Rabu, 11 Agustus 2021

Sejarah Makassar (22): Kerajaan Mori di Sulawesi Tengah; Daerah Aliran Sungai Laa, Teluk Mori hingga Danau Poso

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Makassar dalam blog ini Klik Disini 

Kerajaan Mori jelas tidak sebesar kerajaan Gowa. Kerajaan Mori hanyalah kerajaan kecil di daerah aliran sungai Laa, sungai yang berhulu di sekitar danau Poso dan bermuara di teluk Mori (pantai timur pulau Sulawesi). Danau Poso sendiri mengalir melalui sungai Poso ke utara di teluk Tomini.

Kerajaan Mori berada di Sulawesi Tengah. Pada era Hindia Belanda wilayah Kerajaan Mori masuk ke wilayah Afdeeling Poso dan Donggala, Residentie Ternate. Pada masa kini lebih dikenal sebagai wilayah suku dan bahasa Mori di wilayah kabupaten Morowali Utara, provinsi Sulawesi Tengah. Beberapa nama tempat yang termasuk dalam wilayah suku Mori adalah Kolonodale, Beteleme, Tiu, Lembobelala, Lembobaru, Tingkea'o, Wawopada, Tomata, Taliwan, Ensa, dan Tompira. Kota Kolonodale kini dijadikan sebagai ibu kota kabupaten Morowali Utara..

Lantas bagaimana sejarah Kerajaan Mori? Nah, itu yang ingin diketahui. Pada masa ini lebih dikenal sebagai suku dan bahasa Mori. Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe. 

Selasa, 10 Agustus 2021

Sejarah Makassar (21): Nama-Nama Kerajaan Tempo Dulu di Sulawesi;Mengapa Kerajaan Gowa Sendiri Jadi Kerajaan Besar

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Makassar dalam blog ini Klik Disini 

Kerajaan Gowa adalah kerajaan besar. Kerajaan yang sejaman dengan kerajaan besar lainnya seperti Kerajaan Atjeh, Kerajaan Banten dan Kerajaan Ternate. Ini seakan-akan di masing-masing wilayah terdapat kerajaan besar. Seperti kerajaan besar lainnya, Kerajaan Gowa tumbuh berkembang karena posisi strategis dalam navigasi pelayaran perdagangan. Dalam perkembangannya, kerajaan besar ini melakukan invasi dan aneksasi pada kerajaan-kerajaan yang lebih kecil.

Kerajaan Banten dapat dikatakan sebagai suksesi Kerajaan Demak di Jawa. Demikian juga Kerajaan Aceh di Sumatra adalah suksesi Kerajaan Aru di muara sungai Barumun di selat Malaka. Kerajaan Gowa dapat dikatakan sebagai kerajaan-kerajaan kecil yang bekerjasama yang tumbuh diantara Kerajaan Ternate dan Kerajaan Demak. Posisi strategis inilah yang menyebabkan Kerajaan Gowa menjadi kerajaan terbesar di pulau Sulawesi yang pada waktunya head to head dengan Kerajaan Ternate di kepulauan Maluku. Kerajaan Aceh memperluas pengaruh di Sumatra dan selat Malak, Kerajaan Banten di Lampung dan Borneo, Kerajaan Ternate di Semenanjung Sulawesi dan Kerajaan Tidore di pantai barat Papua. Kerajaan Gowa di bagia selatan pulau Sulawesi dan kepulauaan nusa tenggara.

Lantas bagaimana sejarah Kerajaan Gowa? Seperti halnya Kerajaan Aceh dengan Kerajaan Aru, pada dasarnya membicarakan Kerajaan Gowa tidak terlepas dengan membicarakan Kerajaan Luwu dan kerajaan-kerajaan lainnya. Lalu bagaimana Kerajaan Gowa muncul sendiri sebagai kerajaan besar? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Senin, 09 Agustus 2021

Sejarah Makassar (20): La Galigo, Aksara Lontara dan Luwu; Mitologi Penciptaan dan Asal Usul Penduduk di Sulawesi Selatan

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Makassar dalam blog ini Klik Disini

Mitologi adakalanya dipertentangkan dengan sejarah. Sebab menurut para ahli tempo doeloe, sejarah adalah narasi fakta dan data. Suatu fakta yang benar-benar ada (terjadi) dan dapat dibuktikan berupa data (fisik atau teks). Unsur-unsur ini kurang dimiliki mitologi yang awalnya diceritakan secara turun temurun dengan lisan. Seiring dengan keberadaan aksara, mitologi ini mulai ditulis yang dalam hal ini La Galigo yang ditulis dalam aksara Lontara yang mengisahkan tentang penciptaan.

La Galigo sering disebut kitab kuno berbentuk puisi yang berisi mitos penciptaan dari peradaban Bugis, nahkan bagi sebagian masyarakat Bugis yang masih menganut agama tradisi Tolotang yang adakalnya La Galigo dianggap sebagai kitab suci. Naskah yang awalnya berupa tuturan lisan yang dilakukan penulisan pada paruh pertama abad 19 dengan aksara Lontara. Isinya antara lain bercerita tentang mitos penciptaan dunia dan penciptaan manusia atau asal-usul manusia pertama yang mendiami dunia. La Galigo sendiri menurut para ahli berasal dari abad ke-14. Dalam hal ini La Galigo bukanlah teks sejarah karena aspek mitologis dalam narasi terasa sangat kuat, tetapi teks ini diakui oleh banyak ilmuwan memiliki pengaruh besar pada bagaimana sejarawan melihat masa lalu peradaban Bugis. Tokoh utama La Galigo ialah Sawérigading, cucu Batara Guru. Cerita dimulai dari dunia yang kosong dan turunnya Batara Guru ke bumi. Alkisah, manusia pertama ini turun di daerah Luwu di utara Teluk Bone. Batara Guru, sebagai raja digantikan oleh anaknya, La Tiuleng, dan bergelar Batara Lattu'. La Galigo aksara Lontara ini diperkirakan terdiri dari 6.000 halaman folio atau 300.000 baris puisi.

Lantas bagaimana sejarah La Galigo dan aksara Lontara? Seperti disebut di atas La Galigo dianggap sebagai mitologi, tetapi La Galigo yang ditulis dalam aksara Lontara adalah sejarah (yang dalam hal ini sejarah penulisan La Galigo itu sendiri—bukan isinya). Bagaimana itu terjadi? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Minggu, 08 Agustus 2021

Sejarah Makassar (19): Morowali dan Danau Towuti di Sulawesi; Loeboe Batoe (Kajoe Aroe) di Boengkoe Tempo Doeloe

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Makassar dalam blog ini Klik Disini 

Mengapa Morowali merujuk ke Poso dan Makassar merujuk ke Luwu? Sebagaimana diketahui pada masa kini kabupaten Morowali berada di provinsi Sulawesi Tengah dan kabupaten Luwu (Timur) berada di provinsi Sulawesi Selatan. Dua wilayah ini berada di sisi danau Towuti. Kabupaten Luwu (Timur) di sisi barat danau dan kabupaten Morowali di sisi timur. Dalam sejarahnya pulau Sulawesi bagian tengah terdiri dari empat wilayah sesuai arah mata angin: barat (Toraja), utara (Poso), selatan (Luwu) dan timur (Morowali).

Kabupaten Morowali adalah sebuah kabupaten baru yang dimerkarkan dari kabupaten Poso di provinsi Sulawesi Tengah. Sebelumnya juga kabupaten Poso telah dimekarkan dengan membentuk kabupaten Tojo Una-Una (dengan ibu kota di Ampana). Ibu kota kabupaten Morowali sendiri di Kota Bungku. Bahasa yang digunakan di kabupaten Morowali umumnya adalah bahasa Mori Bungku. Kabupaten Morowali sendiri telah dimekarkan dengan membentuk kabupaten Morowali Utara (ibu kota di Kolonodale). Sementara itu kabupaten Luwu Timur merupakan pemekaran dari kabupaten Luwu. Kabupaten Luwu juga telah dimekarkan dengan membentuk kabupaten Luwu Utara dan Kota Palopo.

Lantas bagaimana sejarah Morowali? Seperti disebutkan di atas kabupaten Morowali (Utara) dimekarkan dari kabupaten Poso. Lalu bagaimana hubungan Morowali dengan Poso, Luwuk dan Toraja di masa lampau? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sabtu, 07 Agustus 2021

Sejarah Makassar (18): Pulau Muna Pulau Buton, Orang Muna Orang Buton; Sejarah Toraja, Tomuna, Minahasa dan Manggarai

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Makassar dalam blog ini Klik Disini 

Berdasarkan bukti arkeologis, pulau Muna termasuk wilayah yang terbilang awal dihuni oleh manusia. Mereka inilah yang beriteraksi dengan penduduk pendatang yang kemudian menjadi awal terbentuknya penduduk Muna di pulau Muna yang menjadi cikal bakal penduduk Muna yang sekarang. Sejarah terbentuknya penduduk Muna tersebut diduga sejaman dengan Toraja, Minahasa dan Manggarai.

Orang Muna ada di pulau Buton dan orang Buton ada di pulau Muna. Pulau Muna dan pulau Buton adalah dua pulau besar yang terpisah dari daratan (pulau) Sulawesi. Pada masa ini di pulau terdiri dari kabupaten Muna dengan ibu kota di Raha, kabiupaten Muna Barat (ibu kota di Sawerigadi) dan kabupaten Buton Tengah (ibu kota di Labungkari). Sementara di pulau Buton terdiri dari kabupaten Buton ibu kota di Pasar Wajo, kabupaten Buton Selatan (ibu kota di Batauga), kabupaten Buton Utara (ibu kota di Buranga), dan sebagian kabupaten Muna. Diantara dua pulau ini terdapat Kota Bau-Bau (di pulau Buton).

Lantas bagaimana sejarah pulau Muna dan pulau Buton? Pertanyaan ini akan terkait dengan orang Muna dan orang Buton. Seperti disebut di atas, pulau Muna dan pulau Buton adalah dua pulau besar yang terpisah dari daratan (pulau) Sulawesi. Lalu apa keutamaan pulau Muna dan pulau Buton di masa lampau? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Jumat, 06 Agustus 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (102): Perbatasan Indonesia Pantai Selatan Jawa, Pulau Kalapa dan Pulau Natal; Mengapa Milik Australia?

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog Klik Disini 

Di pulau Jawa sesungguhnya juga terdapat perbatasan Indonesia. Dimana? Banyak yang tidak menyadari bahwa ada perbatasan antara wilayah pantai selatan Jawa dengan pulau Natal dan pulau Kalapa (yang masuk wilayah yurisdiksi Australia). Lantas mengapa itu terjadi? Nah. Itu dia! Dua pulau ini sesungguhnya sangat penting dalam sejarah navigasi pelayaran awal Belanda menuju Hindia Timur. Lalu mengapa akhirnya jatuh ke tangan Australian? Tentu saja ada riwayatnya.

Secara geografis pulau Kalapa maupun pulau Natal sungguh sangat jauh dari daratan (garis pantai) Australia, jika dibandingkan dengan garis pantai selatan (pulau) Jawa. Kasus dua pulau ini sebenarnya mirip dengan kasus pulau Miangas maupun kepulauan Natuna. Pulau Miangas pernah diklaim Spanyol dan Amerika Serikat tetapi bukti kuat memihak Indonesia (baca: Hindia Belanda). Penduduk Miangas diklaim Raja Sangihe karena penduduknya memang berbahasa Sangir Talaud. Demikian juga kepulauan Natuna yang sempat diincar Inggris, Radja Bintan mengklaim karena memang penduduknya berbahasa Melayu di Riau. Bagaimana dengan pulau Natal dan pulau Kalapa? Ini mirip dengan pulau Rondo, namun permasalahannya berbeda.

Lantas bagaimana sejarah perbatasan Indonesia di pantai selatan Jawa? Seperti disebut di atas, kepulauan Kalapa dan pulau Natal sejak awal adalah tempat persinggahan pelaut-pelaut Belanda sejak awal. Pulau ini juga menjadi tempat persinggahan nelayan-nelayan Indonesia ssejak zaman kuno. Lalu mengapa akhirnya jatuh ke tangan Australia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.