Senin, 02 Mei 2016

Sejarah Persija Jakarta [13]: Sepakbola di Seputar Proklamasi Kemerdekaan; Pemain Sepakbola Angkat Senjata Melawan Agresi Militer Belanda; Padang Sidempuan 100 Persen Republiken

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Persija Jakarta dalam blog ini Klik Disin


Pada jaman Jepang ada tiga pemuda sebaya asal Padang Sidempuan yang lahir di kota yang berbeda: Adam Malik di Pematang Siantar, Mochtar Lubis di Sungai Penuh, Jambi dan Sakti Alamsjah di Sungai Karang Sumatra Timur. Tiga senior mereka adalah: SM Amin lahir di Atjeh, Abdul Hakim lahir di Sarolangun, Jambi dan Amir Sjarifoedin di Medan, Sumatra Timur. Orangtua dari keenam tokoh ini semasa pendudukan Jepang pulang kampong, tetapi keenam tokoh muda ini berjuang di rantau bersama ratusan (boleh jadi ribuan) anak-anak Padang Sidempuan. Mereka itu tersebar dari Kota Radja (kini Banda Aceh) hingga Merauke, dari Amsterdam hingga Melbourne.

Mereka ini semua berperan penting jelang kemerdekaan, sejak pendudukan Jepang dan masa agresi militer Belanda. Patriot-patriot ini didukung dari kampong halaman yang seratus persen penduduknya adalah republiken (pro republik hingga akhir, mungkin satu-satunya daerah yang tidak pernah takluk terhadap aggressor militer Belanda). Hanya ada dua kota di Indonesia yang berani membakar kotanya, yakni: Bandung (Bandung Lautan Api) dan Padang Sidempuan (Padang Sidempuan Lautan Api). Suatu pengorbanan materi untuk mengusir militer Belanda yang telah menduduki kota.

Lantas apakah anak-anak Padang Sidempuan masih bermain bola? Jawabannya: Tidak. Mereka tidak memiliki kesempatan untuk memikirkan sepakbola. Dan apakah masih  ada sepakbola di Indonesia? Jawabannya: Ada. Anak-anak asal Padang Sidempuan, baru setelah pasca kedaulatan mereka berpatisipasi kembali dalam sepakbola Indonesia. Diantaranya: Mayor Marah Halim (hakim militer) mempelopori sepakbola di Banda Aceh, Mr. Egon Nasution (pendiri universitas swasta) membina sepakbola di Padang, Letkol Mr. Gele Harun Nasution (Residen Lampung) mensponsori sepakbola di Bandar Lampung, Abdul Hakim (sarjana ekonomi yang menjadi Gubernur Sumatra Utara) mendirikan Universitas Sumatra Utara dan mempelopori pembangunan Stadion Teladan di Medan, Parada Harahap (penyusun buku Repelita pertama) masih membina Bataksch Voetbal Club di Jakarta, Sakti Alamsjah (pendiri surat kabar Pikiran Rakyat) mensponsori sepakbola wartawan di Bandung, Letkol Dr. Irsan (anak Radjamin Nasution) menjadi ketua (perserikatan sepakbola) Persebaya di Surabaya, dan lainnya. Tentu saja, anak-anak asal Padang Sidempuan yang menjadi pemain sepakbola dan pilar dalam Tim Nasional PSSI ke Olimpiade di Melbourne (Australia).

Di Depok tidak terdeteksi anak asal Padang Sidempuan yang berpartisipasi dalam sepakbola, meski sepakbola terselenggara. Mereka yang di Depok lebih menekuni olahraga permainan catur. Salah satunya, FKN Harahap, anak seorang pendeta yang menjadi pecatur nasional (kelak menulis buku Sejarah Catur di Indonesia). Untuk mengisi kekosongan, apakah sudah saatnya ditulis buku Sejarah Sepakbola Indonesia yang sebenarnya? Sejauh ini sejarah sepakbola di Indonesia banyak yang palsu, tidak berdasar, tidak ada bukti tetapi sejumlah tokoh ditonjolkan padahal perannya tidak terlalu penting, semantara tokoh-tokoh lain dikerdilkan bahkan tidak dicatat. Apakah masih diperlukan tokoh palsu di era internet sekarang, ketika anak-cucu kita sudah bisa akses ke data dan informasi otentik (koran dan buku-buku lama) tentang sepakbola Indonesia?

Sejarah Persija Jakarta [12]: Sepakbola Semasa Pendudukan Jepang; Parada Harahap Abstain, Radjamin Nasution Menjadi Walikota Surabaya (1942), Amir Sjarifoedin Menentang Jepang

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Persija Jakarta dalam blog ini Klik Disin


Apakah ada kegiatan sepakbola semasa pendudukan Jepang? Jawabannya: Ada, tetapi sangat diawasi. Padahal kegiatan sepakbola di era Belanda justru sangat bebas. Lantas, apakah masih ada klub sepakbola ETI (Eropa/Belanda) pada masa pendudukan Jepang? Jawabannya: Ternyata ada, tetapi intensitasnya drastis berkurang. Sejarah sepakbola di masa pendudukan Jepang jarang (hampir tidak ada berita) yang dilaporkan. Di dalam artikel ini, coba menelusurinya.   

Radjamin Nasution menjadi Walikota Surabya
Soerabaijasch handelsblad, 30-04-1942 (Pertandingan sepakbola: Excelsior 7 vs Tiong Hwa 2 dan HBS 2 vs Persibaja 1): ‘Dua pertemuan pertama pertandingan sepakbola untuk menghormati ulang tahun Tenno Heika diselenggarakan. Dua hari secara besar-besar di Stadion HBS. Ribuan penonton datang tanpa mengeluh di Jalan Tambaksari. Harga tiket masuk yang rendah. Yang merupakan bukti jelas bahwa kepentingan publik dalam keran sepakbola. Hadir beberapa otoritas tinggi Nippon, kepala polittie yang hari kedua melakukan kickoff. Juga banyak tentara Nipponsche, juga tampak Walikota Radjamin (Nasution). Seperti diketahui, seluruh penerimaan dari tiket untuk dibayarkan kepada pemerintah kota untuk disalurkan kepada keluarga yang terkena dampak perang. Itu menunjukan kebajikan olahraga dan amal disini juga berjalan seiring. Pada pertandingan pertama lebih layak dari tampilan kedua. Pertandingan berjalan adil sehingga semua pemain tidak ada yang dirugikan dan mendapat layak pujian. Itu olahraga tidak hanya konten yang baik, tapi juga sportivitas yang tinggi. Pertemuan pertama antara. Excelsior dan Tiong Hwa berakhir dengan skor 7-2. Excelsior akan di final. Pertandingan kedua adalah antara Persibaja dan HBS adalah menjadi sebuah kompetisi baik dalam kualitas antusias, 22 pemain bersemangat sampai menit terakhir, Terlihat selalu indah adil dan sporty. Babak pertama tanpa gol. Pada babak kedua HBS tak henti-hentinya mereka menyerbu ke gawang Persibaja, kiper Persibaja terlalu kuat. Akhirnya HBS menang dan akan melawan Excelsior di final. Wasit Risakotta dan Pangeran, cakap dibantu oleh hakim garis Carter dan Limahelu. Kami melihat ada seremoni. Di tribun telah dipasang tiang, kemudian Amboneesche orkestra alat musik tiup mengiringi Kimigayo, bendera Nippon dikibarkan naik sangat lambat dalam upacara. Sebelumnya kickoff pada pertandingan pertama dilakukan oleh Burgemesteer (Walikota) Radjamin (Nasution) dan pada pertandingan yang kedua dilakukan oleh Komisaris Polisi Nippon. Pada pertandingan besok sore antara Tiong Hwa dan Persibaja dan kemudian antar pemenang yakni Excelsior dan HBS. Untuk pemenang akan disedikan piala dari Soerabajasche Middenstands Vereeniging’.

Sejarah Persija Jakarta [11]: Suporter VIOS dari Depok Menuju Cikini; Sepakbola Indonesia Menuju Piala Dunia di Prancis (1938); Ada Apa dengan PSSI?

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Persija Jakarta dalam blog ini Klik Disin


Pada dasarnya bagian terpenting dalam dunia sepakbola adalah penonton. Ukuran kualitas pertandingan sepakbola dapat dilihat dari kehadiran penonton. Kualitas dari penonton dapat diukur dari partisipasinya dalam mendukung salah satu klub. Dukungan fanatic yang diberikan penonton terhadap klubnya disebut suporter. Para suporter ini selalu membicarakan dinamika klubnya dan selalu hadir ketika klubnya bertanding. Adakalanya suporter ini mendukungnya kemana klub mereka itu melakukan lawatan.

Keberadaan suporter dalam dunia sepakbola terdapat dimana-mana dari sejak doeloe hingga kini. Di masa lampau, supporter klub yang mendampingi klubnya ke luar kota terdeteksi pertama kali di Medan (1903) ketika Medan Sportclub bertandang ke Binjai untuk melawan Langkat Sportclub. Para supporter ini memadati dua gerbong belakang kereta api, dimana di gerbong depan para pemain dan ofisial. Penumpang umum menjadi tidak kebagian tempat karena sudah disorder beberapa hari sebelumnya. Suporter serupa ini juga terdeteksi di Bandung, ketika klub kesayangan mereka, Sidolig melakukan pertandingan melawan Sparta di Cimahi (1907). Dengan kereta api berangkat ke Cimahi, gerbong penuh sesak. Hanya itu yang terdeteksi (mudah-mudahan di tempat lain dapat segera terlacak).

Di Jakarta, juga terdapat suporter fanatik, bukan VIOS tetapi yang lebih fanatik adalah Oliveo. Meski VIOS dan Oliveo kerap bertanding ke Bandung, tetapi suporter tidak pernah dilaporkan bersedia mengikutinya. Mungkin karena jauh, atau sadar bahwa kapasitas kereta api terbatas, sebab kala itu belum ada alternatif transportasi selain kereta, yang dapat merugikan penumpang umum. Sebenarnya ada beberapa tempat yang terjangkau, seperti Buitenzorg yang sudah memiliki klub, tetapi klub-klub Batavia hampir tidak pernah menyambanginya dan lebih memilih ke Bandung, Semarang dan bahkan Surabaia. Yang terjadi adalah Tim Bogor yang kerap berkunjung ke Jakarta (sebagai Tim Perserikatan, tidak ada klub yang bisa mewakili).

Sebagai gantinya, di Depok terdapat suporter klub-klub Batavia. Penggemar atau suporter dari Depok terbagi dua: VIOS dan Oliveo. Jumlah suporter dari Depok tidak sebanyak di Bandung (ke Cimahi) dan Medan (ke Binjai) meski kedua kubu supporter Depok digabung. Para penonton dari Depok berangkat dari stasion Depok (lama). Soporter dari Buitenzorg (Bogor) sejauh yang diketahui tidak pernah dilaporkan, mungkin karena jaraknya sangat jauh. Boleh jadi ada batas tertentu dimana suporter bersedia mengikutinya sekalipun biaya transportasi dibebaskan oleh klubnya.Suporter Depok dalam hal ini menanggung biaya sendiri (Bandung dan Medan ada sebagian kontribusi klub).

