Minggu, 04 Maret 2018

Sejarah Semarang (18): Rawa Pening di Ambarawa dan Kejadian Nyata 1838; Fort Willem I, Benteng Penakluk Perang Jawa

Untuk melihat semua artikel Sejarah Semarang dalam blog ini Klik Disini


Danau Rawa Pening adalah danau pegunungan yang berada di Ambarawa. Kini, danau Rawa Pening menjadi salah satu tujuan wisata di wilayah Semarang. Di sebelah barat dekat danau Rawa Pening terdapat benteng VOC yang disebut Fort Willem I. Pada masa doeloe, rawa besar ini menjadi bagian tak terpisahkan dengan benteng besar ini. Fort Willem I diperkuat pada tahun 1869 sehubungan dengan booming kopi dan beroperasinya jalur kereta api pertama (Semarang-Ambarawa). Namun entah darimana asal muasalnya pada masa kini, adakalanya, Rawa Pening dikaitkan dengan suatu legenda.

Peta 1897: Fort Willem dan Rawa Pening
Danau Rawa Pening luasnya sekitar 2.600 Ha. Ada sebanyak empat kecamatan yang memiliki akses ke danau: Ambarawa, Banyubiru, Bawen dan Tuntang. Danau Rawa Pening berada di cekungan tiga gunung: Merbabu, Telomoyo, dan Ungaran. Menurut sebagian warga setempat, danau Rawa Pening memiliki kisah sendiri (legenda) yang diceritakan secara turun temurun. Peta 1897: Fort Willem dan Rawa Pening

Okelah, legenda Rawa Pening adalah hal lain. Dalam hal ini, sejarah danau Rawa Pening tentu saja tetap menarik perhatian. Tidak hanya karena danau ini memang indah tetapi juga keberadaan benteng Fort Willem I di dekatnya. Benteng ini adalah tulang punggung bagi VOC dan Pemerintah Hindia Belanda dalam Perang Jawa. Bagaimana danau Rawa Pening terbentuk dan mengapa benteng Fort Willem I didirikan perlu ditelusuri. Lantas kejadian apa saja yang pernah terjadi di danau Rawa Pening? Mari kita lacak sumber-sumber otentik pada masa lampau.

Sejarah Semarang (17): ‘Lawang Sewu’, Gedung Hoofdkantoor van de Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij Semarang

Untuk melihat semua artikel Sejarah Semarang dalam blog ini Klik Disini


Salah satu warisan era kolonial Belanda yang terbilang sangat terkenal di Semarang adalah Kantor Perusahaan Kereta Api Pemerintah (Het hoofdkantoor van de Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij). Gedung kantor ini kemudian kerap disebut warga sebagai Gedung Lawang Sewu (gedung berpintu seribu). Gedung ini dibangun bukan karena moda transportasi kereta api pertama dibangun di Semarang, dan juga bukan karena trafik lalu lintas kereta trans-Java yang semakin ramai.

Gedung Lawang Sewu eks Kantor NIS (Foto 1909)
Artikel ini merupakan lanjutan artikel Sejarah Semarang (11): Kereta Api Pertama di Indonesia di Semarang; Interchange Jalan Pos Trans-Java dan Djogjakarta-Semarang; Sejarah kereta api selalu menarik perthatian: Lihat juga: Sejarah Bogor (23): Kereta Api Batavia-Buitenzorg via Depok (1873); Rencana Awal Batavia-Bekasi-Buitenzorg (1864); Sejarah Jakarta (9): Kereta Api Batavia-Buitenzorg Dioperasikan 31 Januari 1873; Tanah Partikelir Berkembang; Trem Listrik Batavia, 1899; Sejarah Kota Depok (13): Penumpang Kereta Api Batavia-Buitenzorg Tahun Pertama (1873); Stasion Depok Ketiga Terbanyak; Sejarah Kota Medan (55): Medan dan Binjai, Kota Kembar; Peran Moda Transportasi Kereta Api Perkebunan di Deli dan Langkat; Sejarah Kota Padang (13): Ombilin dan WH de Greve; Batubara Terbaik Dunia Moda Transportasi Kereta Api dan Kapal Laut.

Lantas apa alasan mengapa gedung mewah tersebut dibangun? Itu pertanyaannya. Secara historis pembangunan moda transportasi selalu dipertimbangkan secara kritis yang tidak jarang menimbulkan perdebatan yang sengit. Pertimbangan tersebut mulai dari penetapan jalur (rute) rel, posisi dimana halte (stasion kecil) dan stasion (stasion besar) dibangun. Yang tak kalah serunya adalah siapa yang membiayai pembangunan dan siapa pula yang mengoperasikannya. Dari semua itu, sumber ketegangan pembangunan moda transportasi kereta api terletak pada aspek keekonomian: Ekspektasi penerimaan/pendapatan harus jauh lebih tinggi dari biaya investasi yang dikeluarkan.  

Jumat, 02 Maret 2018

Sejarah Semarang (16): Sejarah Pendidikan; RA Kartini dan Alimatoe Saadiah; Lahirnya Boedi Oetomo dan Medan Perdamaian

Untuk melihat semua artikel Sejarah Semarang dalam blog ini Klik Disini


Sejarah pendidikan kita adalah sejarah pendidikan nasional di berbagai tempat. Sejarah pendidikan di Semarang tidak terpisahkan dengan sejarah pendidikan di tempat lain. Bahkan hubungan sejarah pendidikan di Semaramg dan sejarah pendidikan di Padang Sidempoean meski jauh berjarak ribuan kilometer tetapi memiliki visi yang sama: Pendidikan adalah untuk semua.

RA Kartini
Salah satu tokoh pendidikan terkenal adalah Raden Adjeng (RA) Kartini. Meski masih muda tetapi RA Kartini sudah memiliki visi yang hebat: emansipasi. Banyak membaca adalah kuncinya. RA Kartini juga mendapat inspirasi dari buku-buku karya Edward Douwes Dekker alias Multatuli. Surat-surat korespondesi dengan teman-temannya di Belanda dibukukan dengan judul Habis Gelap Timbul Terang. Tidak hanya itu, banyak pihak yang mendukung riwayat semangat RA Kartini dengan mendirikan Sekolah Wanita di Semarang tahun 1912 yang juga didukung oleh pemerintah.

RA Kartini adalah tokoh penting, tetapi bukan satu-satunya. Banyak perempuan sebayanya di tempat lain yang melakukan kebajikan yang sama di bidang pendidikan tetapi dengan cara yang berbeda-beda, seperti Dewi Sartika dan Alimatoe Saadiah. Yang menjadi pertanyaan: Bagaimana itu semua terhubung satu sama lain. Menarik untuk diperhatikan. Mari kita lacak.

Rabu, 28 Februari 2018

Sejarah Semarang (15): Lasem di Rembang; Bukan Pecinan Tetapi Tiongkok Kecil Tempo Doeloe, Mengapa? Batik Lasem

Untuk melihat semua artikel Sejarah Semarang dalam blog ini Klik Disini


Pada masa ini Pecinan (China Town) ada dimana-mana. Pada masa tempo doeloe, disebut Tiongkok Kecil hanya di satu tempat yakni di Rembang, tepatnya di Kota Lasem. Kota Lasem tidak hanya terkenal tempo doeloe tetapi juga masih terkenal pada masa ini.

Peta Lasem, 1887
Kota Lasem adalah sebuah kota kecamatan di Kabupaten Rembang. Kota Lasem adalah kota kedua terbesar setelah Kota Rembang. Ketika Kota Lasem disebut Tiongkok Kecil namun tidak semua sepakat dan lebih memilih Kota Pusaka. Pada masa ini, Kota Lasem juga dikenal sebagai Kota Santri. Selain itu, Kota Lasem juga terkenal sebagai kota penghasil batik yang disebut Batik Lasem.

Lantas mengapa Lasem disebut Tingkok Kecil? Itu pertanyaannya. Apakah Tiongkok Kecil pada masa lampau merupakan bentuk lain Pecinan (China Town) pada masa kini. Untuk menjawab pertanyaan ini mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Senin, 12 Februari 2018

Sejarah Kota Medan (60): Sejarah PSMS Sebenarnya; Letterzetter VC, Tapanoeli VC dan SAHATA (Abdul Hakim-Marah Halim)

*Semua artikel Sejarah Kota Medan dalam blog ini Klik Disini. (Artikel 1-56 Klik Disana)


Keliru Hari Lahir PSMS 21 April 1950; Apakah Tanggal 7 Juli 1907?

Baru saja PSMS Medan kalah lagi melawan Persija Jakarta di stadion Manahan Solo dalam semi final (leg-1 dan leg-2) Piala Presiden 2018. Dua pertandingan ini merupakan untuk kesekian kali pertemuan antara PSMS dan Persija sejak kali pertama bertemu tahun 1952 di stadion Ikada Djakarta. Dalam catatan (rekor) pertemuan antar dua tim legendaris ini sepanjang masa (life tme) jumlah kemenangan Persija jauh lebih unggul dibandingkan jumlah kemenangan PSMS. Hasil imbang (draw) antar dua tim (yang tergolong rivalitas) terbilang tinggi (bahkan terbanyak di Indonesia).

Stadion Teladan 'Abdul Hakim Harahap' Medan, 1953
Meski PSMS kalah dua kali dalam selang waktu dua hari, PSMS masih berkesempatan untuk melakukan pertandingan perebutan tempat ketiga melawan salah satu tim yang kalah pada partai semi final yang lain (antara Bali United FC vs Sriwijaya FC). Perebutan juara (Persija) dan perebutan juara ketiga (PSMS) akan dilangsungkan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada hari Sabtu, 17 Februari 2018. Kita tunggu saja.

Bukan itu yang akan dideskripsikan dalam artikel ini. Pertanyaan yang akan diajukan adalah kapan PSMS didirikan? Disebutkan bahwa PSMS berdiri tanggal 21 April 1950. Klaim ini tampaknya sangat diragukan dan tidak berdasar.Hal ini diperparah, ternyata sejarah PSMS tidak pernah ditulis. Artikel ini mendeskripsikan riwayat PSMS yang sebenarnya berdasarkan sumber-sumber primer tempo doeloe. Penulisan sejarah PSMS ini (di era milenial zaman now) dianggap penting karena PSMS sudah dianggap para gibol Indonesia sebagai klub/tim/perserikatan yang tergolong legendaris. Semua ingin tahu bagaimana sejarah PSMS bisa eksis hingga ini hari.

Minggu, 04 Februari 2018

Sejarah Jakarta (21): Rekor Pertemuan Tim Persija vs PSMS dan Pertandingan Klasik; Memori 26 Desember 1954 di Stadion Ikada

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini


Baru saja Persija Jakarta mengalahkan lawannya dengan skor 3-1 dalam perempat final (8 Besar) turnamen Piala Presiden 2018. Dengan kemenangan ini, Persija Jakarta menantang PSMS Medan di partai semi final. PSMS Medan sehari sebelumnya berhasil mengalahkan Persebaya Surabaya. Tiga kesebelasan ini mengingatkan kembali dengan nama-nama tim kesebelasan legandaris di era sepakbola perserikatan. Pertandingan Persija Jakarta vs PSMS akan ditunggu para gibol dengan sangat antusias, karena pertemuan PSMS dengan Persija masuk dalam label El Clasico di sepak bola Indonesia.

Stadion IKADA  Djakarta 1955
Dalam partai semi final Piala Presiden 2018 menggunakan format pertandingan home (leg-1) dan away (leg-2). Format ini pernah diterapkan pada Kejuaraan Antar Perserikatan pada tahun 1967 yang diselenggarakan di Stadion Utama Senayan. Namun kini, PSMS pada leg pertama menjadi tuan rumah dan pada leg-2 Persija menjadi tuan rumah. Masalahnya, Stadion Teladan Medan (yang dibangun 1952) proses renovasinya belum selesai, sementara Stadion Gelora Bung Karno Senayan baru saja selesai direnovasi dan Persija menginngikan menjadi laga kandangnya melawan PSMS. Anehnya, PSMS yang notabene tidak memiliki stadion bersedia memilih kandang di kandang Persija. Jika ini yang terjadi maka akan teringat memori tahun 1967

Disebut pertandingan El Clasico, pertemuan antara Persija dan PSMS sudah terjadi sejak tempo doeloe dan telah dilakukan untuk yang kesekian kali. Pertandingan PSMS vs Persija kali ini akan merecall kembali memori kejadian 26 Desember 1954 di Stadion Ikada Jakarta. Pertandingan ini adalah pertemuan kali kedua antara tim Persija dan PSMS. Pertandingan ini juga merupakan pertandingan terakhir dalam partai 6 Besar Kejuaraan Antar Perserikatan 1953/1954 (partai menentukan untuk mnjadi juara: Persija atau PSMS).