Jumat, 02 Maret 2018

Sejarah Semarang (16): Sejarah Pendidikan; RA Kartini dan Alimatoe Saadiah; Lahirnya Boedi Oetomo dan Medan Perdamaian

Untuk melihat semua artikel Sejarah Semarang dalam blog ini Klik Disini


Sejarah pendidikan kita adalah sejarah pendidikan nasional di berbagai tempat. Sejarah pendidikan di Semarang tidak terpisahkan dengan sejarah pendidikan di tempat lain. Bahkan hubungan sejarah pendidikan di Semaramg dan sejarah pendidikan di Padang Sidempoean meski jauh berjarak ribuan kilometer tetapi memiliki visi yang sama: Pendidikan adalah untuk semua.

RA Kartini
Salah satu tokoh pendidikan terkenal adalah Raden Adjeng (RA) Kartini. Meski masih muda tetapi RA Kartini sudah memiliki visi yang hebat: emansipasi. Banyak membaca adalah kuncinya. RA Kartini juga mendapat inspirasi dari buku-buku karya Edward Douwes Dekker alias Multatuli. Surat-surat korespondesi dengan teman-temannya di Belanda dibukukan dengan judul Habis Gelap Timbul Terang. Tidak hanya itu, banyak pihak yang mendukung riwayat semangat RA Kartini dengan mendirikan Sekolah Wanita di Semarang tahun 1912 yang juga didukung oleh pemerintah.

RA Kartini adalah tokoh penting, tetapi bukan satu-satunya. Banyak perempuan sebayanya di tempat lain yang melakukan kebajikan yang sama di bidang pendidikan tetapi dengan cara yang berbeda-beda, seperti Dewi Sartika dan Alimatoe Saadiah. Yang menjadi pertanyaan: Bagaimana itu semua terhubung satu sama lain. Menarik untuk diperhatikan. Mari kita lacak.

Rabu, 28 Februari 2018

Sejarah Semarang (15): Lasem di Rembang; Bukan Pecinan Tetapi Tiongkok Kecil Tempo Doeloe, Mengapa? Batik Lasem

Untuk melihat semua artikel Sejarah Semarang dalam blog ini Klik Disini


Pada masa ini Pecinan (China Town) ada dimana-mana. Pada masa tempo doeloe, disebut Tiongkok Kecil hanya di satu tempat yakni di Rembang, tepatnya di Kota Lasem. Kota Lasem tidak hanya terkenal tempo doeloe tetapi juga masih terkenal pada masa ini.

Peta Lasem, 1887
Kota Lasem adalah sebuah kota kecamatan di Kabupaten Rembang. Kota Lasem adalah kota kedua terbesar setelah Kota Rembang. Ketika Kota Lasem disebut Tiongkok Kecil namun tidak semua sepakat dan lebih memilih Kota Pusaka. Pada masa ini, Kota Lasem juga dikenal sebagai Kota Santri. Selain itu, Kota Lasem juga terkenal sebagai kota penghasil batik yang disebut Batik Lasem.

Lantas mengapa Lasem disebut Tingkok Kecil? Itu pertanyaannya. Apakah Tiongkok Kecil pada masa lampau merupakan bentuk lain Pecinan (China Town) pada masa kini. Untuk menjawab pertanyaan ini mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Senin, 12 Februari 2018

Sejarah Kota Medan (60): Sejarah PSMS Sebenarnya; Letterzetter VC, Tapanoeli VC dan SAHATA (Abdul Hakim-Marah Halim)

*Semua artikel Sejarah Kota Medan dalam blog ini Klik Disini. (Artikel 1-56 Klik Disana)


Keliru Hari Lahir PSMS 21 April 1950; Apakah Tanggal 7 Juli 1907?

Baru saja PSMS Medan kalah lagi melawan Persija Jakarta di stadion Manahan Solo dalam semi final (leg-1 dan leg-2) Piala Presiden 2018. Dua pertandingan ini merupakan untuk kesekian kali pertemuan antara PSMS dan Persija sejak kali pertama bertemu tahun 1952 di stadion Ikada Djakarta. Dalam catatan (rekor) pertemuan antar dua tim legendaris ini sepanjang masa (life tme) jumlah kemenangan Persija jauh lebih unggul dibandingkan jumlah kemenangan PSMS. Hasil imbang (draw) antar dua tim (yang tergolong rivalitas) terbilang tinggi (bahkan terbanyak di Indonesia).

Stadion Teladan 'Abdul Hakim Harahap' Medan, 1953
Meski PSMS kalah dua kali dalam selang waktu dua hari, PSMS masih berkesempatan untuk melakukan pertandingan perebutan tempat ketiga melawan salah satu tim yang kalah pada partai semi final yang lain (antara Bali United FC vs Sriwijaya FC). Perebutan juara (Persija) dan perebutan juara ketiga (PSMS) akan dilangsungkan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada hari Sabtu, 17 Februari 2018. Kita tunggu saja.

Bukan itu yang akan dideskripsikan dalam artikel ini. Pertanyaan yang akan diajukan adalah kapan PSMS didirikan? Disebutkan bahwa PSMS berdiri tanggal 21 April 1950. Klaim ini tampaknya sangat diragukan dan tidak berdasar.Hal ini diperparah, ternyata sejarah PSMS tidak pernah ditulis. Artikel ini mendeskripsikan riwayat PSMS yang sebenarnya berdasarkan sumber-sumber primer tempo doeloe. Penulisan sejarah PSMS ini (di era milenial zaman now) dianggap penting karena PSMS sudah dianggap para gibol Indonesia sebagai klub/tim/perserikatan yang tergolong legendaris. Semua ingin tahu bagaimana sejarah PSMS bisa eksis hingga ini hari.

Minggu, 04 Februari 2018

Sejarah Jakarta (21): Rekor Pertemuan Tim Persija vs PSMS dan Pertandingan Klasik; Memori 26 Desember 1954 di Stadion Ikada

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini


Baru saja Persija Jakarta mengalahkan lawannya dengan skor 3-1 dalam perempat final (8 Besar) turnamen Piala Presiden 2018. Dengan kemenangan ini, Persija Jakarta menantang PSMS Medan di partai semi final. PSMS Medan sehari sebelumnya berhasil mengalahkan Persebaya Surabaya. Tiga kesebelasan ini mengingatkan kembali dengan nama-nama tim kesebelasan legandaris di era sepakbola perserikatan. Pertandingan Persija Jakarta vs PSMS akan ditunggu para gibol dengan sangat antusias, karena pertemuan PSMS dengan Persija masuk dalam label El Clasico di sepak bola Indonesia.

Stadion IKADA  Djakarta 1955
Dalam partai semi final Piala Presiden 2018 menggunakan format pertandingan home (leg-1) dan away (leg-2). Format ini pernah diterapkan pada Kejuaraan Antar Perserikatan pada tahun 1967 yang diselenggarakan di Stadion Utama Senayan. Namun kini, PSMS pada leg pertama menjadi tuan rumah dan pada leg-2 Persija menjadi tuan rumah. Masalahnya, Stadion Teladan Medan (yang dibangun 1952) proses renovasinya belum selesai, sementara Stadion Gelora Bung Karno Senayan baru saja selesai direnovasi dan Persija menginngikan menjadi laga kandangnya melawan PSMS. Anehnya, PSMS yang notabene tidak memiliki stadion bersedia memilih kandang di kandang Persija. Jika ini yang terjadi maka akan teringat memori tahun 1967

Disebut pertandingan El Clasico, pertemuan antara Persija dan PSMS sudah terjadi sejak tempo doeloe dan telah dilakukan untuk yang kesekian kali. Pertandingan PSMS vs Persija kali ini akan merecall kembali memori kejadian 26 Desember 1954 di Stadion Ikada Jakarta. Pertandingan ini adalah pertemuan kali kedua antara tim Persija dan PSMS. Pertandingan ini juga merupakan pertandingan terakhir dalam partai 6 Besar Kejuaraan Antar Perserikatan 1953/1954 (partai menentukan untuk mnjadi juara: Persija atau PSMS).

Sabtu, 03 Februari 2018

Sejarah Kota Surabaya (21): Pertandingan Klasik Persebaya vs PSMS Medan; Sejarah SVB Jadi Persebaya, OSVB Berubah PSMS

*Semua artikel Sejarah Kota Surabaya dalam blog ini Klik Disini.


Pertandingan antara Persebaya Surabaya melawan PSMS Medan sore ini dalam perempat final Piala Presiden 2018 adalah kelanjutan, garis continuum pertandingan-pertandingan tim sepak bola Surabaya dengan tim sepak bola Medan sejak tempo doeloe (klasik).  Dengan kata lain jika di masa lampaui gengsinya Kota Surabaya vs Kota Medan, tetapi pada masa kini Persebaya vs PSMS.


Docter Djawa School Voetbal Club di Batavia, 1903
Pertandingan antar kota Surabaya vs Medan, tidak hanya Persebaya vs PSMS, tetapi juga pernah terjadi (pada era kompetisi Galatama) antara Niac Mitra vs Pardedetex. Jauh ke belakang, pada masa lampau (sebelum 1951), juga terjadi pertandingan antara SVB Surabaya vs OSVB Medan. Pada tahun 1938, tim nasional NIVU yang diperkuat banyak pemain Surabaya sebelum menuju Piala Dunia di Prancis melakukan uji tanding dengan tim Medan.

Jelang melihat pertandingan prospektif sore ini antara Persebaya vs PSMS, coba kita kembali ke masa lampau (retrospektif) bagaimana dinamika antara tim-tim Surabaya dengan tim-tim Medan. Dengan cara begitu, kita dapat memahami mengapa pertandingan Persebaya vs PSMS diberi label pertandingan klasik. Satu hal yang perlu dideskripsikan adalah bahwa klub Persebaya Surabaya masa kini merupakan wujud metamorfosis PSV/PSS dan klub PSMS Medan adalah wujud metamorfosis OSVB.  

Kamis, 01 Februari 2018

Sejarah Jakarta (20): Sejarah Nama Jalan; Tan Boen Tjit (Buncit) di Mampang dan Usulan Nama Jalan Abdul Haris Nasution

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini


Hari ini Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Baswedan menunda sosialisasi perubahan nama jalan terusan Rasuna Said, Jalan Mampang Prapatan dan Jalan Warung Jati Barat (Warung Buncit) menjadi Jalan AH Nasution. Usulan ini muncul dari Ikatan Keluarga Nasution tetapi ada penolakan dari pihak tertentu. Gubernur Anies Baswedan disamping masih memerlukan kajian dan juga menginginkan partisipasi sejarawan, budayawan dan ahli tata kota dalam penentuan nama jalan juga ingin meninjau Surat Keputusan Gubernur Nomor 28 Tahun 2009 terkait pedoman penetapan nama jalan.

Peta 1938
Sejarah Jenderal Abdul Haris Nasution sudah diketahui sejak lama dan siapa Abdul Haris Nasution sudah dipahami secara luas oleh rakyat Indonesia. Sementara sejarah Mampang dan sejarah Buncit masih simpang siur. Disebut bahwa Mampang dan Buncit berkaitan dengan memori kolektif warga Betawi. Namun tidak bisa dijelaskan memori kolektif dalam hal apa dan sejak kapan memori kolektif itu terbentuk.

Artikel ini akan mendeskripsikan sejarah perubahan nama-nama jalan di Jakarta, sejak era Batavia hingga Pasca Pengakuan Kedaulatan Republik Indonesia (1950). Dalam artikel ini juga akan dideskripsikan asal-usul nama Mampang dan asal-usul nama Buncit. Nama Buncit diduga kuat adalah seorang Tionghoa pemilik lahan di Mampang dan sekitarnya yang bernama Tan Boen Tjit. Deskripsi ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman para sejarawan (yang belum menemukan data).