Rabu, 21 Oktober 2020

Sejarah Kalimantan (31): Sejarah Mahakam Ulu di Hulu Sungai Mahakam, Kalimantan Timur; Long Wai, Long Iram, Long Bagun

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kalimantan Timur di blog ini Klik Disini

Di provinsi Kaliantan Barat ada wilayah yang disebut (kabupaten) Kapuas Hulu. Di provinsi Kalimantan Timur juga ada wilayah yang disebut (kabupaten) Mahakam [H]ulu. Dua kabupaten ini bersinggungan di pedalaman Borneo yang menjadi batas antara provinsi Kalimantan Timur dengan provinsi Kalimantan Barat. Dua kabupaten beda provinsi ini namanya merujuk pada nama sungai Kapuas (bermuara di Pontioanak) dan nama sungai Mahakam (beruara di Samarinda).

Kabupatren Kapuas Hulu di provinsi Kalimantan Barat sudah lama dibentuk (berdasarkan Undang-undang Darurat Nomor 3 Tahun 1953 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan Tanggal 13 Januari 1953 dengan ibu kota di Putussibau. Sedangkan kabupaten MahakamUlu di provinsi Kalimantan Timur baru terbentuk pada tahun 2012 (pemerkaran dari kabupaten Kutai Barat).

Lantas bagimana sejarah awal kabupaten Mahakam Ulu? Seperti sejarah kabupaten Kapuas Hulu, sejarah Mahakam Ulu sudah ada sejak lama. Jika tempo doeloe nama kabupaten Kapuas Hulu adalah Boven Kapoeas, maka nama kabupaten Mahakam Ulu adalah Boven Mahakam. Lalu bagaimana sejarahnya berlangsung. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Kalimantan (30): Putussibau, Sungai Kalimati di Kalimantan Barat; Kota Baru di Hulu Sungai Kapuas (Muara Sungai Sibau)

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kalimantan Barat di blog ini Klik Disini 

Putussibau, bukan Parit Putus di Padang, tetapi Kalimati di Jawa. Putussibau di hulu sungai Kapuas, pedalaman pulau Borneo adalah Kalimati sungai Kapuas di muara sungai Sibau. Bingung, bukan? Bingung adalah awal keingintahuan. Metode keingintahuan mengapa disebut Putussiabau adalah metode sejarah berdasarkan fakta dan data yang dianalisis dengan baik dan diinterpretasi dengan benar. Itulah syarat perlu untuk mengetahui awal sejarah Kota Putussibau.

Sungai Kapuas sudah dikenal sejak jaman kuno, yang disebut sungau Laue atau Lauwe (hingga era VOC). Pada era Pemerintah Hindia Belanda nama sungai yang kemudian disebut sungai Lawai atau Melawi diubah dengan nama sungai Kapoeas (nama sungai Melawi direduksi hanya sampai pada muara sungai di Sintang). Orang Eropa pertama menyusuri sungai Kapoeas baru dilakukan pada era Pemerintah Hindia Belanda. Ekspedisi pertama yang kemudian dikompilasi dan dilaporkan DWC Baron van Lynden pada tahun 1847. Ekspedisi kedua dilakukan komandan kapal Letnan J Groll pada bulan Junij dan Julij 1851. Ekspedisi ketiga yang disarikan oleh Algemeene Secretaris, Gouvernements-Commissaris voor de Wester-afdeeling van Borneo, A. Prins. Ekspedisi Prins yang menyusuri sungai Kapoeas hinga ke hulu terjauh dimulai dari Pontianak pada tanggal 2 Maret dan tiba kembali di Pontionak pada tanggal 6 April 1855. Pada ekspedisi ketiga inilah orang Eropa (pertama) mencapai sungai Sibau. Laporan A Prins ini dipublikasikan pada Nederlandsche staatscourant, 03-07-1855.

Bagaimana sejarah Putussibau di kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat secara lengkap? Yang jelas kota Putussibau adalah kota yang dibangun baru di sisi sungai Kapoeas di dekat sungai Sibau. Pada jaman kuno sungai Kapoeas membentuk ‘kalimati’ di dekat muara sungai Sibau. Pada hilir sungai kalimati didirikan kota baru yang menadopsi nama yang diberikan penduduk yakni Poetoes Sibaoe. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Permulaan nama Poetoessibau dan permulaan nama Putussibau menjadi kota. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Selasa, 20 Oktober 2020

Sejarah Kalimantan (29): Sejarah Muara Teweh, Ibu Kota Barito Utara di Kalimantan Tengah; HG Dahmen di Koetai 1858-1864

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kalimantan Tengah di blog ini Klik Disini

Sejarah Muara Teweh sejatinya tidak bermula dari Banjarmasin tetapi dari Samarinda. Muara Teweh memang berada di sungai Barito (yang bermuara ke Banjarmasin), namun jaraknya yang jauh di hulu sungai Barito di pedalaman Borneo, hanya pedagang-pedagang lokal yang berhasil mengakses Muara Teweh. Kisah Muara Teweh mulai terbuka pada tahun 1861 ketika terjadi perang antara Pemerintah Hindia Belanda dengan Orang Bandjar yang dipimpin oleh Pangeran Antasari. Untuk menghadang pengikut Antasari yang terdesak ke utara, Asisten Residen Koetai GH Dahmen melakukan ekspedisi melalui sungai Mahakam (dari Samarinda) ke Muara Teweh.

Pemerintah Hindia Belanda telah membuka cabang pemerintahan di Goote Daijak dan di Amoentai. Sementara di sungai Mahakam cabang pemerintahan baru ada di Koetai (Samarinda dan Tenggarong). Dalam situasi dan kondisi Perang Bandjar ini Asisten Residen Koetai GH Dahmen berangkat ke Muara Teweh. Boleh dikatakan ekspedisi ke Muara Teweh ini sebagai awal isolasi Muara Teweh terbuka. Pada masa ini akses ke Muara Teweh dari Banjarmasin (Kalimantan Selatan) masih melalui sungai Barito dan jalan akses darat dari Samarinda (Kalimantan Timur). Namun kini Muara Teweh menjadi bagian wilayah provinsi Kalimanten Tengah.

Lantas begaimana perkembangan lebih lanjut Muara Teweh setelah era GH Dahmen? Yang jelas pasca Perang Banjar wilayah pedalaman ini mulai terbuka dari isolasi (yang kemudian dibentuk cabang pemerintahan). Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.