Sejarah Barus, Tapanuli (5): Perdagangan Atjeh Menurun Drastis Karena Faktor VOC; Pedagang Atjeh Amat Tergantung Tapanoeli

*Semua artikel Sejarah Barus, Tapanuli dalam blog ini Klik Disini


Sejak kehadiran Belanda/VOC di Pantai Barat Sumatra, tidak hanya wilayah kekuasaan Atjeh yang berkurang, tetapi juga sumber-sumber utama perdagangan Atjeh semakin sedikit. VOC melakukan perjanjian dengan (pemimpin) penduduk lokal di Padang (1666), Baros (1668) dan Singkel, secara dejure perdagangan Atjeh hanya tersisa Meulaboh dan Deli.

Kantor Perdagangan VOC di Atjeh (1644)
Belanda/VOC mengalahkan Portugis di Malaka pada tahun 1841. Secara de facto, pedagang-pedagang Atjeh hanya melakukan pelayaran terjauh di Asahan dan Deli. Pada fase ini Kesultanan Siak semakin berkembang, Atjeh mendapat pesaing baru di Pantai Timur Sumatra (Sumatra’s Oostkust).

Penerimaan Atjeh di Padang sangat negatif. Hal ini berlainan dengan di Deli dan Asahan (Pantai Timur) serta di Natal, Tapanoeli, Baros dan Singkel (Pantai Barat Sumatra). Pelabuhan-pelabuhan ini semua berhubungan dengan sumber produksi di pedalaman di Tanah Batak.  Penerimaan terhadap Atjeh di pelabuhan-pelabuhan ini bersifat indeferen (siapapun pedagang yang datang sama pentingnya) karena penduduk Batak berada di pedalaman.

Sejarah Barus, Tapanuli (4): Kota Barus Masa Lalu, Natal Masa Kini, Sibolga Masa Datang; Junghuhn, Willer dan Van der Tuuk

*Semua artikel Sejarah Barus, Tapanuli dalam blog ini Klik Disini


Barus adalah kota tertua di Nusantara, Kota Barus berumur lebih dari 1000 tahun. Kota Barus lalu menua dan layu. Kota-kota muda bermunculan di Tapanoeli, umurnya baru beberapa tahun tetapi sudah menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Pada fase pertumbuhan kota-kota baru di Tapanoeli ini ada tiga tokoh awal yang patut dicatat: FW Junghuhn, TJ Willer dan N van der Tuuk.

Peta Baroes, 1906
Ada satu adagium yang muncul di Jawa pada jelang berakhirnya VOC, yakni: Maluku masa lampau, Jawa masa kini, dan Sumatra masa datang. Adagium ini tampaknya berlaku di Pantai Barat Sumatra (Sumatra’s Westkust): Barus masa lampau, Natal masa kini dan Sibolga masa datang.

Tiga tokoh awal tersebut, cukup memberi arti dalam perubahan radikal di pedalaman Tanah Batak. Tiga tokoh ini adalah ilmuwan. FW Junghuhn adalah sarjana, ahli geologi dan botanis; TJ Willer adalah sarjana, ahli geografi sosial; dan N van der Tuuk, sarjana, ahli linguistik. Tiga orang inilah yang boleh dikatakan sebaga pionir dan pembuka pintu masuk ke lingkungan peradaban dan ilmu pengetahuan orang Batak yang selama ini disembunyikan oleh penduduk Batak dari orang asing. Suatu peradaban dan pengetahuan tumbuh berkembang di pedalaman Tanah Batak nyaris tak tersentuh orang luar, meski kota pelabuhan di pantai barat Sumatra di Barus sudah berumur ribuan tahun.

Sejarah Barus, Tapanuli (3): Kapur Barus Telah Disebut dalam Al Quran dan Injil; Kamper Hanya Ditemukan di Tanah Batak

*Semua artikel Sejarah Barus, Tapanuli dalam blog ini Klik Disini.


Kapur Barus, atau kamper hanya ditemukan di Tanah Batak. Paling tidak hal itu disebutkan dalam buku-buku kuno. Tidak pernah disebutkan kapur Barus berasal dari Tanah Batak. Namun demikian, semua penulis mendeskripsikannya bahwa kapur Barus tersebut diproduksi (sebagai hasil hutan) di daerah antara Batahan dan Singkel (1’10'N-20’20’) dengan ketinggian 1.000-1.200 Meter Dpl. Kota Barus sendiri berada di pantai dengan ketinggian 1-3 meter dengan posisi gps-nya 1.84ZB; 110.43OL. Jika kamper tumbuh di hutan-hutan ketinggian lebih dari 1.000 meter itu berarti daerah yang menjadi kediaman penduduk Batak. Dengan kata lain produsen kapur Barus adalah penduduk Batak.

Kapur Barus dalam Al Qur'an
Buku paling kuno yang menyebutkan kapur barus adalah ‘Den rosegaert van den bevruchten vrouwen. Ghecorrigeert ende…’ terbitan tahun 1560. Dalam buku ini kapur Barus disebut kafura (champora). Sejak tahun itu ratusan buku telah membicarakan komoditi kuno ini. Umumnya, para penulis menyatakan kapur Barus berasal dari Barus (Baroesh). Para penulis juga menyebut kapur Barus dari Sumatra (lihat De Kamferboom van Sumatra, Dryobalanops camphora Colebr. Terbit tahun 1851). Dalam buku The Travels of Marco Polo, a Venetian, in the Thirteenth Century, 1818 disebutkan bahwa nama kafura masuk ke dalam bahasa Persia. Dari bahasa Persia diduga menyebar ke Arab dan kemudian disebutkan di dalam Al Quaran.

Jung Huhn adalah orang pertama Eropa yang memasuki tanah Batak, seorang ilmuwan kali pertama mendeskripsikan secara intensif tentang Tanah Batak. Jung Huhn seorang geolog dan botanis ditugaskan Guberbur Jenderal di Batavia untuk memetakan geologi dan botani Tanah Batak tahun 1840. Dalam satu risalahnya, Jung Huhn  menyebut aliran kapur Barus ini bermula di Loemoet dan Hoeraba (dua wilayah terluar Angkola). Informasi ini seakan membuka penjelasan teka-teki, darimana sesungguhya kamper berasal yang pusat transaksinya sejak dari jaman kuno di Barus.

Sejarah Barus, Tapanuli (2) Benteng Baroes, Awal Mula Kolonisasi Belanda di Tapanoeli; Kekuasaan Kesultanan Atjeh Drastis Redup

*Semua artikel Sejarah Barus, Tapanuli dalam blog ini Klik Disini.


Barus adalah kota tua, jika tidak disebut sebaga kota tertua di Pnatai Barat Sumatra (Sumatra’s Westkust). Sebagai kota tua, keberadaan Kota Barus kita sangat tergantung pada informasi sekunder yang ditemukan di dalam buku dan jurnal. Catatan primer tentang Kota Barus secara eksplist baru ditemukan dalam laporan-laporan Portugis. Selanjutnya keberadaan Kota Barus kemudian diperkaya oleh catatan-catatan primer dari orang-orang Belanda, yang menganggap Barus sebagai pelabuhan penting di Pantai Barat Sumatra.

Benteng Barus (Peta Barus 1695)
Dalam peta kuno, terbitan berbahasa Portugis tahun 1619 kota-kota pelabuhan penting di pantai barat Sumatra adalah Baros, Batahan dan Pariaman. Tiga kota pelabuhan ini besar kemungkinan sebagai simpul perdagangan dari pedalaman di Angkola (Baros), di Mandailing (Batahan) dan di Minangkabau (Pariaman). Di era perdagangan Eropa pelabuhan-pelabuhan untuk pedalaman ini bergeser ke pelabuhan yang lebih besar yang terbentuk kemudian di Sibolga (penggati Baros), Natal (pengganti Batahan) dan Padang (pengganti Pariaman).

Peta kuno ini tidak berbeda jauh dengan sketsa pulau Sumatra hasil ekspedisi Cornelis de Houtman (1595-1597) yang diterbitkan dalam jurnal ‘Journael vande reyse der Hollandtsche schepen ghedaen in Oost Indien, haer coersen, strecking hen ende vreemde avontueren die haer bejegent zijn, seer vlijtich van tijt tot tijt aengeteeckent,...’. Jurnal ini sepenuhnya berisi catatan hari demi hari tentang ekspedisi yang dilakukan oleh Cornelis de Houtman yang dimulai pada tanggal 2 April 1595.

Sejarah Barus, Tapanuli (1) Barus Titik Nol Islam Nusantara; Kota Barus Telah Terkenal Sebelum Adanya Agama Islam dan Kristen

*Semua artikel Sejarah Barus, Tapanuli dalam blog ini Klik Disini.


Baru-baru ini (tahun 2017), Kota Barus ditetapkan sebagai Titik Nol Islam Nusantara dan telah diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Penetapan Kota Barus sebagai Titik Nol Islam Nusantara dengan sendirinya menambah situs baru tentang peradaban (permulaan, pertumbuhan dan perkembanga) penyiaran agama Islam di masa lampau. Bukan tidak mungkin suatu waktu akan muncul suatu situs baru.

Peta Tapanoeli, 1830
Penetapan Kota Barus sebagai Titik Nol Islam Nusantara ternyata tidak semua pihak sepakat. Lalu, suatu seminar diadakan di Aceh. Satu panelis menyebutkan Kota Pasai adalah Titik Nol Islam Nusantara. Panelis lainnya yang satu panggung menyatakan, bukan Pasai tetapi Peureulak; sedangkan panelis satunya lagi, Titik Nol Islam Nusantara bukan Pasai dan juga bukan Peureulak tetapi Lamuri. Berbeda pendapat dalam satu panggung itu berarti memiliki bukti empiris yang berbeda satu sama lain. Yang jelas ketiga kota itu ada di wilayah administrasi Aceh. Lalu muncul aksioma: Oleh karena ketiga tempat itu ada di Aceh, maka Titik Nol Islam Nusantara ada di Aceh (bukan di Pasai, bukan di Peureulak dan juga bukan di Lamuri). Kalau itu ada di wilayah administrasi Aceh berarti bukan di Kota Barus. Sebaliknya, ada tiga orang ahli mengatakan bahwa secara defacto Titik Nol Islam Nusantara di Barus. Tidak ada beda pendapat diantara ketiganya. Tidak ada pendapat yang mengatakan di Sorkam atau di Tapus. Semua mengatakan di Barus dan juga tidak mengatakan di Tapanuli. Okelah, jika tidakpun di Tapanuli dan juga tidak di Aceh, ya, di Sumatralah.

Serial artikel ini tidak dalam konteks pembuktian Kota Barus sebagai Titik Nol Islam Nusantara. Akan artikel-artikel sejarah Kota Barus berikut lebih pada pembuktian (empiris) bahwa hal apa saja yang terkait (dikaitkan) dengan Kota Barus. Kota Barus sebagai Titik Nol Islam Nusantara sudah dibuktikan oleh pihak yang lain, tetapi masih banyak yang dihubungkan dengan Kota Barus belum teruji (terbuktikan). Mari kita telusuri dengan artikel pertama.

Sejarah Kota Surabaya (20): Sejarah Musik di Surabaya, Musik Qasidah hingga Cadash; Ucok AKA Harahap, Pionir Rock Indonesia

*Semua artikel Sejarah Kota Surabaya dalam blog ini Klik Disini.


Kota Surabaya tidak hanya Kota Pahlawan, tetapi juga Kota Musik. Banyak grup band muncul dari Kota Surabaya, banyak pula ragamnya: ada musik blues dan jazz; ada pula wolrd music dan country music; ada musik dang dan musik funk; ada musik melayu dan ada juga musik jawa; dan tentu saja ada musik qasidah dan musik cadas. Tentu saja syairnya juga banyak ragamnya: ada yang nasionalis dan juga ada yang agamis, misalnya yang bernuansa Islam berjudul RUKUN ISLAM, karya AKA Group. Musik qasidah diaransemen oleh grup musik cadas memang terasa beda. Itulah Kota Surabaya.

Rukun Islam ada lima
Yang harus kita kerjakan
Yang pertama kita ucapkan
Dua kalimat syahadat

Yang kedua harus sembahyang
Lima waktu dalam sehari
Subuh, Lohor, Asyar, Magrib, Isya
Mengerjakan dengan hati rela

Puasa itu yang ketiga
Di dalam bulan Ramadan
Dikerjakan dengan ikhlas
Agar kelak dapat pahala

Yang keempat harus diingat
Memberikan fitrah dan zakat
Fakir miskin harus diingat
Agar kelak kita selamat

Yang kelima itu yang terakhir
Pergi haji ke tanah suci
Rukun Islam sudah dijalani
Itu tanda Islam sejati.

Kota Surabaya ternyata juga memiliki riwayat musik yang cukup long long ago, bahkan sejak era kolonial Belanda. Bagaimana hal itu bisa terjadi. Satu hal bahwa pertumbuhan dan perkembangan musik di Kota Surabaya hingga saat ini adalah garis continuum dari masa lampau. Lantas, sejak kapan (demam) musik bermula di Surabaya dan lalu bagaimana proses perkembangan selanjutnya hingga kita rasakan saat ini. Mari kita telusuri.

Sejarah Makassar (14): Tahun Baru (Nieuw Jaar) di Makassar; Nama-Nama Bulan, Hari, Jam; Apakah Ada Nama Menit dan Detik?

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Makassar dalam blog ini Klik Disini


Setiap jelang detik-detik terakhir hingga pergantian tahun baru ditunggu banyak orang. Detik-detik waktu ini sebagai dimulainya penanda Tahun Baru. Tradisi ini kota-kota besar sudah merasuk kemana-mana. Pemberitaan live di televisi membuiat lebih heboh, sehingga terkesan ada rangkaian tahun baru berkesinambungan yang dimulai di Jayapura, kemudian di Makassar dan selanjutnya di kota-kota lain seperti Jakarta. Hal ini karena di Indonesia terdapat pembagian tiga waktu jam (WIT, WITA dan WIB).

Blog 'Tapanuli Selatan Dalam Angka', detik-detik 2018
Peringatan tahun baru itu telah menjelma menjadi Perayaan Tahun Baru. Penanda Tahun Baru itu dengan membuyikan bunyi petasan (mercon) dan menghiasi langit malam dengan menembakkan kembang api yang berwarna-warni. Di dalam suatu kota pada detik-detik perayaan tahun baru itu, tampak di atmosfir seluruh penjuru kota atmosfir (ruang di atas kota) seakan lautan kembang api. Itulah perayaan Tahun Baru masa kini.

Perayaan semacam ini tidak sesemarak tempo doeloe. Perayaan Tahun Baru terutama di kalangan orang-orang Eropa/Belanda hanya dilakukan di tengah keluarga di rumah. Beberapa hari sebelumnya sejumlah tokoh atau (perwakilan) nama perusahaan sudah memberikan ucapan selamat tahun baru di surat kabar (dalam bentuk iklan). Tradisi ucapan selamat ditemukan pada surat kabar Sumatra Courant yang terbit di Padang (akhir 1800an).

Sejarah Makassar (13): Sejarah Pelabuhan Makassar dari Masa ke Masa; Suatu Tradisi Maritim dari Somboepo hingga Joupandan

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Makassar dalam blog ini Klik Disini


Pelabuhan Makassar adalah salah satu pelabuhan besar di Indonesia. Sebagaimana pelabuhan Makassar, hampir semua pelabuhan di Indonesia berawal dari suatu pelabuhan kecil (melalui muara sungai) untuk ukuran saat ini, sejak era Portugis. Pelabuhan-pelabuhan tersebut mengalamai evolusi di era kolonial Belanda yang kemudian menjadi sejarah pelabuhan besar pada masa kini (seperti yang kita bisa lihat sekarang). Semua pelabuhan-pelabuhan laut tersebut berawal dari pelabuhan sungai.

Pelabuhan Makassar, 1846
Pelabuhan Tanjung Priok bermula di pelabuhan Sunda Kalapa di sungai Tjiliwong; pelabuhan Semarang di sungai Semarang dan pelabuhan Soerabaya di sungai Surabaya; pelabuhan Teluk Bayur, seperti halnya pelabuhan Tanjung Priok bermula di sungai Batang Araoe; dan pelabuha Belawan yang bermula di muara sungai Deli. Pelabuhan Semarang dan pelabuhan Surabaya sebelum menjadi pelabuhan laut, dari pelabuhan sungai bergeser menjadi pelabuhan kanal sebelum menjadi pelabuhan laut. Pelabuhan Makassar di sisi utara benteng Rotterdam, 1846

Bagaimana pelabuhan Makassar pada masa ini berevolusi sejak dari doeloe tentu menarik untuk ditelusuri. Faktor=faktor apa yang meneyebabkan pelabuhan di Makassar bergeser dari satu titik pantai ke titik pantai yang lain. Satu hal, bahwa perubahan pelabuhan (volume, besar kecilnya kapal, dan tonase, dangkal dalamnya dermaga) seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan kota.

Sejarah Makassar (12): Pelukis-Pulukis Era Kolonial Belanda Mewariskan Data Sejarah; Vingboons, Hooghe, Aubert dan Reimer

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Makassar dalam blog ini Klik Disini


Data sejarah, dalam berbagai bentuk adalah lisan, tulisan dan lukisan. Sebelum ditemukan teknologi foto dan teknologi perekam suara, data sejarah sangat tergantung pada tulisan dan lukisan. Tulisan dapat ditemukan pada surat kabar, buku atau dokumen lepas. Lukisan adalah gambar dalam berbagai bentuk: sketsa, lukisan dan peta. Dua bentuk data ini jika dikombinasikan: tulisan menjelaskan lukisan dan sebaliknya lukisan menjelaskan tulisan. Dua bentuk sumber data (tulisan atau lukisan) bukanlah bersifat komplementer tetapi bersifat substitusi (saling menggantikan).

Lukisan tertua di Maros, Celebes, 40.000 Tahun (M. Aubert)
Sangat jarang penulis sejarah memanfaatkan lukisan. Lukisan cenderung hanya ditempatkan sebagai pendamping. Bahkan tidak jarang lukisan hanya dianggap sebagai illustrasi semata. Padahal, lukisan (sebelum ada teknologi fotografi) berfungsi sebagai instrumen perekam yang andal. Suatu rekaman gambar (lukisan) yang dapat diperhatikan secara detail (seperti halnya tabel data statistik). Para ilmuwan (seperti botanis, geolog) atau perwira militer yang memimpin ekspedisi ke wilayah yang baru (dan terpencil) mereka harus piawai menggambar atau paling tidak di dalam tim disertakan satu atau beberapa orang pelukis (painter). Fungsi pelukis dalam hal ini adalah untuk memproduksi dokumentasi (dalam bentuk sketsa, peta atau lukisan). Ajudan seorang komandan dalam ekspedisi cenderung dipilih yang memiliki bakat melukis.

Siapa saja pelukis-pelukis yang telah mengabadikan situasi dan kondisi di Makassar tempo doeloe? Apa saja hasil karya mereka yang masih ditemukan pada masa ini, yang dapat memutar jarum jam memori ke masa lampau? Memahami biografi mereka akan bermanfaat untuk memvalidasi data tahun dalam karya mereka. Hasil-hasil karya mereka sejatinya adalah suatu data yang sangat esensial dalam penulisan sejarah (termasuk sejarah Kota Makassar). Ternyata mereka datang dari berbagai lapisan dari berbagai bangsa. Mari kita telusuri dari pelukis lukisan yang tertua.

Sejarah Makassar (11): Societeit Harmonie Makassar; Perkumpulan Sosial Belanda, Pemicu Munculnya Warga Pribumi Bersatu

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Makassar dalam blog ini Klik Disini


Salah satu peninggalan era kolonial Belanda di Makassar adalah gedung Socoeteit Harmonie. Gedung ini kini menjadi Gedung Kesenian Sulawesi Selatan. Societeit Harmonie di Makassar mengikuti nama Societeit Harmnonie di Batavia. Societeit (klub sosial) tidak hanya di Batavia dan Makassar tetapi juga di kota-kota lain, seperti Padang, Bandoeng, Soerabaja, Penang dan Singapore. Selain societeit Harmonie, juga ada societeit Concordia, De Witte, dan sebagainya

Societeit Harmonie, Makassar, 1875
Societeit Harmonie di Batavia adalah perkumpulan sosial (socitetiet) pertama yang didirikan di Nederlandsch Indie (Hindia Belanda). Para pensiunan militer kemudian membentuk societeit di Batavia yang diberi nama Concordia. Societeit Concordia juga kemudian dibentuk di Bandoeng dan Soerabaja. Harmonie adalah nama sebuah kapal uap Belanda yang diduga menjadi nama societeit di Batavia.

Bagaimana proses awal terbentuknya Societeit Harmonie Makassar tentu saja menarik untuk diketahui. Pada masa itu, societeit adalah badan hukum (memiliki AD/ART). Setiap pembentukan societeit agenda utama adalah membangun gedung sendiri (berdasarkan iuran para anggota). Seiring dengan perkembangan komunitas orang-orang Eropa/Belanda, societeit menjadi eksklusif. Dari situasi inilah para tokoh/tokoh lokal membentuk perkumpulan sendiri (yang kelak memunculkan gagasan pendirian organisasi sosial pribumi pertama di Padang (1900), ‘Medan Perdamaian’ yang lalu kemudian muncul Boedi Oetomo (1908).