Selasa, 07 September 2021

Sejarah Makassar (67): Sejarah Zending di Semenanjung Tenggara Sulawesi; Kampong Mowewe 1917, Antara Kolaka dan Kendari

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Makassar dalam blog ini Klik Disini  

Sejarah zending adalah bagian dari sejarah. Kegiatan zending di nusantara (baca: Indonesia) terdapat di berbagai wilayah, terutama pada era Hindia Belanda (bahkan sejak era Portugis dan VOC). Kegiatan zending pertama di wilayah semenanjung tenggara Sulawesi dimulai pada tahun 1917 di kampong Mowewe, suatu kampong di pedalaman antara kota (pelabuhan) Kolaka di pantai barat dan kota (pelabuhan) Kendari dipantai timur. Lantas mengapa dimulai dari kampong Mowewe. Yang jelas pada masa itu kegiatan zending sudah berlangsung lama di wilayah tengah Sulawesi yang berpusat di Poso.

Secara historis kegiatan zending di Hindia Timur dimulai sejak kehadiran orang Eropa. Pada era Portugis, para misionaris datang seiring dengan semakin meluasnya pos-pos perdagangan Portugis. Itu dimulai di Malaka, kemudian meluas di Maluku khususnya Amboina. Kegiatan ini terus meluas ke wilayah Manado (Minahasa dan Sangir) yang terhubung dengan kegiatan misionaris Spanyol di Filipina. Kegiatan misionaris Portugis meluas ke nusa tenggara bermula di Solor dan juga meluas ke Jawa di Banjoewangi. Dengan kahadiran orang-orang Belanda (VOC), kegiatan zending Belanda dimulai, mengikuti kegiatan misi Portugis. Tentu saja diantara mereka muncul persaingan. Pada era Pemerintah Hindia Belanda, kegiatan misionaris (Katolik) dapat dikatakan tidak begitu menonjol lagi di pedalaman (dan mulai intens di kota-kota), sebaliknya muncul persaingan antara zending (Protestan) Belanda dengan kehadiran misionaris Protestan dari Jerman. Setelah gagal di Borneo, misionaris Jerman beralih ke Sumatra dan cukup sukses di Tanah Batak. Keutamaan zending Belanda dalam hal ini karena hubungan dekat para pendeta zending Belanda dengan pejabat-pejabat Pemerintah Hindia Belanda. Pada era Hindia Belanda ini kegiatan zending semakin masif mulai mengisi wilayah-wilayah dimana siar Islam belum menguat (seperti di Silindung dan Toba). Hal serupa dilakukan di Sulawesi seperti di Poso yang kemudian meluas ke wilayah semenanjung tenggara Sulawesi.

Lantas bagaimana sejarah zending di wilayah semenanjung tenggara Sulawesi? Seperti disebut di atas kegiatan zending sudah berlangsug di Sulawesi bagian tengah yang berpusat di Poso dan meluas ke wilayah Toraja. Lalu mengapa kegiatan zending tidak berkembang di selatan dan mengapa kegiatan zending di wilayah semenanjung tenggara Sulawesi dimulai di kampong Mowewe? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Kegiatan Zending di Hindia Belanda: Poso dan Toraja

Hendrik van der Klift (dan istrinya) dari Nederlandsche Zendings Vereeniging (NZV) bekerja di dalam wilayah penduduk Mekongga, Maronene dan Tolaki di semenanjung tenggara Sulawesi (lihat Orgaan der Nederlandsche Zendingsvereeniging, 1919). Hal itu dilakukan setelah NZV gagal di Jawa (bagian barat). Hal serupa itu beberapa dasarwarsa sebelumnya yang dialami oleh misionaris Barmen Jerman di Borneo yang kemudian menemukan jalan ke wilayah pedalaman Tanah Batak (di Silindoeng dengan misionaris terkenal Nommensen). Misionaris van der Klift tampaknya mulai berhasil, Kisah Klift bermula dari 1910.

Hendrik van der Klift dan istrinya ( G van der Klift) menikah pada tanggal 22 Januari 1910 (lihat De courant, 04-01-1910). Anak pertama mereka lahir di Rotterdam (lihat De Maasbode, 04-04-1911). H vd Klift di Rotterdam sebagai zendelingkweekeling. H vd Klift mendapat acte van Godsdienstonderwijzer (lihat De Nederlander, 04-12-1913). NZV mengadakan hari misi ke-54 (lihat Nederlander, 01-04-1915). Dalam pertemuan ini H van der Klift dan HD Woortman diresmikan sebagai misionaris oleh HJ Rooseboom, ketua dewan utama. H vd Klift akan membuka pelatihan di Soerabaja (lihat De Amsterdammer, 17-05-1915). Tampaknya Klift ditempatkan di wilayah Jawa bagian barat namun kurang berhasil. Dalam perkembangannya Dewan Utama NZV memutuskan dalam rapatnya tanggal 19 Juli bahwa H van der Klift untuk pindah ke Sulawesi dan meminta izin dari Pemerintah Hindia Belanda di ZO Sulawesi di wilayah Rumbia dan Poleang serta pulau KabaĆ«na (lihat De standaard, 04-09-1915). Gagasan ini muncul diduga karena himbauan dari Dr N Adriani (1913) yang menyatakan wilayah Sulawesi kekurangan misionaris (merujuk pada laporan Dr J Elbert pada tahun 1911 tentang wilayah tersebut). Oleh karena itu Klift harus kembali ke Rotterdam, H vd Klift dijadwalkan akan ke Sulawesi (Rumbia) tanggal 27 November (lihat De standaard, 04-10-1915). Klift berangkat dari Roterdam dengan kapal ss Ophir menuju Batavia (lihat Scheepvaart, 28-11-1915). Tiba di Batavia tanggal 6 Januari (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 06-01-1916). Tanggal 10 Februari akan diadakan doa di gereja di Batavia sehubungan dengan keberangkatan H vd Klift ke Sulawesi (lihat  Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 05-02-1916).

Hendrik van der Klift lebih dahulu ke Kolaka. H vd Klift melanjutkan dengan berinterkasi dengan penduduk Bingkokas dan Morone. Hal ini dikatakannya dalam suatu ceramah di Bandnng (lihat Preanger-bode, 25-06-1917). Ceramah ini dilakukan tidak lama sepulang dari Sulawesi. Sebelum ke pedalaman, Klift belajar bahasa setempat. H van der Klift dari bandoeng akan kembali ke Sulawesi,

Tunggu deskripsi lengkapnya

Kampong Mowewe: Perkembangan Zending di Semenanjung Tenggara Sulawesi

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar