Senin, 04 Oktober 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (151): Bahasa Indonesia di Belanda; Indo Ambon Manado Minahasa Timor Papua dan Sebagainya

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Apakah ada penutur bahasa Indonesia di Belanda? Ada, malah banyak. Mereka itu adalah orang-orang Indonesia dan orang-orang Belanda yang pernah di Indonesia pada era Hindia Belanda. Generasi berikutnya di Belanda (terutama yang tergolong Indo) juga banyak yang bisa berbahasa Indonesia terutama warga Belanda keturunan Indonesia seperti dari Ambon.Maluku, Manado/Minhasa dan Timor. Mereka ini sebenarnya sangat mencintai Indonesia, hanya karena politik yang memisahkan.  

Orang Belanda di Indonesia (baca: Hindia Timur) sudah sejak ratusan tahun yang lalu. Mereka memperkenalkan bahasa Belanda dan juga belajar berbahasa Melayu. Dengan demikian dimungkinkan berkomunikasi menjadi lebih baik. Terjadinya pendudukan Jepang, bahasa Indonesia dipromosikan dan mendapat tempat (sebagai bahasa resmi), maka penggunaan bahasa Belanda lambat laun berkurang (sebab selama pendudukan Jepang semua orang Belanda diinternir di kamp-kamp konsentrasi). Sejak takluknya Jepang terhadap Sekutu dan tidak lama sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, orang-orang Belanda dibebaskan. Dalam fase ini orang-orang Belanda kembali eksis di Indonesia (selama perang kemerdekaan). Namun adanya pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda (sejak 27 Desember 1949) orang-orang Belanda yang ada di Indonesia pulang ke Belanda. Pada saat terjadi nasionalisasi (sejak 1952) banyak orang Indonesia yang lebih memilih menjadi warga negara Belanda, seperti dari Ambon/Maluku dan Manado/Minahasa. Mereka yang memilih menjadi warga negara Belanda inilah yang kini menjadi penutur bahasa Indonesia di Belanda.

Lantas bagaimana sejarah bahasa Indonesia di Belanda? Seperti disebut di atas, sejarah hubungan Belanda dan Indonesia (baca: sejak Hindia Timur) sudah sejak lama dan banyak orang Belanda bisa berbahasa Melayu/Indonesia. Dalam konteks inilah bahasa Indonesia ada di Belanda. Warga Belanda keturunan Indonesia kini banyak yang dwibahasa (bahasa Belanda dan bahasa Indonesia, seperti halnya kita bahasa Indonesia dan bahasa daerah). Lalu bagaimana sejarah bahasa Indonesia di Belanda? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Menjadi Indonesia (150): Baca Tulis Hitung dalam Belajar Sejarah Zaman Now; Sejarawan Asing vs Sejarawan Indonesia

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Ada seorang sejarawan Indonesia bergelar profesor manyatakan di suatu talk show bahwa orang Indonesia tidak perlu terlalu percaya kepada para sejarawan asing tentang topik Indonesia, apakah mereka itu orang Australia, Amerika Serikat dan sebagainya. Sang Profesor saya lebih memahami dan kita lebih mengetahui dari mereka. Sang profesor juga juga menuding para sejarawan asing itu datang ke Indonesia hanya jalan-jalan dan bagaimana mereka bisa memahami secara mendalam. Bisa jadi sang Profesor kita itu bisa benar dan juga bisa salah. Mengapa?

 

Sang Profesor kita menamakan dirinya sejarawan Indonesia. Memang betul dia lulusan Amerika Serikat dan mendapat gelar doktor dalam bidang sejarah. Namun dalam biodatanya dan berbagai tulisan yang menyangkut dirinya tidak ada indikasi beliau bisa berbahasa Belanda (mungkin hanya bisa berbahasa Inggris saja). Nah, pertanyaanya: Apakah seorang sejarawan Indonesia bisa lebih memahami sejarah Indonesia daripada orang asing? Mungkin para sejarawan asing itu datang ke Indonesia tidak lama di lapangan karena mereka hanya melakukan observasi dan wawancara yang benar-benar diperlukannya (dan itu bisa berarti tidak lama). Saya yakin, sejarawan asing yang dituding sejarawan kita itu meski orang Australia dan orang Amerika Serikat mereka bisa berbahasa Belanda, paling tidak bisa membaca bahasa Belanda (seperti saya). Sebagaimana diketahui bahwa berbagai dokumen sejarah Indonesia terdapat dalam bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Bahkan sumber koran dan jurnal/majalah dalam bahasa Belanda sangat begitu banyak tentang pemberitaan di Indonesia dari hari ke hari dan dari minggu ke minggu. Sumber-sumber pertama berbhasa Belanda inilah yang dianlisis sejarawan asing itu terlebih dahulu sebelum mereka datang ke Indonesia. Apakah sang profesor kita itu telah melakukan yang sama?  

Lantas bagaimana sejarah sejarawan mempelajari sejarah di Indonesia? Seperti disebut di atas, para sejarawan asing yang datang ke Indonesia pada dasarnya sudah mempelajari terlebih dahulu sumber-sumber koran dan majalah yang datanya dapat dikompilasi (analisis) sebagai penemuan awal. Oleh karena itulah mereka tidak lama di Indonesia (dibatasi oleh dana beasiswa/hibah yang mereka peroleh). Lalu bagaimana dengan sejarawan kita dalam mempelajari sejarah Indonesia. Ada sejarawan kita mengacu pada pendapat/penemuaan sejarawan asing dan ada juga yang menolaknya seperti sejarawan kita di atas. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Minggu, 03 Oktober 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (149): Bahasa Melayu di Vietnam Sejak Zaman Kuno;Kini, Bahasa Indonesia Jadi Bahasa Resmi Kedua

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Bahasa Melayu tidak hanya di Tanah Melayu (Semenanjung Malaya). Bahasa Melayu tidak hanya di (wilayah) nusantara. Bahasa Melayu juga ada di (wilayah) Vietnam, bahkan sejak zaman kuno. Nusantara sering diasosiasikan pulau-pulau antara dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudra (Hindia dan Pasifik). Pulau-pulau itu yang terbilang pulau besar adalah Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Mengapa bahasa Melayu kerap diasosiasikan dengan Malaysia (Semenanjung Malaya) dan mengapa bahasa Melayu di Vietnam kurang terinformasikan?

 

Pada zaman kuno, setiap pulau di nusantara sudah ada penduduk dengan bahasa-bahasa asli. Bahasa-bahasa asli ini juga terdapat di Semeanjung Malaya dan Indochina (seperti Vietnam). Kehadiran pedagang-pedagang India membuat wilayah penduduk berbahasa asli terhubung dengan lingua franca bahasa Sanskerta (dengan aksara Pallawa). Dalam perkembangannya bahasa Sanskerta ini di kota-kota pantai bercampur dengan berbagai bahasa asli yang kemudian terbentuk bahasa Melayu. Bahasa Melayu inilah kemudian yang menggantikan bahasa Sanskerta sebagai lingua franca di nusantara. Saat bahasa Melayu ini terus berkembang, bahasa Sanskerta di India tetap eksis. Pada era kolonial, bahasa Melayu terus berkembang di wilayah Hindia Belanda yang oleh para pemuda penduduk asli (pribumi) mendeklarasikan bahasa Indonesia pada tahun 1928 (Kongres Pemuda) sebagai bahasa persatuan dari satu nusa dan satu bangsa. Bahasa Indonesia yang dimaksud adalah bahasa Melayu (yang berkembang) di Hindia Belanda (bukan di Malaya, Inggris dan bukan di Filipina, Amerika Serikat). Bahasa Melayu di Malaysia kurang lebih mirip dengan bahasa Melayu di pantai timur Sumatra dan kepulauan Riau). Bahasa Melayu Riau dan bahasa Melayu di pantai timur Sumatra diposisikan sebagai bahasa daerah, sedangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional (lingua franca dan bahasa resmi).

Lantas bagaimana sejarah bahasa Melayu di Vietnem? Seperti disebut di atas, bahasa Melayu di Vietnam sudah eksis sejak zaman kuno. Bahasa Viet (Indochina) bahkan sejak Kerajaan Champa, pengaruhnya yang besar menyebabkan bahasa Melayu di Vietnam menjadi minoritas. Namun bahasa Melayu tetap eksis di Vietnam bahkan hingga ini hari. Lalu mengapa kini bahasa Indonesia penting di Vietnam? Mengapa bukan bahasa Melayu? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.