Sejarah Persija Jakarta [10]: Radjamin Nasution ‘Bentrok’ Lawan Tim Sepakbola Belanda di Surabaya; Parada Harahap, The King of Java Press Memimpin Orang Indonesia Pertama ke Jepang (1933)

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Persija Jakarta dalam blog ini Klik Disin


Radjamin Nasution, seorang ‘gibol’ sudah menjadi tokoh penting di Surabaya. Tokoh penting di Batavia, yang juga ‘gibol’ adalah Parada Harahap. Salah satu ‘gibol’ yang menjadi tokoh penting adalah Abdullah Lubis di Medan. Poros Medan, Batavia dan Surabaya adalah poros sepakbola Indonesia pada masa itu. Di tiga ‘kota perjuangan’ untuk merebut kemerdekaan itu sudah terdapat tiga anak Padang Sidempuan yang memiliki sifat revolusioner yang masing-masing telah memiliki portofolio yang cukup baik.

Pada tahun 1932. Tiga tokoh mahasiswa yang digadang-gadang oleh Parada Harahap masih berada di kampus masing-masing: Soekarno di Bandung, Amir Sjarifoedin di Batavia dan M. Hatta di Belanda. Kebetulan ketiganya tidak terlalu suka sepakbola, kesukaan mereka bertiga lebih pada seni. Sedangkan tiga ‘gibol’ di tiga kota itu tetap bermain sepakbola. Abdullah Lubis, pemiliki koran Pewarta Deli  adalah anggota dewan kota (gementeeraad) Kota Medan, Radjamin Nasution, seorang dokter dan pembina sarikat buruh pelabuhan  juga menjadi anggota gementeeraad di Kota Surabaya. Keduanya adalah macan di dewan kota masing-masing. Parada Harahap sendiri adalah sekretaris PPPKI (ketuanya M. Husni Thamrin, anggota dewan pusat, Volksraad), seorang pemilik tujuh surat kabar di Batavia.

Radjamin Nasution dan SVB (De I.c, 12-05-1932
Di Surabaya, tengah berlangsung pertandingan sepakbola dalam libur paskah. Pertandingan ini bermuatan politik kerjasama yang diselenggarakan secara segitiga: NIVB (Nederlandsch-Indischen Voetbal Bond / Belanda), Tionghoa dan SVB (Soerabaiaschen Voetbal Bond / pribumi). De Indische courant, 12-05-1932 melaporkan bahwa pertandingan sempat bentrok antara tim Belanda dan tim pribumi karena kecurangan. Koran Sin Tit Po dan Pewarta mengomentari bahwa pertandingan berikutnya tidak perlu dilanjutkan karena tidak adil. Bahkan editor Sin Tit Po mendatangi tim Tionghoa meminta untuk tidak melangsungkan pertandingan antara Tionghoa vs SVB karena rawan kerusuhan. Para pemain yang tergabung dalam tim pribumi (SVB) antara lain Askaboel, Soebroto, Soewono, Ngion, Soemarto dan Radjamin (Nasution) dari dewan kota. Akibat adanya kerusuhan sebelumnya, program tim Tionghoa vs tim angkatan laut (yang terdiri dari) orang-orang Indonesia terpaksa dibatalkan.

Kapal ‘Panama Maru’ bersandar di Surabaya. Parada Harahap disambut oleh Radjamin Nasution. Parada Harahap cukup lama di Surabaya, seminggu lamanya, tetapi tidak diketahui apa yang dibicarakannya Parada Harahap dan Radjamin Nasution dan apa aktivitas kedua tokoh ini selama di Surabaya dengan tokoh-tokoh di Surabaya. Rombongan Parada Harahap dkk berangkat dari Tandjong Priok, Batavia dengan kapal ‘Nagoya Maru’ dan tiba di Kobe tanggal 4 Desember 1933. Pulang kembali ke tanah air, tiba di Tandjong Perak, Soerabaija hari Sabtu pagi, 13 Januari 1934.

Sejarah Persija Jakarta [9]: STOVIA Selenggarakan Turnamen Sepakbola Antar Perguruan Tinggi; Kongres Pemuda 1928; Parada Harahap Membimbing Soekarno, Hatta dan Amir Sjarifoedin

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Persija Jakarta dalam blog ini Klik Disin


STOVIA Voetbal Club sudah sangat lama tidak terdengar kabar beritanya. STOVIA VC terakhir bertanding setelah menyelesaikan kompetisi sepakbola di Jakarta pada paruh pertama tahun 1913. Baru pada tahun 1926, STOVIA muncul kembali di dalam lapangan sepakbola, tetapi tidak di dalam kompetisi yang ada di Batavia. Nama STOVIA VC tidak berada di kompetisi sepakbola ETI (Eropa/Belanda) juga tidak di kompetisi sepakbola pribumi. Perseteruan dua bond di Jakarta ini, mungkin STOVIA tidak mau melibatkan diri karena dua hal, Pertama, STOVIA kini mahasiswanya tidak sesolid dulu lagi, karena di STOVIA kini juga terdapat anak-anak Eropa/Belanda. Kedua, mahasiswa STOVIA asli pribumi sudah semakin sulit membagi waktu karena kesibukan dengan berbagai agenda kepemudaan dan politik praktis.

Pada tahun ini (1926), STOVIA genap berusia 75 tahun. Itu dihitung dari kelahirannya tahun 1851. Selama 75 tahun itu sudah banyak berubah dan jauh berubah. Pada awalnya perkuliahan hanya dua tahun, kemudian tiga tahun, bertambah lagi menjadi tujuh tahun, lantas menjadi sembilan tahun. Pada tahun 1902 yang dulu namanya Docter Djawa School menjadi STOVIA, kemudian berganti nama menjadi Geneskunde School. Sebelum bernama Docter Djawa School namanya adalah Kweekschool.

Sekedar mengingat kembali bahwa Docter Djawa School mahasiswanya hanya sekitar delapan hingga sepuluh orang. Siswa-siswa pertama yang diterima dari luar Jawa di Docter Djawa School adalah berasal dari afdeeling Mandheling en Ankola (kini menjadi afdeeling Padang Sidempuan). Siswa-siswa pertama datang pada tahun 1854. Anak-anak Padang Sidempuan diterima secara regular hingga tahun 1902. Ada yang sekelas dengan Dr. Wahidin dan ada yang sekelas dengan Dr. Tjipto. Pada era STOVIA anak-anak Padang Sidempuan terus berdatangan meski persyaratannya lebih sulit, misalnya harus lulusan MULO, AMS atau lainnya. Untuk menempuh MULO dan AMS anak-anak Padang Sidempuan tetap bersemangat meski itu harus dilakukan di Padang, Medan atau Batavia. Diantara alumni STOVIA yang melakukan serupa itu asal Padang Sidempuan yang terkenal adalah Dr. Radjamin Nasution, Dr. Abdul Rasjid Siregar, Dr. Djabangoen Harahap, Dr. Alinoedin Pohan. Pada tahun 1918, ketika Ida Loemongga diterima di STOVIA, pada saat naik ke tahun kedua persiapan justru direkomendasi oleh pimpinan STOVIA untuk langsung kuliah ke Leiden. Anak seorang dokter asal Padang Sidempuan (alumni Docter Djawa School 1902) pada umur 18 tahun berangkat studi kedokteran ke Belanda.Tidak pernah pulang-pulang hingga menyelesaikan PhD-nya di bidang kedokteran. Dr. Ida Loemongga br. Nasution, PhD adalah satu dari tujuh orang Indonesia pertama bergelar doktor, orang pertama dokter Indonesia bergelar.doktor dan doktor pertama perempuan Indonesia.  

Untuk merayakan ulang tahun ke-75 dari STOVIA diselenggarakan kompetisi sepakbola antara STOVIA, Rechts Hoogeschool (Sekolah Tinggi Hukum) dan Technische Hoogeschool (Sekolah Tinggi Teknik). Turnamen yang digelar di Jakarta ini disebut STOVIA-beker (Bataviaasch nieuwsblad, 18-09-1926). Tim sepakbola STOVIA yang sekarang sudah berwarna-warni, bukan lagi 100 persen pribumi, tetapi sudah ada mahasiswa Eropa/Belanda dan Tionghoa. Demikian juga dari  Rechts Hoogeschool yang dari Jakarta maupun Technische Hoogeschool dari Bandung. Beberapa pemain dari Tim STOVIA yang ikut turnamen ulang tahun STOVIA ini adalah mahasiswa-mahasiswa yang juga menjadi pemain dari klub yang berkompetisi di Bataviasch Voetbal Bond. Mahasiswa yang bermain di kompetisi sepakbola (bond) pribumi tampaknya tidak ada.

Kamis, 28 April 2016

Sejarah Persija Jakarta [8]: Bataksch Voetbal Club di Jakarta (1924); Parada Harahap Bersama M. Husni Tamrin Menyatukan Semua Organisasi di Jakarta

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Persija Jakarta dalam blog ini Klik Disin


Klub VIOS (Voorwaarts Is Ons Streven) adalah klub sepakbola yang terbilang paling kuat di Jakarta. Tim Jakarta (VIOS plus) pada kejuaraan antara kota di Semarang, 1914 adalah pemenang dan menjadi juara se-Jawa yang pertama. Pada tahun 1915 kejuaraan akan dilaksanakan di Batavia. Jelang kejuaraan itu, sepakbola Jakarta terus berkembang, kompetisi tiga divisi berjalan normal. Beberpa klub baru muncul, tetapi klub lama juga ada yang bubar. Persiapan pembentukan tim ke kejuaraan antara kota sudah dimulai. Kompetisi berikutnya dimulai lagi, tetap dengan tiga divisi: Divisi-1: VIOS, Oliveo, Hercules, BVC; Divisi-2: Hercules II, SVBB, BVC II, VIOS II; Divisi-3{ CRC, SVBB II, VIOS III, Oliveo III (Bataviaasch nieuwsblad, 29-10-1915). Tampak ada perubahanm pada Divisi-3 dimana club baru muncul (CRC). Pada akhir tahun ini, BVC merayakan ulang tahun ke-12, dimana klub ini didirikan pada 1903 (Bataviaasch nieuwsblad, 27-12-1915).

Pada tahun dimana Jakarta menjadi tuan rumah kejuaraan sepakbola antarkota di Jawa (1915), seorang pemuda berumur 15 tahun dari Padang Sidempuan merantau ke Deli. Namanya Parada Harahap, hanya tamat sekolah dasar. Dia melamar diperkebunan asing dan diangkat menjadi krani (asisten manajer). Setelah bekerja dua tahun, Parada Harahap menyadari ada yang tidak beres dengan para koeli. Parada Harahap mulai gerah dengan perilaku para planter yang melakukan penyiksaan terhadap koeli (penerapan poenalie sanctie). Sambil tetap bekerja, Parada Harahap mulai belajar bahasa Belanda (dan membaca koran Sumatra Post) dan belajar bagaimana menulis.(dari surat kabar Pewarta Deli). Pada tahun 1917, Parada Harahap mulai menulis berita-berita kekejaman dan ketidakadilan dari perkebunan dan mengirimkannya ke surat kabar Benih Mardika di Medan. Akhirnya, tulisan-tulisan yang dikirim Parada Harahap ditulis ulang oleh editor dan sejumlah artikel dalam beberapa edisi. Berita itu dianggap biasa saja di Medan, karena sudah lama didengar sebagai kabar burung bahwa kejadian yang mirip banyak terjadi di berbagai kebun (onderneming). Akan tetapi, surat kabar Soera Djawa yang terbit di Jawa meresponnya dengan cepat dan meramu kembali artikel-artikel pasokan dari Parada Harahap tersebut. Lalu heboh di Jawa. Penyelidikan di Medan mengetahui bahwa pemasok berita adalah Parada Harahap, lalu Parada Harahp dipecat. Pada tahun 1918 Parada Harahap berangkat ke Medan dan meminta bekerja sebagai wartawan tetapi malahan yang ditawarkan manajemen Benih Mardika adalah untuk posisi editor. Parada Harahap mengambil peluang itu. Namun baru sembilan bulan bekerja sebagai editor, korannya dibreidel. Parada Harahap menganggur. Pada tahun 1919 Parada Harahap pulang kampong di Padang Sidempuan dan mendirikan surat kabar dengan nama yang vulgar: Sinar Merdeka (koran yang menggunakan kata ‘merdeka’ hanya ada di Padang Sidempuan; di Medan masih disamarkan dengan ‘mardika). Selama dua tahun di kota kelahirannya itu, belasan kali dimejahijaukan karena delik pers dan beberapa kali masuk bui (penjara dimana kelak Adam Malik juga menjadi penghuninya).  

Pada kompetisi tahun 1916 WJVB melakukan rapat umum dan pemilihan pengurus baru. Satu keputusan dalam rapat itu klub militer Sparta ikut lagi kompetisi dan ditempatkan di Divisi-2. Klub-klub yang berkompetisi adalah sebagai berikut: Divisi-1: Oliveio, Hercules, VIOS dan BVC; Divisi-2: VIOS II, Oliveo II, Hercules II, Sparta, SVBB, CRC; Divisi-3: CRC II, Oliveo III, VIOS III, Hercules III dan SVBB II (Bataviaasch nieuwsblad, 08-04-1916). Pada kompetisi 1917, tidak ada yang mengalami perubahan, tetap tiga divisi. Yang terjadi adalah suatu demonstrasi yang dilakukan oleh kalangan pers terhadap sepakbola. Para wartawan tidak hadir di lapangan karena di dalam kompetisi terdapat ketidak beresan. Media sudah menulis kritik tetapi tidak ditanggapi, ketidakhadiran pers di lapangan adalah suatu demonstrasi (Bataviaasch nieuwsblad, 12-03-1917). Tim yang dibentuk WJVB ke Semarang sudah terbentuk (Bataviaasch nieuwsblad, 17-04-1917). Dilakukan rapat umum biasa WJVB. Satu kuputusan yang penting adalah untuk membentuk tim independen tetapi masih dibawah naungan dewan yang salah satu tugasnya adalah untuk merevisi berbagai peraturan yang ada (Bataviaasch nieuwsblad, 21-05-1917).
Lapangan Aloon-Aloon disulap jadi stadion di Bandung, 1918
Kejuaraan antar kota se-Jawa berikutnya diselenggarakan di Surabaya (1916) lalu di Semarang lagi (1917). Pada tahun 1918 tempat penyelenggaraan di Bandung. Pusat pertandingan di Bandung ditempatkan di lapangan Aloon-Aloon. Dalam pagelaran sepakbola tertinggi di Jawa ini, panitia menyulap lapangan alun-alun bagaikan stadion: lapangan dipagar dengan bilik dan tiket masuk  berbayar. Meski begitu penonton tetap ramai. Inilah kali pertama perhelatan kejuaraan antar kota dikutip harga tiket masuk. Bobotoh seakan dibatasi untuk menonton dengan penerapan komersialisasi sepakbola.
Kompetisi akhir tahun 1917 dan awal tahun 1918 juga tidak terjadi perubahan, kecuali masuknya HVV dan VVVA di Divisi-3 dan Juliana dan UDI di Divisi-2 serta SVVB sudah naik ke Divisi-1. Hal yang perlu dicatat bahwa editorial Bataviaasch nieuwsblad mengomentari keberadaan divisi-3 yang tidak efektif dimana beberapa pertandingan tidak berjalan normal dari Sembilan serikat yang berada di bawah WJVB. Akibatnya pertandingan dua liga dalam setahun (masing-masing lima bulan) tidak selesai pada waktunya. Juga mengomentari kurangnya lahan yang tersedia untuk lapangan sepakbola, taman Deca yang masih baru belum memungkinkan (Bataviaasch nieuwsblad, 10-06-1918). Memang sulit mengelola kompetisi dengan situasi dan kondisi yang banyak kendalanya.