Jumat, 07 Januari 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (340): Pahlawan-Pahlawan Indonesia dan Nadjamoeddin D Malewa:Sarikat Celebes hingga Negara NIT

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Dalam sejarah Indonesia juga terdapat nama Nadjamoeddin Daeng Malewa, seorang tokoh penting di Makassar. Awalnya ikut bergabung dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia tetapi kemudian lebih cooperative dengan Pemerintah Hindia Belanda. Pada saat perang kemerdekaan, dengan kembalinya Belanda (NICA) Nadjamoeddin Daeng Malewa yang awalnya pro kemerdekaan kembali berbalik menyambut kehadiran Belanda (NICA) hingga tampil sebagai pemimpin (perdana menteri) di Negara Indonesia Timur (negara yang diinisiasi Belanda/NICA).

Nadjamuddin Daeng Malewa (lahir di Buton 1907, meninggal di Makassar, 5 Januari 1950) adalah seorang politikus. Dia dibesarkan di dalam keluarga pengusaha kapal di Buton. Malewa memiliki darah Bugis pada akhir tahun 1920-an kembali ke Makassar dan bergabung dengan Perserikatan Celebes yang kemudian menjadi pemimpin cabang Makassar. Karena latar belakang politik yang sangat beragam di dalam organisasi, memunculkan konflik antara "Utara" dan "Selatan", Malewa pemimpin cabang Makassar kemudian mengambil alih dan mengganti namanya menjadi Partai Celebes yanh kemudian menjadi anggota Parindra. Pada November 1935, Malewa juga membentuk Roekoen Pelayaran Indonesia (Roepelin) sebagai upaya menyaingi Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM). Malewa kemudian keluar dari Parindra karena tidak mendapatkan dukungan untuk menjadi anggota Volksraad periode 1935 hingga 1939. Dia kemudian mendirikan Persatuan Celebes Selatan tetapi dengan sikap loyal pada pemerintah Belanda. Pada konferensi Malino tanggal 25 Juli 1946 Melewa menjadi peserta dimana tanggal 24 Desember 1946, Negara Indonesia Timur (NIT) dideklarasikan. Melewa salah satu kandidat untuk pemimpin (Presiden) NIT, namun demikian Malewa diangkat sebagai perdana menteri dari 13 Januari hingga 2 Juni 1947 dan periode kedua 2 Juni 1947 hingga 11 Oktober 1947. Pada tanggal 20 September 1947, Malewa diberhentikan sebagai perdana menteri dan diadili dan dijatuhi hukuman tiga tahun penjara. Pada tanggal 24 September 1947, melalui surat keputusan Residen Zuid-Celebes, dia tidak dapat bermukim di daerah kekuasaan NIT, khususnya daerah yang diberlakukan darurat militer seperti Sulawesi Selatan. (Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah Nadjamoeddin Daeng Malewa? Seperti disebut di atas, Nadjamoeddin Daeng Malewa adalah salah satu tokoh penting di Makassar yang pro Belanda. Lantas bagaimana sejarah Nadjamoeddin Daeng Malewa? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Kamis, 06 Januari 2022

Sejarah Menjadi Indonesia (339): Pahlawan-Pahlawan Indonesia dan Radja Boeloengan Terlupakan; Bulungan dari Masa ke Masa

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah dua raja yang cukup mendapat perhatian, yakni Soeltan Pontianak (Sultan Hamid II) pantai barat Borneo dan Radja Boeloengan di pantai timur Borneo. Keduanya memiliki pandangan politik yang berbeda. Sultan Hamid II, seorang KNIL pro Belanda (NICA), sebaliknya Radja Boeloengan menolak kehadiran Belanda/NICA. Kerajaan Koetai awalnya sependapat dengan Radja Boeloengan, tetapi kemudian sependapat dengan Soeltan Pontianak. Radja Beoloengan yang terakhir Maulana Muhammad Jalaluddin (1931-1958).

Kesultanan Bulungan atau Bulongan adalah kesultanan yang pernah menguasai wilayah pesisir kabupaten Bulungan, kabupaten Tana Tidung, kabupaten Malinau, kabupaten Nunukan, Kota Tarakan dan Tawau, Sabah sekarang. Kesultanan ini berdiri pada tahun 1731, dengan raja pertama bernama Wira Amir gelar Amiril Mukminin (1731–1777), dan Raja Kesultanan Bulungan yang terakhir atau ke-13 adalah Datuk Tiras gelar Sultan Maulana Muhammad Djalalluddin (1931-1958). Negeri Bulungan (Negeri Merancang) bekas daerah milik ‘negara Berau’ yang telah memisahkan diri sehingga dalam perjanjian Kesultanan Banjar dengan VOC-Belanda dianggap sebagai bagian dari ‘negara Berau’ (Berau bekas vazal Banjar yang diserahkan kepada VOC-Belanda). Pada kenyataannya sampai tahun 1850, Bulungan berada di bawah dominasi Kesultanan Sulu. Setelah pengakuan kemerdekaan Indonesia dari Kerajaan Belanda, wilayah Bulungan menerima status sebagai Wilayah Swapraja Bulungan atau ‘wilayah otonom’ di Republik Indonesia pada tahun 1950, yaitu Daerah Istimewa setingkat kabupaten pada tahun 1955. Sultan terakhir, Jalaluddin, meninggal pada tahun 1958. Kesultanan Bulungan dihapuskan secara sepihak pada tahun 1964 dalam peristiwa berdarah yang dikenal sebagai Tragedi Bultiken (Bulungan, Tidung, dan Kenyah) dan wilayah Kesultanan Bulungan hanya menjadi kabupaten yang sederhana  Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah pahlawan Indonesia Radja Boeloengan yang terakhir Maulana Muhammad Jalaluddin? Seperti disebut di atas, Radja Maulana Muhammad Jalaluddin berbeda haluan politik dengan Sultan Hamid II dari Pontianak. Lalu bagaimana sejarah pahlawan Indonesia Radja Boeloengan yang terakhir Maulana Muhammad Jalaluddin? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah Menjadi Indonesia (338): Pahlawan-Pahlawan Indonesia dan Sampan Zainoedin, Pedalaman Borneo; Long Iram Tempo Dulu

 

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Sebagian orang Indonesia mengetahui dimana Long Iram, suatu wilayah yang telah dikenal sejak masa lampau di pedalaman Borneo (pulau Kalimantan) di hulu daerah aliran sungai Mahakam. Boleh jadi ketika ditanyakan siapa Sampan alias Zaindoedin asal Long Iram tidak ada yang mengenal dan mengingatnya. Padahal Sampan alias Zainoedin adalah salah satu pahlawan Indonesia di Longiram. Nama Sampan Zaindoedin telah terlupakan dalam sejarah menjadi Indonesia.

Long Iram adalah sebuah kecamatan yang terletak di kabupaten Kutai Barat, provinsi Kalimantan Timur. Pada masa ini, kecamatan Long Iram dihuni oleh 2.164 KK yang terbagi atas 42 RT. Jumlah keseluruhan penduduk kecamatan Long Iram pada 2019 adalah 8.418 jiwa. Tingkat kepadatan penduduk di kecamatan Long Iram adalah 5,76 jiwa/Km². Penduduk terkonsentrasi di kampung Long Iram Kota dengan jumlah penduduk 2.531 Jiwa. Penduduk Long Iram dominan bekerja pada sektor pertanian dengan produksi padi mencapai 796 ton dan Karet 18,15 ton. Kecamatan Long Iram adalah salah satu kecamatan di Kalimantan Timur yang berada terpencil dari akses perkotaan. Kondisi jalan beraspal hanya dijangkau oleh tidak kurang 6 kampung dan sarana komunikasi dijangkau oleh 9 Kampung. Ketersediaan listrik dari pemerintah dijangkau 7 kampung dan sisanya aliran listrik swadaya masyarakat. Sarana pendidikan terdiri dari 12 TK, 12 SD, 1 SMP Negeri dan 1 SMA Negeri. Sarana Kesehatan yaitu dengan 1 Puskesmas dan 9 Puskesmas Pembantu yang tersebar di kampung-kampung yang ada di Long Iram. Kebutuhan air bersih mengandalkan air isi ulang dan sisanya air sumur maupun air sungai. Sarana Ibadah di Long Iram termasuk memadai dengan didirikannya 6 masjid, 5 gereja Katolik dan 3 gereja Protestan. Daftar Kampung: Anah, Muara Leban, Long Iram Seberang, Long Iram Ilir, Long Iram Kota, Long Iram Bayan, Suko Mulyo, Long Dalia, Keliway, Ujoh Halang dan Kalian Luar.(Wikipedia).

Lantas bagaimana sejarah pahlawan Indonesia Sampan alias Zainoedin dari Long Iram? Seperti disebut di atas, memang pada masa ini Long Iram terkesan terpencil, tetapi di masa lalu adalah wilayah yang penting. Salah satu tokoh penting pada era perangan kemerdekaan Indonesia adalah Sampan Zainoedin. Tetapi sayang sejarhnya terlupakan. Lalu bagaimana sejarah Sampan Zainoedin? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.