Sejarah Jakarta (10): Penduduk Betawi di Batavia; Istilah Anak Betawi Asli (1886), Nama Betawi Pernah Dilarang (1951)



Penduduk Betawi di Batavia sudah sejak lama disebutkan. Penduduk Betawi umumnya berbahasa Melayu. Penduduk Betawi dikelilingi oleh penduduk berbahasa Sunda di area yang lebih tinggi (bovenlanden). Bagaimana penduduk Betawi terbentuk sudah ada yang pernah menelitinya. Oleh karena itu, penduduk Betawi diasumsikan adalah penduduk asli Batavia. Satu hal yang menarik dilihat, ketika Batavia telah berproses dan namanya berganti menjadi Jakarta, muncul pertanyaan baru: dimana pemukiman mereka terkonsentrasi sekarang?.

Sunda Kalapa Hingga Batavia

Secara teoritis, area yang menjadi Batavia di masa lampau adalah teritori yang berbahasa Sunda—mulai dari garis pantai di Banten hingga di Chirebon ke pedalaman. Teritori berbahasa Sunda ini dipertegas ketika Portugis/Belanda menyebut pelabuhan di muara Ciliwong sebagai Cunda Kalapa (Sunda Kalapa). Sunda berarti terkait dengan pegunungan di pedalaman (Kerajaan Pakuan Pajajaran), Kalapa berarti tanaman yang banyak ditemukan di dataran rendah dekat garis pantai. Satu-satunya pintu (gate) penduduk berbahasa Sunda di pedalaman adalah muara Tjiliwong. Sebaliknya muara sungai adalah pintu (gate) bagi pihak luar untuk berinteraksi dengan penduduk dari pedalaman. Oleh karena itu, muara sungai Tjiliwong (Sunda: cai, ci= air, sungai) adalah titik strategis untuk memulai memahami penduduk Betawi.

Soerabaijasch handelsblad, 28-08-1886
Kalapa diyakini berasal dari bahasa Melayu. Penduduk berbahasa Sunda berhadapan langsung dengan penduduk pengguna bahasa Melayu (pantai timur Sumatra, semenanjung Malaya, kepulauan dan pantai barat/selatan Kalimantan). Interaksi antara dua penduduk yang menggunakan bahasa Melayu tersebut dengan penduduk yang menggunakan bahasa Sunda terjadi sangat intens. Bahasa Melayu yang muncul sebagai lingua franca dalam perdagangan/pelayaran menyebabkan teritori penduduk berbahasa Sunda menjadi lebih Melayu daripada lebih Sunda (dari sudut penggunaan bahasa). Nama-nama tempat (yang kemudian menjadi nama kampong) dan nama sungai di Batavia adalah kombinasi penggunaan bahasa Melayu dan bahasa Sunda.  

Kehadiran orang asing (Asia seperti India, Tiongkok, Arab, Persia) dan yang kemudian disusul orang Eropa seperti Portugis, Spanyol, Belanda, Perancis dan Inggris telah menambah keramaian pelabuhan Sunda Kelapa. Pelabuhan Sunda Kelapa sendiri yang sejak dari doeloe menjadi tempat pertukaran (exchange) yang penting dari luar (garam, kain, besi dan sebagainya) dan dari dalam di pedalaman (rempah-rempah, dan hasil-hasil hutan). Moda transportasi awal adalah melalui air (laut dan sungai). Sungai Ciliwong menjadi moda terpenting dari dan ke pedalaman (Pakuan/Padjadjaran). Paling tidak hingga beberapa pelabuhan sungai yang penting di sungai Ciliwung yang bahkan sampai ke Bodjong Gede (Moera Beres).

Hubungan perdagangan antara Banten dan Tjirebon dengan Pakuan yang intens sejak lampau telah menarik bagi pedagang/pelaut asing utamanya oleh orang-orang Eropa. Dua kekuatan di barat (Banten) dan di timur (Chirebon), titik lemahnya ada di muara Tjiliwong (karena Pakuan ada di pedalaman). Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi rebutan pengaruh. Singkat kata: akhirnya orang Eropa yang sepenuhnya dapat menguasai. Pelabuhan Sunda Kelapa bagi orang Eropa adalah pusat dari perdagangan di nusantara saat itu (dari Atjeh hingga Maluku dan dari Siam hingga Pakuan/Mataram). Lalu kemudian oleh orang-orang Belanda (VOC) mengganti nama Sunda Kelapa/Jayakarta menjadi Batavia (1621).

Nama Betawi

Betawi awalnya adalah ucapan untuk menunjukkan tempat, Batavia. Nama Betawi digunakan pemerintah sebagai Negeri yang didasarkan pada pembagian wilayah adat. Pemerintah sendiri dalam mengatur penduduk tidak langsung tetapi melalui pemimpin adat. Di dalam wilayah adat dibentuk pemerintahan lokal berdasarkan kesatuan adat, etnik atau teritori. Di luar Batavia, seperti di Surakarta disebut Kanjeng lalu Jogja, Banten, Cirebon dan Madura disebut Sultan. Hal serupa ini pada nantinya di dengan sebuatan Nagari di Minangkabau dan Luhat/Koeria di Mandailing en Ankola serta Negeri di Siolndoeng dan Toba. Di Deli dibawah pimpinan Sultan (dan kejoeroean).

Di Batavia yang disebut pemimpin pribumi (non Eropa dan non Tionghoa) sangat beragam seperti pemimpin Moor, pemimpin Bali, pemimpin Melayu, pemimpin Ambon, Sumbawa, Paranakan (Cina asli Batavia) dan Jawa. Belum terdeteksi pemimpin Betawi.

Dalam Almanak tahun 1819, pemimpin-pemimpin penduduk asli (native officer) di Batavia disebutkan sebagai berikut: Mayor dari Moor, Komandan dari Bali di kampong Krokot, kampong Ankay, kampong Pecojan dan di Guste Ankee. Para komandan ini dari namanya adalah muslim; Komandan dari Macassarse dan Bugguese di kampong Patooakon dan kampong Bugis, Jacatra dan Macassar; Komandan dari Malay di kampong Melajo; Komandan Amboynese dan lainnya di kampong Ambon; Komandan dari Soembawa di kampong Tambora; Komandan Paranakan (Chinese natives of Batavia) yang dari namanya muslim; Komandan Javanese di kampong Mangadua. Selain itu disebutkan Komandan di Patoekon dan Komandan di kampong Looar Batang; serta pengetua adat (native master of the ceremonies) yang disebut Major.

Untuk orang-orang Tionghoa yang umumnya tersebar dan tiap komunitas Tionghoa diangkat pemimpin mereka (chhinese officer). Orang-orang Tionghoa yang pedagang keliling atau komunitas kecil yang terdekat meenjadi wilayah para pmimpin Tionghoa. Nama-nama kapiten dan luitenan dari Tionghoa (meski pernah terjadi pembantaian Tionghoa tahun 1740) adalah terdiri dari satu kapten (Mie Tieuwko) dan enam luitenan dan dua orang sebagai anggota dewan. Para pemimpin ini (kap./luit.) membawahi sorang Revenue Farmer (pedesaan) dan Yong Farmer (perkotaan) yang bertugas untuk mengumpulkan retribusi (yang sebagain besar disetor ke pemerintah Belanda.

Meski belum ada informasi yang menyatakan terdapat pemimpin adat Betwai, namun nama Betawi sudah ada. Nama Betawi tidak hanya digunakan pribumi tetapi juga oleh orang-orang ETI (Eropa/Belanda). Nama resmi tempat tetap Batavia, walau ada kalanya pemerintah menggunakannnya untuk kepentingan pribumi dalam hal nomenklatur, misalnya Kantor Lelang Betawie (De Oostpost: letterkundig, wetenschappelijk en commercieel nieuws- en advertentieblad, 15-01-1857); Resident van Batavia dan Residen di Betawi (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 14-10-1865).

