Senin, 31 Agustus 2020

Sejarah Manado (15): Perang Kemerdekaan, Manado 14 Februari 1946; AE Kawilarang Berjuang di Padang Sidempuan, Tapanuli

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Manado dalam blog ini Klik Disini 

Tanggal 14 Februari 1946 penting bagi Kota Manado. Hal tersebut karena 14 dijadikan sebagai tanggal Hari Jadi Kota Manado. Pada tanggal 14 Februari 1946 di Kota Manado terjadi suatu pemberontakan yang ditujukan kepada Pemerintah Belanda-NICA. Akibat kejadian ini sejumlah komandan yang pro Republik Indonesia ditangkap, ditahan dan oleh pengadilan militer NICA Taula dijatuhi hukuman 20 tahun penjara.

Ada dua pemuda bersahabat di Bandung. Dua pemuda tersebut bersama TB Simatupang dipromsikan untuk mengikuti pendidikan perwira profesional di akademi militer di Bandoeng (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 31-03-1941). Dua pemuda tersebut adalah Alex Kawilarang dan Abdoel Haris Nasoetion. Ketiganya lulus pendidikan dengan pangkat Luitenant. Pada awal perang kemerdekaan Abdoel Haris Nasoetion berjuang dan memimpin pasukan di Bandoeng dan Alex Kawilarang di Bogor. Untuk mendukung kekuatan di Sumatra Utara khususnya di wilayah Padang Sidempuan, Majoor Jenderal Abdoel Haris Nasoetion meminta sobatnya Kolonel Alex Kawilarang.

Lantas bagaimana sejarah perang kemerdekaan di Manado di kampong halaman Alex Kawilarang? Yang jelas di Manado ada nama Taula. Oleh karena itu Alex Kawilarang tidak perlu khawatir. Namun Abdoel Haris Nasoetion sangat khawatir di kampong halamannya dan karena itu meminta Alex Kawilarang ke Tapanoeli. Bagaimana itu semua terjadi? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Perang Kemerdekaan: NICA di Manado

Pendudukan tentara Sekutu di Manado, paling tidak sudah diketahui pada bulan September 1945 (lihat Veritas: katholiek 14-daagsch blad voor Maastricht, 25-09-1945). Namun kapan tepatnya tidak diketahui secara jelas. Seseorang di Morotai (Halmahera Utara) menulis surat bertanggal 16 September segera setelah pembebasan mereka yang dimuat surat kabar (lihat Amigoe di Curacao, 06-10-1945). Itu berarti pembebasan interniran Eropa-Belanda sudah mendahului ketika operasi tentara Sekutu-Inggris di Jawa dimulai.

Setelah diumumkan oleh Kaisar Jepang menyerah tanggal 14 Agustus 1945, pasukan Sekutu yang dipimpin oleh Inggris akan melakukan pelucutan senjata militer Jepang dan pembebasan interniran Eropa-Belanda di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Tanggal 17 Agustus 1946 Ir Soekarno di Djakarta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Dalam fase sunyi di Manado-Minahasa orang-orang Jepang mengisiasi pembentukan pemerintahan Indonesia yang menjanjikan kepada penduduk dan para pemimpin lokal akan segera menjanjikan kemerdekaan. Mengapa bisa begitu? Gaung proklamasi kemerdekaan Indonesia belum sampai ke seluruh wilayah Indonesia (sementara tidak ada alat komunikasi, masih dikuasai militer Jepang). Penduduk di Manado dan Minahasa tentu bingung ketika pasukan Sekutu mendarat di Manado (tanpa ada perlawanan dari orang-orang Jepang secara terbuka). Hal itulah yang menyebabkan situasi dan kondisi di Manado dan Minahasa begitu sunyi senyap (berbeda dengan Jawa, kehadiran Sekutu disambut dengan perang oleh penduduk dan para pemimpin perlawanan).

Kapal perang Sekutu-Inggris merapat di pelabuhan Tandjoeng Priok pada tanggal 29 September 1945 (lebih cepat dari yang diperkirakan tanggal 4 Oktober). Disebutkan bahwa pada awal Oktober Letnan Jenderal Dr. HJ van Mook akan meninggalkan Brisbana dan akan mendarat bersamaan dengan pasukan Sekutu di Batavia. Sebagaimana diketahui Belanda-NICA bergerak di belakang Sekutu-Inggris untuk menggantikan posisi Jepang (dan dengan demikian mengabaikan Republik Indonesia).

Setelah melakukan pelucutan senjata dan evakuasi militer Jepang serta pembebasan interniran Eropa-Belanda, pasukan Sekutu-Inggris merangsek ke Buitenzorg tanggal 15 Oktober 1945. Sementara itu, dilaporkan untuk keberangkatan sebanyak 2.500 tentara Belanda (mantan tahanan perang) dari Bangkok ke Jawa beberapa hari ditunda karena kesulitan transportasi. Mereka saat ini berlatih di sekitar Bangkok dan dipersenjatai. Sementara itu sebanyak 5.000 Belanda yang juga merupakan tawanan perang Jepang di Singapura dipersenjatai dan akan dikirim ke Indonesia (lihat De patriot, 18-10-1945). Dalam perkembangannya, tanggal 18 Oktober 1945 pasukan Sekutu-Inggris memasuki Bandoeng; 20 Oktober 1945 mendarat di Semarang; dan 25 Oktober 1945 mendarat di Soerabaja.

Apa yang telah terjadi tampaknya baru disadari oleh penduduk dan pemimpin lokal di Manado dan Minahasa ketika orang-orang Eropa-Belanda yang telah dibebaskan telah mengkomunikasikan apa yang terjadi dengan penduduk. Bagaimana sambutan yang diberikan oleh penduduk dan pemipin lokal ketika rombongan Belanda tiba (lihat Twentsche courant, 17-12-1945). Hal ini terungkap dari laporan seorang reporter yang menyertai orang-orang Belanda tersebut.

Twentsche courant, 17-12-1945: ‘Di bandara Langkawan--bandara untuk kota Menado dan Tomohon—romborangan kami disambut oleh kerumunan orang Menado, yang berkumpul di sekitar pesawat Catalina dengan menyanyikan lagu kebangsaan Belanda. Saya mendiskusikan masalah kemerdekaan dengan para peimpin lokal. Hampir selalu pertanyaan pertama adalah: ‘Mengapa Soekarno dibebaskan?’ Pandangan umum tampaknya: ‘Kami ingin kemerdekaan atau pemerintahan sendiri, tetapi tidak sekarang. Kami harus bekerja dengan Belanda untuk memulihkan daerah kami ke sesuatu menyerupai situasi sebelum perang Kami memiliki keyakinan penuh pada kata-kata Ratu Pemerintah Belanda. Kepuasan penuh tampaknya hanya bekerja dalam hal ini--dan ini merupakan perbedaan penting-- dari pemerintah sebelum perang bahwa orang-orang Indonesia terkemuka dipilih dan diangkat dalam jabatan-jabatan yang sebelum perang hanya dianggap oleh Belanda’.

Apa yang dilaporkan reporter surat kabar ini idem dito dengan kesan seorang pejabat Sekutu-Inggris yang baru pulang dari Kalimantan dan Sulawesi (lihat Amigoe di Curacao, 22-12-1945). Disebutkan bahwa seorang pejabat Sekutu yang baru kembali dari perjalanan ke Kalimantan dan Sulawesi meyakinkan bahwa Belanda di pulau-pulau ini disambut hangat oleh penduduk. Di Menado, khususnya, ada keinginan yang besar untung mendatangkan para ahli dan material dari Belanda untuk membuat pelabuhan dan institusi lain untuk dapat digunakan kembali.

Leeuwarder koerier, 08-01-1946: ‘Di dataran tinggi Tondano di Minahassa, Catalina kami mendarat dua hari yang lalu di atas tanah yang dibangun oleh Jepang, dimana sisa-sisa mesin mereka yang hancur masih menempel di namanya. Pilot kami berputar tiga kali untuk menjelajahi wilayah tak dikenal itu. Saat itu para kuli melambai riang, yang bekerja di bandara, berlarian di bawah kami. Keempat kalinya pesawat mendarat, dan ketika menara meriam dibuka untuk membiarkan udara pegunungan yang sejuk, disana berdiri kerumunan yang bersorak-sorai seolah-olah menyambut seorang pangeran....Penduduk Minahassa sebagian besar beragama Kristen dan banyak dari mereka adalah orang Belanda. Disini bukan ‘Tabeh Tuan’, tapi ‘Wellkomm!’ yang diteriakkan untuk menemui kami bahkan sebelum kami sempat berpikir untuk keluar. Dan kemudian, saat rombongan kami berada di lapangan di tengah semua wajah cokelat yang tersenyum, keheningan datang. Mereka mengatur diri mereka sendiri dalam kelompok dan tiba-tiba nyanyian Wilhelmus terdengar di sana,..Dan kemudian: ‘Hip hip Hore!’ dan lagi dan lagi! Puluhan suara kemudian keluar dengan cerita heboh tentang orang Jepang dan betapa kejamnya mereka...Tolong dicatat! Tak seorang pun disini yang tahu kami akan datang. Tak satu pun dari para pekerja ini yang menyadari bahwa salah satu perwakilan tertinggi pemerintah hadir disini dalam diri Tuan Van Hoogstraten, Direktur Urusan Ekonomi (yang akan bertanggungjawab untuk Urusan Minahasa). Mereka tidak melakukan apa-apa selain menyapa sekelompok Belanda yang tiba-tiba jatuh dari langit. Tidak ada bedanya dengan perjalanan dingin kami melewati pegunungan dari bandara ke Tomohon, tempat kami bermalam. Sepanjang jalan, anak-anak menyerbu keluar rumah, berteriak, ‘Bye!’ Dimana-mana orang berdiri dan melambai. Daég! ...." Para wanita dan gadis-gadis muda melambai, dan memberi hormat dengan gembira. Ini, berminggu-minggu setelah pembebasan, masih seperti masuknya pasukan pembebasan. Seseorang menjadi lelah menjawab begitu banyak salam berulang kali. Seseorang menjadi lelah, tetapi itu berhasil. hati baik. Namun, jauh di lubuk hati itu menghilang dengan cepat pada saat itu kenangan yang sangat besar tentang jalan yang sepi melalui kota yang gelap’.

Itulah gambaran di Manado dan Minahasa pada fase transisi antara era pendudukan militer Jepang dan era kehadiran kembali Belanda (NICA). Bendera Dai Nippon telah berganti menjadi bendera Tri Color. Tidak ada indikasi sejauh ini muncul bendera Merah Putih. Secara umum terkesan ikatan lama dengan Belanda bersemi kembali.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Alex Kawilarang: Bandoeng, Tapanoeli dan Minahasa

Sejak akhir tahun 1945 hingga pertengahan tahun 1946 ibu kota RI telah dipindahkan dari Djakarta (Batavia) ke Djogjakarta. Tahap pertama adalah Kementerian Keamanan (Pertahanan) yang dipimpin Mr Amir Sjarifoeddin Harahap. Selanjutnya Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Miohamad Hatta pindah ke Djogjakarta pada awal bulan Januari 1946. Saat ini pasukan Sekutu-Inggris masih bekerja dan pasukan Belanda-NICA secara bertahap mengambil alih komando pasukan Sekutu-Inggris.

Komandan TRI West Java di Bandoeng adalah Kolonel Abdoel Haris Nasoetion. Sementara sahabatnya Overste Alexander Evert Kawilarang sebagai komandan TRI di wilayah hulu sungai Tjisadane dan Tjiliwong (Tangerang en Buitenzorg). Menteri Pertahanan Amir Sjarifoeddin Harahap, Kepala Staf (Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo) dan kepala intelijen Kolonel Zulkifli Lubis di Djogjakarta. Seperti dilihat nanti, rombongan terakhir Pemerintah RI yang hijrah dari Djakarta ke Djogjakarta terjadi pada tanggal 16 Oktober 1946. Rombongan terakhir ini berkumpul di bekas rumah Soetan Sjahrir yang terdiri dari bagian Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Informasi dan Kementerian Perhubungan. Rombongan ini dipimpin oleh Overste Mr. Arifin Harahap. Rombongan terakhir ini berangkat dari Stasion Manggarai menuju Djogjkarta yang diawasi oleh polisi Belanda (lihat Nieuwe courant, 17-10-1946).

Pada tanggal 14 Februari 1946 di Manado terjadi pemberontakan militer. Pemberontakan ini dilacarkan oleh Taula dkk. Semua pria dan wanita Belanda ditangkap oleh Taula dkk dan menahannya. Tidak ada laporan tentang perilaku tidak tertib, penjarahan atau upaya pembunuhan. Untuk menyelidikinya telah dikirim sebuah misi ke Menado yang terdiri dari perwira Inggris dan Belanda.

Algemeen Handelsblad, 20-02-1946: ‘Letnan Jenderal Spoor telah menerima delegasi dari Amboneesche di Batavia yang menyatakan kesetiaannya kepada otoritas Belanda, tetapi bersikeras untuk patuh janji-janji yang dibuat selama perang. Di Sulawesi yang sampai sekarang damai, kaum nasionalis di bawah pimpinan Dr. Ratulangie telah memutuskan kerjasama dengan Belanda, sementara di Menado terjadi kasus pemberontakan di antara pasukan pribumi.  Leeuwarder koerier, 22-02-1946: ‘Diantara tentara pribumi KNIL. Pemberontakan tentara pecah di Menado. Penyebabnya tampaknya: ketidakpuasan dengan perbedaan gaji dan gizi. Otoritas militer dan sipil telah diambil alih oleh para kapten. Semua pria dan wanita Belanda telah ditangkap. Penyimpangan tampaknya tidak terjadi sebaliknya. Perwira Inggris dan Belanda akan menyelidiki’. Nieuwsblad van het Zuiden : dagblad met ochtend- en avond-editie, 22-02-1946: ‘Pemberontakan diantara pasukan pribumi di Menado. Kemarin malam komunike resmi berikut dikeluarkan di Batavia. Pemberontakan tentara pribumi pecah di Menado. Sebagai alasan pemberontakan dipicu perbedaan upah dan makanan yang akan dibuat. Semua otoritas militer dan sipil telah diambilalih oleh para pemimpin pemberontak. Semua pria dan wanita Belanda telah ditangkap dan kapten telah menyatakan bahwa mereka dijaga dengan baik. Sebuah misi telah tiba di Menado yang terdiri dari perwira Inggris dan Belanda yang akan melakukan penyelidikan dan mencoba untuk mengklarifikasi situasi. Tidak ada laporan tentang perilaku tidak tertib, penjarahan atau upaya pembunuhan’.

Dalam perkembangannya pemberontakan yang terjadi di Manado dipicu karena adalanya perbedaan gaji dan yang ransum antar anggota KNIL-NICA. Pemberontakan ini dipimpin oleh para komandan pribumi (anggota KNIL-Belanda) berpangkat kapten (Taula dkk) yang diantaranya datang dari Makassar. Anggota KNIL pribumi ini melakukan tindakan makar terhadap (otoritas) Peerintahan NICA dengan menangkap para pejabat NICA di Manado dan kemudian menahannya, Ini sepintas terkesan permasalahan internal antara sesama anggota KNIL antara yang berasal Belanda vs yang berasal dari pribumi, sebab seperti yang diberitakan tidak ada gangguan yang terjadi pada masyarakat.

Kapten Taula tentu saja bukan orang bodoh, boleh saja isunya soal perbedaan gaji dan ransum tetapi pada waktu relatif yang bersamaan diberitakan bahwa Dr Sam Ratulangi (di Makassar) telah memutuskan kerjasama dengan Pemerintah NICA-Belanda. Apakah dua peristiwa ini saling terhubung? Namu persoalannya, Sam Ratulangi dan Taula dkk hanyalah segelintir orang anti Belanda dibandingkan keseluruhan populasi Manado-Minahasa. Seperti dikatakan sebelum dan sesudah kejadian tidak terjadi permasalahan yang berdampak pada masyarakat. Kekejaman Jepang di Manado-Minahasa sudah berlalu dan kini kelembutan Belanda sudah di depan mata. Itu satu hal, persoalan Sam Ratulangi dan Taula dkk adalah hal lain. Kehidupan di Manado-Minahasa kemudian berjalan apa adanya.

Sementara itu, nun jauh disana di Jawa, seorang pemuda bermarga Manado-Minahasa berjuang melawan Belanda (NICA) tanpa henti. Pejuang itu bernama Alex Kawilarang dengan pangkat Overste (Letnan Kolonel RI). Alex Kawilarang berada di bawah komando West Java yang dipimpin Kolonel Abdoel Haris Nasoetion.

Alex Kawilarang lahir di Meester Cornelis (kini Jatinegara Jakarta) dan bergabung dengan TKR pada bulan Oktober 1945 tidak lama setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Sebelumya Dr Sam Ratulangi di Djakarta telah turut mempersiapkan kemerdekaan Indonesia yang tergabung dalam PPKI yang dipimpin oleh Ir Soekarno. Pada awalnya Alex Kawilarang sebagai petugas penghubung dan kemudian melakukan pekerjaan staf  di West Java. Pada saat inilah diduga Alex Kawilarang bertemu kawan lama, komandan TRI West Java di Bandoeng Kolonel Abdoel Haris Nasoetion. Tentu saja Abdoel Haris Nasoetion menganggap tidak tepat pada urusan staf dan menjadi alasan bagi Abdoel Haris Nasoetion meminta bantuan Alex Kawilarang untuk menangani pasukannya di wilayah barat West Java (hulu sungai Tjisadane Tangerang dan hulu sungai Tjiliwong Buitenzorg). Pada bulan Februari 1946 (Overste) AE Kawilarang resmi menangani pasukan teritorial (militer). Markas komando Kolonel Abdoel Haris Nasoetion berada di antara Bandoeng dan Poerwakarta. Abdoel Haris Nasoetion menjadi lega karena di barat sudah ada Overste Kawilarang dan di utara sudah ada Overste Sadikin. Pasukan dari Midden Java dan Oost Java sudah ada yang bergabung di kesatuan West Java ini. Salah satu diantaranya Overste Ir MO Parlindoengan (AFP Siregar) ahli senjata kimia dan bom lulusan teknik kimia Universiteit te Delft.

Pada bulan Maret 1946 Kolonel Abdoel Haris Nasoetion di Bandoeng harus menghadapi situasi sulit karena di satu sisi Sekutu-Inggris (setelah terjadi kesepakatan dengan PM Soetan Sjahrir) memberi ultimatum (paling telat tanggal 24 aret) untuk mengosongkan wilayah pertempuan di Bandoeng Utara sementara di sisi lain mendesak untuk perang frontal. Dalam situasi ini Menteri Pertahanan Mr Amir Sjarifoeddin Harahap dengan kereta bergegas dari Djogjakarta untuk menemui Kolonel Abdoel Haris Nasoetion di Bandoeng.

Kolonel Abdul Haris Nasution, Panglima Divisi Siliwangi, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, lantas menyampaikan pengumuman agar TRI dan penduduk untuk meninggalkan kota. Saat pejuang dan penduduk Kota Bandung mengungsi disana sini terjadi pembakaran. Terjadinya kobaran api yang besar ini dikenal sebagai ‘Bandung Lautan Api’ (lihat Limburgsch dagblad, 26-03-1946).

Demikialah seterusnya pertempuran semakin intens, lebih-lebih setelah pasukan Belanda-NICA mengambil alih posisi Sekutu-Inggris. Namun kekuatan militer NICA yang terus mengalir dari Belanda membuat kekuatan TRI menjadi tidak sebanding, Meski demikian perang gerilya menjadi pilihan. Posisi militer di Bandoeng menjadi terbagi dua satu bagian ke selatan-barat Bandoeng dan satu bagian yang lain ke utara-timur (yang berpusat di Markas Besar di Poerwakarta). Pasukan yang berada di bawah komando Kawilarang juga bergeser ke selatan Buitenzorg (antara wilayah selatan Soekaboemi dan selatan Tangerang-Djasinga). Pasukan Kawilarang ini terhubung dengan pasukan yang berada di wilayah selatan-barat Bandoeng (sekitar Palaboehan Ratoe).

Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 08-08-1947: ‘Bagian kota Soekaboemi terbakar habis, sebelah timur kota, pertempuran antara TNI dan militer Belanda. Republik tanpa henti melakukan kampanye intimidasinya, yang akan membutuhkan tindakan yang sangat ketat. Pengumuman Overste Kawilarang dari TNI bahwa semua yang bekerja sama dengan Belanda akan dihukum berat, Pada saat pengumuman sebanyak 56 pejabat Indonesia secara spontan berhenti bekerja pada hari Kamis karena takut. Sementara itu operasi pembersihan oleh Belanda terus berlanjut dengan patroli dan terjadi pertempuran di daerah pegunungan. Mungkin sekitar seribu prajurit TNI telah berlindung di pegunungan sekitar Soekabumi, dimana mungkin juga amunisi dan tempat penyimpanan bensin dan persediaan lain disembunyikan. Di Segaranten terdapat konsentrasi ekspatriat yang telah dibawa sebagai tahanan politik bersama mereka. Dalam oeprasi ini secara umum, hanya sedikit senjata yang ditemukan. Sekarang telah diketahui bahwa TNI memiliki senjata dari Jepang dan senjata Amerika.

Gencatan senjata kemudian dilakukan perundingan antara Belanda-NICA dan Republik Indonesia (yang dipimpin oleh Perdana Menteri RI Mr Amir Sjarifoeddin Harahap) Januari 1948. Dalam klausal hasil perjanjian (Renville) pasukan Indonesia harus mengosongkan wilayah pendudukan Belanda. Hasil yang tidak memuaskan ini Mr Amir Sjarifoeddin Harahap mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri (kemudian digantikan Mohaad Hatta). Namun proses itu membutuhkan waktu. Pasukan Siliwangi terpaksa harus mengungsi ke Djogjakarta-Midden Java. Dalam fase persiapan ini para pasukan Belanda tampak lega (dan menjadi perjuangan berat bagi pasukan TNI berangkat ke ibu kota RI di Djogjakarta)

 

Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 06-02-1948: ‘Divisi Taugerang. Selama satu setengah tahun pasukan ini, yang tergabung dalam Divisi Tangera.ng yang terkenal, telah bertahan di pegunungan. Dipimpin oleh Overste Kawilarang yang terkenal, mereka melawan tentara Belanda dari tempat persembunyian dan penyergapan mereka. Perjuangan itu sulit, terutama dalam beberapa bulan terakhir, ketika koneksi militer kami terancam. Selama satu setengah tahun tentara kami telah mencoba untuk meniadakan pengaruh para pengganggu perdamaian dan ketertiban ini. Hanya nama beberapa komandan yang dikenal bolak-balik; tabrakan tak terduga, tembakan tiba-tiba dari jarak jauh, bayangan sosok yang melarikan diri di dekat koridor patroli malam, ini adalah satu-satunya kontak yang pernah dimiliki seseorang. Pertempuran telah terjadi di kedua sisi tanpa ampun; di sisi kita dengan tugas melindungi bangsa dan negara dari bandit dan teror, di sisi lain dalam pemenuhan idealisme yang kurang lebih peduli. Dan pertarungan antara akal dan rasa tanggung jawab di satu sisi dan perasaan yang tidak terkendali dan fanatisme yang kejam di sisi lain, yang telah diperjuangkan selama bertahun-tahun di pegunungan sekitarnya, kini telah berakhir. Tetapi penyebab konflik telah hilang, Pada pertemuan pertama ini, menjadi semakin jelas dari sebelumnya betapa berbedanya wawasan tentang poin-poin utama yang mengatur konflik ini’.

Diantara pasukan Siliwangi yang turut hijrah ke Djogjakarta adalah brigade yang dipimpin oleh Overste Kawilarang dengan pusat peberangkatan stasion Soekaboemi. Pasukan Siliwingai tiba di Djogjakarta pada tanggal 11 Februari 1948.

Di Djogjakarta selama kepemimpin Perdana Menteri Mohamad Hatta, struktur TNI mengalami perubahan. Kolonel Abdoel Haris Nasoetion diangkat menjadi Wakil Panglima Perang Republik Indonesia (mendampingi Jenderal Soedirman).

Untuk memperkuat pertahanan di Sumatra, Wakil Panglima Perang Republik Indonesia Abdoel Haris Nasoetion meminta sobatnya Overste Kaliwarang untuk ke Tapanoeli. Pada bulan Agustus 1948 Overste Kawilarang berangkat ke Bukittinggi untuk selanjutnya ke Tapanoeli.

Seperti halnya di Jawa, republik berpusat di Djogjakarta, di Sumatra berpusat di Bukittinggi (Fort de Kock). Boleh jadi ini sehubungan dengan terusirnya para TNI dari wilayah pendudukan Belanda. Pada masa ini Perdana Menteri adalah Mohamad Hatta (menggantikan Mr Amir Sjarifoeddin Harahap). Seperti halnya di Jawa, organisasi TNI di Sumatra juga sudah terbentuk. Komandan TNI di Sumatra bagian Tengah yang berpusat di Bukittinggi adalah Kolonel Hidayat dan Komandan di Sumatra bagian Selatan adalah Kolonel Simbolon. Di Sumatra bagian Utara gubernur militer adalah Majoor Jenderal Dr Gindo Siregar.

 

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar