Sabtu, 30 Oktober 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (202): Peta Teluk Kalimantan dan Bentuk Pulau Zaman Kuno; Dimana Posisi Sungai Kapuas Bermuara?

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Dalam soal sejarah zaman kuno, pulau Kalimantan dihubungkan dengan peta geografi Ptolomeus yang berjudul Taprobana yang dibuat pada abad ke-2 dan ditemukannya prasasti di Muara Kaman yang berasal dari abad ke-5. Dua bukti sejarah yang berasal dari zaman kuno itu mengindikasikan pulau Kalimantan pada zaman kuno sebagai pulau yang penting. Peta Ptolomeus mengindikasikan wilayah Kalimantan adalah kawasan penduduk yang ramai, prasasti mengindikasikan adanya peradaban dan diduga menunjukkan bukti adanya kerajaan.

Dua bukti sejarah zaman kuno ini sudah pernah ditulis dalam blog ini: (1) Sejarah Menjadi Indonesia (77): Taprobana adalah Borneo; Kapuas, Kahayan, Barito. Mahakam, Kayan, Sugut Pulau Kalimantan; dan (2)  Sejarah Kalimantan (50): Muara Kaman di Sungai Kutai; Kerajaan Kutai Martapura, Kerajaan Mulawarman, Kesultanan Kutai. Peta Taprobana yang dibuat Ptolomeus selama berabad-abad sejak era Portufgis menjadi perdebatan dimana letak posisis GPS pulau Taprobana tersebut hingga masa ini. Dalam artikel SMI No 77 tersebut bisa saya buktikan adalah peta Kalimantan zaman kuno. Sementara prasasti Muara Kaman dihubungkan dengan keberadaan kerajaan di pedalaman  di arah hulu sungai Mahakam yang menjadi simpul perdagangan emas pada zaman kuno. Dalam hubungan ini, dua fakta sejarah tersebut diajukan pertanyaan: apakah ada hubungannya dengan sejarah peta teluk-teluk di pulau Kalimantan.

Lantas bagaimana sejarah teluk-teluk di pulau Kalimantan? Seperti disebut di atas, pertanyaan ini dapat dihubungkan dengan pertanyan baru apakah bukti-bukti kuno yang ditemukan yang beasal dari zaman kuno (peta dan prasasti) ada hubungannya dengan perihal teluk-teluk di pulau Kalimantan. Satu yang pasti, berdasarkan artikel SMI No 77 bahwa bentuk rupa pulau Kalimantan yang sekarang berbeda dengan wujudnya pada zaman kuno. Lalu dimana posisi sungai Kapuas bermuara? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Jumat, 29 Oktober 2021

Sejarah Menjadi Indonesia (201): Teluk Jakarta, Bagaimana Bisa Memiliki Potensi Minyak? Cisadane, Ciliwung dan Cilengsi

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Teluk Jakarta adalah teluk masa kini. Teluk Jakarta tempo doeloe bahkan jauh lebih luas dari yang sekarang. Teluk Jakarta zaman kuno bahkan jauh lebih ke dalam (namun kini telah menjadi daratan). Di teluk Jakarta zaman kuno ini bermuara sungai-sungai besar: sungai Cisadane, sungai Ciliwung, sungai Cilengsi dan sungai Citarum. Pada masa kini ladang-ladang minyak lepas pantai yang telah diusahakan terdapat di sekitar teluk Jakarta (yang masuk wiilayah kabupaten Bekasi, kabupaten Karawang, kabupaten, Subang dan kabupaten Indramayu).

Teluk Jakarta adalah sebuah teluk di perairan laut Jawa yang terletak di sebelah utara provinsi DKI Jakarta. Di teluk ini, bermuara 13 sungai yang membelah kota Jakarta. Teluk Jakarta yang luasnya sekitar 514 km2 ini merupakan wilayah perairan dangkal dengan kedalaman rata-rata mencapai 15 meter. Kepulauan Seribu yang terdiri atas 108 pulau adalah gugusan kepulauan yang berada di Teluk Jakarta (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah teluk Jakarta? Seperti disebut di atas, teluk Jakarta pada masa kini jauh lebih sempit jika dibandingkan dengan teluk Jakarta tempo doeloe (zaman kuna). Pada masa kini di lepas pantai wilayah kabupaten Bekasi, kabupaten Karawang, kabupaten, Subang dan kabupaten Indramayu ditemukan minyak. Lalu, apaka di teluk Jakarta Zaman kuno terdapat potensi minyak? Yang jelas disebutkan pada masa kini terdapat potensi minyak di daratan Jakarta di Pondok Gede, Taman Mini, Ciputat, Cinere, Tanah Abang, Monas serta Bumi Serpong Damai (BSD). Bagaimana bisa?  Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.