Kamis, 01 Februari 2018

Sejarah Jakarta (20): Sejarah Nama Jalan; Tan Boen Tjit (Buncit) di Mampang dan Usulan Nama Jalan Abdul Haris Nasution

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini


Hari ini Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Baswedan menunda sosialisasi perubahan nama jalan terusan Rasuna Said, Jalan Mampang Prapatan dan Jalan Warung Jati Barat (Warung Buncit) menjadi Jalan AH Nasution. Usulan ini muncul dari Ikatan Keluarga Nasution tetapi ada penolakan dari pihak tertentu. Gubernur Anies Baswedan disamping masih memerlukan kajian dan juga menginginkan partisipasi sejarawan, budayawan dan ahli tata kota dalam penentuan nama jalan juga ingin meninjau Surat Keputusan Gubernur Nomor 28 Tahun 2009 terkait pedoman penetapan nama jalan.

Peta 1938
Sejarah Jenderal Abdul Haris Nasution sudah diketahui sejak lama dan siapa Abdul Haris Nasution sudah dipahami secara luas oleh rakyat Indonesia. Sementara sejarah Mampang dan sejarah Buncit masih simpang siur. Disebut bahwa Mampang dan Buncit berkaitan dengan memori kolektif warga Betawi. Namun tidak bisa dijelaskan memori kolektif dalam hal apa dan sejak kapan memori kolektif itu terbentuk.

Artikel ini akan mendeskripsikan sejarah perubahan nama-nama jalan di Jakarta, sejak era Batavia hingga Pasca Pengakuan Kedaulatan Republik Indonesia (1950). Dalam artikel ini juga akan dideskripsikan asal-usul nama Mampang dan asal-usul nama Buncit. Nama Buncit diduga kuat adalah seorang Tionghoa pemilik lahan di Mampang dan sekitarnya yang bernama Tan Boen Tjit. Deskripsi ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman para sejarawan (yang belum menemukan data).

Rabu, 31 Januari 2018

Sejarah Jakarta (19): 'Gerhana Bulan Total' 31 Maret 1866 Tempo Dulu Tidak Seheboh 'Super Blue Blood Moon' 31 Januari 2018

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini


Baru saja kita melewati peristiwa alam yang spektakuler, gerhana bulan total yang istimewa yang disebut  Super Blue Blood Moon tepatnya tanggal 31 Januari 2018 yang dimulai pukul 20.00 WIB. Gerhana bulan total ini disebut istimewa karena hanya terjadi sekali dalam 150 tahun. Berita-berita resmi (seperti LAPAN) menginformasikan bahwa peristiwa Super Blue Blood Moon ini terjadi pada tanggal 31 Maret 1866.

Gerhana bulan total istimewa (three lunar events collide)
Gerhana bulan total terjadi saat matahari, bumi, dan bulan berada pada satu garis lurus. Peristiwa ini sedikitnya terjadi dua kali dalam satu tahun. Gerhana bulan istimewa ini tidak hanya gerhana total (total lunar eclips) tetapi juga terjadi fullmoon (a blue moon) dan supermoon. Pada hari ini fullmoon, supermoon, dan eclips terjadi secara bersama-sama (three lunar events collide). Inilah yang disebut Super Blue Blood Moon yang hanya terjadi berulang setiap 150 tahun.

Berita-berita Super Blue Blood Moon yang sekarang begitu heboh. Setiap orang tampaknya mengetahui akan terjadinya peristiwa. Ini terbantu karena setiap orang di ear IT ini sudah terhubung satu sama lain (era zaman now) sehingga informasi dari titik manapun di dunia ini menyebar dan beredar ke semua penjuru secara cepat dan masif. Lantas bagaimana, fenomena alam yang sama ini di masa tempo doeloe. Sebagaimana diyakini Super Blue Blood Moon terjadi pada tanggal 31 Maret 1866. Apakah berita Super Blue Blood Moon kala itu seheboh sekarang? Mari kita lacak!

Sejarah Jakarta (18): Benteng-Benteng VOC di Batavia dan Sekitar; Benteng Terjauh Fort Padjadjaran, Bogor Hulu Sungai Tjiliwong

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini


Benteng Batavia (Casteel Batavia) adalah benteng pertama di Batavia. Benteng Batavia  dibangun seiring dengan penetapan muara sungai Tjiliwong sebagai ibukota (stad) VOC yang baru, sejak 1619. Casteel Batavia tentu saja bukan satu-satunya benteng VOC di Batavia. Benteng sendiri bagi VOC dari sisi luar adalah untuk fungsi pertahanan, tetapi dari sisi dalam benteng juga berfungsi sebagai komplek bangunan untuk berbagai hal: pimpinan, administrasi, gudang komoditi, gudang senjata, barak pekerja, barak tentara dan sebagainya. Benteng Batavia (Casteel Batavia) adalah benteng terbesar VOC di Oost Indie (Hindia Timur).

Stad Batavia dan benteng sekitar Batavia (Peta 1660)
Benteng-benteng VOC tidak hanya terdapat di Batavia. Benteng VOC juga terdapat di Ternate, Tidore dan Amboina dan Macassar. Benteng-benteng VOC lainnya berada di Atjeh, Baros, Singkel dan Padang serta (pulau) Gontong di Riaouw di Sumatra. Benteng-benteng di timur Batavia diantaranya benteng Missier di Tegal, benteng-benteng di Semarang dan sekitar serta benteng-benteng di di Soerabaja dan sekitar. Di sebelah barat Batavia juga ditemukan benteng VOC di Banten. Satu benteng VOC yang berada di selatan Batavia adalah benteng Padjadjaran.   

Benteng di Batavia dan sekitar terbilang cukup banyak. Jumlah benteng VOC di sekitar Batavia diperkirakan sebanyak 20 buah. Benteng-benteng dibangun sesuai dengan situasi dan kondisi wilayah. Lokasi dimana benteng dibangun ditentukan atas pertimbangan potensi (ekonomi) wilayah dan kemungkinan munculnya ancaman (serangan) di wilayah sekitar. Pembangunan benteng adalah investasi pertama VOC di wilayah yang baru.

Selasa, 30 Januari 2018

Sejarah Bogor (24): Sejarah Cibinong dan Scipio Isebrandus Helvetius van Riemsdijk; Land Tjibinong Dipecah Jadi Oost dan West

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disin


Sejak era VOC, lahan-lahan di sepanjang sisi barat dan sisi timur sungai Tjiliwong, dari Tjililitan hingga Buitenzorg (baca: Bogor) sudah dipetakan dan dijual ke pihak swasta. Bahkan van Imhof, Gubernur Jenderal kemudian membeli lahan di Land Kampong Baroe yang sudah dipegang swasta. Di lahan tersebut, van Imhoff tahun 1745 membangun rumah villa untuk tempat peristirahatannya.  Villa milik van Imhoff inilah kelak yang menjadi Istana Buitenzorg (baca Istana Bogor yang sekarang).

Peta Cibinong, 1901
Pada tahun 1809 Pemerintahan Hindia Belanda, Gubernur Jenderal Daendels ingin membangun kota Buitenzorg. Persil-persil lahan di Land Kampong Baroe dibeli dari swasta. Dalam pembelian ini 1/10 menjadi bagian pribadi Daendels. Sejak itulah villa Buitenzorg diubah menjadi Istana Buitenzorg. Sedangkan lahan-lahan pemerintah disekitarnya disewakan kepada swasta. Inilah awal kota Buitenzorg sebagai milik pemerintah minus persil-persil yang menjadi bagian Daendels.

Program lainnya dari Gubernur Jenderal Daendels adalah membangun jalan pos Trans-Java dari Anjer hingga Panaroekan. Jalan pos (groote weg) ini dari Batavia menuju Buitenzorg, lalu melewati Tjisaroea, Tjianjoer, Baybang, Sumadang hingga ke Cheribon. Adanya jalan pos ini aliran komoditi kopi yang sudah menghasilkan di Preanger megalir ke Batavia semakin deras. Sementara itu Daendels membuat kontrak-kontrak baru dengan Bupati Tjiandjoer dan Bupati Bandoeng untuk menghasilkn kopi yang lebih banyak.

Selasa, 23 Januari 2018

Sejarah Kota Depok (44): Jembatan Kuno ‘Indiana Jones’ di Srengseng Sawah Jakarta; Sisa Situs Kuno Ciliwung Era ‘Zaman Now’

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Depok dalam blog ini Klik Disini


Baru-baru ini Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Anies Baswedan menemukan jembatan gantung di Jalan Gardu Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Jembatan ini menghubungan wilayah Jakarta dan Depok di atas sungai Ciliwung. Jembatan gantung ini, menurut Gubernur sungguh sangat mengkhawatirkan bagi pengguna. Ketika coba melewatinya, jembatan gantung di atas sungai Ciliwung ini Gubernur Anies Baswedan menganggapnya bagaikan jembatan ‘ala’ Indiana Jones (dalam film Indiana Jones).

Peta Srengseng Sawah, 1904 (sekitar Jalan Gardu sekarang)
Nun di sana, tidak jauh dari jembatan gantung Srengseng Sawah, di pusat wilayah DKI Jakarta, jembatan-jembatan kota sudah bertaraf milenium di ‘zaman now’, seperti Jembatan Semanggi Baru. Sementara jembatan gantung di Srengseng Sawah yang menghubungan wilayah Depok dan Jakarta masih menggunakan teknologi kuno dengan model jembatan suspensi di era ‘zaman old’. Sebagaimana lazimnya, jembatan yang berlokasi di perbatasan selalu dilupakan karena statusnya selalu dalam posisi ‘status-quo’. Dari penemuan jembatan kuno ini di tengah metropolitan Jakarta itu, muncul inisiatif Gubernur untuk berkoordinasi dengan Wali Kota Depok. Inisiatif pejabat tampaknya mulai menjadi tradisi baru di 'zaman old' untuk melihat kembali situs-situs kuno di 'zaman now'.   

Penerapan teknologi jembatan gantung sendiri sesungguhnya tidak ada salahnya digunakan bahkan di era modern masa kini. Sisi inilah yang menjadi perhatian. Sisi lain jembatan gantung ini berada di wilayah metropolitan Jakarta, di satu pihak terkesan sangat kuno tetapi di pihak lain, karena hanya segitu kebutuhannya (hingga pada masa ini), jembatan kuno ala Indiana Jones ini sejatinya dapat dipermak sebagai situs eksotik yang valuenya tinggi sebagai bagian dari daya tarik wisata di Srengseng Sawah. Persoalan yang masih tersisa pada dasarnya hanya terletak pada kualitas jembatan gantung itu sendiri: sudah sangat mengkhawatirkan karena kualitasnya yang tidak memadai lagi, bahkan pejalan kaki tertatih-tatih menggunakannya dan jelas sulit dilalui oleh sepeda motor. Lantas bagaimana sebaiknya? Apakah merevitalisasi jembatan teknologi zaman kuno atau menggantinya dengan teknologi jembatan modern? Ada plus minusnya.

Minggu, 21 Januari 2018

Sejarah Bandung (41): Pertandingan PSMS Medan vs Persib Bandung Mengapa Disebut Pertemuan El Clasico Sejati di Indonesia?

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini


Beberapa menit lagi akan dilakukan kick-off antara Persib Bandung vs PSMS Medan di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Bandung dalam babak penyisisihan grup Piala Presiden 2018. Seorang pembaca dari Semarang sore tadi mengirim email menanyakan mengapa akhir-akhir ini pertandingan Persib Bandung va PSMS Medan dinobatkan sebagai pertandingan El Classico di Indonesia? Pembaca tersebut sebelumnya telah membaca Sejarah Sepak Bola di Semarang yang dimuat dalam blog ini.

Persib vs PSMS: Final Kejuaraan Nasional di Stadion Senayan, 1985
Sambil menunggu kick-off dan selama jalannya pertandingan antara PSMS vs Persib saya akan coba mengkompilasi pertemuan kedua tim (sejak era kejuaraan perserikatan) dan pertemuan kedua klub (sejak era liga Indonesia). Mungkin pertanyaan tersebut sedikit dapat dijawab, tetapi semoga itu dapat membantu. Artikel ini seyogianya dilihat sebagai rangkaian sejarah sepak bola di Indonesia. Dalam blog ini juga telah diupload artikel tentang sejarah sepak bola di Medan, di Bandung, di Jakarta, di Semarang, di Surabaya, di Padang dan di Makassar.

Pada malam ini PSMS dan Persib kembali lagi untuk bertemu untuk yang ke-54 kali sejak Persib Bandung dan PSMS Medan bertemu pertama kali pada tahun 1952. Kedua tim perserikatan teresebut bertemu dalam kejuaraan perserikatan. Lantas apa spesialnya pertemuan Persib Bandung dan PSMS Medan pada malam ini. Mari kita lacak sejarah pertemuan kedua tim/klub legendaris ini.

Kamis, 18 Januari 2018

Sejarah Kota Medan (59): Penduduk Melayu [Deli] di Medan; Anomali Distribusi Etnik Melayu [Saja] di Provinsi Sumatera Utara

*Semua artikel Sejarah Kota Medan dalam blog ini Klik Disini. (Artikel 1-56 Klik Disana)


Penduduk Indonesia terdiri dari 1.338 etnik. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2010 (SP-2010) penduduk Kota Medan yang banyaknya 2.109.339 jiwa terdiri dari 202 etnik, termasuk etnik Melayu Deli.

Grafik-1. Distribusi etnik Melayu Deli di Sumatera Utara, 2010
Identifikasi etnik Melayu di Indonesia terdiri dari Melayu (kode 107), Melayu Riau (kode 37), Melayu Banyuasin, Melayu Lahat, Melayu Semendo (Lampung), Melayu Asahan (kode 23) dan Melayu Deli (kode 24).

Persentase etnik Melayu di Provinsi Sumatra Utara sebesar 4.42 persen (sekitar 573.219 jiwa). Persentase etnik Melayu Deli adalah 0.69 persen (sekitar  90.258 jiwa). Persentase etnik Melayu Asahan sebesar 0.37 persen (sekitar   48.798 jiwa).

Selain etnik Melayu Deli dan etnik Melayu Asahan, juga diidentifikasi etnik Asahan (kode 13). Persentase etnik Asahan di di Provinsi Sumatera Utara tidak signifikan, hanya sebesar 0,0016 persen.

Dari 90.258 jiwa penduduk etnik Melayu Deli di Provinsi Sumatera separuhnya (45.608 jiwa) berada di Kabupaten Deli Serdang (lihat Grafik-1). Di Kota Medan sendiri yang merupakan populasi terbanyak kedua hanya sebanyak 20.822 jiwa. Populasi terbanyak ketiga etnik Melayu Deli terdapat di Kabupaten Serdang Bedagai sebanyak 7.791 jiwa, kemudian disusul di Kabupaten Langkat (3.749 jiwa) dan Kabupaten Batubara (2.098 jiwa).  Populasi terbanyak etnik Melayu Deli berikutnya bukan di Kota Binjai, juga bukan di Kota Tebingtinggi dan juga bukan di Kabupaten Asahan, akan tetapi justru di Kabupaten Tapanuli Utara (sebanyak 1.185 jiwa).

Minggu, 14 Januari 2018

Sejarah Barus, Tapanuli (6): Kweekschool Tanobato, Kraton dan Masjid Atjeh; Willem Iskander Berani Membela Kesultanan Atjeh

*Semua artikel Sejarah Barus, Tapanuli dalam blog ini Klik Disini


Residentie Tapanoeli secara dejure baru terbentuk pada tahun 1840, segera setelah berakhirnya perang. Pembentukan Residentie Tapanoeli ini untuk mengefektifkan administrasi pemerintahan sipil dan mempercepat proses pembangunan di Tapanoeli. Pembangunan sipil terdiri dari dua bidang: pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan; dan pembangunan pertanian koffiekultuur (budidaya kopi). Pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan terutama untuk mengintegrasikan dua sumber produksi di pedalaman di Afdeeling Mandailing dan Angkola dengan pelabuhan kuno di Natal (Mandailing) dan Loemoet (Angkola).

Sibogha, ibukota Residentie Tapanoeli, 1867
Perang Bonjol (Tuanku Imam) berakhir pada tahun 1837 yang kemudian dilanjutkan dengan Perang Pertibie (Tuanku Tambusai) tahun 1838. Komandan Militer Pantai Barat Sumatra (Sumatra’s Westkust) AV Michiels diangkat menjadi gubernur sehubungan dengan pembentukan Province Sumatra’s Westkust. Wilayah administrasi Residentie Tapanoeli mulai dari Natal hingga Singkel (belum termasuk Bataklanden). Pada tahun 1842 Residentie Tapanoeli dibentuk dengan ibukota di Sibolga. Pada tahun 1845, Majoor Alexander van der Hart, anak buah terbaik AV Michiels diangkat menjadi Residen Tapanoeli. Wilayah Residentie Tapanoeli pada tahun 1946 terdiri dari: Afd. Natal, Afd. Mandailing en Angkola, Afd. Baros, Afd. Singkel plus Eiland Nias. Wilayah Baros dan Singkel mengacu pada perjanjian Belanda/VOC di Baroes (1668) dan di Singkel (1672).

Secara historis wilayah pantai barat Sumatra di bagian utara bukanlah wilayah kosong. Paling tidak nama Baroes sudah dikenal sejak jaman kuno. Wilayah ini yang kemudian dieknal sebagai Residentie Tapanoeli pada dasarnya penduduk terbagai ke dalam dua wilayah pemukiman: penduduk di kota-kota sepanjang pantai (melting post); dan penduduk di sisi bagian dalam pantai (penduduk Batak). Tidak pernah ada konflik antara dua wilayah pemukiman, karena masing-masing saling memperkuat dalam proses perdagangan sejak era komoditi kuno (benzoin dan kamper) hingga era komoditi modern (lada). Dalam era perdagangan lada, penduduk yang tinggal di pantai juga terlibat dalam produksi lada.

Jumat, 12 Januari 2018

Sejarah Barus, Tapanuli (5): Perdagangan Atjeh Menurun Drastis Karena Faktor VOC; Pedagang Atjeh Amat Tergantung Tapanoeli

*Semua artikel Sejarah Barus, Tapanuli dalam blog ini Klik Disini


Sejak kehadiran Belanda/VOC di Pantai Barat Sumatra, tidak hanya wilayah kekuasaan Atjeh yang berkurang, tetapi juga sumber-sumber utama perdagangan Atjeh semakin sedikit. VOC melakukan perjanjian dengan (pemimpin) penduduk lokal di Padang (1666), Baros (1668) dan Singkel, secara dejure perdagangan Atjeh hanya tersisa Meulaboh dan Deli.

Kantor Perdagangan VOC di Atjeh (1644)
Belanda/VOC mengalahkan Portugis di Malaka pada tahun 1841. Secara de facto, pedagang-pedagang Atjeh hanya melakukan pelayaran terjauh di Asahan dan Deli. Pada fase ini Kesultanan Siak semakin berkembang, Atjeh mendapat pesaing baru di Pantai Timur Sumatra (Sumatra’s Oostkust).

Penerimaan Atjeh di Padang sangat negatif. Hal ini berlainan dengan di Deli dan Asahan (Pantai Timur) serta di Natal, Tapanoeli, Baros dan Singkel (Pantai Barat Sumatra). Pelabuhan-pelabuhan ini semua berhubungan dengan sumber produksi di pedalaman di Tanah Batak.  Penerimaan terhadap Atjeh di pelabuhan-pelabuhan ini bersifat indeferen (siapapun pedagang yang datang sama pentingnya) karena penduduk Batak berada di pedalaman.

Rabu, 10 Januari 2018

Sejarah Barus, Tapanuli (4): Kota Barus Masa Lalu, Natal Masa Kini, Sibolga Masa Datang; Junghuhn, Willer dan Van der Tuuk

*Semua artikel Sejarah Barus, Tapanuli dalam blog ini Klik Disini


Barus adalah kota tertua di Nusantara, Kota Barus berumur lebih dari 1000 tahun. Kota Barus lalu menua dan layu. Kota-kota muda bermunculan di Tapanoeli, umurnya baru beberapa tahun tetapi sudah menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Pada fase pertumbuhan kota-kota baru di Tapanoeli ini ada tiga tokoh awal yang patut dicatat: FW Junghuhn, TJ Willer dan N van der Tuuk.

Peta Baroes, 1906
Ada satu adagium yang muncul di Jawa pada jelang berakhirnya VOC, yakni: Maluku masa lampau, Jawa masa kini, dan Sumatra masa datang. Adagium ini tampaknya berlaku di Pantai Barat Sumatra (Sumatra’s Westkust): Barus masa lampau, Natal masa kini dan Sibolga masa datang.

Tiga tokoh awal tersebut, cukup memberi arti dalam perubahan radikal di pedalaman Tanah Batak. Tiga tokoh ini adalah ilmuwan. FW Junghuhn adalah sarjana, ahli geologi dan botanis; TJ Willer adalah sarjana, ahli geografi sosial; dan N van der Tuuk, sarjana, ahli linguistik. Tiga orang inilah yang boleh dikatakan sebaga pionir dan pembuka pintu masuk ke lingkungan peradaban dan ilmu pengetahuan orang Batak yang selama ini disembunyikan oleh penduduk Batak dari orang asing. Suatu peradaban dan pengetahuan tumbuh berkembang di pedalaman Tanah Batak nyaris tak tersentuh orang luar, meski kota pelabuhan di pantai barat Sumatra di Barus sudah berumur ribuan tahun.