Minggu, 09 Juni 2019

Sejarah Jakarta (54): Sejarah Kuningan dan Presiden BJ Habibie; Keluarga Habibie dan Sejarah Pribumi Studi ke Eropa Sejak1857


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

BJ Habibie adalah seorang pendidik. Ayahnya, A Habibie juga seorang pendidik. Like father, like son. BJ Habibie adalah seorang terdidik, yang pertama mendidiknya adalah ayahnya, A Habibie. Karena pendidikan yang baiklah, BJ Habibie berhasil hingga ke perguruan tinggi dan meraih gelar doktor (Ph.D). Tidak itu, saja BJ Habibie pernah menjadi Presiden Republik Indonesia. Kini, BJ Habibie tinggal di Kuningan: Wisma Habibie dan Ainun.

Rumah BJ Habibie dan Kali Tjideng (Peta 1897)
Rumah Presiden BJ Habibie beralamat di jalan Patra Kuningan XIII, Kelurahan Kuningan Timur, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan. Rumah BJ Habibie di Jalan Patra Kuningan XIII menghadap ke selatan; di sebelah utara rumah adalah jalan Patra Kuningan XIV; di sebelah barat adalah jalan Taman Patra Kuningan; dan di sebelah timur adalah kali (sungai) Cideng. Kawasan perumahan mewah ini tempo doeloe adalah persawahan di daerah aliran sungai (DAS) Tjideng di kampong Doekoe,. 

Bukti kedekatan BJ Habibie dengan pendidikan, di rumahnya di kelurahan Kuningan Timur, Kecamatan Setiabudi terdapat The Habibie and Ainun Library. Nama Setiabudi dalam hal ini juga dapat dihubungkan dengan seorang pendidik Dr. EFE Douwes Dekker alias Dr. Setiabudi, seorang pejuang kemerdekaan pendiri lembaga pendidikan Ksatrian Instituut. Lantas bagaimana itu semua terhubung? Pertanyaan ini semua barasal dari sejarah pelajar pribumi berangkat studi ke Eropa. Mari kta lacak sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Keluarga Habibie: Untold story

Keluarga Habibie bermula di Gorontalo. Itu setelah A Habibie lulus HIS di Gorontalo melanjutkan studi MULO ke Tondano. A Habibie lulus (afdeeling) MULO di AMS Tondano pada bulan Mei 1925 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 25-05-1925). A Habibie yang nama lengkapnya Alwi Abdoel Djalil Habibie, kelak dikenal sebagai ayah dari Presiden Indonesia ke-3 BJ Habibie. Keluarga Habibie diduga kuat berasal dari Atjeh.

Het nieuws van den dag voor NI, 07-12-1905
Nama Habibie ditemukan di banyak bangsa (nation) yakni di Jordania, Persia, Marokko dan Palestina. Selain itu, juga ditemukan di Nederlandsche Indie (baca: Hindia Belanda atau Indonesia). Pemberitaan nama Habibie di Hindia Belanda tidak banyak tetapi saling terhubung, Selain diberitakan di Noord Celebes (kini Sulawesi Utara/Gorontolo) juga diberitakan di Atjeh di kerajaan Seuneuam (kini Kabupaten Naga Raya). Besar dugaan secara morfologis Nagan berasal dari Seuneuam dan secara geografis keluarga Habibie menyebar dari Atjeh.

Pada tahun 1905 Kapitein Boreel antara tanggal 11 hingga 27 November di Boven Teunom (kini di kabupaten Aceh Jaya) menangkap lima musuh dan seorang wanita serta barang rampasan. Di sekitar Seuneuam Habibie di Meulaboh didapat sebanyak 22 senjata achterlader dan menangkap pimpinan T Moeda Mat Said dan empat pengikutnya serta empat buah senjata voorlader (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 07-12-1905). Saat itu adalah perang Atjeh (kedua). Singkat kata: pemimpin dan pengikut perlawanan inilah yang dibuang ke Gorontalo. Besar dugaan, Teuku Moeda Mat Said dari Seuneuam Habibie adalah kakek dari BJ Habibie. Meski ini masih bersifat dugaan, tetapi bukti-bukti mengarah ke situ.

Setelah lulus MULO (setingkat SMP sekarang), A Habibie melanjutkan studi ke Buitenzorg (kini Bogor) di Middelbare Landbouwschool. Pada tahun pertamanya, A Habibie cukup sukses dan berhasil lulus ujian naik ke kelas dua (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 23-05-1926). Sekolah pertanian ini lamanya tiga tahun. Siswa yang diterima dari semua kalangan Eropa/Belanda, Tionghoa, Arab dan pribumi. Pada tahun 1927 A Habibie naik ke kelas tiga (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 23-05-1927). Pada tahun 1928 dinyatakan lulus di Middelbare Landbouwschool yang mana namanya dicatat sebagai AA Habibie (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 19-05-1928). 

Pada tahun 1912 Landbouwschool di Buitenzorg ditingkatkan kurikulumnya dan mengubah namanya menjadi Middelbare Landbouwschool. Lulusan pertama Middelbare Landbouwschool pada tahun 1914 adalah Abdul Azis Nasution. Kelak diketahui pada tahun 1931 Abdul Azis Nasution gelar Soetan Kenaikan mendirikan sekolah pertanian di Loeboeksikaping, Pasaman. Lulusan terkenal lainnya dari Middelbare Landbouwschool.ini adalah Djohan Nasution (lulus 1922). Djohan Nasution adalah ayah dari Prof. Dr. Ir. Lutfi Ibrahim Nasution (ahli tanah guru besar IPB dan pernah menjadi ketua BPN RI 2001-2005).

Di Buitenzorg juga terdapat sekolah kedokteran hewan (Veartsenschool). Sekolah kedokteran ini dibuka tahun 1907. Lulusan pertama angkatan 1907 adalah Sorip Tagor (lulus tahun 1911). Sorip Tagor kemudian diangkat menjadi asisten dosen di Veeartsenschool. Pada tahun 1914 Sorip Tagor melanjutkan studi kedokteran ke Belanda dan lulus tahun 1920. Dr. Sorip Tagor adalah dokter hewan pertama pribumi berlisensi Eropa. Dr. Sorip Tagor Harahap, kelahiran Padang Sidempoean yang beristrikan gadis cantik dari Meulaboh, kelak dikenal sebagai ompung (kakek) dari Inez Tagor, Risty Tagor dan Deasy Astriani Tagor (istri Setya Novanto). Lulusan Veartsenschool terkenal lainnya adalah Anwar Nasution (lulus 1930). Dr. Anwar Nasution adalah ayah dari Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasution (ahli statistik guru besar IPB pernah menjadi Rektor IPB 1978-1987).
.
Setelah lulus dari Middelbare Landbouwschool di Buitenzorg pada tahun 1928, A Habibie diangkat sebagai konsultan pertanian dan tinggal di Buitenzorg. Saudara A Habibie juga ada yang tinggal di Malang sebagai pegawai pemerintah. Saudara A Habibie lainnya kuliah di Veartsenschool di Buitebnzorg yang baru naik ke tingka dua (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 23-05-1930).

Pada tahun 1931 keluarga Habibie melakukan perjalanan ke Medan. Dalam manifest kapal Of Ten Noort, nama Habibie dicatat dengan istri dan empat anggota keluarga dari Batavia menuju Medan (lihat De Sumatra post, 28-01-1931). Besar dugaan keluarga Habibie ini diduga kuat akan melanjutkan perjalanan ke Meulaboh di bagian barat daya Atjeh (tidak terlalu jauh dari Medan). Boleh jadi ini kesempatan T Moeda Mat Said, ayah A Habibie untuk kali pertama pulang kampong setelah diinternir militer Belanda ke Celebes pasca Perang Atjeh (1905).  

A Habibie di Buitenzorg tampaknya menyukai olahraga tennis. Dalam suatu kompetisi kota A Habibie termasuk yang berpartisipasi (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 04-04-1931). Namun tidak lama kemudian A Habibie diketahui mengajar di sekolah HIS Simpang Tiga (Soerabaja).

Besar dugaan A Habibie menikah di Soerabaja. Berdasarkan informasi dari sumber lain, istri A Habibie adalah Toeti Saptorini anak dari Poespowardjo, sekolah dii HBS. Siswa yang tercatat di HBS Soerabaha ada yang bernama Toeti (lihat  De Indische courant, 24-04-1931). Nama Poespowardjo tahun ini tercatat sebagai anggota dewa kota (gemeenteraad) di Madioen (lihat Soerabaijasch handelsblad, 06-02-1931). Jika informasi ini tepat, istri A Habibie adalah seorang perempuan terpelajar dan anak seorang pejabat.

Beslit A Habibie kemudian terbit dan diangkat sebagai guru (onderwijzer) sekolah HIS pemerintah di Simpang Tiga (lihat De Sumatra post, 14-07-1931). Setelah pengangkatan ini, A Habibie segera dipindahkan ke Perbaoengan, Serdang, Oostkust Sumatra (Sumatra Timur) sebagai guru sekolah HIS.

Pada saat itu guru HIS sangat dibutuhkan dalam jumlah banyak. Besar dugaan karena lowongan ini terbuka, A Habibie menjadin guru HIS di Simpang Tiga. Sekolah HIS dimulai tahun 1914 untuk menggantikan sekolah ELS (sekolah dasar Eropa) bagi anak pribumi. Pada tahun 1929 dibentuk badan/komisi sekolah HIS di Batavia. Satu orang pribumi yang menjadi anggotanya adalah Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia yang saat itu merangkap sebagai anggota Volksraad. Soetan Goenoeng Meolia setelah lulus sarjana pendidikan di Belanda, tahun 1920 diangkat sebagai kepala sekolah HIS yang baru di Kotanopan. Dalam perkembangannya Soetan Goenoeng Moelia diangkat menjadi anggota Volksraad dari golongan pendidikan yang juga merangkap sebagai direktur sekolah guru Normaal School di Meester Cornelis (kini Jatinegara). Pada tahun 1930 Soetan Goeneong Moelia kembali studi ke Belanda untuk melanjutkan studi doktoral/ Soetan Goenoeng Moelia berhasil meraih gelar doktor (Ph.D) pada tahun 1933. Soetan Goenoeng Moelia adalah pribumi pertama bergelar Ph.D di bidang pendidikan. Kelak, Soetan Goenoeng Meolia diangkat Presiden Soekarno sebagai Menteri Pendidikan yang kedua (menggantikan Ki Hadjar Dewantara). Soetan Goenoeng Moelia adalah saudara sepupu dari Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin Harahap.

Di Perbaoengan, bakat lain dari A Habibie muncul sebagai pemain sepakbola handal. Pada pembentukan klub sepakbola Perbaoengan (Perbaoengan Sport Vereeniging), A Habibie menjadi pengurus sebagai manajer infrastruktur dan perlengkapan (lihat De Sumatra post, 25-07-1932).

Berdasarkan informasi sumber lain, A Habibie yang nama lengkapnya Alwi Abdul Jalil Habibie lahir di Gorontalo tanggal 17 Agustus 1908. Pada saat pengurus sepakbola di Perbaoengan ini, A Habibie berumur 24 tahun. Pada tahun yang sama (1932) di Medan didirikan klub Sahata yang dipimpin oleh Abdul Hakim Harahap dan Dr. Djabangoen Harahap.

De Sumatra post, 25-07-1932
Dr. Djabangoen Harahap adalah alumni STOVIA di Batavia. Dr. Djabangoen Harahap adalag kepala divisi penyakit kusta di rumah sakit kota di Medan. Sedangkan Abdul Hakim Harahap adalah alumni sekolah elit di Batavia, HBS Afdeeling-A Prins Hendrik School (di sekolah ini juga lulus Mohamad Hatta dan Sumitro Djojohadikoesoemo). Setelah lulus HBS, Abdul Hakim mengikuti kursus ekonomi dua tahun dan lulus tahun 1927 dan ditempatkan di Medan sebagai pejabat di bean dan cukai. Pada tahun 1930 Abdul Hakim Harahap terpilih sebagai anggota dewan kota (gemeenteraad) Medan. Pada tahun 1938 sampai dengan 1942 Abdul Hakim Harahap adalah kepala bidang ekonomi Kementerian Ekonomi di Groote Indie (Indonesia Timur) yang berkedudukan di Makassar. Pada era perang kemerdekaan Abdul Hakim Harahap adalah Residen Tapanoeli, dan pada era RIS (1950) sebagai Wakil Perdana Menteri RI di Jogjakarta. Pada 1951 Abdul Hakim Harahap diangkat menjadi Gubernur Sumatra Utara (yang pertama setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda).   

Setelah cukup lama di Perbaoengan Sumatra Timur, A Habibie dipindahkan ke sekolah HIS di Pare-Pare, Celebes. Pada saat itu pegawai pemerintah (terutama guru dan dokter) kerap dimutasi untuk mengikuti perkembangan situasi dan kondisi daerah di berbagai wilayah di Hindia Belanda.

De Sumatra post, 20-07-1939
Berdasarkan informasi sumber lain, BJ Habibie lahir di Parepare tanggal 25 Juni 1936. Itu berarti ayahnya BJ Habibie dipindahkan dari Perbaoengan, Sumatra Timur paling tidak sebelum tahun 1936.

Namun tidak lama kemudian A Habibie dipindahkan kembali. A Habibie dipindahkan ke Simpang Tiga (Soerabaja). Di duga perpindahan ini terjadi setelah tahun 1936. Ini berarti A Habibie kembali ke sekolah lamanya di Simpang, Soerabaja. Pada tahun 1939 A Habibie dipindahkan kembali dari Simpang Tiga, Soerabaj ke Gorontalo, Celebes (lihat De Sumatra post, 20-07-1939). Bersamaan dengan beslit mutasi A Habibie ini, ES Siagian di Medan diangkat sebagai guru HIS pemerintah di Tapaktoean. Tampaknya ES Siagian akan mengikuti jejak A Habibie. ES Siagian kebetulan langsung ditempatkan di kampong halaman A Habibie di Atjeh barat daya (Tapaktoean).

A Habibie tampaknya tidak lama sebagai guru HIS di tempat kelahirannya di Gorontalo. Namun boleh jadi A Habibie tetap mengajar di Gorontalo tetapi (keluarga) bertempat tinggal di Pare-Pare. Hal ini karena istri A Habibie diberitakan mengajar sebagai guru PAUD (Frobelschool) di Pare-Pare (lihat De Indische courant, 27-11-1941).    

Setelah pendudukan Jepang (1942) tidak diketahui kabar berita keluarga Habibie. Hal serupa juga terjadi pada keluarga-keluarga lainnya. Pendudukan militer Jepang berakhir tahun 1945 dan menyusul proklamasi kemerdekaan Indonesia. Namun tidak lama kemudia, ketika militer sekutu/Inggris melakukan pelucutan senjata militer Jepang dan pembebasan interniran Eropa/Belanda, kerajaan Belanda membentuk pemerintahan Belanda/NICA. Pada masa perang kemerdekaan (melawan Belanda) ini berita tentang keluarga Habibie mulai terdeteksi.

Pada era perang kemerdekaan ini, di sejumlah wilayah oleh Belanda/NICA membentuk negara federal (negara boneka). Selain di Batavia, di Sumatra Timur dan Preanger (Bandoeng) juga dibentuk negara federal. Di Groote Indonesia (Indonesia) juga dibentuk negara federal Indonesia Timur yang berkedudukan di Makassar.

Dalam pembentukan negara federal Indonesia Timur, A Habibie diangkat sebagai Konsultan Pertanian di Makassar.Nama A Habibie (dicatat AA Habibie) menjadi penting karena saat pembentukan Dewan Beras Internasional di Bangkok, sebuah unit dari Organisasi Pertanian Pangan (FAO) PBB, AA Habibie termasuk salah satu anggota delegasi Indonesia (Belanda/NICA) ke Bangkok  (lihat Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 22-02-1949).

Pada saat pengakuan Indonesia oleh Belanda (25 Desember 1949) dengan membentuk negara federal (RIS) keluarga Habibie masih berada di Makassar. Ini terindikasi dari berita pengangkatan AA Habibie sebagai kepala Dinas Pertanian Indonesia Timur di Makassar. Namun tidak lama kemudian, pada tahun 1950 AA Habibie meninggal dunia. BJ Habibie dan saudaranya kehilangan ayah yang pintar dan baik.

Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 10-01-1950: ‘Dengan keputusan Menteri Urusan Ekonomi Indonesia Timur (Minister van Economische Zaken van Oost Inonesie), AA Habibie ditunjuk sebagai: kepala Dinas Pertanian Negara Indonesia Timur (hoofd van de Negaradienst voor de Landbouw van Oost Indonesie terhitung mulai 15 November 1949.

Berdasarkan informasi sumber lain AA Habibie meninggal dunia di Makassar tanggal 3 September 1950. Ini setelah pengangkatan AA Habibie sebagai kepala Dinas Pertanian Indonesia Timur dan dibubarkannya RIS secara resmi pada tanggal 18 Agustus 1950. AA Habibie meninggalkan seorang istri dan delapan orang anak. BJ Habibie adalah anak yang keempat.

Setelah meninggalnya sang ayah, keluarga BJ Habibie diduga pindah langsung ke Bandoeng. Ini terindikasi adanya kabar berita keluarga BJ Habibie bahwa AK Habibie (Winny) menikah di Bandoeng dengan Mr. Soegondo (lihat Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode, 18-08-1952). Alwini Karsoem alias Winny adalah kakak perempuan dari BJ Habibie alias Rudy. Sementara BJ Habibie di Bandoeng, setelah lulus sekolah menengah, pada tahun 1954 diterima di Fakultas Teknik di Bandoeng (bagian dari Universitas Indonesia)

Di berbagai Fakultas di Universitas Indonesia sejak 1950 sudah dibentuk organisasi mahasiswa. Pada tahun 1952 organisasi mahasiswa di tingkat universitas di Djakarta dibentuk dengan nama Dewan Mahasiswa (studentenraad) Universitas Indonesia Djakarta (De nieuwsgier, 22-12-1952). Disebutkan dalam berita ini Presiden terpilih adalah Widjojo [Nitisastri]  dari Fakultas Ekonomi. Dewan Mahasiswa pimpinan Widjojo Nitisastro ini hanya mencakup empat fakultas Universitas Indonesia di Djakarta. Periode kepengurusan Dewan Mahasiswa di Universitas Indonesia berlangsung selama dua tahun. Di Bandoeng juga dibentuk Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia yang mencakup dua fakultas yakni Fakultas Teknik dan Fakultas Matematika dan Ilmu Alam. Presiden Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia di Bandoeng (kelak menjadi ITB) adalah Januar Hakim Harahap (lihat De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 03-06-1954). Januar Hakim Harahap adalah anak Abdul Hakim Harahap (mantan Gubernur Sumatra Utara).

Belum lama kuliah di Fakultas Teknik di Bandoeng. ketika mendapat beasiswa untuk studi ke Jerman, BJ Habibie melepaskan studinya di Bandoeng dan berangkat ke Jerman pada tahun 1955. Tampaknya BJ Habibie antusias studi ke Jerman, tetapi tampaknya berat bagi BJ Habibie untuk meninggalkan Bandoeng karena seorang gadis pujaan hati.

Algemeen In. dagblad: de Preangerbode, 06-01-1955
BJ Habibie yang lahir 25 Juni 1936 pada tahun 1955 berumur 19 tahun. Tentu saja umur segini muncul perasaan hati untuk memiliki. Itulah gadis impian. BJ Habibie tentu saja sangat terus terang tetapi sulit menemui gadis pujaan, Ainun. Waktu yang semakin habis di Bandoeng (karena segera hari ke Jerman), BJ Habibie memberanikan isi hati diumumkan di surat kabar agar nona manis Ainun dapat membacanya. Rayuan serius itu ditulis BJ Habibie dan dimuat di surat kabar (lihat Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode, 06-01-1955). Ini teksnya: ‘Nuraini. Datanglah lekas pada saja atau berikan alasanmu, saja akan sambut dengan sangat riang GEMBIRA. Habibi’.

Berdasarkan informasi dari sumber lain, BJ Habibie diterima di sekolah tinggi teknik Technische Hochschule di Jerman. Technische Hochschule adalah perguruan tinggi di Aken (Jerman: Aachen), mulai dibuka pada tahun 1879 (lihat Algemeen Handelsblad, 16-08-1879). Boleh jadi BJ Habibie adalah orang Indonesia pertama kuliah di kampus ini.

Pelajar-pelajar Indonesia setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda (1949) tidak lagi berorientasi hanya ke Belanda tetapi sudah ada yang ke Jerman dan Amerika Serikat. Arifin M. Siregar memulai tingkat sarjana di Economische Hoogeschool Rotterdam tahun 1953 (lihat Het Parool, 18-06-1954) dan kemudian melanjutkan tingkat doktoral (Ph.D) di Universität Münster, West Germany dan lulus tahun 1960. Sebelumnya di Rotterdam sudah ada Lauw Chuan Tho, masuk 1949, mendapat gelar sarjana 1955 dan pada tahun 1959 lulus kandidat Ph.D (lihat Algemeen Handelsblad, 16-01-1959). Lauw Chuan Tho kelak dikenal dengan nama Dr. Junus Jahja. Lalu kemudian menyusul Kwik Kian Gie tahun 1956 dan berhasil lulus tingkat persiapan tahun 1957 (lihat Het vrije volk : democratisch-socialistisch dagblad, 28-09-1957). Kwik Kian Gie adalah ketua Perhimpunan (Mahasiswa) Indonesia di Belanda (lihat Trouw,         14-10-1963). Kwik Kian Gie adalah seorang Soekarnois. Sebelum pengakuan kedaulatan Indonesia (di masa peran kemerdekaan Indonesia) tidak ada mahasiswa Indonesia ke Belanda, tetapi yang masih kuliah tetap bisa melanjutkan hingga lulus tetapi tidak bisa pulang. Mereka yang tertahan lama ini, kloter terakhir yang pulang pada tahun 1951 dipimpin oleh FKN Harahap (pecatur handal dan pernah menjadi ketua Perhimpunan Indonesia pada tahun 1945/1946).

Widjojo Nitisastro yang lulus sarjana dari Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia tahun 1955, pada tahun 1957 Widjojo Nitisastro adalah satu dari enam dosen muda FEUI yang berangkat studi ke Amerika Serikat (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 30-08-1957). Dalam rombongan lain tiga orang dari Medan melanjutkan studi ke Amerika salah satu diantaranya perempuan yakni Nurhasmi Hasibuan (lihat Het nieuwsblad voor Sumatra, 20-09-1957). Nurhasmi Hasibuan adalah satu-satunya perempuan dalam rombongan Indonesia ke Amerika ini. Ini mengingatkan kita tentang Dr. Ida Loemongga Nasution, Ph.D. Studi ini dibiayai oleh Ford Foundation, setelah setahun sebelumnya Sumitro Djojohadikesoemo yang diutus pemerinh ke Amerika Serikat yang disana sempat memberikan kuliah umum di Universitas California di Berkeley. Drs. Widjojo Nitisastro lalu melanjutkan ke tingkat doktoral dan berhasil meraih gelar doktor (Ph.D) di University of California at Berkeley tahun 1961.

BJ Habibie berhasil meraih sarjana teknik (insinyur) di Technische Hochschule pada tahun 1960. Pada tahun yang sama (1960) Arifin M Siregar meraih gelah doktor (Ph.D) pada bidang ekonomi di Universität Munster, West Germany. Setahun kemudian pada tahun 1961 menyusul Widjojo Nitisastro berhasil meraih gelar doktor (Ph.D) pada bidang ekonomi di University of California at Berkeley.

Keberhasilan Arifin M Siregar dan Widjojo Nitisastro melengkapi doktor-doktor Indonesia di berbagai bidang. Terakhir pelajar-pelajar Indonesia meraih gelar Ph.D di Belanda pada era pendudukan Jepang. Mereka itu adalah Masdoelhak Hamonangan Nasution (hukum di Utrecht, 1943) dan Soemitro Djojohadikoesoemo (ekonomi di Rotterdam, 1943). Seperti disebutkan di atas, Soetan Goenoeng Moelia tahun 1933 adalah orang pribumi (Indonesia) ke-26 yang meraih gelar Ph.D di Belanda. Ke-26 doktor tersebut adalah: (1) Husein Djajdiningrat (sastra, 1913);  (2) Dr. Sarwono (medis, 1919); (3) Mr. Gondokoesoemo (hukum 1922); (4) RM Koesoema Atmadja (hukum 1922); (5) Dr. Sardjito (medis, 1923); (5) Dr. Mohamad Sjaaf (medis, 1923); (7) R Soegondo (hukum 1923); (8) JA Latumeten (medis, 1924); (9) Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi (hukum, 1925); (10) R. Soesilo (medis, 1925); (11) HJD Apituley (medis, 1925); (12) Soebroto (hukum, 1925); (13) Samsi Sastrawidagda (ekonomi, 1925); (14) Poerbatjaraka (sastra, 1926); (15) Achmad Mochtar (medis, 1927); (16) Soepomo (hukum, 1927); (17) AB Andu (medis, 1928); (18) T Mansoer (medis, 1928); (19) RM Saleh Mangoendihardjo (medis, 1928); (20) MH Soeleiman (medis, 1929); (21) M. Antariksa (medis, 1930); (22) Sjoeib Proehoeman (medis, 1930); (23) Aminoedin Pohan (medis, 1931); (24) Seno Sastroamidjojo (medis, 1930); (25) Ida Loemongga Nasution (medis, 1931); (26) Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia (sastra dan filsafat, 1933). Dari ke-26 doktor ini, jumlah doktor terbanyak berasal dari (pulau) Djawa, yang kedua dari Residentie Tapanoeli. Cetak tebal adalah doktor-doktor asal Afdeeling (kabupaten) Padang Sidempoean, Residentie Tapanoeli.    

Setelah lulus, BJ Habibie pulang ke tanah air. BJ Habibie dan Hasri (Nuraini) Ainun Besari menikah di Bandoeng pada tanggal 12 Mei 1962. Pujaan hati berhasil dinikahi. Tidak pertama BJ Habibie mengeluarkan uang untuk memasang iklan di surat kabar pada tahun 1955. Boleh jadi Nuraini alias Ainun berbisik di dalam hati: ‘Habibie. Datanglah lekas pada saja atau berikan alasanmu, saja akan sambut dengan sangat riang GEMBIRA. Nuraini’.

Tidak banyak pribuni, orang Indonesia yang mengambil bidang teknik di Eropa. Pribumi pertama yang mengambil bidang teknik adalah Raden Kartono di Delft tahun 1896, Raden Kartono gagal di tahun kedua. Baru pada tahun 1915 Raden Soerachman berhasil di Delft dengan meraih gelar insinuyur teknik kimia. Setelah itu menyusul dua pribumi ke Delft, namun lagi-lagi gagal meraih insinur. Baru pada tahun 1938 kembali pribumi masuk di Delft yakni AFP Siregar gelar Mangaradja Onggang Parlindoengan dan berhasil meraih gelar insinyur teknik kimia pada tahun 1943. Ini berarti hingga pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda hanya dua orang Indonesia berhasil di fakultas teknik di Eropa hingga menyusul BJ Habibie. Pada tahun 1951, Ir. Mangaradja Onggang Parlindoengan diangkat Presiden Soekarno untuk menggantikan orang Belanda menjadi direktur di Perusahaan Sendjata dan Mesiu (PSM) di Bandoeng. PSM kelak menjadi cikal bakal PT Pindad. Ir. Soerachman pernah diangkat Presiden Soekarno menjadi menteri. Terakhir Ir. Soerachman adalah Presiden (rektor) Universitas Indonesia yang pertama (1950). Ir. Soerachman adalah besan dari Mr. Soetan Goenoeng Moelia, Ph.D.

Setelah menikah, BJ Habibie beserta istri Hasri Ainun Besari berangkat ke Jerman. Sambil bekerja, BJ Habibie melanjutkan studi doktoral di Technische Hochschule, Aachen. BJ Habibie akhirnya berhasil mendapatkan gelar doktor (Ph.D) pada tahun 1965, Baru pada tahun 1973 BJ Habibie kembali ke tanah air untuk mengabdi pada negara sebagai Kepala BPPT. Dua tahun sebelumnya tahun 1971 Arifin M Siregar, Ph.D sudah kembali ke tanah air untuk menjabat sebagai Direktur Bank Indonesia.

Hasri Ainun Besari adalah anak dari Mohamad Besari. Hasri Ainun Besari adalah anak keempat dari delapan bersaudara (sama seperti BJ Habibie, anak keempat dari delapan bersaudara. Hasri Ainun Besari adalah seorang dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada tahun 1961.

Jalan Patra Kuninga XIII (Peta 1985)
Raden Mohamad Besari adalah seorang pejabat di Bandoeng. Pada tanggal Sejak 1 Oktober 1949, Raden Moh Besari diangkat sebagai asisten dalam praktik irigasi dan hidrolika di fakultas teknik di Bandung. Besari, selain 'posisinya saat ini sebagai ahli di departemen penelitian teknis di Bandung (lihat De nieuwsgier, 24-05-1951). Ayah Hasri Ainun pernah menjadi dosen BJ Habibie di fakultas teknik di Bandoeng. Dengan kata lain mertua BJ Habibie juga adalah dosen BJ Habibie.

Setelah dua tahun di Indonesia, pada tahun 1975 BJ Habibie dan keluarga menempati sebuah rumah di Kuningan. Rumah tersebut terus ditempati oleh keluarga BJ Habibie hingga ini hari. Rumah ini berada di jalan Patra Kuningan XIII, Kelurahan Kuningan Timur, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan. Jalan Patra Kuningan XIII menghadap ke selatan; di sebelah utara adalah jalan Patra Kuningan XIV; di sebelah barat adalah jalan Taman Patra Kuningan; dan di sebelah timur adalah kali Cideng.

Kampong Koeningan di Kali Tjideng: The Habibie and Ainun Library

Pada masa ini, jalan Patra Kuningan-13 dan jalan Patra Kuningan-14 hingan batas kali Cideng di kecamatan Setiabudi sangatlah penting karena di antara dua jalan dan sungai ini terdapat rumah BJ Habibie. Sungai Cideng ini adalah batas kecamatan Seteiabudi dan kecamatan Tebet di sisi (sebelah) timur kali.

Titik imajiner Jalan Patra Kuningan (Peta 1866)
Satu hal yang penting di area kedua ujung jalan dengan sungai merupakan titik belok sungai Cideng ke arah barat. Titik belok ini adalah penanda navigasi terpenting pada masa ini untuk melihat posisi GPS pada peta tempo doeloe. Pada peta tertua yakni Peta 1825, area ini belum diidentifikasi. Pada Peta 1825 area yang sudah diidentifikasi baru sebatas sampai pada area (kampong) Menteng. Area titik belok ini diidentifikasi pada Peta 1866.  

Pada Peta 1866 area di sekitar titik belok sungai Tjideng ini belum ada kampong. Kampong terdekat dari area ini adalah kampong Karet di sebelah barat area dan kampong Menteng di sebelah utara. Pada Peta 1866 area belokan sungai Tjideng ini tampak lahan persawahan yang luas. Di sebelah barat terlihat jalur dari selatan ke utara, itu adalah jalan dari Pondok Laboe melalui Mampang Prapatan terus ke Tanah Abang (sungai Tjideng juga mengalir ke arah Tanah Abang dan masuk ke sungai Kroekoet); sedangkan jalan di sebelah timur dari selatan ke utara adalah jalan dari Tandjong Barat ke Kwitang/Weltevreden melalui Pantjoran, Pegangsaan dan Tjikini (jalan Saharjo yang sekarang).  

Pada awalnya pendidikan modern (aksara Latin) untuk anak pribumi hanya dapat diakses melalui sekolah dasar bagi anak-anak Eropa/Belanda. Mereka yang bisa mengakses adalah anak-anak bangsawan atau anak-anak pimpinan pribumi lainnya. Itu jumlahnya sangat terbatas. Lalu pada tahun 1848 dibuat kursus untuk menghasilkan guru pribumi. Sehubungan dengan kebutuhan yang semakin meningkat, Residen Soerakarta mendirikan sekolah guru (kweekschool) di Soeracarta pada tahun 1951. Pada tahun ini juga rumah sakit militer di Weltevreden (kini RSPAD) mendirikan sekolah kedokteran bagi siswa pribumi (kemudian disebut Docter Djawa School). Pada tahun 1856 Residen Padangsche Bovenlanden di Fort de Kock (kini Bukittinggi) mendirikan sekolah guru (kweekschool). Pada tahun 1856 dua siswa (Si Asta dan Si Angan) asal Afdeeling Mandailing en Angkola, Residentie Tapanoeli (kini Tapanuli Bagian Selatan) baru kembali studi di Weltevreden dengan membawa gelar dokter (dua dokter inilah yang pertama berasal dari luar pulau Jawa). Dr. Asta di Onderfadeeling Mandailing (kini Panyabungan) dan Dr. Angan di Onderafdeeling Angkola (kini Padang Sidempuan).

Titik imajiner Jalan Patra Kuningan (Peta 1897)
Pada tahun 1857, setelah lulus sekolah dasar (tiga tahun) adik kelas Dr. Asta bernama Si Sati tidak melanjutkan studi ke sekolah guru di Fort de Kock dan juga tidak melanjutkan studi ke sekolah kedokteran di Weltevreden. Si Sati justru melanjutkan sekolah guru ke Belanda. Pada bulan Juli 1857 Si Sati dari kampongnya di Pidoli di Mandailing ke Belanda. Pada tahun 1860 Si Sati yang mengubah namanya menjadi Willem Iskander lulus dan mendapat akte guru berlisensi Eropa/Belanda. Si Sate alias Willem Iskander adalah pribumi pertama studi ke Eropa/Belanda. Pada tahun 1861 Willem Iskander kembali ke kampung halamannya dan pada tahun 1862 membuka sekolah guru (kwekschool) di kampong Tanobato di Mandailing. Sekolah guru ini kemudian menjadi sekolah guru ketiga di Hindia Belanda (setelah yang pertama di Soeracrta dan yang kedua di Fort de Kock). Pada tahun 1865, sekolah guru Willem Iskander ini menjadi yang terbaik di Hindia Belanda (kemudian dijadikan negeri). Lalu pada tahun 1866 pemerintah mendirikan sekolah guru yang keempat di Bandoeng. Dari empat sekolah guru ini, hanya di sekolah guru di Tanobato yang memiliki guru berlisensi Eropa/Belanda, yakni Willem Iskander. Itulah keutamaan studi jauh ke luar negeri di Eropa/Belanda saat itu. Sati Nasution alias Willem Iskander adalah ompung (kakek buyut) dari Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasution (ahli statistik guru besar IPB pernah menjadi Rektor IPB 1978-1987).      

Setelah 30 tahun kemudian (Peta 1897) area di sekitar titik belok sungai Tjideng (titik imajiner jalan Patra Kuningan) teridentifikasi masuk dalam wilayah kampong Pedoerenan. Di sebelah barat berbatasan dengan kampong Karet; di sebelah utara berbatasan dengan kampong Doekoe; dan di sisi timur seberang sungai Tjideng adalah kampong Menteng (Dalam). Dalam peta ini terlihat jalan sisi timur dari selatan ke utara sudah ditingkatkan (jalan Saharjo yang sekarang). Pada sisi sebelah timur sudah ada jalan kereta api Batavia-Buintenzorg di kampong Manggarai.

Pada tahun 1896, Raden Kartono berangkat studi ke Belanda. Raden Kartono lulus dari sekolah Eropa/Belanda di HBS Semarang (setingkat sekolah menengah atas). Raden Kartono mengambil bidang teknik sipil di Delft. Raden Kartono adalah abang dari Raden Ajeng Kartini merupakan pribumi pertama yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi di Eropa/Belanda. Namun sayang, sang de pionier ini gagal di tingkat dua. Raden Kartono tidak patah arang lalu mengambil bidang Indologi (bidang terkait Hindia) di Universiteit Leiden.

Pada tahun 1905 menyusul datang studi ke Belanda Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan. Boleh dikatakan Soetan Casajangan adalah pribumi yang datang dari tanah air untuk melanjutkan studi ke Eropa/Belanda. Sebelumnya sudah ada tiga lulusan Docter Djawa School dan lulusan kweekschool yang berada di Belanda untuk keperluan bekerja. Dr. Abdul Rivai dan guru Djamaloedin datang tahun 1903 untuk bekerja sebagai jurnalis dan tahun berikutnya menyusul dua bersaudara Tehepelori (yang bekerja dalam riset kedokteran penyakit tropis). Sejak kedatangan Soetan Casajangan, dokter dan guru tadi juga melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi. Soetan Casajangan adalah guru di Padang Sidempoean melanjutkan studi ke Belanda untuk mendapatkan akta kepala sekolah (guru berlisensi Eropa/Belanda). Dalam edisi bulan Oktober 1905 majalah Bintang Hindia (editor Dr. Abdul RivaI) menulis artikel yang isinya untuk mengajak putra-putri pribumi dari Hindia Belanda untuk belajar di Belanda. Ajakan ini tampaknya berhasil.

Nama kampong Koeningan (Peta 1914)
Pada tahun 1908 jumlah pribumi yang studi di Belanda sudah ada sekitar 20 orang di berbagai kota/universiteit dan bidang yang berbeda-beda. Soetan Casajangan mengambil studi pendidikan dan Dr. Abdul Rivai studi bidang kedokteran. Raden Kartono yang sudah lulus sarjana masih tetap di Belanda (bekerja). Pada bulan Oktober 1908 Soetan Casajangan mengundang semua mahasiswa pribumi di Belanda ke rumahnya. Dalam pertemuan yang digagas Soetan Casajangan ini didirikan organisasi mahasiswa yang disebut Indische Vereeniging yang mana secara aklamasi ditunjuk Soetan Casajangan sebagai presiden (ketua). Indische Vereeniging ini kelak di era Mohamad Hatta dkk (1926) diubah namanya menjadi Perhimpoenan Indonesia. Seperti telah disebutkan di atas, Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia yang berhasil meraih gelar doktor (Ph.D) tahun 1933, datang pertama kali dari Padang Sidempoean ke Belanda tahun 1911 untuk kuliah di bidang pedagogik (seperti Soetan Casajangan) dan lulus tahun 1918. Soetan Casajangan sendiri lulus tahun 1911 dan tahun 1913 kembali ke tanah air dan dingkat menjadi direktur kweekschool di Fort de Kock.
.
Pada Peta 1904 situasi dan kondisi di area belokan sungai Tjidang tidak banyak berubah jika dibandingkan dengan Peta 1897. Pada Peta 1904 sudah diidentifikasi nama kampong Koeningan di dekat Mampang Prapatan. Ini menunjukkan di sekitar area titik belok sungai Tjideng sudah berkembang. Perkembangan ini semakin terlihat pada Peta 1914. Dalam hal ini, di wilayah kampong Pedoerenan telah muncul nama Koeningan sebagai kampong baru. Kampong Koeningan ini semakin meluas hingga ke area titik belok sungai Tjideng. Di sisi timur seberang sungai Tjideng, di kampong Menteng juga muncul nama kampong Poelo. Kampong Karet masih eksis.

Jalan di sisi barat dari dari Mampang Prapatan ke Tanah Abang terlihat sudah dikembangkan. Jalan ini bersifat diagonal dari Mampang Prapatan (Pangkal jalan Kuningan/Rasuna Said yang sekarang) ke Doekoe (memotong jalan Sudirman yang sekarang). Tentu saja belum ada jalan Rasuna Said dan jalan Sudirman. Satu hal yang penting pada Peta 1914 ini di kampong Menteng sudah mulai dibangun perumahan elit yang pembangunannya baru dimulai dari arah Gondangdia.

Sehubungan dengan pengembangan perumahan Menteng, Pemerintah Gemeente Batavia membangun jalan poros (jalan utama) yang disebut jalan Mampang (Mampangweg) pada tahun 1913 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 20-05-1913). Jalan yang dibangun tahun 1913 ini merupakan terusan jalan Gondangdia (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 05-08-1913). Jalan poros ini dapat dikatakan sebagai jalan paling besar dari Koningsplein menuju selatan kota. Disebut jalan Mampang karena arahnya menuju selatan di Land Mampang. Pembangunan jalan Mampang ini bersamaan dengan pembangunan Orangeboelevard (kini jalan Diponegoro). Jalan Mampangweg ini dari Gondangdia melalui perumahan Menteng (di jalan Madiun yang sekarang) lalu memotong sungai Tjideng dan lalu melewati kampong Koeningan ke Mampang (jalan Rasuna Said yang sekarang belum ada).   

Pada tahun 1918, untuk mengurangi dampak banjir di Istana Gubernur Jenderal di Weltevreden, dibangun kanal baru dengan menyodet sungai Tjiliwongdi Manggarai melalui Menteng menuju sungai Kroekoet di Pedjompongan. Kanal baru ini memotong rencana tata ruang perumahan Menteng. Itulah mengapa perumahan Menteng seakan terpisah sebagian di area jalan Guntur yang sekarang.

Kanal dan jalur rel kereta api di Menteng (Peta 1925)
Pembangunan kanal ini diintegrasikan dengan pembangunan stasion Manggarai. Dalam pembangunan stasion Manggarai juga termasuk pembangunan jalur lintasn kereta api di Matraman (antara stasion Manggarai dan stasion Djatinegara). Pergeseran lintasan kereta api dari Salemba/Tjikini ke Tanah Abang digeser ke sisi kanal yang baru. Paa Peta 1925 perbatasan antara kampong Menteng (perumahan Menteng) dengan kampong Koeningan semakin jelas (kanal dan jalur rel).

Dalam pembangunan kanal (Bandjir Kanaal) ini, sungai Tjideng juga terpotong. Untuk mengatur agar tidak semua air jatuh ke kanal lalu dibentuklah waduk besar (kini disebut waduk Setiabudi). Waduk ini menjadi reservoir untuk mengatur air sungai Tjideng ke kanal Bandjir Kanaal.

Eks kali Tjideng di perumahan Menteng divermak (diluruskan sesuai lanskap perumahan) menjadi kanal drainase dengan mengikuti alur sungai Tjideng ke sungai Kroekoet di Tanah Abang. Dalam hubungan ini satu kanal baru dibuat di perumahan Menteng yakni eks jalur rel kereta api (jalan Sutan Syahrir yang sekarang) sebagai kanal drainase yang dialirkan ke kanal drainase eks sungai Tjideng di Menteng di sekitar bundaran HI yang sekarang. Sungai Kroekoet berhulu di sitoe Tjitajam melalui Tanah Baroe, Pondok Laboe dan Pedjompongan, sedangkan sungai Tjideng berhulu di sitoe Babakan (Lenteng Agoeng) melalui Tandjong Barat, Pasar Minggoe, Doerian Tiga dan Tegalparang (dari Doerian Tiga hingga ke Lentegg Agoeng sejak 1830 sudah dibentuk kanal irigasi dan dari Doerian Tiga kanal ini hingga menuju Pegangsaan (sungai Tjiliwong) melalui jalan Saharjo yang sekarang).

Terjadinya kenaikan tinggi air dan genangan  sudah barang tentu harus mengorbankan sejumlah persil sawah dan kebun penduduk di sekitar. Bahkan ketinggian air sungui Tjideng setelah dibendung tanggul bandjir kanaal permukaan air terus meningkat dan menggenangi lahan-lahan ke arah hulu hingga ke titik belok sungai Tjideng di perumahan Patra Kuningan yang sekarang.

Waduk Setiabudi (googlemap)
Pada tahun 1930 dalam diadakan sensus penduduk (SP-1930) yang diintegrasikan dengan penataan wilayah administratif desa. Kampong besar atau beberapa kampong kecil disatukan dibentuk menjadi satu desa. Kamping Koeningan yang sudah semakin meluas menjadi satu desa. Desa tetangga adalah desa Karet dan desa Tegal Parang (lihat Peta 1934). Hingga era kolonial Belanda berakhir tidak banyak perubahan di titik belok sungai Tjideng di desa Koeningan. Demikian juga di era pendudukan Jepang tidak hampir tidak perkembangan.

Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia (1945), pada era pendudukan Belanda/NICA mulai dirintis pembangunan perumahan baru dengan membentuk kota satelit di kampong Kebajoran, Untuk menghubungan Koningsplein (kini lapangan Monas) dengan (perumahan) kota sateli Kebajoran pada bulan Mei 1949 dibangun jalan baru dari Koningsplein ke Kebajoran (kini jalan MH Thamrin dan jalan Sudirman) dengan membangun jembatan penghubung di atas Bandjir Kanaal dan rel kereta api (kini Dukuh Atas). Jalan rintisan ini memotong jalan lama dari Mampang Prapatan ke Tanah Abang. Jalan baru Kongsplein-Kebajoran ini berpotongan dengan jalan dari Pantjoran via Mampang Prapatan ke Silipi di titik dimana kini berada jembatan Semanggi. Lambat laun jalan lama diagonal (Mampang Prapatan-Tanah Abang ini menghilang sehubungan dengan adanya jalan baru.

Sementara itu dengan adanya jalan baru ini maka desa Koeningan hingga sungai Tjideng mulai semakin terbuka dari isolasi. Sejumlah jalan baru dari jalan Koningsplein-Kebajoran ini dibentuk. Salah satu jalan baru tersebut adalah jalan Casablanca yang sekarang menuju Tebet yang tersambung dengan jalan diagonal tersebut.

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda (1949), pemerintah RI mulai merintis jalan baru dari Menteng melalui kampong Menteng ke Mampang Prapatan. Jalan diagonal dari Mampang Prapatan dan jalan Casablanca yang sekarang terus ke jalan Sudirman yang sekarang hingga ke Menteng dianggap terlalu jauh. Pada saat pembangunan gedung olahraga Senayan menjelang Asian Games 1962  pembangunan jalan ini terkendala. Baru pada awal tahun 1970an, pada era  Gubernur Ali Sadikin (1966-1977), pembangunan jalan plus jembatan di atas kanal dan rel dapat direalisasikan. Jalan ini kemudian disebut jalan Setiabudi. Dalam perkembangannya, nama jalan Setiabudi diganti menjadi jalan Rasuna Said (paling tidak sudah ditabalkan sejak tahun 1981).

Kawasan Patra Kuningan
Nama Setiabudi sebelumnya adalah EFE Douwes Dekker. Seorang pejuang kemerdekaan Hindia/Indonesia (dari Kerajaan Belanda) bersama dua temannya Dr. Tjipto dan Soewardi Soerjaningra alias Ki Hadjar Dewantara yang dikenal sebagai tiga serangkai. Mereka bertiga diasingkan ke Belanda tahun 1913 (bersamaan dengan ini Soetan Casajangan pendiri Indische Vereeniging pulang ke tanah air). EFE Douwes Dekker alias Dr. Setiabudi adalah sepupu dari Edwar Douwes Dekker alias Multatuli yang terkenal dengan bukunya Max Havelaar. Edward Douwes Dekker pada tahun 1843 pernah membela pemimpin dan penduduk Mandailing en Angkola dalam pelaksanaan Koffiestelsel. Akibat pembelaannya pada penduduk pribumi, Edward dipecat sebagai Controleur di Natal (kini Tapanuli Bagian Selatan). Lalu muncul pemberontakan. Kemudian militer Belanda dikerahkan. Akibatya sebagian penduduk Mandailing en Ankola melakukan eksodus ke Semenanjung Malaka. Para migran ini kemudian membuka sejumlah perkampungan di Selangor. Tempat dimana kota Kuala Lumpur disitulah bermukim salah satu pemimpin migran Mandailing yakni Soetan Poeasa. Pada masa kini, Soetan Poeasa (kakek buyut penyanyi Sheila Madjid) dikenal sebagai pendiri kota Kuala Lumpur.

Dengan adanya jalan baru (jalan Rasuna Said) ini mulai muncul pembangunan yang sangat masif. Salah satu pembangunan yang penting adalah pembangunan perumahan elit milik Pertamina yang kemudian dikenal sebagai perumahan Patra Kuningan. Di salah satu rumah di kavling perumahan Patra Kuningan inilah kemudian BJ Habibie bertempat tinggal.

Dalam perkembangannya desa Kuningan yang telah berubah status menjadi kelurahan dimekarkan dengan terbentuknya dua kelurahan yakni desa kelurahan Kuningan Barat dan Kuningan Timur (yang dibatasi oleh jalan Rasuna Said). Perumahan Patra Kuningan tempat dimana BJ Habibie tinggal menjadi wilayah kelurahan Kuningan Timur.

Gubernur Ali Sadikin mencanangkan area sepanjang jalan baru ini sebagai kota baru. Selain perumahan Pertamina (Patra Kuningan) yang sudah ada, area ini dijadikan sebagai kantor-kantor kedutaan besar negara sahabat. Yang pertama menempati area ini adalah kedutaan besar Hongaria dan Thailand. Pada tahun 1976 Gubernur Ali Sadikin juga menawarkan kedubes Belanda di area ini seluas satu hektar (selesai dibangun tahun 1981). Lalu kedubes Belanda pindah dari jalan Kebon Sirih dan Menteng (kini Erasmus Huis). Tiga kedubes inilah yang pertama, lalu baru muncul sejumlah kedubes lainnya termasuk Malaysia.

Pada saat itu Dubes Malaysia untuk Indonesia adalah Tan Sri Dato’ Senu Abdurrahman Siregar, seorang bermarga Angkola dan kebetulan saat itu Wakil Presiden (1978-1983) adalah Adam Malik (seorang bermarga Mandailing). Jadi cocoklah. Sebelumnya Adam Malik yang telah menjadi Menteri Luar Negeri sejak 1966 (hingga 1977) hubungan Indonesia-Malaysia terus membaik dan menjadi lebih baik. Pada saat Adam Malik menjadi Menteri Luar Negeri tahun 1966, Ketua Polis Diraja Malaysia (di Indonesia disebut Kapolri) adalah Dato’ Kamaruddin bin Idris Harahap. Pada Kabinet PM Mahathir Mohamad yang sekarang (sejak 2018) salah satu orang yang berasal dari Angkola en Mandailing (kini Tapanuli Bagian Selatan) adalah Saifuddin Nasution (Menteri Perdagangan Dalam Negeri).  

Sebagai kawasan Internasional, pemilihan rumah tempat tinggal BJ Habibie di Kuningan boleh jadi sangat tepat. Nama besarnya akan tetap harum berada di lingkungan internasional. Di rumah tempat tinggal Patra Kuningan inilah BJ Habibie membangun perpustakaanny yang diberi nama The Habibie and Ainun Library.


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar