Sabtu, 15 Juni 2019

Sejarah Jakarta (57): Sejarah Pasar Jumat di Land Simplicitas (Pondok Laboe dan Lebak Boeloes); Pusat Perdagangan di Westernweg


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Pasar Simplicitas sudah eksis pada tahun 1834 (lihat Almanak 1834). Pasar ini berada di sisi barat land Ragoenan dan di utara land Tjinere. Pasar Simplicitas ini berada di jalur jalan sisi barat (westerweg). Ke arah selatan menuju Parong hingga ke Buitenzorg. Ke arah utara bercabang dua yang mana sisi barat menuju Kebajoran, Palmerah hingga Pasar Tanah Abang dan sisi timut melewati Bangka terus ke Mampang Prapatan lalu ke Karet dan berakhir di Pasar Tanah Abang. Pasar Simplicitas ini kelak disebut Pasar Pondok Laboe.

Landhuis Simplicitas, 1880
Pondok Labu pada masa ini adalah nama kelurahan di kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan. Kelurahan Pondok Labu di sebelah timur berbatasan dengan kelurahan Cilandak Timur; di sebelah utara berbatasan dengan kelurahan Cilandak Barat; di sebelah barat berbatasan dengan kelurahan Lebak Bulus; di sebelah selatan berbatasan dengan kelurahan Pangkalan Jati dan kelurahan Pangkalan Jati Baru, kecamatan Cinetre, Kota Depok.

Sejauh ini, sejarah Pondok Labu kurang tergali dengan baik. Padahal Pondok Labu dengan nama lama Pasar Simplicitas sudah sejak masa lampau diketahui keberadaannya. Untuk menambah pengetahuan kita, upaya pendokumentasian sejarah Pondok Labu perlu dilakukan. Mungkin tidak terlalu penting, tetapi dengan menganggap demikian maka tidak akan pernah diketahui apa yang pernah terjadi di kelurahan Pondok Labu pada masa lampau. Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Rabu, 12 Juni 2019

Sejarah Jakarta (56): Sejarah Kebagusan dan Presiden Megawati; Keburukan di Land Ragoenan Picu Demo ke Balai Kota, 1917


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Putri Presiden Soekarno, Presiden Megawati Sukarnoputri tinggal di kelurahan Kebagusan.Itu bagus, karena lingkungannya masih bagus. Tetangga terdekat kelurahan Kebagusan cukup banyak, yaitu: kelurahan Ragunan, Tanjung Barat, Lenteng Agung, Pasar Minggu, Jati Padang dan Jagakarsa. Tujuh kelurahan ini ketika masih kampong pada tempo doeloe terhubung satu sama lain. Itu kebagusan yang lain. Seperti kata orang tempo doeloe, tempat itu tanah kebagusan (tanah kebaikan; bukan tanah bagus).

Kampong Kebagoesan (PEditeta 1901)
Pada masa ini kelurahan Kebagusan, Ragunan, Pasar Minggu dan Jati Padang berada di kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Pada tahun 1990 enam kelurahan di kecamatan Pasar Minggu dipisahkan dan kemudian disatukan membentuk kecamatan Jagakarsa (diantaranya kelurahan Tanjung Barat, Jagakarsa dan Lenteng Agung). Kelurahan Kebagusan sendiri ditingkatkan statusnya dari desa menjadi kelurahan pada tahun 1986. Jauh di masa lampau pada tahun 1930 kampong-kampong yang berdekatan disatukan menjadi satu administrasi desa dengan nama desa Kebagoesan (termasuk kampong Kebagoesan dan kampong Wates).       

Lantas bagaimana sejarah (kelurahan) Kebagoesan? Itu bermula dari sebuah kampong bernama Kebagoesan yang berada di land Tandjong West, bukan di land Ragoenan (meski land Ragoenan lebih dahulu terbentuk daripada land Tandjong West. Land Tandjoeng West beberapa kali dimekarkan dan yang terakhir terbentuknya land Kebagoesan. Sedangkan land Ragoenan sejak awal tidak pernah dimekarkan, hanya segitu-gitu saja. Pemilik terakhir land Ragoenan adalah Lie Hin Pang. Ketika dia mencoba menaikkan sewa tanah, penduduk penggarap (penyewa) demo ke Balai Kota (Stadhuis). Itu salah satu keburukan yang terjadi di land Ragoenan. Akhirnya, demi kebagusan semua pihak. Pemerintah membeli land Ragoenan dari Lie Hin Pang, lalu kemudian disewakan kepada penduduk. Itulah mengapa, tanah Ragoenan adalah milik pemerintah.

Selasa, 11 Juni 2019

Sejarah Jakarta (55): Daftar Nama Jalan di Jakarta Tempo Dulu; Nama Jalan, Lapangan dan Taman Diubah Pada Era NKRI, 1950


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Nama jalan tempo doeloe di Jakarta adalah jalan lama. Nama-nama jalan tersebut yang berbau Belanda dan Tionghoa telah diubah. Perubahan nama jalan itu dilakukan pasca pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda. Namun nama-nama jalan lama yang bersifat umum tetap dipertahankan hingga sekarang, seperti nama tempat, nama pulau, nama gunung dan sebagainya. Jalan-jalan yang belum ada namanya atau jalan yang dibangun baru setelah tahun 1950 diberinama sesuai Indonesia seperti jalan MH Thamrin, jalan Sudirman dan jalan Sisingamangaraja.

Nama jalan tempoe doeloe di Jakarta (Peta 1937)
Penamaan nama jalan di wilayah perkotaan (urban) pada era Hindia Belanda dilakukan dengan peraturan pemerintah. Wilayah kota, seperti Batavia nama jalan ditetapkan oleh keputusan Wali Kota (Burgemeester). Nama-nama jalan lama yang sudah ada namanya dan eksis sejak lampau diratifikasi, sedangkan jalan yang belum ada namanya atau jalan yang baru dibangun diberi nama sesuai keputusan pemerintah. Perubahan-perubahan nama jalan (pergantian nama) juga dilakukan berdasarkan keputusan pemerintah.

Jumlah nama jalan di Batavia hingga berakhirnya era kolonial Belanda sebanyak 473 buah (lihat lampiran di bawah). Jumlah ini semakin bertambah seiring dengan pembangunan jalan baru atau perubahan status jalan dari jalan pribadi menjadi jalan umum. Dalam penamaan jalan ini dibedakan antara satu jalan dengan jalan lainnya berdasarkan kategori dan fungsi (boulevard, straat, laan, weg, gang).

Minggu, 09 Juni 2019

Sejarah Jakarta (54): Sejarah Kuningan dan Presiden BJ Habibie; Keluarga Habibie dan Sejarah Pribumi Studi ke Eropa Sejak1857


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

BJ Habibie adalah seorang pendidik. Ayahnya, A Habibie juga seorang pendidik. Like father, like son. BJ Habibie adalah seorang terdidik, yang pertama mendidiknya adalah ayahnya, A Habibie. Karena pendidikan yang baiklah, BJ Habibie berhasil hingga ke perguruan tinggi dan meraih gelar doktor (Ph.D). Tidak itu, saja BJ Habibie pernah menjadi Presiden Republik Indonesia. Kini, BJ Habibie tinggal di Kuningan: Wisma Habibie dan Ainun.

Rumah BJ Habibie dan Kali Tjideng (Peta 1897)
Rumah Presiden BJ Habibie beralamat di jalan Patra Kuningan XIII, Kelurahan Kuningan Timur, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan. Rumah BJ Habibie di Jalan Patra Kuningan XIII menghadap ke selatan; di sebelah utara rumah adalah jalan Patra Kuningan XIV; di sebelah barat adalah jalan Taman Patra Kuningan; dan di sebelah timur adalah kali (sungai) Cideng. Kawasan perumahan mewah ini tempo doeloe adalah persawahan di daerah aliran sungai (DAS) Tjideng di kampong Doekoe,. 

Bukti kedekatan BJ Habibie dengan pendidikan, di rumahnya di kelurahan Kuningan Timur, Kecamatan Setiabudi terdapat The Habibie and Ainun Library. Nama Setiabudi dalam hal ini juga dapat dihubungkan dengan seorang pendidik Dr. EFE Douwes Dekker alias Dr. Setiabudi, seorang pejuang kemerdekaan pendiri lembaga pendidikan Ksatrian Instituut. Lantas bagaimana itu semua terhubung? Pertanyaan ini semua barasal dari sejarah pelajar pribumi berangkat studi ke Eropa. Mari kta lacak sumber-sumber tempo doeloe.

Kamis, 06 Juni 2019

Sejarah Jakarta (53): Sejarah Ciganjur dan Presiden Gusdur; Ragoenan dan Setoe Babakan di Djagakarsa, Tandjong West


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Sejarah Ciganjur (Tjigandjoer) tidak berdiri sendiri. Sejarah Ciganjur terkait dengan keberadaan Ragoenan dan setoe Babakan. Pada era kolonial Belanda, di land Ragoenan dibangun kebun pertanian (holtikultura) pertama di Hindia Belanda dan di setoe Babakan dibangun kanal yang airnya dialirkan ke land Tandjong West untuk mengairi persawahan. Air kanal ini juga diteruskan hingga jauh ke kampong Pagangsaan di Batavia. Di kampong Tjigandjoer didirikan sekolah pelatihan hortikultura.

Peta 1901: Kecamatan Jagakarsa (Ciganjur, Cipedak, Serengseng)
Sejarah Ciganjur bermula dari kampong Tjigandjoer. Kampong ini berada di land Tandjong West. Dalam perkembangannya di land Tandjong West dibentuk land baru yang disebut land Djagakarsa. Kampong Tjigandjoer berada di land Djagakarsa. Lalu kemudian dua land ini digabung menjadi land Tandjong West en Djagakarsa.

Nama Ciganjur pada masa kini mulai dikenal secara luas ketika Abdurrahman Wahid alias Gusdur menetap di Ciganjur dan semakin terkenal lagi setelah Gusdur menjadi Presiden RI. Hingga masa ini, Ciganjur nyaris identik dengan Ciganjur. Ada apa di Ciganjur? Ada rumah Gusdur disitu. Itulah sejarah terakhir di Ciganjur. Lantas bagaimana dengan sejarah awal di Tjigandjoer? Itulah yang ingin kita telusuri ke masa lampau. Tentu saja berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe yang dapat ditelusuri.

Minggu, 02 Juni 2019

Sejarah Jakarta (52): Sejarah Cikeas dan Presiden SBY; Kanal Irigasi Oosterslokkan, Kampong Tjikeas-Nagrak di Sungai Tjikeas


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Nama Cikeas (Tjikeas) pada msa kini menjadi sangat populer, karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mantan Presiden RI dan keluarga beberapa tahun lalu telah membangun sebuah puri (rumah) tidak jauh di sisi timur sungai Cikeas.di bilangan kawasan Perumahan Cibubur. Kehadiran Puri Cikeas, membuat nama Cikeas meroket. Posisi GPS tempo doeloe adalah kampong Tjikeas Nagrak yang telah bertransformasi dari sebuah kampong kecil menjadi nama sebuah kawasan pemukiman yang elite, asri dan hijau. Keluarga SBY bermukim disitu.

Tjikeas Doeloe (Peta 1901) dan Cikeas Now (googlemap)
Pada hari kemarin Ibu Ani, Ibu Negara, istri mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah meninggal dunia di Singapura dan disemayamkan di Puri Cikeas. Pada hari ini almarhum Ibu Ani dikebumikan di TMP Kalibata, Jakarta. Nama Ibu Ani meninggalkan banyak kesan baik, apakah diantara anggota keluarga maupun sahabat. Cikeas dan Nagrak juga kehilangan Ibu Ani. Selamat jalan Ibu Ani, semoga diterima di sisi-Nya.

Lantas bagaimana dengan sejarah Cikeas sendiri?  Nama Cikeas bukanlah baru. Nama (sungai) Tjikeas sudah dikenal sejak tempo doeloe, sebagai bagian dari pembangunan sistem irigasi (kanal) di era Gubernur Jenderal van Imhoff (1743-1750). Di sisi timur sungai Tjikeas terdapat kampong Tjikeas Nagrak (lihat Peta 1901). Lalu seperti apa sejarah lengkap sungai Tjikeas dan kampong Tjikeas Nagrak? Itulah pertanyaan yang ingin dijawab. Untuk itu, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.