Jumat, 25 Juni 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (65): Permulaan Nusantara. Proses Melayunisasi Bahasa; Kerajaan Aru, Sriwijaya, Kerajaan Malaka


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog Klik Disini 

Melayunisasi, dalam hal ini kita hanya berbicara tentang bahasa Melayu. Suatu proses bahasa menjadi bahasa Melayu yang menjadi lingua franca baru di Nusantara (baca: Hindia Timur). Kelak pada bahasa Melayu terjadi proses Indonesiasi, yang mana bahasa Melayu bertransformasi menjadi bahasa Indonesia (kini menjadi lingua franca di Indonesia yang juga dijadikan sebagai bahasa resmi). Bahasa Melayu diposisikan sebagai bahasa daerah, seperti halnya bahasa Jawa dan bahasa Batak. Lantas sejak kapan terbentuk bahasa Melayu? Sejak bahasa Sanskerta yang menjadi lingua franca bertransformasi menjadi bahasa Melayu.

Proses bahasa adalah satu hal. Proses (pembentukan) tata bahasa lain lagi. Tata bahasa Indonesia dikembangkan dari tata bahasa Melayu. Lalu sejak kapan proses pembentukan tata bahasa Melayu dimulai? Tentu saja pada saat Frederik de Houtman (1596) belum memikirkannya. William Marsden (1781) mulai berinisiatif untuk menyusu tata bahasa Melayu. Namun hasilnya tidak memiliki kegunaan apa-apa. Tidak ada lagi yang memikirkannya. Meski pers berbahasa Melayu mulai muncul awal tahun 1850an, tetapi semua pengguna bahasa Melayu bahkan sekolah-sekolah dasar negeri yang menggunakan bahasa Melayu dilakukan dengan caranya sendiri-sendiri. Inisiatif pembentukan tata bahasa itu muncul dari kalangan zending dalam rangka menerjemahkan kitab suci Injil ke dalam bahasa asli (bahasa pribumi) Bukan bahasa Melayu yang pertama. Yang pertama selesai adalah tata bahasa Batak dengan banyak belajar di Angkola Mandailing yang dikerjakan oleh Dr HN van der Tuuk (1857). Tata bahasa Batak karya van der Tuuk adalah tata bahasa terbaik yang pernah ada. Lalu bagaimana dengan tata bahasa Melayu? Lagi-lagi bermula di Angkola Mandailing; adalah Charles Adriaan van Ophuijsen yang memulainya. Bagaimana bisa? Apakah van Ophuijsen ingin mengikuti jejak van der Tuuk. Tidak. Charles Adriaan van Ophuijsen yang memulai karir guru di sekolah guru (kweekschool) di Padang Sidempuean tahun 1881, awalnya tertarik belajar sastra Batak lalu mengajar bahasa Batak dan bahasa Melayu di sekolah guru yang dibangun 1879 itu. Dari delapan tahun Chatles di Padang Sidempuan, lima tahun terakhir sebagai direktur Kweekschool Padang Sdiempuan. Tata bahasa Melayu yang digagas dan dikerjakan di Padang Sidempoean itiu baru diselesaikan selama van Ophuijsen mengajar di Universiteit te Leiden dan diterbitkan tahun 1903. Sebagaimana tata bahasa Batak karya van der Tuuk, tata bahasa Melayu karya van Ophuijsen terbilang yang pertama yang dikerjakan secara keilmuan (ejaan van Ophuijsen cukup terkenal). Salah satu mahasiswa yang membantunya mengajar bahasa Melayu di Universiteit Leiden adalah mahasiswa senior Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan yang juga mantan muridnya di Kweekschool Padang Sidempuan. Soetan Casajangan adalah pendiri Indische Vereeniging (Perhimpoenan Indonesia) di Belanda 1908. Soetan Casajangan juga adalah sarjana pendidikan Indonesia pertama (lulus 1911). Doktor pendidikan Indonesia pertama dengan gelar Ph.D berasal dari Padang Sidempoean, Soetan Goenoeng Moelia (lulus 1933) yang pernah menjadi Menteri Pendidikan RI (yang kedua).

Lantas bagaimana sejarah bahasa dan Melayunisasi Nusantara? Apakah bermula di Padang Sidempoean? Nanti dulu, seperti disebut di atas, bahasa Melayu bermula dari lingua franca bahasa Sanskerta. Lantas apa hubungannya Melayunisasi bahasa dengan kerajaan Batak, Kerajaan Aru? Tentu saja perlu diketahui. Sebab siapa yang menyangka bahwa proses pembentukan tata bahasa Batak dan tata bahasa Melayu justru dimulai di Tanah Batak di Padang Sidempoean, Bagaimana semua bisa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Kamis, 24 Juni 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (64): Indochina dan Indonesia di Zaman Kuno; Peradaban India dan Peradaban Tiongkok Zaman Kuno


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog Klik Disini 

Indochina dan Indonesia nama mirip merujuk pada nama Indo (Hindia atau India). Indonesia adalah pulau-pulau Hindia (India), sedangkan Indochina adalah Hindia ditempelkan nama Tiongkok (China). Dalam hal ini Indochina bukan Indonesia dan China. Oleh karena itu Indochina dan Indonesia berakar pada sejarah peradaban yang sama (India). Namun dalam perkembangannya sejarah peradaban Tiongkok masuk, terutama di Vietnam, Laos dan Kamboja untuk memperkaya atau menggantikan.

Pada masa ini Indochina kerap diartikan secara terbatas pada wilayah bekas koloni Prancis yang kini menjadi negara Kamboja, negara Laos dan negara Vietnam. Namun secara geografis wilayah Indochina juga mencakup negara Myanmar dan Thailand. Jika diperluas lagi secara geografis maka Semenanjung Malaya dapat menjadi Semenanjung Indochina atau Semenanjung Asia Tenggara. Wilayah Semenanjung Asia Tenggara ditambah dengan pulau-pulau di selatan dan tenggaranya (Indonesia dan Filipina) kemudian lebih dikenal hanya Negara Negara Asia Tenggara (ASEAN). Berbeda dengan Indonesia dan Federasi Malaysia (Islam) dan Filipina (Katolik), agama mayoritas di Indochina adalah Budha Theravada dan Hinayana, Agama Budha Mahayana dominan di Vietnam, Theravada dominan di Myanmar dan Kamboja, sedangkan di Thailand dan Laos adalah Budha. Tiga negara Indochina yakni Vietnam ibu kota di Hanoi, Laos di Phnom Penh dan Kamboja di Vientiane.

Lantas bagaimana sejarah Indochina zaman kuno? Seperti disebut di atas Indochina bukan Indonesia atau sebaliknya. Indochina lebih mengerucut ke tiga negara yang sekarang Kamboja, Laos dan Vietnam. Namun demikian, adakah pengaruh Indonesia (Hindia Timur) di wilayah Indochina tersebut? Yang jelas, boleh jadi dari kawasan Indochina zaman kuno ini berkembang bahasa Melayu (suksesi bahasa Sanskerta). Bagaimana bisa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Rabu, 23 Juni 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (63): Tiongkok dan Nusantara, Dinasti ke Dinasti; Pengaruh China Sejak Era VOC-Belanda di Indonesia

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog Klik Disini

Seperti halnya kita berbicara pengaruh Hindoe Boedha dan pengaruh Islam di Hindia Timur (nusantara), kita juga dapat membicarakan pengaruh Tiongkok di nusantara. Pada era kehadiran Eropa di Hindia Timur nama Tiongkok digantikan dengan nama China. Oleh karena itu pengaruh Tiongkok yang kita bicarakan adalah sejah era dinasti-dinasti di Tiongkok hingga era kolonial Belanda. Pengaruh Tiongkok di nusantara berarti tidak hanya di Indonesia yang sekarang juga termasuk di Filipina dan Semenanjung (Malaysia dan Indo China).

Pengaruh Tiongkok di Hindia Timur, khususnya wilayah Indonesia yang sekarang begitu penting dalam sejarah masa lampau. Oleh karena itu pengatruh Tiongkok (China) sama pentingnya dengan pengaruh Hindoe Boedha (terutama India) dan pengaruh Islam (terutama Arab). Sebagaiana sisa-sisa pengaruh India dan Arab, pengaruh China juga masih terlihat pada era Pemerintah Hindia Belanda. Sejak adanya pengakuan Arab dan China tahun 1936 (Persatoean Arab Indonesia dan Persatuan Tionghoa Indonesia) maka orang-orang Arab dan China yang sudah lahir dan eksis secara turun temurun di Hindia Belanda dianggap menjadi orang Indonesia. Dalam hal ini kita tidak relevan lagi membicarakan pengaruh Tiongkok (China).

Lantas bagaimana sejarah pengaruh Tiongkok di Hindia Timur atau nusantara? Bagaimana pula pengaruh China di Indonesia sejak era VOC? Yang jelas bahwa sejak Indonesia merdeka, tidak ada lagi dikotomi pribumi dan non pribumi. Lalu bagaimana sejarah pengaruh China atau Tionghoa seja era Tiongkok di Indonesia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Selasa, 22 Juni 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (62): Kerajaan Tarumanagara; Awal Terbentuknya Kerajaan Galuh hingga Kerajaan Sunda di Pajajaran

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog Klik Disini 

Kerajaan tertua di Hindia Timur (baca: nusantara) adalah Aru dan Taruma (T-aru-ma). Aru dalam bahasa India selatan (Ceylon) adalah air atau sungai. Kerajaan Aru dan Kerajaan Taruma adalah kerajaan-kerajaan perairan (luat dan sungai) yang berbeda dengan di India (umumnya berada di daratan). Pedagang-pedagang India akhirnya menemukan jalan ke Sumatra dan Jawa. Dalam hubungan inilah terbentuk arus navigasi pelayaran perdagangan yang intens, yang mana sebagai lingua franca adalah bahasa Sanskerta dan penggunaan aksara Pallawa. Pada dua pulau di nusantara itu terbentuk Kerajaan Aru (bagian utara Sumatra) dan Kerajaan Tarumanagara (bagian barat Jawa).

Tarumanagara atau Kerajaan Taruma adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah barat pulau Jawa pada abad ke-5 hingga abad ke-7. Tarumanegara merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang meninggalkan catatan sejarah dan peninggalan artefak di sekitar lokasi kerajaan, terlihat bahwa pada saat itu Kerajaan Taruma adalah kerajaan Hindu beraliran Wisnu. Kata tarumanagara berasal dari kata taruma dan nagara. Nagara artinya kerajaan atau negara sedangkan taruma berasal dari kata tarum yang merupakan nama sungai yang membelah Jawa Barat yaitu Ci Tarum. Pada muara Ci Tarum ditemukan percandian yang luas yaitu percandian Batujaya dan percandian Cibuaya yang diduga merupakan peradaban peninggalan Kerajaan Taruma. Keberadaan Kerajaan Tarumanegara dapat dilihat pada sejumlah prasasti terutaa yang berasal dari abad ke-5 yakni prasasti Ciaruteun, prasasti Pasir Koleangkak, prasasti Kebonkopi, prasasti Tugu, prasasti Pasir Awi, prasasti Muara Cianten, dan prasasti Cidanghiang. Prasasti menyebutkan nama raja yang berkuasa adalah Purnawarman (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah Kerajaan Tarumanaga? Nah, itu dia. Kerajaan Taruma yang berada di suatu pulau di sekitar muara sungai Tjitaroem. Lho, koq di suatu pulau? Itu juga perlu dideskripsikan. Seperti Kerajaan Aru di bagian utara Sumatra, nama Kerajaan Taruma juga merujuk pada perairan dan sungai (aru). Lalu apakah ada relasi Kerajaan Aru yang memiliki pelabuhan di pantai barat Sumatra (muara sungai B-aru-s) dan di pantai timur Sumatra (muara sungai B-aru-mun)? Itu juga perlu dideskripsikan. Okelah, darimana kita mulai memahami sejarah Kerajaan Taruma? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Senin, 21 Juni 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (61): Singhasari, Kerajaan Kadiri hingga Kerajaan Majapahit; Kertajaya, Kertanegara dan Hayam Wuruk

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog Klik Disini  

Sejarah awal Indonesia di zaman kuno begitu minim data yang ditemukan pada masa ini. Namun begitu narasi sejarah sudah ditulis. Sejarah sendiri adalah narasi fakta dan data. Oleh karena itu sejarah fakta dan data baru ditemukan maka penulisan narasi sejarah (Indonesia) tidak pernah berhenti (hanya narasi itu-itu saja). Tugas para sejarawan untuk melengkapi data dan menyempurnakan narasi. Sumber data sejarah yang berasal dari zaman kuno adalah prasasti dan candi plus teks kuno seperti Negarakertagama diperkaya dengan catatan-catatan manca negara (India, Tiongkok, Eropa). Seperti halnya, Kerajaan Aru, Kerajaan Tarumanagara, Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Mataram (Kuno), lalu bagaimana sejarah Kerajaan Singhasari.

Kerajaan Singasari (Singhasari, Singosari) sebuah kerajaan di Jawa (timur)didirikan Ken Arok tahun 1222. Lokasi kerajaan kini diduga di daerah Singasari, Malang. Prasasti Kudadu menyebut Kerajaan Singhasari sebagai Kerajaan Tumapel. Nagarakretagama menyebut ketika kerajaan didirikan ibu kota Kerajaan Tumapel bernama Kutaraja. Pada tahun 1253, Raja Wisnuwardhana mengangkat putranya Kertanagara sebagai raja muda, nama ibu kota menjadi Singhasari. Nama Singhasari ini kemudian justru lebih dikenal dari nama Tumapel. Oleh karena itu Kerajaan Tumapel juga dikenal sebagai Kerajaan Singhasari. Nama Tumapel juga muncul dalam kronik Tiongkok Dinasti Yuan dengan ejaan Tu-ma-pan. Menurut Pararaton, Tumapel semula hanya sebuah daerah bawahan Kerajaan Kadiri yang ssat itu dijabat Tunggul Ametung, yang mati dibunuh oleh pengawalnya sendiri bernama Ken Arok, yang kemudian menjadi pejabat baru. Ken Arok mengawini istri alm Tunggul Ametung bernama Ken Dedes. Ken Arok kemudian melepaskan Tumapel dari Kerajaan Kadiri. Pada tahun 1254 terjadi perseteruan antara Kertajaya raja Kerajaan Kadiri melawan kaum brahmana. Para brahmana lalu menggabungkan diri dengan Ken Arok yang mengangkat dirinya menjadi raja pertama Tumapel dengan gelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. Perang melawan Kerajaan Kadiri meletus di desa Ganter dimenangkan pihak Tumapel. Nagarakretagama  sendiri tidak menyebut adanya nama Ken Arok, tetapi sebagai pendiri kerajaan Tumapel disebut Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra yang berhasil mengalahkan Kertajaya raja Kerajaan Kadiri. Prasasti Mula Malurung 1255 atas nama Kertanagara menyebut pendiri Kerajaan Tumapel adalah Bhatara Siwa. Besar dugaan nama tersebut adalah gelar anumerta dari Ranggah Rajasa, karena dalam Nagarakretagama sendiri disebut bahwa arwah pendiri kerajaan Tumapel dipuja sebagai Siwa. Pararaton juga menyebutkan bahwa sebelum maju perang melawan Kerajaan Kadiri, Ken Arok lebih dulu menggunakan julukan sebagai Bhatara Siwan (Wikipedia)

Lantas bagaimana sejarah Kerajaan Singhasari? Seperti disebut di atas, Singhasari termasuk salah satu kerajaan penting pada zaman kuno, Keutamaan Kerajaan Singhasari dalam sejarah zaman kuno Indonesia karena posisinya dalam sejarah nusantara sebagai kerajaan pertama di Jawa yang menjalin hubungan dengan, terutama kerajaan-kerajaan di Sumatra (Kerajaan Aru dan Kerajaan Mauli). Schnitger (1935) menyatakan raja terkenal Singhasari Kertanegara adalah pendukung fanatik agama Boedha Batak sekte Bhairawa. Ups! Bagaimana bisa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Minggu, 20 Juni 2021

Sejarah Kota Surabaya (28): Benteng di Jawa Timur, Untuk Apa Dibangun? Fort van den Bosch dan Benteng di Kedung Cowek

 

*Semua artikel Sejarah Kota Surabaya dalam blog ini Klik Disini 

Tidak hanya di Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah, benteng pada era kolonial juga ada yang dibangun di Jawa Timur. Benteng pertama dibangun di muara sungai Soerabaja. Benteng lainnya ditemukan di Ngawi yang disebut benteng Fort van Den Bosch. Satu lagi benteng di Jawa Timur adalah benteng yang dikenal sekarang sebagai benteng Kedung Cowek. Lantas apakah masih ada benteng-benteng lainnya di wilayah provinsi Jawa Timur yang sekarang?

Pada masa ini benteng peninggalan kolonial hanya dianggap sebagai warisan masa lalu yang dijadikan sebagai destinasi wisata. Benteng-benteng tersebut kerap dipandang sebagai objek wisata saja dan jarang diperhatikan sebagai bagian dari sejarah masa lalu di kawasan. Padahal benteng-benteng itu dilestarikan bukan saja untuk kesinambungan pariwisata tetapi juga menjadi pemicu bagi setiap orang untuk melihat fungsi benteng itu di masa lalu dalam perjalanan sejarah kawasan. Adanya benteng mengindikasikan bahwa kawasan begitu penting di masa lalu apakah dalam hubungannya dengan (pemerintah kolonial) Belanda maupun dalam hubungannya dengan situasi dan kondisi penduduk termasuk kejadian-kejadian heroik dari para pemimpin lokal dalam melancarkan perlawanan kepada Belanda.

Lantas bagaimana sejarah sejarah benteng-benteng di (provinsi) Jawa Timur? Seperti disebut di atas, benteng di Jawa Timur tidak hanya Fort van Den Bosch, tetapi juga ada benteng Soerabaja dan benteng Kedung Cowek. Pertanyaan lebih lanjut apakah ada benteng-benteng lainnya yang pernah dibangunan di wilayah Jawa Timur? Pertanyaan ini membutuhkan penyelidikan. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.