Senin, 21 Desember 2020

Sejarah Aceh (13): Sejarah Tapak Tuan Tapa Toean di Pantai Barat Sumatra; Asal Usul Nama Tapa Noeli Tapanoeli Tempo Doeloe

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Aceh dalam blog ini Klik Disini

Nama tempat adalah bagian dari sejarah (masa lampau). Pada nama tempat itu bermula suatu kampong, lalu menjadi kota, hingga menjadi kota yang dikenal sekarang. Dua nama kota pada masa lampau di pantai barat Sumatra adalah Tapa Toean dan Tapa Noelie. Kini, nama kampong Tapa Toean menjadi ibu kota dari kabupaten Aceh Selatan dan nama kampong Tapa Noeli menjadi nama wilayah (Tapanuli)—seperti halnya nama Atjeh juga menjadi nama wilayah.

Tapak Tuan adalah nama kota, bukan nama wilayah. Bagaimana asal usul nama Tapak Tuan ada yang mengakatan sebagai tapak kaki Tuan Tapa, seorang tokoh dalam cerita legenda Aceh Selatan yang lokasinya di kawasan gunung Lampu, desa Pasar, Tapak Tuan. Disebutkan lebih lanjut bahwa tempo doeloe di kawasan itu hidup seorang pertapa sakti bertubuh raksasa yang bernama Tuan Tapa. Singkat kata, asal usul nama Tapak Tuan berasal dari Tapak Tuan Tapa. Okelah itu satu hal. Sementara yang juga nama tempat menggunakan nama Tapa di pantai barat Sumatra adalah Tapa Noeli. Sedangkan nama tempat Tapan (masih di pantai barat Sumatra) sedikit berbeda dengan nama Tapa.

Lantas bagaimana Sejarah Tapak Tuan? Apakah ada hubungannya antara Tapak dan Tapa dengan Tapan? Yang jelas pada masa ini di Tapak Tuan, disebutkan bahwa penduduk kota banyak yang berasal-usul dari Sumatra Barat yang oleh warga setempat disebut Suku Aneuk Jamee. Lalu apakah Tapak Tuan sudah sejak dari doeloe dihuni oleh penduduk yang berasal dari Sumatra Barat? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Nama Tapa Toean

Pada peta-peta Portugis di pantai barat Sumatra bagian utara hanya dua nama tempat yang terus bertahan hingga masa ini, yakni: Singkil (Singkel), Meulaboh (Labou) dan Barus (Baroes). Pada peta itu tidak diketahui apakah dua nama sebagai nama tempat atau nama sungai atau keduanya. Pada Peta 1757 (era VOC) diantara Singkel dan Meulaboh diidentifikasi nama Fourouman yang diduga Trumon. Masih dalam peta ini di selatan identifikasi nama Tapanouli (Tapanuli).Nama Tapak Tuan baru diidentifikasi pada peta pada era Pemerintah Hindia Belanda.

Nama Tapak Tuan sudah barang tentu sudah lama ada, namun belum terinformasikan. Nama Tapak Tuan kali pertama di beritakan pada tahun 1871 (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 18-10-1871). Itu berarti sebelum Perang Atjeh. Disebutkan ada usulan penyambungan kabel laut (untuk telegraf) dari Lampoeng ke pantai barat Sumatra untuk memperlancar perdagangan ke Padang, Priaman, Ajer-Bangis, Natal, Sibogba, Baros dan Singkel serta kemungkinan Tarumun, Tapa Tuan, Anahlabou dan Atchin. Keterangan ini mengindikasikan Tapak Tuan (Tapa Tuan) sebagai kota perdagangan yang penting. Catatan: nama Tapanuli telah digantikan Sibolga dan nama Tapanuli dijadikan nama wilayah (residentie) sejak 1845.

Setelah Perang Atjeh (1873) Pemerintah Hindia Belanda mulai mengadministrasikan wilayah Gtoote Atjeh dan wilayah pantai timur dan pantai barat Atjeh. Dalam proses administrasi ini, seorang ahli geografi KFH van Langen dikirim untuk memetakan tiga wilayah tersebut (wilayah pedalaman masih aktif perlawanan pemimpin pribumi). Hasil pemetaan ini dibukukan dan diterbitkan pada tahun 1888 yang salah satunya berjudul Atjeh's Westkust met daarbij Behoorende Kaart. Dalam buku ini KFH van Langen menulis nama Tapak Tuan dengan Tampat Toean (dalam hal ini tampat=tempat). Tapa sendiri tidak diketahui apa artinya. Ini berarti nama Tapak Tuan tidak hanya Tapa Toean juga Tampat Toean.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Tapak Toean Melting Pot

Tunggu deskripsi lengkapnya

 

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar