Sabtu, 23 Juni 2018

Sejarah Kota Padang (55): Achmad Mochtar Kelahiran Bonjol Dokter Bergelar Ph.D (1927); Anak Seorang Guru Asal Tapanuli


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disini

Pada artikel sebelum ini telah dideskripsikan riwayat Prof. Dr. Sjoeib Proehoeman, Ph.D, seorang dokter kelahiran Pajakoemboeh asal Pakantan, Tapanoeli yang meraih gelar doktor (Ph.D) pada bidang kedokteran di Universitas Amsterdam tahun 1930. Pada artikel ini mendeskripsikan riwayat Prof. Dr. Achmad Mochtar, Ph.D, yang juga seorang dokter kelahiran Bondjol asal Mandailing, Tapanoeli dan telah meraih gelar doktor (Ph.D) di bidang kedokteran di Universiteit Amsterdam tahun 1927. Dr. Sjoeib Proehoeman, Ph.D adalah anak seorang dokter hewan; Dr. Achmad Mochtar, Ph.D adalah anak seorang guru. Like father, like son. Keluarga Dr. Sjoeib Proehoeman, Ph.D dan keluarga Dr. Achmad Mochtar, Ph.D memiliki hubungan kekerabatan.

Dr. Achmad Mochtar, Ph.D
Tidak banyak dokter pribumi yang berhasil meraih gelar pendidikan tertinggi (doktor). Dari yang sedikit itu semuanya laki-laki kecuali ada satu orang perempuan. Dr. Ida Loemongga, Ph.D kelahiran Padang asal Padang Sidempoean meraih gelar doktor (Ph.D) di bidang kedokteran di Universiteit Amsterdam tahun 1932. Dr. Ida Loemongga, Ph.D dalam hal ini menjadi perempuan Indonesia pertama yang meraih gelar doktor. Ayah Dr. Ida Loemongga, Ph.D adalah seorang dokter, Dr. Haroen Al Rasjid Nasution; ibunya adalah seorang pribumi pertama yang berpendidikan Eropa, Alimatoe Saadiah Harahap. Like mother, like daughter..
.  
Riwayat Dr. Achmad Mochtar, Ph.D sudah kerap ditulis, tetapi itu tidak cukup. Riwayat Dr. Achmad Mochtar, Ph.D lebih dari yang ditulis selama ini. Perjalanan Dr. Achmad Mochtar, Ph.D di bidang kedokteran sesungguhnya terbilang yang paling komprehensif dan paling lengkap. Dr. Achmad Mochtar memulai melakukan penelitian penyakit endemik malaria di Mandailing  dan Angkola dalam rangka membantu Dr. W. Schuffner yang kemudian membuka jalan bagi Dr. Achmad Mochtar  untuk meraih gelar Ph.D di bidang kedokteran. Di ujung karirnya sebagai Direktur Laboratorium Eijkman di Batavia.Djakarta pada era pendudukan Jepang dibunuh militer Jepang sebagai upaya mencari kambing hitam atas kesalahan tim kedokteran militer Jepang sendiri yang gagal memberi vaksin yang mengakibatkan ratusan orang romusha mengalami kematian. Untuk itu, ada baiknya sejarah Dr. Achmad Mochtar, Ph.D ditulis kembali. Mari kita telusuri.

Orang Mandailing dan Angkola (kini Padang Sidempoean) sejak awal tidak hanya satu, dua orang yang meraih gelar doktor (Ph.D) tetapi lebih dari tiga, diantaranya: Dr. Sjoeib Proehoeman, Ph.D meraih gelar doktor (Ph.D) dalam bidang kedokteran di Unversiteit Amstedam tahun 1930 dengan desertasi berjudul ‘Studies over de epidemiologie van de ziekte van Weil, over haren verwekker en de daaraan verwante organismen’. Sebelumnya, Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi lahir di Batang Toroe meraih gelar doktor di bidang hukum di Universiteit Leiden tahun 1925 dengan desertasi berjudul ‘Het grondenrecht in de Bataklanden: Tapanoeli, Simeloengon en het Karoland’. Setelah itu menyusul Ida Loemongga Nasution lahir di Padang meraih gelar doktor di bidang kedokteran di Universiteit Amsterdam 1931 dengan desertasi berjudul ‘Diagnose en prognose van aangeboren hartgebreken’. Setahun kemudian menyusul Aminoedin Pohan lahir di Sipirok meraih gelar doktor di bidang kedokteran di Universiteit Utrecht 1932 dengan desertasi berjudul ‘Abortus: voorkomen en behandeling’, Tahun berikutnya Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia lahir di Padang Sidempoean meraih gelar doktor di bidang filsafat di Universiteit Leiden 1933 engan desertasi berjudul ‘Het primitieve denken in de moderne wetenschap'. Dalam daftar ini dapat ditambahkan yang paling populer Masdoelhak Nasution lahir di Sibolga meraih gelar doktor di bidang hukum di Universiteit Leiden 1943 dengan desertasi berjudul ‘De plaats van de vrouw in de Bataksche Maatschappij’.

Masuk STOVIA 1907, Lulus Langsung Membantu Dr. W. Schuffner di Padang Sidempoean

Achmad Mochtar masuk STOVIA tahun 1907. Jika usia masuk sekolah tujuh tahun ditambah studi di ELS selama tujuh tahun, umur Achmad Mochtar saat masuk STOVIA adalah 14 tahun atau dengan kata lain Achmad Mochtar lahir tahun 1893, Tidak ditemukan keterangan dimana Achmad Mochtar menyelesaikan pendidikan ELS (Europesch Lager School). Pada tahun 1908, Achmad Mochtar lulus ujian kelas satu tingkat persiapan (Bataviaasch nieuwsblad, 19-09-1908).  Teman satu kelas antara lain Raden Seno. Satu tahun di atas mereka antara lain Raden Sardjito. Siswa yang tiga tahun diatas mereka antara lain Raden Soeselo dan Mohamad Sjaaf. Pada kelas-kelas senior antara lain: JA Latumeten dan AB Andu. Siswa yang lulus dan mendapat gelar dokter antara lain Raden Antariksa.

Pada tahun 1890 siswa yang diterima harus lulusan ELS. Beberapa lulusan yang terkenal adalah Dr. Haroen Al Rasjid (lulus 1902), Dr. Mohamad Hamzah (1902), Dr. Abdoel Hakim (1905), Dr. Abdoel Karim (1905)  dan Dr. Tjipto Mangoengkoesoemo (1905).  Pada tahun 1902 lama studi dari tujuh tahun menjadi sembilan tahun yang mana Docter Djawa School namanya berubah menjadi STOVIA. Lulusan pertama STOVIA antara lain Dr. Soetomo (1911) dan Dr. Radjamin Nasution (1912). Sejak tahun 1913 (STOVIA dan sekolah kedokteran yang baru di Soerabaja, NIAS) lama studi menjadi 10 tahun.

Achmad Mochtar lulus tepat waktu di STOVIA tahun 1916. Dr. Achmad Mochtar langsung ditempatkan di Medan untuk ikut membantu Kepala Inspektur Dinas Kesehatan di Sumatra, Dr. W. Schüffnerm (De Preanger-bode, 05-07-1916). Teman-teman Achmad Mochtar di STOVIA boleh jadi menganggap ditempatkan dibawah Dr. W. Schüffner adalah neraka. Sudah sejak tahun 1913 Dr. W. Schüffner didengar mahasiswa sebagai Schüffner sebagai dokter gila yang mengabdi 100 persen hidupnya untuk dunia nyata melakukan penelitian penyakit-penyakit tropis. Boleh jadi Achmad Mochtar berpikir lain, bahwa inilah saatnya memulai hidup di lingkungan yang baru di komunitas orang-orang Tapanuli di Medan.

Sejak tahun 1905 Residentie Tapanoeli dipisahkan dari Province Sumara’s Westkust dan kemudian Residentie Tapanoeli di satukan ke dalam satu regional bersama Residentie Oostkust Sumatra. Sejak itu para migran asal Tapanoeli telah bergeser yang awalnya ke West Sumatra yang berpusat di Padang (ibukota Province Sumatra’s Westkust) beralih ke Oost Sumatra yang berpusat di Medan, ibukota Residentie Oostkust Sumatra (Residentie Oostkust Sumatra ditingkatkan menjadi provinsi tahun 1915). Dengan semakin banyaknya migran orang-orang Tapanoeli (khususnya dari Afdeeling Angkola dan Mandailing) di Medan dan Deli, pada tahun 1907 di Medan didirikan Sarikat Tapanoeli untuk mengimbangi dominasi ekonomi Tionghoa. Sarikat Tapanoeli kemudian mendirikan perusahaan NV Sarikat Tapanoeli tahun 1909 dan pada tahun yang sama perusahaan mendirikan surat kabar Pewarta Deli. Sejak 1915 sudah terhubung jalan daeat antara Sibolga (ibukota Residentie Tapanoeli) dan Medan (coast to coast). Arus mogran orang-orang Afdeeling Angkola dan Mandailing makin deras ke Medan. Pada situasi inilah Dr. Achmad Mochtar ditempatkan di Medan penempatan kali pertama setelah lulus kuliah. Bagi Achmad Mochtar justru yang muncul adalah banyak tantangan baru dalam dunia nyata, bukan banyak ancaman dalam menjalani karir.

Dr. Achmad Mochtar sebelum ke Medan dikabarkan menikah dengan Siti Hasnah di Makassar pada tanggal 30 Juni 1916 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 15-07-1916). Dengan kapal Melcior Treub Achmad Mochtar berangkat dari Batavia ke Medan tanggal 25 Juli (De Sumatra post, 26-07-1916). Dalam manifest kapal tercatat Achmad Mochtar dengan istri. Kepastian Dr. Achmad Mochtar ditempatkan ke Medan terhitung tanggal 1 Juli 1916 berdasarkan berlit No.5460 oleh Hoofdinspecteur, Chef van den Burgerlöken Geneeskundigen Dienst, Dr. W. Schuffner yang berkedudukan di Medan (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 14-10-1916). Dr. Achmad Mochtar kemudian ditempatkan di Tapanoeli di Taroetoeng dan Padang Sidempoean.

De Preanger-bode, 23-12-1918: ‘Dengan keputusan terbuat dari Inspektur di Taroetoeng dan di Padang Sidempoean (Tapanoeli) yang berkedudukan di Padang Sidempoean untuk membantu Kepala Inspektur Dinas Kesehatan di Sumatra, Dr. W. Schüffner, dokter pribumi pemerintah, Achmad Mochtar’.

Tentu saja penempatan ini tidak sulit bagi Dr. Achmad Mochtar karena ini kesempatan untuk melakukan kebajikan penelitian penyakit malaria di kampung ayahnya di Afdeeling Mandailing dan Angkola (yang beribukota di Padang Sidempoean). Sejumlah daerah yang rawan penyakit malaria adalah wilayah Angkola di Batangtoroe dan wilayah Mandailing di Panjaboengan.

Bataviaasch nieuwsblad, 13-03-1919: ‘Dari Padang Sidempoean (Tapanoeli) ke Sibclga, dokter pribumi pemerintah, Achmad Mochtar, sekarang (masih tetap) untuk membantu Kepala Inspektur Dinas Kesehatan di Sumatra, Dr. W. Schüffnerm, dengan ketentuan bahwa selama tidak adanya dokter dia juga akan merangkap pejabat layanan kesehatan di Sibolga’.

Dr. W. Schuffner secara periodik datang ke Sibolga untuk mendiskusikan hasil-hasil penelitian dengan Dr. Achmad Mochtar. Dalam fase ini Dr. Achmad Mochtar di Sibolga juga merangkap sebagai kepala dinas kesehatan setempat. Setelah cukup lama di Tapanoeli membantu Dr. W. Schuffner dalam riset malaria, Dr. Achmad Mochtar kemudian dipindahkan ke ke Kajoeagerg (Palembang) untuk melakukan kegiatan sejenis (De Preanger-bode, 28-09-1921). Lalu kemudian kembali ke Batavia di BGD. Selesai sudah penelitian malaria Dr. W. Schüffner. Pada fase dimana Dr. Achmad Mochtar bertugas di Belawan/Medan, Padang Sidempoean, Sibolga dan Palembang, selama itu pula Dr. Achmad Mochtar banyak belajar dari Dr. W. Schuffner.

Dr. W. Schüffner setelah melakukan penelitian yang melelahkan tentang malaria,  Dr. W. Schüffner akan cuti selama enam bulan ke Eropa (Provinciale Overijsselsche en Zwolsche courant, 01-02-1922). Laporan Dr. W. Schüffner telah dimuat di dalam Mededeelingen van den Burgerlijken Geneeskundigen Dienst tentang ‘De Malaria te Belawan tijdens den aanleg van de Occaanliaven van 1918’ (Bataviaasch nieuwsblad, 25-04-1922). Dr. W. Schüffner telah memberi kontribusi yang signifikan selama 15 tahun di Deli. Dr. W. Schüffner ingin kembali ke Eropa karena kondisi kesehatan istrinya, tetapi itu harus ditunda hingga enam bulan lagi (De Indische courant, 12-02-1923). Setelah tahun 1923 ini Dr. W. Schüffner kembali ke Eropa tidak pernah kembali lagi ke Hindia Belanda.

Dr. W. Schuffner lahir tanggal 2 Januari 1867 di Gernheim (Jerman). Terhadap upayanya dalam penelitian kesehatan di Senembah Mij selama 15 tahun Dr. W. Schuffner adalah direktur medis di rumah sakit Senembah Mij di Tandjong Morawa, Deli. Dr. W. Schuffner menerima doctor honoris causa (De Sumatra post, 17-02-1913). Dr. W. Schuffner mengawali karir di Leipzig yang secara berturut-turut menjadi asisten ahli bedah terkenal Profesor Tirsch dan Trendelenberg, Setelah lulus 1897, universitasnya meminta untuk diangkat dosen, tetapi Dr. W. Schuffner justru tertarik tawaran Senembah Mij untuk memimpin rumah sakit di Tandjong Morawa. Dengan pengalaman praktis sebagai asisten itu Dr. W. Schuffner mulai mempraktekkannya di Deli. Kasus penyakit malaria menjadi awal perhatiannya karena banyak mengakibatkan korban bagi karyawan kemudian juga memperhatikan tifus, beri-beri, disentri, sifilis, cacing tambang dan berbagai penyakit tropis epidemi. Hasilnya terasa terjadi kondisi kesehatan yang normal di antara para pekerja di Deli, dalam lima belas tahun terakhir dari sekitar 100 per 1.000 menjadi menurun sekitar 10 per 1.000 kematian akibat penyakit-penyakit tropis tersebut. Karena itulan Universiteit Amsterdam memberikan doktor honoris causa kepadanya  (Het nieuws van den dag: kleine courant, 12-12-1913). Dr. W. Schuffner menyampaikan makalahnya di deapn senat universitas yang mengundangnya (Algemeen Handelsblad, 22-01-1913). Di perusahaan tempat Dr. W. Schuffner bekerja terdapat 7.000 karyawan Senembah Mij. Dari tahun 1890 hingga 1896 angka kematian di perusahan adalah 74 per 1.000 yang idealnya adalah 8 per 1000.

Jika saja wabah itu tidak diekndalikan akan dapat membahayakan atau menghancurkan perusahaan-perusahaan jika pengendaliannya tidak memadai. Itulah kontribusi Dr. W. Schuffner. Pada tahun 1916 pemerintah mengangkat Dr. W. Schuffner sebagai Kepala Inspektur Kesehatan Masyarakat BVG. Pada tahun ini pula Dr. Achmad Mochtar diangkat untuk membantu Dr. W. Schuffner di Deli (Medan/Belawan), Tapanoeli (Taroetoeng, Padang Sidempoean dan Sibolga) serta Palembang (Kajoeangoeng).

Dr. Achmad Mochtar Studi ke Belanda: Meraih Gelar Ph.D

Setelah selesai membantu Dr. W. Schuffner dalam penelitian dan pemberantasan penyakit malaria dan penyakit tropis epidemik lainnya di Sumatra, Dr. Achmad Mochtar kembali ke Batavia di BVG (tempat dimana Dr. W. Schuffner berkantor). Dr. Achmad Mochtar kemudian mendapat kesempatan untuk melanjutkan studi ke Belanda. Tentu saja dalam hal ini peran Dr. W. Schuffner sangat besar dalam hal studi lebih lanjut Dr. Achmad Mochtar. Ketekunan Dr. Achmad Mochtar membantu Dr. W. Schuffner di Tapanoeli khususnya di Mandailing (kampung asal ayahnya) telah menjadi berkah bagi Dr. Achmad Mochtar untuk melanjutkan studi. Dr. W. Schuffner juga bersiap-siap untuk kembali ke Eropa.

Berangkat studi ke Belanda dengan menumpang kapal Jan Pieterszoon Coon tujuan Amsterdam pada tanggal 1 September 1923 (Bataviaasch nieuwsblad, 30-08-1923). Dalam manifest tercatat atas nama Dr. Achmad Mochtar, istri dan dua anak. Pelayaran tiba di Genoa tanggal 25 September (Nieuwe Rotterdamsche Courant, 28-09-1923). Tiba di Rotterdam tanggal 3 Oktober (Het Vaderland : staat- en letterkundig nieuwsblad, 01-10-1923). Sementara itu di rumah kediaman Dr. W. Schuffner dilakukan lelang (De Sumatra post, 11-12-1923). Kegiatan lelang ini seakan penanda bahwa Dr. W. Schuffner tidak lama lagi akan berangkat ke Eropa.

Di Belanda, Dr. Achmad Mochtar selain kuliah juga aktif di Perhimpoenan Indonesia (PI). Dr. Achmad Mochtar lulus ujian pertama untuk akte dokter (De Maasbode, 05-11-1924). Orang-orang Indonesia terus diharapkan agar makin banyak yang melanjutkan studi di Belanda. PI kemudian membentuk panitia yang bertanggung jawab untuk memberikan dukungan bagi orang Indonesia yang tiba di Belanda. Panitia ini termasuk Achmad Mochtar (De Indische courant, 03-04-1926).

Kerjasama antara Dr. W. Schuffner dan Dr. Achmad Mochtar masih diteruskan di Belanda. Dalam pertemuan ilmiah Koninklijke Akademie van Wetenschappen, Prof. Schüffner, juga atas nama Achmad Mochtar, menyajikan hasil pencobaan mereka untuk membuktikan ‘splitsing van Leptospirenstammen’ (De Maasbode, 31-10-1926).

De Telegraaf, 11-02-1927
Dr. Achmad Mochtar akhirnya berhasil mencapai gelar doktor (Ph.D) di bidang kedokteran pada tahun 1927 (De Telegraaf, 11-02-1927). Disebutkan bahwa Achmad Mochtar lahir di Bondjol dengan desertasi berjudul ‘Onderzoekingen omtrent eenige leptosplrenstummen’. Tema desertasi Achmad Mochtar ini tampak satu rumpun dengan topik penelitian yang dilakukan oleh Dr. Achmad Mochtar dan Dr. W. Schuffner yang menjadi bidang perhatian mereka selama ini.

Dr. Achmad Mochtar, Ph.D kembali ke tanah air dengan kapal Johan de Witt dari Amsterdam pada tanggal 25 Oktober 1927 (Nieuwe Rotterdamsche Courant, 25-10-1927). Kapal akan tiba pada tanggal 23 November di Belawan (De Sumatra post, 21-11-1927) dan tanggal 27 November di Tandjong Priok (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 23-11-1927). Dalam manifes kapal tercatat keluarga Dr. A. Mochtar dan dua anak. Pada saat Achmad Mochtar berangkat ke Belanda tahun 1923 dalam manifes tercatat istri dan dua anak.

Dr. Achmad Mochtar, Ph.D ditempatkan di rumah sakit CBZ di Weltevreden, Batavia (kiini RSPAD). Pada bulan Maret 1928 Dr. Achmad Mochtar, Ph.D diberitakan akan dipindahkan ke Bengkoelen sebagai dokter pemerintah (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 26-03-1928). Dr. Achmad Mochtar, Ph.D mendapat kenaikan pangkat menjadi dokter pemerintah kelas satu (Soerabaijasch handelsblad, 01-08-1929). Dr. Achmad Mochtar, Ph.D dipindahkan ke Jawa. Pada bulan Februari dipindahkan dari Ambarawa ke rumah sakit CBZ di Semarang (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 06-02-1932). Dr. Achmad Mochtar, Ph.D selain menjadi kepala laboratorium di Semarang ditunjuk sebagai pejabat kepala dinas kesehatan DVG Midden Java dan di Semarang jika Dr, Sardjito tidak berada di tempat ketika melakukan dinas pemberantas penyakit lepra (Bataviaasch nieuwsblad, 18-06-1935).

Dr. Sardjito, Ph.D meraih gelar doktor di Universiteit Amsterdam pada tahun 1923. Dr. Sebagaimana telah disebut di awal, Dr. Sjoeib Proehoeman, Ph.D meraih gelar doktor di Universiteit Amsterdam tahun 1930. Pada tahun 1931 Ida Loemongga meraih gelar doktor juga di Universiteit Amsterdam. Sedangkan Aminoedin Pohan meraih gelar doktor di Universiteit Utrecht tahun 1932. Pada tahun 1935 ini, Dr. Sjoeib Proehoeman, Ph.D masih menjabat sebagai kepala dinas kesehatan DVG di Sibolga. Sementara Aminoedin Pohan sebagai kepala rumah sakit di Padang Sidempoean. Sedangkan Ida Loemongga membuka Dokter Praktik untuk ibu dan anak di Amsterdam. Catatan: Pada saat ini (1935) terdapat nama yang sama Dr. Achmad Mochtar yang berdinas di Pontianak (dokter pribumi lulus STOVIA tahun 1932) dan Dr. Achmad Mochtar alumni Docter Djawa School tahun 1905. Harus dibedakan Dr. Achmad Mochtar, Ph.D dengan dua dokter lainnya pengguna nama yang sama.
Setelah cukup lama di Semarang, Dr. Achmad Mochtar, Ph.D dipindahkan ke Geneeskundig Laboratorium te Batavia pada bulan Mei 1937 yang juga diperbantukan di DVG dalam penanganan penyakit kusta (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 12-05-1937).

Geneeskundig Laboratorium te Batavia, kelak lebih dikenal sebagai Lembaga Eijkman, suatu lembaga penelitian yang melakukan akitivitas di bidang penelitian biologi molekuler dan bioteknologi kedokteran. Nama lembaga ini diambil dari nama direktur pertama Geneeskundig Laboratorium te Batavia, Christiaan Eijkman.

Pada masa pendudukan Jepang, lembaga penelitian ini dipimpin oleh Dr. Achmad Mochtar, Ph.D. Dalam kasus kematian romusha di Klender, akibat efek suntikan vaksin, militer Jepang menuduh Dr. Achmad Mochtar, Ph.D bertanggungjawab. Kejadian kasus vaksin ini terjadi pada Juli-Agustus 1944. Tuduhan yang diduga tidak berdasar ini, Dr. Achmad Mochtar, Ph.D.semakin tertekan. Hal ini karena belum lama anak sulungnya Baharsjah Mochtar dikabarkan meninggal dunia di Belanda. Ini terlihat dalam iklan/berita keluarga Algemeen Handelsblad, 23-02-1944 yang menyatakan Baharsjah Mochtar kandidat dokter (Med. Cand.) di Rijksuniversiteit di Leiden pada usia hampir 26 tahun meninggal dunia. Yang berduka: Dr. A. Mochtar dan Siti Hasnah.

Bataviaasch nieuwsblad, 25-04-1931: Baharsjah Mochtar lulus kelas satu di KW III School. Algemeen Handelsblad, 27-03-1941 Baharsjah Mochtar tercatat sebagai bendahara Clubhuis Indonesia di Leiden.

Dalam daftar orang-orang yang dieksekusi selama pendudukan Jepang termasuk Dr. Achmad Mochtar, Ph.D. Kabar eksekusi ini dilaporkan pada bulan November 1945. Disebutkan Prof. Achmad Mochtar, dieksekusi pada umur 54 tahun pada tanggal 3 Juli 1945.  

Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 03-11-1945: ‘Pengadilan Militer Batavia dilaksanakan di Batavia. Dalam daftar orang yang telah dieksekusi (diantaranya) Prof. Achmad Mochtar, dieksekusi pada umur 54 tahun pada tanggal 3 Juli 1945’.

Dr. Achmad Mochtar, Ph.D telah tiada. Dokter yang patriot ini meninggalkan seorang istri, Siti Hasnah dan satu orang anak, Imramsjah Ade Mochtar. Dr. Achmad Mochtar menikah dengan Siti Hasnah di Makassar pada tanggal 30 Juni 1916. Imramsjah Ade Mochtar lahir di Padang Sidempoean 4 Maret 1919, sementara abangnya Baharsjah Mochtar juga lahir di Padang Sidempoean tahun 1918. Dr. Achmad Mochtar setelah lulus kuliah di STOVIA bertugas untuk membantu Dr. W. Schuffner dalam pemberantasan penyakit malaria di Tapanoeli (1916-1921) yang berkedudukan di Padang Sidempoean.

Besar kemungkinan Imramsjah Ade Mochtar berangkat studi ke Belanda atas bantuan beasiswa Belanda, karena Prof. Achmad Mochtar telah menjadi salah satu korban dari keganasan militer Jepang. Belanda kembali setelah berakhir pendudukan Jepang. Jasa Dr. Achmad Mochtar, Ph.D selama era kolonial Belanda telah banyak membantu pemberantasan penyakit tropis epidemik termasuk di Tapanoeli. Boleh jadi atas dasar itu, Imramsjah Ade Mochtar diberikan beasiswa pendidikan.

Setelah pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda, Imramsjah Ade Mochtar tetap meneruskan studinya di Belanda. Saat-saat Imramsjah Ade Mochtar sibuk menjalani pendidikan doktoral di bidang kedokteran di Universitas Anmsterdam, besar kemungkinan Imramsjah Ade Mochtar mengikuti perkembangan di tanah air. Salah satu isu panas yang muncul pada pasca pengakuaan kedaulatan RI oleh Belanda, Mochtar Lubis menuding Soekarno bertanggung jawab terhadap banyaknya pendudukan Indonesia pada era pendudukan Jepang karena romusha.

De nieuwsgier, 02-03-1951: ‘Karena ada keluhan oleh Presiden, diperintahkan oleh Jaksa Agung, ex officio, Mochtar Lubis redaktur Indonesia Raya, Senin dipanggil oleh kepala jaksa A. Karim sehubungan dengan tulisan dimana presiden adalah yang bertanggung jawab atas kematian banyak orang Indonesia selama pendudukan’

Sejak Mochtar Lubis mengapungkan kasus romusha dimana Soekarno dan Mohamad Hatta adalah ketua dan wakil ketua dewan bentukan pemerintah militer Jepang yang membawahi romusha, pers semakin ditekan pemerintah. Mochtar Lubis lalu memimpin demonstrasi kebebesan pers. Dalam fase inilah Imramsjah Ade Mochtar masih mampu meraih gelar doktor (Ph.D) di Universiteit Amsterdam pada tahun 1954, gelar yang pernah diraih oleh sang ayah pada tahun 1927 di kampus yang sama. Like father, like son.

De Tijd : godsdienstig-staatkundig dagblad, 19-06-1954
De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 19-06-1954: ‘Amsterdam, 18 Juni. Dipromosikan doctor pada bidiang kedokteran (di Universiteit Amstedam) dengan desertasi berjudul ‘Deuterophaemophilia (Christmas' Ziekte), Imramsjah Ade Mochtar, lahir di Padang Sidempuan.

Setelah meraih gelar doktor, Dr. Imramsjah Ade Mochtar, Ph.D tidak kembali ke tanah air. Boleh jadi Dr. Imramsjah Ade Mochtar, Ph.D sangat tertekan karena meninggalnya sang ayah secara tragis. Boleh jadi untuk meminimalkan trauma tersebut, Dr. Imramsjah Ade Mochtar, Ph.D dengan sadar memilih menjadi warga negara Belanda.

De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 01-07-1954
De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 01-07-1954: ‘Staatsblad van het Koningrijk der Nederlanden, 1960, No. 1-101, 01-01-1960, tanggal 01-01-1960, Imramsjah Ade Mochtar (menjadi) warga negara Belanda. Lahir di Padang Sidempoean tanggal 4 Maret 1919’.

Dr. Imramsjah Ade Mochtar, Ph.D telah memilih dimana dia tingga sebagai warga negara. Persoalan menjadi kembali kompleks. Untuk menyederhanakan berbagai macam pikiran dan perasaan yang muncul dan terus mempengaruhi, Dr. Imramsjah Ade Mochtar, Ph.D harus memilih satu kewarganegaraan: sedikit menyingkirkan kesedihan di tanah kelahiran untuk mendapatkan sedikit kegembiraan di negara yang baru di Belanda.

Silsilah Keluarga Dr. Achmad Mochtar, Ph.D

Dr. Achmad Mochtar, Ph.D adalah orang hebat di dalam keluarga yang hebat di lingkungan kekerabatan yang hebat pula. Secara sosial, bakat yang ada di dalam diri Dr. Achmad Mochtar, Ph.D tersemai, tumbuh dan berkembangan di dalam lingkungan kekerabatam yang egaliter yang lebih menomorsatukan arti ilmu pengetahuan dari daripada adat istiadat yang bertumpu pada haradjaon. Dr. Achmad Mochtar, Ph.D telah menjadi pucuk-pucuk peradaban baru tersebut. Oleh karena itu Dr. Achmad Mochtar, Ph.D menjadi pusat perhatian yang kemudian memunculkan pertanyaan baru: Bagaimana asal usul (keluarga) Dr. Achmad Mochtar, Ph.D.

Riwayat Dr. Achmad Mochtar, Ph.D telah banyak ditulis (diberitakan dan dibukukan). Tenpo.co telah menyajikan sejumlah artikel yang mendeskripsikan hasil investigasi tentang Dr. Achmad Mochtar, Ph.D. Di dalam artikel itu terungkap beberapa nama anggota keluarga Achmad Mochtar.. Ayah Achmad Mochtar bernama Omar dan ibunya Roekajah. Saudara perempuan Achmad Mochtar.adalah Siti Chairani. Beberapa cucu yang dari garis kekerabatan keluarga Achmad Mochtar dan Siti Chairani adalah Siti Chairani Proehoeman dan Siti Roebaijat Proehoeman. Yang kini tinggal di rumah (orang tua) Achmad Mochtar di Bonjol adalah Februman Proehoeman, ayah dari Siti Chairani Proehoeman. Dari sumber Cakrawala.co Siti Chairani Prohoeman menyebut opa Omar (ayah Achmad Mochtar) adalah seorang guru yang berasal dari Mandailing di Tapanuli. Sementara itu Februman Proehoeman adalah anak dari Dr. Sjoeib Proehoeman, Ph.D. Sedangkan ayah dari Sjoeib Proehoeman adalah seorang dokter hewan, Si Badorang gelar Radja Proehoeman yang berasal dari Pakantan, Tapanuli.

Dr. Achmad Mochtar, Ph.D lahir di Bonjol tahun 1892 sementara Dr. Sjoeib Proehoeman, Ph.D lahir di Pajakoemboeh tahun 1894. Dua dokter bergelar doktor ini kemudian menjadikan nama ayah mereka sebagai penulisan nama belakang (lastname) mereka. Cara itu menjadi tradisi baru di lingkungan elit (pejabat dan orang-orang terpelajar), seperti Egon Hakim (dari nama ayah Abdoel Hakim), Gele Haroen (Haroen Al Rasjid), Chaeroel Saleh (Achmad Saleh), Irsan Radjamin (Radjamin). Tentu saja Agoes Salim (Soetan Salim), Meutia Hatta (Mohamad Hatta), Sangkot Marzoeki (Marzoeki).

Omar (ayah Achmad Mochtar) adalah seorang guru yang berpindah-pindah dari Mandailing ke West Sumatra dan Zuid Sumatra. Nama Omar tidak ditemukan dalam surat kabar sejaman, yang ada adalah nama Mochtar. Guru Mochtar adalah guru pribumi yang sangat memperhatikan pendidikan penduduk pribumi (cf. De Indische courant,17-02-1926). Dalam usia tinggi guru Mochtar masih aktif di dunia pendidikan sebagai kepala sekolah HIS di Moearaenim (Bataviaasch Nieuusblad, 13-07-1937). Disebutkan, Mochtar gelar Soetan Negeri sebelum menjadi guru HIS mengikuti kursus guru utama di Bandoeng. Seperti halnya, dokter Si Badorang gelar Radja Proehoeman (ayah Dr. Sjoeib Proehoeman, Ph.D), guru Mochtar (ayah Dr. Achmad Mochtar, Ph.D) besar kemungkinan adalah alumni sekolah guru Kweekschool Padang Sidempoean (1879-1892). Nama-nama Proehoeman dan Mochtar telah menjadi nama generik di dalam keluarga masing-masing untuk penanda generasi berikutnya (saat itu penggunaan nama marga sebagai family name, surname atau last name. Oleh karenanya, Soetan Sjahboedin Proehoeman (alumni Landboew School, adik  Dr. Achmad Mochtar, Ph.D) mematenkan nama Proehoeman sebagai nama keluarga, untuk mengikuti tradisi orang-orang Eropa/Belanda (Bataviaasch nieuwsblad, 16-12-1927). Pematetan nama keluarga ini dilakukan Soetan Sjahboedin Proehoeman untuk digunakan oleh keturunan dari Proehoeman. Saat itu penggunaan nama clan (seperti Nasution, Harahap, Lubis dan Siregar) nyaris tidak ada kecuali beberapa nama orang di lingkungan misionaris. Dua orang pertama yang menggunakan nama marga (clan) sebagai lastname baru dua orang yakni Abdoel Azis Nasoetion gelar Soetan Kenaikan di Lambouw School di Buitenzorg (1914) dan Parada Harahap, editor surat kabar Benih Mardeka di Medan (1918).

Hubungan Keluarga Mochtar dengan Keluarga Proehoeman
Lantas bagaimana keluarga Proehoeman dan keluarga Mochtar terhubung. Ini dimulai ketika anak Dr. Sjoeib Proehoeman, Ph.D bernama Februman Proehoeman menikah dengan putri Siti Chairani (yang juga keponakan Dr. Achmad Mochtar, Ph.D) bernama Rika. Perkawinan dari dua keluarga ini (Proehoeman dan Mochtar) seakan mendekatkan kembali garis keturunan Si Badoeng gelar Radja Proehoeman dan guru Omar/Mochtar yang sama-sama berasal dari Tapanoeli. Kini, yang menghuni rumah pusaka guru Omar/Mochtar (ayah Achmad Mochtar) yang mewakili ahli waris adalah Februman Proehoeman. Di masa muda, Februman Soeleiman (Proehoeman) adalah bintang tennis lapangan di Soerabaja (lihat Soerabaijasch handelsblad, 10-11-1939). Pada tahun 1932 Dr. Sjoeib Proehoeman, Ph.D ditempatkan di Oost Java (Soerabaja dan Malang). Sejak itu yang Sejak 1932,

Keluarga Proehoeman di Soerabaja tidak sendiri, Keluarga-keluarga dokter yang berasal dari Mandailing dan Angkola di Kota Soerabaja lainnya adalah keluarga Dr. Radjamin Nasution (yang menjadi wali kota pribumi pertama di Soerabaja). Dr. Radjamin Nasution juga memiliki putra dan putri yang bestatus dokter. Putri Dr. Radjamin Nasution menikah dengan Dr. Amir Hoesin Siagian yang juga tinggal di Soerabaja. Tentu saja keluarga Dr. Achmad Nawir dan apoteker Ismail Harahap tinggal di Soerabaja. Dr. Achmad Nawir adalah kapten tim sepak bola Indonesia di Piala Dunia Prancis tahun 1938. Sedangkan Ismail Harahap adalah ayah dari Datoe Oloan Harahap alias Ucok AKA (pionir musik rock Indonesia). Keluarga-keluarga dokter yang berasal dari Mandailing dan Angkola di Kota Padang antara lain adalah keluarga Dr. Abdoel Hakim (wali kota pribumi pertama di Kota Padang). Juga terdapat keluarga dokter asal Mandailing dan Angkola di Kota Telok Betong/Tandjong Karang antara lain keluarga Dr. Haroen Al Rasjid (ayah dari Ida Loemongga, perempuan Indonesia pertama bergelar doktor (Ph.D) dan ayah dari Mr. Gele Haroen (residen pertama Lampoeng). Sudah barang tentu di Batavia/Djakarta terdapat banyak keluraga dokter asal Mandailing dan Angkola. Selain tentunya keluarga Dr, Achmad Mochtar, PhD sendiri, juga keluarga Dr. Sorip Tagor dan keluarga Dr. Sangkot Marzoeki, Ph.D. Pada masa ini, Dr. Sorip Tagor Harahap pendiri Sumatra Sepakat (Sumatranen Bond) di Belanda tahun 1917, lebih dikenal sebagai ompung dari mereka ini: Inez Tagor, Risty Tagor dan Deisti Astriani Tagor (istri Ketua DPR Setya Novanto).

Dr. Achmad Mochtar, Ph.D menikah dengan Siti Hasnah (dari Makassar) pada tahun 1916. Mereka memiliki dua anak Baharsjah Mochtar dan Imramsjah Ade Mochtar. Baharsjah Mochtar, kandidat dokter telah meninggal tahun 1944 di Belanda. Dr. Imramsjah Ade Mochtar, Ph.D yang meraih gelar doktor di Belanda tahun 1954, pada tahun 1960 telah beralih kewarganegaraan menjadi warga negara Belanda (meninggal tahun 1980). Setelah meninggalnya kandidat dokter Baharsjah Mochtar dan bergantinya kewarganegaraan Dr. Imramsjah Mochtar, Ph.D, dengan sendirinya keturunan Dr. Achmad Mochtar, Ph.D diduga tidak ada lagi di Batavia/Djakarta.

Lembaga Eijkman: Prof. Dr. Achmad Mochtar, Ph.D dan Prof. Dr. Sangkot Marzuki, Ph.D

Sebagaimana telah dideskripsikan di atas, Dr. Achmad Mochtar, Ph.D dari laboratorium di Semarang ke Geneeskundig Laboratorium di Batavia pada bulan Mei 1937 yang juga diperbantukan di DVG dalam penanganan penyakit kusta. Laboratorium Batavia ini juga dikenal sebagai Laboratorium Eijkman, sedangkan DVG adalah Kantor Dinas Kesehatan Batavia yang berlokasi di Tjikinie.

Geneeskundig Laboratorium di Batavia didirikan tahun 1888 yang mana Christiaan Eijkman diangkat sebagai direktur pertama (sejak 15 Januari 1888 hingga 4 Maret 1896). Pada tahun 1897, Dr. W. Schuffner, lulusan dokter Jerman direkrut oleh perusahaan perkebunan besar Senembah Mij di Deli untuk mengepalai rumah sakit Senembah Mij di Tandjong Morawa. Dr. W. Schuffner juga mulai membangun laboratorium di rumah sakit Senembah. Sudah barang tentu ketika Dr. W. Schuffner kerap datang ke Geneeskundig Laboratorium di Batavia untuk mendiskusikan temuannya di Deli dengan para kolega di Batavia, Dr. Christiaan Eijkman sudah kembali ke Eropa/Belanda. Pada tahun 1916 Dr. W. Schuffner yang sudah diangkat menjadi Inspektur DVG memerlukan dokter muda untuk membantunya dalam menangani endemik malaria di Tapanoeli. Dokter muda yang dicari mengarah kepada Dr. Achmad Mochtar yang baru lulus dan ditempatkan di rumah sakit CBZ di Weltevreden (kini RSPAD). Oleh karena pusat endemik malaria itu berada di Afdeeling Mandailing dan Angkola, maka biodata Dr. Achmad Mochtar sangat sesuai. Dr. Achmad Mochtar memiliki keterikatan dekat dengan Mandaling dan Angkola karena selain ayahnya berasal dari Afdeeling Mandailing en Angkola juga bisa berbahasa Batak dan mengenal adat dan kebiasaan di Tapanoeli.  

Dr. Achmad Mochtar, Ph.D ketika di Semarang berposisi sebagai kepala Laboratorium Semarang, Ketika dipindahkan ke Laboratorium Batavia posisinya sebagai wakil kepala untuk membantu direktur, Dr. WK Mertens, Ph.D.  Dalam hal ini Dr. Achmad Mochtar, Ph.D sendiri adalah mantan ‘murid’ terbaik Prof. Dr. W. Schuffner baik selama melakukan penelitian di Mandailing dan Angkola maupun selama di Belanda (saat mana Dr. Achmad Mochtar tengah mengikuti program doktoral di Universiteit Amsterdam). Dengan bergabungnya Dr. Achmad Mochtar, Ph.D, Laboratorium Batavia (Laboratorium Eijkman) menjadi sebuah laboratorium berprestasi di bidang penelitian kedokteran. Pada pendudukan Jepang, sejumlah pribumi yang memiiki portofolio tinggi direkrut militer Jepang untuk diangkat pada berbgai posisi.

Di Soerabaja, Dr. Radjamin Nasution diangkat menjadi Wali Kota Soerabaja dan Dahlan Abdoellah diangkat menjadi Wali Kota Batavia. Sebelumnya Ir. Soekarno sudah diangkat menjadi Ketua Dewan Pusat di Batavia dan ketua dewan di sejumlah daerah. Di Residentie Tapanoeli ketua dewan diangkat Abdoel Hakim Harahap (kelahiran Saroelangoen Djambi 1905); di Deli yang berkedudukan di Medan diangkat Mr. Loeat Siregar dan di Midden Sumatra yang berkedudukan di Fort de Kock/Bukittinggi diangkat Adinegoro. Untuk kepala laboratorium di Batavia diangkat Dr. Achmad Mochtar, Ph.D.

Beberapa waktu kemdian setelah Dr. Achmad Mochtar, Ph.D menjabat sebagai Direktur Laboratorium Batavia muncullah kasus dimana romusha banyak yang meninggal di Kelender akibat suntikan serum tertentu. Atas kejadian  ini pemerintah militer Jepang menjadikan Dr. Achmad Mochtar, Ph.D sebagai kambing hitam. Lalu sejumah dokter ditangkap, ditahan dan beberapa diantaranya harus dibunuh. Diantaranya yang dilenyapkan alias dibunuh adalah Dr. Achmad Mochtar, Ph.D dan dokter muda Dr, Soeleiman Siregar (lulus dokter di Belanda tahun 1935). Sejumlah dokter yang dilepas antara lain Dr. Joehana, Dr. Hanafiah dan Dr. Marzoeki.

Sejak tiadanya Dr. Achmad Mochtar, Ph.D, kinerja Laboratorium Batavia (Laboratorium Eijkman) kinerjanya mulai kendor. Dengan berakhirnya era orde lama di bawah rezim Ir. Soekarno, Laboratorium Batavia dilikuidasi dan diintegrasikan dengan rumah sakit pusat yang baru (kini rumah sakit Tjipto Mangoenkoesoemo), Catatan: Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo adalah teman sekelas Dr. Abdoel Hakim Nasution (mantan wali kota Padang) ketika kuliah dan juga sama-sama lulus tahun 1905 di Docter Djawa School (rumah sakit pusat yang lama, kini RSPAD).  

Pada era orde baru (rezim Soeharto) Laboratorium Batavia (Laboratorium Eijkman) dihidupkan kembali. Ini terkait dengan perekrutan BJ Habibie dari Jerman (menjadi Menteri Ristek). Dalam arsitektur ristek ala Habibie kala itu termasuk di dalamnya Laboratorium Batavia/Djakarta alias Laboratorium Eijkman. BJ Habibie kemudian merekrut seorang dokter bereputasi internasional, peneliti utama di Australia untuk diposisikan sebagai pemimpin Laboratorium Eijkman yakni Dr. Sangkot Marzoeki, Ph.D.

Saat itu Dr. Sangkot Marzoeki, Ph.D adalah orang Indonesia yang memiliki portofolio tertinggi di bidang penelitian kedokteran. Dr. Sangkot Marzoeki, Ph.D lahir di Medan. Keluarga Marzoeki memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Wakil Presiden Adam Malik (sama-sama satu marga Batubara) dan keluarga Soetan Pangoerabaan Pane. Nenek Dr. Sangkot Marzoeki, Ph.D adalah adik dari Soetan Pangoerabaan Pane (mantan guru dan sastrawan lokal terkenal di Mandailing dan Angkola). Soetan Pangoerabaan Pane, lahir di Sipirok kelak lebih dikenal sebagai ayah dari Sanoesi Pane dan Armijn Pane (sastrawan terkenal) serta ayah dari Lafran Pane (pendiri HMI di Djogjakarta tahun 1947). Sanoesi Pane dan Armijn Pane sendiri sejatinya pernah kuliah di STOVIA, karena lebih menyukai sastra seperti ayahnya, dua bersaudara ini meninggalkan bidang kedokteran dan mulai menggeluti bidang bahasa dan sastra. Selain Dr. Sangkot Marzoeki, Ph.D, juga BJ Habibie membutuhkan peneliti-peneliti di bidang lain, antara lain: peneliti di bidang tanaman pangan, Dr. Zainoeddin Harahap (peneliti padi); peneliti di bidang tanaman keras Ir, Hasjroel Harahap (kemudian menjadi Menteri Kehutanan); dan peneliti di bidang keuangan, alumni Belanda Dr. Arifin Siregar (kemudian menjadi Gubernur BI dan Menteri Perdagangan).

Di sela-sela tugasnya sebagai Direktur Laboratorium Eijkman, Dr. Sangkot Marzoeki, Ph.D melakukan penyelidikan terhadap kasus romusha di Klender pada era pendudukan Jepang yang menimpa dan dijadikan korban Dr. Achmad Mochtar, Ph.D dan kawan-kawan. Penyelidikan itu dilakukan oleh Dr. Sangkot Marzoeki, Ph.D dengan Dr. Kevin Baird, Ph.D dari Inggris. Hasil penyelidikan tersebut telah dibukukan dan diterbitkan dengan judul War Crimes in Japan-Occupied Indonesia: A Case of Murder by Medicine yang dilaunching pada tanggal 3 Juli 2015 (tepat tujuh puluh tahun lalu, Dr. Achmad Mochtar, Ph.D tewas dieksekusi dengan sadis oleh militer Jepang. Pada intinya, buku ini menggarisbawahi bahwa Dr. Achmad Mochtar, Ph.D dikorbankan Jepang yang tengah bereksprimen membuat vaksin tetanus dengan ‘kelinci percobaan’ para romusha. Inilah kisah dua keluarga dokter dua generasi: Dari Dr. Achmad Mochtar, Ph.D kepada Dr. Sangkot Marzoeki, Ph.D.

Last but not least: Salah satu peneliti terbaik di Eijkman Istitute (dulu Laboratorium  Eijkman) adalah Dr. Alida Roswita Harahap, Ph.D.  Selain sebagai peneliti, Dr. Alida Roswita Harahap, Ph.D juga sebagai pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Sementara itu, di Fakultas Farmasi Universitas Indonesia juga terdapat srikandi peneliti di bidang farmasi, Prof. Dr. Yahdiana Harahap, MS, Apt. Mereka ini adalah generasi lebih lanjut dari peneliti-peneliti bidang kedokteran sebelumnya: Dr. Achmad Mochtar, Ph.D dan Dr. Sangkot Marzoeki, Ph.D.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar