Minggu, 11 Januari 2026

Sejarah Jepang (2): Ilmu dan Teknologi di Jepang Bagaimana Itu Bermula? Pendidikan STEM di Eropa (Belanda, Inggris, Jerman)


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jepang dalam blog ini Klik Disini 

Awal mula ilmu dan teknologi Jepang modern berakar dari Restorasi Meiji (1868), ketika Jepang membuka diri dari isolasi dan mengadopsi sains serta teknologi Barat secara masif melalui studi di luar negeri dan impor, didukung oleh penguasaan ilmu dari studi Belanda (Rangaku) pada periode sebelumnya. 


Kronologi sains dan teknologi Jepang dimulai dari pengaruh Barat pada abad ke-16 (senjata api), adopsi masif ilmu Barat di Era Meiji (akhir abad ke-19), kebangkitan pasca-PD II dengan fokus industri dan elektronik, hingga menjadi pemimpin global dalam robotika, AI, dan teknologi digital saat ini, didorong oleh sistem pendidikan STEM kuat dan budaya inovasi: (1) Tahap Awal (Sebelum Abad ke-19: (a) Periode Kuno (Jomon, Yayoi): Penemuan tembikar, teknologi pertanian padi dan alat logam dari Asia (b) Pengaruh China: Adopsi aksara, Buddha, dan sistem pemerintahan.(c) Periode Edo (Isolasi): Studi terbatas Belanda (Rangaku) memperkenalkan kedokteran Barat, dengan pionir seperti Sugita Genpaku. (2) Kebangkitan Modern (Akhir Abad ke-19–Awal Abad ke-20. (a) Era Meiji (1868-1912): Jepang membuka diri, mengadopsi ilmu pengetahuan dan teknologi Barat secara besar-besaran untuk modernisasi dan industrialisasi.(b) Fokus pada Pendidikan: Pembentukan sistem pendidikan modern dan penghormatan terhadap insinyur/ilmuwan (3) Pascaperang Dunia II & Keajaiban Ekonomi (1945–1980-an. (a) Revolusi Industri: Pengembangan teknologi otomotif (Toyota, Honda), elektronik (Sony, Panasonic), dan manufaktur presisi.(b) Inovasi Kunci: Munculnya produk elektronik rumah tangga massal, televisi, kamera, dan vending machines (AI Wikipedia). 

Lantas bagaimana sejarah ilmu dan teknologi Jepang bermula? Seperti disebut di atas, Jepang awalnya terisolasi yang kemudian terjadi interaksi dengan orang-orang Belanda. Hubungan Jepang dengan sistem pendidikan STEM Eropa (Belanda, Inggris, Jerman) semakin massif setelah Restorasi Meiji. Lalu bagaimana sejarah ilmu dan teknologi Jepang bermula? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*. 

Ilmu dan Teknologi di Jepang Bagaimana Itu Bermula? Pendidikan STEM di Eropa (Belanda, Inggris, Jerman)

Sejatinya orang Eropa yang telah sejak lama berinteraksi dengan (orang) Jepang adalah orang Belanda. Sejak Restorasi Meiji tahun 1868 hingga awal abad ke-20, dunia luar masih menganggap Jepang masih misteri. Seorang penulis Belanda A Bertrand menulis buku berjudul “De geheimzinnige Japanees” (Orang Jepang yang Misterius) yang diterbitkan tahun 1904. Boleh jadi karena itu, seorang ahli matematika Dr PH Schoute, Profesor Universitas Groningen, Belanda menemukan kontak dengan seorang dosen Matematika di Tokyo Koto Shihan Gakkö di Jepang, Tsuruichi Hayashi. 


Pada tahun 1905 Tsuruichi Hayashi menulis artikel berjudul “A Brief History of the Japanese Mathematics” yang kemudian diterbitkan di Nieuw archief voor wiskunde, 1905, Deel: Tweede reeks. Deel VI, 1905 (Uitgever Weytingh & Brave, Amsterdam). Dr PH Schoute sendiri belum lama menulis artikel berjudul “Mehrdimensionale Geometrie” (Geometri Multidimensi) yang dimuat dalam Erster Teil. Die linearen Raume. Sammlung Schubert XXXV, Leipzig, GJ Göschen’sche Verlagshandlung, 1902). 

Lambat laun para akademi mulai banyak yang melakukan studi-studi tentang Jepang. Boleh jadi itu, karena (orang) Jepang sudah menunjukkan kemajuan yang sangat pesat dalam segala bidang. Hal itu juga telah mendorong para mahasiswa di Belanda untuk memilih topih tentang Jepang, termasuk mahasiswa Indonesia. 


Sejumlah disertasi yang diterbitkan di Belanda, adalah Pieter Antonie Roeper Bosch dalam bidang ekonomi/perdagangan dengan disertasi berjudul “Japan in den oorlog” di Universitas Rotterdam 2 Juli 1920; J Feenstra Kuiper dalam bidang bahasa dan sastra Belanda dengan judul disertasi “Japan en de buitenwereld in de achttiende eeuw” (Jepang dan dunia luar pada abad kedelapan belas) di Universtas Leiden, 11 Maret 1921; Samsi Sastrawidagda dalam bidang ekonomi (perdagangan) dengan judul disertasi berjudul “De Ontwikkeling der  handeks-politiek van Japan (Perkembangan kebijakan perdagangan Jepang) di Universitas Rotterdam, 17-11-1925. Jan Lodewijk (Jr.) Pierson, dalam bidang sastra dan filsafat dengan judul disertasi berjudul “The Manyôsú di Universitas Leiden 25 Oktober 1929. Carel Coenraad Krieger, alam bidang sastra dan filsafat dengan judul disertasi berjudul “The infiltration of European civilization in Japan during the 18th century”, di Universitas Leiden 11 Juli 1940. Catatan: Sam Ratoelangi meraih gelar doktor dalam bidang matematika di Zurich (Jerman) pada tahun 1918. Dalam daftar ini juga dapat ditambahkan buku berjudul “De historische verhouding tusschen Japan en Nederland” oleh HH van Kol, 1914 diterbitkan JH de Bussy; “Le Japon: Son ancien régime féodal, son isolement et l'ouverture de ses ports du commerce universel” oleh W Vinkhuyzen van Maarssen, 1915; “Het onderwijs in Japan” oleh JH Abendanon, 1918 diterbitkan Van der Vecht; “The problem of Japan: A political study of Japan and of her relations with Russia, Great Britain, China, Germany, the United States, the British Colonies and the Netherlands and of the world politics of the Far East and the Pacific” oleh Ex-counsellor of legation in the Far East, Japan; Politieke geschiedenis; 19e eeuw, Japan; Politieke geschiedenis; 1900-1917, 1918 diterbitkan Van Langenhuysen; “The isolation of Japan: An exposé of Japan's political position after the war” oleh Author of The problem of Japan, 1919 diterbitkan Van Langenhuysen; “De internationaalrechtelijke betrekkingen tusschen Nederland en Japan (1605-heden)” oleh EN van Kleffens, 1919 diterbitkan E Van der Vecht; “Oud en nieuw Japan: Grepen uit het leven” oleh HH van Kol, diterbitkan tahun 1921. Disertasi oleh mahasiswa Indonesia Han Tiauw Tjong berjudul “De industrialisatie van China” di Universitas Delft, 1922. “Het Buddhistische doodenfeest in China en Japan” oleh MW de Visser, 1924 diterbitkan Koninklijke Akademie van Wetenschappen; “Het snoer der ontferming, en Japansche legenden” oleh Louis Couperus, 1924 (Drukker/Uitgever: Nijgh & Van Ditmar's Uitgevers-maatschappij); “De Hollanders op Formosa 1624-1662: Een bladzijde uit onze koloniale- en zendingsgeschiedenis” oleh P de J Hzn Zeeuw, 1924; “China en Japan: Leiddraad bij een cursus over de beeldende kunsten in Oost-Azië” oleh HC Verkruysen, 1923; “Japan: Het land van den lotus (Een reisverhaal met 72 afbeeldingen) oleh J Verbruggen, 1927 (Drukker/Uitgever Groot Nederland); “Japan in den Grooten Oceaan” oleh Herman (Jr.) Roos, 1929; “De Japans-Chinese oorlog van 1931” oleh Thomas F Millard dan Tan Shao-hua, 1932; “Japansch-Nederlandsch woordenboek” oleh PA van de Stadt, 1934 (Drukker/Uitgever Vereeniging Nayo-Kyoka); “(Kamus) Nichi-Ran jiten” oleh Fan-de-Sutatto, Shōwa 9 [1934] diterbitkan oleh Nanyô Kyôkai Taiwan Shibu; “Jan Compagnie in Japan, 1600-1817: An essay on the cultural, artistic and scientific influence exercised by the Hollanders in Japan from the seventeenth to the nineteenth centuries” oleh CR Boxer, 1936 (Drukker/Uitgever Nijhoff). Last but not least: “A bibliography of the Japanese empire” oleh Fr von Wenckstern, 1895-1907 diterbitkan Drukker/Uitgever Brill-The Maruzen Kabushiki Kaisha.

Artikel Tsuruichi Hayashi berjudul “A Brief History of the Japanese Mathematics” sangat menarik karena Hayashi menunjukkan secara luas dan mendalam bagaimana matematika dipelajari di Jepang sejak masa lampau, matematika khas Jepang (Wasan) hingga orang Jepang mengadopsi matematika Eropa (melalui orang Belanda) sebelum Restorasi Meiji (1868). 


Matematika adalah fondasi utama bagi perkembangan teknologi dan teknik. Pada masa ini cabang matematika dasar yang menjadi pilar pengembangan teknologi: Kalkulus digunakan dalam pemodelan sistem fisik hingga kini kecerdasan buatan (AI), dan pengolahan citra. Kalkulus membantu menghitung perubahan variabel secara kontinu dalam algoritma. Aljabar Linear, sangat krusial untuk teknologi Machine Learning, grafika komputer serta pengolahan data besar (Big Data). Statistika dan Probabilitas menjadi dasar bagi analisis data, prediksi tren pasar, serta pengembangan algoritma AI dalam mengenali pola. Matematika Diskrit mempelajari struktur seperti graf dan pohon yang digunakan dalam kriptografi (keamanan data), optimasi jaringan internet, dan struktur. Logika Matematika dan Aljabar Boolean dasar dari sirkuit digital dan pemrograman komputer. Semua instruksi perangkat lunak beroperasi menggunakan logika "True/False" atau "1/0". 

Saat Tsuruichi Hayashi menulis artikel “A Brief History of the Japanese Mathematics” tentu saja matematika yang digunakan adalah matematika Eropa. Matematika khas Jepang (Wasan) sudah lama tidak digunakan. Namun Tsuruichi Hayashi menemukan hanya satu buku (dalam bahasa Jepang) yang menulis buku tentang Wasan berjudul “Dai Nikon Sugaku Shi” (Sejarah Matematika di Jepang Raya) yang ditulis oleh Toshisada Endo, seorang guru di sekolah menengah Akita. 


Toshisada Endo mencurahkan waktu hingga enam belas tahun untuk menyusun buku tersebut dengan usaha tanpa henti dan ketekunan yang gigih. Harus dikatakan bahwa mengumpulkan dan menyusun materi seperti yang terdapat dalam buku itu merupakan tugas yang sangat sulit dalam keadaan masa itu. Toshisada Endo menyelesaikan usaha besarnya dengan upaya yang cermat dan gigih, tanpa mempedulikan kehilangan waktu, tenaga dan uang. Toshisada Endo adalah salah satu dari sedikit matematikawan senior yang masa itu di Jepang, dan mahir dalam apa yang disebut Wasan, sehingga Toshisada Endo paling kompeten untuk menyusun buku sejarah matematika tersebut. 

Buku berjudul “Dai Nikon Sugaku Shi” telah diminta oleh Dr PH Schoute, Profesor Universitas Groningen untuk diterjemahkan oleh Tsuruichi Hayashi ke dalam bahasa Inggris. Menurut Tsuruichi Hayashi di dalam artikel di atas, terdapat lebih dari dua ribu jilid buku manuskrip dan buku cetak tentang Wasan di Tokyo Imperial University. Tsuruichi Hayashi dalam menulis artikel tersebut merujuk pada buku sejarah Toshisada Endo dan buku-buku Wasan yang terdapat dalam perpustkaan Tokyo Imperial University. 


Buku-buku kuno Jepang (Wasan) tersebut telah ditulis ke dalam sejumlah artikel-artikel dalam bahasa asing antara lain oleh Prof D Kikuchi berjudul “On the method of the old Japanese school to find the area of a circle” (The Tokyö Sugaku Buturigakkwai Kiji, Vol. VII, p. 24 26). Prof D Kikuchi juga menulis artikel berjudul “Japanese mathematicians”; “A series for π2 obtained by the old Japanese mathematicians”; “Ajimas’s method to find  the length of an are of a circle”; “Seki’s method  to find  the length of an are of a circle”. Prof. R. Fujisawa berjudu “Note on the mathematics of the old Japanese school” (Compte rendu du deuxième congres international des mathématiciens, 1900, publiés par E. Duporcq, p. 379-393).


Satu yang penting yang pertama terungkap dari matematika Jepang (Wasan) yang terdokumentasikan adalah bersifat geometrik. Suatu pendeskripsian matematika yang berbeda dengan pengetahuan umum di Eropa yang sudah dinotasikan (variabel dan konstanta). Hal itu menjadi dapat dikaitkan dengan nenek moyang orang Indonesia di zaman kuno bagaimana dengan presisi membangun candi-candi. 


Matematika dalam hal ini adalah satu hal. Namun bagaimana matematika itu dideskripsikan dalam berbagai bahasa adalah hal lain. Secara spesifik “bahasa” yang dimaksud dapat diurutkan dari permulaan hingga ke ke ian: lisan (perkataan), tulisan (verbal), lukisan (gambar) dan rumusan (formulasi). Bahasa gambar kemudian kerap diasosiasikan dengan geometri dan rumusan sebagai aljabar dan formulasi yang menggunakan notasi (variabel dan konstanta) sebagai aritmatika, kalkulus dan sebagainya. Mateimatika notasi ini sejatinya masih tergolong baru dan bahkan di Eropa sendiri. Dalam hal ini matematika Jepang (Wasan) menjadi kaku jika dibandingkan dengan matematika modern Eropa (sebagaimana yang kita kenal di Indonesia pada masa ini). 

Sejarah matematika Jepang, menurut Tsuruichi Hayashi (yang juga berdasarkan periodisasi oleh Toshisada Endo), membagi waktu menjadi lima periode. Ada masa pengaruh Tiongkok dan pengaruh Eropa (Belanda). Pengaruh matematika Jepang dari Belanda terjadi pada Periode Ketiga (1592-1672 M). 


Periodisasi matematika Jepang oleh Tsuruichi Hayashi: Periode Pertama (dari zaman paling awal hingga 553 M): Selama periode ini, matematika yang khas Jepang tidak dipengaruhi oleh matematika Tiongkok. Periode Kedua (554-1591 M): Impor pertama matematika Tiongkok melalui Korea, impor langsungnya dari Tiongkok, penyelidikan serius oleh para matematikawan Jepang, dan keruntuhannya. Periode Ketiga (1592-1672 M): Matematika Tiongkok kembali diimpor. Matematikawan terkenal Takakazu Seki memperkenalkan beberapa metode dan kebenaran matematika melalui penemuannya sendiri dan dengan mengajarkannya kepada murid-muridnya, meletakkan dasar sekolah Seki. Terdapat indikasi pembelajaran matematika dari orang Eropa, terutama dari Belanda. Periode Keempat (1673-1771 M): Matematika khas Jepang mengalami kemajuan pesat, sekolah Seki mencapai puncak perkembangannya. Periode Kelima (1772-1761 M): Penelitian matematika setelah periode terakhir menjadi lebih giat. 

Orang Belanda sendiri melakukan ekspedisi pertama yang dipimpin Cornelis de Houtman tahun 1595 dan mencapai Indonesia di pulau Enggano tahun 1596 dan kemudian tiba di Banten. Pelayaran ke Maluku tertunda dan hanya berakhir hingga di Bali (dan kemudian kembali ke Belanda awal tahun 1597). Sejak itu ekspedisi Belanda semakin intens. Kontak pertama Belanda dengan Jepang tidak disengaja. Itu terjadi pada tanggal 19 April 1600, kapal "Liefde" yang terpisah dari skuadron yang menuju Maluku akibat badai hebat, terdampar di Jepang dekat Oita dengan 24 awak (sisa dari 110 orang saat meninggalkan Belanda!), di mana kapal tersebut disita, para penumpang diterima di darat. Catatan: Cornelis de Houtman terbunuh di Atjeh tahun 1601 (ekspedisi keduanya).


Setelah ekspedisi Belanda yang dipimpin admiral van Hagen berhasil menaklukkan benteng Portugis tahun 1605 di Amboina, pelaut-poelaut Belanda semakin berjaya. Pada tanggal 24 Agustus 1609, awak dua kapal "Roode Leeuw met pijlen" dan "Griffioen" yang tiba di Hirado diberikan izin perdagangan pertama oleh Shogun Ieyasu, yang memberi Belanda hak untuk berdagang dengan Jepang, tanpa "perlakuan yang sedikit pun tidak ramah”. Post pedagangan Belanda (VOC) yang semakin menguat di Indonesia (berbasis di Batavia sejak 1619), militer VOC pada tahun 1641 berhasil mengusir Portugis dari Malaka dan Kamboja. Sejak inilah episode paling menarik dalam hubungan Belanda-Jepang berlangsung, ketika semua orang Barat lainnya (Portugis, Spanyol, dan Inggris) dipaksa meninggalkan Jepang, tetapi hanya orang Belanda—yang oleh orang Jepang yang diizinkan untuk tetap tinggal di pulau buatan Deshima di teluk Nagasaki  (dan kelak berakhir tahun 1864).
 

Sejak 1641 orang Belanda di Jepang (pulau Desjima) mulai mendapat akses yang lebih dan orang Jepang dan orang Belanda mulai berinteraksi. Dalam konteks inilah diduga kuat pengaruh matematika Eropa (Belanda) mulai diterima oleh orang Jepang. Pengaruhnya tentu saja masih sangat sedikit tetapi kemudian lambat laun semakin intens karena semakin banyaknya buku-buku sains yang dibeli oleh orang Jepang (sebagai bagian dari komoditi perdagangan).

 

Satu abad kemudian, pengadopsian sains dan matematika Eropa (Belanda) mulai diintensifikan. Hal itulah yang kemudian mendorong orang Jepang mulai ada yang menulis buku teks bahasa Belanda-Jepang yang berjudul “Rangaku Kaitei” (Langkah Pertama dalam Bahasa Belanda) yang ditulis oleh Otsuki Gentaku. Buku teks pertama untuk bahasa Belanda yang ditulis oleh seorang Jepang, ditujukan untuk penerjemah pabrik Belanda di Deshima. Buku kecil ini diterbitkan di Jedo (kemudian disebut Tokyo) pada tahun 1788 (lihat gambar). 

Buku-buku apa saja yang diterima orang Jepang setelah banyak diantara orang Jepang yang telah memiliki kemampaun membaca dalam bahasa Belanda? Tsuruichi Hayashi kembali menulis artikel tentang buku-buku yang pernah terdokumentasikan dalam rak-rak perpusatakaan di Jepang. 


Artikel-artikel Tsuruichi Hayashi tersebut adalah: “A list ot Dutch Astronomical works imported from Holland to Japan” (dimuat dalam Nieuw Archief, 1907 tweede reeks, zevende deel, p. 42-47); “A list of Dutch Books on mathematical Sciences imported from Holland to Japan before the Restoration in 1868” (dimuat dalam Nieuw Archief, tweede reeks, zevende deel, p. 232-237). “Some Dutch Books on mathematical and physical sciences  imported from Holland to Japan before the Restoration in 1868” dimuat dalam Nieuw archief voor wiskunde, 1911, Deel: Tweede reeks. Deel IX. Artikel lain dalam edisi  tersebut berjudul “How have the Japanese used the Dutch Books imported from Holland? 

Dalam artikel ketiga Tsuruichi Hayashi berjudul Some Dutch Books on mathematical and physical sciences imported from Holland to Japan before the Restoration in 1868 yang diterbitkan tahun 1911, Tsuruichi Hayashi mengumpulkan bahan berdasarkan buku-buku yang ditemukan di gudang milik Sekolah Normal Shizuoka. Disebutkan di Shizuoka, sebuah kota yang tidak terlalu jauh dari Tokyo, terdapat sebuah kastil terpisah yang terkenal milik Keshogunan Tokugawa; sehingga buku-buku berbahasa Belanda yang diimpor dari Belanda ke Jepang oleh pemerintah Tokugawa dikirim ke sana dari Jedo (kemudian Tokyo. Namun, hampir semua buku ini hilang setelah itu kecuali beberapa yang dianggap tidak berharga. Buku-buku ini, beserta katalognya, telah ditemukan baru-baru ini. Dalam katalog tersebut, disebutkan sekitar 560 buku berbahasa Belanda tentang berbagai subjek dan sekitar 250 kamus berbahasa Belanda. 


Dari daftar yang sedikit yang masih ada, Tsuruichi Hayashi memilih buku-buku berikut tentang ilmu matematika dan fisika (terutama tentang matematika) dengan bantuan Bapak Morita, guru di Sekolah Normal. Beberapa di antaranya telah disebutkan dalam dua artikel Tsuruichi Hayashi sebelumnya. Buku-buku tersebut, antara lain: 1. T Arnhem. Natuurkunde. 1844; 2. J Badon Ghijben. Beginselen der hoogere meetkunst. 1842. 3. J Badon Ghijben. Beginselen der differentiaal- en integraalrekening. 1847. 4. J Badon Ghijben en H. Strootmam. Beginselen der stelkunst. 1843, 1854. 5. F Baud. Proeve van eenen cursus over de waterbouwkunde. 1838. 6. EM Beima. Natuur-beschouwingen. 1850. 7. EM Beima. See von Humbold. 8. A Block. See N. Hartsoecker. 9. DJ Brouwer. Sterre- en zeevaartkundige tafelen benevens eene korte verklaring van bare inrigting en haar gebruik. 1862. 10. P van der Burg. Eerste Grondbeginselen der natuurkunde. 1854, 1857. 11. P van der Burg. Schets der natuurkunde. 1855. 12. Delaunay. Gronden. 1842. 14. Driesma. Het mikroskoop. 1859. 15. Jakob de Gelder. Allereerste gronden der cijferkunst. 1847. 16. Jhr CM Storm van ’s Gravesande. Burgerlijke en militaire bouwkunst. 1850. 17. Hart. Machinenboek. 1852. 18. N Hartsoecker. Beginselen der natuurkunde, door A. Block. 1850. 19. Holtzman. Grondbeginselen der werktuigkunde. 1851. 20. A von Humboldt. Kosmos. Translated into Dutch by EM Beima. 1846. 21. Huygens. De Schroef. 1852. 22. Huygens. Schroef werktuig. 1847-1856. 23. Huygens. De schroef-machine. 1853. 24. Huygens. De scheepsstoomketels. 1853. 25. Kemper. Stoomwegen. 1853. 26. GA van Kerkwijk. Handleiding tot de versterkingskunst. 1839, 1858. 

Untuk mengetahui bagaimana buku-buku dari Belanda tersebut digunakan, Tsuruichi Hayashi sedikit kesulitan namun masih ada beberapa sarjana lanjut usia yang telah mempelajari Ilmu Pengetahuan Eropa melalui bahasa Belanda yang masih hidup. Sayangnya, para narasumber tersebut tampaknya telah melupakan detail-detail yang mereka ketahui di masa muda mereka. karena seluruh keadaan telah berubah begitu cepat atau bahkan sangat drastis dalam beberapa waktu terakhir, sehingga mereka tidak dapat mengingatnya. 


Dalam kontes tersebut, Tsuruichi Hayashi meringkas sebagai berikut: Mereka yang pertama kali mempelajari bahasa Belanda adalah penerjemah, yang disebut tsuji pada waktu itu, di pelabuhan terbuka yang paling makmur, Nagasaki, pada masa pemerintahan Tokugawa yang memegang kekuasaan atas seluruh negeri dari tahun 1603 hingga Restorasi pada tahun 1868. Selama hubungan yang panjang, dimulai pada praktisnya sejak 1641, para penerjemah tidak hanya dipekerjakan untuk menerjemahkan dialog politik atau komersial, mereka juga diajari ilmu pengetahuan dan seni oleh orang Belanda. Di antara mereka, Kichizaemon Hayashi dan Yoshinobu Kobayashi, salah satu murid Hayashi, keduanya hidup pada abad ke-17, sangat terkenal, dan mempelajari matematika, astronomi, kronologi, dll. dari orang asing, mungkin dari warga negara Belanda. Pada masa itu, keluarga Tokugawa berusaha mencegah penyebaran agama Barat dan terkadang menganiaya orang Kristen, baik asing maupun pribumi. Ketika ketidaksukaan dan ketakutan mencapai puncaknya, pemerintah sepenuhnya melarang impor buku-buku Eropa. Ketika seseorang ketahuan memiliki buku-buku Eropa, ia akan dihukum berat, buku-bukunya langsung disita. Larangan mempelajari buku-buku Eropa terkadang dilonggarkan. Tetapi sekitar awal abad kesembilan belas, hanya sedikit orang yang mempelajari Ilmu Pengetahuan Eropa melalui bahasa Belanda, secara diam-diam dan dalam ketakutan. Shogun kedelapan Yoshimune Tokugawa (ia memegang jabatan shogun dari tahun 1716 hingga 1744) mengundang Nishikawa, seorang penerjemah, dari Nagasaki untuk menyusun kalender yang akurat. Nishikawa dikatakan mahir dalam matematika dan astronomi Eropa; tetapi kita sama sekali tidak mengetahui buku-buku apa saja tentang ilmu-ilmu tersebut yang telah dibaca dan dipelajarinya. Sekitar waktu itu, ada dua penerjemah lain, Nishi dan Yoshio, yang mempelajari ilmu pengetahuan dan seni Eropa dari buku-buku Belanda (judul buku dan nama penulisnya sama sekali tidak diketahui). Dikatakan bahwa mereka memperoleh kamus Belanda (penyusunnya tidak diketahui) dari salah satu orang di atas kapal Belanda. Setelah mendengar tentang kamus ini, Shogun Yoshimun Tokugawa mencoba mendapatkannya, tetapi Nishi memberinya sebuah buku tentang astronomi yang ditulis dalam bahasa Belanda. Judul dan penulisnya juga tidak diketahui oleh kita. Deskripsi rinci tentang hal-hal tertentu dalam buku astronomi tersebut telah membangkitkan kekaguman Shogun, sehingga ia secara terbuka mengakui mempelajari buku-buku Belanda. Sejak saat itu, studi tentang buku-buku Belanda berkembang secara bertahap dan pesat. Konon, Ryotaku Mayeno (meninggal tahun 1803), seorang sarjana Belanda terkenal dan putra seorang dokter yang berasal dari keluarga bangsawan feodal (panglima tertinggi sistem feodal disebut shogon, yang kemudian digantikan oleh keluarga Tokugawa) mendapatkan sebuah buku tentang aritmatika dalam bahasa Belanda pada tahun 1772, yang judulnya tidak diketahui. Meskipun pemerintah bersikap lunak, hanya sedikit orang yang mempelajari buku-buku berbahasa Belanda; masyarakat umum tidak memiliki kesempatan untuk melihat buku-buku berbahasa Belanda, karena buku-buku tersebut sangat langka dan harganya sangat mahal. Kecuali para penerjemah di Yagasaki, para dokter medis memiliki relatif banyak buku berbahasa Belanda, tetapi jumlah dokter ini sangat sedikit dibandingkan dengan mereka yang mempelajari pengobatan Tiongkok. Selain para dokter ini, para astronom yang berasal dari klan Tokugawa atau bangsawan feodal setempat juga membaca buku-buku berbahasa Belanda. Karena perjanjian harus dibuat dengan negara-negara asing, bangsa Jepang menyadari perlunya sarana pertahanan yang sah; kemudian artileri dan benteng diperkenalkan dan kemudian navigasi dipelajari. Bersama dengan buku-buku tentang ilmu pengetahuan dan seni ini, buku-buku tentang matematika terapan juga diimpor, meskipun tidak banyak; dan di antaranya juga terdapat beberapa buku tentang matematika murni. Orang-orang yang telah memperoleh buku-buku tentang ilmu pengetahuan dan seni Eropa ini, membacanya dengan saksama dan mempelajarinya dengan penuh semangat, membandingkannya dengan buku-buku yang menggunakan metode asli atau Tiongkok. Buku-buku ini dipersembahkan oleh orang Belanda. Buku-buku itu dibeli oleh Pemerintah Tokugawa ketika mereka tiba di Jepang, atau dibeli dari sesama warga negara Jepang oleh pemerintah pusat atau pemerintah daerah.  Dalam kasus terakhir, buku apa pun tentang kapal Belanda dibeli karena dianggap langka dan menarik; setiap buku yang tersedia dibeli. Bukan berarti warga negara Jepang memesan buku-buku ini, dengan menentukan judul dan pengarangnya secara rinci sebelum pembelian, karena penentuan tersebut mungkin tidak mungkin dilakukan karena ketidaktahuan. Hanya ada satu penjual buku di Jedo, yang disebut demikian pada zaman itu, yang menjual buku-buku Belanda; tetapi kini tidak ada yang mengetahui dimana penjual buku itu saat ini. Sebagian besar buku-buku ini tentu saja dikumpulkan oleh pemerintah pusat Tokugawa, dan dikirim ke Yösho-torishirabejo (atau Baushotorishirabejo), yaitu institut penelitian buku-buku Eropa dan ke observatorium astronomi. Institut dan observatorium tersebut tidak berlanjut hingga sekarang. (Observatorium Astronomi Tokyo yang ada sekarang dibangun setelah itu). Kaiseijo, yang digabungkan dengan lembaga-lembaga lain pada tahun 1869 untuk mendirikan Universitas Imperial Tokyo, memperoleh buku-buku tersebut di Yösho-torichirabejo. Namun, buku-buku Belanda milik lembaga-lembaga tersebut dijual sebagai buku yang tidak berguna di masa depan dan dibuang sebagai kertas. Buku-buku yang dimiliki oleh pemerintah feodal setempat dan oleh individu juga diperlakukan dengan cara yang sama. Buku-buku itu dibeli dengan harga yang sangat tinggi pada awalnya, dan orang-orang Belanda diundang dengan sopan untuk mengajar ilmu pengetahuan dan seni Eropa. Orang Jepang yang telah mempelajari buku-buku Belanda terutama adalah dokter, astronom, instruktur artileri, matematikawan, dll., kecuali penerjemah. Orang-orang ini sebagian besar termasuk dalam kelas samurai (atau ksatria) dan merupakan perwira yang melayani tuan feodal. Hanya sedikit dokter yang tidak secara langsung melayani tuan feodal, dan samurai tanpa tuan yang mempelajari buku-buku berbahasa Belanda. Tentu saja masyarakat umum tidak membaca buku-buku berbahasa Belanda. Pada masa itu, sangat sulit untuk membaca dan mempelajari buku-buku berbahasa Belanda. Meskipun beberapa kamus Belanda-Jepang tersedia. Kamus-kamus tersebut, yang disebut 'posed', adalah salinan tulisan tangan yang tidak sempurna dan dianggap sangat berharga di sekolah-sekolah swasta para sarjana Belanda dan dijaga dengan cermat oleh para pemimpin sekolah. Ketika para pemimpin sekolah memperoleh buku Belanda baru tertentu, mereka bermaksud membacanya dengan menggunakan kamus tulisan tangan yang tidak sempurna ini, tetapi tampaknya sulit untuk memahami arti setiap kalimat di seluruh buku. Bagian-bagian yang mereka pahami, mereka sampaikan dalam kuliah kepada para pengikut mereka. Tetapi dalam hal ini mereka tidak selalu memberi tahu judul dan pengarang buku tersebut kepada para pengikut mereka, terkadang memberi tahu mereka bahwa sumber kuliah mereka adalah buku Belanda tertentu, atau terkadang merahasiakan sumber kuliah mereka sepenuhnya. Setelah mengikuti kuliah-kuliah yang merupakan kutipan dari buku-buku Belanda, para murid mulai membaca buku-buku itu sendiri. Bukan hanya kamus Belanda-Jepang yang tidak sempurna yang membantu para sarjana ini, tetapi ada banyak kamus impor (Belanda; Belanda-Inggris; Inggris-Belanda; Belanda-Prancis, dll.). Beberapa di antaranya bahkan sekarang masih tersimpan di perpustakaan milik Sekolah Normal Sidzuoka. Sekitar 250 eksemplar masih tersisa di sana, dan tidak semuanya berbeda. (Di perpustakaan, terdapat 557 buku berbahasa Belanda, hampir semuanya bukan karya matematika, dan 246 kamus berbahasa Belanda). Bagaimana para cendekiawan Jepang memanfaatkan kamus-kamus ini? Kita tidak dapat menjawab pertanyaan ini; memanfaatkan kamus-kamus ini secara sempurna tentu sulit bagi mereka. Namun, pengetahuan yang diperoleh dengan mengatasi kesulitan tersebut, tentu telah memberikan pengaruh besar pada perkembangan peradaban Jepang. Sesungguhnya, gagasan-gagasan yang diperoleh dari buku-buku berbahasa Belanda merupakan dasar peradaban Jepang saat ini. Orang Jepang, harus menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada rekan-rekan sebangsa Belanda dalam hal ini. Selama mempelajari buku-buku Belanda dengan sungguh-sungguh, para sarjana Jepang, memang benar, terjemahan telah dibuat, seluruhnya atau sebagian; tetapi terjemahan yang dicetak sangat sedikit, karena tidak banyak pembeli. Hanya beberapa buku kedokteran yang dicetak; tetapi saya tidak yakin ada terjemahan cetak dari karya matematika apa pun. Baik dicetak maupun ditulis, kita tidak dapat dengan mudah menemukan terjemahan karya matematika saat ini. Sangat sedikit yang dibuat sejak awal, dan semuanya hilang, dibuang sebagai kertas bekas. Namun, kita dapat menemukan beberapa buku Jepang yang disusun oleh penulisnya setelah merujuk pada buku-buku Belanda. Buku-buku Jepang ini adalah sebagai berikut, seperti yang telah saya sebutkan dalam "Sejarah Singkat Matematika Jepang": Nakano Rekisto shinsho, 1797. Yamaji Seireki shinhen, 1837. Okumura dan Mori Katsuyen-hyö, 1857. Hanai Seizan-sokuchi, 1856. Yang kedua mungkin merupakan kutipan dari karya Beima, tetapi saya tidak yakin. Kvo Uchida, yang hidup hingga sekitar tahun 1877, sangat tertarik pada bahasa Belanda sehingga ia menamai sekolahnya "Mathematische", menggunakan pengucapan kata tersebut apa adanya. Ia mungkin telah membuat beberapa terjemahan, yang tidak dicetak, atau setidaknya beberapa kutipan; tetapi buku-bukunya hilang karena kebakaran yang tidak disengaja. Kita menemukan dalam karya Bierens de Haax "Bibliographie Néerlandaise, etc." 1883, bahwa "Katechismus der Natuur" karya JF Martinet telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang oleh Sammon Sammé. Tetapi hingga sekarang terjemahan ini tidak dikenal di Jepang, dan kita juga tidak tahu apakah penerjemah ini orang Jepang atau bukan. Di perpustakaan saya, ada terjemahan karya Pilaar tentang navigasi, yang judul aslinya tidak saya ketahui. Buku ini berisi beberapa soal tentang navigasi, yang pertama adalah: ketika sebuah kapal berlayar sejauh 38 mil ke arah utara dari suatu tempat dengan garis lintang 15° 40° Utara, berapa garis lintang tempat kapal tersebut sekarang berada? Nama penerjemahnya adalah Y Yanagi. Ia adalah salah satu samurai yang termasuk dalam kekuasaan penguasa feodal di provinsi Ise. Judul terjemahannya adalah Kökai-ikumon-suiho-kigen (yang berarti asal mula). Ada beberapa buku lain tentang matematika, survei darat dan laut, dll., yang disusun oleh orang Jepang setelah merujuk pada buku-buku Belanda, tetapi buku-buku Belanda yang digunakan sebagai dasar mereka saat ini sama sekali tidak kita ketahui (solusi masalah navigasi). Disebutkan di halaman pertama bahwa buku aslinya ditulis oleh Pilaar (dalam ideogram Cina dengan pengucapan serupa) dan ditulis ulang oleh seorang Belanda bernama Iseels (?); ejaannya tidak pasti karena saya mengejanya kembali dari ideogram Cina. Terjemahannya ditulis oleh penerjemahnya sendiri pada tahun 1861, sehingga merupakan satu-satunya salinan yang ada, dan sangat dihargai serta sekarang menjadi kenang-kenangan yang baik dari kerja keras dan ketekunan penerjemah. Selain terjemahan ini, ada dua terjemahan lain di perpustakaan saya, keduanya dicetak, salah satunya adalah karya Boom (dalam tulisan Kana Jepang) „Verhandeling over het schot der draagbare wapens”, 1855 (buku tentang menembak senjata portabel) dan yang lainnya adalah karya Henry Pidixgton yang diterjemahkan oleh S. yax Delden ke dalam bahasa Belanda, yang berjudul „Gesprekken over orkanen”, diterbitkan pada tahun 1853 (buku ini berkaitan dengan navigasi dalam kasus badai). Kami tidak menemukan karya Brouwer (Sterre- en zeevaartkundige Tafelen) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang.

.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Pendidikan STEM di Eropa (Belanda, Inggris, Jerman): Science, Technology, Engineering dan Mathematics (STEM)

Kerhadiran orang Belanda di Jepang dan penggunaan bahasa Belanda di Jepang adalah prakondisi hubungan Jepang dengan dunia Eropa. Bagaimana dengan bahasa Inggris? Yang jelas bahasa Inggris sudah sangat luas digunakan di Amerika, India dan Tiongkok. Pada tahun 1854 secara definitif memuka diri ke Barat (Eropa). 


Empat bahasa Eropa yang paling berpengaruh di luar (daratan) Eropa adalah bahasa-bahasa Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris. Pelaut-pelaut Portugis merangsek dari pantai barat, selatan Afrika hingga ke pantai selatan India hingga menaklukkan Malaka pada tahun 1511. Dari Malaka inilah tersebar penggunaan bahasa Portugis yang kemudian hanya tersisa di pulau Timor bagian timur (kini Timor Leste) hingga di Macao (pantai timur Tiongkok). Sebaliknya, pelaut-pelaut Spanyol memulai di kepulauan Karibia yang kemudian menyebar di seluruh Amerika Utara dan Amerika Selatan hingga mencapai Filipina (1519). Portugis, Belanda dan Inggris kemudian menyusul ke Amerika dimana Belanda di seputar New York dan Suriname, Portugis di Brazil, Florida, Massachusetts, New Jersey, di California dan Hawaii. Lalu pelaut Inggris bermula di Jamestown, Virginia. Dalam perkembangannya sekitar teluk Persia, garis pantai India, Australia, Semenanjung Malaya dan pantai Timur Tiongkok menjadi basis koloni Inggris; Belanda di Indonesia, Spanyol di Filipina dan Portugis di Timor dan Macao. Pada tahun 1774 Amerika mengusir Inggris dan menyatakan kemerdekaanya. Kekuatan koloni Inggris di India dan Australia, pada tahun 1811 wilayah koloni Belanda diinvasi Inggris yang berbasis di Jawa (Belanda) tetapi tahun 1816 Belanda dipulihkan. Sejak ini Inggris semakin menguat di Tiongkok. 

Dalam konteks keterbukaan Jepang ke dunia luar (Eropa), di Jepang Fuku-Zawa mendirikan sebuah sekolah untuk mempelajari bahasa Belanda pada tahun 1858. Buku kecil bahasa Jepang dan Belanda yang diterbitkan di Jedo pada tahun 1788 semakin dikembangkan. Sementara itu di sisi orang Belanda, pada tahun 1861 terbit buku tata bahasa Jepang di Shanghai yang disiapkan oleh duta besar Belanda di Jepang (lihat Leydse courant, 29-11-1861). Sebagai konsekuensui keterbukan Jepang terhadap dunia Barat, pada tahun 1862 bahasa Inggris juga diperkenalkan di sekolah yang telah berkembang di Jepang, Kaiseijo (sekolah yang nantinya menjadi cikal bakal Universitas Kerajaan Tokyo). 


Algemeen Handelsblad, 16-09-1863: ‘Pendeta Hoffmann berbicara tentang praktik bahasa-bahasa utama oleh orang Jepang, yaitu bahasa Belanda dan bahasa Mandarin. Ia berkata, "bahwa mereka memahami bahasa Belanda dengan baik, tetapi mengucapkannya dengan cara yang dapat dimengerti oleh orang Belanda. Selain kurangnya pengetahuan tentang aksen, mereka juga tidak bisa mengucapkan huruf ‘r’. Oleh karena itu, di Jepang berkembang dialek Belanda yang tidak dapat dipahami oleh orang Belanda. Hal yang sama berlaku bagi orang Cina, yang tidak dipahami di Cina. Ia juga berbagi beberapa rincian tentang kemajuan yang telah dicapai oleh anak muda Jepang yang datang ke sini untuk belajar, dalam pengetahuan mereka tentang bahasa Belanda. Ia juga berbagi sesuatu tentang banyaknya dialek yang ada di Jepang, yaitu dialek yang khusus di setiap provinsi, dan sangat berbeda, sehingga penduduk satu provinsi tidak mengerti bahasa provinsi lainnya. Namun, bahasa kekaisaran umum (atau bahasa Jedo) tersebar di seluruh negeri dan ini memungkinkan seseorang untuk memahami dirinya sendiri dan bagi orang asing untuk bergaul dengan mereka’. 

Seperti disebut di atas, Keshogunan Tokugawa secara resmi berakhir pada 9 November 1867 ketika Shogun Tokugawa ke-15, Tokugawa Yoshinobu "menyerahkan kekuasaan prerogatifnya kepada Kaisar". Sepuluh hari kemudian Yoshinobu mengundurkan diri dari jabatannya sebagai kepala negara. Peristiwa ini merupakan titik awal "restorasi" kekuasaan kaisar (Taisei Hōkan). 


Nieuwe Utrechtsche courant, 30-01-1868: ‘Duta Besar Inggris di Jepang mengumumkan bahwa ia dan rekan-rekannya, atas permintaan pemerintah Jepang, telah sepakat untuk menunda pembukaan Jeddo, Niagata, dan Ebisuminato hingga 1 April 1868. Taikoen Jepang telah menyerahkan martabatnya ke tangan Mikado, tetapi hanya sebatas nama. Atas permintaan Mikado, pertemuan para daimyo akan diadakan untuk membahas konstitusi baru. Mungkin Taikoen hanya tidak mau memikul tanggung jawab dan akan mendapatkan kembali harga dirinya di kemudian hari’. 

Setelah ibukota kerajaan dipindahlan dari Kyoto ke Jeddo pada tahun 1868, nama Jeddo kemudian digantikan dengan nama baru: Tokyo (yang diduga kebalikan dari nama Kyo-to). Lalu pada tanggal 3 Januari 1869, Kaisar mengeluarkan deklarasi formal tentang pengembalian kekuasaan ke tangannya: 


“Kaisar Jepang mengumumkan kepada semua kepala negara dari negara-negara asing beserta tundukan mereka bahwa izin telah diberikan kepada Shogun Tokugawa Yoshinobu untuk mengembalikan kekuasaan pemerintah sesuai dengan permintaannya sendiri. Mulai saat ini kami akan melaksanakan kekuasaan tertinggi untuk urusan-urusan dalam dan luar negeri dari negara ini. Maka dari itu, semua penyebutan Taikun dalam perjanjian-perjanjian yang telah dibuat harus diganti dengan perkataan Kaisar. Para pejabat sedang ditunjuk oleh kami untuk melaksanakan urusan-urusan luar negeri. Perwakilan-perwakilan dari negara-negara penandatangan traktat hendaknya memaklumi pengumuman ini”. 

Sementara itu, buku-buku Belanda yang terkumpul sejak masa lampau menjadi dasar dibentuknya institut penelitian buku-buku Eropa (Yösho-torishirabejo atau Bausho-torishirabejo). Seiring dengan keterbukaan Jepang dengan dunia Barat (Restorasi Meiji), institut Bausho-torishirabejo ditutup. Sekolah Kaiseijo, yang digabungkan dengan lembaga-lembaga lain pada tahun 1869 didirikan Universitas Kekaisaran Tokyo (Tokyo Imperial University yang mana buku-buku di Bausho-torishirabejo menjadi kekayaan universitas baru tersebut. 


Pemerintah mendirikan lembaga baru, Yösho-shirabedokoro, yang merupakan reformasi dari Banshotorishirabedokoro pada tahun 1862. Pada tahun berikutnya diubah lagi menjadi Kaiseijo. Ada departemen matematika di lembaga itu, dan Baron Kohai Kanda menjadi profesor dan mendorong penyelidikan matematika di negara-negara Barat. Meski demikian, hanya sedikit siswa yang mempelajarinya di sana. Pemerintah mempekerjakan Gratama, seorang Belanda, sebagai profesor fisika dan kimia di Kaiseijo pada tahun 1865. Hal ini terutama atas kemajuan matematika Eropa di Jepang. Catatan: Dr Bauduin mulai mengajar Ilmu Kedokteran Eropa di rumah sakit pemerintah di Nagasaki pada tahun 1859. Akan tetapi kemudian buku-buku Belanda milik lembaga-lembaga tersebut (dalam hubungannya dengan pendirian Universitas Tokyo) disortir yang sebagian besar dijual sebagai buku yang tidak berguna di masa depan dan dibuang sebagai kertas bekas (suatu tindakan yang kasar dan tidak bijaksana!). Mengapa demikian? Sebab Universitas Kekaisaran Tokyo di mana bahasa Inggris sejak saat itu menjadi bahasa pengantar. Tamat sudah keutamaan bahasa Belanda di Jepang, bahasa internasional yang digunakan sejak masa lampau di Jepang. Dalam konteks inilah kemudian bahasa Inggris dijadikan sebagai bahasa dalam semua perjanjian Jepang dengan dunia luar. Pelayaran internasional (Bataviaasch handelsblad, 27-06-1878). 


Selain Universitas Kekaisaran Tokyo telah didirikan, juga akademi-akademi di Jepang ditingkatkan. Salah satu akademi yang menjadi unggulan di Jepang adalah Akademi Angkatan Laut. Dua lulusan akademi ini adalah Kato Tomosaburo dan Yamamoto Gonnohyoe lulus akademi tahun 1877. 


Yamamoto Gonnohyoe menjadi kadet di atas kapal penjelajah "Tsukuba" selama ekspedisi ke Formosa. Yamamoto Gonnohyoe kemudian dipromosikan menjadi letnan muda, dan melakukan pelayaran keliling dunia di atas kapal perang Jerman. Ia adalah salah satu komisaris yang dikirim ke Inggris untuk membawa kapal penjelajah "Naniwa," yang dibangun di Inggris pada tahun 1885. Dalam rombongan Laksamana Rabayama, ia dikirim ke Eropa dan Amerika pada tahun 1887 dan ditempatkan di Markas Besar Kekaisaran di Hiroshima sebagai ajudan Menteri Angkatan Laut selama Perang Sino-Jepang tahun 1894-1895. Pada tahun 1895, ia menjadi laksamana, pada tahun 1896 menjadi direktur Biro Urusan Angkatan Laut, dan, selain itu, anggota Dewan Laksamana, Wakil Menteri Angkatan Laut, dan Laksamana Madya. Dari tahun 1898 hingga 1899, ia menjabat sebagai Menteri Luar Negeri. Pada tahun 1904, ia menjadi laksamana, dan pada tahun 1907, ia termasuk dalam rombongan Pangeran Fushimi dan pergi ke Inggris dan Amerika. Ia dianugerahi penghargaan oleh Raja Edward. Ia diangkat menjadi bangsawan dan dianugerahi Orde Matahari Terbit Pertama dan Naga Emas (Kl. Dianugerahi atas jasanya selama Perang Rusia-Jepang. Pada Februari 1913, ia membentuk kabinet Yamamoto, tetapi Yamamoto Gonnohyoe mengundurkan diri pada April 1914. 


Tunggu deskripsi lengkapnya

 

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan: Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia: Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming: “Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”; “Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar