Sabtu, 31 Oktober 2020

Sejarah Kalimantan (50): Muara Kaman di Sungai Kutai; Kerajaan Kutai Martapura, Kerajaan Mulawarman, Kesultanan Kutai

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kalimantan Timur di blog ini Klik Disini

Muara Kaman? Mungkin agak asing. Kerajaan Mulawarman? Tentu saja sangat familiar. Keduanya adalah satu kesatuan: Kerajaan Mulawarman di Muara Kaman, suatu muara dimana sungai Kaman bermuara di sungai Koetai. Lalu bagaimana dengan Kesultanan Kutai? Adalah suksesi Kerajaan Kutai. Lantas apa itu Martapura? Apakah ada kaitan Martapura di sungai Koetai (Mahakam) dengan Martapura di sungai Bandjarmasin (Barito)? Yang jelas mempelajari sejarah adalah suatu tantangan.

Pada masa ini nama Muara Kaman adalah sebuah kecamatan yang berada di kabupaten Kutai Kartanegara, provinsi Kalimantan Timur. Kabupaten Kutai Kartanegara ibu kota di Tenggarong (kecamatan Tenggarong) dan provinsi Kalimantan Timur di Samaruinda. Jarak dari Samarinda ke arah hulu sungai Mahakam di Tenggarong sekitar 30 Km. Lebih ke hulu lagi dari Tenggarong ke Muara Kaman sekitar 50 Km.

Bagaimana sejarah Muara Kaman sendiri? Nah, itu dia. Yang jelas kurang terinformasikan selama ini. Yang banyak ditulis adalah Kerajaan Kutai Martapura dan Kerajaan Mulawarman di Muara Kaman, Bagaimana sejarah Muara Kaman terbentuk? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya memiliki permulaan dan sejarah sendiri adalah narasi fakta dan data. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Nama Muara Kaman di Sungai Koetai

Nama Kaman sudah barang tentu sudah lama eksis. Namun naman Kaman di daerah aliran sungai Koetai baru terinfornasikan pada tahun 1863 (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 22-08-1863). Disebutkan Senopati yang juga adalah wali kedua dari Soeltan Moeda Koetai, yang ditemani oleh Haji Soleman telah berangkat ke negeri-negeri atas (bovenlanden) untuk menemui para kepala pribumi (dari kesultanan Banjarmasin) yang banyaknya lima orang kepala dan 40 orang pengikutrnya yang telah berada di Moeara Kaman di atas (boven) Tengarong.

Pertemuan ini dalam rangka upaya Residen (Zuid en Oostkust van Borneo yang berkedudukan di Bandjarmasin) untuk rekonsiliasi dan bertemu dengan pangeran-pangeran Banjarmasin. Dalam hal ini Soetan Moeda Koetai dan Haji Solean sebagai mediator. Namun para pangeran ini khawatir datang ke Tenggarong (ibu kota kesultanan Koetai dimana Residen sudah berada) dan lebih memilih untuk bertemu di Moeara Kaman. Hal ini terkait dengan Perang Bandjar yang dimulai tahun 1859. Pangeran Antasari dan pengikutnya terdesak oleh militer Pemerintah Hindia Belanda ke arah hulu hingga Moeara Teweh (menjadi pusat pertahanan terakhir). Dalam hubungan dengan rekonsiliasi dengan anak-anak almarhum Pangeran Antasari ingin berunding di Tenggarong melalui mediasi Soeltan Moeda Koetai. Seperti disebutkan di atas, perundingan dipilih di Moeara Kaman.

Bagaimana Moeara Kaman ditetapkan sebagai tempat perundingan antara Pemerintah Hindia Belanda dengan para pangeran Banjarmasin adalah satu hal. Hal lainnya adalah mengapa tempat itu yang dipilih oleh para pangeran Banjarmasin. Moeara Kaman sendiri berada di wilayah yurisdiksi Kesultanan Koetai di daerah aliran sungai Koetai. Sedangkan wilayah yurisdiksi Kesultanan Bandjarmasin hingga ke Doesoenlanden yang berpusat di Moeara Teweh. Dalam hal ini perundingan antara pihak Kesultanan Bandjarmasin dengan Pemerintah Hindia Belanda berada di wilayah netral di Moeara Kaman (wilayah yurisdiksi Kesultanan Koetai).

Jauh sebelumnya Pemerintah Hindia Belanda sudah melakukan perjanjian-perjanjian (kontrak) dengan Kesultanan Bandjarmasin. Perjanjian dengan Kesultanan Koetai dilakukan pada tahun 1846. Adanya perseisihan di internal Kesultanan Banjarmasin (pasca wafatnya Soeltan Toea) yang kemudian menyebabkan terjadinya perselisihan para Pangeran Antasari dan pengikutnya dengan Pemerintah Hindia Belanda yang akhirnya terjadi perang (Perang Bandjar sejak 1859).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Kerajaan Kutai Martapura, Kerajaan Mulawarman, Kesultanan Kutai

Moeara Kaman adalah muara sungai Kaman di sungai Koetai. Nama Kaman bukanlah nama kuno, nama kuno adalah Koetai sendiri. Seperti halnya di sungai yang mengalir ke pantai selatan (sungai Doesoen atau Banjarmasin), soengai Koetai mengalir dari pedalaman ke arah pantai timur Borneo. Besar dugaan kota terawal di dua muara sungai besar ini adalah Nagara dan Koti pada era Hindoe.

Sebelum kehadiran orang-orang India (Hindoe) di jaman lampau pulau Borneo tidak seperti bentuk pulau Kalimantan yang sekarang. Laut memasuki daratan jauh ke pedalaman (teluk). Oleh karena itu nama-nama tempat kuno Nagara (di selatan), Koti (di timur) dan Tajan (di barat) yang terkesan berada di pedalaman saat ini, tempo doeloe justru berada di pantai (teluk). Menurut ahli-ahli geografi Belanda, nama Kotinagara ditemukan di daerah pengaliran sungai di Kamboja yang sekarang. Penduduk dari wilayah daratan Asia inilah yang kemudian menyebar ke pulau Kalimantan yang menjadi penduduk asli pulau Borneo (Dayak). Dalam era Hindoe, para pendatang membangun pusat perdagangan di muara-muara sungai besar tempat dimana kemudian muncul nama-nama Nagara, Koti dan Tajan.

Koti atau Moeara Kaman diduga tempo doeloe adalah nama tempat yang disebut Koti di muara sungai Kaman (di teluk). Teluk ini kemudian mengalami proses sedimentasi jangka panjang sehingga terbentuk muara sungai baru. Lalu pada era yang berbeda kota kuno ini relokasi ke arah hilir di tempat dimana kemudian terbentuk Samarinda. Koti yang dikenal sebagai Koetai dan berada di hilir Samarinda ini kemudian menjadi kesultanan. Situasi yang memburuk di area muara, pusat kesultanan Koetai ini relokasi ke arah hulu di Tenggarong.

Sebagaimana diketahui kemudian, di wilayah Moeara Kaman ditemukan prasasti kuno, diduga adalah suatu tempat yang penting di masa lampau (era Boedha-Hindoe). Lantas apakah Moeara Kaman ini yang dihopesiskan sebagai kerajaan kuno di pulau Borneo, suattu kerajaan kuno yang berada di pantai?

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar