Senin, 08 Juli 2019

Sejarah Bekasi (15): Kota Bantar Gebang Kota Paling Tua di Bekasi, Riwayatmu Kini; Tjilengsi Bertemu Tjikeas Jadi Kali Bekasi


*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Bekasi dalam blog ini Klik Disini

Bantar Gebang, bukanlah ‘kota sampah’. Bantar Gebang harus dipandang sebagai  kota paling tua di Bekasi. Sebagai kota paling kuno, Bantar Gebang harus dipandang sebagai heritage Bekasi. Dalam prasasti kuno, Candrabhaga bukanlah nama kota tetapi nama sungai. Nama sungai yang dipercaya sebagai Kali Bekasi. Kota yang berada di Kali Bekasi ini kini disebut kota Bekasi. Akan tetapi kota ini kemudian diduga telah lenyap ditelan banjir bandang.

Benteng Becassie dan kota Bantar Gebang di kali Bekasi (Peta 1724)
Hilangnya kota di daerah aliran sungai (DAS) yang datar dan rendah tidak hanya satu (Bekasi) tetapi ada beberapa. Kota Semarang dan Kota Soerabaja diduga pernah hilang ditelan banjir lalu dibangun kembali di lokasi yang berbeda ke arah hulu sungai. Di sungai Tjiliwong kota utama juga direlokasi ke arah hulu dari Soenda Kalapa ke suatu tempat yang disebut Jacatra (sekitar Manggadua sekarang). Ibukota di daerah aliran sungai Deli yang berada di muara yang rawan banjir di relokasi ke arah hulu di suatu tempat yang kemudian kini dikenal sebagai Medan.

Ibukota baru di daerah aliran sungai Kali Bekasi dibangun ke arah hulu, di suatu tempat yang disebut Bantar Gebang. Pada Peta 1724 di Kali Bekasi, hanya satu nama tempat yang diidentifikasi, yakni Kota Bantar Gebang. Tentu saja belum ada kota Bekasi. Kota Bekasi kuno telah lama hilang ditelan banjir. Kota Bekasi, yang menjadi cikal bakal Kota Bekasi yang sekarang adalah kota baru yang dibangun baru, tepat berada di kampong Bekasi (eks lokasi kota Bekasi jaman kuno).   

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Kota Bantar Gebang dan Fort Becassie

Pada Peta 1724 dua situs yang diidentifikasi di sungai Bekasi adalah (hanya) benteng (fort) Becassie dan kota Bantar Gebang. Ini mengindikasikan dua situs ini adalah dua tempat terpenting bagi orang Eropa/Belanda di daerah aliran sungai Bekasi. Fort Bekasi du hilir (muara) dan Bantar Gebang di hulu. Antara kedua tempat ini dihubungkan oleh lalu lintas air (pelayaran sungai).

Benteng (Fort) Becassie (baca: Bekasi) dibangun sekitar tahun 1695. Benteng yang dibangun relatif bersamaan di timur Batavia adalah benteng Maroenda; sementara di barat benteng sungai Grogol dan benteng di sungai Kroekoet. Benteng-benteng ini juga bersamaan dengan pembangunan benteng Missier di Tegal (benteng pertama di Jawa). Pembangunan benteng di era VOC adalah pendahulu sebelum pembukaan ruang wilayah (ekonomi dan perdagangan di sekitar). Pembangunan benteng sangat mahal. Oleh karena itu benteng adalah investasi awal dimana di wilayah sekitar benteng sudah dipetakan potensi perdagangan dan ekonomi.

Kota Bantar Gebang yang diidentifikasi adalah kota yang berada tepat di hilir pertemuan sungai Tjilengsi dan sungai Tjikeas. Ada sebuah situs di pertemuan sungai ini tetapi tidak disebut namnya. Itu juga menandakan situs (kota) Bantar Gebang jauh lebih penting dari situs (kota anonim) tersebut. Dalam hal ini kota Bantar Gebang diduga kuat adalah kota pelabuhan (sungai) terjauh ke pedalaman di daerah aliran sungai Bekasi.

Tentu saja saat itu, titik pusat kota Bekasi yang sekarang masih sebuah kampong, sebuah kampong kecil atau boleh jadi masih lahan kosong yang belum diokupasi oleh penduduk sebagai tempat pemukiman.  

Kota Bantar Gebang yang diidentifikasi tersebut tidak persis di pinggir sungai, tetapi agak ke timur sungai Bekasi di suatu ketinggian tertentu yang bebas banjir. Kota Bantar Gebang ini di dalam Pemerintahan Hindia Belanda (sejak 1800) diadministrasikan sebagai bagian dari Land Tjilengsi, District Tjibaroesa, Afdeeling Buitenzorg. Wilayah ke hilir kota Bantar Gebang (termasuk kampung Bekasi, cikal bakal Kota Bekasi) masuk wilayah Afdeeling Bekasi.

Pada tahun 1775 land Bekasi dan land Tjilengsi sudah terbentuk (lihat peta land 1775), Siapa pemilik land Tjilengsi tidak diketahui jelas. Namun land Bekasi pada tahun 1776 diketahui, sebagai pionir, pemiliknya adalah Jeremis van Riemsdijk. Seperti umumnya orang Eropa/belanda tidak pernah mengokupasi kota atau sebuah kampung, tetapi membangun baru sebuah kota tidak jauh dari kampong terdekat dengan mengadopsi nama situs kampong terdekat tersebut sebagai nama kota (ibukota di dalam land). Nama kampong Bekasi diadposi sebagai nama kota Bekasi (di land Bekasi). Sedangkan land Tjilengsi membentuk kota di dekat kampong Tjilengsi di sisi timur sungai Tjilengsi.  

Kota Bantar Gebang menjadi pembatas antara land Bekasi dan land Tjilengsi, yang mana kota Bantar Gebang masuk wilayah land Tjilengsi. Sebagai pembatas, kota Bantar Gebang di jaman kuno diduga menjadi pembatas antara wilayah kering (daratan) dan wilayah basah (berawa).Sebagai pembatas daratan, kota Bantar Gebang dengan sendirinya merujuk ke pedalaman (pegunungan). Dalam hal ini, kota Bantar Gebang diduga adalah pelabuhan dari wilayah (kerajaan) di pedalaman.

Dalam sistem navigasi jaman kuno, subsitem moda transportasi pelayaran air (laut dan sungai) dibedakan secara tegas dengan subsistem moda transportasi darat. Sungai Tjilengsi adalah sungai besar. Sungai besar lainnya di sebelah timur adalah sungai Tjibeet. Situs-situs Bantar Gebang, Tjilengsi dan Tjibaroesa dan Kalapa Noenggal berada di antara sungai Tjilengsi dan sungai Tjibeet. Empat situs ini terhubung dengan moda transportasi daratan. Sungai Tjibeet sendiri bermuara ke sungai Tjitaroem (di Tandjoeng Poera/Krawang). Situs Tjibaroesa cukup dekat ke pelabuhan sungai di Bantar Gebang. Situs Tjibaroesa memiliki hubungan langsung (moda transportasi darat) ke pegunungan.

Dalam hal ini, boleh jadi kita berandai-andai terhadap hubungan garis lurus Tjibaroesa di satu sisi ke Bantar Gebang dan di sisi yang lain Tjibaroesa ke (kerajaan) Pakwan-Padjadjaran). Nama kota (kampong) di pedalaman yang menggunakan nama Bantar ada beberapa, tiga yang penting adalah Bantar Kemang, Bantar Djati dan Bantar Pete. Kebetulan tiga nama kota ini memagari kerajaan Pakwan-Padjadjaran, Jati, kemang dan pete adalah nama-nama pohon yang kuat yang dimuliakan sejak jaman kuno (karena manfaatnya). Lalu apa itu gebang. Apakah nama pohon? Dalam bahasa kuno gebang adalah pohon palem (anggaplah itu menjadi mercu suar).  

Jika itu yang menjadi fakta, maka kota Bantar Gebang adalah pelabuhan dari kerajaan Pakwan-Padjadjaran. Untuk sekadar catatan: di Tjibaroesa ditemukan artefak kuno yakni kapak batu (manusia purba). Boleh jadi dalam hal ini kota Tjibaroesa adalah kota kuno sedangkan Pakwan-Padjadjaran adalah kota moderen. Namun dalam perkembangannya kemudian, palabuhan Pakwan-Padjadjaran di kota Bantar Gebang (kuno) bergeser ke sisi barat sungau Tjiliwong di (kota) Soenda Kalapa (modern).    

Kota Bantar Gebang bukanlah kota baru, tetapi kota tua yang diduga kuat sudah ada sejak jaman kuno. Kota Bantar Gebang sebagai kota kuno, namanya tentu menjadi sangat terkenal di seluruh wilayah lautan. Pengetahuan umum ini berlangsung ratusan tahun ke masa depan, ketika orang Eropa/Belanda mulai memetakan wilayah di sepanjang daerah aliran sungau Bekasi. Kota Bantar Gebang tidak hanya kota kuno, diantara beberapa kota (kampong) di daerah aliran sungai Bekasi, kota Bantar Gebang adalah yang terbesar.

Dinamika di Kota Bantar Gebang

Tunggu deskripsi lengkapnya


*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

1 komentar: