Rabu, 27 Mei 2020

Sejarah Padang Sidempuan (6): Dr. Achmad Ramali, Epidemik, Kebersihan, Al-Qur'an; Dokter-Dokter Asal Padang Sidempoean


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini

Pada saat pandemik COVID-19 yang sekarang, salah satu protokol yang dianjurkan adalah soal kebersihan (mencuci tangan). Gagasan serupa ini pernah muncul ketika terjadi epidemik malaria di Afdeeling Padang Sidempoean tahun 1932. Dokter Achmad Ramali meminta semua penduduk yang memiliki karamba menggunakan penutup agar jentik-jentik nyamuk malaria tidak berkembang. Pemimpin lokal setuju dan membentuk brigade untuk mengkampanyekan lingkungan yang sehat.

Program yang dijalankan Dr. Achmad Ramali ini bersama penduduk menimbulkan inspirasi baru bagi sang dokter. Dokter ini mendapatkan masukan dari ulama-ulama lokal bahwa dalam agama Islam, di dalam Alquran diajurkan hidup bersih dan sehat. Selesai berdinas di Padang Siempoean, Dr. Achmad Ramali berhasil menyusun satu makalah yang menghubungkan kesehatan masyarakat dengan anjuran kebersihan dalam agama Islam. Makalah yang diterbitkan dalam jurnal kedokteran masyarakat membuat pembaca orang-orang Belanda heboh. Tidak ambil pusing dengan kehebohan, Dr. Achmad Ramali memajukan makalah tersebut untuk mengikuti program doktoral di Geneeskundige Hoogeschool di Batavia,

Nama dokter Achmad Ramali dan nama Padang Sidempoean menjadi titik tolak kajian kedokteran yang dikaitkan dengan hubungan sosial. Selama ini kajian kedokteran hanya terbatas pada sistem biologi penyakit dan agen pembawa penyakit seperti bakteri, virus dan sebagainya. Sekaran dalam situasi tidak normal pada masa pandemik virus Covid-19 belum ada obat dan belum ditemukan vaksin (pencegah) maka protokol kesehatan menjadi satu-satunya jalan keluar. Disinilah relevansi Dr. Achmad Ramali dan kota Padang Sidempoean tentang apa yang kita hadapi sekarang. Untuk menambah pengetahuan kita tentang epidemik dan kebersihan di Padang Sidempoean oleh Dr. Achmad Ramali, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Senin, 25 Mei 2020

Sejarah Padang Sidempuan (5): Tokoh Terkenal Asal Padang Sidempoean di Jawa Era Pendudukan Jepang; Siapa Mereka?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Padang Sidempuan di blog ini Klik Disini

Ada satu masa di Indonesia begitu sulit didapat informasi yakni pada era Pendudukan Militer Jepang. Surat kabar, majalah dan buku-buku yang terbit di era tersebut kurang terdokumentasikan dengan baik dan nyaris tidak ada yang peduli untuk menyimpannya. Akibatnya ketika kita pada masa ini ingin melihat potret situasi dan kondisi Indonesia di era pendudukan Jepang menjadi suram. Satu sumber yang penting yang dapat dibaca pada masa ini salah satu diantaranya adalah buku berjudul ‘Orang Indonesia jang terkemoeka di Djawa’.

Buku ini terbit pada tahun 1944 (tebalnya 552 halaman). Di dalam buku ini dicatat nama-nama orang Indonesia yang terkemuka di Djawa saja. Banyaknya 3.109 orang.  Mereka ini tergolong mempunyai kedudukan, kepandaian dan pekerjaan yang berarti dalam masing-masing golongan masyarakat. Buku ini adalah hasil suatu survei yang dilakukan, namun tidak semua orang yang dikirim kuesioner mengembalikannya. Dalam buku terdapat nama-nama terkenal di era kolonial Belanda seperti Ir. Soekarno, Drs. Mohamad Hatta, Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap dan Parada Harahap. Secara umum buku ini dibagi ke dalam tiga kategori yang masing-masing dikelompokkan dalam beberapa bidang-pekerjaan. Kategori pertama Urusan Negara yang terdiri dari Administrasi Umum Negeri, Pangreh Praja, Urusan Keuangan Negeri, Penjagaan Keamanan dan Pengadilan. Kategori kedua Perekonomian yang trerdiri dari Pertanian, Kehutanan, Peternakan dan Perikanan, Kerajinan, Perhubungan, Berbagai Urusan Teknik, Perdagangan, Keuangan dan Perhimpunan-Perhimpunan Memajukan Perekonomian. Kategori ketiga terdiri dari Penerangan, Pertolongan dalam Kehakiman, Kesehatan, Pengajaran, Kebudayaan, Agama. Urusan Politik dan Soal Pekerjaan, Urusan Kaum Dhaif dan Urusan Perempuan, dan Urusan Pemuda, dll. Orang Indonesia jang terkemuka tentu saja ada di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan lainnya. Namun tampaknya buku ini terbit sebelum publikasi buku berikutnya selesai sudah berakhir era pendudukan Jepang dengan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Survei ini bukan sesuatu yang khusus, pada era kolonial Belanda kegiatan survei ini dilakukan setiap lima tahun.

Lantas siapa saja orang Indonesia yang terkemuka di Jawa yang berasal dari Padang Sidempoean. Pada era kolonial Belanda dan pada masa pendudukan Jepang afdeeling Padang Sidempoean kini menjadi Tapanuli Bagian Selatan. Mereka yang berasal dari Padang Sidempoean tidak hanya lahir di afdeeling Padang Sidempoean tetapi juga banyak yang lahir di perantauan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasioanl dalam artikel ini didaftarkan orang Indonesia jang terkemuka yang berasal dari Padang Sidempoean baik yang berada di Jawa maupun di daerah lainnya di Indonesia serta di luar negeri. Riwayat hidup mereka ini diperkaya dengan merujuk pada sumber-sumber tempo doeloe.

Minggu, 24 Mei 2020

Sejarah Bogor (65): Sejak Kapan Nama Buitenzorg Dikenal? Kapan Nama Bogor Dicatat? Buitenzorg Menjadi Bogor, 1950


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini
 

Sejak kapan nama Buitenzorg dikenal? Kapan nama Bogor dicatat? Dua pertanyaan ini mungkin sebagian orang tidak terlalu menganggap penting-penting amat. Namun pertanyaan ini menjadi penting ketika pada tahun 1950 Pemerintah Indonesia (RIS) secara resmi mengganti nama Buitenzorg menjadi Bogor. Lantas muncul pertanyaan baru, apakah sebelum disebut Buitenzorg namanya sudah disebut Bogor? Pertanyaan yang tidak penting menjadi pertanyaan penting, bukan? Untuk sekadar catatan awal nama Buitenzorg sejatinya sudah ada sejak lama, tetapi secara resmi nama Buitenzorg baru diberlakukan pada tahun 1810 (lihat Bataviasche koloniale courant, 05-01-1810). Meski demikian, nama lain (Bogor) juga tetap dipertahankan, nama Buitenzorg ditujukan kepada orang-orang Eropa/Belanda dan nama Bogor ditujukan dan untuk menjaga eksistensi pribumi.

Amsterdamse courant, 18-12-1759
Nama Batavia muncul setelah Jan Pieterszoon Coen memimpin invasi ke Kerajaan Jactra tahun 1619. Dua tahun berikutnya muncul nama benteng Kasteel Batavia. Benteng inilah yang kemudian menjadi asal-usul Batavia sebagai nama suatu tempat. Nama Jacatra [baca: Jakarta] lambat laun terpinggirkan. Ketika Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, secara resmi pada tahun 1950 nama kota Batavia diganti dengan nama Djakarta. Pada era pendudukan Jepang secara informal nama Batavia telah digantikan dengan nama Djakarta.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah barang tentu memerlukan jawaban. Sejauh ini tidak ada yang memikirkannya apalagi menulisnya. Boleh jadi karena soal asal-usul nama tempat tidak dianggap penting [(lihat Sejarah Bogor (1)]. Namun begitu, untuk menambah pengetahuan, dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sabtu, 23 Mei 2020

Sejarah Bogor (64): Museum Pajajaran di Kampong Sunda; Mengapa Begitu Banyak Versi Narasi Sejarah Buitenzorg dan Bogor?


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini

Beberapa waktu yang lalu Wali Kota Bogor, Bima Arya ingin mendigitalisasi data sejarah Bogor [(lihat Sejarah Bogor (11)]. Kini, Bima Arya mengusulkan pendirian museum Sejarah Bogor dengan nama Museum Pajajaran. Ini tampaknya ingin melengkapi motto Kota Bogor yang terdapat pada Tepas Lawang Salapan Dasakreta: DI NU KIWARI NGANCIK NU BIHARI SEJA AYEUNA SAMPEUREUN JAGA Dimana lokasi museum tersebut ancar-ancarnya di (kampong) Batoetoelis yang sekaligus akan ditabalkan sebagai kampong Sunda. Apa saja isi museum Pajajaran tersebut kita berharap juga dilengkapi digitalisasi data sejarah.

Fakta dan data hanyalah syarat perlu dalam memulai menyusun narasi sejarah. Itu jelas tidak cukup. Diperlukan suatu analisis simultan untuk mengkonstruksi dan membangun arsitektur sejarah. Hasil analisis tidak hanya untuk menyampung antar data yang bolong (belum ditemukan) juga untuk menyajikan gambar besar tentang konstruksi-arsitektur sejarah. Kesalahan analisis dapat meruntuhkan sejarah itu: ingin melukiskan besarnya induk gajah yang tergambar justru anak gajah.

Umumnya di berbagai kota di Indonesia, para pemerhati sejarah yang memiliki usul tentang hal yang terkait sejarah kota. Sangat jarang seorang pemimpin kota menginisiasi dan memelopori pentingnya sejarah kota. Kota Bogor di bawah pimpinan Bima Arya adalah kekecualiaan. Namun akankah itu berlanjut? Seperti di kota lain, pemimpin selanjutnya hanya menganggap gedung museum yang dibangun sebagai monumen saja tanpa pernah memperkayanya dan bahkan abai dalam pelestariannya. Lalu, bagaimana strateginya?

Jumat, 22 Mei 2020

Sejarah Bogor (63): Kopi Land Buitenzorg, Sentra Tidak Hanya di Megamendung dan Cibungbulang; Kopi Sukaraja dan Ciomas


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini

Bogor memiliki sejarah kopi sendiri. Kopi Bogor sudah ada sejak era Buitenzorg. Kopi Bogor boleh dikatakan sebagai kopi pendahulu (pionir) di seluruh Indonesia. Produksinya tidak banyak maka distribusinya hanya sebatas kebutuhan lokal (domestik). Kopi-kopi dari Priangan (Preager) yang produksinya sangat banyak (terutama Tjiandjoer dan Soekaboemi) dan diekspor menyebabkan kopi Bogor tidak muncul pada label internasional. Namun, kopi Land Buitenzorg adalah heritage di Bogor.

Kopi Land Buitenzorg masih eksis hingga ini hari dengan nama kopi Bogor. Pada masa ini kopi Bogor terdapat di sembilan kecamatan diantaranya Babakan Madang, Cariu, Cisarua, Pamijahan, Sukamakmur dan Tanjung Sari. Kecamatan yang berada di dataran yang lebih rendah (800 meter) jenis kopi yang ada adalah robusta, sedangkan kecamatan yang bergunung-gunung di atas 800 meter terdapat kopi jenis arabika. Bagaimana cita rasa kopi Land Buitenzorg atau kopi Bogor, datang sendiri ke Kota Bogor.

Seperti apa sejarah kopi Bogor? Dimana sentra-sentra kopi di Buitenzorg tempo doeloe? Tentu saja tidak hanya di Megamendoeng dan Tjiboengboelan, tetapi juga ditemukan di sejumlah tempat (land). Kopi Buitenzorg terdekat dari kota Bogor terdapat di land Tjiomas dan land Soekaradja. Apakah sentra kopi tempo doeloe (kopi Land Buitenzorg) masih sama dengan sentra kopi Bogor yang sekarang? Untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Kamis, 21 Mei 2020

Sejarah Sukabumi (43): Sejarah Kopi di Sukabumi, dari Tjikole hingga Sinagar; Peta Perkebunan Kopi Pemerintah di Pulau Jawa


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Sukabumi dalam blog ini Klik Disini

Sesungguhnya, Sukabumi adalah sentra kopi utama tempo doeloe. Wilayahnya yang bergunung-gunung, subur dan berhawa sejuk sesuai untuk penanaman kopi. Letaknya yang tidak jauh dari pusat perdagangan ekspor di Batavia menambah keunggulan komparatif Sukabumi dibanding wilayah lainnya. Kopi Sukabumi masih eksis hingga ini hari. Kopi Sukabumi dapat dianggap kopi sepanjang masa.

Persebaran (perkebunan) kopi Pemerintah di Jawa
Tidak semua wilayah di Hindia dijadikan sebagai wilayah penanaman kopi. Sebagian besar kopi di era VOC dan era Pemerintah Hindia Belanda berada di Jawa dan Sumatra. Introduksi kopi dimulai oleh pedagang-pedagang pada era VOC. Aroma kopi yang menggiurkan dari segi harga, Pemerintah Hindia Belanda melestarikan budidaya kopi (koffiecultuur). Pada era Gubenur Jenderal Johannes van den Bosch (1830-1833) program budidaya kopi ini ditingkatkan dengan sistem baru yang mencekik leher yang dikenal sebagai koffiestelsel.

Bagaimana sejarah kopi di Sukabumi? Tentu saja sudah ada yang pernah menulisnya. Namun itu sudah barang tentu tidak cukup. Sebab data sejarah tidak ditemukan sekaligus. Data sejarah muncul (ditemukan) umumnya bersifat random. Upaya penggalian data-data sejarah secara terus menerus (tanpa pernah berhenti) adalah upaya untuk menyempurnakan sejarah itu sendiri. Oleh karena itu, untuk lebih menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.