Kamis, 31 Desember 2020

Sejarah Aceh (33): Sejarah Bahasa Aceh, Bahasa Melayu Bahasa Lingua Franca; Bahasa Gayo, Alas, Dairi, Pakpak, Karo

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Aceh dalam blog ini Klik Disini 

Dalam Sensus 1930 penduduk (province( Atjeh dibedakan dalam tiga kategori: Orang Atjeh (Atjeher), Orang Alas (Alasser) dan Gayo (Gajo’s). Khusus untuk kelompok Orang Atjeh di dalamnya termasuk orang pulau (kepulauan Simeloer dan kepulauan Banjak), orang Singkil (Singkeler) dan orang Tamiang (Tamianger). Pengelompokkan ini didasarkan pada kesamaan bahasa yang digunakan sehari-hari. Penyelenggaraan Sensus Penduduk 1930 dapat dikatakan sebagai kegiatan sensus terbaik di era Hindia Belanda.

Pada masa ini (seperti yang dikategorikan pada Sensus Penduduk 2010), penduduk di Provinsi Aceh dibagi ke dalam sejumlah kelompok etnik: Aceh, Gayo, Alas, Aneuk Jamee, Melayu Tamiang, Kluet, Devayan, Sigulai, Haloban dan Julu. Seperti pada Sensus Penduduk 1930, pengelompokkan yang sekarang juga tetap cenderung mengikuti penggunaan bahasa sehari-hari. Dalam hal ini bahasa ibu digunakan sehari-hari sebagai penanda (pembeda) etnik. Pengelompokkan yang dilakukan pada sensus 1930, berlaku sama, di wilayah Batak dibagi ke dalam sub-etnik yakni Angkola, Mandailing, Toba, Simaloengin, Pakpak dan Karo. Di Jawa khususnya di bagian barat dibedakan antara Jawa, Soenda dan Betawi.

Okelah, sensus penduduk adalah satu hal. Hal lain yang juga penting diperhatikan adalah soal sejarah bahasa-bahasa yang ada di provinsi Aceh. Bahasa Atjeh seperti halnya pada sensus tahun 1930 dan sensus penduduk yang terakhir populasi terbesar di provinsi Atjeh adalah Orang Aceh. Lantas bagaimana sejarah bahasa Aceh sendiri? Tentu saja sudah ada yang menulis. Lalu bagaimana asal-usulnya dibedakan dengan bahasa Gayo dan bahasa Alas? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.