Senin, 14 Juni 2021

Sejarah Banten (41): Benteng Teluk Banten, Portugis vs Belanda; Benteng VOC Relokasi Pelabuhan Sunda Kalapa (Kasteel Batavia)

 

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Banten, klik Disini

Pada awal kehadiran pelaut-pelaut Belanda di Hindia Timur (nusantara), teluk Banteng terbilang sangat ramai. Aktivitas perdagangan Eropa di teluk dikuasai oleh pedagang-pedagang Portugis. Kehadiran pelaut-pelaut Belanda sejak navigasi pelayaran Belanda pertama di bawah pimpinan Cornelis de Houtman menjadi muncul ketegagnan antara Portugis dan Belanda. Inilah awal perkara pedagang-pedagang Belanda membangun benteng di teluk Banten. Dari benteng inilah pedagang-pedagang Belanda mengincar pelabuhan Sunda Kalapa dan kemudian membangun Kasteel Batavia pada tahun 1619.

Navigasi pelayaran Belanda pertama di Hindia Timur pelabuhan pertama yang dikunjungi adalah pelabuhan Banten bulan Juni 1596. Pada tahun 1605 pelaut-pelaut Belanda menyerang dan mengambilalih benteng Portugis di Amboina. Dengan modal ini pedagang-pedagang Belanda diberi izin Kesultanan Banten untuk membangun pada tahun 1610. Ketegangan antara pedagang-pedagang Portugis dan Belanda di teluk Banten semakin genting yang akhirnya terjadi perang (seperti halnya Portugis terusir dari teluk Amboina, juga terjadi di teluk Banten). Tidak cukup disitu, pada tahun 1613 pelaut-pelaut Belanda menyerang benteng Portugis di Solor dan Coepang. Rata sudah jalan navigasi pelayaran Belanda dari ujung barat (pulau) Jawa hingga Amboina (yang pada saat ini pedagang-pedagang Belanda sudah membangun benteng di pulau Onrust). Seperti kita lihat pada artikel berikut, prakondisi inilah yang menyebabkan pedagang-pedagang Belanda ingin merebut pelabuhan Soenda Kalapa (untuk mendirikan benteng besar, Kasteel Batavia).

Lantas bagaimana sejarah benteng-benteng di teluk Banten? Seperti disebut di atas benteng Belanda di teluk Banten dibangun karena situasi dan kondisi yang terkait dengan perseteruan dengan pedagang-pedagang Portugis, Lalu mengapa kemudian pedagang-pedagang Belanda (VOC) meninggalkannya dan lebih memilih membangun baru benteng di pelabuhan Sunda Kalapa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Minggu, 13 Juni 2021

Sejarah Kupang (38): Sejarah Benteng di Nusa Tenggara; Benteng di Solor dan Fort Concordia, Benteng di Bali dan Sumbawa

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kupang dalam blog ini Klik Disini

Setelah berhasil merebut benteng Victoria di Amboina tahun 1605, pelaut-pelaut Belanda mengincar benteng Portugis di Solor dan di Coepang. Mengapa? Pelaut-pelaut Belanda ingin meratakan jalan dari Afrika Selatan menuju Amboina di Maluku. Hal ini setelah pelaut-pelaut Belanda menemukan rute navigasi pelayaran yang paling aman melalui pulau pulau St Paul dan pulau Kalapa di Lautan Hindia. Tentu saja tidak karena itu saja, tetapi karena pelaut-pelaut Belanda telah memiliki hubungan yang era dengan raja-raja Bali. Merebut benteng Portugis di Solor dan Coepang menjadi rintangan terakhir yang harus disingkirkan.

Pelaut-pelaut Belanda dengan bermodal peta-peta Portugis akhirnya menemukan jalan ke Hindia Timur di pulau Enggani dan tiba di (pelabuhan( Banten pada bulan Juni 1596. Inilah awal kehadiran Belanda I nusantara. Namun kehadiran pelaut-pelaut Belanda mendapat rintangan karena begitu kuatnya penetrasi perdagangan  Portugis di kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa seperti Banten, Jacatra dan Tjirebun (tentu saja Demak). Saat pelaut-pelaut Belanda di sekitar Lasem, orang-orang Blambangan meminta bantuan kepada para pelaut-pelaut Belanda karena (kerajaan) Mataram yang (sudah) Islam mengancam mereka. Pelaut-pelaut Belanda cepat paham dan menolak dengan halus sebagaimana dapat dibaca dalam laporan Cornelis de Houtman 1598. Pelaut-pelaut Belanda meneruskan navigasi ke Maluku tetapi salah satu kapal mereka terkendalam di laut Bali sehingga harus memutar haluan di selat Lombok dan mengitari pulau Lobom dan berlabuih di pantai timur Bali (kini Padang Bai). Mereka diterima raja-raja Bali. Dari pulau inilah pelaut-pelaut Belanda dengan sisa kapal dua buah pulang ke Belanda melalui selatan Jawa terus ke Afrika Selatan.

Lantas bagaimana sejarah benteng di Kepulauan Nusa Tenggara? Seperti disebut di atas terdapat benteng Portugis di Solor dan Timor. Lantas mengapa begitu banyak benteng di (pulau) Bali sementara aktvitas asing (Eropa) sangat minim di pulau? Seperti halnya di Bali begitu banyak benteng yang dibangun orang Bali, lalu mengapa orang Sumbawa di (pulau) Sumbawa dalam perkembangannya membangun benteng? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sabtu, 12 Juni 2021

Sejarah Kota Ambon (11): Sejarah Benteng di Kepulauan Maluku Sejak Era Portugis; Fort Victoria Amboina hingga Fort Ternate

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Ambon dalam blog ini Klik Disini

Sejarah benteng tentulah penting. Sejarah benteng di Hindia Timur (Nusantara) dimulai sejak kehadiran bangsa Eropa. Pelaut-pelaut Portugis pertama kali hadir pada tahun 1511 yang mana tiga kapal berhasil mencapai kepulauan Maluku. Lalu pelaut-pelaut Spanyol menemukan jalan melalui Pasifik dan berlabuh di Zebu (Filipna) pada tahun 1524. Dari sinilah pelaut-pelaut Spanyol menemukan Maluku (yang kemudian mulai bersaing dengan pelaut-pelaut Portugis). Persaingan inilah yang menjadi pangkal perkara mulai dibangunnya benteng.

Membangun benteng tidaklah murah. Untuk membangun benteng dibutuhkan biaya besar. Oleh karena ini benteng adalah suatu investasi yang hanya mampu disponsori kerajaan (Spanyol, Portugis) yang kemudian diikuti oleh sarikat dagang Belanda dan sarikat dagang Inggris. Fungsi benteng tidak hanya untuk tempat bertahan, tetapi juga menjadi gudang penampungan barang dan komoditi (loji). Dalam perkembangannya benteng menjadi awal pusat koloni (pusat pemerintahan koloni). Benteng dapat dikatakan instrumen penting dalam awal penjajahan.

Lantas bagaimana sejarah benteng di Kepulauan Maluku? Seperti disebut di atas pembangunan benteng di mulai oleh pelaut-pelaut Portugis dan Spanyol. Benteng Portugis pertama yang dibangun adalah di Amboina. Benteng ini kemudian direbut oleh pelaut-pelaut Belanda yang hadir belakangan. Lalu bagaimana sejarah benteng di Kepulauan Maluku? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Jumat, 11 Juni 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (59): Wilayah Indonesia Zaman Kuno, Konstruksi Sejarah; Eksplorasi Keberadaan Candi dan Prasasti


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog Klik Disini 

Analisis keberadaan candi dan data prasasti hanya terbatas pada penggambaran wujud candi dan isi prasasti yang dibandingkan dengan aspek yang terkait pada candi dan teks prasasti di tempat lain. Tampaknya belum ada studi yang mengagregasi data candi dan data prasasti. Peluang itulah yang akan dieksplorasi dalam artikel ini, seperti apa arsitektur (wilayah) Indonesia pada zaman kuno. Tentu saja pada zaman kuno berbasis pada wujud kerajaan-kerajaan, sementara pada masa kini dalam wujud negara yang terbagi ke dalam provinsi-provinsi.

Gambaran sejarah zaman kuno sebenarnya sudah dibuat sebagai bagian awal Sejarah Indonesia. Akan tetapi dalam narasi sejarah zaman kuno ini yang berumber dari data candi dan data prasasti hanya mengcapture pada kasus-kasus tertentu saja seperti prasasti Mulawarman (abad ke-4) dan prasasti Kedukan Bukit (abad ke-7), candi Borobudur (abad ke-8) dan candi Prambanan abad ke-9. Oleh karena itu kita tidak dapat membaca seluas mungkin peristiwa sejarah zaman kuno dan semulus apa garis continuum perjalanan waktu sejarah. Akibatnya kita tidak mendapatkan gambaran (wilayah) Indonesia zaman kuno di Aceh (prasasti Neuse abad ke-11) di Sumatra Utara (prasasti Batugana abad ke-14), di Sulawesi Utara (prasasti Watu Rerumeran), Sulawesi Selatan (prasasti Seko), Nusan Tenggara Barat (prasasti Wadu Tunti).

Lantas bagaimana arsitektur wilayah Indonesia zaman kuno? Seperti disebut di atas tidak tergambar dalam narasi Sejarah Indonesia. Gambaran arsitektur (wilayah) Indonesia jauh lebih luas jika dibandingkan pada masa kini (NKRI). Oleh karena itu arsitektur (Wilayah) Indonesia haruslah dipandang sebagai wujud Nusantara. Dalam hal ini digunakan data candi dan data prasati. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe berupa candi dan prasasti dari yang tertua.

Kamis, 10 Juni 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (58): Aksara Era Zaman Kuno di Indonesia, Bermula Aksara Pallawa; Aksara Batak versus Aksara Jawa

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog Klik Disini 

Semua aksara nusantara (termasuk Filipina) zaman kuno bermula dari aksara Pallawa (India selatan). Pada era lingua franca bahasa Sanskerta, aksara Pallawa ini terjadi adopsi oleh penduduk asli di Sumatra dan Jawa. Perkembangan aksara nusantara ini terbentuk dua pola, jenis aksara Jawa dan aksara Sumatra. Aksara Jawa berkembang di Kerajaan Majapahit (Jawa bagian tmur) dan aksara Sumatra berkembang di Kerajaan Aru (Sumatra bagian utara). Aksara Jawa-Majapahit meluas ke barat (Sunda) dan ke timur (Lombok), sementara aksara Sumatra-Aru meluas di Sumatra bagian utara (Gajo) dan bagian selatan (Lampung) serta wilayah timur di Filipina dan Sulawesi. Hal itulah mengapa aksara Bugis-Makassar lebih mirip aksara Batak daripada aksara Jawa.

Sebelum aksara diintroduksi di nusantara sudah berkembang aksara di India (Pallawa) dan di Tiongkok (Jiaguwen). Produk-produk zaman kuno seperti kamper dan kemenyan yang permintaannya terus meningkat di Arab dan Eropa menyebabkan pedagang-pedagang India mulai berkoloni di pantai barat Sumatra dengan pelabuhan ekspor kamper di Barus. Dari sinilah pedagang-pedagang India mengalami eskpansi perdagangan hingga di Jawa. Tiga kerajaan awal terbentuk yakni Kerajaan Aru (Sumatra utara) dan Kerajaan Tarumanegara (Jawa barat). Setelah itu terbentuk Kerajaan Sriwijaya. Pada era ini satu-satunya aksara adalah Pallawa dengan lingua franca Sanskerta. Dalam perkembangan lebih lanjut, aksara Pallawa dikembangkan di Kerajaan Aru yang menjadi cikal bakal aksara Sumatra dan dikembangkan di Kerajaan Singhasari (Majapahit) yang menjadi cikal bakal aksara Jawa. Pedagang-pedagang Kerajaan Aru mengintroduksi aksara Sumatra (Aksara Batak) di Filipina dan Sulawesi (besar dugaan juga di Maluku) dan hal serupa Aksara Jawa oleh pedagang-pedagang Majapahit di bagian barat Jawa dan bagian timur Jawa hingga Lombok (besar dugaan juga hingga Bima dan Kalimantan bagian selatan dan barat). Pada awal era perkembangan agama Islam muncul aksara Arab tetapi aksara Batak dan akasara Jawa juga masih eksis. Lalu kemudian oleh pedagang-pedagang Portugis dan Spanyol mengintroduksi aksara Eropa  (aksara Latin).

Lantas bagaimana sejarah aksara zaman kuno di Indonesia? Seperi disebut di atas dikembangkan dari aksara Pallawa di Kerajaan Aru dan Kerajaan Singhasari-Majapahit. Aksara Batak yang berkembang di Kerajaan Aru (Padang Lawas) meluas ke Toba, Karo dan Gajo di bagian utara dan Minangkabau (pra Pagaroejoeng), Kerinci, Rejang terus ke Lampung. Pola aksara Batak ini juga diduga kuat dipengaruhi aksara Tiongkok (hubungan dagang antara Kerajaan Aru dan Tiongkok yang intens). Hal itulah mengapa aksara Sumatra dan Jawa terkesan berjauhan padahal berakar sama (Pallawa). Bagaimana semua itu berlangsung? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Rabu, 09 Juni 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (57): Bahasa Era Zaman Kuno di Indonesia, Lingua Franca Sanskerta; Bahasa Batak, Jawa dan Melayu

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog Klik Disini

Bahasa pada dasarnya diturunkan. Bahasa tidak akan hilang sejauh populasi pemiliknya masih eksis. Namun bahasa pada populasi tertentu dapat digantikan oleh bahasa lain (karena adanya pengaruh budaya baru yang sangat masif). Populasi pengguna bahasa di wilayah pedalaman seperti Tanah Batak dan Tanah Jawa cenderung bertahan lama hingga ini hari. Bahasa-bahasa asli Indonesia itu pada zaman dulu diperkaya oleh bahasa Sanskerta melalui navigasi pelayaran perdagangan dari India (selatan). Bahasa Sanskerta inilah yang kemudian menjadi lingua frannca..

Bahasa Batak dan bahasa Jawa bukan lingua franca dalam navigasi pelayaran perdagangan. Interaksi bahasa Sankerta dengan bahasa Batak dan bahasa Jawa menyebabkan terjadi proses pembaruan bahasa Sanskerta sebagai lingua franca menjadi lingua franca yang baru yang keudian diidentifikasi sebagai bahasa Melayu Kuno. Pada fase ini tetap eksis bahasa Batak Kuno dan bahasa Jawa Kuno. Seiring dengan pergeseran lingua franca ini, berkembang aksara dari aksara Pallawa berbahasa Sanskerta menjadi aksara Batak Kuno, aksara Melayu Kuno dan aksara Jawa Kuno. Dalam perkebangannya, muncul peradaban baru era Islam. Aksara dengan bahasa Melayu kuno menjadi aksara Arab dengan bahasa Melayu. Sementara itu, aksara Batu Kuno dan aksara Jawa kuno yang lebih dipermodern tetap eksis. Dengan hadirnya aksara Latin berbahasa Melayu (sejak era Portugis), aksara Arab berbahasa Melayu menghilang menjadi aksara Latin berbahasa Melayu. Sekali lagi, aksara Batak Kuno dan aksara Jawa Kuno yang lebih dipermodern tetap eksis (bahakan hingga ini hari). Pada masa kini, lingua farnca (bahasa nasional) bukan lagi bahasa Melayu tetapi bahasa Indonesia. Bahasa Batak, Bahasa Jawa dan Bahasa Melayu hanya diposisikan sebagai bahasa daerah,

Lantas bagaimana sejarah bahasa zaman kuno di Indonesia? Tentu saja sudah ada yang menulisnya tetapi tampaknya hanya sekadarnya. Seperti disebut di atas dua pengguna bahasa asli yang memiliki populasi besaradalah bahasa Batak dan bahasa Jawa. Kehadiran bahasa Sanskerta sebagai lingua franca menjadi sebab munculnya lingua franca yang baru bahasa Melayu (kuno). Lalu apa hubuugannya dengan perkembangan aksara? Setali tiga uang dengan bahasa. Sejauh mana pengaruh bahasa Batak Kuno dan bahasa Jawa Kuno? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.