Jumat, 09 Juni 2017

Sejarah Bogor (9): Raden Saleh, Pelukis Terkenal Makam di Bondongan; Willem Iskander, Guru Terkenal Lahir di Pidoli

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini


Hanya ada dua orang Indonesia (baca: pribumi) di Hindia Belanda yang disebut pionir, yakni: Raden Saleh dan Willem Iskander. Raden Saleh tahun 1836 berangkat ke Eropa untuk belajar seni lukis modern, sedangkan Willem Iskander tahun 1857 berangkat ke Eropa untuk belajar ilmu keguruan.

Batu nisan di makam Raden Saleh di Bondongan (foto 1935)
Raden Saleh kelahiran Semarang, Afdeeling Semarang berangkat studi pada tahun 1836 pada usia 12 tahun. Willem Iskander kelahiran Pidoli, Afdeeling Mandailing berangkat studi pada tahun 1857 pada usia 17 tahun. Perjalanan dari Batavia ke Amsterdam, Belanda saat itu ditempuh cukup lama melalui Afrika Selatan (terusan Suez baru dibuka tahun 1869).Kelak, Raden Saleh bermukim di Buitenzorg dan beristri wanita Buitenzorg. Raden Saleh meninggal di Buitenzorg. Sedangkan Willem Iskander kembali ke Belanda tahun 1874 dengan membawa tiga guru muda: Adi Sasmita dari Preanger, Raden Soerono dari Soerakarta dan Barnas Loebis dari Tapanoeli. Namun dalam masa studi keempat guru tersebut meninggal satu per satu di Belanda. Willem Iskander adalah kakek buyut dari Drh. Anwar Nasoetion di Buitenzorg (ayah dari Prof. Andi Hakim Nasoetion)

Raden Saleh setelah selesai pelajarannya tentang seni lukis di Belanda, tahun 1839 Raden Saleh dilaporkan ikut pameran lukisan di Jerman, Austria, Paris dan Italia (Overijsselsche courant, 29-10-1839), Sejak itu, nama Raden Saleh semakin popular di kalangan para pelukis. Raden Saleh setelah memiliki kesempatan melukis di Eropa dan berpameran di Eropa kembali ke tanah air tahun 1851. Raden Saleh di Menteng membangun villa mewah yang sekaligus galerinya.

Kamis, 08 Juni 2017

Sejarah Bogor (8): Golf di Bogor Tempo Doeloe, Buitenzorgsche Golfclub; Lapangan Golf Rawamangun Diresmikan Tahun 1937

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini


Kota Bogor termasuk salah satu kota terawal di Hindia Belanda (baca: Indonesia) yang menyelenggarakan permainan golf. Beberapa olah raga luar lapangan saat itu, seperti pacuan kuda dan sepakbola sudah lebih awal berkembang. Oleh karena permainan golf sendiri sangat terbatas segmennya, menjadi salah satu alasan mengapa keberadaan golf kurang popular. Meski demikian, permainan golf secara perlahan dan pasti terus berkembang.

Taman Semplak, 1914
Permainan golf kali pertama diperkenalkan pada tahun 1872 di Batavia (lihat Provinciale Geldersche en Nijmeegsche courant, 11-03-1937). Namun kabar berita perkembangannya tidak begitu terdengar cukup lama. Keberadaan permainan golf baru muncul (kembali) ke permukaan pada awal tahun 1900. Ini sehubungan dengan pembentukan klub golf di Batavia yang diberi nama Batavia Golfclub. Lapangan yang digunakan adalah Manggarai course. Batavia Golfclub semakin menunjukkan keberadaannya (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 26-01-1928).

Selain di Batavia, kota-kota lain yang terbilang awal aktif menyelenggarakan permaianan golf, antara lain Soerabaja dan Semarang. Di Kota Bogor, kapan permainan golf diperkenalkan kali pertama tidak diketahui secara pasti. Namun ketika di Bogor diberitakan adanya penyelenggaraan permainan golf, permainan golf di sejumlah kota juga muncul.

Rabu, 07 Juni 2017

Sejarah Bogor (7): Nama Kampung di Bogor Tempo Doeloe; Gemeente Buitenzorg Terdiri Tiga Desa (Paledang, Bondongan, Pasar)

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini


Pada awal pembagian administratif Regentschappen (Kabupaten) Buitenzorg memiliki lima district (kecamatan), yakni: Buitenzorg, Paroeng, Tjibinong, Jassinga dan Tjibaroessa. Pada tahun 1861 (lihat Statistiek der Assiten Residentie Buitenzorg, 1861) Regentschappen Buitenzorg terdiri dari 62 tanah (landerien) dan 1.030 kampong. Jumlah penduduk sebanyak 341.083 jiwa, tidak termasuk  orang Eropa/Belanda sebanyak 759.

District Buitenzorg terdiri dari 12 landerien dengan jumlah kampong sebanyak 262 buah. Jumlah penduduk sebanyak 78.607 jiwa. Jumlah penduduk yang terbilang banyak (di atas 10.000 jiwa) berada di land Tjiawi, Land Tjidjeroek en Srogol, Land Bloeboer dan Land Tjiomas.    

Pemerintah Kota Buitenzorg

Land Bloebor adalah wilayah awal yang menjadi cikal bakal Kota Buitenzorg. Sebagaimana diketahui VOC Hindia Timur digantikan Pemerintah Hindian Belanda 1799 dimana pemerintah membeli tanah-tanah VOC untuk tempat pemerintahan seperti di Batavia dan Buitenzorg. Pada tahun 1800, Land Bloebor dibeli oleh pemerintah dimana land tersebut dijadikan pusat pemerintahan. Sejak itu Land Bloeboer  dianggap wilayah kekuasaan pemerintah dan nama Bloeboer berganti nama menjadi Buitenzorg.

Selasa, 06 Juni 2017

Sejarah Bogor (6): Nama Jalan Di Bogor Tempo Doeloe; Nama Masa Kini, Teranyar Jalan Prof. Dr. H. Andi Hakim Nasoetion

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini


Nama Kota Bogor adalah sesuatu yang baru. Nama Kota Bogor menggantikan nama Kota Buitenzorg baru terjadi pada tahun 1950. Pengumuman nama resmi Kota Bogor disampaikan oleh Menteri Pendidikan, A. Mononutu dalam konferensi pers (lihat De vrije pers: ochtendbulletin, 21-01-1950). Hal ini berbeda dengan Djakarta yang menggantikan nama Batavia, saat Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945 otomatis Batavia berganti menjadi Djakarta. Tidak demikian dengan Buitenzorg.

Nama jalan baru: Andi Hakim Nasoetion (foto asli ayobogor.com)
Nama kota dengan nama Buitenzorg secara resmi dimulai tahun 1810. Hal ini terkait dengan pembelian tanah-tanah partikelir yang dilakukan oleh Gubenur Jenderal Daendels mewakili Pemeribntah Hindia Belanda pada tahun 1810 untuk membentuk Kota Bogor sebagai milik pemerintah. Buitenzorg sendiri sebelum ditetapkan sebagai nama kota adalah nama area. Suatu nama area yang meliputi dari Dermaga hingga Tjiseroa dan dari Kampong Baro hingga Tjidjeroek. Nama area Buitenzorg berasal-usul dengan keberadaan Istana Gubernur Jenderal VOC di Kampong Baro (Kampong masa lampau dimana Istana Bogor yang sekarang berada). Bahasa Belanda, buiten=luar rumah, zorg=tempat peristirahatan.  

Setelah nama resmi Kota Bogor diubah, lalu nama-nama jalan juga diubah. Namun nama-nama jalan yang diubah hanya yang berbau Belanda. Sedangkan nama yang berbau pribumi tetap dipertahankan, seperti nama-nama geografis (nama kampong, nama area dan sebagainya).

Senin, 05 Juni 2017

Sejarah Bogor (5): Potret Warga Buitenzorg Tempo Doeloe; Membandingkan Raut Muka dengan Wajah Kita Warga Bogor Masa Kini

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini


Warga Buitenzorg, siapapun mereka, mari kita coba tengok mereka yang hidup pada satu abad yang lalu. Beberapa potret (foto/lukisan) yang berhasil ditemukan dibuang sayang. Padahal raut muka mereka dapat dibandingkan dengan wajah kita pada masa kini. Dengan demikian potret mereka masih berguna bagi kita.

Wajah wanita Bogor 1868
Mereka yang hidup di Buitenzorg pada satu abad yang lalu bagiakan hidup di surga. Hawa yang sejuk, view sekitar yang alami dan indah, air yang jernih dan menyegarkan tubuh bila mandi. Beras, sayur-sayuran dan hewan ternak yang tidak terkontaminasi racun dalam bahan makanan menjadi sehari-hari mereka. Mata mereka akrab dengan alam, gelap di malam hari, terang di siang hari. Bandingkan dengan kita warga Bogor yang sekarang, kecoa dimana-mana, tikus got juga dimana-mana, air got begitu bau bahkan air kali Ciliwung begitu buruk. Daun-daunan tidak sehijau dulu, air hujan sudah disertai logal berat, panas yang kita rasakan bukan lagi panas matahari tetapi panas polusi. Suara bising 24 jam, makanan dan minuman yang tidak sehat. Pertarungan social yang makin rumit, persahabatan antar tetangga yang sudah lama hilang dan mimpi-mimpi kita yang makin jauh dari harapan. Semua perbedaan itu, apakah membedakan raut muka mereka dengan wajah kita sekarang?

Mereka yang hidup satu abad yang lalu di Buiteanzorg terkesan lebih alami, lebih ayu, lebih bersinar dan lebih tenang dan tidak tergesa-gesa. Foto berikut menggambarkan seorang wanita Buitenzorg yang lebih muda yang dibuat pada tahun 1875 sesuai judul: Portret van een jonge vrouw te Bogor oleh Woodbury & Page / Java, 1875. Wajah wanita muda ini tampak lebih dewasa, bersemangat dan optimis meski usianya masih muda belia. Berbeda dengan wajah tempo doeloe, raut muka kita yang hidup sekarang tampak lebih pucat, sendu, dan pesimis. Lantas apakah kualitas kita telah jauh menurun seiring dengan menurunnya kualitas alam dimana kita hidup sekarang?

Sejarah Bogor (4): Lukisan Pertama Buitenzorg pada Era VOC (1769); Menemukan Surga di Hulu Ciliwung

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini


Suatu tempat di hulu sungai Tjiliwong sudah dilaporkan sejak era Portugis. Tempat tersebut menurut orang-orang yang berada di Sunda Kelapa dikatakan daio atau dayo (dajeuh). Namun dimana posisinya tidak diketahui dengan jelas (lihat Thome Pires, 1534). Dayo ini kemudian diduga sebagai Kerajaan Pakwan-Padjadjaran yang berada diantara persinggungan terdekat dua sungai di pedalaman yang mengalir ke laut Java: sungai Tjiliwong dan sungai Tjisadane. Pakuan-Pajajaran sendiri sempat meminta bantuan kepada Portugis tahun 1521. Kerajaan Pakuan beribukota di Pajajaran menurut laporan Portugis barhasil ditaklukkan Islam dari Banten tahun 1527 (Encyclopedie van Nederlandsch-Indie, DG Stibbe, cs. 1919).  

Istana Buitenzorg, 1834 (pasca gempa 1824)
Selama era Portugis tidak pernah dilaporkan ada orang asing (Eropa) yang penah mengunjungi dayo tersebut. Baru di era Belanda (VOC) sejumlah ekspedisi pernah dilakukan ke dayo Pakwan-Padjadjaran. Belanda memulai koloni di Batavia, 1619. Ekspedisi pertama dilakukan pada tahun 1687 dan disusul ekspedisi kedua (1690). Kemudian beberapa kali ekspedisi dipimpin oleh Abraham van Riebeeck sejak 1703 (lihat DG Stibbe, cs. 1919). Sebagaimana diketahui Abraham van Riebeeck pada tahun 1711 diangkat menjadi Gubernur Jenderal VOC.

Dari berbagai ekspedisi yang telah dilakukan ke Dayo tidak pernah ditemukan hasil visual kunjungan dalam bentuk lukisan. Sebagaimana diketahui, pada era itu, belum ada alat teknik merekam. Satu-satunya cara untuk mendapatkan visual di suatu wilayah ekspedisi baru adalah dengan membuat lukisan. Hasil lukisan-lukisan sejaman, umumnya berupa visual terhadap hal tertentu yang ingin menceritakan apa adanya. Dengan kata lain, lukisan adalah pelukisan suatu objek tertentu secara detail. Lukisan pada masa itu dapat dianggap sebagai data/informasi otentik.