Sabtu, 02 Oktober 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (146): Batik di Jawa dan Tenun Batak di Sumatra; Ragam Manufaktur Sandang dan Tradisi Berpakaian

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Hari ini, hari batik? Batik adalah metode dan teknik memperkaya kecantikan bahan pakaian, Lantas mengapa hanya batik yang memiliki hari jadi? Apakah ada hari sepeda, hari sepatu, hari keris dan sebagainya? Hanya ada hari batik? Lalu mengapa harus batik? Tentulah ada sejarahnya dan ada alasan yang kuat mengapa begitu penting batik diperlukan memiliki hari jadi? Apa keutamaan batik? Mengapa orang Batak memakai batik, tetapi tetapi melesatrikan tenun Batak? Yang jelas pada masa kini banyak orang berpakaian minim, terutama di pantai seperti pakaian bikini dan bahkan ada yang ekstrim tidak berpakaian (kaum nudis).

Pada masa ini, batik di Jawa sangat beragam. Ada batik Jogjam ada batik Solo, ada batik Betawi bahkan ada batik Depok. Akan tetapi tidak ada batik Padang Sidempoean. Yang ada di Padang Sidenmpoean adalah tenuk Batak dari Sipirok yang disebut ulos dan parompa sadun. Untuk urusan sandang ini di seluruh wilayah Indonesia tidak hanya batik dan tenun Batak, Banyak daerah memiliki tradisi dan sejarah sandang. Ragam manufaktur dan tenun sangat beragama. Semua itu bermula dan berasal dari masa lampau. Tingkat teknologinya juga beragam, bahkan tingkat teknologi yang digunakan masih dapat disaksikan hingga ini hari di tengah masyarakat pendukungnya. Pembuatan (manufaktur) pakaian dari kulit kayu masih ada yang lestari dan tentu saja tekni tradisi pembuatan tenun Batak dan pembuatan batik. Industri tekstil adalah satu hal, tradisi seperti tenun Batak dan batik adalah hal lain lagi. Bagaimana cara berpakaian hal lain lagi.

Lantas bagaimana sejarah batik di Jawa dan tenun Batak di Sumatra? Seperti disebut di atas, ragam manufaktur sandang Indonesia secara tradisi sangat beragam. Oleh karena itu di Indonesia tidak hanya batik dan tenun Batak tetapi juga manufaktir sandang di daerah lainnya. Lalu mengapa batik menjadi begitu penting? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Sejarah Tenun Sejak Zaman Kuno, Sejarah Batik Masih Baru

Sejak kapan batik ada dan sejak kapan nama batik muncul? Sulit diketahui. Sejumlah tulisan menyebut batik sudah ada sejak era Majapahit. Namun yang menjadi persoalan apakah ada catatan atau bukti lainnya? Satu-satunya sumber tertulis yang penting dari era Majapahit adalah Negarakertagama (1365). Dalam teks tua ini tidak terdapat kata batik. Kapan adanya batik dan kapan munculnya kata batik masih sulit diketahui secara pasti. Nama batik, paling tidak baru diketahui pada era Hindia Belanda (lihat  Nederlandsch-Indisch handelsblad, 31-10-1829). Disebutkan mata dagangan dari Pasuruan ke Madura dan Jawa diantaranya 20 kargo batik. Lantas apakah batik bermula di Pasuruan?

Mata dagangan diantaranya batik dari Soereabaja dengan kapal ke Amboina (lihat Nederlandsch-Indisch handelsblad, 31-10-1829). Mata dagangan diantaranya batik dari Batavia dengan kapal ke Padang (lihat Javasche courant, 17-06-1835). Ini mengindikasikan bahwa perdagangan batik sudah sangat luas. Tampaknya batik berasal dari (pulau) Jawa. Namun dimana sentranya? Pasuruan? Dalam buku yang ditulis Raffles (terbit 1818) berjudul The History of Java sudah disebuat batik. Dalam buku Land- en zeetogten in Nederland's Indie yang ditulis oleh Johannes Olivier yang diterbitkan tahun 1827 menyebut bahwa kata batik dalam bahasa Jawa sebagai membuat gambar atau angka (het woord batik op sich zelve beteekent in het Javaaansche beelden of figuren maken). Dalam hal ini kata batik diduga berasal dari (bahasa) Jawa. Gambar itu dibuat pada kain linen. Perdagangan kain linen sendiiri sudah ada sejak lama. Kain batik juga disebut kain patik (lihat Jung Huhn. Java, zijne gedaante, zijn plantentooi en inwendige bouw. 1853-1854).

Orang pertama melakukan penelitian batik adalah Herman A.J. Baanders. Dalam disertasinya yang berjudul Batikken (1900) juga dijelaskan epistemologi dan sejarah batik sendiri. Herman A.J. Baanders menyebutkan bahwa kata batik adalah bahasa hampir semua orang dari suku Melayu-Polinesia dan memiliki arti yang sama dalam semua, yaitu: menggores dengan spidol, menggambar dan menulis dengan benda keras. Orang Jawa khususnya menggunakannya untuk menunjukkan teknik khas yang mereka gunakan untuk menghias kain yang dimaksudkan untuk pembuatan pakaian dengan segala macam gambar garis dan banyak pola dalam variasi yang kaya.

Kata batik terdapat dalal banyak bahasa-bahasa. Hal ini dapat digunakan kata batik sudah sejak lama ada. Nama batik dalam hal menggambar pada kain diduga bermula di (pulau) Jawa. Namun menggambar pada kain sudah ada sejak lama, juga di Eropa. Kain batik, yang digambar dengan pola (khas) Jawa mengindikasikan kain yang dibuat di Jawa (batik Jawa). Namun yang tetap menjadi pertanyaan sejak kapan tradisi membatik ini di Jawa muncul? Menurut Herman A.J. Baanders bahwa konsep dasar ini sudah sangat-sangat tua, terlihat dari prototipe batik yang masih digunakan di antara orang-orang suku Melayu-Polinesia (dari mana batik pasti berasal) yang selama berabad-abad jumlahnya sedikit. atau tidak mengalami kemajuan dalam pembangunan, namun menjadi sangat masif di Jawa. Dalam hal ini batik dan membatik sudah masif di nusantara, bahkan sebelum kehadiran orang-oiranh Hindoe. Namun orang-orang Hindoe memperkaya teknik batik di Jawa dengan menggunakan lilin dalam prosesnya. Teknik membatik di Jawa ini lebih diperkaya lagi sejak kehadiran orang Eropa/Belanda (VOC). Teknik yang berkembang di Jawa inilah yang kita kenal dengan teknik batik yang sekarang.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Mengapa Batik Memiliki Hari Jadi? Orang Batak Menggunakan Batik

Kehadiran orang-orang Hindoe di nusantara (terutama di Sumatra dan Jawa) telah membawa peradaban baru dalam banyak aspek. Tradisi menenun di nusantara diperkaya dengan kehadiran produk tenun modern (tekstil) yang dibawa dari India. Besar dugaan tenun tradisi di Jawa telah hilang karena digantikan oleh tekstil dari India. Yang mana orang-orang Hindoe yang membawa bahan tekstil (polos) diperkenalkan di Jawa yang dikombinasikan dengan teknik tenun tradisi (batik). Teknik tenun tradisi (batik) ini kemudian berkembang menjadi produk (kain) batik.

Kehadiran pedagang-pedagang dari India tidak hanya memperkaya penduduk di Sumatra, Kalimantan dan Jawa tetapi juga menambah pengetahuan dan memperkenalkan religi. Koloni-koloni pedagang-pedagang India ini meningkatkan pertukaran (economic exchange) dengan penduduk. Penduduk Sumatra bagian utara menukarkan barang industri termasuk kain dan besi dengan komoditi khas Tanah Batak yakni kamper dan kemenyan, Komoditi kamper dari Tanah Batak ini sudah diidentifikasi oleh Ptolomeus pada abad ke-2 (tahun 160 M). Hal serupa dengan di Jawa yang mana penduduk menukarkannya dengan produk pertanian (beras). Di dalam perdagangan yang menjadi lingua franca adalah bahasa Sanskerta yang di dalam koloni diintroduksi aksara Pallawa (yang menjadi cikal bakal aksara Batak dan aksara Jawa). Dalam soal religi di dalam koloni mulai dikembangkan ajaran Hindoe. Dalam hal ini religi baru penduduk membutuhkan tempat ibadah. Hal itulah mengapa candi pada awalnya hanya ada di Tanah Batak (Angkola Mandailing yang situsnya kini dikenal candi Simangambat) dan di Jawa bagian barat (Karawang yang situsnya kini dikenal candi Batujaya). Dalam hubungan perkembangan koloni ini terbentuk sistem pemerintahan yang kemudian terbentuk kerajaan Aru di Angkola Mandailing, kerajaan Mulawarman (Koetai)dan kerajaan Tarumanegara, Hubungan perdagangan kerajaan Aru dengan Tiongkok sudah dicatat dalam kronik dinasti Han (tahiu 132 M). Hubungan perdagangan ini dalam pertukaran kamper dan kemenyan dari Tanah Batak dengan barang industri dari Tiongkok. Pengaruh Kerajaan Aru (antara Sumatra bagian utara dengan Tiongkok) diduga kuat terbentuk di Vietnam yang dapat dibaca pada prasasti Vo Canh (abad ke-3). Dalam perkembangannya kerajaan Aru diduga kuat telah melemahkan kerajaan Mulawarman di Borneo utara. Ekspansi Kerajaan Aru yang memiliki ibu kota baru di pantai timur Sumatra, Binanga, pada era pengaruh Boedha (menggantikan Hindoe) semakin meluas ke selatan khatulistiwa. Radja Kerajaan Aru, Dapunta Hyang Nayik mengukuhkan raja baru di Sriwijaya dengan gelar Dapunta Hyang Srijayanaga dalam rangka invasi ke Jawa, yang diduga untuk menaklukkan kerajaan Tarumanegara (lihat prasasti Kedung Bukiy 682 M, prasasti Talang Tuwo 684 M dan prasasti Kota Kapur 684 M). Sejak inilah awal masuk pengaru Boedha masuk ke Jawa yang kemudian berkembang di Jawa bagian tengah yang mana raja pertama bergelar Dapunta Seilendra (lihat prasasti Sojomerto (abad ke-7). Pada era Boedha ini dua kerajaan tersebut yang berperan di nusantara. Kerajaan Aru di bawah Radja Dapunta Hyang Nayik yang beribukota di Binanga (muara sungai Barumun) untuk wilayah utara khatulistiwa hingga Filipina dan Kerjaaan Sriwijaya di bawah Radja Dapunta Hyang Srijayanaga yang ibukota dari hulu Upang di Bangka telah relokasi ke muara suangi Batanghari untuk wilayah selatan khatulistiwa di Sumatra bagian selatan dan wilayah Jawa (bagian barat dan bagian tengah). Itulah awal era peradaban Hindoe-Boedha di nusantara. Lalu bagaimana selanjutnya, kita lihat nanti dalam hubungannya dengan tradisi tenun dan awal kegiatan membatik di Jawa.  .      

Namun di tempat lain, teknik tenun lama (batik) ini tetap dipertahankan, sementara tekstil juga diadopsi. Di Tanah Batak teknik menenun tradisi ini tetap dipertahankan (yang kini dikenal sebagai ulos). Namun fungsi ulos, tidak lagi sebagai bahan pakain biasa (setelah era tekstil), tetapi diposisikan sebagai pakaian tradisi (dalam upacara-upacara tertentu). Upacara tersebut dikaitkan dengan religi  penyembahan terhadap leluhur, yang mana boleh jadi hasil tenun (ulos dan parompa) tersebut dianggap sebagai warisan leluhur. Tenun Batak penggunaannya menjadi terbatas (sementara di Jawa tenun tradisi bertransformasi menjadi batik).

Teknik menenun ulos ini, seperti kita lihat nanti, juga ditemukan (dipertahankan) di berbagai tempat seperti di Flores, Sumba dan sebagainya. Bahan-bahan yang lebih halus, yang dalam perkembangnnya datang dari Tiongkok, munculah apa yang disebut dengan (tenun) kain songket atau semacamnya. Kegiatan manufaktur tenun ini di nusantara memiliki latar belakang yang sama (tradisi) dan kemudia berkembang di masing-masing wilayah dengan cara dan tingkat perkembangan yang berbeda-beda. Teknik tradisi sebenarnya juga berkembang yang disesuaikan yang hal ini dapat dikaitkan dengan masuknya manik-manik dari Tiongkok.     

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar