Sabtu, 25 April 2020

Sejarah Bogor (31): Sejarah Ciawi, dari Bogor, Cianjur, Sukabumi ke Ciawi; Jalan Tol Jagorawi dan Universitas Djuanda


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini

Apakah ada sejarah Ciawi Bogor? Ada dong. Namun sangat disayangkan tidak terinformasikan. Jika kita search ‘sejarah Ciawi’ di google tak satu pun situs yang muncul yang mendeskripsikan sejarah Ciawi. Itulah nasib Sejarah Ciawi yang tidak dicatat oleh jaman baru. Sejarah Ciawi masa lampau tenggelam di sungai Tjiawi.

Ciawi (Peta 1901) dan Gadok (1865)
Ciawi Bogor hanya ‘tersinggung sedikit’ yang dihubungkan dengan pembangunan jalan tol Jakarta-Bogor dan Ciawi (JaGorAwi) yang dimulai tahun 1973. Ciawi Bogor sedikit tersungging dengan pendirikan universita UNIDA (Universitas Djuanda) di ujung jalan tol di Ciawi. Lalu, apa lagi? Tidak ada lagi. Ciawi hanya muncul teriakan sesaat ketika bis dari Bogor ke Cianjur atau Sukabumi melewati Ciawi atau bis dari Jakarta lewat tol ke Bandung atau Sukabumi. Ciawi hanya dianggap perlintasan. Lalu apakah karena itu Sejarah Ciawi hanya ditulis selintas saja? Entahlah!

Sudah waktunya kita menggali data Sejarah Ciawi yang berada di dasar sungai Tjiawi. Jika perhatikan data-data tersebut, Sejarah Ciawi ternyata sangat luar biasa. Sebagai penanda navigasi Sejarah Ciawi tempo doeloe berangkat dari Buitenzorg (Bogor) ke Tjiandjoer. Dalam perkembangannya terbuka jalur dari Tjiandjoer ke Soekaboemi. Pihak Soekabomilah yang kemudian meminta dihubungkan dengan Tjiawi agar menjadi lebih dekat dengan Buitenzorg (menjauh dari Tjiandjoer). Sejak itu Tjiawi sebagai interchange menjadi sangat penting. Sejarah baru Tjiawi dimulai. Nah, untuk menengok bagaimana Sejarah Ciawi berlangsung, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Bogor (30): Sejarah Kedung Badak dan Cilebut, Batas Gemeente Buitenzorg; Riwayat Tanah Partikelir Tempo Doeloe


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini

Sejarah Kedung Badak dan sejarah Cilebut bukanlah baru. Dua nama tempat ini memiliki sejarah yang sudah tua di Bogor. Sejak era VOC dua nama tempat yang bertetangga sudah dikenal luas. Pada era Pemerintah Hindia Belanda dua nama tempat ini dipisahkan. Kedong Badak dimasukkan ke dalam kota, sementara Tjileboet berada di luar kota tetap sebagai tanah partikelir (land). Pembebasan land di Buitenzorg dimulai pada era Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811). Namun kapan land Kedong Badak dan land Tjileboet dibebaskan masih perlu ditelusuri. Kini, area Kedong Badak menjadi metropolitan baru di Kota Bogor.

Lahan-lahan di hulu sungai Tjiliwong mulai dikapling-kapling menjadi tanah-tanah partikelir bermula ketika Abraham van Riebeeck tahun 1703 sepulang ekspedisi ke hulu sungai Tjiliwong diberi izin oleh Pemerintah VOC untuk mengelola lahan di Bodjongmanggis (kini Bojong Gede). Ketertarikan Abraham van Riebeeck membuka lahan karena land Bodjongmanggis memiliki tanah yang subur, lebih-lebih setelah Cornelis Chastelein membuka lahan baru di Depok. Sebelum Cornelis Chastelein memperluas lahannya di Serengseng ke Depok, Majoor Saint Martin sudah lebih dahulu mengakuisisi land Tjitajam (land terbaik di hulu sungai Tjiliwong). Majoor Saint Martin, Chastelein dan Abraham van Riebeeck adalah peminat botani yang terkenal. Pada tahun 1701Michiel Ram dan Cornelis Coops membuat peta baru di hulu sungai Tjiliwong. Nama-nama tempat yang diidentifikasi adalah kampong-kampong Babakan, Bantar Djati, Kampong Baroe, Kedong Dalam dan Kedong Waringin. Pada saat itu kampong Kedong Waringin tampaknya lebih terkenal dari kampong Kedong Badak.

Lantas apa hebatnya land Kedong Badak? Yang jelas di Kedong Badak ada jembatan utama yang menghubungkan Batavia dan Buitenzorg. Jembatan ini awalnya dirintis oleh Gubernur Jenderal Gustaaf Willem baron van Imhoff (1743-1750). Jembatan ini kemudian direkonstruksi dengan jembatan beton pada era Pemerintah Hindia Belanda tahun 1818 (lihat Bataviasche courant, 11-04-1818). Tentu saja biaya pembuatannnya mahal, karena itu kendaraan yang lewat dipungut tol. Jembatan tersebut kini dikenal sebagai jembatan Warung Jambu. Namun yang kini dipungut tol adalah jembatan (flyover) Kedung Badak. Antara jembatan tol masa lalu tersebut dengan jembatan flyover masa kini pada era pendudukan militer Jepang terdapat kamp interniran Eropa-Belanda. Lalu apa hubungannya land Kedong Badak dengan land Tjileboet? Jika warga Kedong Badak ingin naik kereta api harus ke stasion Tjileboet. Okelah, untuk lebih menambah pengetahuan, dan wawasan sejarah nasional di Bogor, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Rabu, 22 April 2020

Sejarah Air Bangis (25): Alamsjah dan Abdoellah gelar Toeankoe Radja Moeda di Air Bangis; Republiken Sejati di Jogjakarta


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Air Bangis dalam blog ini Klik Disin

Siapa Alamsjah? Yang jelas bukan Sakti Alamsjah (pendiri surat kabar Pikiran Rakyat Bandung yang pernah saya bertemu tahun 1981). Hampir semua orang tidak mengetahui siapa Alamsjah dan hanya sedikit yang mengenalnya. Alamsjah adalah anak seorang pemimpin berpengaruh di Air Bangis. Alamsjah merantau kali pertama melanjutkan studi sekolah budidaya (Cultuutschool) di Soekaboemi pada tahun 1914. Pada tahun yang sama Abdul Azis Nasution gelar Soetan Kanaikan lulus sekolah menengah pertanian (Middelbare Landbouwschool) di Buitenzorg.

Abdul Azis Nasution setelah lulus sekolah guru (kweekschool) di Fort de Kock (Bukittinggi) tidak menjadi guru, tetapi melanjutkan studi ke sekolah pertanian (Landbouwschool) di Buitenzorg. Pada tahun 1913 Abdul Azis Nasution lulus tingkat dua dan naik ke tingkat tiga (Bataviaasch nieuwsblad, 06-08-1913). Sekolah yang lama kuliahnya tiga tahun ini, pada tahun 1913, namannya diubah menjadi Sekolah Menengah Pertanian (Middelbare Landbouwschool). Abdul Aziz lulus pada tahun 1914. Ini berarti Abdul Azis Nasution adalah alumni pertama Sekolah Menengah Pertanian Bogor (Middelbare Landbouwschool). Pada tahun ini juga (1914), Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan, anak Padang Sidempuan, pionir pribumi kuliah di luar negeri (tiba di Belanda, 1905) pulang ke tanah air dan untuk sementara ditempatkan di sekolah eropa di Buitenzorg (Bogor) sebelum menjadi kepala sekolah guru (kweekschool) di Fort de Kock (tahun 1915). Besar kemungkinan Soetan Casajangan telah bersua dengan Abdul Azis Nasution dan Alamsjah. Jelang kepulangan Soetan Casajangan ke tanah air telah bersua dengan Sorip Tagor di Belanda. Sorip Tagor lulus sekolah kedokteran hewan (Veeartsenschool) Buitenzorg tahun 1912 dan diangkat menjadi asisten dosen lalu pada tahun 1913 berangkat melanjutkan studi ke Belanda. Sorip Tagor adalah angkatan pertama Veeartsenschool yang dibuka pada tahun 1907. Sorip Tagor Harahap, kelahiran Padang Sidempoean adalah ompung dari Inez/Risty Tagor.

Sudah barang tentu Alamsjah dan Abdul Azis Nasution saling mengenal. Kampong mereka saling berdekatan. Alamsjah lahir dan besar di Air Bangis sedangkan Abdul Azis Nasution gelar Soetan Kanaikan lahir dan besar di Moeara Kiawai (kota dimana muara sungai Batang Kiawai bermuara di sungai Batang Kanaikan). Lantas siapa Abdoellah gelar Toeankoe Radja Moeda? Seperti halnya Alamsjah, Toeankoe Radja Moeda juga kurang terinformasikan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Selasa, 21 April 2020

Sejarah Air Bangis (24): Orang Cina di Air Bangis, Air Mengalir Sampai Jauh; Orang Tionghoa Air Bangis Pindah ke Padang


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Air Bangis dalam blog ini Klik Disin

Apakah ada orang-orang Tionghoa di Air Bangis? Ada, tetapi secara perlahan-lahan jumlahnya semakin menurun seiring dengan melemahnya perputaran ekonomi di Air Bangis. Pasca pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda (1950) jumlahnya tidak banyak lagi dan hanya tinggal satu dua keluarga di kota Air Bangis. Berita yang ada adalah pasukan John Lie Tjeng Tjoan yang merapat di pelabuhan Air Bangis dalam rangka pembebasan Sumatra Barat dari PRRI. John Lie adalah Letnan Kolonel Laut, wakil komandan pembebasan PRRI di Sumatera Barat (di bawah komando Mayor Jenderal Ahmad Yani).

Peta 1904
Sejarah orang Tionghoa di Indonesia selalu menarik perhatian. Orang-orang Tionghoa cenderung tinggal di perkotaan. Mengapa menjadi perhatian, karena orang Tionghoa mudah dibedakan dengan yang lainnya sejak era VOC. Mereka bertempatkan tinggal di wilayah kampement tersendiri. Orang-orang Tionghoa (baca: Chines) pada era Pemerintah Hindia Belanda ke Sumatra termasuk pantai barat Sumatra menyebar (migrasi) dari Singapoera dan Penang. Jumlah orang China di pantai barat Sumatra semakin banyak seiring dengan semakin berkembangya perkebunan di Sumatra Timur (sejak 1870). Orang-orang China yang telah lama menetap di Batavia juga secara perlahan-lahan banyak yang merantau ke pantai barat Sumatra (termasuk di Air Bangis).

Lantas sejak kapan orang-orang Cina di Air Bangis? Satu yang pasti mereka ikut ambil bagian dalam perdagangan. Jumlahnya mulai bertambah seiring dengan pembentukan cabang Pemerintah Hindia Belanda di Air Bangis. Mereka awalnya adalah pedagang biasa, namun karena keuletan dalam menekuni bisnis banyak yang berhasil dan menjadi pengusaha besar. Lalu bagaimana perkembangan? Untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Air Bangis (23): Teluk Air Bangis dan Pulau-Pulau Indah; Strategi Air Bangis, Villes Mortes Jadi Daerah Tujuan Wisata


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Air Bangis dalam blog ini Klik Disini

Air Bangis pernah mencapai puncaknya (akhir era VOC dan awal Pemerintah Hindia Belanda), tetapi setelah itu meredup hingga tenggelam di teluk Air Bangis. Pada era pendudukan militer Jepang, Air Bangis benar-benar terlupakan. Pada awal era Pemerintah Republik Indonesia upaya untuk membangkitkan ‘batang tarandam’ di Air Bangis tidak membawa banyak hasil. Dengan terbentuknya kabupaten Pasaman Barat diharapkan ‘batang tarandam’ benar-benar dapat terangkat. Namun penempatan posisi GPS ibu kota di Simpang Ampek membuat Air Bangis secara spasial semakin terpencil di ranah sendiri (kabupaten Pasaman Barat). Pusat pemerintahan dan pusat pertumbuhan bisnis di Simpang Ampek justru lebih memperkuat wilayah pinggiran kabupaten induk (kabupaten Pasaman) dan wilayah pinggiran kabupaten tetangga (kabupaten Agam). Ibarat melempar kail (umpan) ke utara, jatuhnya ke selatan.

Pembangunan spasial di Pasaman Barat (Now)
Namun tidak perlu disesalkan atau dikhawatirkan garis nasib yang ada. Dunia telah berubah dan berubah sangat cepat. Setiap tempat dimanapun berada bergerak menuju arah mana tidak lagi semata-mata ditentukan oleh pikiran penguasa (pejabat pemerintah lokal). Kini setiap tempat dapat bergerak kemana arah jalan yang sesuai baginya, Tangan-tangan yang tidak kelihatan (invisible hand) akan terus bekerja. Spekturm dunia baru telah muncul, dunia digital generasi milenial. Pada situasi dan kondisi baru inilah penduduk Air Bangis dapat merespon dengan baik. Batas-batas admnistrasi tidak lagi begitu penting. Paradigna baru telah mewabah, pembangunan lintas wilayah sudah menjadi suatu alternatif jika faktor inheren tidak mendukung. Tangan-tangan yang tidak kelihatan (mekanisme pasar) bekerja menurut ala milenial ‘lu jual, gua beli’. Kebijakan pemerintah kini hanya menjadi faktor penunjang. Pada era VOC dan pada era Pemerintah Hindia Belanda konsep serupa ini yang dijalankan. Pengalaman itulah yang kala itu membuat Air Bangis menemukan puncak kemakmurannya.

Lantas bagaimana membangkitkan ‘batang tarandam’ yang telah menjadi Villes Mortes menjadikan Kota Air Bangis dan sekitar menjadi daerah tujuan wisata? Hanya strategi wisata ini yang dapat diunggulkan (dalam posisi keterpencilan) untuk mendorong aliran produk andalan ikan kering dan udang. Revitalisasi wilayah perkebunan di kabupaten Pasaman Barat hanya faktor sekunder bagi Air Bangis. Keunggulan komparatif dalam sektor wisata menjadi jalan menuju kemakmuran (terangkatnya ‘batang tarandam’). Satu hal lagi, dalam dunia tanpa batas (milenium) saat ini, Air Bangis tidak lagi terpencil, tetapi bagian dari klaster yang ramai ketika kabupaten Pantai Barat Mandailing (Natal) benar-benar terwujud. Hitung-hitung untuk menjalin kembali tali kasih yang sempat terputus (antara Air Bangis dan Natal) karena penarikan batas yang kurang pas di era kolonial Belanda. Pendulum waktu sedang mengarah ke situ.

Senin, 20 April 2020

Sejarah Air Bangis (22): Ujung Gading dan Sejarahnya; Mandailing di Tjoebadak, Parit, Simpang Tonang, Aur, Djonggor, Batahan


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Air Bangis dalam blog ini Klik Disini

Oedjoeng Gading, bukanlah nama kampong kemarin sore. Nama kampong Oedjoeng Gading sudah sangat kuno, bahkan nama Odjoeng Gading lebih dahulu ada dibandingkan nama Air Bangis. Sebagaimana Pasaman dan Batahan, nama Oedjoeng Gading juga adalah nama sungai. Nama Air Bangis juga adalah nama sungai. Nama sungai Oedjoeng Gading dan nama sungai Air Bangis merujuk pada sungai yang sama. Nama sungai Oedjoeng Gading di hulu, nama sungai Air Bangis di hilir.

Odjoeng Gading (Peta 1595)
Kita bisa berandai-andai (suatu anggapan). Mungkin kita tidak menduga, bahwa tepat pada posisi GPS dimana kota Air Bangis pada jaman lampau adalah laut (perairan). Kampong yang berada di pantai adalah kampong Oedjoeng Gading. Dengan kata lain Odjoeng Gading adalah muara sungai Oedjoeng Gading (berbatasan langsung dengan pantai). Lalu kemudian kita beranggapan bahwa daratan Air Bangis terbentuk karena proses sedimentasi karena adanya aliran lumpur dan material lainnya yang cukup banyak melalui sungai-sungai dari pedalaman karena aktivitas yang luar biasa dari gunung berapi (gunung Malintang, gunung Koelaboe atau gunung Pasaman-Ophir)..

Berdasarkan sensus penduduk tahun 1930 penduduk Oedjoeng Gading seluruhnya adalah orang Mandailing. Keterangan ini tentu ada artinya. Sebagai sebuah kampong besar berjumlah penduduk banyak (dan asli Mandailing) tentu saja kampong ini sudah eksis sejak lama. Jaraknya yang begitu dekat dengan centrum Mandailing, kampong Oedjoeng Gading memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan penduduk Mandailing di pedalaman (pegunungan).