Selasa, 23 Oktober 2018

Sejarah Kota Medan (77): Kerajaan Deli dan Kerajaan Aru; Dua Kerajaan Berbeda, Eksis Jauh Sebelum Munculnya Kesultanan Deli


*Semua artikel Sejarah Kota Medan dalam blog ini Klik Disini

Kerajaan Aru atau Kerajaan Haru adalah kerajaan kuno yang terdapat di sekitar sungai Barumun. Keberadaan Kerajaan Haru (Daroe atau Aroe) telah disebut dalam Pararaton (1336). Laporan Tiongkok di era Cheng Ho (1411-1431) disebutkan terdapat hubungan timbal balik antara Tiongkok dan Kerajaan Aroe. Keberadaan Kerajaan Aroe juga masih dicatat oleh Tome Pires (1512-1515) dan Duarte Barbosa (1518). Mendes Pinto dalam bukunya (1535) menyebut Kerajaan Aroe sebagai Batak Kingdom. Kerajaan Aru ditaklukkan oleh Kesultanan Atjeh tahun 1619. Wilayah Kerajaan Aru (Terra d’Aru atau Terra Daru) di sekitar sungai Barumun teridentifikasi dengan jelas pada peta Portugis tahun 1619.

Aru (Aroe) dan Deli (Dilli) pada Peta 1750
Ada yang menyebut Kerajaan Aru atau Kerajaan Haru adalah cikal bakal Kerajaan Deli dan Kesultanan Deli. Bahkan ada yang menyebut nama Haru menjadi nama Karo. Namun semua itu tidak ada argumentasi atau fakta yang mengindikasikan bahwa suksesi Kerajaan Aroe/Haru adalah Kerajaan Deli. Sejauh ini klaim Kerajaan Aru atau Kerajaan Haru adalah cikal bakal Kerajaan Deli tidak dapat diverifikasi. Sedangkan eksistensi Kerajaan Aroe di sungai Barumun dapat diverifikasi (perhatikan Peta 1750). Bukti ini juga ditunjukkan pada Peta 1818. Anehnya, hingga ini hari, para sejarawan buta melihat peta-peta tersebut. Apakah mereka sengaja menutup mata untuk fakta yang kasat mata ini? Entahlah.

Sesungguhnya Kerajaan Aroe dan Kerajaan Deli adalah dua kerajaan berbeda. Kerajaan Aroe mendahului eksistensi Kerajaan Deli. Kerajaan Aroe secara eksplisit dinyatakan berada di sekitar pengaliran sungai Barumun dan Kerajaan Deli berada di hulu sungai Deli (kini Deli Tua). Kesultanan Deli baru muncul kemudian di hilir sungai Deli (kini Labuhan Deli). Kesultanan Deli yang kini terdapat di Kota Medan adalah kraton Kesultanan Deli yang relokasi dari Labuhan Deli ke Kota Medan pada tahun 1891. Suksesi Kerajaan Aroe di sungai Barumun adalah Kesultanan Kotapinang.

Jumat, 19 Oktober 2018

Sejarah Kota Medan (76): Mushaf Al Quran Tertua Dilaporkan di Medan; Sejak Kapan Pendidikan Agama Islam Dimulai di Deli?


*Semua artikel Sejarah Kota Medan dalam blog ini Klik Disini

Belum lama ini diberitakan bahwa di Medan telah dipamerkan mushaf Al Quran kuno yang bertarih 1070 H atau tahun 1659. Mushaf Al Quran ini diklaim sebagai mushaf tertua di Indonesia. Bahkan disebutkan lebih tua 113 tahun dari mushaf Al Quran yang ditemukan di Ternate.

Medan, 1929
Selama ini Bayt Alquran dan Museum Istiqlal memposisikan wilayah Sumatra Utara tidak pernah memiliki mushaf Al Quran kuno. Di Indonesia bahkan hanya lima wilayah yang tidak memiliki mushaf kuno. Selain Sumatra Utara adalah Bengkulu, Gorontalo, Papua, Papua Barat dan Sulawesi Utara.

Klaim mushaf Al Quran tertua di Medan sungguh menyenangkan mendengarnya. Namun originalitas mushaf atau otentias angka tahun pembuatan mushaf tersebut ada yang mempertanyakannya. Lantas seperti apa bukti sebenarnya dari mushaf tersebut? Apakah benar-benar ditulis pada tahun 1659? Kita tunggu saja biar para ahli yang membuktikannya. Lalu bagaimana awal mula perihal pengajaran pendidikan agama Islam di Medan. Mari kita telusuri.  

Sabtu, 13 Oktober 2018

Sejarah Menjadi Indonesia (9): Sejarah TNI, Tentara Nasional Indonesia; Militer Belanda Tidak Mau Orang Batak Menjadi Tentara


Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
 

Sejarah Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada dasarnya baru dimulai pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia yang mana sebagai cikalnya adalah Badan Keamanan Rakyat (BKR). Selama perang kemerdekaan, BKR bertransformasi menjadi TNI (seperti yang ada sekarang). Perang kemerdekaan melahirkan TNI.

Bandoeng, 1951
Pada era kolonial Belanda, militer Belanda yang jumlahnya hanya segelintir merekrut pribumi untuk menjadi tentara. Tentara pribumi ini menjadi faktor penting kekuatan militer Belanda. Pribumi yang menjadi langganan memperkuat militer Belanda terutama Ambon, Jawa dan Madura. Diantara pribumi, hanya pribumi Batak yang tidak disertakan dalam militer Belanda. Tidak hanya itu, pemerintah Belanda juga tidak pernah menyertakan pemimpin Batak dalam struktur pemerintahan. Pemerintahan di Residentie Tapanoeli (sejak 1840) adalah satu-satunya pemerintahan di wilayah di Hindia yang tidak menyertakan pemimpin lokal. Itu semua karena rekomendasi Dr. FW Jung Huhn yang mengatakan orang Batak sangat cinta tanah air dan jiwa mereka ada di kepala. Penduduk Batak yang demokratis (tidak ada radja/sultan) diasumsikan bertentangan dengan prinsip koloni. Karena itu, pemerintahan di Tapanoeli langsung berada dibawah pusat (Gubernur Jenderal).

TNI adalah pengawal NKRI. Lantas bagaimana sejarah tentara nasional Indonesia berlangsung. Itu sudah banyak ditulis. Akan tetapi penulisan sejarah tentara nasionak Indonesia sudah sedemikian rupa dibuat tetapi hanya terkesan ringkas. Artikel ini hanya sekadar memperkaya sejarah militer agar bisa melihat detail-detail yang memang masih diperlukan. Lantas seperti apa peran penting tentara asal Batak dalam menjaga NKRI? Mereka telah bertransformasi ke seluruh wilayah Indonesia dengan spirit cinta tanah air. Sperti kita lihat nanti, orang Jawa dan orang Batak umumnya tetap menyukai profesi militer. Mari kita telusuri.

Kamis, 11 Oktober 2018

Sejarah Kota Surabaya (24): Sejarah Gempa Bumi di Madura; Gempa Besar di Pulau Sapudi, Sumenep Pernah Terjadi 1891


*Semua artikel Sejarah Kota Surabaya dalam blog ini Klik Disini

Peristiwa gempa bumi kembali terjadi setelah beberapa waktu yang lalu terjadi di Donggala, Sigi dan Palu. Hari ini gempa bumi terjadi di Kabupaten Sumenep, Madura. Goncangan gempa terberat terjadi di pulau Sapudi, Kecamatan Sumenep. Kekuatan gempa yang terjadi 6.3 SR dan telah menyebabkan korban jiwa juga mengalami kerusakan rumah sebanyak 246 unit. Kejadian gempa bumi Sapudi tercatat pernah terjadi pada tahun 1891.

Di pulau Sapoedi, Residentie Madoera, pada tanggal 26 Februari 1891, sebuah gempa bumi yang menakutkan diamati dari arah Barat ke Timur (De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 17-03-1891).

Sejauh ini catatan gempa di Madura sulit ditemukan. Catatan gempa penting untuk melihat riwayat kegempaan di wilayah tersebut. Catatan gempa, vulkanik atau tektonik, di suatu wilayah juga penting untuk bahan dalam memprediksi kemungkinan terjadi (berulang) di masa yang akan datang. Informasi dari catatan gempa dapat berguna untuk tetap menjaga kewaspadaan masyarakat. Untuk itu, mari kita telusuri riwayat gempa di wilayah Madura.

Jumat, 05 Oktober 2018

Sejarah Kota Medan (75): Sejarah Gempa Bumi di Medan dan Deli, Tercatat Sejak 1883; Apakah Kota Medan Langka Gempa?


*Semua artikel Sejarah Kota Medan dalam blog ini Klik Disini

Gempa bumi di Medan pernah terjadi pada bulan Oktober 2016 dengan kekuatan 3.5 SR. Laporan terbaru gempa bumi di Medan terjadi pada Januari 2017 dengan kekuatan 5.6 SR. Guncangan gempa ini sempat membuat warga Kota Medan panik. Menurut BMKG pusat gempa berada 26 Km barat daya Deli Serdang pada kedalaman 10 Km. Gambaran ini sudah cukup menjelaskan bahwa Medan dan Deli bukan wilayah bebas gempa.

Sumatra-courant : nieuws- en advertentieblad, 13-05-1886
Sulit menemukan catatan sejarah gempa di Medan dan Deli. Riwayat gempa di suatu wilayah dapat berguna untuk memahami perilaku kegempaan di wilayah tersebut. Selain untuk peringatan agar tetap waspada, catatan sejarah gempa dapat dijadikan sebagai data pendukung untuk memperkirakan kejadian gempa di masa datang.

Kejadian gempa di Medan dan Deli sudah dilaporkan sejak 1883. Laporan kejadian gempa tahun 1883 menjadi penting karena menjadi informasi awal untuk memahami gempa di Medan dan Deli sudah pernah ada jauh sebelumnya. Lalu gempa bumi juga pernah dilaporkan pada tahun 1886. Catatan inilah yang menginformasikan bahwa gempa bumi pada masa ini (2016 dan 2017) bukan hal yang baru atau langka. Lantas masih adakah kejadian gempa di Medan dan Deli dalam rentang waktu 130 antara tahun 1886 dan 2016? Untuk keperluan pengetahuan, mari kita telusuri.

Sabtu, 29 September 2018

Sejarah Makassar (15): Sejarah Gempa di Sulawesi; Gempa Tsunami Palu Donggala (1927) Kembali Menyeret Korban Banyak


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Makassar dalam blog ini Klik Disini

Pada hari Kamis tanggal 1 Desember 1927 pukul 12.45 telah terjadi gempa dahsyat di Donggala. Gempa ini juga cukup keras dirasakan di Palu. Kantor Asisten Residen di Donggala runtuh sebagian. Di Palu dua pasar runtuh dan sebagian bangunan dermaga hancur. Sebuah gelombang pasang (baca: tsunami) di Teluk Paloe menyebabkan kehancuran rumah-rumah di daratan. Sebanyak 14 orang tewas terbunuh dan sekitar lima puluh orang luka. Nilai kerusakan diperkirakan sekitar f50.000. Gubernur Jenderal mendelegasikan wewenang kepada Asisten Residen di Dongala untuk menyelidiki bantuan dimana ia dapat menggunakan uang kas daerah yang tersedia.

Bataviaasch nieuwsblad, 03-12-1927
Berita di atas ditransmisikan oleh dari Manado yang dikutip oleh surat kabar yang terbit di Soerabaija, Soerabaja Handelsblad yang kemudian dilansir oleh surat kabar yang terbit di Batavia yakni Bataviaasch nieuwsblad edisi 03-12-1927.

Peristiwa gempa yang diikuti tsunami kembali terjadi kemarin sore (28-09-2018) di Palu dan Donggala. Gempa yang berkekuatan 7.4 SR dan perkiraan tsunami 1.5-2 meter. Menurut berita terakhir hari ini korban meninggal telah melampaui angka 400 orang. Suatu angka yang sangat besar. Ini adalah suatu bencana nasional. Kita semua bangsa Indonesia sangat prihatin dan turut berduka. Jika dulu tahun 1927 hanya ditangani oleh Asisten Residen dengan anggaran daerah, kini penanganannya haruslah lintas kementerian dengan anggaran pusat.