Rabu, 27 September 2017

Sejarah Kota Padang (41): Egon Hakim Menyelamatkan Soekarno dari Pihak Belanda di Padang (1942); Parada Harahap dan Mohammad Hatta ke Jepang 1933

Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disini


Pada permulaan pendudukan militer Jepang di Indonesia, Soekarno berada di Bengkulu sebagai tahanan politik yang diasingkan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Soekarno berada di Bengkulu sejak 1938 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 28-03-1941), tepatnya bulan Mei 1938 (lihat De Indische courant, 31-03-1941). Pada bulan Februari 1942, setelah Palembang diduduki militer Jepang, Pemerintah Hindia Belanda di pantai barat Sumatra (Sumatra’s Westkust) seperti di Sibolga dan Bengkulu bergerak ke Kota Padang. Soekarno sebagai tahanan politik terpenting, Soekarno dan keluarga turut dievakuasi dan ikut ke Kota Padang.

Rumah kediaman Soekarno (diasingkan) di Bengkulu (1937)
Tanggal 8 Desember, Riau dibom oleh militer Jepang (De Indische Courant, 08-01-1942). Berita ini dikirim oleh putri Radjamin dari Tandjong Pinang yang diterima ayahnya di Soerabaja. Dr. Radjamin Nasution adalah anggota senior (wethouder) dewan kota (gemeenteraad) Soerabaja. Lalu, militer Jepang dengan cepat menduduki sejumlah kota yang dimulai Tarakan (11 Januari 1942) dan kemudian beberapa kota di Sumatra seperti Palembang (16 Februari 1942). Tanggal 3 Februari 1942 militer Jepang benar-benar melancarkan serangan di Kota Surabaya. Belanda menyerah tanpa syarat pada Jepang tepatnya pada tanggal 8 Maret 1942 di Kalijati-Subang setelah sebelumnya militer Jepang melakukan pendaratan di timur Batavia. Sumatra Timur kemudian diduduki lalu Sumatra Barat yang berkedudukan di Fort de Kock (17 Maret 1942). Pemerintahan militer Jepang di Sumatra yang sebelumnya berpusat di Singapura kemudian dipindahkan tanggal 1 Mei 1943 ke Fort de Kock.

Di Kota Padang dalam situasi tidak menentu (akibat serangan militer Jepang), Pemerintah Hindia Belanda mulai secara bertahap dievakuasi dengan kapal ke Australia. Situasi yang semakin membuat panik, orang-orang Belanda tidak peduli lagi dengan siapa kecuali masing-masing ingin menyelamatkan dirinya. Soekarno di Kota Padang dengan sendirinya terlepas dari ikatan politik dengan Pemerintah Hindia Belanda (dibiarkan mengurus dirinya dan keluarganya sendiri). Saat situasi chaos inilah, Soekarno dan keluarga tinggal bersama di rumah Egon Hakim. Kelak orang Belanda sangat=sangat menyesalinya karena di Bengkoeloe ada kans untuk membunuh Soekarno (De Telegraaf, 21-03-1966). Dan, sebagaimana akan dideskripsikan secara panjang lebar di bawah ini, lolosnya Soekarno di Padang menjadi faktor terpenting berubahnya jalan sejarah Belanda di Indonesia (setelah 350 tahun).

Egon Hakim adalah anak Dr, Abdul Hakim (Nasution), mantan Wakil Wali Kota (Loco Burgemeester) Padang (1931-1938) dan anggota senior (Wethouder) dewan kota (Gemeenteraad) Padang (1938-1942). Soekarno dan Egon Hakim sudah lama saling kenal. Egon Hakim juga adalah menantu MH Thamrin, mantan Wakil Wali Kota (Loco Burgemeester) Batavia. Egon Hakim menempuh pendidikan sekolah menengah (SMA) di Belanda (De Gooi- en Eemlander: nieuws- en advertentieblad, 05-07-1924). Egon Onggara Hakim menyusul Amir Sjarifoeddin. Egon Hakim melanjutkan ke Universiteit Leiden di bidang hukum dan mendapat gelar Meester (MR) tahun 1933. Egon Hakim pulang ke tanah air dan lalu kemudian diangkat sebagai pengacara (advocaat en procureur) di Kantor Raad van Justitie di Kota Padang (De Indische courant, 31-05-1935). Pada jelang berakhirnya era kolonial, Dr. Abdul Hakim dan Mr. Egon Hakim (ayah dan anak) adalah dua tokoh paling berpengaruh di Kota Padang. Dr, Abdul Hakim sebagai anggota senior (Wethouder) dewan kota (gemeenteraad) dan Egon Hakim sebagai advokat. Ketika Ir. Soekarno dan keluarga dari Bengkulu di Padang (saat situasi chaos) tinggal dengan keluarga advokat (Mr. Egon Hakim). Soekarno dan keluarga hanya aman dan nyaman bersama keluarga Egon Hakim (selain Soekarno dan Egon Hakim sudah sejak lama saling kenal, posisi Egon Hakim di Padang sangat kuat, apalagi ayahnya adalah wethouder dan loco-burgemeester).

Soekarno: Hatta dan Parada Harahap Sejak Era Belanda Sudah Menjalin Kerjasama dengan Jepang

De waarheid, 25-09-1945
Setelah Kota Padang berhasil diduduki militer Jepang, Soekarno mulai memainkan peran dan masuk dalam lingkaran pemerintah militer Jepang. Lalu pada bulan Maret 1942 pemerintah militer Jepang di Kota Padang membawa Soekarno kepada pemimpin militer tertinggi Jepang di Sumatra yang berkedudukan di Fort de Koek (lihat De waarheid, 25-09-1945). Dari Fort de Kock inilah lalu kemudian kerjasama strategis pimpinan militer Jepang dengan pimpinan politik Indonesia mulai dirancang.

Pada masa transisi ini (era Belanda ke pendudukan Jepang), situasi dalam perang, transportasi antar kota dan antar pulau terhenti. Berbagai alat transportasi mulai diambilalih militer Jepang. Demikian juga pusat-pusat komunikasi. Oleh karenanya komunikasi antar para pemimpin Indonesia dibatasi (dikendalikan oleh militer Jepang). Parada Harahap dan Mohammad Hatta di Batavia. Untuk sekadar menunjukkan daftar pendek: Abdul Hakim dan Hazairin di Tapanoeli, Abdullah Lubis dan Adinegoro di Medan, Radjamin di Soerabaja dan Soekarno di Padang (dari Bengkulu dan kemudian ke Fort de Kock).  

Keberadaan Soekarno di Padang (lalu ke Fort de Kock) diduga kuat sudah diketahui oleh Parada Harahap dan Mohammad Hatta. Hal ini boleh jadi karena Parada Harahap dan M. Hatta sudah sejak era Belanda telah menjalin kerjasama dengan Jepang. Pada bulan November 1933 Parada Harahap memimpin rombongan tujuh orang Indonesia pertama ke Jepang. Di dalam rombongan ini termasuk M. Hatta yang baru lulus sarjana di Belanda. Satu lagi tokoh penting dalam rombongan tersebut adalah Abdullah Lubis, pemimpin surat kabar Pewarta Deli di Medan.

Parada Harahap sudah sejak lama kenal dengan Abdullah Lubis, Mohammad Hatta, Dr. Abdul Hakim dan Adinegoro. Parada Harahap memulai karir sebagai editor surat kabat Benih Mardeka di Medan pada tahun 1918 yang mana salah satu pendirinya Abdullah Lubis. Ketika Benih Merdeka dibreidel, Parada Harahap pulang kampung dan mendirikan surat kabar Sinar Merdeka di Padang Sidempoean tahun 1919 dan Abdul Lubis bergabung dengan Pewarta Deli di Medan. Pada saat Kongres Sumatranen Bond di Padang tahun 1919 Parada Harahap mewakili Tapanoeli dan Mohammad Hatta termasuk tokoh pelajar terkemuka saat itu.  Pembina Kongres adalah anggota dewan kota (gemeenteraad) Padang, Dr. Abdul Hakim (ayah Egon Hakim). Setelah hijrah ke Batavia, Parada Harahap berkolaborasi dengan Dr. Abdul Rivai mendirikan surat kabar Bintang Hindia (1923) dan kemudian Parada Harahap mendirikan lagi surat kabar Bintang Timoer (1926). Pada saat Djamaloedin pulang studi jurnalistik di Eropa, Parada Harahap merekrut Djamaloedin untuk menggantikannya sebagai editor Bintang Timoer (1929). Hal ini karena kesibukan Parada Harahap sebagai sekretaris supra organisasi kebangsaan PPPKI (Permoefakatan Perhimponena-Perhimponenan Kebangsaan Indonesia) yang didirikan tahun 1927 yang mana ketuanya didaulat MH Thamrin (Parada Harahap adalah sekretaris Sumatranen Bond dan MH Thamrin ketua Kaoem Betawi)). Namun belum setahun, Djamaloedin alias Adinegoro di Bintang Timoer datang Abdullah Lubis ke Batavia meminta Parada Harahap agar Adinegoro menjadi editor Pewarta Deli. Sejak 1930 Adinegoro menjadi editor Pewarta Deli. Sebagai sekretaris PPPKI yang bermarkas di Gang Kenari, Soekarno dari Bandoeng kerap bertandang menemui Parada Harahap di kantor tersebut. Hubungan Parada Harahap dan Soekarno sudah lama ada, karena Soekarno kerap pula mengirim tulisan ke surat kabar Bintang Timoer. Di dalam kantor PPPKI ini hanya ada tiga foto yang dipampang Parada Harahap yakni Soeltan Agoeng, Soekarno dan Mohammad Hatta. Parada Harahap adalah orang pertama yang menggadang-gadang Soekarno dan Hatta (Parada Harahap juga adalah mentor politik praktis Soekarno dan Hatta).

Soekarno berada di Fort de Kock selama empat bulan (lihat De waarheid, 25-09-1945). Mengapa begitu lama karena situasi dan kondisi belum kondusif untuk mengimplementasikan kerjasama Jepang dan Indonesia. Di satu pihak keberadaan Belanda belum steril dan di pihak lain militer Jepang masih melakukan konsolidasi di seluruh Indonesia. Pada fase inilah skenario kerjasama dimantapkan antara militer Jepang dengan para pemimpin Indonesia, antara lain yang boleh jadi paling utama: Soekarno di Padang dan Fort de Kock, Abdullah Lubis dan Adinegoro di Medan, Abdul Hakim Harahap dan Hazairin di Tapanoeli, Parada Harahap dan Mohammad Hatta di Batavia serta Gele Haroen dan Abdul Abbas di Tandjong Karang (Lampong). Lalu kemudian, pada bulan Julu 1942 Soekarno berangkat ke Batavia (lihat De waarheid, 25-09-1945) dan tentu saja bergabung dengan kawan lama yang sudah lama menunggu yang satu visi dan misi sebagai pejuang revolusioner (non koperatif terhadap Belanda), yakni: Parada Harahap dan Mohammad Hatta.

De Indische courant, 29-12-1933
Dalam fase konsolidasi para pemimpin Indonesia ini dalam rangka kerjasama dengan Jepang peran Parada Harahap tentu saja sagat strategis dan menonjol. Parada Harahap adalah pemimpin rombongan pertama Indonesia ke Jepang tahun 1933/1934. Parada Harahap diduga kuat adalah simpul Jepang di Indonesia pada era Belanda (sejak kepulangan Parada Harahap, Abdullah Lubis dan Mohammad Hatta dari Jepang). Jepang sejatinya berutang kepada Parada Harahap. Pada tahun 1918 di Medan, Parada Harahap membongkar kasus prostitusi kelas atas di hotel-hotel Belanda di Medan yang umumya wanita-wanita Jepang yang didatangkan dan dikendalikan mucikari di Singapoera. Konsul Jepang di Medan saat itu memberi apresiasi kepada Parada Harahap sebagai jurnalis pemberani. Boleh jadi nama Parada Harahap sejak 1918 di dalam top list diplomatik Jepang di Hindia Belanda berada pada urutan pertama (yang kemudian menjadi alasan tertentu mengapa Parada Harahap yang dijadikan sebagai pemimpin rombongan Indonesia ke Jepang). Tidak hanya itu, dalam kasus-kasus delik pers Parada Harahap di pengadilan Batavia beberapa kali terdeteksi konsulat Jepang memainkan peran untuk meringankan. Puncaknya: pada saat rombongan Indonesia tiba di Jepang, dalam penyambutan Parada Harahap diposisikan setara dengan kepala negara. Media Jepang memberi julukan kepada Parada Harahap sebagai The King of Java Press.

Kedatangan Soekarno di Batavia sudah barang tentu membuat Parada Harahap dan Mohammad Hatta tersenyum, Lalu pemimpin militer Jepang mengangkat Soekarno sebagai partner utama Jepang ditengah penduduk Indonesia yang disebut Ketua Dewan Pertimbangan Pusat (Voorzitter van de Centrale Advies Raad) Tjoeo Sangi In. Atasan Soekarno adalah Gunseikan (Kepala Pemerintahan Militer Tertinggi yang merangkap Kepala Staf  Militer) di Indonesia.
Di daerah dibentuk Shu Sangi Kai (Dewan Penasehat Daerah). Di Sumatra Timur yang berkedudukan di Medan, Adinegoro diagkat sebagai Wakil Shu Sangi Kai. Sementara di Tapanoeli yang berkedudukan di Taroetoeng diangkat Abdul Hakim Harahap yang membawahi beberapa kabupaten yang mana di Tapanuli Selatan diangkat Hazairin (anggota Sumatranen Bond di Batavia teman main sepakbola Parada Harahap). Dr. Radjamin Nasution, anggota senior (Wethouder) dewan kota (gemeenteraad) Soerabaya diangkat menjadi Wakil Wali Kota Soerabaya. Dr. Radjamin Nasution adalah orang yang menyambut dan mengevakuasi rombongan Indonesia (Parada Harahap dan Mogammad Hatta dkk) yang baru pulang dari Jepang turun dari kapal Panama Maru di Soerabaja. Rombongan tidak berani ke Batavia (karena sudah heboh) dan Dr. Radjamin juga adalah Ketua Sarikat Pekerja Pelabuhan Tandjong Perak Soerabaja. 

Soekarno melapor kepada kepada Gunseikan, 20 Oktober, 1943
Yang duduk sebagai anggota Tjoeo Sangi In yang diketuai Soekarno antara lain Drs. Mohammad Hatta, Dr. Abdoel Rasjid Siregar (anggota Volksraad dari dapil Tapanoeli), Mr. Dr. Husein Djajadiningrat. Ketiga tokoh ini sangat dikenal Parada Harahap. Dalam pembentukan PPPKI tahun 1927 dilakukan di rumah Husein Djajadiningrat. Dalam pembentukan PPPKI ini turut hadir Dr. Abdoel Rasjid Siregar dari Volksraad. Foto: Soekarno, Ketua Dewan Pertimbangan Pusat (Tjoeo Sangi In) di Djakarta melaporkan tentang (hasil) keputusan Sidang Dewan pertama kepada Kepala Dewan Militer Jepang (Gunseikan) pada tanggal 20 Oktober 1943.
Parada Harahap sendiri tidak termasuk dalam anggota dewan yang diketuai Soekano ini, tetapi Parada Harahap (sesuai profesinya dan julukannya The King of Java Press) menjadi pemimpin sentral dari pihak Indonesia di pusat informasi Jepang. Parada Harahap merekrut tiga pemuda seusia untuk bekerja di Radio Militer Jepang di Batavia yang kelak lebih dikenal sebagai Adam Malik (pendiri kantor berita Antara), Mochtar Lubis (pendiri surat kabar Indonesia Raya) dan Sakti Alamsyah Siregar (pendiri surat kabar Pikiran Rakyat Bandoeng). Sementara Adinegoro menjadi pemimpin media Jepang di Sumatra.

Soekarno dan Mohammad Hatta ke Jepang

Indonesia hanyalah salah satu wilayah pendudukan Jepang di Asia Pasifik. Sukses Soekarno memimpin Tjoeo Sangi In  dan telah melaporkan hasil keputusan sidang pada tanggal 20 Oktober 1943 mengindikasikan Indonesia telah menjadi anggota yang baik dalam Asia Raya (Japanse Groot-Azie). Karena itu, Kaisar Hirohito merasa perlu mengundang Soekarno untuk berkunjung ke Jepang. Kunjungan ini lalu dilaksanakan pada bulan November 1943.

Soekarno pidato sebelum jamuan makan siang di Jepang (1843)
Kunjungan Soekarno ke Jepang didampingi oleh Mohammad Hatta dan Ki Bagoes Hadikoesoemo. Ini berarti kunjungan ini merupakan kunjungan kedua Mohammad Hatta ke Jepang. Sebelumnya, Mohammad Hatta berkunjung ke Jepang yang dipimpin oleh Parada Harahap pada tahun 1933. Saat itu Mohammad Hatta masih berumur 31 tahun (baru lulus sarjana). Kini, 1943 pada umur 41 tahun sudah sangat matang. Kunjungan Soekarno dan Hatta ke Jepang boleh jadi membuat Parada Harahap sumringah. Parada Harahap sangat mengidolakan Soekarno dan Hatta dan memajang foto tokoh revolusioner ini di kantor Parada Harahap di Gedung PPPKI di Gang Kenari sejak 1928. Pada saat Parada Harahap dan rombongan pulang ke tanah air dari Jepang tahun 1934, Parada Harahap menemukan ruangan Kantor PPPKI dalam kondisi porak poranda dimana foto Soekarno dan Hatta diturunkan dari dinding dan dirusak. Parada Harahap sempat menangis melihat foto-foto yang rusak itu. Parada Harahap menuduh ada pihak tertentu dari kalangan Indonesia yang melakukannya sebagaimana ditulis Parada Harahap di kolom editorial surat kabar Bintang Timoer yang dikutip surat kabar berbahasa Belanda. Kini, 1943, tangisan yang dulu di tahun 1934 berubah menjadi senyuman. Parada Harahap telah memproyeksikan dan ikut mengawal Soekarno dan Hatta menjadi pemimpin Indonesia.

Di Jepang, Soekarno dianugerahi oleh Kaisar Hirohito bintang de orde van de Heilige Schat, tweede klasse (lihat Het vrije volk: democratisch-socialistisch dagblad, 12-03-1966). Dalam perkembangan selanjutnya, Jepang menyerah kepada Sekutu tanggal 14 Agustus 1945 setelah tanggal 6 Agustus dan 9 Agustus, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945 Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Sebelum kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, Pemerintah Militer Jepang di Indonesia telah membentuk badan yang disebut Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tanggal 1 Maret 1945. Badan ini dibentuk dengan tugas untuk mempelajari dan menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan berbagai aspek yang diperlukan dalam usaha pembentukan negara Indonesia merdeka. Badan ini beranggotakan 62 orang yang diketuai oleh Dr. Radjiman. Anggota badan ini termasuk Parada Harahap, Soekarno dan Mohammad Hatta.

Lalu badan BPUPKI ini tanggal 7 Agustus 1945 dibubarkan dan kemudian membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Panitia ini terdiri dari 21 orang yang diketuai oleh Soekarno dan wakil Mohammad Hatta. Parada Harahap boleh jadi merasa dirinya tidak memiliki kapasitas untuk tugas PPKI yang diantaranya untuk membuat UUD. Parada Harahap membiarkan Soekarno dan wakil Mohammad Hatta mewakili dirinya. Namun posisinya sebagai wakil dari Tapanoeli diisi oleh Mr. Abdul Abbas (Siregar). Parada Harahap lengser keprabon, Parada Harahap pensiun. Kenyataannya Soekarno telah menjadi Presiden dan Mohammad Hatta menjadi Wakil Presiden. Parada Harahap ingin istirahat.

Lantas muncul pertanyaan: Apakah para pemimpin Indonesia sudah mengetahui lebih awal bahwa Indonesia akan menjadi bagian dari pendudukan Jepang di Asia? Faktanya pada tahun 1933 terjadi kunjungan orang Indonesia ke Jepang yang dipimpin Parada Harahap yang di dalamnya termasuk M. Hatta. Setelah kunjungan, mengapa dalam kasus-kasus delik pers yang dialamtkan kepada Parada Harahap sering konsulat Jepang ikut membantu. Hal lainnya, ketika Soekarno diasingkan ke Ende, Flores mengapa Soekarno meminta dirinya dipindahkan ke Bengkulu atas biayanya sendiri dan bukan biaya pemerintah (lihat Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad, 01-05-1940). Lantas mengapa Soekarno memilih Bengkulu. Apakah ada kaitannya dengan koleganya yang sama-sama revolusioner yang berhaluan Jepang seperti Parada Harahap, M. Hatta dan Egon Hakim? Faktanya Soekarno difasilitasi Egon Hakim di Padang dan Fort de Kock selama proses konsolidasi dengan pemimpin militer Jepang? Relasi-relasi ini dapat diperluas mengapa Soekarno setelah berada di Djakarta begitu cepat diterima sebagai pemimpin dewan pribumi yang mana anggota dewan termasuk M. Hatta dan Parada Harahap intens di bidang informasi (propaganda). Lalu kemudian Soekarno dan M. Hatta berkunjung ke Jepang pada bulan November 1943 dan diberi bintang. Selanjutnya dalam hal persiapan kemerdekaan, pembentukan BPUPKI Soekarno, Hatta dan Parada Harahap ikut berperan dan terakhir pada pembentukan PPKI yang ditunjuk sebagai Ketua Soekarno dan Wakil M. Hatta (yang selanjutnya membacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Lalu dengan memperhatikan semua relasi-relasi tersebut, pendudukan Jepang di Indonesia tampaknya dilakukan by design, suatu hal yang sudah diketahui (secara rahasia) diantara sejumlah pemimpin revolusioner Indonesia seperti Parada Harahap, Soekarno, M. Hatta, Abdullah Lubis, Adinegoro dan Egon Hakim.  

Parada Harahap Wafat: Dwitunggal, Tanggal Tunggal Tinggal Tunggal

Parada Harahap adalah orang yang paling setia mengawal karir politik Soekarno baik di kala suka maupun duka sejak 1926 hingga 1942 melalui surat kabarnya Bintang Timoer dan Tjaja Timoer. Parada Harahap berani mengambil risiko ketika editor-editor pribumi enggan menyiarkan situasi dan kondisi Soekarno. Parada Harahap sangat konsisten untuk mengawal Soekarno, karena Soekarno adalah tokoh muda revolusioner yang diidolakannya sejak lama (sejak 1926). Tentu saja Parada Harahap banyak juga menulis tentang Mohammad Hatta (sebaliknya Mohammad Hatta menyebut Parada Harahap dengan sebutan Om Parada).

Parada Harahap: mentor politik praktis Soekarno dan Hatta
Parada Harahap adalah salah satu dari beberapa jurnalis yang visioner. Ke dalam membela rakyat habis-habisan, ke luar di satu sisi menentang habis-habisan barat (Belanda) dan di sisi lain membuka ruang ke timur (Jepang). Surat kabar milik Parada Harahap, Bintang Hindia (terbir 1923 di Batavia) diubah menjadi Bintang Timoer (1926). Perubahan ini seakan menandai visi Parada Harahap dari barat ke timur. Pada tahun 1925 melakukan lawatan jurnalistik ke berbagai tempat yang penting di Sumatra yang laporannnya dibukukan menjadi Dari Pantai ke Pantai. Lalu pada tahun-tahun berikutnya melanjutkan lawatan jurnalistik di seluruh Jawa. Semua itu dimaksudkan untuk merekam situsi dan kondisi tanah air. Setelah pulang dari Jepang (bersama M. Hatta), Parada Harahap menulis laporannya dalam bentuk buku berjudul Menuju Timur. Setelah surat kabar Bintang Timoer dibreidel (ditutup), Parada Harahap menerbitkan surat kabar baru berbnama Tjaja Timoer. Kosa kata ‘timur’ sudah menjadi keseharian (trade mark) Parada Harahap. Dua surat kabar inilah (Bintang Timoer dan Tjaja Timoer) yang tetap setia memberitakan sepak terjang Soekarno dan juga tetap setia menggalang opini masyarakat saat Soekarno mendapat masalah (dari Belanda), seperti kasus pengadilan Bandoeng, pengasingan ke Flores dan perpindahan ke Bengkulu. Parada Harahap terus menjaga marwah Soekarno di pusat (Batavia) meski Soekarno berada di tempat jauh da terpencil. 

Kesetiaan Parada Harahap kepada Soekarno dan Hatta tidak pernah putus hingga akhir hayat Parada Harahap. Jika Soekarno dan Hatta terjadi perselisihan, Parada Harahap tidak mau tahu (mundur) menjaga jarak. Ini mengindikasikan Parada Harahap tidak pernah memihak salah satu di antara keduanya. Parada Harahap melihat Soekarno dan Hatta adalah dwitunggal (Parada Harahap yang menjuluki Dwi Tunggal untuk Soekarno dan Hatta).

Sejak proklamasi kemerdekaan RI, Parada Harahap lengser keprabon dan hijrah ke Semarang untuk meneruskan profesinya di bidang media (percetakan, penerbitan dan surat kabar). Pada saat Belanda kembali (perang kemerdekaan), Parada Harahap diminta Mohammad Hatta untuk mengasuh majalah Detik di Bukittinggi sebagai media Indonesia di pengungsian. Parada Harahap menyanggupinya dan membawa peralatan percetakan dari Padang Sidempoean dengan mempekerjakan beberapa eks tentara pelajar Padang Sidempoean, termasuk salah satu AM Hoetasoehoet (pendiri IISIP Lenteng Agung).

Pasca pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda, Parada Harahap kembali ke Batavia dengan profesi lama di bidang media. Pada saat terjadi nasionalisasi, Parada Harahap mengakuisisi surat kabar legendaris, Java Bode (berbahasa Belanda) tahun 1952. Mengapa? Parada Harahap tampaknya ingin memberitakan Indonesia kepada asing (Belanda) bagaimana Indonesia selanjutnya: Indonesia merdeka, yang sudah sejak lama diinginkannnya, sejak Parada Harahap mendirikan surat kabar Sinar Merdeka di Padang Sidempoean tahun 1919. Parada Harahap dengan Java Bode kembali mengawal Soekarno sebagai Presiden dan M. Hatta sebagai Wakil Presiden.

Dalam kasus Soekarno dan militer yang terkenal dengan demonstrasi 1952 yang mana kontra Kolonel Abdul Haris Nasution dengan Soekarno, Parada Harahap tidak memihak dan malahan mendirikan Akademi Wartawan tahun 1953 dimana dirinya menjadi Dekan. Parada Harahap mengkombinasikan profesinya antara media dan dunia pendidikan (jurnalistik). Pendirian akademi ini boleh jadi karena adik-adiknya di Padang, Egon Hakim mendirikan Sekolah Tinggi Hukum/Pantjasila (1951) dan di Medan, Abdul Hakim mendirikan Fakultas Kedokteran/Universitas Sumatera Utara (1952).

Lalu pada tahun 1954 Soekarno dan M. Hatta ingat senior mereka, Parada Harahap. Ini berhubungan dengan pemerintah membutuhkan acuan pembangunan (semacam buku repelita). Dengan pertimbangan kapabilitas, Parada Harahap yang sudah menjadi dekan, kemudian Soekarno dan M. Hatta meminta untuk memimpin sejumlah ahli studi banding ke 14 negara di Eropa untuk menyusun rencana pembangunan Indonesia. Hasil studi banding ini ditulis oleh Parada Harahap dan diterbitkan pada tahun 1956. Buku repelita yang disiapkan Parada Harahap ini merupakan buku repelita Indonesia pertama.

Namun buku repelita ini belum sepenuhnya diimplementasikan, para pemimpin di daerah mulai gerah dan merasa ada ketimpangan antara Jawa dan Sumatra dalam (kebijakan) pembangunan. Kisruh inilah kemudian yang memicu munculnya PRRI. Saat eskalasi politik di Sumatra meninggi, Parada Harahap benar-benar ingin pensiun dari segala aktivitas kehidupan. Perseteruan yang muncul antara Soekarno dan Hatta, Parada Harahap tidak mau pusing dan ingin benar-benar pensiun. PRRI akhirnya diproklamirkan awal tahun 1958. Egon Hakim yang dulu menyelamatkan Soekarno di Padang menjabat sebagai Koordinator Keuangan PRRI. Soekarno pertama meminta persetujuan M. Hatta untuk penyerangan PRRI di Sumatera Barat, M. Hatta terang-terangan menolak. Lalu keputusan penyerangan ditandatangi sendiri Soekarno. Lalu Soekarno menyerahkan tugas kepada Abdul Haris Nasution, tetapi Abdul Haris enggan melakukan sendiri dan menyerahkan perintah itu kepada Ahmad Yani. Akhirnya, kongsi yang sudah cukup lama antara Soekarno dan Hattta retak dan kemudian pecah sama sekali. Surat kabar di Djakarta menulis pada kolom pojok: Dwitunggal, Tanggal Tunggal Tinggal Tunggal. Tidak lama kemudian setelah dwirunggal pecah kongsi, Parada Harahap pada tahun 1959 dikabarkan telah meninggal dunia. Sebelum wafat, Parada Harahap masih sempat menghadiri wisuda putrinya, Aida Dalkit Harahap di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Itulah ending drama tiga para revolusioner Indonesia: Parada Harahap, Soekarno dan Mohammad Hatta. .


Riwayat Singkat Parada Harahap

Keberadaan Parada Harahap terdeteksi di Medan pada tahun 1918. Saat itu umurnya sudah berusia 19 tahun (lahir di Padang Sidempoean 1899). Disebutkan, karir Parada Harahap dimulai sebagai krani di perkebunan di Sumatra Timur sejak usia 15 tahun. Pada tahun 1917 melaporkan dengan mengirim bukti ke Benih Mardeka di Medan tentang kekejaman para planter terhadap kuli (terutama kuli dari Djawa). Laporan ini disarikan editor Benih Mardeka. Pada tahun 1918 surat kabar Soeara Djawa melansir laporan investigasi Benih Mardeka dalam tiga edisi yang kemudian menjadi heboh di Djawa. Sejak itu, Parada Harahap dipecat sebagai krani dan hijrah ke Medan dan melamar sebagai wartawan namun yang disodorkan justru sebagai editor Benih Mardeka. Parada Harahap menerima tawaran tersebut. Namun baru enam bulan, Benih Mardeka dibreidel. Saat situasi menganggur itu, Parada Harahap direkrut pimpinan Pewarta Deli sebagai editor kedua.

Parada Harahap selama kehadirannya di Medan cukup menyita perhatian warga. Pemuda revolusioner sudah lahir. Keberaniannya membongkar kekejaman terhadap kuli di perkebunan (poenali sanctie) membuat Nederlandsch Indie (Hindia Belanda) tergoncang terutama di Jawa. Tidak hanya, sebagai editor Benih Mardeka, Parada Harahap membongkar kasus prostitusi di kalangan elit di Medan yang berpusat di hotel-hotel yang melibatkan wanita-wanita yang dikirim dan dikendalikan mucikari di Singapoera. Konsulat Jepang di Medan (konsulat pertama di Jepang) memberi apresiasi terhadap upaya menyelamatkan muka Jepang (dan harga diri orang Jepang) dimana di Medan cukup banyak komunitas Jepang (sebagai pebisnis dan planter). Parada Harahap juga terdeteksi memainkan peran ke dalam seperti menengahi (mendamaikan) perseteruan antara kelompok Mandailing dan Minangkabau dalam bidang perdagangan dan meredam munculnya penyebaran kebencian di antara umat beragama (antara Kristen dan Islam). Di kalangan pemuda (walau Parada Harahap secara sosial sudah tergolong senior tetapi secara umur masih terbilang muda) aktif membina sepakbola pribumi. Last but not least: Parada Harahap juga menggagas pendirian asosiasi wartawan pribumi dengan wartawan Tionghoa di Medan.  

Het nieuws van den dag voor NI, 02-09-1919
Lalu kemudian pada tahun 1919, Parada Harahap pulang kampung dan mendirikan surat kabar Sinar Merdeka di Padang Sidempoean. Dalam kongres Sumatranen Bond di Padang, Parada Harahap mewakili pemuda Tapanoeli. Saat inilah Parada Harahap sudah kenal Dr. Abdul Hakim, ayah Egon Hakim sebagai anggota dewan kota (gemeenteraad) Padang yang sekaligus pembinan Kongres Sumatranen Bond dan Mohammad Hatta sebagai perwakilan pelajar.

Parada Harahap selama di Padang Sidempoean banyak menyorot ketidakadilan pemerintah Belanda yang korup terhadap rakyat. Parada Harahap tidak hanya menggunakan pena yang tajam tetapi juga kerap memimpin penduduk berdemonstrasi ke kantor Asisten Residen di Padang Sidempoean. Dalam berbagai situasi, Parada Harahap belasan kali dikenakan delik pers dan dimejahijaukan dan beberapa kasus yang berat harus diadili di Kota Padang tetapi hukuman bui dilakukan di penjara Padang Sidempoean. Parada Harahap dengan sendirinya sudah matang dalam berbagai segi di usia muda.

Pada tahun 1923 Parada Harahap hijrah ke Batavia dan langsung berkolaborasi dengan Dr. Abdul Rivai menerbitkan (kembali) surat kabar (mingguan) Bintang Hindia. Kolaborasi ini diduga kuat karena peran Soetan Casajangan (pendiri Indisch Vereeniging di Belanda tahun 1908) yang menjadi Direktur Normaal School di Batavia. Soetan Casangan adalah pendiri surat kabar Poestaha yang terbit di Padang Sidempoea tahun 1915 (saat Soetan Casajangan menjadi guru di Sekolah Radja di Fort de Kock). Soetan Casajangan dan Dr. Abdul Rivai sudah saling kenal sejak 1905 di Belanda (saat itu Dr. Abdul Rivai adalah editor Bintang Hindia). Setelah Bintang Hindia dinyatakan bangkrut tahun 1911, pada tahun 1923 boleh jadi penerbitan ulang Bintang Hindia.

Soetan Casajangan, alumni sekolah guru (Kweekschool) Padang Sidempoean 1887. Pada tahun 1905 Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan berangkat studi ke Belanda untuk mendapatkan akte kepala sekolah (berlisensi Eropa). Di pelabuhan Amsterdam Soetan Casajangan dijemput Dr. Abdul Rivai (alumni Docter Djawa School) yang saat itu bekerja sebagai editor Bintang Hindia (pimpinan Dr. A. Fokker) yang terbit di Amsterdam dan oplahnya sebagian besar di Hindia Belanda. Dr. Fokker datang ke Batavia dan Padang pada tahun 1903. Saat kunjungan inilah Fokker merekrut Abdul Rivai dan bermitra dengan Dja Endar Moeda di Padang sebagai koresponden Bintang Hindia. Pada tahun 1903 saat Fokker dan Abdul Rivai berangkat ke Belanda, Dja Endar Moeda ikut diajak untuk sekadar berkunjung. Saat itu Dja Endar Moeda adalah pemilik, pemimpin dan editor surat kabar Pertja Barat di Padang (sejak 1897). Oleh karenanya, saat Soetan Casajangan tiba di Amsterdam yang dijemput Abdul Rivai adalah peran Dja Endar Moeda. Sebagaimana diketahui Dja Endar Moeda adalah mantan guru yang beralih profesi menjadi jurnalis dan pengusaha media. Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda adalah alumni sekolah guru (Kweekschool) Padang Sidempoean 1884 yang notabene adalah kakak kelas Soetan Casajangan di Kweekschool Padang Sidempoean.

Karir Parada Harahap terus meroket sejak 1923. Pada tahun 1925 Parada Harahap mendirikan kantor berita pribumi (pertama) Alpena dengan wartawan yang sekaligus merangkap editor WR Supratman. Pada tahun ini Parada Harahap melakukan perjalanan jurnalistik ke seluruh tempat utama di Sumatra dan menerbitkannya dalam bentuk buku yang berjudul ‘Dari Pantai ke Pantai’ (termasuk di dalamnya bab tentang Kota Padang dan bab Kota Loeboek Sikaping) yang diterbitkan tahun 1926. Pada tahun 1926 ini Parada Harahap mendirikan surat kabar (harian) Bintang Timoer. Surat kabar ini cepat naik tirasnya dan dalam tempo singkat menjadi tiras paling tinggi di Batavia. Saat-saat inilah Soekarno kerap mengirim tulusannya ke redaksi Bintang Timoer yang dieditori oleh Parada Harahap. Tidak hanya itu, Parada Harahap yang sudah menjadi pengusaha di Batavia dan juga sebagai sekretaris Sumatranen Bond berkolaborasi dengan pengusaha Betawi MH Thamrin yang sekaligus Ketua Kaoem Betawi mendirikan asosiasi pengusaha pribumi Batavia (semacam Kadin pada masa ini). Pada tahun 1927, Parada Harahap menggagas dibentuknya supra organisasi kebangsaan yang disebut Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangsaan Indonesia (PPPKI).

Pembentukan ini dilakukan di rumah Husein Djajadiningrat (Boedi Oetomo yang dipimpin Dr. Soetomo tidak hadir, mungkin Boedi Oetomo sudah menganggap dirinya sebagai organisasi besar yang tidak perlu dipersatukan). Yang menjadi ketua PPPKI didaulat MH Thamrin dan sekretaris Parada Harahap sendiri. Dalam pembentukan supra organisasi PPPKI turut hadir anggota Volksraad, Mangaradja Soangkoepon (dari dapil Sumatra Timur) dan Dr. Abdul Rasjid (dari dapil Tapanoeli) serta Soetan Casajangan (Direktur Normaal School). Catatan: Husein Djajadiningrat adalah sekretaris Indisch Vereeniging di era Soetan Casajangan. Mangaradja Soangkoepon adalah alumni Belanda anggota Indisch Vereeniging juga di era Soetan Casajangan. Dr. Abdul Rasjid alumni STOVIA (seangkatan dengan Dr. Soetomo) yang merupakan adik kandung Mangaradja Soangkoepon. Dengan demikian saat itu ada empat tokoh pemersatu asal (kelahiran) Padang Sidempoean: Soetan Casajangan, Mangaradja Soangkoepon, Abdul Rasjid dan Parada Harahap sendiri, Catatan: Anggota Volksraad dari dapil West Sumatra adalah Loetan Datoek Rangkajo Maharadjo dan dari Zuid Sumatra Mochtar. Ini berarti dari empat wakil dari Sumatra di Volksraad, dua orang berasal dari Padang Sidempoean.
  
Dalam eskalasi politik yang mulai tumbuh saat itu di Batavia, Parada Harahap adalah simpul dari berbagasi aspek di kalangan pribumi: karakter revolusiner (pemberani terhadap asing dan memiliki kasih sayang terhadap sesama bangsanya), kerjasama (antar organisasi kebangsaan), ketokohan (alumni Belanda dan Volksraad), informasi (media), sumber daya keuangan (Kadin Batavia) dan kebangkitan bangsa (meninggalkan barat di Belanda dan menuju timur di Jepang). Singkat kata: Parada Harahap adalah pemilik portofolio tertinggi dari semua pemimpin Indonesia yang ada. Kriteria ini tampaknya masuk desk pada top list di Konsulat Jepang di Batavia.

Ketika Medan masih kampung, Padang Sidempoean sudah kota
Sebagaimana diketahui nanti, Parada Harahap memimpin rombongan pertama Indonesia ke Jepang (termasuk di dalamnya Abdullah Lubis dan Mohammad Hatta). Lantas mengapa keinginan Parada Harahap diterima Jepang atau mengapa Parada Harahap dipilih Jepang dari sejumlah pemimpin Indonesia? Mari kita duga: Parada Harahap di Medan sudah berani terhadap Belanda (poenali sanctie) dan memberi kesan baik kepada Jepang (kasus prostitusi wanita Jepang). Ketika Parada Harahap hijrah ke Padang Sidempoean terdeteksi nama seorang Jepang di Padang Sidempoean bernama Tsukimoto (berprofesi sebagai pedagang). Tsukimoto bermukim di Padang Sidempuan sebagai pemilik perusahaan J. Tsukimoto & Co. dengan nama tokonya ‘Toko Japan’. Pada tahun 1930an Tsukimoto terdeteksi sebagai pengusaha (pedagang) di Batavia di Pasar Besar (Pasar Baru?). Apakah Tsukimoto juga berprofesi sebagai seorang diplomat Jepang di Hindia Belanda (yang mengikuti rute Singapoera, Medan, Padang Sidempoean dan Batavia). Masih perlu dibuktikan. Namun demikian, boleh jadi melalui Tsukimoto para diplomat Jepang di Batavia mendapat profil lengkap Parada Harahap yang dijadikan sebagai kandidat pemimpin awal Indonesia dalam bekerjasama dengan Jepang. Singkat kata kepemimpinan ini diestafetkan kepada Soekarno dan Mohammad Hatta. Oleh karenanya, bagaimana Egon Hakim menyelamatkan Soekarno di Padang dari pihak Belanda sangat naif kalau itu kejadiannya dipandang sebagai kejadian yang tiba-tiba (random).    


Dari semua itu dapat disimpulkan bahwa apa yang paling sangat disesalkan Belanda pada masa ini adalah terjadinya pendudukan Jepang di Indonesia, dan kemudian upaya tiga pemimpin Indonesia yang bekerjasama dengan Jepang, yakni: Parada Harahap, Soekarno dan M. Hatta. Dua hal ini telah menjadi sebab utama Belanda yang telah ratusan tahun menjajah sejak Cornelis de Houtman tiba tahun 1595 hilang lenyap untuk selamanya. Kita bisa bayangkan pada masa ini, Indonesia yang baru merdeka dari Belanda 72 sudah begitu manisnya, sebaliknya begitu pahitnya yang Belanda terima setelah 350 tahun menguasainya.

Orang Belanda tunduk kepada Orang Jepang
Pahit yang diterima Belanda dan manis yang diterima Indonesia adalah kemenangan Indonesia terhadap Belanda untuk selamanya. Apakah Belanda telah melupakannya dan apakah Indonesia telah melupakannya? Tentu saja tidak. Belanda tidak bisa melupakan karena begitu manisnya hidup selama 350 tahun. Indonesia juga tidak bisa melupakan karena begitu pahitnya hidup selama 350 tahun. Dalam hubungan inilah figur Parada Harahap sangat penting. Foto: Orang Belanda harus menunduk di era pendudukan Jepang (Het vrije volk: democratisch-socialistisch dagblad, 19-12-1985).

Soekarno dari Ende Flores, Bengkulu hingga Padang dan Fort de Kock

Algemeen Handelsblad, 05-05-1938
Bagaimana proses awal Soekarno minta dipindahkan dari Ende, Flores ke Bengkulu pada awalnya tidak diketahui secara jelas. Algemeen Handelsblad dan Soerabaijasch handelsblad yang mengutip dari kantor berita Aneta yang melaporkan kali pertama Soekarno akan dipindahkan dari Flores ke Bengkoeloe. Algemeen Handelsblad, 05-05-1938 menyebutkan Soekarno sendiri yang mengajukan permohonan dipindahkan. Soekarno berdalih bahwa di Bengkulu akan dapat menggunakan pengetahuan teknisnya dengan lebih baik. Pemerintah telah mengabulkan permintaan. Ir. Soekarno tiba hari ini di Soerabaja. Dalam Soerabaijasch handelsblad, 05-05-1938 juga terdapat informasi bahwa Soekarno akan tiba di Tandjoeng Priok tanggal 8 Mei.

Soerabaijasch handelsblad, 06-05-1938 melaporkan Ir. Soekarno saat transit di Soerabaja. Bersama KPM Steamer Valentijn, Ir Soekarno bersama istrinya, dua anak angkat dan tiga pelayan tiba, pada hari Selasa siang (5 Mei) dan keluarga tersebut pada malam hari ini ke Batavia dalam perjalanan mereka ke Benkoelen. Selama Soekarno berada disini (Soerabaja), Soekarno mencari dan  memesan kamar di kantor pusat, sementara istri dan orang-orang lain yang besertanya diijinkan untuk mengunjungi teman-teman dan kerabatnya. Soekarno sendiri tidak ada yang diizinkan untuk mengunjungi dan berbicara dengannya.

Keberangkatan Soekarno dari Soerabaja ke Batavia dilaporkan tiga surat kabar. Bataviaasch nieuwsblad edisi 07-05-1938 Soekarno yang awalnya diberangkatkan dengan kapal ke Batavia tiba-tiba diubah dengan menggunakan kereta api dan dilakukan pada malam hari. Saat keberangkatan dari Soerabaja hanya hanya ada orang tua dan kerabat dekat yang hanya diberikan kesempatan salam perpisahan selama lima belas menit. De Indische courant edisi 07-05-1938 terdapat informasi bahwa PID melakukan perubahan dalam rencana perjalanan agar keberangkatan Soekarno bisa berlangsung diam-diam. Juga disebut, selain keluarga dan dua petugas yang akan menjaga selama perjalanan ke Batavia (seorang Eropa dan seorang pribumi) dalam perpisahan ini ada beberapa yang hadir.
Java-bode:, 11-06-1957
Soekarno dalam hal ini tentu bukan orang bodoh. Soekarno dan petugas PID yang mengawalnya berbeda level. Soekarno meminta pindah kepada pejabat dengan alasan teknis: membuat peluang bertemu dengan siapa Soekarno menginginkan bertemu. Petugas PID hanya melihat Soekarno bertemu dengan orangtua dan kerabat. Sementara Soekarno sudah barang tentu telah menskenariokan ingin bertemu dengan koleganya. Kolega itu ada di dalam barisan kerabat yang hadir di stasion kereta api Soerabaja. Harus diingat inilah satu-satunya kesempatan bertemu dengan kolega (seperjuangan). Petugas PID memang telah berhasil melakukan perjalanan diam-diam, itu berarti telah sukses mengantisipasi kemungkinan ternjadinya demonstrasi. Singkat kata: Soekarno bukan saja ingin pindah sendiri dari Ende ke Bengkoelen tetapi juga keinginan para koleganya. Permintaan Soekarno untuk pindah ke Bengkoeloe juga didorong oleh MH. Thamrin (mertua Egon Hakim) di Volksraad. MH Thamrin mengatakan bahwa Soekarno menderita di Flores karena malaria, jika Soekarno mati karena serangan malaria tersebut maka Pemerintah akan bertanggungjawab (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 11-06-1957) [Catatan: surat kabar Java Bode sejak 1952 sudah diakuisisi oleh Parada Harahap]. Upaya menakut-nakuti oleh MH Thamrin ini akhirnya permintaan Soekarno dikabulkan. Perpindahan ini akan memberi manfaat: menjauhkan diri dari area Australia (internasional) ke Sumatra (domestik); mendekatkan diri kepada para koleganya terutama di Sumatra yang besar kemungkinan Jepang akan mendudukinya terlebih dahulu; memiliki kesempatan sepanjang perjalanan bertemu para koleganya. Sebelum perpindahan ini sempat muncul keraguan pejabat tinggi untuk menyetujui perpindahan (De Telegraaf, 21-03-1966). Dan harus diingat bahwa perpindahan itu adalah atas permintaan Soekarno dan atas biaya sendiri. Tegasnya bahwa sangat naif proses perpindahan dari Ende ke Bengkoelen jika dianggap hal sepele dan tidak begitu penting.
Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 07-05-1938 menambahkan bahwa Soekarno pagi ini telah tiba di Batavia. Pada pukul 11 dengan mobil polisi ke Serang dan malam hari dari pelabuhan Merak (dengan kapal) menuju Oosthaven (Telok Betong?). Dari tempat terakhir ini, dengan kereta api menuju tempat tinggal yang ditunjuk di Benkoelen.

Siapa beberapa orang yang hadir dalam salam perpisahan di stasion kereta Soerabaja tersebut? Hanya ada kemungkinan Dr. Soetomo dan Dr. Radjamin. Bahwa Dr. Soetomo kecil kemungkinan hadir. Haagsche courant, 30-05-1938 melaporkan bahwa Dr. Soetomo meninggal dunia hari ini yang diterima dari Aneta yang dirawat selama sebulan di rumah sakit sipil pusat di Surabaya. Dr. Soetomo mengambil alih posisi Soekarno mengenai prinsip non-kerjasama. Berdasarkan berita ini, Dr. Soetomo sudah sakit selama sebulan (sebelum meninggal) dan Dr. Soetomo dianggap non-koperatif (sebagaimana Soekarno). Dr. Radjamin dianggap masih mau bekerjasama. Saat itu Radajamin adalah anggota senior (Wethouder) dewan kota (gemeenteraad) Soerabaja. Dr. Radjamin (Nasution) teman sekelas Dr. Soetomo di STOVIA. Pertemanan Radjamin dan Soetomo sudah bagaikan keluarga. De Sumatra post, 31-05-1938 menyebut Dr. Soetomo pernah bertugas di Batoebara dan Loeboek Pakam. Sementara Dr. Radjamin juga pernah bertugas di Medan dan Belawan. Pendiri PIB (Partai Bangsa Indonesia) adalah Dr. Soetomo yang mana Dr. Radkamin salah satu pengurus di Soerabaja. PIB kemudian melebur ke Parindra. Dalam pemakaman Soetomo ini akan datang dari Batavia beberapa perwakilan gerakan pribumi, termasuk MH Thamrin (Parindra). Dalam pemakaman Soetomo ini, Dr. Radjamin berpidato atas nama keluarga Dr. Soetomo. Dengan demikian, saat keberangkatan Soekarno ke Batavia diduga kuat Dr. Radjamin (Nasution) hadir. Saat pembentukan PPPKI tahun 1927, Dr. Radjamin yang berdinas di Batavia sebelum dipindahkan ke Soerabaja adalah orang yang diminta Parada Harahap untuk mendekati dan mengubah status quo Soetomo (Boedi Oetomo) untuk bergabung dengan PPPKI. Oleh karena itu, melalui Dr, Radjamin pesan politik Soekarno ke teman-teman seperjuangan sebelum berangkat ke Bengkoeloe. Dalam hubungan ini, di Telok Betong sudah barang tentu Dr. Radjamin telah menelpon Mr. Gele Haroen, seorang advokat terkenal di Lampong yang berkantor di Telok Betong tentang rute perjalanan Soekarno tersebut. Gele Haroen (Nasution) adalah alumni sekolah tinggi hukum di Leiden (kelak menjadi Residen Lampoeng). Singkat kata: proses perpindahan Soekarno dari Ende ke Bengkulu adalah kerja gotong royong diantara koleganya yang dikoordinasikan oleh Parada Harahap. Di parlemen (Volksraad), Parada Harahap akan terus berkomunikasi secara intens dengan MH. Thamrin (mertua Egon Hakim) yang juga akan berkoordinasi dengan tiga anggota Volksraad lainnya kelahiran Padang Sidempoean: Mr. Abdul Firman gelar Mangaradja Soangkoepon, Dr. Abdul Rasjid dan Mr. Dr. Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia. Untuk mengingatkan kembali: MH Thamrin dan Parada Harahap adalah pendiri PPPKI (1927) yang berkantor di Gang Kenari, dimana di kantor tersebut Parada Harahap memajang dua foto juniornya: Soekarno dan M. Hatta.

Controeleur di Bengkoeloe dengan Soekarno (1939)
Bataviaasch nieuwsblad, 10-05-1938 bahwa Soekarno sekarang telah tiba di bawah pengawasan seorang pejabat penyelidikan politik. Jika Soekarno berangkat dari Batavia tanggal 7 Mei maka keesokan harinya tanggal 8 Mei tiba di Telok Betong. Jika perjalanan ini langsung diteruskan dengan naik kereta ke Lahat dan lalu dilanjutkan dengan mobil ke Bengkoeloe, Soekarno kemungkinan besar sudah tiba di Bengkoeloe tanggal 9 Mei. Dengan demikian benar apa yang dilaporkan Bataviaasch nieuwsblad, 10-05-1938 bahwa Soekarno telah tiba di Bencoelen. Foto: LGM Jaquet, aspirant-controleur di Benkoelen, orang yang bertanggung jawab atas pembayaran tunjangan bulanan Soekarno (NRC Handelsblad, 28-04-1979).


Het nieuws van den dag voor NI, 27-11-1902

Dalam hubungan ini, Mr. Gele Haroen  kemungkinan akan intens berinteraksi dengan Soekarno di Bengkoeloe. Sebagaimana diketahui, pada saat proses perpindahan Soekarno ini, Mohammad Hatta tengah berada di pengasingan di Bandaneira (Meluku). Sementara dari Padang, Egon Hakim, advokat akan intens berinteraksi dengan Soekarno di Bengkoeloe. Egon Hakim dan Gele Haroen yang sama-sama alumni sekolah hukum di Leiden adalah saudara sepupu (ayah mereka abang-adik). Dengan demikian, Soekarno di Bengkoeloe dikawal dua tokoh pergerakan, dari selatan oleh Gele Haroen dan dari utara oleh Egon Hakim. Jangan lupa, ayah Egon Hakim yakni Dr. Abdul Hakim (wakil wali kota Padang) saat itu adalah pimpinan PNI di Pantai Barat Sumatra (Sumatra’s Westkust). Dr. Abdul Hakim sekelas di Docter Djawa School dengan Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo (pendiri PNI) yang saat ini juga diasingkan di Bandaneira (bersama Mohammad Hatta). Sebelum Soekarno dan M. Hatta meneruskan PNI, Dr. Tjipto adalah senior dari Soekarno di Bandoeng dan (tentu saja) di Padang Dr. Abdul Hakim adalah senior dari Mohammad Hatta.

De tijd: dagblad voor Nederland, 22-06-1970
Soekarno selama di Bengkoeloe meski tetap diawasi tetapi masih dapat melakukan aktivitas sosial. Aktivitas yang dilakukannnya diantaranya mengajar dan turut membantu warga untuk membangun atau merenovasi fasilitas umum seperti sekolah dan masjid. Pada situasi inilah Soekarno bertemu dengan seorang gadis bernama Fatmawati. Dalam foto disamping ini pada tahun 1939 di Bengkoelen, Soekarno (di tengah) yang mana pada barisan depan di sebelah kiri anak angkat Soekarno bersama Inggit Garnasih bernama Ratna Djoeami dan di sebelah kanan adalah pacar Soekarno bernama Fatmawati (De tijd: dagblad voor Nederland, 22-06-1970).

Soekarno pertama menikah dengan putri Tjokroaminoto, Oetari di Soerabaja. Saat Soekarno di Bandoeng, Soekarno yang tinggal di rumah Sanoesi jatuh cinta dengan putrinya, Inggit Garnasih. Oetari diceraikan dan Inggit dinikahi. Inggit yang lebih tua dari Soekarno ikut diasingkan ke Flores dan kemudian ikut ke Bengkoeloe. Saat Soekarno dipindah ke Padang, cintanya terhadap Fatmawati tidak hilang. Setiba di Djakarta, Soekarno kemudian menceraikan Inggit tahun 1943. Pada tahun ini juga tanggal 1 Juni, Soekarno menikah dengan Fatmawati.

Het vrije volk, 19-12-1985
Demikianlah kisah awal Soekarno dari Flores hingga ke Bengkoeloe. Satu hal tanggal berapa Soekarno tiba di Djakarta dalam De waarheid, 25-09-1945 tidak disebutkan. Hanya disebut bulan Juli 1942. Surat kabar Het vrije volk: democratisch-socialistisch dagblad, 19-12-1985 menyebutkan setelah dari Padang dan Fort de Kock Soekarno tiba di Djakarta tanggal 9 Juli 1942. Pada saat ini Mohammad Hatta sudah beberapa waktu tiba di Batavia setelah dibebaskan dari Bandaneira. Saat Soekarno tiba di Djakarta sudah barang tentu disambut Parada Harahap dan Mohammad Hatta. Boleh jadi yang mengabari keberangkatan Soekarno ke Djakarta melalui pelabuhan Teluk Bayur sudah dikabarkan terlebih dahulu oleh Egon Hakim.
De Sumatra post, 14-01-1922
Satu hal lagi yang menjadi pertanyaan adalah (tiba-tiba) mengapa Bengkoelen yang dipilih Soekarno sebagai tempat tinggal pengasingan menggantikan Ende, Flores? Pada tahun 1938 Dr, Hazairin asisten dosen di Rehthoogeschool diangkat menjadi Ketua Pengadilan di Landraad di Padang Sidempoean. Di kampus ini Dr. Husein Djajadiningrat adalah guru besar. Parada Harahap sudah kenal lama Husein Djajadiningrat sedangkan Hazairin saat menulis desertasinya di Rehthoogeschool melakukan penelitian lapangan di Bengkulu (lulus tahun 1936). Parada Harahap tahun 1927 adalah sekretaris Sumatranen Bond juga sudah lama kenal Hazairin, selain asal satu daerah juga Hazairin adalah anggota Sumatranen Bond ketika memulai kuliah Rehthoogeschool dengan Amir Sjarifoeddin. Parada Harahap dan Hazairin kebetulan keduanya adalah ‘gibol’ yang kerap bermain sepakbola dalam satu tim. Oleh karenanya perpindahan Soekarno dari Ende sangat naif jika itu bersifat random dan juga sangat naif jika tempat yang baru dipilih Bengkulu juga bersifat random. Boleh jadi pengenalan Bengkulu tidak hanya atas deskripsi Hazairin dan boleh jadi Soekarno sudah pernah ke Bengkulu? Sebab Soekarno diduga kerap secara diam-diam ke Tapanoeli. Pada tahun 1932 Ir. Soekarno datang ke Tapanoeli  dalam rangka pembentukan divisi Partai Nasional Indonesia/NIP (lihat De Sumatra post, 13-05-1932). Kunjungan Soekarno ke Tapanoeli dapat mudah dipahami, karena besar dugaan atas petunjuk dari Parada Harahap. Tentu saja tidak hanya itu, PNI memiliki basis massa di Tapanoeli dan di Sumatra Barat. Sebagaimana diketahui pemimpin PNI di Sumatra Barat adalah Dr. Abdul Hakim (lihat De Sumatra post, 14-01-1922) dan pemimpin PNI di Tapanoeli adalah Dr. Abdoel Karim. Sebagaimana diketahui juga bahwa pendiri PNI adalah Dr. Tjipto di Bandoeng. Hubungan antara Abdul Hakim dan Abdul Karim dengan Tjipto Mangoenkosoemo adalah teman sekelas di Docter Djawa School. Untuk sekadar diingat kembali bahwa (sejak awal kebangkitan bangsa/pergerakan politik Indonesia) Parada Harahap di Batavia adalah ‘mentor politik’ dari trio revolusioner muda: Soekarno, M. Hatta dan Amir. Dalam fase ini, pada tanggal 29 Desember 1929 sepulang dari Kongres PPPKI ke 2 di Solo, Soekarno ditangkap. Lalu pada tanggal 18 Juni Soekarno diadili di Pengadilan Landraad di Bandoeng dan kemudian didakwa hukuman empat tahun penjara. Namun, akibat adanya pengurangan hukuman, Soekarno dilepas pada tanggal 31 Desember 1931 (lihat De tijd: dagblad voor Nederland, 22-06-1970). Pada hari-hari setelah bebas inilah Soekarno terdeteksi berada di Tapanoeli. Lalu kemudian, pada tanggal 31 Juli 1933, Soekarno ditangkap lagi karena melakukan manuver politik. Kali ini Soekarno tidak diadili namun dengan keputusan Gubernur Jenderal langsung diasingkan ke  Ende, Flores (lihat De tijd: dagblad voor Nederland, 22-06-1970). Sejak diasingkan di Ende, Soekarno kerap dipojokkan oleh pers pribumi. Sebagaimana Parada Harahap yang terus konsisten mengawal karir politik Soekarno, ketika semua surat kabar memojokkan Soekarno, hanya Parada Harahap yang terang-terangan melalui surat kabar miliknya, Tjaja Timoer yang membela Soekarno. Dalam hubungan ini diduga bahwa Parada Harahap adalah pendukung utama dana politik Soekarno termasuk dukungan dana dalam proses perpindahan Soekarno dari Ende ke Bengkoeloe (lihat Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad, 01-05-1940). Oleh karenanya, Soekarno dalam pengasingan (terutama di Bengkoeloe) tidak sendiri alias terasing secara sosial. Soekarno terkawal dengan baik mulai dari Soerabaja oleh Dr. Radjamin Nasution, di Djakarta oleh Parada Harahap dkk, di Telok Betong, Lampoeng oleh Gele Haroen Nasution dan Mr Abdul Abbas (Siregar), di Padang oleh Egon Hakim Nasution dan ayahnya Dr. Abdul Hakim, di Solok oleh Eny Karim dan ayahnya Dr. Abdul Karim (Lubis) dan di Padang Sidempoean oleh Mr. Dr. Hazairin (Harahap) dan tentu saja di Medan oleh Adinegoro dkk. Relasi-relasi inilah secara politis nyaris tidak terungkap saat mana Soekarno mengasingkan diri di Bengkoeloe (bukan diasingkan!), lalu kemudian dipindahkan ke Padang dan terakhir melakukan konsolidasi dengan Jepang di Fort de Kock.

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar