Kamis, 07 Oktober 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (156): Navigasi Pelayaran Nusantara Majapahit; Pelabuhan Majapahit di Pantai Muara Sungai Brantas

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Kerajaan Majapahit tidak hanya sekadar kerajaan besar. Kerajaan Majapahit juga memiliki kemampuan navigasi pelayaran yang luas. Ruang navigasi pelayaran Majapahit paling tidak dapat dibaca pada teks Negarakertagama (1365). Pendahulu kerajaan Majapahit sendiri dalam bidang navigasi pelayaran adalah kerajaan Singhasari (tetangganya). Namun navigasi pelayaran Singhasari hanya sampai sejauh ke pantai timur Sumatra. Navigasi pelayaran Majapahit lebih jauh dan lebih luas lagi.

 

Sebelum berkembang navigasi pelayaran di Jawa (Singhasari dan Majapahit) sudah lebih awal berkembang navigasi pelayaran di Sumatra. Navigasi pelayaran nusantara pada awalnya berkembang di pantai barat Sumatra di Baroes (Kerajaan Aru). Sejak ibu kota kerajaan Aru relokasi ke pantai timur Sumatra (Binanga) navigasi pelayaran Aru sangat berkembang, bahkan hingga mencapai Tiongkok. Selanjutnya navigasi pelayaran di selat Karimata (berpusat di pulau Bangka) berkembang yakni Kerajaan Sriwijaya. Navigasi pelayaran Sriwijaya diperkuat oleh Kerajaan Aru (lihat prasasti Kedukan Bukit 682 M).

Lantas bagaimana sejarah navigasi pelayaran Majapahit di Nusantara? Seperti disebut di atas, navigasi pelayaran Majapahit didahului oleh perkembangan navigasi pelayaran di Singhasari. Dalam hal ini apakah Kerajaan Kediri (pendahulu kerajaan Singhasari) memiliki tradisi navigasi pelayaran? Yang jelas kerajaan Mataram kuno yang berada di pedalaman (pulau Jawa bagian tengah) yang fokus pada bidang pertanian, namun sangat tergantung pada perdagangan luar di kota-kota pantai. Lalu bagaimana sejarah pelabuhan Majapahit di pantai timur Jawa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Rabu, 06 Oktober 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (155): Trowulan dan Geografi;Perlu Dipertemukan Para Ahli Sejarawan, Arkeolog, Geolog dan Ekonom

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Gambaran zaman kuno spasial ibu kota Majapahit di Jawa Timur, kurang lebih sama dengan gambaran zaman kuno spasial di ibu kota (Kerajaan) Aru di pantai timur Sumatra (Tapanuli). Mempelajari sejarah situs Majapahit sama dengan mempelajari sejarah situs Aru. Pada masa ini, situs Aru ini dapat dikatakan situs zaman kuno yang terluas dimana kini ditemukan banyak candi (percandian Padang Lawas). Saya telah menyimpulkan bahwa situs Aru merupakan ibu kota zaman kuno, yang posisi GPSnya berada di pantai pada muara sungai B-aru-mun dan sungai Pane. Lantas bagaimana dengan situs Trowulan?

 

Trowulan adalah sebuah kecamatan di kabupaten Mojokerto, provinsi Jawa Timur. Kecamatan Trowulan terletak di bagian barat kabupaten Mojokerto, berbatasan dengan wilayah kabupaten Jombang. Trowulan terletak di jalan nasional yang menghubungkan Surabaya-Solo-Yogyakarta. Di kecamatan ini terdapat puluhan situs seluas hampir 100 kilometer persegi berupa bangunan, temuan arca, gerabah, dan pemakaman peninggalan Kerajaan Majapahit. Diduga kuat, pusat kerajaan berada di wilayah ini yang ditulis oleh Mpu Prapanca dalam kitab Nagarakretagama dan dalam sebuah sumber Cina dari abad ke-15. Trowulan dihancurkan pada tahun 1478 saat Girindrawardhana berhasil mengalahkan Kertabumi, sejak saat itu ibu kota Majapahit berpindah ke Daha (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah Trowulan? Seperti disebut di atas, Trowulan diduga kuat pada zaman kuno sebagai ibu kota (kerajaan) Majapahit. Lalu apakah ada hubungannya situs Trowulan dengan situs Binanga (Padang Lawas) yang diduga sebagai ibu kota (kerajaan) Aru? Jika ada, apakah secara geografis area situs Trowulan memiliki kemiripan dengan situs Binanga? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Menjadi Indonesia (154): Bahasa Belanda di Indonesia; Diplomat Belanda di Indonesia Seharusnya Berbahasa Indonesia

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Tempo doeloe, bahasa Belanda begitu penting di Indonesia (baca: Hindia Belanda). Pasca pengakuan kedaulatan Indonesia oleh (kerajaan) Belanda (27 Desember 1949) jumlah penutur bahasa Belanda drastis menurun. Gejala ini sudah tampak pada masa pendudukan militer Jepang (1942-1945). Lantas apakah masa kini masih ada orang Indonesia yang sehari-hari berbahasa Belanda? Mungkin tidak ada lagi, tetapi masih banyak yang bisa berbahasa Belanda (terutama dari golongan senior/tua). Saya sendiri hanya bisa membaca teks berbahasa Belanda..

Di Malaysia banyak warga yang sehari-hari berbahasa Inggris. Penduduk yang memiliki pendidikan sekolah menengah ke atas umumnya mampu berbahasa Inggris. Di Indonesia hanya sebagian kecil dari populasi yang bisa berbahasa Inggris (sebagai bahasa asing). Seperti disebut di atas, bahasa Belanda sebagai bahasa asing hanya terdapat pada golongan tua/senior dan itu jumlahnya sangat sedikit. Sebaliknya, orang Indonesia di Belanda, meski menempuh pendidikan tinggi jarang yang bisa berbahasa Inggris, karena di perguruan tinggi untuk mahasiswa asing digunakan bahasa pengantar bahasa Inggris. Lantas bagaimana orang Belanda di Indonesia? Jelas mereka tidak berbahasa Belanda, tetapi menggunakan bahasa Inggris. Lalu apakah ada orang Belanda yang bisa berbahasa Indonesia? Tentu saja ada. Paling tidak Duta Besar Belanda di Jakarta Lambert Grijns bisa berbahasa Indonesia.

Lantas bagaimana sejarah bahasa Belanda di Indonesia? Seperti disebut di atas, bahasa Belanda di Indonesia (baca: Hindia Timur) sudah eksis bahkan sejak era VOC. Namun penggunaan bahasa Belanda di Indonesia menghilang seiring dengan perubahan politik terutama sejak pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda (1949). Lalu bagaimana dengan sekarang? Sebaiknya semua orang Belanda (paling tidak semua diplomat) di Indonesia seharusnya berbahasa Indonesia? Mengapa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.