Rabu, 17 Juli 2019

Sejarah Bekasi (24): Sejarah Rawalumbu, Apakah Ada Sejarahnya? Rawa Panjang, Bojong Menteng dan Kanal Rawalumbu


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Bekasi dalam blog ini Klik Disini

Rawalumbu sangat terkenal di Bekasi. Lantas apakah ada sejarah Rawalumbu? Nah, itu dia yang ditanyakan banyak orang. Mungkin sulit menemukan nama Rawalumbu dalam arsip narasi berbahasa Belanda. Tapi jangan khawatir, masih ada peta. Jika pun tidak ada peta, sejarah Rawalumbu masih bisa didekati dari tetangganya: Bantar Gebang, Rawa Panjang, Pengasinan dan Bojong Menteng. Dalam hal ini bukan mengikuti pepatah ‘tidak ada akar, rotan pun jadi’. Metodologi sejarah tidak hanya satu, dua cara, tetapi tiga cara. Cara yang ketiga yang akan kita gunakan.

Kanal Rawaloemboe di Bekasi (Peta 1901)
Rawalumbu pasti nama rawa. Suatu area yang bermetamorfosis menjadi nama kawasan perumuhan lalu terbentuk desa/kelurahan. Kini, Rawalumbu telah ditabalkan menjadi nama kecamatan. Suatu kecamatan yang berada sangat dekat dengan pusat Kota Bekasi. Kecamatan Rawalumbu yang dibentuk pada tahun 2000 terdiri dari empat desa/kelurahan, yakni: Pengasinan, Bojong Rawalumbu, Bojong Menteng dan Sepanjang Jaya.

Lalu, apa hebatnya Rawalumbu? Nah, itu dia! Rawalumbu adalah tempat pertama kali pertama yang pernah saya berkunjungi ke Bekasi: Melihat rumah baru teman saya. Itu sudah lama, sekitar tahun 1993. Lantas mengapa sejarah Rawalumbu harus ditulis? Nah, itu dia! Sudah tentu saya masih hapal setiap sudut jalan-jalannya di perumahan tersebut. Tetapi bukan itu yang penting. Bagian terpenting dari sejarah Rawalumbu adalah kanalnya. Kanal Rawalumbu sudah ada sejak lampau. Kanall inilah yang yang ditingkatkan oleh pengembang Perumahan Rawalumbu menjadi saluran drainase utama yang di dua sisi dibangun jalan yang menjadi boulevard Perumahan Elit Rawalumbu. Untuk memahami sejarah awal Rawalumbu ini, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Selasa, 16 Juli 2019

Sejarah Bekasi (23): Sejarah Pondok Gede Bekasi, Pondok Tapi Gede; Bekasi, Pondok Gede (West) Hingga Kedoeng Gede (Oost)


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Bekasi dalam blog ini Klik Disini

Sejarah Pondok Gede sesuai namanya. Memiliki sejarah panjang, tetapi hanya ditulis singkat. Sebaliknya, Kedoeng (Gedoeng) Gede sejarahnya singkat tetapi ditulis panjang lebar. Itulah sejarah Bekasi, suatu district yang keberadaanya telah diketahui sejak era VOC/Belanda. District Bekasi berbatasan dengan Batavia di sebelah barat (land Pondok Gede di sungau Soenter) dan berbatasan dengan Krawang di sebelah timur (land Kedoeng Gede di sungai Tjitaroem). Land Pondok Gede dan land Kedoeng Gede adalah dua land terkaya di District Bekasi.

Gedong Gede, Pondok Gede (Peta 1900)
Pada masa ini (land) Pondok Gede menjadi nama kecamatan. Kecamatan Pondok Gede terdiri dari enam kelurahan, yakni: Jatibaru Jatibening Jatibening Baru Jaticempaka Jatimakmur, Jatiwaringin. Semua nama kelurahan memakai nama jati. Padahal dalam sejarahnya di land Pondok Gede tidak pernah ditemukan hutan jati. Land Pondok Gede, sejatinya terkenal sebagai perkebunan tebu yang luas dan memiliki pabrik gula yang besar.

Lalu serupa apa sejarah Pondok Gede? Yang jelas berbeda dengan sejarah Kedoeng Gede. Sejarah Pondok Gede dapat dikatakan memiliki sejarah paling lengkap di Bekasi, namun kurang terdokumentasikan dengan baik. Keberadaannya yang dekat dengan lapangan terbang Tjililitan (kini Bandara Halim) menambah kekayaan sejarah Pondok Gede. Untuk melengkapi sejarah Pondok Gede, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Minggu, 14 Juli 2019

Sejarah Bekasi (22): Sejarah Kampung Tugu di Cilincing, Prasasti Tugu Batoe Toemboe di Kali Tjakoeng; Dulu Bekasi, Kini Jakarta


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Bekasi dalam blog ini Klik Disini

Nama kampong Toegoe tempo doeloe sama pentingnya dengan land Tjilintjing dan sungai Tjakoeng. Akan tetap tidak hanya itu. Juga cukup populer nama kampong kecil yang disebut kampong Batoe Toemboe (tidak jauh dari kampong Toegoe). Di kampong Batoe Toemboe di pinggir sungai Tjakoeng di land Tjilintjing ini ditemukan sebuah batu bersurat yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Tugu. Nama kampong disebut Batoe Toemboe besar dugaan diadopsi dari batu prasasti tersebut. Sedangkan Tjakoeng artinya katak (lihat  Bataviaasch nieuwsblad, 15-05-1909). Ca, kung!

Kampong Batoe Toemboe di land Tjilintjing (Peta 1902)
Di kampong Toegoe ditemukan populasi penduduk yang dikaitkan dengan Portugis. Mereka beragama Kristen dan piawai dalam musik keroncong. Di kampong Toegoe juga terdapat gereja tua. Batu bersurat (prasasti) yang berada di kampong Batoe Toemboe kemudian dipindahkan ke landhuis Tjilintjing. Kampong Batoe Toemboe tidak jauh dari kampong Toegoe. Kedua kampong ini berada di land Tjilintjing, suatu tanah partikelir (land) yang mana landhuis berada di pinggir sungai Tjilintjing di dekat pantai. Nama kampong Batoe Toembo tidak terkait dengan nama kampong Toegoe. Nama kampong Batoe Toemboe diadopsi dari keberadaan batu bersurat (prasasti), sedangkan nama kampong Toegoe diadopsi dari batu tapal batas (paal). Nama kampong Toegoe ditemukan di banyak tempat, tetapi nama kampong Batoe Toemboe hanya ada di daerah aliran sungai Tjakoeng di land Tjilintjing.

Lantas bagaimana itu semua terhubung? Pertanyaa ini membutuhkan penjelasan selengkap mungkin. Satu hal yang penting di dalam Prasasti Tugu di Batoe Toemboe adalah tentang keberadaan sungai Candrabhaga dan kanal Gomati. Apakah sungai Candrabhaga adalah sungai Tjakoeng dan kanal Gomati adalah kanal Soenter? Lantas apa hubungannya kampong Toegoe di land Tjilintjing dengan kampong Toegoe di land Tjimanggis? Untuk menjawab semua pertanyaan tersebut, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. 

Sabtu, 13 Juli 2019

Sejarah Bekasi (21): Sejarah Cikarang dan Cibarusa, Antara Karawang dan Batavia; Sejarah Cibarusa, Buitenzorg vs Becassie


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Bekasi dalam blog ini Klik Disini

Ini bukan judul puisi Karawang Bekasi oleh Charil Anwar, tetapi sejarah  perebutan land Tjikarang dan land Tjibaroesa antara Residentie Krawang dan Residentie Batavia tahun 1810. Perebutan wilayah ini menjadi sebab munculnya pemberontakan orang-orang Cina di  Krawang kepada Pemerintah Hindia Belanda tahun 1832. Dalam perang ini juga dilibatkan pasukan Sentot Alibasja di pihak Belanda. Persoalannya tidak hanya sampai disitu.

Cikarang Cibarusa
Land Tjikarang dan land Tjibaroesa masuk wilayah Residentie Krawang sejak era VOC. Pemerintah Hindia Belanda memisahkannya dan memasukkan ke Residentie Batavia tahun 1810. Pemisahan ini bukan hal biasa, dan bukan demi untuk efektivitas pemerintahan tetapi lebih pada upaya untuk menambah kantorg pemerintah dengan cara menjual lahan kepada swasta. Semua lahan yang dijual ini kebetulan berada di sisi barat sungai Tjitaroen. Namun menjadi persoalan bagi orang-orang Cina di Krawang, karena sungai Tjitaroem selama ini menjadi hambatan (barier) lalu pembatasnya juga dipertegas dalam pemerintahan. Untuk mengendalikan situasi dan kondisi dikirim suatu ekspedisi di bawah komando Mayor AV Michiels (Pahlawan Belanda dalam Perang Jawa 1825-1830).

Persoalan berikutnya adalah memasukkan land Tjikarang ke Afdeeling Bekasi dan land Tjibaroesa ke Afdeeling Buitenzorg. Lantas apa yang terjadi? Terjadi konektivitas yang kuat diantara orang-orang Tionghoa di sisi timur sungai Tjitaroem (Tandjoeng Poera) dengan di sisi barat sungai Tjitaroem (Tjikarang). Konektivitas yang kuat diantara orang-orang Tionghoa juga terjadi yang ada di Afdeeling Bekasi (Tjikarang) dan yang ada di Afdeeling Buitenzorg (Tjibaroesa). Lalu mengapa Cibarusa kemudian masuk Bekasi? Itu semua bermula dari masa lampau. Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Jumat, 12 Juli 2019

Sejarah Bekasi (20): Sejarah Cabangbungin, Ibukota Bekasi Tempo Dulu; Sentra Kapas, Kini Terpencil 'Jauh di Mata Dekat di Hati'


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Bekasi dalam blog ini Klik Disini

Sejarah itu apa adanya. Sejarah itu tidak membingungkan. Yang membuat kita bingung pada masa ini karena kita tidak mempelajari sejarahnya. Cabangbungin, tempo doeloe (pada era VOC) adalah ibukota wilayah Bekasi. Bingung, bukan? Tapi fakta sejarah memang demikian. Kota Tjabangboengin berada di sisi barat sungai Tjitaroem, yaitu suatu kota di pedalaman yang berada di ‘gerbang jalan tol sungai’ dari pantai menuju kota Tandjoeng Poera (Krawang).

Kecamatan Cabangbungin (Now), kota Tjabangboengin (Peta 1903)
Bagaimana suatu wilayah (kabupaten/kota) berkembang seperti yang sekarang, tidak selalu diawali di tempat yang sekarang, akan tetapi, bahkan berada di suatu tempat yang tidak terduga, suatu tempat yang kini terkesan terpencil. Contoh, Jakarta masa kini, tempo doeloe pusat keramaian berada di balik semak-semak di muara sungai Tjiliwong di dekat pantai. Kota Bandung masa kini berawal dari sebuah kampung (dajeuh) yang menjadi ibukota (hoofdplaats) Bandoeng berada di muara sungai Tjikapoendong di sungai Tjitaroem (sekarang Baleendah). Demikian juga dengan Bekasi pada masa ini, bukan di Bekasi, bukan di Tamboen dan juga bukan di Tjikarang, tetapi di Tjabangboengin. Dari sinilah sejarah awal Tjabangboengin dimulai, sejarah awal Kabupaten Bekasi bermula.

Lantas seperti apa sejarah awal Cabangbungin. Nah, itu dia. Kita semakin penasaran. Sungai Tjitaroem adalah lalu lintas moda transportasi utama melalui pelayaran sungai dari pantai ke pedalaman sejak jaman kuno. Dalam hal ini Tjabangboengin pada era VOC adalah pintu gerbang. Ternyata tidak hanya itu. Pada era Pemerintah Hindia Belanda, kanal Tjitaroem dibangun sebagai kanal pertama di Bekasi. Kanal ini menjadi ‘jalan tol sungai’. Lagi-lagi, Tjabangboengin debagai pintu herbang (gate). Bagaimana itu semua terjadi? Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Kamis, 11 Juli 2019

Sejarah Bekasi (19): Sejarah Land Babelan, Kampung Halaman Pahlawan Bekasi Noer Alie; Pintu Gerbang ke Bekasi Tempo Dulu


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Bekasi dalam blog ini Klik Disini

Nama Babelan di Bekasi bukanlah nama baru, tetapi nama yang sudah tua di Bekasi. Ketika masih muda di masa lampau, wilayah Babelan adalah pintu gerbang menuju kota Bekasi. Namun pada masa ini, Babelan kerap dipersepsikan sebagai wilayah bagian belakang (kabupaten) Bekasi. Tapi, jangan lupa, Babelan adalah kampung halaman KH Noer Alie, Pahlawan Nasional dari Bekasi.

Kecamatan Babelan (Now). Kampong Babelan (1903)
Hidup bagaikan roda pedati, adakalanya di atas dan ada pula saatnya di bawah (dan sebaliknya). Demikian juga dalam perkembangan spasial awalnya pintu belakang tetapi kemudian menjadi pintu gerbang (dan sebaliknya). Itu berubah seiring berjalannya waktu. Di era kolonial Belanda ada suatu adagium: Maluku adalah masa lalu, Jawa adalah masa kini, dan Sumatra adalah masa depan. Orang Sumatra di Volksraad tidak sependapat dengan sebutan Sumatra adalah wilayah terluar, dan mengusulkan Sumatra disebut sebagai wilayah terdepan (1932). Dalam hal ini, Babelan tempo doeloe adalah pintu depan, pintu gerbang menuju kota Bekasi (bukan pintu belakang seperti yang dipersepsikan pada masa ini).   

Lantas seperti apa sejarah Babelan? Pertanyaan ini mungkin terkesan sepele dan tidak penting, Akan tetapi jika mengikuti perjalanan sejarah (kota) Bekasi, Babelan harus ditempatkan di bagian depan. Sebab tempo doeloe Babelan adalah pintu gerbang menuju kota Bekasi. Disinilah keutamaan Babelan yang kini menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Bekasi. Untuk itu, untuk melengkapi sejarah Bekasi mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.