun 1909 baru memiliki wali kota definitif pada tahun 1918.

Sejarah Bogor (14): Buitenzorgsche Wedloop Societeit, Inspirasi Terbentuknya Organisasi ‘Societeit’ di Buitenzorg; Awal Kebangkitan Bangsa

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disin


Klub social (societeit) adalah suatu perkumpulan sosial orang-orang Eropa/Belanda yang dibentuk di kota-kota. Klub social ini merupakan pusat kegiatan social yang secara administratif memeiliki AD/ART yang disahkan oleh pemerintah. Klub social pertama yang didirikan adalah Harmonie yang kemudian muncul klub Concordia (militer) di Batavia. Societeit de Harmoni paling tidak sudah ada tahun 1833 (Javasche courant, 12-10-1833), sedangkan militaire Societeit Concordia di Weltevreden paling tidak sudah ada tahu 1840 (Javasche courant, 25-11-1840)). Selain itu, di Batavia juga terdapat klub social bernama Amicitia. Klub sosial tertua di luar (pulau) Jawa terdapat di Kota Padang (sejak 1837, yang diprakarsai Gubernur AV Michiels).

Gedung Societeit Buitenzorg, 1885
Klub social, societeit umumnya diprakarsai oleh tokoh penting pensiunan militer yang kembali ke masyarakat. Kebiasaan di tangsi atau garnisun militer atau klinik/rumah sakit militer yang memiliki kantin dan ruang pertemuan seakan timbul kembali ketika mereka memulai bermasyarakat kembali. Kantin-kantin militer sangat terkenal. Area di sekitar kantin, esk tangsi atau garnisun militer dinamai penduduk sebagai kampong kantin, seperti di Buitenzorg disebut Lebak Kantin dan di Padang Sidempuan disebut Kampong Kantin. Klub social yang sudah didirikan di luar Batavia adalah ‘de Club’ di Semarang, Concordia dan ‘de Club’ di Surabaya, Naar Hooger di Fort de Kock.

Pada saat klub-klub social ini sudah lama berkiprah, di Buitenzorg klub social yang dibentuk adalah klub yang memiliki minat yang sama yakni klub pacuan kuda. Di Buitenzorg, klub social ini awalnya bernama Buitenzorgsche Wedloop Societeit. Klub ini dibentuk bersamaan dengan Preanger Wedloop Societeit tahun 1853. President Preanger Wedloop Societeit adalah С. van der Moore (Resident Preanger) sedangkan presiden Buitenzorgsche Wedloop Societeit adalah FHC van Motman (seorang pengusaha perkebunan di Buitenzorg).

Jumat, 16 Juni 2017

Sejarah Bogor (13): Kujang, Senjata atau Peralatan? Warisan Sejarah yang Menjadi Lambang Daerah

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini


Kujang diyakini sebagai senjata pusaka, warisan sejarah Pajajaran yang sejak pasca pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda telah dijadikan sebagai lambang daerah. Ini tentu saja sangat menarik karena riwayat Pajajaran yang agung dilestarikan sebagai ikon pemerintah di Jawa Barat. Riwayat Pajajaran sendiri paling tidak masih eksis hingga tahun 1523. Dengan kata lain, kujang masih berperan dalam mempertahankan kerajaan dari serangan musuh paling tidak lima abad yang lalu.

Koedjang (kanan) dalam laporan ekspedisi de Houtman, 1595
Jika kujang sudah ada sejak era Padjadjaran, seharusnya keberadaan kujang sebagai senjata akan dapat ditelusuri karena kerajaan Pajajaran sudah ada interaksi dengan orang Eropa yang dalam hal ini menjadi sumber sejarah. Sebagaimana diketahui pada tahun 1522 sudah ada laporan-laporan Portugis tentang Pajajaran. Namun dari dokumen yang ditelusuri apa yang disebut kujang tidak ditemukan. Kujang sendiri baru ditemukan pada sumber Belanda berdasarkan dokumen yang dihasilkan ekspedisi pertama Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman.

Catatan Kujang Pertama

Dalam dokumen Belanda kujang dilukiskan sebagai peralatan pertanian yang bentuknya seperti tumit yang mana kedua sisi digunakan untuk memotong.

Selasa, 13 Juni 2017

Sejarah Bogor (12): Ekspedisi, Orang Eropa Pertama Tiba di Bogor 1687; Pieter Scipio Bangun Benteng Padjadjaran

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini

Pada era Portugis, gambaran tentang hulu sungai Tjiliwong hanya ditemukan di Pelabuhan Soenda Kelapa (Thome Pires, 1535). Dalam laporan Portugis di hulu sungai Tjiliwong terdapat kerajaan lokasi ibukotanya disebut Dajo. Masih dalam laporan Portugis, pada tahun 1522 utusan kerajaan meminta bantuan Portugis di Malaka untuk membantu. Namun pasukan Portugis terlambat tiba, ketika Banten yang beragama Islam telah menaklukkan kerajaan pada tahun 1523.

Benteng Padjdjaran (Peta ekspedisi Scipio, 1687)
Sejak itu, tidak ada informasi tentang hulu sungai Tjiliwong hingga kedatangan ekspedisi Cornelis de Houtman tiba di Banten pada tahun 1595 (lihat Journael vande reyse der Hollandtsche schepen ghedaen in Oost Indien, haer coersen, strecking hen ende vreemde avontueren die haer bejegent zijn, seer vlijtich van tijt tot tijt aengeteeckent, ..., 1597). Ketika Belanda tahun 1619 memulai koloni di muara sungai Tjiliwong dan membentuk kota Batavia tahun 1623 eks kerajaan di hulu sungai Tjiliwong sudah lama dilupakan.

Kolonisasi Meluas ke Pedalaman

Kolonisasi Belanda (VOC) yang berpusat di Batavia motif awalnya perdagangan (1619) dan dalam perkembangannya berkembang menjadi pembentukan pemerintahan (1800). Aktivitas perdagangan Belanda (VOC) dibagi ke dalam empat periode (lihat Hendrik Kroeskamp, 1931). Periode pertama dimana VOC hanya melakukan perdagangan secara longgar dan terbatas hubungan dengan komunitas di sekitar pantai, sampai sekitar 1615. Periode kedua, dimana wilayah penduduk asli (pribumi) diperluas menjadi bagian perdagangan VOC, sampai sekitar 1663; periode ketiga, dimana penduduk asli sebagai sekutu VOC, sampai dengan 1666; dan periode keempat, penduduk asli dijadikan sebagai subyek VOC.