Eksistensi Orang Betawi

Bagaimana terbentuknya Betawi masih sulit diformulasikan. Yang jelas terminologi Betawi baru muncul kemudian jika dibandingkan keberadaan orang-orangnya.

Di daerah Betawi yang disebut Batavia sejak era Sunda Kelapa sudah banyak penduduk yang bermukim, jika orang-orang Tionghoa sudah ada, apalagi orang-orang pribumi yang datang dengan perahu atau yang turun gunung. Tentu saja ada penduduk yang datang dari Asia Selatan dan Asia Barat.

Siapa yang Betawi sangat samar-samar. Surat kabar Belanda sangat jelas mengidentifikasi orang Batak, Melayu dan Atjeh di Deli. Pantun yang dicatat surat kabar De Locomotief (12-12-1881) jelas bukan panting orang Betawi, sebab yang diibaratkan adalah orang Betawi. Dalam pantun ini laki/pemuda Betawi disebut sinjo dan perempuan/pemudi disebut nonah. Kosa kata sinyo dan nona adalah bahasa campuran yang banyak digunakan oleh orang-orang Tionghoa.

De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 13-12-1881: ‘Djangan mandi kali Betawie, Kalie Betawie banjak lintahna, Djangan kawin nonah Betawie, Nonah Betawie banjak tingkahnja….Djangan mandi kalie Betawie, Kalie Betawie banjak oedangnja, Djangan kawin sinjo Betawie, Sinjo Betawie banjak oetangnja…’

Orang Betawi juga disebut suka main komedi (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 16-09-1882). Nama Betawi banyak dimanfaatkan oleh orang-orang ETI (Eropa/Belanda) baik sebagai nama toko, Toko Betawie (Het nieuws van den dag: kleine courant, 24-05-1882) maupun nama surat kabar, Pembrita Betawie (Soerabaijasch handelsblad, 08-12-1884). Orang-orang pribumi di daerah (luar Betavia) nama Batavia juga kerap menggunakan nama Betawi (Soerabaijasch handelsblad, 03-09-1887).

Pembantaian orang-orang Tionghoa di Batavia tahun 1740 adalah salah satu tragedi yang memilukan bagi orang Tionghoa. Mereka dicap sebagai pemberontak sebagai penduduk yang dicurigai dan kerap menimbulkan konspirasi. Diantara mereka Tionghoa boleh jadi banyak yang membaur dengan penduduk pribumi dan berafiliasi dengan orang-orang Betawi dan lebih suka disebut orang Betawi.

Kampung-kampung Betawi di Batavia disebutkan umumnya dihuni oleh orang-orang Banten, Jawa dan Oediker (lihat Bataviaasch handelsblad, 27-12-1893). Pemuda-pemuda Betawi disebut sebagai anak Betawi (Bataviaasch nieuwsblad, 01-08-1894). Seorang penulis Belanda sangat tertarik menggunakan nama Betawi sebagai nama samaran yang dirinya ditulis sebagai ‘Orang Betawi’.

Penulis yang menyebut dirinya ini ‘Orang Betawi’ adalah seorang koresponden yang banyak mengkritik pemerintah (antara tahun 1899 hingga tahun 1904). Orang ini tampaknya bukan pribumi tetapi berafiliasi dengan pribumi dengan memilih identitas Betawi. Kelompok Betawi telah menjadi kelompok yang ingin disuarakannya. De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 22-05-1905: ‘… korespondensi saya untuk surat kabar "De Tijd" ditulis dengan nama samaran "Orang Betawie" selama enam tahun saya sebagai koresponden untuk surat kabar tersebut…W.H. Bogaardt’.

Betawi menjadi suatu identitas diri. Mereka juga memiliki primbon sendiri yang disebut Primbon Betawi (De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 13-05-1901). Tentu saja orang Betawi memiliki masakan khas yang disebut Masakan Betawi (Nederlandsche staatscourant, 10-08-1910). Demikian juga orang Betawi memiliki pencak sendiri yang disebut Pentjak Betawie (het Maleische Jiu-Jitsu) dengan tokoh Soejoedi dan Abdul Madjid  (Haagsche courant, 18-12-1924).

Orang Betawi sebagai suatu komunitas, warga Betawi di Batavia juga menjadi target surat kabar investasi asing di Batavia dengan mendirikan surat kabar berbahasa Melayu ‘Pembrita Betawi’ (1897), Bintang Betawie (1901) dan Sinar Betawie (1906).

Salah satu editor pribumi yang pertama di Pembrita Betawi adalah Tirto Adhi Soerjo (1903). Tirto adalah editor pribumi yang tercatat dalam pers berbahasa Melayu. Yang pertama adalah Dja Endar Moeda pada tahun 1897 di Padang, surat kabar Pertja Barat. Pada tahun 1900 Dja Endar Moeda mengakuisisi surat kabar tersebut. Editor pribumi kedua adalah Mangaradja Salamboewe pada tahun 1902 di Medan, Pertja Timor. Mangaradja Salamboewe adalah anak Dr. Asta, alumni Docter Djawa School di Batavia, siswa pertama yang diterima yang berasal dari laur Jawa tahun 1854. Dja Endar Moeda dan Mangaradja Salamboewe adalah sama-sama alumni sekolah guru (Kweekschool) ddi Padang Sidempuan.

Kaoem Betawi adalah Etnik Betawi

Orang-orang Betawi atau orang-orang yang berafiliasi dengan Betawi sudah sejak lama ada dan dengan sendirinya telah menjadi suatu kaoem. Kaoem dalam hal ini adalah etnik. Pengkotakan dengan nama Kaoem Betawi muncul sebagai refleksi diri bahwa mereka mengidentifikasi diri bukan kaoem dari yang lain, seperti Jong Sumatra, Jong Java, Jong Ambon, Jong Pasundan.

De Preanger-bode, 28-07-1924: ‘Kaoem Betawie’. Sabtu dilakukan pertemuan lokal, dalam rangka mencapai penciptaan sebuah divisi dari Kaoem Betawie di Bandoeng. Sarikat ini didirikan oleh Tolib sebagai Presiden. Markas dari serikat akan tetap di Batavia. Badan hukum sarikat sudah dikeluarkan tahun lalu sebagai Surat Keputusan Pemerintah. Sarikat ini bertujuan untuk penciptaan sekolah khusus untuk Batavia dan pribumi lokal lainnya. Ketua pertemuan--yang diadakan di rumah Hadji Samidi di Groote Lengkongweg---adalah Mohamad Maseri dari Batavia, yang sebelumnya bertugas di Koepang dan kini bertugas di Bandung. Pertemuan ditutup pada pukul dua belas malam’.

Pada tahun 1927 Parada Harahap menggagas dibentuknya perhimpunan sarikat-sarikat dengan menggandeng MH. Thamrin. Di dalam pertemuan yang dilakukan di rumah Mr. Husein Djajadiningrat diputuskan untuk mendirikan supra organisasi yang disebut Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangsaan Indonesia (disningkat PPPKI). Ketua adalah MH Thamrin dan sekretaris adalah Parada Harahap.

Parada Harahap adalah pemilik surat kabar Bintang Timoer (surat kabar berbahasa Melayu bertiras paling tinggi di Batavia). Parada Harahap adalah wartawan paling revolusioner. Memulai karir sebagai editor Benih Mardeka di Medan (1918) dan kemudian mendirikan surat kabar Sinar Merdeka di Padang Sidempuan (1919). Selama di Padang Sidempuan (1919-1923) Parada Harahap belasan kali terkena delik pers dan beberapa kali dibui.  Pada tahun 1922 menjadi ketua sarikat Sumatranen di Sibolga. Pada tahun 1923 Parada Harahap hijrah ke Batavia dengan mendirikan surat kabar Bintang Hindia (1923). Pada tahun 1925 Parada Harahap mendirikan kantor berita pribumi pertama, Alpena (bersama WR Supratman sebagai editor merangkap wartawan). Pada tahun 1925 ini Parada Harahap melakukan kunjungan jurnalistik ke semua wilayah Sumatra (laporannya kemudian dibukukan dan diterbitkan tahun 1926). Pada tahun 1926 Parada Harahap mendirikan surat kabar Bintang Timoer (suksesi Bintang Hindia). Pada tahun 1927 Parada Harahap mendirikan sarikat pengusaha (semacam KADIN pada masa ini) dan bertindak sebagai Presiden.

PPPKI yang beranggotakan semua sarikat pribumi (seperti Jong Java, Kaoem Betawi, Pasundan, Sumatranen Bond dan Bataksch Bond) mendirikan kantor di Gang Kenari. Di kantor ini Parada Harahap memampang di dinding tiga foto: Sultan Agoeng, Soekarno dan Mohamad Hatta. MH Thamrin sangat dekat dengan Parada Harahap. Keduanya juga sama-sama memiliki visi nasionalis. Ke atas mereka bisa mempersatukan, juga ke bawah bersedia mempersatukan. Tujuannya sama: memperjuangkan kemerdekaan semua pribumi dengan cara bersarikat.

De Indische courant, 08-03-1928: ‘Tanggal enam di Weltevreden didirikan sarikat sopir sado di Batavia. Pendiri adalah MH Thamrin dan Parada Harahap. Ini tindakan yang sangat berani. Upacara peresmian  akan diadakan di gedung Sarikat Kaoem Betawi di Kebon Djeroek.

Sarikat Kaoem Betawi di bawah kepemimpinan MH Thamrin adalah termasuk salah satu sarikat pribumi yang paling awal dalam kesadaran berbangsa. MH Thamrin adalah mewakili anak Betawi di dalam perjuangan nasional.

MH Thamrin yang lahir 16 Februari 1894 meninggal dunia pada 11 Januari 1941. Saat ke pemakaman Muhamad Husni Thamrin diantar oleh ribuan ‘Anak-Anak Betawi’ (De nieuwsgier, 11-01-1956).

Anak Betawi Asli

Betawi adalah suatu kaum yang memiliki tradisi. Orang Betawi dapat membedakan diri dengan kaum yang lainnya. Diantara mereka boleh jadi ada yang merasa asli dan yang lainnya bukan. Apa yang menjadi penanda asli, kurang diketahui. Tampaknya elemen asli ini menjadi sangat penting, karena tempat Orang Betawi adalah wilayah melting pot (terdiri dari berbagai suku bangsa). Pengakuan Betawi asli ini terungkap di pengadilan, yang mana terdakwa (Jongens=pemuda) menyebut dirinya Betawi toelen ketika aparat militer (Talang-pati) bertanya terhadap pemuda tersebut (lihat Soerabaijasch handelsblad, 28-08-1886).

Dalam tanya jawab di pengadilan itu, juga terungkap istilah ‘Anak Betawi’. Oleh karena itu istilah Anak Betawi Asli paling tindak sudah ada sejak 1886.

Nama Betawi Pernah Dilarang

Nama Betawi tidak ditemukan sebelumnya, nama Betawi baru muncul setelah VOC mendirikaan ibukota yang disebut Batavia. Ibukota ini awalnya sebuah benteng (casteel Batavia). Suatu benteng yang dikelilingi tembok (wal) yang berada di sisi timur muara sungai Ciliwung dan berseberangan dengan kampong/pelabuhan Sunda Kelapa.

Dua tempat ini (Sunda Kelapa dan Batavia) sesungguhnya sama-sama eksis. Dulunya, Sunda Kepala diduga sebagai pelabuhan di hilir sungai Ciliwung dari Pakuan/Pajajaran (Hindu). Nama Jayakarta (Chirebon) pernah muncul menggantikan peran Sunda Kelapa. Nama tempat yang disebut Iacatra (Portugis: Iacatra) ini tidak berada di muara sungai Ciliwung, tetapi agak ke dalam di area Mangga Dua yang sekarang (lihat peta: mungkin di sekitar stasion Jayakarta yang sekarang). Oleh karena itu tiga tempat yang sering disebut tetap eksis dan popular di setiap era masing-masing.

Nama Batavia semakin popular, tumbuh dan berkembang seiring dengan peningkatan eskalasi politik/dagang VOC dan Pemerintah Kolonial Belanda di seputar muara sungai Ciliwung. Kota Batavia yang awalnya dibuat berupa benteng, kemudian diperluas menjadi kota (Stad Batavia) yang dibatasi dengan pembuatan dinding/kanal yang pada nantinya disebut kota tua Batavia (Oud Batavia). Peristiwa penting saat itu adalah terjadinya pembantaian orang Cina tahun 1740. Lalu kemudian VOC bubar dan diakuisisi oleh Pemerintah Kerajaan Belanda dengan membentuk Pemerintah Hindia Belanda tahun 1799. Pemerintah Hindia Belanda baru efektif berjalan sejak 1816 (setelah sebelumnya terjadi pendudukan Inggris selama lima tahun, 1811-1816).

Nama Betawi terlaporkan (secara resmi) pertama kali adanya pada tahun 1857 (sudah barang tentu sebelumnya nama Betawi menjadi sebuah nama yang banyak diucapkan oleh warga). Sejak itu nama Betawi semakin sering ditemukan, bahkan Pemerintah Kolonial Belanda menulis Batavia dalam dua versi: Batavia (Eropa/Belanda) dan Betawi (pribumi) sebagaimana dilaporkan pada tahun 1865. Dalam perkembangannya nama Betawi menjadi suatu identitas dari berbagai hal (kota, orang/anak, masakan, musik bajkan pentjak dan sebagainya). Lalu kemudian digunakan menjadi nama sarikat (yang tokoh utamanya MH Thamrin).

Setelah pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda, tak disangka nama Betawi terkena ekses pelarangan. Di awal penataan RI sempat terjadi nasionalisasi dan menghilangkan jejak-jejak colonial. Sukarno ingin menghilangkan kesan colonial di Indonesia apapun itu, seperti nama toko, nama gedung, nama jalan dan sebagainya. Dalam hal ini termasuk nama kaoem yang dianggap nama Betawi berasal dari nama Batavia. Sebagaimana disebut De Telegraaf, 15-09-1979 Presiden Sukarno pernah melarang penggunaan nama Betawi. Orang Betawi meradang.

Penghilangan nama Betawi ini tentu tidak mudah, seharunya dapat dikecualikan dari nama tempat seperti Buitenzorg (Bogor) dan Fort de Kock (Bukittinggi). Sebab hal yang sebaliknya tidak semua nama-nama Belanda dihilangkan oleh sejumlah pihak di berbagai tempat seperti Max Havelaar (Multatuli) di Medan dan Pasteur di Bandung.

Orang Betawi tentu saja protes, boleh jadi Sukarno tidak menyadarinya. Surat kabar Nieuwe courant, 27-06-1951 menulis: ‘Orang Betawi menolak sebagai Orang Jakarta’. Akan tetapi protes itu tidak segera diakomodir, tampaknya perlu waktu. Het nieuwsblad voor Sumatra, 18-11-1953: ‘Batavia, yang dengan sendirinya mengenai nama mereka kembali ke era kolonial, telah diminta untuk dimasukkan ke dalam tangan kepemimpinan Jakarta….Batavia (Orang Betawi)’. Namun demikian, rebut-ribut mengenai larangan itu, lambat laun menghilang. Kenyataannya diperbolehkan.

Identifikasi Betawi sebagai Batavia (dan Batavia adalah Betawi) tidak hanya oleh Pemerintah Indonesia tetapi juga oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Di dalam pers Belanda kerap muncul bahwa Betawi muncul dari pelafalan Batavia oleh pribumi.


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar